Browsed by
Category: Featured

Yang tidak boleh dilewatkan

Keseriusan William Tanuwijaya Mengolah Tokopedia

Keseriusan William Tanuwijaya Mengolah Tokopedia

tokopedia-william

Dari sederetan pemenang Bubu Awards 2009, kemenangan Tokopedia merupakan sebuah kejutan tersendiri. Selain masih berstatus closed beta, situs ini berhasil menyingkirkan beberapa finalis lainnya dalam kategori e-commerce.

Berikut adalah penuturan dari salah satu founder Tokopedia, yang bernama William Tanuwijaya, yang juga mewakili tim Tokopedia. Menurutnya, beliau adalah seorang penggemar film yang suka dengan dunia web. Cowok kelahiran Pematangsiantar ini telah menetap di Jakarta sejak kuliah Teknik Informatika di Universitas Bina Nusantara (1999). Setelah lulus di tahun 2003, beliau sempat bekerja di salah satu perusahaan lokal. Sekarang hanya Tokopedia yang ada di dalam benaknya, karena memang dia pendiri sekaligus direkturnya. 🙂

Read More Read More

Blogger dan Brand

Blogger dan Brand

3137530121_e009f10fc3-small

Melengkapi tulisan Pitra tentang brand dan blogger, berikut ini adalah versi saya tentang blogger dan brand. Bagaimana brand harus mendekati blogger? Tentu saja brand harus mengerti personalitas blogger. Apa saja sifat blogger?

Blogger suka berkumpul

Daripada mencari blogger satu per satu dan hasil akhirnya belum tentu sesuai dengan profil yang brand cari, lebih baik mencari komunitas yang profilnya sesuai. Dari komunitas, barulah dicari personal-personal yang ingin didekati. Jadi sebenarnya mencari blogger juga tidak susah yang kadang dikeluhkan brand.

Tangkap kepala suku, dapatkan seluruh aset suku

Komunitas pasti punya figur yang dituakan. Tak beda juga dengan komunitas blogger atau komunitas yang mengandung blogger. Dekatilah kepala suku atau member yang berpengaruh. Jika brand bisa meyakinkan orang ini, sisanya bakal lebih mudah. Your word is my command, begitu kata anggota kepada kepala suku.

Bloggers are selfish, let them be

Blogger tak dimiliki oleh siapapun. Bisa jadi sekarang mereka tergabung dalam suatu komunitas, tapi jika sudah muncul perbedaan visi bisa saja blogger cabut dari komunitas tersebut. Seperti yang Ndorokakung katakan dalam seminar Online Crisis beberapa waktu lalu, orientasi blogger adalah hati nurani masing-masing. Inviting them does not mean owning their soul.

(Most) Bloggers are tech savvy

Iya, blogger adalah salah satu early adopters. Google is always on their disposal. Jadi tidak perlu repot-repot menerangkan ulang apa yang sudah terpajang di website produk satu persatu. Cukup highlight apa yang penting saja. Lebih baik berfokus pada materi non produk. Dalam kasus produk antivirus, materi tentang bagaimana virus dibuat, disebarkan dan berefek global akan jauh lebih menarik dari kemampuan produk. Your product is a desert, not the main course. Desert should be a sweet closing over the main course.

All the above are wrong! It’s more about your story and how you tell it

Ingat kembali All Marketers are Liars. No matter how hard person a blogger is, you can always trick them with your story. If only you know what to tell and how to tell it appropriately. Blogger juga manusia. Superman saja punya kelemahan: batu kripton and jeritan Lois Lane. Bloggers are soft on freebies, personal approach and emotional issues.

Bagaimana menurut kalian? Blogger itu sosok yang seperti apa sih?

Kiprah Situs Social Bookmarking Lokal

Kiprah Situs Social Bookmarking Lokal

socialbookmarkinglokal

Kita telah membahas topik ini sebelumnya, berkaitan dengan popularitas situs yang mengandalkan user-generated content, ala Digg atau Lintas Berita. Kesimpulannya memang kehadiran editor tidak bisa disingkirkan begitu saja, setidaknya tidak dalam waktu dekat. Tapi di lain sisi, apakah suatu situs seperti Lintas Berita bisa melewati popularitas media mainstream yang dikelola secara tradisional seperti Detik?

Read More Read More

The Rules of FREE

The Rules of FREE

Calliandra

Beberapa hari ini saya selalu berbicara tentang buku baru Chris Anderson, “Free”. Chris Anderson ini adalah penulis buku Long Tail yang juga memukau. Terlalu banyak hal menarik yang bisa menggelitik pikiran kita dalam buku tersebut. Berikut ini saya sadurkan 10 aturan Free yang bisa kita jumpai di bagian Apendix A dalam buku Free.

  1. If it’s digital, soon or later it’s going to be free
  2. Seperti yang kita tahu, ada kecenderungan penurunan biaya penyimpanan, storage, computing power. Free bukan pilihan tapi justru tak terhindarkan.

  3. Atom (non-digital) wants to be free to, but not so pushy about it
  4. Tapi free ini terlalu atraktif sehingga begitu banyak marketer yang ingin menjadikannya sebagai strategi. Pada saat ini banyak produsen yang membuat core productnya free dengan jalan menjual sesuatu yang lain.

  5. You can’t stop free
  6. Kita bisa saja mencegah terjadinya free dengan berbagai macam usaha penguncian atau lewat hukum. Tapi kita tak akan bisa melawan gravitasi ekonomi yang menginginkan free. Tinggal tunggu waktu saja sampai ada orang yang mampu memecahkan kunci atau menghadapi hukum yang ada.

  7. You can make money from free
  8. People will pay to save time. People will pay to lower risk. People will pay for something they love. People will pay for status. For everything else? You can use Visa .. err you can give it Free maksudnya 😀

  9. Redefine your market
  10. Anda bisa menggratiskan ongkos bus ke PRJ, tapi Anda bisa tetap mendapatkan uang lewat profit sharing dengan merchant PRJ. Free akan dan bisa membuat Anda mendefinisikan ulang market yang Anda sasar.

  11. Round Down
  12. Harga akan bergerak ke nol. Datangnya Free bukan soal bagaimana, tapi soal kapan. Kenapa tidak menjadi yang pertama dalam hal Free? Yang pertama akan memenangkan perhatian dan akan selalu ada cara memonetisasi Free.

  13. Soon or later you will compete with Free
  14. Iklim kompetisi lambat laun akan membuat kompetitor Anda men-charge less dari Anda. Berapa tarif data dan voice operator Anda sekarang?

  15. Embraces ways
  16. Jika harga semakin murah dan menjadi terlalu susah diukur maka berhentilah mengukurnya. Produsen yang cerdas akan segera melihat ke mana tren harga mengarah dan segera mendahuluinya.

  17. Free makes other things more valuable
  18. Every abundance makes a new scarcity. Dulu orang suka melihat tivi karena entertainment begitu langka sedangkan waktu tidak. Bertolak belakang dengan saat ini, siapa yang suka menunggu entertainment datang di tivi? Saat suatu hal menjadi Free, value berpindah ke layer yang lain.

  19. Manage for abundance not scarcity
  20. Ketika suatu resource masih langka maka kita harus berhati-hati menggunakannya. Dalam kultur perusahaan kita mengenal budaya top down karena ketidakmampuan membiayai kegagalan akibat mensia-siakan resource. Bagaimana jika resource tersebut berlimpah? Kultur perusahaan mungkin akan berubah dari “don’t screw up” ke “fail fast”

Ada economy of scarcity dan sekarang ini ada economy of free. Mana yang akan Anda terapkan untuk melibas kompetitor?

PS:
Tahukah Anda bahwa buku Free ini bisa dibaca gratis di Scribd dan bisa didownload dalam bentuk audiobook.

Ongkos Desain Yang Tidak Diakui

Ongkos Desain Yang Tidak Diakui

indonesiakreatif

Di Indonesia, semua orang maunya serba murah. Murah dalam arti material, kualitas, bahan, termasuk desain. Hal yang berbau premium sudah pasti membuat konsumen beraksi menjauhi.

Contoh gampangnya adalah desain kartu nama yang merupakan satu hal yang lumayan sepele. Bertujuan untuk bertukar informasi dengan relasi yang baru ditemui. Dalam prakteknya, bila seseorang dikenai biaya premium/ekstra untuk ongkos desain, maka akan ada reaksi lain, yaitu sedikit ketidak-relaan. Walaupun produk tersebut akan mempunyai nilai lebih setelah melewati proses desain.

Selain konsumen yang tidak selalu mampu atau ditekan anggaran, desainer Indonesia masih jarang yang mampu membuktikan bahwa jasa desain yang dilakukan memang mempunyai nilai lebih. Bukan hanya sekedar tampil cantik atau beda.

Akibatnya desainer Indonesia jarang yang berpraktek sebagai desainer lepas dengan kualitas premium. Melainkan harus menekan biaya desain dan bekerja sama dengan unit produksi dengan imbalan komisi.

Efek samping lainnya justru lebih parah. Desainer tidak bisa bekerja sesuai fungsinya dan selalu ditekan oleh anggaran dari sang klien. Yang tadinya bakat untuk berkarya secara kreatif tidak bisa lagi beroperasi normal, bahkan bergeser menjadi salah satu unit produksi dengan waktu yang sangat terbatas.

Hasilnya adalah produk yang setengah matang, atau setengah jadi. Selain bahan yang digunakan tidak memadai, juga hasil karya yang harusnya kreatif, jadi asal-asalan.

Faktor lain adalah prakter jiplak dari desainer lain, yang mungkin tidak terlalu berbakat, atau dihimpit anggaran yang terbatas. Hal ini membuat desainer serius jadi kehilangan hawa untuk bersaing secara semestinya.

Itulah yang kiranya terjadi di dunia kreatif Indonesia. Desain masih terbilang premium, optional, dan hanya bisa dikonsumsi golongan tertentu. Sebagai desainer, apa yang kiranya bisa kita lakukan untuk mendidik publik, bahwa desain itu bukan sekedar tambil cantik atau beda?

Ayo, teman! Ini demi industri kreatif kita!

Starting Up, Paul Graham Way

Starting Up, Paul Graham Way

The match is starting

Beberapa waktu ini berulang-ulang saya mendengarkan interview Mixergy dengan founder Reddit. Dalam interview tersebut, beberapa kali diceritakan hal menarik seputar Y Combinator dan sosok Paul Graham. Hal tersebut akhirnya memicu saya untuk mencari interview lain terkait Paul Graham.

Ada beberapa pointer menarik yang akan saya bagi di sini, mengenai starting up dalam perspektif Paul Graham (as I can understand).

One thing we’ve learned in this past year is that commitment matters more than we thought, and brains less

Bukan berarti otak dan ide tidak penting ya? Ideas is dime a dozen. Ide itu murah, begitu yang saya ingat dari tulisan Hendry Lee. Jika Anda dengarkan wawancara Mixergy yang saya singgung di atas, founder Reddit mulanya datang ke Y Combinator dengan sebuah ide cemerlang (bukan Reddit). Ide ini ditolak oleh Y Combinator, namun dua orang founder ini tetap diminta kembali lagi dengan ide yang lain. Story short, founder ini akhirnya bisa membangun sesuatu yang recognizable.

Untuk cerita lengkap sejarah Reddit, pastikan Anda dengarkan podcastnya. Saya stempel “NavinoT Recommends”.

The most important task at first is to build something people want. If you don’t do that, it won’t matter how clever your business model is

Ada yang bilang dan saya kira banyak yang percaya, ngapain sih punya ide bagus kalau model monetisasinya tidak jelas? Dalam perspektif Paul Graham, model business adalah urusan nomor dua. Yang pertama adalah membuat sesuatu yang diinginkan orang. Kenapa?

…to make money from something popular is a lot easier than making something popular

Sekarang mungkin Anda baru paham (begitu pula saya). Jika Anda sudah punya sesuatu yang populer, Anda bisa bebas bereksperimen dengan model bisnis dan monetisasi apapun. Sepertinya memang seperti ini jalan pikiran VC. Oleh karena itu mereka tidak ragu berinvestasi pada Twitter yang tak jelas monetisasinya. Targetnya adalah populer tepat pada waktunya, the rest will (should) follow.

“Make something people wnt.” If you had to reduce the recipe for a successful startup to four words, those would probably be the four

Jadi, bagaimana caranya membuat sesuatu yang populer? Paul Graham menyarankan kita untuk membuat sesuatu yang memang diinginkan orang. Tentu saja sangat masuk akal. Namun jangan terpaku pada yang kini diinginkan saja. Sebelum twitter ada, tak seorang pun yang tampaknya menginginkan twitter. Namun coba liat saat ini? Tiba-tiba twitter jadi kebutuhan!

The easiest way to make something people want is to make something you want. What do you wish existed that doesn’t?

Cara termudah untuk memenuhi keinginan orang adalah dengan jalan memenuhi kebutuhan sendiri. Ada sekian milyar calon konsumen di dunia ini. Tak mungkin semuanya punya keinginan yang berbeda. Dengan memenuhi kebutuhan diri sendiri, dipastikan Anda juga akan memenuhi kebutuhan orang-orang lain yang punya kesamaan dengan Anda. Ah masa sih?

Google do better job on online calendar than a video sharing site, because their employees are probably not supposed to be sitting watching videos at work

Kenapa Google membeli Youtube padahal Google juga bisa membuat situs video sendiri? Karena Google memang tidak excel dalam hal video. Bukan pada soal teknis, namun pada soal what people really want. Pegawai Google pastinya lebih sering mengetik kode, sharing dokumen, dan menjadwal meeting daripada menonton video seharian. You see, dengan memenuhi kebutuhan sendiri berarti Anda memenuhi kebutuhan orang lain. Jika kita melakukan hal ini dengan baik, produk yang dihasilkan pun akan jadi lebih baik manfaatnya bagi orang lain.

Pertanyaan evaluasi diri

Bagi Anda, apa yang masih menjadi ganjalan membuat startup? Ide kah?Modal kah? Motivasi? Saya rasa quotes dari Paul Graham bisa jadi motivasi.

Referensi:
http://www.techcrunch.com/2006/09/02/an-interview-with-vc-paul-graham-of-ycombinator/
http://www.paulgraham.com/web20interview.html
http://mixergy.com/no-reddit-didnt-copy-digg-heres-how-it-was-built-with-alexis-ohanian/

Not Again: Is Blog Really Dying?

Not Again: Is Blog Really Dying?

Plus Minus Zero

I was reading this piece, somehow I had the urge to comment. It’s getting longer in the comment box so I think I’m going to jot it down here while also performing what we called trackback.

What microblogging is for?

Saya rasa microblogging “hanya” menambah unsur realtime dalam penyebaran konten. Untuk jadi realtime, berarti kita harus cepat. Dalam waktu yang cepat berarti konten harus singkat tetapi harus padat pada intinya. Lebih tepat lagi sebenarnya, sesingkat SMS karena mciroblogging dulunya dioptimasi untuk SMS. Microblogging is breaking news.

Microblogging saat ini sudah mengalami re-purposing. Di tangan early adopters yang techie, microblogging menjadi alat tepat untuk berbagi resource. Saling melempar link, dan menginisiasi buzz, membentuk awareness, dan macam-macam agenda lain.

What has happened to bloggers?

“Namun untuk mendekati ke Blogger saat ini tak semudah dulu, agar pesan Anda ditulis. Karena saat ini Blogger sudah jarang menulis, keblinger dengan social media dan microblogging, ditambah lagi dengan begitu banyaknya undangan buat para blogger menghadiri berbagai acara yang disponsori oleh merek tertentu.”

Saya kurang setuju. Dari dulu blogger memang susah didekati jika kita tidak mau mengerti si blogger. Blogger berangkat dari independensi, jadi jika seseorang mendekati blogger untuk menyuruhnya menulis sesuatu tentu saja bakal ditolak (apabila tidak bisa meyakinkan).

Pernyataan “keblinger” sepertinya agak berlebihan. Harus diingat juga bahwa blogger adalah early adopters. Mereka pasti akan mencoba semua hal baru, termasuk di dalamnya adalah microblogging dan social media. Jika memang media baru ini bermanfaat tentu saja mereka akan memakainya, dan bahkan merekomendasikan pada pembacanya.

Blogger diundang ke acara tertentu karena prestasi blogging itu sendiri. Semakin banyak pemegang brand yang sadar bahwa people trust their friends for almost everything. Termasuk dalam hal membeli dan menggunakan produk. Blogger adalah personal “tanpa” agenda. Motivasinya hanya sharing what’s good dan disclose what’s hidden. Kemiskinan agenda ini adalah salah satu hal yang membuat blogger lebih unggul (efektif) daripada media tradisional. Saya rasa kita sudah bisa membandingkan bagaimana acara Anda akan ditulis di media dan di blog. Dengan tambahan, Anda hanya bisa dapat satu tulisan di media tradisional, sementara Anda bisa dapat tulisan dengan banyak sisi di blogosphere.

Blogging vs Microblogging?

Sepertinya blogging dan microblogging ini bukanlah lawan. Hanya saja orang-orang tiba-tiba menemukan banyak hal lain yang bisa dibagi lewat microblogging. Microblogging menjadi dominan karena beberapa aktivitas non-blogging yang sebelumnya terpisah-pisah kini dibundel dalam satu channel. Upload foto, lalu nge-tweet. Masuk mall, lalu update koprol. Ada artikel menarik, selain masuk delicious juga masuk twitter. Anda nge-blog, ternyata mengupdate microblog juga.

Microblogging does not nullify blogging. Tapi blogging juga bukan hal sakral yang tidak boleh/bisa mati.

Apa pendapat Anda? Apa yang telah terjadi dan akan terjadi pada aktivitas blogging?

Netflix dan Gamefly

Netflix dan Gamefly

Snail mail

Di luar negeri kita mengenal Netflix sebagai penyedia layanan sewa DVD. Kita tidak perlu datang ke kantor Netflix, DVD akan dikirimkan ke rumah kita. Katalog dan pemesanan bisa diakses lewat internet. Dan dengan populernya layanan broadband, Netflix juga turut menawarkan “DVD over IP”. Ibarat memiliki Media Center sendiri, kita bisa menelusuri katalog dan langsung play.

Tidak hanya DVD (movie), ternyata game juga bisa disewakan. Gamefly mengambil bisnis model ini. Pesan lewat katalog online, game akan dikirim ke rumah Anda. Mainkan game sepuasnya, tanpa khawatir denda telat mengembalikan. Begitu dikembalikan, Anda akan dikirimi game lain dalam daftar pesan Anda.

Oke, sekarang mari terbang kembali ke Indonesia. VideoEzy, ada di antara Anda yang sempat atau masih jadi pelanggan? Sewaktu masih tinggal di Jogja, saya sempat menjadi saksi tutupnya salah satu cabang VideoEzy. Tampaknya mereka kalah bersaing dengan jaringan rental DVD bajakan yang semakin solid.

Ada beberapa hal yang membuat saya tidak menjadi pelanggan setia VideoEzy. Yang pertama tentu saja soal keterbaruan koleksi. Jika saya mampu membeli tiket bioskop untuk film terbaru maka saya tak akan pergi ke VideoEzy. VideoEzy tidak bisa mengikuti tren film terbaru. Kalau pun bisa, konsumen akan lebih memilih menonton di bioskop.

Yang kedua, masalah variasi koleksi. Selera umum konsumen tentu saja berkisar pada film-film terbaru. Namun selera khusus konsumen tak punya batasan variasi. VideoEzy bukan layanan terpusat seperti Netflix dan Amazon yang punya repositori besar. Ketersebaran VideoEzy membuat repositorinya tidak bisa memenuhi kebutuhan Long Tail konsumen. Ketika konsumen telah terpenuhi kebutuhan umumnya, mereka akan beralih ke kebutuhan khusus. Tanpa kemampuan memenuhi kebutuhan khusus, layanan seperti VideoEzy tidak akan bisa punya pelanggan tetap.

Kenapa model bisnis Netflix dan Gamefly tampaknya tidak cocok diimplementasikan di Indonesia?

Pricing. Untuk film baru, bioskop bisa memberi lebih banyak value dengan harga yang bersaing. Harga yang dipatok layanan seperti VideoEzy simply terlalu mahal. Rental/kios DVD bajakan, di lain sisi bisa sukses karena koleksinya relatif lebih lengkap dan patokan harganya bersaing (value lebih).

Untuk mengadopsi model Netflix dan Gamefly, pricing harus disesuaikan dengan variabel-variabel lokal.

Hukum. Hukum tampaknya tak mampu mencegah DVD bajakan sebagai alternatif ekonomis untuk menikmati dan mengkoleksi film. Pun hukum ini bisa berjalan, tampaknya masih akan berat sebelah. Bayangkan misalnya jika ada operator agak abal-abal dengan harga sepersepuluh dari rata-rata yang ditawarkan operator saat ini. Anda mungkin akan memilih operator abal-abal ini. Hukum tidak melarang operator ini untuk berjualan dengan harga berapapun. Hukum masih berdiri di sisi produsen.

Soal hukum ini, sebenarnya saya ragu-ragu apa memang ada pengaruhnya. Karena semua pasti akan kembali ke dasar, yakni soal harga. Peran hukum di sini mungkin untuk meniadakan alternatif ilegal, dengan tujuan memberikan lingkungan yang kondusif dan fair untuk berkompetisi.

Bagaimana menurut Anda? Apakah karena peminjam di sini suka ngembat DVD orisinil?