Browsed by
Category: Featured

Yang tidak boleh dilewatkan

Ke Mana Harus Mencari Ide?

Ke Mana Harus Mencari Ide?

Dizzy

Salah satu syarat supaya blog bisa cukup sukses adalah visibility. Artinya Anda harus menulis dalam interval yang diketahui oleh pembaca. Misal, senin sampai jumat, senin kamis, 3 kali seminggu, dan pola lain asal tidak random dalam sebulan. Kecuali kalau Anda adalah sosok yang sudah cukup terkenal dan sekali menulis langsung berefek ruar biasa.

Kendala umum dalam menulis secara reguler adalah pencarian ide. Bagi yang menulis berdasar mood, ini adalah persolaan besar. Sedang mood atau tidak, tulisan harus tetap dibuat. Jadi di mana kira-kira ide bisa dicari?

Get in the mood

Iya, mood bisa sedikit diaturkok.Baca saja materi favorit kamu entah itu komik,novel dan lain-lain. Setelah pikiran agak rileks,ide biasanya lebih gampang mendekat. Dalam kasus saya, mandi biasanya jadi solusi get in the mood. Mungkin efekny adalah membuat kepala jadi dingin dan badan menjadi rileks.

Read some more

Ide bisa dicari dari tulisan-tulisan orang lain. Saya membuka feedly (feed reader) secara rutin untuk mengupdate berita dan sekaligus mencari ide. Banyak hal menarik yang bisa disoroti dari tulisan-tulisan orang lain,misal: iPhone baru, aplikasi baru, peristiwa terkini, dan lain-lain. Jika belum menemukan, bacalah lebih banyak.

Jangan rewel!

Terkadang Anda telah menemukan ide, namun Anda tidak ingin mengakui atau menggunakannya. Entah karena tampak terlalu sederhana,  kurang keren, banyak lubang, dan sebagainya yang membuat Anda takut memakai. My ultimate advice: Stop, and give up! Sudahlah, terima saja apa yang mampir di kepala. Semakin Anda lebih pasrah, semakin gampang ide itu masuk. Jangan terus-menerus ngeyel mencari ide terbaik tahun ini tiap pagi. Sayangi otak Anda.

You know what, saya baru saja menyerah. Tak ada ide bagus sama sekali pagi ini. And you can guess, I came up with this lousy post :D. Ini penyakit berulang, you’ll run out of ideas sometime.Just accept it. It won’t hurt.

Okay,sekarang gantian. Di mana Anda mencari ide?

Mari Belajar dari Facebook Cause

Mari Belajar dari Facebook Cause

love
Cause adalah salah satu layanan yang disediakan Facebook untuk mendukung kampanye non profit untuk suatu goal tertentu. Baru-baru ini, terkait dengan UU ITE, ada kasus yang berujung pada ditahannya Prita Mulyasari karena menuliskan kekecewaannya tentang layanan Rumah Sakit Omni Internasional (Tangerang) lewat e-mail kepada teman-temannya. Ketidakadilan ini memicu banyak pihak untuk bersama-sama menggalang aksi dukungan dalam rangka memperjuangkan hak-hak korban. Lebih lengkap tentang detil kasusnya, Anda bisa membaca blog Ndorokakung.

Saya tidak dalam kapasitas untuk bisa menganalisa masalah ini lebih dalam. Saya akan lebih berfokus ke salah satu alat penggalangan dukungan: Facebook Cause. Apa saja sih yang terkait dengan Facebook Cause. Bagaimana kira-kira supaya kita bisa membuatnya sukses mencapai tujuan.

Setidaknya ada dua faktor utama yang mempengaruhi kesuksesan sebuah Cause. Yang pertama adalah isu yang diangkat, atau bagaimana isu diangkat. Tidak jauh dari praktek yang harus digunakan untuk marketing. Isunya harus menjual. Faktor elevator pitch juga berpengaruh. Penyampaian isu harus sesingkat dan sepadat mungkin. Harus dipastikan bahwa calon pendukung cause akan terpanggil untuk bergerak. Entah langsung beraksi untuk mendukung atau mencaritahu lebih jauh. Tentu saja markas besar untuk menyimpan materi press release dan berbagai penjelasan lain tentang cause ini juga harus dipersiapkan. Jangan sampai calon pendukung yang sedang mencaritahu lebih lanjut menemui jalan buntu atau gagal menemukan penjelasan latar belakang Cause.

Faktor kedua adalah seberapa viral atau distributable Cause tersebut. Faktor ini masih terkait dengan faktor pertama. Jika pendukung telah “terbeli”, maka faktor yang kemudian berperan adalah seberapa mudah Cause tersebut disebarkan. Tentu saja, walau Cause tersebut dibuat dalam Facebook tidak berarti persebarannya harus dibatasi dalam media Facebook. Banner dan short post bisa dibuat di blog dan disebarkan di situs lain di luar Facebook, misalnya delicious, flickr, stumbleupon dan lain-lain. Jangan lupakan juga media-media lokal seperti Fupei, Koprol dan berbagai layanan dalam negeri yang lebih punya potensi mendatangkan banyak dukungan terhadap Cause.

Ada dua hal penting yang bisa kita lakukan dalam menyikapi wacana ini. Yang pertama adalah memonitor bagaimana cause ini akan berkembang seiring waktu. Lebih keren lagi jika kita bisa mengamati pergerakannya secara realtime. Hal ini akan jadi studi yang bermanfaat, seperti halnya fenomena Say No Mega beberapa waktu lalu.

Tapi jangan lupakan juga, isu penting lain yang menjadi inti Cause. Ada hak manusia dan ketidakadilan yang terlibat di sini. Berpartisipasilah pada nilai-nilai yang Anda junjung tinggi. Apakah itu hak warganegara, hak seorang ibu, hak seorang bayi, atau demi keadilan secara umum. Take your stance, people!

Siasat Menghadapi Kekurangan Modal

Siasat Menghadapi Kekurangan Modal

Credit cards
Sebelumnya kita sudah membicarakan tentang mudahnya menciptakan peluang. Salah satu kendala setelah penciptaan peluang adalah soal pemodalan untuk memanfaatkan peluang. Mencari pinjaman ke Bank untuk membiayai startup Anda sepertinya cukup susah terlaksana. Jadi mari kita coba eksplorasi alternatif-alternatif lain.

Revisi Rencana Biaya

Tentu saja, hal pertama yang harus kita pertanyakan lagi adalah apakah kita benar-benar membutuhkan modal tersebut. Perlukah membeli dedicated server untuk sekedar memvalidasi ide? Perlukah menyiapkan dana iklan untuk mempromosikan layanan yang hendak dibangun padahal kita belum 100% yakin akan posisi konsumen potensial?

Membangun layanan dengan cepat atau membangun super komplit? Menurut Anda seberapa banyak modal dan pemikiran yang harus diinvestasikan untuk membangun sistem tanggap bencana? Perlu berapa lama? 100 juta untuk waktu pembangunan selama setahun?

HelpJogja.net yang dulu sempat menjadi salah satu pusat informasi penyaluran bantuan dan permintaan bantuan selama bencana gempa bumi di Jogja (2006) disetup hanya dalam semalam. Keesokan harinya sudah beroperasi menerima dan menyalurkan informasi tentang bantuan dan kondisi pelosok daerah bencana dengan cukup efektif. Tidak banyak yang diinvestasikan selain membeli domain dan alokasi waktu. Tidak ada ribut-ribut tentang penentuan format data atau API. HelpJogja bahkan tidak mengalami kesulitan dengan setup sms gateway, walau salah satu channel pelaporan yang dipakai adalah via SMS.

Rahasianya adalah spontanitas dan KISS (Keep It Simple Stupid). Cukup setup sebuah blog dengan wordpress, membuat kategori dan mulai mengisi informasi. Untuk SMS gateway tidak perlu membeli nomor khusus, cukup mendayagunakan hape masing-masing anggota untuk saling memforward berita.

Dibandingkan dengan biaya 100 juta, biaya yang dikeluarkan untuk membangun HelpJogja.net bisa dianggap hampir-hampir nol. Jadi, Anda harus bertanya-tanya pada diri sendiri: Do I really need the capital?

Mencari Partner in Crime

Modal terbesar yang dikeluhkan seseorang yang jago pemrograman biasanya adalah jasa desain dan interaksi. Opsi outsource tidak selalu jadi pilihan satu-satunya. Ada banyak orang diluar sana yang sedang menunggu datangnya kesempatan untuk bergerak. Banyak designer yang mengeluh tidak bisa mewujudkan ide cemerlangnya gara-gara tidak bisa coding.

Temukan partner in crime Anda. Tidak terbatas pada coding, dan desain saja. Marketing geek, Social media geek, dan berbagai macam geek spesialis ada di luar sana. Mencari dan memilih partner memang tidak mudah. Tapi mungkin jauh lebih feasible daripada mengajukan pinjaman ke bank untuk mendanai startup hebat Anda.

Ingat, partner in crime itu seringkali lebih berharga daripada uang. Passion dan energi partner sejati tidak akan mampu dinilai dengan uang. Komitmen dan dedikasi serta rasa turut memiliki akan lebih punya sumbangsih besar terhadap kesuksesan startup Anda.

Your turn!

Anda punya siasat lain dalam menyikapi wacana pemodalan? Bagaimana dengan tips atau insight tentang KISS dan mencari partner in crime? Bagaimana dengan motivasi? Peluang sudah diciptakan dan pemodalan sudah terbayangkan, tapi kenapa kita tak kunjung juga bergerak?

Politikana: Free for All Megaphone

Politikana: Free for All Megaphone

Megaphone

Tagline aslinya Politikana.com sih, politik 2.0. Di mana pembicaraan politik tidak lagi dimonopoli oleh segelintir orang. Dan kini semua orang bisa saling melempar wacana dengan lebih mudah, tanpa harus menunggu forum/event tertentu untuk diselenggarakan. Namun definisi yang tepat menurut saya adalah a free megaphone. Mari kita lihat buktinya.

Megaphone apaan?

Megaphone adalah alat pengeras suara portable. Tinggal comot, angkat, nyalakan dan mulailah berbicara. Mirip dengan blog, atau Wikipedia dimana kita bisa menciptakan halaman baru untuk diisi sesuatu dan disiarkan ke orang lain. Kalau di Wikipedia, mungkin ada tim editor. Dan kalau di blog, kita mungkin masih harus mencari audiens. Politikana punya audiens, tapi tidak ada editor. Editor di-outsource-kan pada pihak ke tiga: the wisdom of crowd. Dan karena wisdom of crowd inilah mengapa Politikana jadi sebuah pengeras suara bebas pakai. Ada sebagian dari crowd yang duduk dalam kubu yang sama, membawa agenda yang sama, dan kemudian meng-”abuse” Politikana. Politikana tiba-tiba menjadi channel privat perpanjangan media komunikasi atau doktrinasi. Which is, mungkin bukan tujuan awal kenapa Politikana dibangun.

Good or bad, jadinya?

Personally, apa yang terjadi di Politikana sekarang ini bagus untuk membangun kemampuan diskusi. Lebih tepatnya,bagi saya, conflict management. Jika Anda terjun di sana, bersiap-siaplah untuk berbeda pendapat. Bersiaplah dengan konflik yang muncul. Dan dalam konteks pemasaran, konflik adalah salah satu bentuk kontroversi yang bisa jadi bahan bakar promosi dan daya tarik.

Namun sisi jeleknya adalah Politikana mungkin tidak akan bisa jadi konsumsi para newcomers dalam bidang politik. Mungkin orang yang jarang berbicara politik menjadi jengah karena begitu masuk dan membaca komentar akan langsung mendapatkan berbagai macam pandangan, dan mungkin konflik sengit yang tidak dicari. Newcomers biasanya senang dengan lingkungan yang “aman” dan “damai”, bukan war zone.

Sebenarnya kandungan Politikana ini, termasuk konfliknya, adalah sangat niche. Akan tetapi, di sisi lain, juga membuat kontenya jadi itu-itu saja. Yang dibahas, karena terdominasi crowd tertentu, menjadi lingkaran yang tidak ada ujung pangkal. It’s getting no where forward.

Apakah ini tujuan asli Politikana?

I really doubt it. Tujuan aslinya mungkin jadi crowd-supported portal sebagai media monitoring perjalanan politik di Indonesia. Tapi politik tampaknya memang mirip OS, ada yang tak ambil pusing dan ada juga yang bersikap fanatik. Dan ketika ternyata banyak fanatik yang justru masuk Politikana, lebih banyak energi yang terfokus ke sana.

What Politikana did wrong?

  • Too few direction. Pancingan diskusi terkontrol memang ada, seperti fitur wacana ya dan tidak yang ada di sidebarnya. Tapi dibanding dengan kontribusi bebas pembaca, arahan ini jadi sedikit tersisih. Kalau agak lebay, mungkin Politikana bisa disebut sebagai chaos/riot chamber 😀
  • Too many noise, too few signal. Yang ini sangat debatable, karena tergantung bagaimana seseorang menyikapi informasi yang ada di sana. Tapi karena too few direction tadi, akhirnya kontribusi-kontrbusi signal jadi kurang terpancing. Yang muncul adalah noise dari agenda-agenda penggunanya yang memanfaatkan Politikana sebagai megaphone.

Kesimpulan

Apapun yang terjadi dengan Politikana saat ini, ada hal menarik yang bisa kita lihat. Fenomena di mana Politikana menjadi megaphone 2.0 adalah sebuah tanda bahwa dunia politik ternyata sangat menginginkan media interaktif. Begitu semangatnya ingin terjun dalam keramaian two-way communication, walau ujung-ujungnya masih memakai corong satu arah.

Konflik adalah bagian normal dalam proses manapun. Konflik bisa mereda akibat kejenuhan sehingga no one feed the troll anymore. Ini adalah early stage dari Politikana yang akan menentukan ke mana sebaiknya Politikana melangkah.

Politikana can die anytime soon. Begitu agenda para penggunanya selesai, Politikana bisa saja sepi dari konflik karena tiba-tiba ditinggal begitu saja. Bahan bakar yang membuatnya jadi ramai pun hilang. Akhirnya diskusi jadi adem ayem, crowdnya berubah. Crowdnya jadi 4L, Loe Lagi Loe Lagi. Akhirnya jadi platform yang tidak punya daya tarik.

Bagaimana menurutmu? Cari masalah -1? Biasa saja +0? Inspiratif +1?

iPhone & Telkomsel: Deal or No Deal?

iPhone & Telkomsel: Deal or No Deal?

iPhone

Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel yang saya tulis di Mobile Magazine, tentang peluang iPhone untuk sukses di Indonesia. Dengan mengamati asal usul iPhone dari awalnya, serta cara penjualannya yang serba tertutup, kesuksesan iPhone pantas diragukan. Berikut beberapa poin argumen yang bisa dijadikan acuan. Untuk ulasan lengkapnya, bisa baca artikel lengkapnya di Mobile Magazine.

1. Harga Penawaran Terlalu Tinggi

Dengan harga penawaran Rp 9 juta, masih termasuk mahal untuk kantong masyarakat Indonesia. Meskipun bisa diterima di Jakarta, tidak akan menjadi dominasi di Indonesia.

2. Kehadiran Awal Blackberry

Meskipun telah lama diluncurkan, iPhone baru hadir lewat versi 3G. Hal ini membuat Blackberry lebih banyak diadopsi pasar dan susah untuk membuat pengguna setia Blackberry untuk beralih ke iPhone.

3. Fitur Layar Sentuh

Perlu diakui gabungan user interaction dan fitur layar sentuh iPhone merupakan hal yang menawan. Begitu mudah digunakan dan terkesan alami, serta elegan. Ini masih merupakan nilai jual yang kuat bagi iPhone.

4. Distribusi Yang Tertutup

iPhone di Indonesia hanya bisa diperoleh secara resmi lewat Telkomsel. Dengan distribusi yang tertutup membuat pembeli susah untuk mencari harga miring secara resmi. Hambatan untuk membeli iPhone juga bertambah.

5. Penjualan Sistem Kontrak

Budaya penjualan di Indonesia lewat sistem kontrak masih terbilang baru. Hampir tidak pernah layanan seluler ditawarkan lewat cara ini. Ini juga merupakan satu tanda tanya baru bagi pengguna baru yang hendak mencoba iPhone.

6. iPhone Yang Kaya Aplikasi

Apple dengan cerdik menggunakan iPhone sebagai satu platform baru, yang membuka peluang bagi para pengembang perangkat lunak untuk berpartisipasi. Karena lebih terbuka dan lebih berorientasi profit.

7. Dukungan Konten dan Infrastruktur Lokal

Untuk aplikasi yang serius, perlu juga dukungan layanan data yang stabil. Dengan reputasi operator Indonesia yang cenderung mati-hidup, susah untuk menikmati layanan 3G dengan kekuatan penuh. Mau beranjak ke konten lokal, tenyata juga belum semarak. Masih terbatas blog dan portal berita.

Kesimpulan

Penawaran awal dengan harga selangit, mungkin juga salah satu strategi Telkomsel untuk mengeruk profit secepatnya. Karena menurut rumor terakhir, Apple tengah mempersiapkan iPhone versi selanjutnya. Bahkan informasi terbaru mengatakan bahwa suku cadang sudah mulai dipesan, yang berarti setidaknya akhir tahun ini atau awal tahun depan, versi iPhone terbaru akan diluncurkan. Berarti distributor sudah harus menghabiskan stok iPhone yang sekarang dan mempersiapkan ruang untuk versi selanjutnya. Obral iPhone? Mungkin saja.

Untuk iPhone di Indonesia: Deal or No Deal? Dengan bandrol harga sekarang? No Deal!

Buku Tertutup atau Terbuka

Buku Tertutup atau Terbuka

Treasure Book
Sewaktu saya sedang jalan-jalan di toko buku untuk mencari buku terbaru ndorokakung, saya sempat mengamati bahwa ada beberapa buku yang terbuka untuk dibaca-baca dan ada juga yang tertutup rapat. Kenapa tidak semua ditutup saja? Apakah takut tidak bisa memikat calon pembeli? Kalau begitu kenapa tidak dibuka saja semuanya? Apakah malah jadi takut tidak dibeli?

Kenapa praktek semacam ini masih diterapkan? Kenapa buku ditutup? Ada beberapa alasan yang bisa saya temukan.

  • Baca berarti beli. Satu-satunya cara untuk mengetahui isi buku adalah dengan membeli.
  • Aspek misteri. Sifat alamiah manusia adalah selalu ingin tahu. Bila packaging bagus, peluang sales akan bertambah karena pembaca akan semakin penasaran untuk membaca buku terkait.
  • Buku tersebut terlalu berharga untuk dibuka. Mungkin karena limited edition, harganya sangat mahal, atau sengaja dibungkus agar tidak lecet.

Apakah selalu begitu kasusnya. Apakah anggapan-anggapan di atas selalu valid? Tidak selalu, beberapa alasannya adalah sebagai berikut:

  • Tertutup berarti tidak banyak teaser. Tidak banyak yang bisa diketahui dari sampul depan, atau ringkasan di sampul belakang. Jika ternyata kita bisa tahu seluruh isi buku dari ringkasan tadi berarti pembaca tidak perlu membeli karena isinya adalah lima point yang direntangkan secaara paksa menjadi 150 halaman.
  • Unnecessary book. Jika buku tersebut hanya cukup dibaca sekali, mungkin buku tersebut tidak punya banyak motivasi untuk diterbitkan. Buku yang layak dibawa pulang adalah buku yang tidak akan kehilangan valuenya walau sudah dibuka dan dibaca. Biasanya buku ini punya nilai collectible atau sekedar terlalu tebal untuk dibaca dalam “lima menit”.
  • Open book punya nilai long term. Open book berarti ide yang ada bisa disebar. Walau pembaca belum tentu membeli buku Anda saat itu, ada value lain yang “dibeli” pembaca. Jika buku tersebut benar-benar bagus, pembaca mungkin akan membeli buku atau produk Anda di lain waktu.

Bagaimana? Anda pilih buku dibuka atau ditutup? Bagaimana dengan komik? Dibuka atau ditutup? Setujukah Anda bahwa buku yang kurang bagus tidak punya relasi dengan dibuka atau ditutup? Buku yang kurang bagus jika ditutup akan jelek, dan saat dibuka akan makin jelek?

Bagaimana Cara Mengalahkan Outliers?

Bagaimana Cara Mengalahkan Outliers?

Apple and Altair 8800

Bill Gates, mendapatkan akses komputer sejak dini. Menghabiskan banyak waktu menulis program lewat berbagai macam cara dan runtutan kesempatan yang dipastikan membuatnya punya lebih dari sekedar 10000 jam latihan selama 7 tahun.

Steve Jobs, tidak berasal dari keluarga kaya namun dia tumbuh besar di Mountain View, California. Lingkungannya dipenuhi dengan insiyur-insinyur dari Hewlett Packard. Jobs menghirup udara bisnis, dan punya kesempatan langsung berinteraksi dengan penciptaan komputer bersama insinyur-insinyur HP.

Dua orang ini beranjak dewasa pada masa yang tepat. Bill Gates dan Steve Jobs lahir tahun 1955. Dua puluh tahun kemudian, Altair 8800 diluncurkan ke pasar. Model pertama dari komputer mini. Benda yang ditunggu-tunggu para hacker dan banyak orang yang mengganggap mainframe itu tidak accessible dari segi harga dan ukuran.

Tahun 1975, Gates dan Jobs mempunyai usia ideal. Jika mereka lahir beberapa tahun lebih cepat, tentunya mereka sudah punya pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar semacam IBM. Jika mereka lahir lebih lambat, mereka akan jadi terlalu muda untuk memanfaatkan momentum komputer mini.

Dua orang ini adalah contoh outliers. Fenomena yang menyangkal pendapat umum bahwa kesuksesan hanya muncul karena kerja keras, dan bahwa lingkungan dan tempat tinggal kita tak punya pengaruh apa-apa.

Dalam statistik, outliers adalah observasi yang hasilnya “menyimpang” dari data yang lain. Dalam buku Outliers, Malcolm Gladwell menuliskankan faktor-faktor yang berkontribusi pada kesuksesan seseorang. Ada banyak hal lain di luar kerja keras. Rasanya mirip ramalan, tapi ternyata tanggal lahir punya pengaruh juga dalam menciptakan kesuksesan.

Pertanyaan besar saya, bagaimana kita bisa mengalahkan orang-orang ini? Bagaimana kita bisa mengalahkan orang-orang yang akan sesukses mereka di jaman kita? Di luar sana, pasti sudah ada Steve Jobs dan Bill Gates junior yang akan segera naik ke panggung. How can we beat them?

Sekilas tampaknya hopeless, tanggal lahir dan peristiwa-peristiwa khusus (eg; Altair 8800) adalah hal di luar kendali kita. Lalu bagaimana caranya kita bisa mengalahkan Outliers ini?

Saya baru menemukan satu hal saja. Tentang peristiwa penting. Sebenarnya peritiwa penting selalu terjadi setiap saat. Kernel dengan fitur baru. Layanan web 2.0 baru. iPhone baru, software baru, dan lain-lain. Ada pola pikir yang harus diputar balik. Alih-alih menunggu momentum datang pada kita, kita harus menemukan momentum yang tepat bagi kita. Jika kita terlalu tua untuk suatu momentum, pasti ada momentum lain yang akan segera datang yang pas dengan kita.

Mungkin saya sudah terlalu tua dan bebal untuk bisa ngoprek kernel, tapi mungkin masih ada kesempatan untuk jadi expert media online lewat acara Buzz5 ;). Bagi yang sudah ngeblog 7 tahun, tentunya ada momentum yang bisa dipakai untuk menunjukkan jam terbang ngeblog tersebut. Bagi yang masih muda, tersedia sekian tahun untuk mengumpulkan 10000 jam terbang dan beraksi di momentum di masa depan.

Okay, Anda sudah punya rencana mengalahkan outliers di sekitar Anda?

Humanizing Interaction Design by Nigel Sielegar

Humanizing Interaction Design by Nigel Sielegar

handgesture

Minggu lalu, saya ada berbincang-bincang dengan kepala bagian dari ESI design di New York, yaitu Edwin Schlossberg. Beliau berbicara tentang kurangnya satu produk di dunia ini yang diproduksi oleh 1 orang saja. Untuk membuat 1 poster, perangkat komputer yang dipakai merupakan hasil produksi dari ribuan orang di berbagai macam pabrik, Belum lagi perangkat lunaknya yang dikembangkan oleh banyak tim ahli. Ini belum termasuk hal-hal kecil lainnya, seperti mesin cetak, tinta, transportasi, dan lain lain. Tetapi, mengapa produk yang kita keluarkan, khususnya di bidang digital technology, mempunyai kecenderungan untuk membuat orang lebih individualis?

Read More Read More

Iklan yang Aku Mau

Iklan yang Aku Mau

Billboard Advertising

Siapa sih yang senang dengan iklan? Sudah lancang menyela acara kesayangan, ditambah memaksa-maksa beli produk pula. Masih mending kalau iklannya lucu atau keren, ada juga nih iklan ‘ecek-ecek’ yang diulang sampe tiga kali sekali tayang. Duh, cape deh.

Tapi kenapa tidak ada yang protes dengan iklan di Google ya? Ada beberapa faktor penyebabnya.

  1. User memang sedang mencari sesuatu. Kalau mengutip pak Herman Chang dalam acara FreSh semalam, user telah membuat keputusan membeli sebelum mulai mencari di Google. Oleh karena itu, iklan yang tampak di samping kanan tersebut justru dianggap sebagai informasi tambahan.
  2. Non obstrusive. Google membuat separasi antara konten dan iklan secara jelas. Akibatnya user bisa benar-benar fokus ke konten hasil pencarian tanpa terdistraksi dengan iklan. Keberadaan iklan, walau tidak diharapkan, ternyata tidak mengganggu user.

Analogi serupa bisa diaplikasikan ke blog. Kenapa orang benci iklan di blog walau ikan tersebut berasal dari sistem Google. Yaitu karena sedari awal user memang tidak berharap dan mencari iklan. Informasi blog lah yang dicari. Dan yang kedua, rata-rata keberadaan iklan tersebut menyita fokus dari konten.

Sekarang kita coba beranjak ke wacana RichMedia CDN (Content Delivery Network) yang (segera) diluncurkan oleh Detik. Detik, dalam acara FreSh semalam menjelaskan mengapa iklan RichMedia ini adalah masa depan dari iklan. Atau istilah kerennya “Ad 2.0”. Detik mengamati bahwa ad yang ada sekarang ini sudah tidak jamannya lagi. Selain formatnya membatasi kreativitas advertiser, value yang didapat advertiser juga kurang.

Detik memperkenalkan RichMedia sebagai alternatif baru. Dengan sistem pintar EyeBlaster, Detik akan mampu menghantarkan pengalaman lebih menarik dalam berinteraksi dengan iklan. Selain pandai dalam menentukan format iklan yang sesuai dengan kualitas koneksi, RichMedia ini juga akan memberikan value lebih pada advertiser lewat iklan interaktif eg: user bisa bermain-main dengan iklan, advertiser bisa mengcapture data untuk database, dll mirip dengan menaruh website advertiser dalam sebuah kotak iklan.

Setelah membaca paragraph-paragrat di atas, menurut Anda RichMedia yang ditawarkan Detik ini bisa laku? Menurut saya, ada pro kontra-nya.

  • What works? Long exposure. Menaruh iklan di internet selalu akan mendapatkan keuntungan ketakterbatasan waktu tayang. User bisa melihat kapan saja di mana saja. Dengan iklan interaktif yang juga punya fleksibilitas durasi dan size, faktor long exposure akan memberikan lebih banyak peluang konversi (sales).
  • What does not work? Interaction. user does not want ad in the first place. Saya tak berpikir interaction adalah the magic word yang akan jadi rahasia efektifitas iklan di masa depan. Menambah iklan tidak akan banyak menolong. User akan bertambah pintar dan mainan baru yang bernama “interaktifitas” ini akan segera jadi membosankan. Tapi kenapa interaktifitas justru jadi kata kunci Web 2.0. kenapa interaktifitas itu bekerja dalam konteks blog? Karena orang datang ke blog, bukan sebaliknya. Mereka memang sudah mendambakan interaktifitas.

So, apakah ini akan jadi blooper-nya Detik. Saya tidak tahu. Detik is not stupid. Yang jelas produk ini akan menuai perhatian besar dari para advertiser karena advertiser sedang membutuhkan cara baru untuk tampil beda dari advertiser yang lain. Sementara itu di pihak konsumen, formula yang berlaku masih sama: Kita tidak mau iklan kecuali kalau kita memang menginginkannya.

Kita tutup artikel ini dengan quote menarik dari artikel “Where is Everyone” (thanks @hendrylee untuk lemparannya).

In the same way, information will not be something you ‘consume’ a certain times – like you did with prime-time on TVs. The information stream will be a natural part of every second of your life. It is not something you get, it is something you have.

Jadi, di masa depan, informasi (termasuk iklan) adalah bagian natural dari setiap saat hidup kita. Interaktifitas bukan value utama yang akan membuat user mau melihat iklan kita. They will see it when they feel like watching it. It’s not about advertiser, it’s all about user.

Bagaimana pendapat Anda tentang iklan di masa depan?

Branding Lewat Repetisi

Branding Lewat Repetisi

sosro

Ada satu fenomena branding yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini, yaitu praktek branding lewat repetisi. Umumnya merek ini adalah pelopor pasar dalam kategori tertentu, sehingga mereka punya keuntungan untuk memperkenalkan produk lebih awal, dibanding para pesaingnya.

Read More Read More