Browsed by
Category: Strategy

Early Adopters? Not a Market.

Early Adopters? Not a Market.

Google Wave is (almost) dead. Jumlah adopsi yang terjadi ternyata jauh di bawah harapan. Google pun akhirnya memutuskan untuk menghentikan pengembangannya sebagai produk standalone. What did go wrong? Sebagian mungkin ada hubungannya dengan early adopters. Apakah kita harus menarget early adopter?

Early Adopting is a Habit

Early Adopter bukanlah pengguna. Early Adopting adalah perwujudan hobi. Keingintahuan yang berulang akan produk-produk baru yang dikeluarkan perusahaan terkenal atau disebut-sebut oleh pimpinan tribe. Early adopting is not really a need walau sebenarnya sudah seperti bentuk ketagihan. Jika early adopting disebut kebutuhan maka kebutuhan ini tergolong kebutuhan tersier. Pemenuhannya tergantung dari banyak faktor. Prioritasnya ada di bagian paling bawah.

Early Adopter Will Leave You

Logis. Karena early adopter adalah orang dengan hobi bukan orang dengan kebutuhan maka tentu saja produk Anda akan ditinggalkan. Konsumen bertipe early adopter adalah para “pemberani” yang mau mencoba dan mau bertoleransi terhadap beberapa kekurangan hanya demi merasakan menjadi yang pertama. Jika produk kita didesain hanya untuk orang-orang ini maka ketika mereka sudah memperoleh kepuasan menjadi yang pertama, produk Anda pun akan segera ditinggalkan. Konsekuensinya, produk kita tidak boleh berhenti dipoles sampai kondisi memuaskan bagi early adopter saja.

Early Adopter is a Rocket Launcher

Early Adopting adalah fase euforia. Orang memakai produk karena orang lain telah memakai produk tersebut. Ketika pimpinan tribe tidak lagi membicarakannya maka hilang pula selera orang-orang terhadap produk tersebut.

Ibarat peluncur roket, early adopter akan melontarkan produk Anda setinggi mungkin. But, that’s it. Selanjutnya akan ditentukan oleh: apakah produk Anda memiliki sayap untuk tetap terbang? Apakah produk Anda punya bahan bakar lebih untuk tetap mengorbit.

Fase euforia tak bertahan lama. Mendapatkan fase euforia pun tidak gampang. Sekali kita berhasil memindahkan produk kita ke dalam fase ini sebaiknya kita sudah siap dengan rencana untuk membuatnya bertahan lama sekaligus bersiap mengorbit sendiri tanpa tenaga early adopters.

Are you ready?

Free, Rehash

Free, Rehash

Free diyakini sebagai salah satu metode ampuh dalam memasarkan produk. Tapi bagaimana caranya. Bagaimana supaya Free tidak disalahgunakan oleh customer? Bagaimana supaya Free memberi nilai balik pada produsen?

Free Always Has (Virtual) Limit

Tetap harus ada batasan. Umumnya batasan yang dipakai adalah storage/bandwidth dan fitur. Batasan ini harus terkait dengan layanan utama yang ditawarkan. Google AppEngine membatasi jumlah pemakaian CPU. Flickr membatasi jumlah foto yang tampil. LastFm membatasi free track sampai 30 lagu. Kursus bahasa jepang online yang dulu pernah saya ikuti hanya memberikan free basic course saja.

Supaya kita ingat value dari Free, kita harus bisa melihat keadaan tanpa Free. Inilah tujuan menempatkan batasan freedom.

Free is Not (Really) Free

Terkadang ada yang harus ditukarkan untuk mendapatkan produk gratis. Menyambung kursus bahasa jepang di atas, yang gratis adalah podcast. Selanjutnya transkrip dan media kit lain hanya bisa didapatkan di websitenya. Natural, karena keterbatasan media podcast. But still, kita harus menukar akses ke transkrip tersebut dengan kunjungan  ke website terkait.

Dalam kasus layanan telco, kita seringkali menukar data diri dengan diskon panggilan dan ongkos SMS.

On Blog and Free

Menarik jika kita tarik konsepnya ke blog. Selama ini kita memberikan semuanya pada pembaca, namun kadangkala kita gagal mengambil nilai baliknya. Batasan apa yang bisa kita pakai dalam menerapkan konsep Free ke blogging. Beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan:

  • Login to view. Pengguna hanya bisa membaca jika dia login. Ada beberapa plugin yang bisa dipakai untuk keperluan ini. Nilai baliknya adalah user acquisition.
  • Summary atau full feed. Masih valid tidak ya? Summary seperti GigaOm yang diarahkan ke premium subscription tampaknya layak diadikan contoh. Premium subscription jadi nilai balik yang kita andalkan.

On Music and Free

Harga CD lokal 40 ribu. ketika saya punya CD, berarti saya punya hak penuh untuk me-rip CD tersebut dan menaruh kontennya di media penyimpan lain yang saya miliki. Total freedom.

Dari konsep ini semestinya kita bisa menentukan harga konten digital yang pantas. 40 ribu sudah make sense bagi saya. Isinya 12 lagu. Berarti eceran satu lagu dihargai 3333 rupiah. See, kita sudah bisa “beat up” Apple store dengan harga seperti ini. Total freedom for 3333 rupiah only.

Makna Free tidak sama dengan harga nol rupiah. Free adalah persepsi. Ada batasan harga di mana kita tak akan mempertanyakannya lagi. Cheap enough equals free. Akan jadi lebih baik lagi jika kita bisa menghilangkan segala jenis hassle pembayarannya.

Apakah 3333 rupiah itu sudah “Free” bagimu? Blogmu “Free”?

4 Cara Cepat Kaya di Internet

4 Cara Cepat Kaya di Internet

Oh I’m so gonna get so much traffic from Google. Berikut ini akan saya beberkan cara-cara menjadi kaya di internet. Perhatikan baik-baik, ini bukan cara-cara yang biasa Anda temui sebelumnya. Cukup masukkan e-mail Anda di bawah ini dan saya akan segera mengirimkan e-book cara-cara menjadi kaya di internet ke inbox Anda.

Cara 1. Membuat konten.

Content is the King. Presentation is the Queen. Konten adalah sumber dari perhatian. Perhatian mewakili keberadaan pengguna. Pengguna berarti duit. Buat konten sebanyak-banyaknya. Semakin banyak dan beragam konten yang Anda buat, semakin banyak pula pengguna yang terjaring.

Buat konten seperti artikel ini. Tulis 5 cara cepat kaya, dan pastikan 5 langkah pamungkas lainnya dijadikan konten premium yang berbayar. GigaOm saja melakukannya.

Cara 2. Kumpulkan konten.

Membuat konten sendiri terkadang susah. Nge-blog saja yang kabarnya cuma ujung dari curhat tak jelas kadang bisa buntu di tengah jalan. Bahkan ironisnya untuk membuat konten 140 karakter saja orang tak mampu — akhirnya malah ReTweet terus-menerus.

Kumpulkan konten dari internet. Konten adalah sumber dari perhatian. Perhatian mewakili keberadaan pengguna. Pengguna berarti duit. TweetMeme, Digg, Reddit adalah contoh tempat-tempat perbudakan 2.0 di mana Anda bekerja tanpa dibayar dan mereka mendapatkan keuntungan dari keringat Anda. Oh, Google bahkan lebih parah.

Cara 3. Buat Platform.

Nah, ini impian banyak orang. Bagi yang tidak berbakat membuat konten, atau bahkan tak punya kemampuan RT, ada alternatif bagi Anda untuk membuat platform. Membuat platform berarti menyediakan sarana bagi orang lain untuk bermain di atas “halaman” Anda.

Serunya, pemain ini tidak hanya menyediakan alat untuk memperbudak pengunjung lewat konsep “user generated content”. Pemain ini juga akan menjadi daya tarik bagi pengguna yang ingin mendapatkan manfaat tertentu yang tidak disediakan oleh pemain di luar halaman Anda.

Dengan keuntungan berlipat ganda lewat UGC dan penarikan pengguna ke platform kita, orang sering salah kaprah bahwa metode ini memerlukan modal besar dan tidak dapat dimasukkan dalam skema cepat kaya lewat internet. Pemikiran ini salah! Cara ini tak memerlukan banyak modal. Satu-satunya modal yang diperlukan adalah “salah langkah”. Niatkan membuat situs buku tahunan bagi sekolah Anda lalu sadarilah beberapa waktu kemudian bahwa Anda salah langkah dan ternyata situs Anda sudah berubah menjadi social network site.

Cara 4. Bermain di atas platform.

Bagi yang pengecut dan tak berani membuat platform, jangan berkecil hati. Menjadi pemain di atas platform orang lain juga bisa membuat Anda cepat kaya di internet. Kalau kata @dreampipe, bermain di platform orang lain itu enak karena kita secara tak langsung sudah diglobalisasi. Tak perlu memasarkan aplikasi sampai ke Timbuktu karena secara otomatis, orang-orang Timbuktu akan mendapatkan update bahwa ada aplikasi yang bisa mereka pakai.

Tapi Anda harus hati-hati memilih platform. Beberapa platform mungkin akan menuntut Anda untuk membayar tiket masuk. Beberapa akan paranoid untuk memastikan bahwa Anda tidak akan membuat aplikasi “amoral”. Pancing pengguna dengan aplikasi gratis yang membuat ingin tahu namun menyebalkan. Menyebalkan karena menghabis waktu berharga Anda hanya untuk menunggu (dan cara mempercepat berarti membuka dompet). Terkutuklah We Rule!!

PS:

Oh maaf, saya lupa manaruh form untuk memasukan e-mail.

Creating Community Based Product

Creating Community Based Product

Saya sampai saat ini masih bertanya-tanya bagaimana sih komunitas itu bisa terbentuk. Kenapa Wikipedia bisa sukses? Tanpa dibayar, tanpa banyak diatur, kontennya tetap saja bertambah. dan kualitas masih bisa dijaga.

Dalam buku Wikinomics (The Peer Pioneers), dijelaskan bahwa Wikipedia itu memenuhi tiga persyaratan peer work yang valid. Tiga persyaratan ini menjelaskan kenapa banyak orang bisa berpartisipasi dalam pembangungan Wikipedia.

  1. Low Participation Cost. Berpartisipasi ke Wikipedia tidak memerlukan banyak biaya. Dengan akses internet yang relatif mudah didapatkan di mana-mana, tiap orang bisa segera mengakses Wikipedia dan menambahkan atau mengkoreksi halaman yang ada.
  2. Distributable Tasks. Wikipedia adalah sebuah kesatuan halaman yang bisa dimodifikasi secara terpisah. Sama dengan source code sebuah software yang mungkin dikerjakan oleh banyak orang.
  3. Low Cost of Integration. Integrasi hasil modifikasi masing-masing orang juga tidak memerlukan banyak biaya. Hal ini juga terjadi karena unsur utama dari Wikipedia adalah informasi. Mudah untuk ditransformasi dan dimodifikasi. Tidak banyak diperlukan supervisi dan quality control juga dilakukan secara bersama-sama.

Namun tiga persyaratan tersebut tidak menjamin kerja peer akan sukses. Kriteria di atas hanya akan menyaring jenis pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan mekanisme peer. Bagaimana seseorang akan tertarik untuk chip in dan akhirnya membentuk snowball effect dari partisipasi penguna-pengguna yang lain? Menurut saya, ada dua tahapan yang harus dilalui oleh produk atau komunitas tersebut. Tahapan ini juga bisa dianggap sebagai jenis insentif yang memotifasi tingkatan pengguna tertentu dalam berpartisipasi.

Level 1. Self Fulfillment (Short Term)

Pengguna harus bisa mendapatkan manfaat langsung dari produk tanpa tergantung pada partisipasi orang lain. Hal ini pasti terjadi di fase awal sebuah peer community. Dalam kasus Linux, hacker yang bergabung untuk menulis kernel Linux berpikir bahwa mereka bisa menulis kode kernel dan bisa melakukannya lebih baik daripada kernel yang sudah ada. Dalam kasus Wikipedia, para kontributor merasa bahwa ada beberapa peristiwa atau hal yang memang harus didokumentasikan. Because they can.

Level 2. Creating The Future (Long Term)

Ketika Linux sudah mencapai critical mass. Akhirnya banyak perusahaan besar yang turut terjun ke dalam pengembangan proyek komunitas ini. The product is proven to be competitive, even for IBM itself. And the market is promising to tap into.

Kenapa IBM berpartipasi dan bahkan menggaji pegawainya untuk berkontribusi ke Linux? Karena IBM ingin mendapatkan profit di masa depan. Dengan penetrasi Linux yang masif, tentunya IBM ingin hardware dan software juga turut tersebar dan mendukung platform Linux. Siapa lagi yang paling tepat dan punya resource untuk mewujudkan dukungan tersebut? Berkontribusi juga tak ditarik biaya bahkan dianjurkan. Berkontribusi hari ini berarti turut menentukan bentuk produk di masa depan. It’s such a small price to pay for a bigger profit tomorrow.

Setelah melewati masa self-fulfillment, masa yang akan dihadapi adalah masa pembentukan Tribe. Pengguna yang berkumpul akan memerlukan fasilitas serupa bahasa baru untuk komunikasi yang lebih efektif. Selain itu juga diperlukan sosok kepala suku yang akan dijadikan panutan dalam penyelesaian konflik yang tidak dapat diselesaikan sendiri oleh anggota komunitas.

Sampai titik ini sepertinya masih ada bumbu-bumbu kesuksesan penciptaan produk berbasis komunitas yang masih belum ditemukan. Care to join the discussion?

Trivia:

IBM kali pertama bergabung ke OpenSource bukan lewat Linux tapi lewat pendirian Apache Foundation.

Konsumen Yang Tak Sabar dan Selalu Benar

Konsumen Yang Tak Sabar dan Selalu Benar

Berdasar pada tulisan Aaron Seigo (KDE hacker), ternyata ada cukup banyak pengguna KDE yang melakukan protes atas keberadaan Nepomuk. Beberapa memrotes karena Nepomuk membuat komputer menjadi lambat. Ada juga yang sebal karena muncul kotak-kotak dialog yang tidak ingin mereka lihat. Terlepas dari isu teknis, saya mencoba mentelaah protes ini dari sudut relasi produsen dan konsumen

Customers Are Impatient

“Nepomuk itu jelek, bikin berat, gak ada gunanya. Kenapa pengguna dipaksa memakainya?” Begitulah kira-kira komentar salah satu pemrotes. Padahal jika dilihat kembali, penyebab lambatnya komputer adalah aktivitas pengindeksan berkas oleh Strigi. Komponen ini sebenarnya sudah cukup pintar karena akan beralih ke mode suspend begitu resource komputer sedang dipakai banyak program.

Customer akan selalu benar, atau tepatnya malu mengaku salah. Mereka selalu menginginkan perubahan saat itu juga. Perubahan yang menurut mereka paling baik, mungkin tanpa mendengar respon customer yang lain.

Listening Is Not Enough

Mendengar saja tidak cukup. Kini produsen juga harus bereaksi cepat untuk merespon keluhan konsumen. Tidak hanya dengan respon lewat e-mail namun juga tindakan nyata untuk memodifikasi produk jika memang diharapkan. Kalau sekedar keluhan copywriting sih tak akan masalah, tapi jika keluhannya menyangkut peubahan arsitektur sistem atau menyangkut core functionality tentunya tidak bisa bertindak gegabah. Nevertheless, action must be done. Dan harus dipaparkan jelas pada si pengeluh. Otherwise, produsen akan dianggap berpangku tangan.

Dalam kasus Nepomuk, jelas developer harus segera menanggapi keluhan konsumen. Entah menonaktifkan Strigi by default, menyembunyi kompleksitas dengan lebih rapi, atau membuat pengorbanan konsumen terbayar dengan peningkatan manfaat Nepomuk secara signifikan. I prefer the later.

Consumer Behaviour Shifting?

Bagi produk yang menerapkan release-early-release-often, keluhan semacam ini jauh lebih sering terdengar karena setiap saat akan ada saja poin yang bisa dikritik. Sebenarnya ini normal karena sifat alami release-early-release-often. Pada suatu kurva pengembangan, akan terpapar masa infancy dari sebuah produk. Transisi dari KDE 3 yang bisa dianggap sudah matang menuju KDE 4.4 yang membawa begitu banyak fitur baru membuka berbagai celah perbaikan. Sebagian berusaha menambal celah ini, sementara beberapa yang lain malah menabur garam.

Bagi saya, hal ini tampak seperti lembah sebelum puncak critical mass. Consumer sebelumnya yang mostly developer dan tech savvy, kini mulai didominasi end users yang bertransisi ke power user. Yang sebelumnya selalu menunggu apa kata orang lain sebelum mencoba produk, kini berani berdiri di barisan paling depan untuk mencicil materi beta atau bleeding edge. No fear!

Celakanya, ekspektasi yang sebelumnya lekat dengan rilis stabil turut terbawa ke rilis beta. Secara tak langsung, hal ini membuat produsen harus turut serta menyesuaikan diri. Rilis produk harus dilakukan jauh lebih berhati-hati karena apapun yang sempat dicicipi oleh pengguna, entah dari leak atau official release akan dinilai tanpa mengindahkan status rilis. Mungkin, status beta GMail beberapa tahun ke belakang bisa turut disalahkan dalam fenomena pergeseran perilaku konsumen ini.

Misteri yang belum terpecahkan: produsen akan selalu berpegang pada prinsip “you cannot please everybody”, sedang konsumen selalu berpikir “i am the one to please”.

PS:
Kamu berani ikut tantangan #blog31hari? Temukan kembali semangat ngeblog-mu!

All You Need Is Faith

All You Need Is Faith

No Apple, No Dream

Bukan Apple namanya jika tak bisa bertindak “semena-mena” terhadap semua orang. Hanya Apple yang bisa membuat Anda membeli OS tanpa fitur copy-paste. Dan hanya Apple yang bisa membuat Anda menunggu sekian waktu untuk menunggu upgrade OS hanya untuk fitur multitasking.

Yang dijual Apple adalah mimpi. Mimpi untuk memiliki produk-produk yang diciptakan hanya untuk Anda (yang percaya). Dibuat sedemikian rupa dengan detil seksama, begitu meyakinkan bahwa setiap sudut yang ada tak pernah berasal dari kebetulan.

Perubahan pasal 3.3.1 pun tidak dilakukan tanpa memikirkan Anda (yang percaya). Dengan pasal 3.3.1, Apple telah meghilangkan kesempatan orang-orang yang menapak satu kaki saja ke ekosistem Apple (begitu kata John Gruber).

Mimpi, selalu lebih indah dari waktu ke waktu. Bagi kita yang percaya, apapun yang keluar dari Apple setelah ini pasti juga akan lebih indah.

Twitter Choose Tweetie, No Biggie

Twitter dari dulu hanya mempromosikan aplikasi pihak lain. Mengurusi skalabilitas sistem akibat berkembangannya pengguna Twitter sudah cukup menyita waktu dan biaya. Twitter tak mau direpotkan dengan urusan aplikasi yang tak signifikan.

Tapi itu dulu, sebelum Jobs mengumumkan iAds yang kabarnya membuat Twitter mengubah pikiran. Mengakuisisi Tweetie mungkin bisa menjadi langkah hoki menuju Twitter yang akhirnya membuat model bisnis. Iklan memang seringkali jadi model bisnis terakhir yang dibenci startup. Tapi, dengan skala semasif Twitter, mungkin kesuksesan adsense bisa dicipta ulang.

Langkah Twitter ini tak jauh berbeda dari pasal 3.3.1 milik Apple. Keputusan ini membuat gerah sejumlah pemain yang bergantung pada ekosistem Twitter. Bagaimana tidak, dengna jadi official app, Tweetie bisa saja mendapat perlakuan khusus semisal API terbaru atau jatah quota istimewa.

Tapi, bagi mereka yang percaya seperti halnya Seesmic dan Tweetdeck tak merasa mendapat masalah. Salah satu sumber kepercayaan mereka adalah jumlah pengguna. Bagi sejumlah besar pengguna ini, tidak ada hal yang berubah. Seesmic tetap Seesmic, Tweetdeck tetap Tweetdeck dan follower dan following mereka pun tak akan terpengaruh.

What We Need Are Believers

‘Nuf said. Apapun yang Apple lakukan, seberapa kontroversial Twitter mengambil keputusan, akan tetap ada believers yang berdiri di belakang mereka. How to gain these believers? Penuhi janji sebanyak mungkin. Give ’em faith.

Anda punya?

Internet and Communities

Internet and Communities

Internet is a beautiful thing – Episode Naruto terbaru baru saja ditampilkan di stasiun televisi di Jepang. Tidak lama setelah usai, sudah dikemas ulang dan disebarkan lewat torrent. Episode terbaru tersebut mulai diunduh oleh ribuat orang, seeders and leechers, tapi banyak penggemar yang berdomisili di Amerika Serikat tidak bisa berbahasa Jepang. Selang satu hari, seorang fan Naruto keturunan Jepang yang tinggal di Los Angeles tleah selesai dengan subtitle episode Naruto tersebut, dalam bahasa Inggris.

Sekarang semua bisa menikmati episode Naruto terbaru, berkat beberapa aktifis sukarela, lewat internet. Indah bukan?

Read More Read More

Facebook Fan Page Strategy: Lack of Goals

Facebook Fan Page Strategy: Lack of Goals

Sekarang mungkin kata “Facebook Fan Page” bukan lagi hal baru. Popularitas Facebook di Indonesia yang notabene berjumlah sangat besar itu, semakin memikat para brand owner (termasuk personal branding) untuk berpartisipasi.

Bentuk dari partisipasi tersebut juga bermacam-macam. Beberapa dengan kreatif melakukan kampanye social media, tapi juga tidak banyak yang tidak terlalu sukses dengan aksinya di Facebook.

Read More Read More

Di Mana Dan Mengapa Mereka Berkumpul?

Di Mana Dan Mengapa Mereka Berkumpul?

Sebenarnya ini adalah ujung dari rasa penasaran saya dengan Friendfeed. Dulunya Friendfeed adalah tempat nongkrong yang menarik, bahkan dibanding Twitter. Tapi kenapa hal ini berubah? Paling tidak bagi saya Friendfeed tidak lagi menjadi tempat nongkrong untuk: mencari berita terbaru, dan berdiskusi. Saya kembali ke Feedly untuk sumber berita, dan Twitter untuk diskusi dengan jaringan orang-orang.

Di mana posisi rainmaker/social media whiz?

Apakah Friendfeed tak lagi menarik gara-gara dibeli Facebook? Ataukah karena Scobleizer tak lagi aktif di sana? Well, Friendfeed masih tetep jadi hub buat Scoble. Sharing dari Google Reader masih masuk ke sana, dan barusan saya menemukan link menarik tentang Playstation 3: Playstation Move

Tapi tweet ajakan diskusi di Friendfeed tak pernah muncul lagi dari Scoble. Mungkin karena Friendfeed bukan lagi startup independen, Scoble tak rela keringatnya diambil jadi profit secara cuma-cuma oleh Facebook. Mungkin. Atau karena tidak comply dengan bisikan Rackspace. Mungkin.

What happen with formspring.me? Siapa yang masih di sana? Posisi rainmaker/whizzer sekedar menjadi pengenal dan pembawa pesan. Setelah itu semua diserahkan pada komunitas netizen yang terbentuk di tempat baru. Beberapa mungkin menemukan tempatnya, sementara yang lain akan pergi dengan segera. Seperti halnya orang-orang yang memilih tinggal di Bloglines, sementara yang lain telah pindah ke Google Reader atau tempat lain yang lebih “social”.

Kenapa netizen berkumpul?

Keberhasilan engagement atau interaksi adalah kuncinya. Kita bisa berkenalan dengan banyak layanan baru namun jika tidak mampu berinteraksi maka kita tidak akan tinggal lama di sana. Ketidakmampuan berinteraksi bisa disebabkan antara lain karena ketiadaan waktu dan ketidakcocokan manfaat.

Friendfeed is good, tapi saya tak punya banyak waktu untuk melihat stream realtime. Belum lagi saya juga masih ingin keep up dengan Twitter karena tidak semua source saya available di Friendfeed.

I like SocialMedian, namun SocialMedia terlalu lambat bagi saya. Berita-beritanya seringkali kalah cepat dari Google Reader karena harus berpropagasi lewat orang-orang. Dari Google Reader, kita bisa mendapat berita langsung dari sumbernya walau terkadang tersela dengan noise yang ditimbulkan sumber berita lain.

Saya berhasil engage dengan Google Reader lewat Feedly, namun saya gagal engage dengan SocialMedian, dan juga Facebook.

Jadi di mana mereka berkumpul?

Seperti yang saya sebut di atas, kuncinya adalah keberhasilan engagement (lebih cendeerung ke arah keterlibatan). Inilah jawaban kenapa orang masih main di forum, atau bahkan channel-channel IRC tahun baheula. Karena di tempat lain mereka susah atau tak berhasil berinteraksi. Atau tak mau mencoba karena tahu prosesnya panjang dan melelahkan.

9 Cara UKM Melihat Social Media

9 Cara UKM Melihat Social Media

Siapapun Anda, entah freelancer atau start-up owners, yang pernah menawarkan jasa atau layanan kepada barisan UKM, tentunya akan mengalami hal-hal yang sama. Yang intinya pebisnis UKM secara umum, terutama yang sudah mapan, menunjukan tanda-tanda kurangnya rasa tertarik, kepercayaan, pengertian, atau kepastian, bahwa UKM bisa mengambil keuntungan dengan memanfaatkan internet, atau khususnya social media.

Beberapa survey terakhir, meskipun dengan responden non-Indonesia, juga menunjukkan bahwa layanan seperti Twitter tidak begitu bermanfaat untuk bisnisnya.

Begitu juga dengan artikel terkahir di majalah InfoKomputer, tentang kiprah LewatMana dan Urbanesia, yang menunjukkan suatu persetujuan bahwa adanya tantangan besar untuk menawarkan layanan (web) kepada para UKM.

Dari beberapa pengalaman yang saya dapat di pasar, juga terdapat reaksi yang sama. Setelah dikumpulkan dan disaring, berikut adalah beberapa kesimpulan bagaimana UKM yang masih tradisional melihat peluang pemasaran lewat Internet, terutama dengan memanfaatkan social media.

Read More Read More