Browsed by
Category: Strategy

Marketplace Chicken and Egg Problem

Marketplace Chicken and Egg Problem

Eggs of a Quail (Coturnix sp.), in comparison ...
Eggs of a Quail (Coturnix sp.), in comparison to a chicken’s egg. (Photo credit: Wikipedia)

Ini materi tahun 2012 sebenarnya tapi tetap ingin ditulis supaya tak terbuang percuma. Rumus umum tapi seringkali terlupa karena gegap gempita peluncuran produk atau panik tiba-tiba karena kemunculan kompetitor. Saya sebut chicken and egg problem karena memang tidak ada titik pasti di mana kita harus memulai. You can start anywhere but make sure to iterate.

It got to be purple!

Yes, no brainer lah ya kalau mau jualan apapun memang harus punya produk keren dulu. Tapi masalahnya kan kita belum tahu siapa sebenarnya konsumen kita. Apakah yang mirip dengan kita, teman kita, atau teman dari teman kita? Yang memulai dari titik ini biasanya memulai dengan produk yang ia sukai. Belum tentu keren bagi orang lain tapi ya we need to start somewhere.

Know your customer!

Masih ingat fish where the fish are? Tentu saja jika ingin mendapatkan ikan harus memancing di tempat yang ada ikannya. Barang yang kita jual boleh saja keren dan harganya miring, tapi kalau tidak ada yang tahu atau yang tahu justru yang tidak minat dengan barang tersebut ya wassalam. “Ikan” bisa dicari di Facebook, Google atau tempat lain yang menawarkan iklan berbasis segmentasi. Tapi hati-hati, jangan gegabah, karena sekali ikan gagal dipancing maka akan sulit untuk didatangkan lagi. Ikan sekarang pintar-pintar.

Measure and iterate!

Tetaplah bereksperimen untuk mendapatkan kombinasi terbaik dari barang dan segmen konsumen. Your goal is not to serve your ideal. Your goal is profit. Kalau harus pivot, ya lakukan pivot. Tapi jangan asal. Ukur dan ulang ukur. Pastikan kita paham kenapa kita ambil sebuah langkah dan bagaimana mengukur kesuksesannya.

Nah, itu rumus umumnya. Sekarang mari dibahas apa yang kira-kira dicari penjual dan pembeli.

Penjual mencari pembeli

Oh ya jelas ini. Tapi yang biasanya masih mencari adalah yang tak punya banyak pembeli. Yang sudah punya merek biasanya tak ngoyo karena pembeli sudah tahu di mana mencari mereka. Pain point merchant yang bergabung di marketplace adalah kurang pembeli. Ngapain saya pajang barang di situ kalau gak ada yang beli? Jadi ya pastikan marketplace yang dibuka banyak selalu banyak pembelinya. Ingat, pembeli ya, bukan visitor.

Pembeli mencari pembanding

Menyediakan yang dicari tidaklah cukup. Pembeli menunggu sampai merasa mantap (atau impulsif) untuk membeli. Karenanya, jangan lupa sediakan pembanding berupa variasi piihan atau spesifikasi yang lebih informatif. Jika hal ini tak berhasil membuahkan konversi, mungkin kita harus cek harga. Kalau mahal ya jangan berharap banyak yang beli. Rumus gampang-gampang susah. Tapi jual murah tak berarti harus rugi. Ingat FREE.

Last but not least, jika Anda akan menendang 2013 dengan sebuah startup baru, jangan lupa baca artikel pedas ini. Selamat tahun baru 2013!
Moment of Truth: When in Doubt, Use Numbers

Moment of Truth: When in Doubt, Use Numbers

Yang begitu jelas seringkali tak pernah terpikir. Oleh karena itu ada anjuran untuk selalu think out of the box. Apa yang jelas dari yang tak jelas? Contoh kali ini adalah website. Silahkan diambil tipe website apapun. Blog, situs e-commerce, dan lain-lain.

The First 7 Seconds

Procter & Gamble pernah membuat sebuah jabatan yang dinamakan Director of First Moment of Truth.P&G percaya bahwa keputusan untuk membeli terjadi dalam jangka 3 sampai 7 detik pertama saat calon pembeli melihat sebuah produk. Jika Anda sempat membaca buku Blink (Malcom Gladwell), maka langkah P&G ini sejalan dengan pendapat Malcolm Gladwell tentang pentingnya rapid recognition dalam proses pengambilan keputusan. Posisi Director FMOT pun diciptakan untuk memulai perang antar merk di rak-rak toko.

Adapting to Online Strategy

Membuat keputusan membeli hanyalah satu fase dalam sekian proses dalam rangka memindahkan barang di rak ke rumah pembeli. Jika kita telaah lebih jauh, ada proses yang terletak sebelum FMOT dan juga proses setelah FMOT. Jika Anda kerap membuat goal di dalam aplikasi analitik situs Anda, FMOT atau serangkaian funnel lain ini pasti sudah ada di sana. Hal inilah yang kerap tak kita pahami atau terlewatkan. Bahwa ada rangkaian Moment of Truth yang bisa kita pakai untuk menganalisa dan mengembangkan performa situs kita.

Funnels

Secara generik, funnel (corong) untuk terjadinya konversi (pembelian, komentar, sharing) dalam situs kita bisa didetilkan dalam tiga fase. Yang pertama tentunya adalah traffic. Tanpa input tak akan ada output. Fase ini disebut Zero Moment of Truth (ZMoT). Terjadi sebelum pembeli melihat produk kita. Di sini letak peran SEO, SEM dan sosial media.

Fase kedua, adalah First Moment of Truth. Berdefinisi sama dengan konsep FMOT P&G, terjadi saat pembeli pertama bertemu dengan produk Anda secara langsung. Saat inilah produk Anda berbicara. Jika produk Anda mampu membuktikan ide yang Anda sebar sebelumnya atau bahkan lebih baik maka pembeli akan bergeser ke fase selanjutnya: Konversi.

Tahap terakhir. Second Moment of Truth (atau Last Moment of Truth), menentukan apakah pembeli akan membawa produk Anda pulang. Petugas di PoS akan punya peran penting tersendiri. Jika terlalu lama mungkin produk akan batal dibeli. Jika kartu kredit ternyata tak membawa diskon dan malah memberi beban, barang pun tak akan dibeli. Dalam e-commerce Second Moment of Truth adalan checkout. Apakah biaya shipping murah? Apakah saya bisa membayar dengan mudah. Transfer bisa jadi opsi termudah bagi pembeli namun bisa jadi yang tersulit bagi situs e-commerce. Follow the money.

Numbers

Logis, atau bahkan mungkin klise. Tapi pembagian dalam langkah seperti di atas seringkali terlupa. Kita terjebak dalam jargon usability, responsive, mobile first dan lain-lain. Kita terjebak di FMoT sementara ZMoT gagal total. Semakin sukses ZMoT semakin besar pula peluang kita untuk mensukseskan FMoT. Semakin banyak guinea pig, semakin akurat pula eksperimen kita.

No more black magic. When in doubt, use numbers.

Photo by Jenn and Tony Bot

The Art of Selling Is Repeating Order

The Art of Selling Is Repeating Order

Well, kira-kira sih begitu. Repeat order memang jadi tujuan akhir. Menjual itu mudah. Gratis, murah banget, mahal banget, loss leader, bundling, dan lain-lain. Banyak cara bisa dilakukan untuk mendapatkan penjualan pertama. Termasuk groupon, yang kabarnya dan memicu repeat order. Layanan lain yang serupa punya masalah yang sama.

Bagaimana supaya bisa terjadi repeat order?

Yang pertama jelas soal jenis barangnya. FMCG (Fast Moving Consumer Good), pasti mendapat repeat order. Sisanya? Tergantung dari ke-ungu-an produk. Semakin ungu produk Anda, semakin besar harapan terjadi word of mouth. The holy grail of marketing.

Cara lain? Repeat first order. Tak perlu mendapatkan order lain dari konsumen yang sama. Yang penting dibujuk untuk beli setelah itu kita cari konsumen lain. Groupon lagi 😀

Cara lain lagi? Tidak ada. Cuma itu saja, repeat order pada konsumen yang sama, atau repeat first order pada konsumen yang berbeda-beda.

Photo by: Hunter Nield

Why Engagement Matters in Most Digital Commerce

Why Engagement Matters in Most Digital Commerce

Tulisan menarik dari GetElastic, penyedia platform e-commerce Elastic Path. Platformnya mahal dan memang disarankan untuk pakai jika revenue sudah sampai sekian ribu dolar. Okelah memang serius banget softwarenya.

Back to article. Dari judul sih rada-rada jelas rada-rada ngeblur. Kenapa pertunangan menjadi penting dalam dunia e-commerce? LOL. Kenapa ya poin interaksi penting dalam jual beli online? Kenapa harus ditambah basa basi? Tujuannya sales kan? The sooner the better. Lebih ciamik lagi kalau bisa dapat returning customer.

Dari diagram yang di contohkan, kegiatan jual belinya itu ditaruh di belakang. Hampir sepertiga akhir. Lalu yang bagian depan sepertinya bakar-bakar uang entah untuk apa. Promosi, iklan, likes, download freemium, dll. Apa ya poinnya? Mengenalkan produk? Pasti dong, logical effect. But what is the intention?

Setelah saya ulang membaca, akhirnya ada sedikit titik terang. Because you can’t always sell. Oww, no way. I’m a great salesman. Pssh, ini bukan jualan iklan. Kecuali kita sudah sebesar Amazon, dengan long tail yang panjang dan menggurita, tidak setiap saat terjadi sales. Tidak semua barang cocok dengan keinginan konsumen. Lebih sering lagi tidak cocok dengan tanggal gajiannya. So? Jadi kalau semua kegiatan promo bla bla bla itu langsung kita paksakan untuk menjadi kegiatan jual beli, it means we are pretty much stupid 😀

Our best bet is to let user use our site longer, visit it more often to extend our sales pitch window. They’ll buy only when they feel like buying. Ada orang yang harus muter mangga dua dan ratu plaza dua kali sebelum akhirnya nyaman membeli. Kecuali Anda jualan Ferarri, Anda bisa hiraukan tipe konsumen seperti itu.

Jadi, kalau customer belum mau beli sekarang ya gak papa. Besok dia datang lagi kok. Bisa ditanyai lagi mau beli atau tidak. Seterusnya seperti itu. Dalam case Zynga, mereka mendapatkan kesempatan 3-7 menit sekali sesi untuk melakukan sales pitch. Dan dalam sehari bisa terjadi 7-11 sesi permainan. Panen, ngecek teman, obsesi whohoo, dll. Sehari mereka dapat window sales 77 menit. Dan itu customer yang meminta sales pitch.

Satu lagi yang penting sekali dalam artikel itu adalah tentang cara menempatkan sisi komersil produk kita. Value propotitionnya harus align dengan engagement dan fungsinya adalah meng-enhance. Suka tanam-tanam? Mau tanaman yang keren? Ini aku jual murah loh. Lagi keburu pengen panen? Bisa loh pakai potion ini. The experience is pretty much the same but way much better jika sales pitch kita diterima.

So, so, so? Selanjutnya terserah Anda. Jangan buang-buang duit marketing ya :p *digaplok*

PS:

Ini tulisan pertama NavinoT yang diketik dari Tokyo. Won’t be the last. Merry Christmas buat yang merayakan.

What Is Your Business Again?

What Is Your Business Again?

Lost in Music

Adalah mudah untuk kehilangan fokus. Saya bahkan agak lupa dengan apa yang hendak saya tulis sekarang dan justru berpikir keras kapan saya akan memuter Patience dan apakah saya harus memakai earphone atau tidak. Tadinya saya cuma berniat untuk nge-blog.

Yang ingin saya bicarakan tentang fokus terkait dengan satu pertanyaan penting yang ditekankan dalam, err, entah oleh Clay Shirky (Cognitive Surplus) atau Jeff Anderson (What Would Google Do). Dalam setiap saat di perjalanan produk Anda, harus selalu ditanyakan pada diri sendiri: what is your business? Dang, I left my WWGD in the office.

Begini deh contohnya, mudah-mudahan tidak meleset jauh. Coba ingat kembali pada produk yang sudah atau sedang Anda kembangkan. Berapa kali Anda merasa mendapatkan ide cemerlang tentang bagaimana produk tersebut akan jadi pada akhirnya atau kemana produk tersebut akan dikembangkan. Oh, berjuta ide! Kanan, kiri, atas dan bawah. Terkadang kita jadi lupa pada ide orisinalnya. Lupa pada inti masalah yang akan diselesaikan oleh produk tersebut. Is it a camera or is it a phone? Dan ketika kita turuti ide tersebut, kita berujung pada bloatware yang tak bisa menyelesaikan masalah apapun dengan benar. Jika beruntung, mungkin masih bisa disebut half-assed.

Kita selalu menyukai mencoba hal-hal baru. Menjawab teka-teki adalah hasrat terpendam kita. Oleh karena itu tidak heran saat pengunjung situs kita sudah menjadi angka tertentu, kita ingin memasang iklan. Sejatinya, kita sedang ingin menjawab teka-teki tentang monetisasi. Sementara saat sepi, kadang kita tak segan membeli iklan di Facebook atau bertukar sederet banner untuk mendapatkan pengunjung. Oh, ada yang ingat trafficswarm? traffic365? dammit, rasanya mereka itu satu perusahaan deh. Yet, we, err I, applied to everyone of them.

What was your business again? Apa yang hendak kamu selesaikan. Facebook, dalam The Social Network, menjawab teka-teki tentang apakah seseorang sudah punya pacar? Film apa yang disukainya? Ikut partai mana? Hal apa yang bisa diobrolkan saat pedekate? Apa yang tabu saat pedekate. Dan Facebook tidak bergeser jauh dari teka-teki ini. Tidak dalam tahun-tahun awalnya.

What was your business again? Facebook bilang: cool business. Facebook tidak memasang iklan karena popup dan jenis-jenis iklan saat itu sifatnya terlalu mengganggu. Facebook menemukan konsep iklannya sendiri. A cool ad platform. Kecil, di tempat yang tak menghalangi konten utama dan bisa kita vote down jika tak cocok dengan kita. Facebook mengubah iklan menjadi informasi, dengan memakai berbagai kriteria segmentasi. Cool for facebook users and very effective for advertisers.

Hei, hei! Sedang apa kamu? What was your business again?

PS:

Happy Monday peeps!

Giving Up

Giving Up

Ini bukan artikel perpisahan. Don’t worry be happy. Saya hendak membicarakan tentang beberapa hal yang selalu bsia ditemui di pelbagai buku yang saya baca. Terakhir saya menemukannya di buku What Would Google Do. Inti dari beberapa hal tersebut adalah: give your user (full) control.

Don’t get in the way

Penjabarannya bisa jadi banyak hal. Pertama adalah don’t get it the way. Pengguna menelusuri internet untuk melakukan sesuatu. Sebagian besar di antaranya adalah mencari jawaban atas permasalah yang sedang mereka hadapi. Bagi mereka waktu adalah komponen yang dinilai paling tinggi. Mereka tidak punya waktu luang untuk menelusuri setiap halaman di internet untuk mendapatkan jawaban.

Google mengerti hal ini. Google search engine is about speed and relevancy. Di masa awalnya, Google bisa membuat orang meninggalkan mesin pencari lain karena Google memberikan lebih banyak dokumen dan relevansi yang dicari pengguna. Jawaban selalu bisa ditemukan di halaman pertama. Google tidak menahan kita di halamannya, tapi segera mengantarkan kita ke tempat yang kita cari. Time is money.

Alltop memiliki prinsip sama. Sebagai rak majalah yang disinggahi untuk menemukan pelbagai hal menarik. Pembaca haus akan hal-hal baru. Mesin pencari tidak bisa mengakomodasi hal ini. Pembaca harus menentukan sendiri apa yang menarik dengan datang ke Alltop untuk melihat apa yang menarik di hari tersebut. Ketika mereka menemukannya, mereka akan segera beranjak dari Alltop menuju tempat yang menyediakan konten tersebut.

Give them the tools

Sejaan dengan Tribe, yang diperlukan untuk membentuk sebuah komunitas adalah suatu perangkat dan ketentuan yang bisa dijadikan alat interaksi dan komunikasi.

Jimmy Wales tahu betapa Encarta dan ensiklopedia lain terlalu lambat dalam memperbarui kontennya. Belum lagi adanya keterbatasan tempat untuk menampung hal-hal penting bagi semua orang. Inilah kenapa Wikipedia bisa diterima. Pengguna sudah gatal untuk mengkoreksi kesalahan dan menambahkan banyak hal yang tak pernah masuk dalam ensiklopedia cetak.

Squidoo mengambil konsep yang mirip, memberikan fasilitas pada penggunanya untuk mengumpulkan materi-materi dengan tujuan melihat lebih dalam pada suatu topik khusus. Squidoo tidak bisa take-off sebaik Wikipedia, walau secara teori memang ada kebutuhan untuk menyatukan pelbagai materi terpisah di internet dalam sebuah topik khusus.

The Best Strategy: Giving Up

jadi strategi terbaik dalam memenangkan pengguna adalah strategi menyerah. Pemilik situs harus menyerahakan semuanya pada pengguna. Tidak dalam hal kontrol atas arahan produk tapi pada kebebasan penggunaan produk. Youtube lebih menarik kalau kita bisa mengunggah semua video, termasuk klip musik dan hal-hal lain yang diklaim sebaga properti intelektual perusahaan rekaman tertentu. ThePirateBay harusnya tidak di-takedown.

Feed reader seperti feedly lebih menyenangkan dari pada porta berita karena kita bisa mengatur apa yang hendak kita baca. Andaikan tidak ada iklan yang membuat kuota bandwidth kita cepat habis dan berefek samping sakit mata. Ada banyak hal yang tidak bisa kita tentukan, mana yang terbaik bagi pengguna. Pengguna lebih tahu selera mereka, kita hanya bisa membantu menyediakan fasilitas yang memudahkan mereka melakukan aktivitasnya dalam cara mereka sendiri. Don’t be a smartass.

Anda siap menyerah?

PS:

Salah satu strategi menyerah paling baru: Montage

Gimme The Badges!

Gimme The Badges!

Badge! Gimme more badges! Entah karena penasaran atau kita secara sederhana tak mampu menahan diri untuk memanfaatkan kelemahan sistem, terciptalah “profesi” jumper. Badge bisa diperoleh tanpa datang ke venue terkait. Super duper crazy awesome near impossble swarm pun bisa terlaksana. Semua demi tampilnya badge langka di profile kita yang jarang dibuka orang itu.

Badge is the new currency

Mungkin Anda jadi bingung. Dulu attention disebut sebagai currency di dunia web. Eyeballs menjadi mata uang yang setara dengan uang di dunia nyata, dengan kurs yang juga senantiasa fluktuatif. Sekarang jadi tampak jelas, attention hanya satu jenis mata uang. Berlaku di “negara” tertentu dan tampak terpuruk nilainya.

Atensi atau perhatian susah diukur dan masih jauh dari tujuan akhir pemilik produk: konversi. Anda bisa saja melihat website atau iklan produk. Then what? Engagement-lah yang dicari. Eh salah, yang dicari penyerahan diri pada suatu produk. Kesediaan untuk bergabung dalam tribe produk dan mengiyakan rekomendasi (bujukan) yang diajukan oleh produsen. In the end, it’s always about sales 😀

So, where’s the badge again? Badge adalah bentuk imbalan terbaru, berharga namun tifak setara secara ekonomis dengan uang. Badge adalah cara untuk menghargai pengorbanan kita dalam mencapai suatu titik tertentu. Badge adalah indikasi langkah pertama dari voluntary engagement.

How the badge works?

Nilai badge dan collectible pattern achievement ini akan terus valid selama bersifat non financial. Harus dijaga keseimbangan antara tidak berharga dan cukup berharga. Saat badge mulai terukur dengan rupiah, efeknya akan otomatis turun. Seperti ketika Anda mengumpulkan stempel demi segelas kopi atau piring cantik.

Badge harusnya tak bisa luntur atau ditukar dengan barang. Badge harusnya hanya memberikan keistimewaan dan kebanggaan. Kita tidak menukarnya dengan sesuatu namun pihak lain dengan sendirinya akan memberikan hal-hal istimewa pada kita.

Open or Close Badge?

Badge adalah closed system. Tidak bisa dibawa kemana-mana dan tidak punya standarisasi nilai di antara satu sama lain kecuali dalam konteks komunitas produk yang sama. Flawed tapi justru di sini lah kunci keberhasilan badge: ekslusifitas. Namun model tertutup ini tak akan bertahan lama. Lingkungan tertutup akan membuat penghuninya bosan. Akan muncul kebutuhan akan keterbukaan. Entah demi portabilitas data atau interoperabilitas (yang seringkali overhyped)

Dengan adanya GameCenter dan OpenFeint dan Badgeville, badge akan terdemokratisasi (jadi umum). Sistem penghargaan badge akan tersedia di mana-mana dan bisa kita bawa kemana-mana. Namun Sebagian besar orang akan berada dalam sistem penilaian yang sama. Kompetisi terlalu sengit sehingga tak lagi menyenangkan untuk diikuti. Seperti halnya game pada umumnya, yang terlalu susah malah tidak mengasikkan. It needs to challenge you, within your possible boundary.

Nah, sekarang siapa mau menyumbang cerita pemakaian sistem badge di Indonesia?

Define Differentiation

Define Differentiation

Diferensiasi, inilah yang dicari banyak orang. Apalagi jika sudah masuk ke arus mainstream. Everybody is on the same page, heading the same direction, on the same boat. Diferensiasi adalah langkah yang akan dia tempuh untuk menuju titik akhir sebagai yang pertama. Ada yang terjun dengan pelampung. Ada yang mendayung kano penyelamat. Ada yang menikmati kapal seolah sedang tamasya. Diferensiasi adalah apa yang kita yakini sebagai perangkat terbaik untuk mencapai tujuan kita.

Differentiation is Doing The Impossible!

Contoh termudah, Zappos. Menggratiskan biaya kirim termasuk jika pelanggan kurang puas dan inign menukar barang adalah tindakan bodoh dan gila. Menarik tapi beresiko tinggi karena bisa saja pelanggan melakukan gaming pada sistem. Bukannya revenue yang didapat malah tekor ongkos kirim tiap hari. Itis insane and impossible to do, yet they pull it out.

Melakukan hal yang mustahil (dilakukan oleh orang lain) adalah apa yang membuat kita berbeda dan unggul. Dan cara mencari pembeda ini pun sangat mudah. Tanya saja apa yang tak mungkin dilakukan orang dalam memberikan suatu layanan? All you can eat dulu mungkin ide gila, tapi jadi strategi umum saat ini.

Differentiation is Owning A Huge Valuation

Screw revenue! Screw profit! We will hit IPO. Sean Parker mengajarkan pada Zuckerberg untuk tidak cepat puas. Jangan berhenti pada angka jutaan karena sebenarnya kita bisa mencapai angka 12 digit. Menarget valuasi tinggi berarti menjadi raksasa yang menjadi magnet bagi investor. You eat, a lot and focus on one thing: getting bigger. So big that you become a plate people eat on. Menjadi Facebook dan Twitter yang begitu besar dan menjadi platform kebergantungan pihak-pihak lain. Revenue dan profit? Itu soal membalik telapak tangan. Every inch of your body is a seed of revenue and profit.

Differentiation is Having the Longest Breathe

Tiap jenis layanan tidak selalu beranalogi dengan sprint tapi kadang kala justru mirip maraton. You don’t need to win every corner but you need to arrive first at the REAL finish line.

Hal yang cukup njlimet di sini adalah menentukan finish line mana yang bakal Anda anut? 1 tahun? 5 tahun?10 juta pengguna? Di fase mana Anda harus menghemat napas dan di tikungan mana Anda mulai sprint.

Bagaimana menurut Anda? Apa yang Anda sebut sebagai diferensiasi?

PS:
Sebenarnya, saya lebih cenderung ke nomor 1. Sisanya adalah penjabaran dan detil poin tersebut. Setuju?

Android Fragmentation is not a Problem

Android Fragmentation is not a Problem

image

Adalah kesalahan Steve Jobs yang membawa berkah bagi Samsung. iPad yang tak kunjung masuk secara resmi di Indonesia membuka ceruk tablet yang tak bertuan. Seperti yang kita ketahui bersama, walau digolongkan negara dunia ke tiga, Indonesia ini pasti nomer satu soal barang-barang canggih. Dengan eksepsi Segway, segala jenis gadget canggih pasti akan menemukan pasar di sini. Semua orang pengen jadi yang berbeda, yang ekslusif. Untuk keperluan ini, duit tak jadi masalah. Karena gadget (baru), gw ada.

We Don’t Need Much

Yang benar saja, ternyata Galaxy Tab yang 6 jutaan itu antrinya bak antri sembako? Mungkin ada trik marketing yang terlibat di sana. Tapi bisa diperkirakan banyak orang yang bakal penasaran dan akan mebeli dalam waktu dekat. Kita sebagai konsumen lokal punya keyakinan bahwa yang ramai pasti bagus. Tak ada iPad, Galaxy Tab pun jadi. Yang penting sama mirip dengan talenan. Problem solved.

Yang kita butuhkan adalah aplikasi Facebok dan Twitter. Fitur file sync dan word processor cuma diminati kalangan enterprise. Sisanya hanya butuh Angry Bird.

Android is the New QWERTY Smartphone

Semua orang sudah pegang Android. Tidak dimonopoli lagi oleh kaum lelaki, banyak juga perempuan yang memakai Android. Padahal Android ini sebenarnya geeky minta ampun. Some knows, some don’t. Android adalah iPhone kw. Kita bisa punya Spica yang punya flick interaction dengan berbagai macam apps. Seperti iPhone namun dengan lebih banyak pilihan model dan harga. Di segmen manapun, ada Android yang pas untuk Anda. There’s an Android for that.

Cerita terulang seperti saat segala jenis qwerty phone laku akibat populernya Blackberry di kelas ekonomi tertentu.

In The End, Google Still Win

Dalam banyak inovasi produk yang dilakukan Google, tak banyak yang dijual berdasar nilai produknya. Malah kebanyakan dilepas gratis bagi semua orang. Mesin pencari gratis. Email gratis. Peta gratis. Word processor gratis. Browser gratis, Gila ya? Saya tak begtu ingat persis apa yang dikatakan perwakilan Google saat merilis Chrome di Chrome Party Jakarta beberapa waktu lalu. Yang jelas, Chrome tidak bertujuan mengeruk profit. Tidak secara langsung. Ada hal lain yang dikejar Google dengan melepas semua produk kerennya tanpa memungut biaya.

Dengan alasan sama, betapapun beragam jenis perangkat yang memanfaatkan Android yang beruntung tetap saja Google.

Penutup

Fragmentasi itu justru cocok dan menjadi ciri khas pasar lokal. Lihat saja pasar telco. Segala kenis paket ada pasarnya. Tampaknya susah menjual berbagai produk yang bervariasi itu. Ada resiko yang cukup tinggi dengan menjalankan keputusan membuat varian produk. Tapi nyatanya itu adalah taruhan yang aman. Dan masih valid sampai saat ini.

Kalau kita percaya dengan permasalahan fragmentasi Android, mungkin kita sedang tidak tinggal di Indonesia. Look around peeps.

Gambar diambil dari: http://www.androidcentral.com/samsung-galaxy-tab-hands-video

All Works No Play Makes Jack A Dumb Boy

All Works No Play Makes Jack A Dumb Boy

Kali pertama yang dicari-cari orang dari sebuah layanan tentu saja fitur. Orang datang karena dia punya masalah dan pain point yang hendak diselesaikan. Semua layanan akan dipilah dan dinilai kecocokannya berdasar kelengkapan fitur, antarmuka (dan mungkin harga). Akhirnya seseorang pun bisa settle dengan sebuah layanan.

Lalu  seseorang tersebut menjadi bosan. All works no play makes Jack a dumb boy. Kita ingin yang kita kerjakan juga memberikan kesenangan. Kita bosan jika berhadapan dengan satu hal terus menerus tanpa ada perubahan.

Mari kita lihat beberapa situs besar dan apa gameplay-nya

Facebook

Apakah Anda masih memakai Facebook? Facebook bukanlah layanan yang menyenangkan jika hanya berwujud buku tahunan online. Tambahkan status dan kemampuan untuk berkomentar. Berbagai foto dan tag teman-teman kita. Like sebuah foto atau notes, dan terima like dari teman-teman kita. Itulah game yang ada di Facebook (terlepas dari game yang ada di apps). Tanpa hal-hal tersebut kita mungkin tak pernah menengok Facebook kembali.

Twitter

Twitter hampir tak punya game element. Hanya ada follower, following serta mention. Karena itu sebenarnya menggunakan Twitter itu cukup susah karena alternatif aktivitasnya sangat sedikit. Kita harus jadi insightful, lucu atau persona-persona lain supaya mendapat mention dan di-follow.

Gameplay di Twitter justru disediakan oleh pihak ketiga. Layanan semacam Klout, PeerIndex menghitung score pencapaian kita dalam dunia Twitter. Melihat angka tersebut seorang pengguna bisa melihat posisi-nya di antara peer dalam kelompoknya. Angka ini memberikan dorongan bagi pengguna untuk mengeluarkan twit-twit dengan ‘aturan’ tertentu dalam rangka mencapai score yang diinginkan. Mau jadi apa? Punya authority di topik mana?

GetGlue

Bagi produk yang berkaitan dengan semantik seperti GetGlue, gameplay punya peranan yang teramat penting. Nilai produk semacam ini tidak bisa langsung muncul. Ada fase pembelajaran yang harus dijalani supaya produk tersebut bisa memahami preferensi kita dan kemudian akhirnya memberikan rekomendasi. Tapi gameplay yang tepat pengguna bisa bosan sebelum menerima manfaat layanan.

Penutup

Gameplay adalah must-have element dalam produk kita. Namun prioritas utama harus tetap berfokus pada pain-point. Beberapa startup lokal juga sudah punya gameplay, misal Urbanesia dengan UrPoint.

Punya startup? Apa gameplay-mu?