Browsed by
Category: In Depth

Lebih tebal, berat & berisi

Bunuh Browser, Hidupkan HTML 5?

Bunuh Browser, Hidupkan HTML 5?

Ada artikel menarik di GigaOm tentang pertarungan native app dan HTML 5. Ternyata dari studi yang dilakukan oleh Flurry, native app lebih sering dipakai daripada web app (HTML 5). Lagak-lagaknya, kita mungkin over optimis dengan HTML 5. Jumlah aplikasi yang ada saja jauh lebih sedikit dari pada native app. Padahal sifat HTML 5 ini sudah benar-benar cross platform. Tanya kenapa?

HTML 5 itu Susah?

Ah yang benar? Bukannya membuat web itu gampang? Well, relatif gampang. Yang jelas, banyak yang bisa membuat web bagus dan mengundang decak kagum. Teknologinya bisa agak dinomorduakan, yang penting desain dan pengalaman buat user dulu. Banyak native app yang menyediakan fungsi sederhana, beberapa malah membuat ulang aplikasi jaman PDA dan J2MEyang notabene bukan aplikasi kompleks. Still, masih lebih laku native app.

Gak Ada App Market untuk HTML 5

Ya antara betul dan ngibul. Chrome appstore tak menolak aplikasi sejenis launcher. Mozilla malah punya inisiatif untuk membuat webstore yang bersifat open. Dulu, kita malah sudah punya oneforty walau terbatas hanya untuk Twitter. Tapi tidak ada yang take off. Paling gampang sih kita salahkan sedikitnya jumlah aplikasi. Gak ada aplikasi buat apa ada pasar?

Susah Dimonetisasi?

Ah, bo’ong lu. Web itu sudah ada sejak dulu. Dan e-commerce pun lahir di web. Metode pembayaran paling banyak ya di web. Tinggal pasang tombol Paypal. Kalau mau usaha dikit baru deh implement API supaya tercipta pengalaman yang lebih “seamless”. Yang nge-blend.

Segala peluang model monetisasi di native app bisa dilakukan di web. Mulai dari aktivitas standar beli konten sampai tren masa kini: in-app purchase, bisa juga diterapkan di web. Sifat platform web yang lebih cenderung fleksibel, mudah diupdate, membuat produk di platform web punya potensi untuk selalu kompetitif di sisi bisnis. Sekarang beli besok gratis juga bisa kali. Kurang apa?

Si Browser Brengsek

Bukan, saya tidak membicarakan satu dua browser tertentu, walau memang ada pengaruhnya juga karena cross platform-nya jadi dent di satu sisi. Tapi jaman sekarang semua sudah tahu pentingnya web. Jika browser-nya tidak up-to-date kemungkinan besar service provider tidak bakal mendukungnya. Kontrol platform ada di tangan service provider. Phew.

Kenapa saya sebut browser brengsek? Well, karena penyebab HTML 5 tidak kunjung take off adalah browser itu sendiri. Bukan soal support teknologi, tapi soal chrome/UI-nya. It doesn’t feel app-y. It’s too big?

Lama-lama, tab yang kita puja-puja — karena melepaskan kita dari kekang multi-window — kini serasa mencekik kita kembali. Munculnya smartphone membuat tampilan web di monitor laptop/desktop kita jadi pembuat dosa besar. Tidak maksimal dalam pemanfaatan layar. Terlalu banyak elemen tak penting. Tidak app-y.

Mungkin si browser brengsek ini terlalu lebar, terlalu bebas, terlalu fleksibel, terlalu terbuka. Kurang batasan supaya para pembuat produk jadi lebih kreatif. Perspektif harus diubah. Kelebihan adalah keterbatasan.

Apeu.

Blogging is Dead, Yet Again

Blogging is Dead, Yet Again

Halaah, blogging itu punya berapa nyawa sih. Dulu dibilang sudah mati, beberapa waktu lalu mati lagi. Sekarang mau mati lagi?

Kematian Pertama

Facebook memberikan tusukan kematian yang pertama. Notes, membuat kegiatan menulis apapun jadi menyenangkan karena kita bisa langsung pamer dan memaksa teman-teman kita di Facebook untuk membaca. Aku tag kamu di artikelku. Kamu gak bisa marah. Remove saja dari tag ngapain repot.

Aktivitas lain seperti update status dan upload foto menjadi penyerap energi. Tidak ada lagi waktu untuk ngopi, merenung, menganalisa dan menarik garis antar titik sebagai rangkaian kegiatan blogging. Why so serious?

Kematian Kedua

Blogging lalu dibunuh kembali oleh Twitter. Akibat Twitter, lebih banyak lagi orang yang malas menulis di blog. Jauh lebih sederhana untuk menulis 140 karakter di Twitter.

Tidak ada lagi cibiran akibat menulis sesuatu yang “gak jelas” di blog kita. “Aku tadi makan siang ketoprak enak banget”. Tidak ada yang protes akibat RSS readernya terupdate terlalu cepat dengan one-liner. Plus model networkingnya yang lebih simpel dari Facebook, Twitter is way wider and fun to play with. The rule is no rule, kecuali soal reply dan RT di Indonesia 😉

Kematian Ketiga (Voodoo Death)

Steve Rubel dua tahun lalu meninggalkan blog di domainnya dan beralih ke Posterous. Tren baru saat itu adalah Lifestreaming. Dan platform blog yang sudah populer pun belum ada yang cocok untuk memenuhi kebutuhan lifestream.

Per Memorial Day kemarin, Steve Rubel pindah kembali. Kali ini dengan sebuah big bang. Pindah ke Tumblr dan menghapus 2 blog lamanya (scorched earth policy – teknik bumi hangus). OMG! Steve Rubel (of Edelman) menganggap page rank sudah lewat masa. Google is into social signal, ditandai dengan fitur baru di search result yang melibatkan circle of friends. Dan yang terbaru, Google Plus One. Dalam rangka tidak membuat Google bingung, blog lama pun dihapus.

Tumblr dinilai lebih cocok dengan visi Google ke depan karena fitur social sudah built in di dalamnya, eg: reblog. Tidak hanya Steve Rubel. Beberapa orang juga pindah dengan alasan serupa. Kevin Marks bilang ini Voodoo SEO.

Blog Never Die

Mirip kata @danrem soal marketing dalam insiden RestInPeaceSoon. Marketing tidak mati tapi bertransformasi. Esensi tidak berubah tapi ada temuan baru yang menjelaskan lebih lanjut tentang esensi mendasarnya. Seperti halnya blogging, esensinya bukan tentang menulis.

Esensinya adalah berbagi. Media saat itu yang paling ekonomis adalah tulisan. Ramah benwit sehingga idenya bisa menyebar dan diterima banyak orang. Podcast juga bentuk lain dari blogging,esensinya adalah sharing namun bermedia audio. It didn’t take off as successful as blogging karena medianya kurang ramah terhadap banyak orang.

A blog is a web log. Tentang catatan dan gagasan yang kita bagi lewat web. Tidak pernah mati.

Rebirth

Terlepas dari mati tidaknya blogging, ada pertanyaan menarik yang muncul. Domain. Domain dulu kita isi dengan blog. Sebagian bilang untuk bersenang-senang, sisanya bilang untuk personal branding. Tapi ini long time ago, sebelum ada twitter dan facebook yang membuat orang sempat beralis ke lifestream. Dan sebelum ada about.me untuk memajang kartu nama.

Dengan bergesernya media untuk berbagi, posisi domain ada di mana? Apakah tetap sebagai identitas ataukah jadi sekedar tempat untuk entry point sebuah layanan? Any takers?

Tying Up The Loose Ends

Tying Up The Loose Ends

Kesempurnaan adalah kondisi ideal yang dikerja banyak orang orang. Hal yang sama juga berlaku untuk produk apapun. Konsumen punya banyak keinginan. Masih enak jika keinginan tersebut selalu tetap. Masalah besarnya adalah keinginan konsumen ini selalu berubah. Dan tidak ada faktor pasti yang bisa dijadikan pedoman. Beberapa faktor misalnya faktor inflasi, kondisi ekonomi dll yang mempengaruhi kondisi global bisa dijadikan pedoman. Bukan karena pasti mempengaruhi konsumen tappi kebetulan adalah banyak orang yang terpengaruhi kondisinya dengan faktor-faktor tersebut dan kebetulan mereka adalah beberapa dari pelanggan produk kita.

Pasar tidak pernah bergerak, tapi selalu berubah bentuk

Saya bisa bilang hal ini karena iklan mbak Agnes. Kartu gw gak ada matinya. Modem saya baru saja rusak. Kartu SIM yang biasa saya pakai mengakses internet pun harus menganggur karena modem lain yang saya punya ternyata terkunci untuk satu produk telco saja. I’m out of luck. Kartu saya yang menganggur dan sering saya kutuk itu kini terasa valuenya. Lebih terasa lagi jika saya bayangkan kartu yang cukup mahal itu harus expire di kemudian hari. Karena modem lain yang terkunci, dan kartu tersebut bukan kartu seperti kepunyaan mbak Agnes.

Tiba-tiba posisi saya sebagai konsumen berpindah karena suatu musibah yang tidak berlaku global. Tiba-tiba saya tak lagi valid untuk jadi konsumen produk tertentu karena ada value lain yang menjadi prioritas. Freedom.

Catch All atau Catch Many Enough

Masih ingat dengan tulisan Variasi Produk di NavinoT beberapa waktu lalu? Membuat banyak variasi dari sebuah produk memang membingungkan beberapa konsumen. Terutama konsumen yang nilai-nilai prioritasnya menjadi berimbang karena suatu variasi. Ketika nilai ini berimbang, nilai kegunaan di masa depan akan dipertimbangkan. Ketika nilai kegunaan di masa depan belum bisa diprediksi maka yang muncul adalah keluhan: saya bingun memilih produk.

Sementara itu beberapa konsumen lain yang mungkin lebih tahu kebutuhannya karena beberapa pengalaman tertentu seperti cerita di atas tidak akan merasa bingung. Beberapa di antaranya adalah konsumen yang juga telah berpindah posisi pasarnya. Dari prabayar ke pasca bayar, dari paket ekonomis ke paket premium, dari paket SMS ke paket voice, dan lain sebagainya.

Keberadaan variasi produk seperti menebar jala yang luas. Ikan bisa berpindah ke tempat yang agak teduh atau ke tempat yang agak hangat. Tak masalah bagi seorang nelayan dengan jala yang luas karena ikan-ikan tersebut masih masuk dalam jala yang sama.

What Loose End

Kita tahu konsumen pasti, suatu saat akan kecewa dengna produk kita. Kalau tak kecewa, pasti menjadi tidak cocok. Beberapa perlu waktu yang lama, tapi beberapa juga ada yang tak perlu waktu lama. Kekecewaan dan ketidakcocokan inilah yang saya maksud dengan loose end. Tali sepatu yang lepas sebenarnya tidak berbahaya, kecuali Anda terjerembab karena tali tersebut terinjak orang atau diri Anda sendiri. Sebaiknya, tali yang bisa membuat Anda jatuh, kancing baju yang kelihatan hampir lepas, gigi yang berlubang, dan lain-lain segera dirawat atau dicarikan alternatif penyelesaiannya. Jika tidak, mereka akan kembali menghantui kita di masa depan.

Don’t left any loose ends, seperti yang selalu diajarkan Leroy Jethro Gibbs pada kita. Right, Boss?

BBM is Magical and Unbelievable Application

BBM is Magical and Unbelievable Application

Tahun-tahun ini digadang sebagai tahun social. Lebih banyak orang percaya bahwa keputusan membeli jauh lebih banyak ditentukan oleh teman dari pada iklan. Pengalaman dan testimoni dari trusted circle menjadi salah kunci penting penjualan. Friendster yang dulu jadi tren sesaat kini telah banyak digantikan oleh Facebook dan mengalami transformasi peran luar biasa. Ajaib, ternyata tempat curhat dan ngobrol ngalor-ngidul kini menjadi agen perubahan bagi bisnis dan bahkan cara hidup kita. Kita kini hidup di jaman Socialnomics dimana kehidupan sosial menjadi salah satu unsur pergerakan ekonomi.

BBM is Magical (and Unbelievable) Application

Bayangkan kita bisa mengirim pesan dan gambar ke geng kita. Dan beberapa waktu kemudian, respon berdatangan dan percakapan baru yang mengasikkan langsung terjadi. Ucapan selamat pagi, selamat ulang tahun, koordinasi pekerjaan, cerita seru, semua bisa kita akses setiap saat.

Bukannya Facebook dan milis juga bisa melakukan hal yang sama? Ya, tapi kita akan terhalang oleh aplikasi yang ingin menyajikan newfeed atau antar muka email. Yang terjadi adalah berbalas e-mail, berbalas komentar, masih terganjal sebuah layer tambahan antara komunikan dan komunikator.

Online, online

(Salah satu) Yang menyebabkan BBM menjadi magical adalah karena always on. Tidak perlu menyalakan modem, tidak perlu membuka browser, tidak perlu membuka webmail. Seperti TV. Kita buka, dan kontennya sudah ada di sana. Aplikasi ini seolah menyatu dengan mudahnya dalam bagian aktivitas keseharian.

Friends on the Go

Judul asli artikel ini adalah Friends on the Go. The next best thing setelah always on adalah kita selalu punya teman (person) di kantong kemana pun kita pergi.

Actually, orang-orang tak peduli Facebook atau Twitter. Mereka membeli hape berlogo Facebook dan Twitter bukan karena aplikasinya. Tapi karena teman mereka ada dalam hape tersebut. Sesuai peribahasa “mangan ora mangan sing penting kumpul” yang sangat aplikatif dengan orang Asia, kita selalu ingin berada di mana pun teman kita berada. Karena itu kita follow mereka di Twitter, dan atau berteman di Facebook.

BBM mendekatkan kembali kita pada teman-teman kita, which has been a crucial part of our life. Untuk konsumen Asia, hal ini akan selalu benar sampai kita bisa menemukan makna lain dari berteman.

Opensource: Jangan Sampai Kalah Perang Cuma Karena Gengsi

Opensource: Jangan Sampai Kalah Perang Cuma Karena Gengsi

The King

Opensource seringkali dianggap sebagai peluru perak dalam mengatasi semua masalah. Sebenarnya tidak salah dan punya efek bagus pula dalam rangka menumbuhkan inovasi baru. Opensource dan proprietary pun terkadang menjadi agama baru yang kadangkala bisa menjerumuskan kita pada pengambilan keputusan yang kurang tepat.

Kali ini saya tidak ingin membahas tentang mana yang lebih unggul. Keunggulan dan efisiensi tergantung pada banyak variabel termasuk teknologi itu sendiri dan faktor manusia. yang hendak saya soroti sekarang adalah kelemahan-kelemahan yang ada dalam komunitas atau produk opensource.

Community driven

Dengan model community driven, produk opensource bisa dipastikan akan mempunyai panduan pengembangan produk yang jelas. Fitur-fitur yang ditambahkan juga bisa dipastikan pasti akan dipakai oleh penggunanya. Namun di sisi lain community driven kadang membuat produk dikembangkan dalam rangka menyenangkan semua orang, karena semua orang punya kesempatan untuk memberikan ide fitur. Hal ini terkadang justru membuat produk menjadi less useful karena tidak ada satu fokus yang dikejar. Dan produk Anda pun tak akan pernah jadi Purple Cow.

Not Invented Here (NIH)

He/she who codes, decides. Pakem ini berlaku hampir di semua komunitas opensource. Siapa yang menulis kode, dia yang memutuskan. Memutuskan di sini berarti menentukan bagaimana suatu fitur akan diimplementasikan, termasuk memutuskan apakah usulan fitur Anda akan diimplementasikan atau ditolak mentah-mentah.

Walau bisa menjadi komplemen penyemimbang community driven development, NIH sering kali menyebabkan pengguna menjadi sebal. Kadang kala memang ada fitur yang seharusnya ada di sana, tapi karena developer tidak membutuhkan maka bisa saja fitur usulan tersebut mendapat jawaban NIH.

Lack of Research

Walau tidak selalu benar, produk opensource terkadang memang lack of research. Hal ini logis saja karena biaanya yang menjadi dasar pengembangan produk adalah kebutuhan diri sendiri. Akibatnya faktor usability tak terpenuhi atau kurang user friendly. Namun belakangan ini, aktivis opensource tidak terbatas pada code ninja saja namun sudah merambah ke artist dan engineer yang punya background akademis untuk wacana usability dan user experience. Riset juga sering dilakukan baik secara eksplisit atau implisit lewat produk itu sendiri.

Untuk menjadi jenderal perang yang mumpuni, kita harus bisa mengetahui dan mau mengakui kekurangan kita sendiri. Jangan sampai kalah perang cuma karena gengsi.

Jangan Memelihara Masalah

Jangan Memelihara Masalah

golden egg

Disney membeli Marvel, e-Bay menjual Skype. Yang satu membeli sebuah perusahaan besar, dan satunya melepas perusahaan besar. Kenapa Disney membeli Marvel dan e-Bay melepas Skype?

Marvel sudah kita kenal sejak lama lewat karya-karya komiknya. Dengan gejala Hollywood yang tampak sedang kehilangan ide film segar dan sebgian besar pasar yang tampaknya senang dengan adaptasi komik ke dalam film, membeli Marvel sepertinya jadi investasi yang tepat. Tidak perlu lagi membeli lisensi karakter tiap hendak membuat film. Sekarang semuanya sudah jadi hak milik Disney. Dengan standar kualitas animasi Disney dan kecanggihan Pixar, sederet karakter Marvel dan ceritanya yang sangat banyak itu akan jadi sumber pendapatan baru di masa depan.

Bagaimana dengan eBay? Melepas perusahan sebesar dan sebasah Skype tampak tidak masuk akal. Skype sudah jadi de facto standard bagi kegiatan VoIP, mungkin minus dominasi Cisco dan Adobe di kelas enterprise. Skype pun tak tampak merugi, tidakkah salah besar bagi eBay untuk melepas golden egg ini?

Skype dibeli oleh eBay pada tahun 2005 seharga 4.1 milyar dolar. Sejak dibeli, Skype belum mendapat peran penting dalam ekosistem eBay. Jangan kira membeli startup potensial itu berarti membeli segel sukses. Punya aset potensial belum jadi jaminan sumber uang. Lihat Feedburner, dan Jaiku yang sampai kini belum tampak wujud barunya.

Skype dilepas eBay karena menahannya lebih lama tidak akan memberikan banyak keuntungan. Daripada menjadi beban biaya, dan tak punya rencana jangka panjang, eBay memilih membuang masalah Skype ke pemilik baru. Sesuai dengan golden rule of business:

If you’ve got a problem, make it someone else’s problem

Saya lebih banyak melihat contoh long term plan di dua cerita di atas. Yang pertama adalah mengamankan sumber pendapatan di masa depan, dan yang kedua adalah mengamankan kondisi finansial masa depan. Bisa jadi suatu saat Disney akan melepas Marvel karena mungkin saja susah dimonetisasi. Dua produk yang tampak inline belum tentu jadi killer combination sewaktu digabung. Seperti eBay, do what make sense and cash out while you can.

Bagaimana dugaan Anda? Apakah Disney membeli Marvel dalam rangka mengkontrol Hollywood? Apakah eBay sedang BU alias butuh uang sehingga menjual Skype?

Ekosistem Startup Lokal

Ekosistem Startup Lokal

Chain of Life

Saya pasti sudah gila untuk lancang menulis hal ini hanya berbekal sekelumit apa saya ketahui. But I’ll go on anyway.

Ekosistem bisa berjalan karena komponennya saling berinteraksi. Ada feed, yang dibaca lewat feed reader. Kemudian di-share via social bookmarking tool. Di-vote oleh komunitas, atau di-share lebih lanjut ke social networking site. Menerima komentar, likes, dan sebagainya. Dan kemudian menjadi feed lagi dalam bentuk best of the week atau feed rekomendasi lewat tool yang lain.

Bagaimana dengan komponen ekosistem lokal? Kadangkala kita agak enggan memakai layanan lokal karena posisinya yang minoritas dalam sistem pemanfaatan internet yang kita pakai. Kita tidak memakai Pendekin karena saat kita memakainya, kita tidak bisa mendapatkan fitur-fitur ekstra yang kita dapat saat mengunakan TinyUrl. Bukan dalam hal fitur tapi dalam hal bagaimana layanan lain berinteraksi dengan pendekin. Tidak ada dukungan langsung di Tweetdeck misalnya.Tidak ada preview di PowerTwitter. Dan seterusnya.

Lalu bagaimana layanan lokal bisa berkembang jika enggan dipakai? Seperti yang diilustrasikan di atas, yang menjadi kendala adalah ketidaklengkapan ekosistem. Pendekin tidak terlalu populer karena layanan ini sendirian. Karena bagian lain dari eksosistem tidak melakukan interaksi dengannya. Pengguna tidak mendapatkan benefit ekstra dengan memakainya dalam aktifitasnya berinternet. Insentif memakai TinyUrl, is.gd, dan lain-lain lebih besar karena diadopsi oleh lebih banyak pihak baik individu dan layanan lain.

Jika kita ingin memiliki kemeriahan yang sama dengan apa yang bisa kita lihat dan rasakan dalam dunia internet di luar sana, mau tak mau kita harus melengkapi komponen eksistem internet kita. Hal ini penting supaya tidak terjadi missing link yang membuat rantai kegiatan internet kita terputus karena harus memakai simpul layanan dari luar negeri. Dalam kasus ini, saya melihat DailySocial sebagai salah satu frontliner untuk memberitahukan dan meng-endorse simpul-simpul layanan dalam negeri pada komunitas internet Indonesia.

Tidak hanya soal kelengkapan layanan saja karena layanan hanya berfungsi sebagai alat yang sifatnya pasif. Komponen yang tak kalah penting adalah pemakai. Di sini kita memerlukan Mike Arrington dan Robert Scoble versi lokal. Fungsinya selain sebagai peng-endorse layanan lokal juga sebagai rainmaker. Sebagai “leader” untuk mengarahkan tren dan memotivasi pengguna yang lain. Sebagai pelontar isu yang selanjutnya akan menjadi konsumsi dalam rantai hidup komunitas. Nama yang bisa mengisi posisi ini tak akan susah dicari. Jika kita telusuri blog dan microblog, ada banyak orang dengan berbagai expertise yang bisa menjadi rainmaker.

Saya sedang berimaginasi. Jika ada Facebook untuk mempertemukan teman lama telah terpisah jarak dan waktu, adakah layanan yang bisa dipakai untuk mempertemukan rainmaker yang tersebar ini? Dalam pikiran saya layanan social bookmarking bisa menfasilitasi hal ini. Layanan bookmark yang memiliki grup-grup isu akan mampu mengumpulkan orang-orang dengan minat sama dalam suatu ruangan yang sama.

Bagaimana menurut Anda?

PS:
Pendekin sebenarnya sudah ”bekerja sama” dengan ngeshout sebagai default URL shortener

Apa Arti Sebuah Merk?

Apa Arti Sebuah Merk?

— Ditulis oleh Aulia Masna.

“A rose by any other name would smell as sweet.” – William Shakespeare

Nama memang tidak banyak berarti namun hal-hal yang diasosiasikan dengan nama tersebutlah yang menjadikan sebuah nama sesuatu yang sangat berarti. Nama-nama seperti BMW, Apple, Harley Davidson, Roti Bakar Eddie, Pak Kumis, bahkan Sederhana, memiliki makna masing-masing namun seluruhnya berarti sangat besar baik bagi perusahaan pemilik nama tersebut maupun pelanggan atau penggunanya.

Jika suatu hari tiba-tiba mereka semua merubah namanya apakah yang akan terjadi? Akankah konsumen beralih ke merek lain, tetap setia, atau lebih berhati-hati? Apakah perubahan nama lantas berarti perubahan produk, kualitas, dan reaksi dari konsumen? Belum tentu namun inilah yang menjadi hal yang menarik.

Read More Read More

Kenapa ada Simpati, Halo dan As

Kenapa ada Simpati, Halo dan As

Seseorang perlu memahami kenapa suatu hal terjadi. Kenapa suatu langkah aneh diambil, dan apa yang menjadi dasar pemikirannya. Termasuk desain, kenapa Yahoo tetap bertahan dengan desain landing page yang padat dan Google tidak pernah tergoda menambahkan hal apapun di halamannya yang super melompong itu.

Karena membuat keputusan dan melangkah memerlukan banyak pertimbangan. Mengetahui satu hal secara detil memang perlu tapi tidak cukup baik. Bisa membuat aplikasi web yang sangat keren tidak berarti aplikasi web tersebut bisa langsung dikomersialisasikan. It’s whole another different story.

Termasuk di dalam dunia marketing, mengetahui kenapa Telkomsel meluncurkan banyak variasi kartu GSM adalah hal yang menarik dan perlu. Akan tetapi, bukankah mengambil fokus adalah yang terbaik. Jika ingin menjual Halo, kenapa harus diributkan dengan soal Simpati atau As?

Tergantung seberapa jauh Anda ingin maju dan menguasai pasar. Tergantung seberapa banyak profit yang ingin diciptakan. Rupanya di sini Telkomsel mengerti, ada banyak ragam kebutuhan akan layanan komunikasi dalam pasar Indonesia. Ada berbagai macam sifat dan kemampuan beli konsumen. Tua, muda, remaja. Eksekutif, anak sekolahan, warga pedesaan. Price oriented consumer dan value oriented consumer.

Telkomsel rupanya ingin memenuhi kebutuhan beberapa profil konsumen tersebut. Lalu kenapa harus membuat produk baru? Kenapa tidak membuat Halo A, Halo B atau Halo C? Karena di sini kita berbicara tentang brand/merek. Merek adalah segel janji. Setiap orang yang membeli suatu barang atau jasa dengan segel tertentu berarti dia membeli jaminan bahwa dia akan mendapatkan semua yang dijanjikan oleh produsen barang atau jasa tersebut.

Telkomsel ingin menjaga merek Halo. Sengaja tidak dibuat variasi dari merek ini supaya merek ini tidak rusak dan membuat pelanggan pergi. Jika boleh dikatakan, Halo adalah produk bagi value-oriented consumer. Harga tidaklah jadi masalah. Oleh karena ini, untuk memenuhi kebutuhan price-oriented (biggest bang for the buck) consumer, diluncurkan Simpati dan As.

Jawaban sama juga bisa didapatkan dari pertanyaan kenapa ada Lexus. Contoh ini bahkan lebih memukau karena Lexus sama sekali tidak memakai embel-embel Toyota. Lexus adalah produk untuk merambah segmen mobil mewah, jauh dari image-image produk yang dikembangkan Toyota sebelumnya. Tujuannya adalah supaya bisa bermain di pasar BMW yang identik dengan mobil mewah.

Dan masih ada banyak lagi jawaban dari mengapa ada berbagai macam merek. Coba saja baca buku On Segmentation (Hermawan Kartajaya).

Menarik bukan? Nah, siapa yang tertarik untuk memakai trik yang sama demi menjual produk atau blog-nya? Yang sudah pakai ayo mengaku di sini!

PS: Artikel eksklusif tentang brand akan menyusul tampil di NavinoT. Jangan ketinggalan, subscribe saja RSS-nya 😉