Browsed by
Category: Enterprise

Anything related to enterprise world. Cloud computing, acquisition, etc

Smaller Version Of The Enterprise

Smaller Version Of The Enterprise

Pekerjaan baru saya beberapa bulan ini lumayan menyenangkan. Saya lebih sering meninggalkan meja dan bertemu orang-orang baru yang selama ini belum pernah saya temui atau cuma saya dengar namanya saja. Saya berusaha merekam dan menganalisa apa sebenarnya yang terjadi di dunia enterprise dan di mana startup bisa mendapat celah untuk masuk.

Redhat Business Now Makes Sense To Me

Dulunya saya tak begitu paham bagaimana support bisa dijual. Secara teori, support memang bisa dijual karena tentunya pasti ada yang membutuhkan dukungan. Tapi seberapa banyak yang membutuhkan dan tipe support seperti apa yang bisa dikomersialkan? Semakin lama, saya makin merasakan bahwa dunia enterprise memang punya demand akan support services. Dunia enterprise yang kompleks seringkali tak punya waktu untuk kejutan. Support memastikan akan lebih sedikit kejutan yang terjadi dna kalaupun terjadi maka akan bisa segera diatasi.

Redhat tidak menjual RHEL, namun dukungan untuk update paket-paket baru demi alasan performa atau keamanan hanya tersedia dalam bentuk subscription. Selain langganan update, pemeliharan server juga dikomersialkan. Adalah menakjubkan untuk melihat bagaimana instan enterprise begitu memerlukan layanan seperti ini. Work like a pro, you’ll have your way to the enterprise world.

So Many Things You Can Build

Beberapa waktu lalu saya sempat menghadiri presentasi sebuah search engine appliance (platform search engine yang bisa dipasang di server sendiri). Tentu saja, karena ditawarkan untuk kelas enterprise, fiturnya sangat banyak dan cukup kompleks. Tapi yang menarik adalah konsep-nya tak jauh dari apa yang bisa Anda pelajari lewat Lucene. Synonim, facet, stopwords, you name it. Bedanya terletak di kesiapan deployment dan integrasi dengan konten instansi kita. Sebagai paltform besar, banyak gaya free-style yang bisa kita lakukan dengan produk tersebut. Infrastruktur dan rekomendasi arsitektur juga sudah termasuk dalam paket penawaran.

Saya takjub, kembali, karena sebenarnya kita juga bisa membuat sendiri produk serupa. Tentu saja dengan skala yang lebih kecil. Dengan berbagai macam produk open source yang ada, kita bisa meracik sendiri produk hebat versi kita. Kita juga bisa membuat search engine appliance sendiri.

It Takes Time

Produk search engine yang saya bicarakan di atas sudah punya track record 15 tahun. Saya tak menganjurkan Anda untuk langsung head-to-head. Pesannya adalah butuh waktu untuk sampai ke tahap itu. Appliance yang fungsional, walau agak minimal, bisa saja jadi dalam waktu satu minggu. Tapi untuk sampai pada tingkat keterujian yang sama, produk kita perlu menambah jam terbang terlebih dahulu.

Beberapa orang akan beringsut duluan setelah membayangkan jam terbang yang harus dikantongi. Namun beberapa dari Anda pasti ada yang menyongsong tantangan ini dengan passionate. Bagi Anda yang passionate dan sabar, inilah kesempatan Anda. Ada celah-celah yang bisa diisi dengan produk baru. Dan bagi Anda yang belum punya kesabaran, jadilah lebih lihai untuk bekerjasama dengan orang-orang yang lebih sabar.

The smaller enterprise itu ada pasarnya. Yakinlah seperti halnya Apple ketika meluncurkan iPad untuk mengisi ceruk di antara iPhone dan Macbook.

Google Buzz: Apa Maknanya Bagi Google?

Google Buzz: Apa Maknanya Bagi Google?

Ah, sebenarnya saya sedang tidak ada topik menarik untuk diobrolin. Satu-satunya yang sedang hype adalah Google Buzz, mengalahkan dukungan XMPP di Facebook Chat. Saya yakin beberapa dari kita masih banyak yang garuk-garuk kepala mencoba mencari tahu apa sih sebenanrya Google Buzz itu. Apakah ada hubungannya dengan Google Wave yang telah kita lupakan? Mari berspekulasi liar di sini

Redefining Inbox

Inbox menjadi salah satu tempat yang pasti kita kunjungi minimal sekali sehari. Setelah itu kita akan berpindah ke feed reader, dan situs-situs social network. Bagaimna kalau kita tak perlu melangkah keluar dari inbox? Semua updates bisa kita lihat dari inbox, sejauh satu klik saja. GMail kini menjadi one-stop shopping untuk mengupdate informasi dari berbagai sumber. Sebenarnya belum sepenuhnya menjadi one-stop shopping, namun arahan ini sepertinya tak jauh lagi di masa depan.

Google Buzz juga membungkus semuanya dalam e-mail. Mirip dengan kondisi di Unix yang menganggap semua hal adalah berkas. Bagaimana bekerja dengan e-mail? Sederhana saja: baca, jawab, forward atau abaikan. Tak perlu menarik, semuanya akan didorong ke inbox. Sit down and relax.

Remember Wave?

A product without users is a product without future. Wave bisa jadi salah satu produk terkeren dari Google (dengan perspektif di balik layar). Namun produk ini tidak akan bisa berevolusi menjadi produk yang benar-benar bermanfaat jika tidak bsia memahami pola pemanfaatan dari berbagai macam jenis pengguna. Wave terlalu kompleks bagi sebagian besar non-geek. Padahal salah satu konsep utilisasinya tak jauh berbeda dari update status di Facebook atau Twitter.

Google Buzz bisa jadi adalah teaser untuk menarik kembali para pengguna internet supaya mengetahui manfaat Wave. Dengan konsep yang disimplifikasi, Google Buzz menjadi tangga pertama menuju Google Wave. Atau, Google Buzz mungkin dibuat dengan protokol Google Wave tanpa mengimplementasikan beberapa fitur khas Google Wave seperti realtime editing.

Social Failure

Saya masih tak paham dengan algoritma Google dalam menentukan individu yang harus di-follow. Sejauh ini, auto-follow yang sudah diset Google beberapa waktu lalu di Google Reader sama sekali tidak relevan. Dan sayangnya, social graph ini dibawa juga ke Google Buzz. Alih-alih menambah value, Google Buzz justru memberikan pekerjaan baru untuk menyaring noise. Sepertinya bukan saya saja yang memiliki keluhan sama.

Karena Google adalah sebuah gudang resource yang technical dan academically savvy, Google kembali berkeinginan memecahkan masalah ‘social’. Google Buzz adalah iterasi ke sekian dari usaha Google untuk memahami misteri social graph dan social network. Namun sepertinya rumus Google masih bermasalah. Mungkin masih belum bisa menerjemahkan pola kelakuan dan berpikir manusia dalam model matematika yang representatif.

What else?

Bagaimana dengan user acquisition? Apakah Google Buzz sekedar taktik untuk menggaet pengguna masuk Google? Siapa yang belum memakai Google?

Atau Google Buzz ini soal data mining? Konten yang sebelumnya diciptakan di luar Google kini bisa masuk ke dalam gudang data Google dan bisa diasosiasikan dengan akun Google.

Apa teori Anda?

There’s No Appstore For That

There’s No Appstore For That

Dimulai dengan Apple dengan toko musiknya. Kemudian berkembang dengan penyediaan aplikasi untuk iPhone dan iPod. Langkah ini ditiru oleh banyak produsen lain termasuk Nokia, Blackberry, Android dan bahkan platform untuk Twitter (OneForty). Ada apa gerangan?

The Missing Link

Fungsi Appstore sebenarnya menjadi komponen yang mengeliminasi keberadaan missing link. Jika kita berkaca pada Apple, Apple punya suatu ekosistem terpadu dari hulu ke hilir yang menjadikan pengalaman memakai produk benar-benar maksimal. Tak lagi kita disulitkan dengan membolak-balik halaman Google untuk mencari aplikasi yang mampu memenuhi kebutuhan kita. Semua bisa diakses di satu tempat dan dipastikan telah lulus standar kualitas tertentu. Bagi konsumen berarti ada keuntungan dalam bentuk kemudahan discovery dan trust. Belum lagi harganya yang sangat miring. It’s a complete circle, for the consumer.

Emerging Market

Dengan tren paket murah untuk mengakses Facebook dan Twitter, hape QWERTY mulai memperluas dan mendominasi pasar. Spesifikasi kemampuan hardwarenya pun tak begitu berbeda satu sama lain dan mungkin bisa dianggap standar. Kamera, MIDP, dan 3G/EDGE ada di semua hardware baru ini. Ya, jelas sudah kesamaan ini sebenarnya telah membentuk pasar baru. Tidak hanya dari sisi hardware, kultur konsumennya pun sudah tidak terlalu gagap dengan dunia online. Kenapa belum ada Appstore untuk pasar ini?

Barrier of Entry

Salah satu yang menjadi penyebab tidak adanya appstore untuk kondisi di atas adalah karena tidak ada seorang pun yang memiliki kontrol atas keberagaman brand hardware. Tentunya berbeda dengan Apple, Nokia dan Blackberry yang menjadi pemilik hardware sekaligus Appstore. Ketiadaan single control ini menimbulkan kesulitan untuk masuk dalam ekosistem. Seorang inisiator Appstore harus menggandeng sejumlah banyak vendor untuk memasukkan platformnya ke dalam masing-masing hardware. Biayanya akan jauh meroket dibandingkan dengan setup Appstore untuk satu brand saja.

We Own It

Karena tidak ada satu entiti yang memiliki kewenangan penuh atas pasar di atas, berarti kita semua berpeluang memilikinya. Mirip kasusnya dengan OneForty yang tidak dimiliki oleh Twitter. Appstore ini hanya bergantung pada platform Twitter yang terbuka. Memang tidak ada benefit mendapatkan dukungan dari pemilik platform, namun ini juga berarti kebebasan yang lebih bagi pemilik Appstore.

Mudah-mudahan saja ada big guy yang melihat kesempatan ini dan kemudian menginisiasi Appstore untuk lintas brand. Efeknya tentu akan positif bagi pemain lokal. Ibaratnya lapangan pekerjaan baru. What do you think?

PS:

Sebenarnya saya masih kurang paham dengan konsep OneForty. Menurut saya, yang lebih bisa laku itu Appstore untuk Tweetdeck dan Seesmic berupa plugin/addon yang akan meng-enhance fungsionalitas. Atau mungkin Appstore untuk browser seperti AMO (Addon.Mozilla.Org) yang sayangnya tak memunculkan potensi komersial.

Photo by Joe Shlabotnik

Google vs Baidu

Google vs Baidu

Saya tak begitu tahu apa penyebab Google ingin cabut dari China. Ada yang bilang karena persoalan penyerangan ke akun-akun GMail. Ada juga yang bilang karena Google memang sudah tidak punya harapan di sana karena market share Baidu sudah mencapai 60%.

Kita tunggu saja apa yang akan terungkap nanti. Sementara itu kita bisa mencoba melihat seberapa sengit kira-kira pertarungan Google vs Baidu selama ini.

Pertarungan Dari Nol?

Userbase Google secara internasional memang besar. Namun, untuk China Google adalah pemain baru. Bahasa Inggris menjadi minoritas karena pengguna lebih cenderung menggunakan bahasa lokal. Semua knowledge yang Google punya dari hasil mengagregasi perilaku pengguna As danEropa di halaman pencarian menjadi tak begitu berguna. Google harus memulai dari nol di China, setidaknya untuk urusan pembelajaran mesin.

Pertarungan Teknologi?

Layanan yang disediakan Baidu tak kalah kaya dari aset Google. Lihat saja di Wikipedia. Sebagian memang sama dengan aset Google, namun sisanya adalah layanan yang benar-benar lokal. Porsinya bisa lebih dari 50 persen layanan untuk lokal. Sebut saja patent search, legal search, Baidu Encyclopedia, dan lain-lain. Yang membuat pertarungna teknologi menjadi pelik adalah ada kemungkinan beberapa teknologi Google tidak bisa diekspor akibat larangan UU. Tapi, tidak bisa ditampik juga bahwa beberapa teknologi tersebut bisa dicipta ulang dengan resource local. Kalau mereka bisa menyalin satu produk dalam sehari, untuk teknologi mungkin hanya perlu tambahan waktu.

Pertarungan Monopoli dan Antitrust?

Di Eropa Google harus was-was dengan antitrust, di China Google harus waspada dengan Big Brother. Sudah pasti pemerintah lokal akan mendukung Baidu sepenuhnya dalam melawan Google. Google adalah entitas asing yang kehadirannya sudah pasti tidak disenangi, paling tidak oleh ideologi beberapa orang. Dengan uang yang cukup, Google pasti bisa membuka jalan sedikit demi sedikit. Tidak dengan suap, tapi dengan bertahan lebih lama dan ongkos pembelanjaan yang lebih besar dari biasanya karena harus berebut resource.

Bayangkan Jika Terjadi di Indonesia

Indonesia tak punya persoalan pinyin dan bahasa lokal yang membuat pemain asing harus mengeluarkan usaha ekstra dalam rangka mendominasi pasar dalam negeri. Kondisi seperti ini memudahkan kita untuk selalu up-to-date dengan tren global. Namun di sisi lain, kondisi tersebut tidak bisa memberikan waktu yang cukup (buying time) bagi startup lokal untuk meniru dan mengembangkan tren serupa dalam versi lokal. Dalam konteks internet, kita sudah masuk kondisi perdagangan bebas lebih dulu.

Google and the like bukanlah entitas asing bagi pemerintah, jadi kita tidak punya dukungan serupa yang dirasakan Baidu di China. Tapi kita masih punya dukungan media mainstream yang sepertinya menyenangi berita-berita yang datang dari internet (karena fresh dan bukan yang itu-itu saja dalam dunia nyata). Dengan dukungan media maintstream lokal kita tidak lagi membeli waktu, tapi membeli spotlight yang bisa mengakselerasi penetrasi produk ke dalam pasar. Gratis.

Tak usah berkecil hati, kita masih punya Detik yang bisa dibanggakan karena jadi primadona dalam negeri. Walaupun belum seperti Gurita dari China ini, mungkin.

Do We Really Want Micropayment?

Do We Really Want Micropayment?

Wikipedia[0] mendefinisikan micropayment sebagai transaksi finansial yang melibatkan sejumlah kecil uang. Paypal mendefinisikan micropayment sebagai transaksi yang bernilai kurang dari 12 USD. Dalam konteks Indonesia, micropayment berarti kesempatan untuk berusaha tanpa terdominasi oleh pemain besar saja.

Kenapa kita menginginkan micropayment?

Lower price is better, for many

Dari sekian banyak Facebooker, seberapa banyak yang mampu bertransaksi di internet? Jika dikembangkan lebih luas dengan cakupan pengguna internet secara umum, berapa banyak yang mampu? Terlepas dari e-book, harga barang yang dijual langsung di internet relatif masih cukup mahal untuk pengguna umum internet. Seberapa banyak dari kita yang mampu berlangganan Flickr Pro? Dalam perhitungan biaya mungkin kita mampu, namun dalam daftar prioritas akhirnya Flickr Pro akan diletakkan di urutan terakhir. Apa jadinya jika Flickr Pro jadi $5 setahun? Harga yang lebih murah membuka akan peluang baru.

Bigger Market

Tak semua barang dan jasa patut dibandrol dengan harga mahal. Beberapa barang dan jasa bisa jadi punya ongkos produksi yang kecil. Jika menjual dalam volume besar tidak masuk akal dalam rangka memudahkan pembayaran, maka terpaksa harga juga harus dibuat micro. e-book dan musik bisa dijual dalam harga micro. Mungkin kita bisa menjual artikel blog, atau komik strip dalam harga mikro tanpa harus membebani pembaca dengan biaya langganan tahunan yang besar. Lebih banyak variasi harga yang bisa dipakai berarti makin besar pula jenis dan cara menjual produk. Lebih banyak pilihan produk lebih banyak customer yang bisa disasar. Artinya pasar yang lebih besar juga.


Kira-kira ada tidak yang salah dengan micropayment? Kenapa kira-kira sampai sekarang micropayment belum juga take off, bahkan dalam konteks internasional?

Penny Gap

Bukan soal ketiadaan payment gateway tapi ada persoalan psikologi juga. Umumnya kita tak suka (terlalu) banyak pikiran. Oleh karena itu kita suka dengan diskon karena kalau pun rugi kita tak akan rugi terlalu banyak seperti saat membeli dengan harga asli. Kita juga suka dengan barang gratis karena nothing to lose.

Ada yang disebut dengan “mental transaction costs” dengan gejala “malas berpikir” seperti yang dicontohkan di atas. Semakin kecil harga kadangkala kita semakin berpikir apakah harga tersebut pantas. Apakah harga edisi digital Cinemags bisa dibandrol 5 ribu, misalnya? Apakah 5 ribu yang akan kita keluarkan akan sepadan dengan isi Cinemags? Kita dapat poster apa saja, ada informasi film baru dan review film tidak?

Atau kita pakai contoh harga sms dan data yang kemarin sempat berlomba-lomba sampai 0,0000…1. Kita dipaksa untuk berhitung, untuk menentukan apakah harga tersebut pantas atau kita tertipu. Proses semacam ini menjadi harga transaksi mental. Harga yang kecil ternyata memicu pemikiran yang kompleks. Pusing.

Competitor

Micropayment memiliki kompetitor. Kompetitor ini adalah advertising[2] . Program seperti adsense telah menjadi standar de facto untuk micropayment. Adsense memberikan kemudahan dalam menjual konten dengan harga mikro. Tak perlu payment gateway baru, hanya perlu pencatat transaksi mikro yang akan mengagregasi semua penjualan kita. Kalau ada yang lebih mudah, kenapa harus memilih jalur micropayment murni yang kompleks?

Jadi bagaimana caranya micropayment bisa sukses?
Micropayment perlu beradaptasi, perlu blending dengan aktivitas sehari-hari. Micropayment harus hadir dalam bentuk yang tak menghadirkan kendala baru.

Referensi

[0] http://en.wikipedia.org/wiki/Micropayment
[1] FREE. Chris Anderson. 2009. Chapter 4: The Psychology of Free. Page 59.
[2] http://donationcoder.com/Articles/One/index.html

Yahoo+Facebook, Google+Twitter

Yahoo+Facebook, Google+Twitter

Hey lets ride together, Yahoo said to Facebook

Tidak akan ramai kiranya jika NavinoT tak turut serta dalam diskusi tentang momen menarik beberapa waktu lalu. Kemarin, Yahoo dan Facebook sepakat untuk berteman lebih erat. Yahoo akan menambahkan Facebook Connect ke banyak, jika tak semua, aset-asetnya. Hal ini berarti nantinya kita bisa masuk ke Yahoo dengan akun Facebook. So?

Apa yang terjadi dengan Yahoo! Social Strategy?

Pertanyaan serupa muncul saat Yahoo mengumumkan kesepakatan dengan Microsoft untuk mensuplai Yahoo! search dengan Bing. Apa yang terjadi dengan Yahoo! search? Bukankah search adalah salah satu aset utama Yahoo? Walaupun sudah dinyatakan bahwa BOSS tampaknya tidak terpengaruh dengan kesepakatan ini, saya tak pernah merasa jelas bagaimana kesepakatan ini diimplementasikan.

Dan kini, Facebook yang notabene pemain social media justru dirangkul oleh Yahoo!. Seperti yang sudah kita tahu, Yahoo! memiliki Yahoo! Social Platform. Dalam mata saya platform ini adalah senjata Yahoo! untuk masuk ke perang social media secara lebih terbuka. Merangkul Facebook, secara implisit menampakkan seolah Yahoo! tak lagi mengangkat senjata. Memang belum ada kesepakatan lebih jauh ke arah sana, namun jika pertemanan ini menjadi lebih erat maka salah satu harus mengalah. Yang satu akan diserap oleh yang lain. Lihat saja Facebook dan Friendfeed.

User base

Yang pertama terbayang oleh saya adalah, berapa nantinya jumlah pengguna total Yahoo akibat kesepakatan ini. Yahoo sendiri menyebutkan bahwa hampir 50% penggunanya punya akun Facebook. Bberarti, minimal, Yahoo bisa mengembalikan 50% penggunanya yang mungkin sekarang lebih aktif di Facebook daripada situs Yahoo.

Namun hal ini tidak berarti jumlah penambahan pengguna yang datang ke Yahoo hanya sedikit saja. Sisa pengguna Facebook yang tidak menggunakan Yahoo sebelumnya bisa jadi lebih banyak dari 50% pengguna yang kedua layanan. Khususnya untuk regional non Asia.

Untuk Asia sendiri, kesepakatan ini akan jadi langkah raksasa. Karena banyak dari kita yang punya akun kedua layanan, efeknya bisa terasa seperti perusahaan yang merger. Yahoo is Facebook and Facebook is Yahoo.

Di mana Google?

Google hari ini sepertinya tak mau tersalip di tikungan. Hari ini Google mengumumkan bahwa Google Friend Connect telah mendukung akun Twitter. Kini kita bisa login ke sistem FriendConnect menggunakan akun twitter kita. Google Friend connect ini rasanya tak terlalu laris karena valuenya tidak begitu terasa. Namun dengan mendukung Titter berarti Google akan punya banyak pengguna baru untuk mensukseskan Google FriendConnect. Dan pengguna Twitter-pun akan mendapatkan ekstra benefit karena bisa mengakses jaringan Friend Connect. Well, most benefit ada di Google sih. Hmm, lucu juga ya, untuk mengambil manfaat dari user base layanan lain kita tinggal support loginnya saja.

Oke, masih ada raksasa yang belum saya sebut. Kira-kira apa langkahnya? Cuek?

PS:

DailySocial juga punya opini menarik tentang hal ini.

Kultur Microsoft Terefleksi Lewat Produk yang Dihasilkan

Kultur Microsoft Terefleksi Lewat Produk yang Dihasilkan

Which product would you choose?

Beberapa hari yang lalu, aku baru saja meng-install salah satu penawaran Microsoft terbaru yaitu Microsoft Office 2010. Walaupun statusnya yang masih beta, aplikasi ini sudah terlihat sempurna. Rupanya, di versi ini Microsoft sedikit lebih menaruh fokus terhadap sharing dan kolaborasi.

Salah satu fitur yang dimiliki oleh Word di Office 2010 yang sepertinya memungkinkan kolaborasi adalah Save to SkyDrive. SkyDrive adalah pelayanan Windows Live yang memungkinkan penggunanya untuk menyimpan file di awan. Ini adalah strategi murah untuk Microsoft bersaing dengan fitur kolaborasi Google Docs.

SkyDrive bukanlah satu-satunya penawaran penyimpanan cloud based dari Microsoft. Microsoft Office Live, Live Sync dan Live Mesh memecahkan masalah yang serupa. Empat pelayanan tersebut memungkinkan penggunanya untuk mengakses file yang sudah disimpan di mana saja walaupun dengan teknik yang sedikit berbeda. Tinggal kita sebagai penggunanya memilih apa yang paling tepat untuk metode penggunaan kita.

Yang mana yang harus aku pakai?

Pengguna produk Microsoft memang sudah terbiasa untuk dipaksakan untuk memilih. Microsoft selalu punya berbagai varian dalam penawarannya untuk melayani market yang berbeda. Dari sisi operating system kita akan menemukan berbagai varian dari Windows; Server, Home Server, Media Center, Home, Professional, Enterprise, Ultimate, dsb. Begitu pula dari sisi programming kita akan menemukan berbagai varian untuk metode pengambilan data; ADO.Net, ADO.Net Data Services, Linq to SQL, Entity Framework, dsb. Dan kali ini kesulitan yang sama pun terjadi, rupanya aku bukan satu-satunya yang kebingungan.

Setelah melakukan riset kecil, aku menemukan bahwa It takes another Microsoft Guy to show how to use their technology. Ini rangkumannya:

SkyDrive adalah jasa yang cocok untuk berbagi file yang tidak perlu dirubah lagi dan ternyata bukan untuk kolaborasi secara real time. Bayangkan SkyDrive sebagai cloud based USB stick.

Microsoft Office Live diciptakan spesifik untuk dokumen dan bekerja mirip seperti document management di SharePoint dengan sistem Check In/Check Out. Office Live juga dilengkapi dengan fitur Share Screen di mana penggunanya bisa berbagi real time view (berbasis Live Meeting) dari sesi salah satu editornya. Sayangnya tidak ada fungsi real time collaboration seperti Google Docs.

Live Sync atau dulunya dikenal dengan nama Folder Share memungkinkan penggunanya untuk sync file dengan komputer yang berbeda. Jasa ini cocok dipakai untuk sinkronisasi beberapa komputer yang berbeda.

Live Mesh memiliki semua fungsi yang ditawarkan oleh Live Sync ditambah akses web. Live Mesh tidak hanya mensinkronisasi komputer tapi juga perangkat lain seperti telepon genggam. Yang membuat Live Mesh sangat menarik adalah jasa ini menyimpan file-file kita di cloud sehingga bisa kita dapatkan kapan saja dan dari mana saja melalui websitenya.

Lemak?

Melihat daftar di atas, aku merasa bahwa dalih Microsoft ‘setiap jenis pelayanan diciptakan untuk target market yang spesifik’ tidak dapat dipegang dengan kuat. Kita bisa melihat bahwa segmentasi pasar SkyDrive dan Microsoft Office Live sangat overlap dan seharusnya bisa dikonsolidasi. Begitu juga Live Sync bisa seharusnya ditelan oleh Live Mesh.

Fenomena ini juga terjadi di dunia programming di mana Microsoft berusaha menkonsolidasi Linq To Sql dengan Entity Framework melalui Linq to Entities, dan juga membuat sinergi yang lebih ketat antara SQL Server Modelling (Oslo) dengan Entity Data Model setelah teknologi-teknologi ini keluar.

Conway’s law

Sebagai perusahaan besar, Microsoft memiliki lemak untuk dapat bergerak lincah dan beroperasi se-efisien perusahaan yang lebih kecil. Di kala perusahaan baru bertumbuh, jumlah karyawan biasanya sangat rendah. Deskripsi kerja setiap karyawannya juga seringkali tidak jelas. Situasi ini menuntut dan mengembangkan kultur komunikasi yang aktif dan efisien. Di fase ini, perusahaan beroperasi seperti kelompok organik yang berusaha menuju ke satu tujuan, yaitu untuk berkembang.

Tetapi ketika perusahaan sudah bertumbuh menjadi besar dan terdiri dari berbagai kantor cabang di seluruh penjuru dunia, hal-hal yang tadinya sepele menjadi masalah rumit yang harus dipecahkan. Contohnya, Logistik untuk karyawisata tidak bisa lagi dipecahkan dengan musyawarah nebeng sama yang nyetir. Sang koordinator harus ingat sewa bus.

Masalah yang sama juga terjadi dengan komunikasi antar individu maupun tim. Menjaga komunikasi yang efektif antar regional, kantor, tim dan individu di perusahaan skala besar bukanlah sesuatu yang mudah. Dan bila masalah ini tidak terpecahkan dengan baik, konsumer akan bisa melihat dampaknya di jasa atau produk yang kita berikan.

Seperti kata Melvin Conway di tahun 1968: sistem yang diciptakan oleh sebuah organisasi mencerminkan struktur komunikasi organisasinya.

Ronald Widha, seorang konsultan software yang berspesialisasi dalam teknologi dari Microsoft. Juga bertanggung jawab atas podcast Teknologi Informatika mingguan di TemanMacet.com.