Browsed by
Category: Reviews

Ulasan Produk & layanan IT Indonesia

Brinx My Identity Anywhere!

Brinx My Identity Anywhere!

Bagaimana kalau url shortener itu bisa dikasih branding macam punya hootsuite, dkk. Asik kan ya? Kita bisa pasang foto kita di situ. Kalau di-RT/retweet, wajah rupawan kita bisa terbawa ke timeline orang. Jodoh lebih dekat jadinya. Terbayang tidak manfaatnya?!

Dan ternyata bisa loh kita memiliki branding di-link seperti itu. Dengan tampilan yang “gak malu-maluin” pula. Oh, pengen banget rasanya saya ngeplak yang bikin layanan ini. Ide sederhana, tapi segar dan cespleng banget. Cocok sangat buat menambahkan khasanah sisi di prisma identitas kita. Yes peeps, identity is a prism.

Brinx.it! Bawa deh identitasku ini! Tampilkan citra personalku dan citra produkku ke mana saja. Sedolar sebulan. OH MY GOD! Kayak gak bayar aja ini.

Sorry for my overwhelming words. It’s just too awesome to miss. You can even have your custom domain instead of brinx.it. It just so YOU. You can tweak your branded link as much as you want. You can write your own HTML if you feel default theme is annoyingly too great.

Have it your way. Brinx it on!

Samsung SmartTV

Samsung SmartTV

Sebelumnya saya pernah menulis tentang Boxee. Sebuah aplikasi yang mengubah layar besar komputer Anda seperti sebuah tv. Berkonsep media center dengan tambahan aplikasi yang tak terbatas jumlahnya sebagai karakter pembeda. Kini Boxee sudah dijual dalam bentuk settopbox. Tidak perlu PC terpisah, hanya perlu sebuah TV HD untuk ditempelkan sebagai output. Tidak peduli TV merk apa, jadul atau tidak, asal punya colokan yang kompatibel maka TV tersebut bisa digunakan. Pasarnya luas karena Boxee bersifat sebagai addon.

Boxee is a poor man’s Smart TV, kalau saya boleh mewakili Samsung untuk berkomentar. Kenapa harus beli hardware baru jika bisa kemampuannya bisa dibangun langsung dalam TV itu sendiri? Sudah ada smartphone, smart netbook (tablet), kenapa belum ada smart tv? Jika komputer sering disalahgunakan sebagai alat konsumsi media, kenapa tidak menjadikan TV yang sudah fasih dengan media menjadi lebih cerdas seperti komputer. Hanya beda di resolusi layar serta prosesor saja.

Definisi Smart

Tentu saja harus bisa dipakai menikmati FB dan Twitter. This is the absolute benchmark. Twitter dan FB adalah main dish kita. Intinya smart tv harus bisa melakukan apa yang biasa kita lakukan tiap hari di depan komputer, walau dengan beberapa penyesuaian. Ketersedian browser juga jadi tambahan benchmark. Dari setiap gadget yang bisa terkoneksi dengan internet, pasti kita sudah pernah mencoba memakainya untuk browsing. Nokia jadul, Nokia baru, PSP, Blackberry, iPhone, Android semua harus bisa dipakai mengkonsumsi website dengan nyaman. “Mengerti Anda”, belum jadi kebutuhan di sini.

Pro Cons

Smart belum tentu seksi, belum tentu diinginkan. Sudah ada pelbagai settopbox yang canggih dalam urusan menikmati media. WDTV, PlayOn, dll juga bisa terkoneksi dengan internet ditambah dengan dukungan codecs yang menjadi daya tarik tersendiri bagi maniak media internet.

Dalam hal dukungan codecs, saya sangsi Samsung SmartTV bisa bersaing dengan perangkat semacam WDTV dan PlayOn yang memang ditargetkan menjadi media center. Untuk menjaga keseksian TV yang cenderung tipis akan ada tradeoff antara kemampuan dan pilihan hardware. Tapi gap ini tak akan bertahan lama. melihat tren teknologi Samsung yang mulai catch-up dengan Apple, hardware tipis tinggal menunggu waktu diumumkan saja.

Isu codecs ini sementara juga bisa diatasi dengan media server perantara yang bisa melakukan transcoding on the fly. Fitur DLNA (uPNP) yang ada di produk Samsung Smart TV ini akan membantu proses penemuan media server tersebut. It does beat the purpose of having Samsung Smart TV as media center but you’ll still have apps and browser.

Market, Market, Market

Browser yang dipasang dalam Samsung Smart TV ternyata berbasis Netscape 5 (dengan dukungan Javascript 1.1 dan Flash 10.1), kata CNET. Saya tak yakin apakah maksudnya adalah Mozilla/Gecko. Saya sebelumnya menduga bahwa browser tersebut berbasis Webkit atau peramban tingkat A yang lain. Blog ini berhasil dirender tanpa cela, sebagai buktinya.

Kenapa peramban jadi penting? Karena tidak semua aplikasi yang kita inginkan akan tersedia. Samsung, seperti Nokia, membawa pasar aplikasinya sendiri i.e: Samsung Apps. Kalau Anda memakai Android, tidak banyak aplikasi yang tersedia di dalam Samsung Apps. Tentunya kondisi akan sedikit berbeda karena Samsung Smart TV adalah platform dengan kapasitas berbeda dibandingkan handset atau tablet. But still, saya ragu dengan dukungan ekosistem aplikasinya.

Buy or no Buy?

Dari segi teknologi display, TV itu sendiri layak dibeli. Tapi jika melihat bandrol harga mungkin kita akan menimbamg beberapa kali. Untuk urusan hemat, kita bisa mengkombinasikan TV biasa dengan settopbox terpisah. Dukungan aplikasi memang susah dicari, tapi jika aplikasi yang bisa didukung hanya sedikit maka harga premium Samsung Smart TV ini akan jadi sedikit tak masuk akal. Well, overlay twitter di layar TV dan pelbagai fitur lain memang menggoda tapi saya ingatkan lagi: pendekatan seperti itu belum pas. Someone will come up with something better.

Beli? Saya pengen sih 😀

Gambar tambahan:

 

BisTip

BisTip

Berapa kali Anda memesan oleh-oleh, atau makan siang pada teman? Pernahkah Anda ingin memesan barang pada teman Anda yang sedang jalan-jalan keluar negeri? Selain gantungan kunci pastinya.

Salah satu masalah yang sering kita hadapi adalah distribusi. Mendekatkan yang jauh. Dalam konteks personal berupa titip menitip, dalam skala komersial menjadi bisnis ekspor impor. Kita sudah pernah membahas wujud bisnis ini dalam bentuk vsHub dan Flutterscape. Dua-duanya punya kemiripan dalam hal mendekatkan yang jauh. Memungkinkan kita menemukan dan membeli barang-barang yang sebelumnya susah kita beli — mostly — karena halangan non ekonomi.

Here comes BisTip

BisTip.com, Bisnis Titipan or Bisa Titip? Yang mana pun itu, website[1] ini berusaha menjadi pelumas/enabler bagi aktivitas titip menitip. Sebelumnya kita hanya bisa menitip pada saudara atau teman dari teman yang sudah terpercaya. Kini kita bisa menitip pada orang yang sama sekali belum kita kenal.

Ada beberapa permasalahan dalam titip menitip yang hendak dihilangkan oleh BisTip. Yang pertama soal siapa yang bisa dititipi. Tak perlu lagi menunggu apalagi memprovokasi teman dan saudara supaya segera jalan-jalan ke luar negeri. Lewat BisTip kita bisa mengetahui rute mana yang akan dilewati para BisTiper. Singapur – Jakarta, London – Surabaya, dan lain-lain.

Yang kedua, soal trust. Masalah yang umum dari sebuah layanan. Masalah trust mencakup banyak hal. Namun BisTip rupanya ingin keep things simple. BisTip saat ini hanya punya fitur rating buat Bistiper, mirip dengan rating merchant di marketplace online. Tidak ada escrow account atau sarana penjamin apapun di sini. Untuk menitip barang bernilai ekonomis kecil memang tak masalah, tapi tidak sebaliknya. Well, bagi BisTip, itu masih harus menjadi urusan pribadi antara penitip dan Bistiper. BisTip hanya menyarankan penggunaan Rekening Bersama yang sudah ada dan dipercaya banyak orang di pelbagai forum.

The Problems

Selain soal trust yang tak sepenuhnya teralamati, walau FJB juga bisa jalan tanpa RekBer, BisTip juga punya masalah umum yang diidap banyak layanan yang baru saja launch: users. Upah titip menitip tentunya jadi masalah tersendiri. BisTip harus berfokus ke pencatatan keberhasilan titip menitip supaya suplai dan permintaan bisa diteruskan dengan mandiri oleh penggunanya. Seperti halnya saat awal membuat blog, kita harus rajin menjemput pembaca ke blog-blog mereka.

Dengan menempelkan layanan ini ke tempat yang tepat, misal: FJB, gadtorade (Gadget to Trade) dan komunitas-komunitas yang sudah mandiri, BisTip bisa jadi tool menarik untuk digunakan anggota komunitas tersebut. Fish where the fishes are.

The Exit Alternatives

Kalau kita perhatikan BisTip, adalah dua hal inti yang akan menjadi basis datanya. Pertama adalah rute perjalanan dan kedua adalah permintaan dan penawaran. Tergantung mana yang akan terkumpul lebih banyak dan peluang bisnis di masa depan, satu dari dua komponen ini bisa dibuang dan mentransformasi BisTip menjadi usaha yang lebih solid. Seperti halnya Kayak.com, dari sekedar pembanding harga 20 situs travel kini mengakomodasi booking langsung dari situs Kayak.com[2][3]

Jadi di masa depan mungkin BisTip akan menjadi produk seperti Tripit atau Flutterscape. Neither are a bad future :). Layanan-layanan yang sederhana (modest) seperti ini bisa jadi the next Craiglist. Zero to Hero.

Jadi, ada yang mau titip-titip atau bermakelar ria? Go for it!

Footnotes

[1] Website, bukan startup. Debatable definition. Ask @ronaldwidha about this :D. Okay, here’s the article: http://bmull.com/out-of-respect-for-people-actually-launching
[2] “if you can’t beat them, aggregate them” #startuplokal. Then beat them on their own game.
[3] Kayak bekerjasama dengan Travelocity untuk fitur Direct Booking http://techcrunch.com/2011/03/14/kayak-partners-with-travelocity-to-take-direct-hotel-reservations/ . Dalam hal ini Kayak tidak membuang core datanya tapi memposisikan ulang menjadi unbeatable addon dari bisnis model baru: direct booking.

I Confess. I Play Cityville

I Confess. I Play Cityville

Beberapa minggu lalu saya melakukan kejahatan luar biasa. Akhirnya saya mendaftar di Cityville — game di Facebook itu bukannya negatif?. Apa sih Farmville, Mafiawars, blah blah blah. Buat apa sih main gituan? Setelah bermain Gamedev studio, dan Oregon trail akhirnya saya ketagihan untuk main game lain. Saya bukan avid gamer, jadi yang saya cari adalah game yang sederhana namun cukup fun.

Tak salah, game ini cukup adiktif. Supaya saya dan Anda tak merasa bersalah saat bermain game ini, mari kita cari apa yang bisa kita pelajari dari Cityville. Kita tidak sekedar bermain, kita juga belajar kok 😀

In-Game Guide

Fitur ini sangat membantu saya sebagai newbie. Tiap bagian dashboard diterangkan fungsi dan cara bacanya. Tutorial diletakkan sebagai bagian dari gameplay awal. Manual tidak diperlukan karena sudah built-in dalam produk. Tidak banyak produk yang mengadopsi pendekatan semacam ini karena ada extra mile yang harus ditempuh –walau terkadang harga extra mile ini tak terlalu mahal. Padahal efeknya luar biasa.

Kecuali Anda membeli lego atau gunpla, Anda tak ingin berlama-lama merakit atau membaca manual sebelum menggunakan produk yang Anda beli. Produk yang self-explanatory akan sangat menarik konsumen.

What’s Next?

Salah satu hal yang membuat game menarik adalah tantangannya. Tiap level yang disusun sedemikian rupa untuk kita lalui. Dalam game tipe fighting, kita harus mengalahkan sejumlah jagoan dengan tingkat kesaktian yang terus naik. Demikian pula dalam Cityville. Kita tidak akan bingung apa yang harus dilakukan karena sistem akan memberi tahu prestasi-prestasi apa yang bisa kita raih selanjutnya. It keep us away from boredom by offerring multiple goals to complete. Tidak ada lagi kebingungan, habis ini ngapain?

Never Ending Story

Teman baru saya minggu ini sudah level 62, wilayah kotanya sudah luas sekali. Yet, belum ada tanda-tanda bakal segera bertemu game over. Cityville tampaknya memang tidak didesain untuk selesai. Sama nasib atau strateginya dengan beberapa manga sukses seperti Naruto, Bleach dan One Piece. Begitu menemui tanda-tanda kesuksesan, cerita akan dibikin ulang untuk mengakomodasi produksi sampai beberapa tahun ke depan.

Kebosanan pasti akan muncul di suatu titik. Tapi saya rasa kebosanan itu muncul karena tidak ada teman bermain. Seperti yang kita tahu, Cityville ini adalah game jaringan. Hanya seru jika dimainkan bersama-sama. Saat ada teman yang sudah lelah, yang lain pun akan merasa kurang fun. Seperti bermain Counter Strike sendirian. Apa sih serunya?

Tapi saat kebosanan datang, akan ada pemain baru. Si non beliefer yang akhirnya mengerti esensi (baca: adiksi) bermain Cityville. Dan siklus pun berulang lagi. Cityville jadi seru kembali. Rinse and repeat.

Coda

SCVNGR punya daftar tersendiri tentang apa saja yang bisa dijadikan game mechanics – walau akhirnya tak bisa mencegah saya dari rasa bosan. Badgeville punya game mechanics yang dijual sebagai produk. Kampanye online juga seringkali dan harus memakai game mechanisc supaya sukses. Bagaimana dengan produk Anda? Apakah memerlukan game mechanics? Jangan salah, produk serius pun bisa mendapatkan keuntungan dari implementasi game mechanics.

So, are you ready to play?

The Mistery of Pricing

The Mistery of Pricing


Ini adalah artikel pertama NavinoT di 2011. Kita masuk ke 2011 dengan kepalan keras yang menghantam, bukan sekedar selamat tahun baru 🙂

Kali ini saya ingin sharing tentang buku Dan Ariely yang berjudul “Predictably Irrational“. Buku ini berefek sama seperti Small is The New Big milik Seth Godin. Membuka mata saya dengan cerita tanpa harus membaca statistik rumit ala Freakonomics (sorry Mas Malcolm, buku Anda tetap bagus kok dasarnya).

Harga. Berapa sih harga pantas sebuah laptop? Kenapa harga iPad harus segitu mahal? Kenapa ada persepsi mahal, murah dan normal? Apa sekedar karena perbedaan daya beli saja? Tahukah Anda bahwa harga yang masuk akal itu bisa diatur atau didoktrinkan?

Price Anchoring

Eksperimen Dan Ariely menunjukkan bahwa harga yang masuk akal itu ditetapkan pertama kali saat Anda membeli sebuah produk. Misalnya LG LCD TV 32 inchi (rela) Anda beli dengan harga 4 juta. Selanjutnya jika Anda diharuskan membeli produk LG LCD TV 32 inchi lagi maka Anda pasti akan menawar jika harganya 4,5 juta. Padahal, orang lain di tempat lain mungkin membeli LG LCD TV 32 inchi pertamanya dengan harga 4,5 juta. Orang kedua ini tak akan berpikir dua kali jika harus membeli barang kedua dengan harga sama.

Harga cabai bagi kita mungkin naik, tapi bagi turis yang pertama kali membeli cabai di sini pasti tak akan protes dengan harganya. Toh pasti lebih mahal dengan harga cabai di tempat asalnya. Padahal di sini harga cabai mungkin sudah naik sekian kali lipat.

Bagaimana? Coba ingat-ingat contoh yang pernah terjadi dengan diri Anda sendiri. Ada yang rela beli iPhone 7 juta saat pertama rilis? Kenapa mau? Karena kita tak punya pembanding. Tidak ada yang mirip. Ya sudah, kita terima saja MSRP-nya (Manufacturer’s Suggested Retail Price)

Readjusting Price Anchor

Jika harga yang kita terima sepenuh hati ternyata diingat sepanjang masa, bagaimana caranya supaya orang mau beli dengan harga baru yang kita pasang? Ternyata ada caranya. Tidak dengan menambah fitur supaya tampak lebih berharga dari produk lain, tapi dengan jalan mempersulit perhitungan harga.

Contohnya sama dengan cerita harga iPhone di atas. Contoh lainnya, kenapa Anda mau beli kopi seharga 30-40 ribu di Starbuck. Di tempat lain harganya bisa lebih murah. Saat Anda kali pertama masuk Starbucks, Anda mungkin sempat bertanya kok bisa harga kopi “semahal” itu. Yet, you paid it for the first time. Kenapa? Karena semua Frappucino, Macchiato, Short, Tall, Grande, Venti membingungkan Anda. Unit ini tidak pernah Anda temui sebelumnya sehingga Anda tak punya pembanding harga. Dunkin dan jCo juga punya kopi tapi tidak ada Macchiato, dll. Ya sudah, kita terima harganya demi mencoba.

Apa yang sebenarnya terjadi? Ternya Starbucks mencoba membuat price anchor yang baru. Dan ketika kita puas dengan kopi Starbucks, semua kopi lain (tidak harus yang mirip) akan kita bandingkan dengan harga ini.

Hmm, saya rasanya jadi paham dengan lingkaran setan produk Apple. Once you buy one, other Apple product pricing became reasonable and make sense. It’s price anchoring!

Pesannya, jika Anda tidak tahu cara menetapakan harga suatu produk maka sekalian saja dibuat mahal. Jika Anda sendiri bingung tentang harga value produk, itu adalah kesempatan untuk menetapkan price anchor buat yang lain.

PS:
Asik kan bukunya? Ini baru sampai bab dua loh. Ingat, Predictably Irrational oleh Dan Ariely. Beli versi pocketnya di Periplus PIM atau tempat lain. Worth every penny!

VSHub: Variasi Menarik Layanan Logistik

VSHub: Variasi Menarik Layanan Logistik

Dulu sewaktu baru saja pindah ke Jakarta, saya punya ide menjual layanan broker. Broker belanja di Jakarta bagi penduduk di luar Jakarta (waktu itusaya hanya berpikir Jogja). Inti idenya sederhana saja. Pembeli tinggal menyebut barang apa yang ingin dibeli, bisa dari hasil pencarian mandiri atau memilih dari katalog sederhana yang saya buat berkala. Barangnya akan dihantar pada saat saya balik ke Jogja. Silly and stupid but might just work.

Well what do you know, rupanya VSHub (Virtual Shopping Hub) punya konsep yang mirip dengan ide saya tersebut. Hanya saja lebih modern dan mengakomodasi model bisnis yang well planned.

The Essence

Membuka marketplace itu bukan perkara mudah, buktinya tidak banyak yang terjun ke bidang ini. Ada banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun sistem, menarik pelanggan dan juga penjual. Belum lagi mengurus integrasi dengan pelbagai payment gateway demi kemudahan dan kenyamanan aktivitas jual beli.

Daripada membuat another marketplace atau online store, VSHub tampaknya mencoba fokus pada isu delivery dan penghematan belanja.

Sorry, We Can’t Ship To Indonesia

Pernah bertemu kalimat di atas? Sebal. Tak bisa kita menyalahkan merchant karena bisa saja pembatasan ini dilakukan demi menghindari fraud atau sengaja untuk mengontrol pengeluaran ongkos shipping. Ongkos shipping yang tinggi bisa membuat penjual merugi oleh karena itu beberapa alamat pengiriman memang tidak dilayani.

VSHub cerdas membidik masalah tersebut. VSHub menjual layanan alamat virtual di US yang bisa didapatkan cuma-cuma saat registrasi. Dengan cara seperti ini, kita masih tetap bisa membeli barang karena alamat pengiriman masih di US. Dengan cara ini, pembeli juga bisa diuntungkan dari penghematan biaya pengiriman barang. Alih-alih membayar biasa shipping masing-masing barang ke alamat asli kita maka kita cukup membayar ongkos shipping tiap-tiap barang ke US (most probably zero) plus ongkir sekali ke alamat asli kita. Hitungannya yang berdasar volume/berat juga bisa memangkas ongkos karen semua pesanan kita dibungkus dalam satu kotak.

How You Can Clone VSHub

Jika Anda cermat mengamati, membuat layanan seperti VSHUb ini seperti membuat perusahaan logistik. Dengan tambahan kita bisa bisa menjadikannya pool barang-barang yang kita beli dari pelbagai tempat. Jadi sebenarnya idenya gak unik-unik amat dong? Memang tidak, tapi tak semua bisa mengeksekusi plan seperti ini bukan?

How To Make A Better VSHub?

Sudah jelas, pertama luaskan jangkauan layanan. VSHUb sendiri sudah berekspansi untuk mendukung pengiriman dari Jepang. Pilihan opsi beli pun makin meningkat. Segmen otaku atau fashionista yang gemar membali barang-barang aneh dari jepang tak perlu bingung harus memesan di mana supaya tidak terbebani ongkos kirim. Tak perlu mencari orang tertentu tapi cukup memakai layanan yang sudah punya kredibilitas.

Yang kedua, get a better deal with the foreign merchant. Selain meluaskan jangkauan layanan, VSHub juga bsia bekerjasama dengan merchant setempat untuk memberikan diskon khusus bagi pelanggan VSHub. Lihat saja merchant yang paling sering bertransaksi lalu ajak kerjasama.

Ketiga, get a better deal with local logistic company. VSHub tentunya tak bekerja sendirian. Coverage pengiriman bisa diperluas dan diperhemat dengan jalan bekerjasama dengan partner yang tepat.

Keempat, nurture a community. Daripada bergantung pada end user, kita bisa mendidik dan memberdayakan komunitas pengusaha yang memanfaatkan VSHub. Di daerah tentunya masih banyak yang tertarik dengan layanan seperti ini. Kita manfaatkan dan berdayakan para kader ini untuk membuat dan memelihara pasarnya sendiri. You only need to invest once, the rest will come by itself (theoritically)

Jangan-jangan Anda sudah punya calon-calon partnernya? Tunggu apalagi, bikin yang lebih bagus! jangan lupa coba layanan VSHub ini untuk mendapatkan feeling bisnis-nya dan mencari tahu hal-hal yang bisa dijadikan diferensiator layanan baru Anda.

Bersemangat?

PS:

Untuk keperluan testing, Anda boleh membeli barang-barang seperti di bawah ini buat saya 😀

Did Apple Just Screw RIM (And Everybody Else)?

Did Apple Just Screw RIM (And Everybody Else)?

Baru beberapa hari kemarin saya menulis tentang fenomena Blackberry. Bahkan diskusinya sendiri belum selesai, atau mungkin tak akan pernah selesai. Sekarang ternyata kita harus berhitung kembali setelah Apple mengeluarkan iPhone OS 4.0 developer preview. Apakah Blackberry masih akan berada di atas angin?

Multitasking

“Koki terbaik adalah perut yang lapar”, demikian saya mencatat tweet @pamantyo di Twitter. Konsep multitasking yang ditawarkan Apple sebenarnya tidak sama dengan konsep multitasking yang selama ini kita jumpai. Dalam konsep Apple multitasking belum tentu timeslicing cpu cycle. Program yang mengalami multitask di iPhone ibarat dibekukan dan dipindah ke belakang layar. Kalau Anda familiar dengan Unix, tentunya Anda akan ingat perintah fg dan bg. bg (Ctrl+Z) mengirim aplikasi yang sedang jalan ke belakang layar dan membekukan prosesnya. Download akan terhenti, animasi terhenti, almost everything is stopped. Almost karena dengan menggunakan API tertentu proses yang diminta akan tetap dieksekusi dibelakang layar.

Tidak seperti dalam desktop dimana semua aplikasi akan berjalan secara penuh tanpa dibekukan. However, justru pendekatan ini yang lebih tepat diterapkan pada perangkat yang sensitif dengan penggunaan baterai dan kekuatan prosesor.

Sekarang iPhone 3GS dan iPad jadi lebih hebat daripada Nokia 3500 yang tak bisa multitasking. Blackberry tampaknya juga punya metode yang mirip walau saya tak yakin apakah aplikasi juga dibekukan demi alasan performa. Blackberry pasti akan menyusul, kalau tidak tersandung IP 😀

Push Notification

Faktor ini jadi senjata utama Blackberry (ditambah dengan infratruktur dan teknologi kompresi) yang sering dibanding-bandingkan dengan smartphone (lain).

iPhone OS 4.0 membawa fitur push notification, via internet dan juga lokal. Sekarang Apple jadi agak lebih setara dengan Blackberry untuk urusan messaging. Dalam soal aplikasi, ini berarti Apple punya banyak ruang kosong yang bisa diisi aplikasi baru dengan memanfaatkan fitur ini.

Social (Gaming) Network

iPhone OS 4.0 membawa fitur Game Center yang memungkinan seorang player menantang player lain yang setara, mengundang teman untuk bermain bersama, atau melihat perolehan score antar teman. Fitur ini bukan hasil cloning Facebook, namun hasil fokus pada ekosistem gamer yang ada di iPhone. Which is a clever move. You don’t need to do (copy) everything. Tidak ada produsen lain yang punya fitur ini.

iAd

Nobody gets it, but Apple. It’s like rich media, but it has no Flash at all. No heavy weight stuff. Pendekatannya mirip dengan iklan rich media. Cuman dalam iPhone OS 4.0 fitur ini jsutru built in dalam OS. Dan penampilannya non obstrusive. Akan muncul sebagai banner yang jika diklik baru akan mengambil alih layar untuk menampilkan konten iklan. Sepertinya fitur ini adalah yang pertama dalam dunia mobile app. Developer pun akan makin tertarik karena peluang revenue bertambah dan tidak bergantung pada penjualan aplikasi.

Lesson learned? Saya serahkan pada Anda untuk menarik kesimpulan di kotak komentar.

PS:

Gak kalah bikin ngiler dari iPhone OS 4.0, Goorme.com sudah diluncurkan sehari sebelumnya.

Kenapa Harus Blackberry?

Kenapa Harus Blackberry?

Blackberry masih ngetren gak sih? Sepertinya sih iya. Fase laggardnya udah cukup lama dimulai tapi belum tampak ujung akhir kurvanya. Kira-kira Blackberry bisa ngetren di sini? Dibahas lagi?

It looks weird

Qwerty adalah barang baru. Keypad yang menjadi periperal umum di hape tak lagi keren walaupun sebenarnya tak kalah fungsional (jika sudah terbiasa). Orang-orang butuh menjadi berbeda. These people buy qwerty phone or BB.

Viral like Microsoft’s docx


Oh maaf, belum install Office 2003? Belum bisa baca lampiran docx di surel? Aduh gimana ya? Install dong.

Sekali dua kali mungkin kita bisa bertahan dari bujuk rayu pengadaan software baru. Namun, lambat laun kita akan menyerah karena waktu kita terlalu berharga untuk dibuang dalam bentuk rasa frustasi.

Anda bisa saja berkelit dari todongan PIN BBM namun akhirnya Anda akan terjebak dan menyerah apalagi teman-teman Anda makin banyak yang memakai. It’s like a new protocol or standard you need to adopt or else your browser will be almost useless.

Why Can’t Push Mail Work?


Hari gene gak bisa push mail? Apa kata dunia?

Paling tidak ada dua core yang dimiliki Blackberry: BIS/BES dan push technology. Seperti halnya Apple, kalau kita bisa mendikte hardware dan software dalam produk maka kita punya kesempatan memberikan penawaran value yang unik kepada konsumen.

RIM menawarkan BBM, tidak punya standard terbuka namun cara kerjanya lebih simpel dari e-mail. Semua kontak telah tertera, no signatures and other excess baggage, it get pushed and boils down to sending and receiving message. Push mail look a wee bit clumsy.

Tapi jangan tertipu. Keypoint-nya bukan soal fitur. Ketiadaan fitur masih bisa ditolerir tapi tidak untuk urusan harga. Push mail dan BBM works because it’s almost free.

Appstorification Is Here To Stay


RIM ini bak telco as platform. Dengan push technology, RIM menciptakan platform bernama Blackberry. Platform ini ternyata good enough sehingga developer mau masuk ke dalam ekosistemnya. Fungsionalitas push technology yang dulunya hanya untuk delivery mail kini diperluas untuk menghantar segala jenis message. App world pun berhasil naik daun.

So, no matter how good iPhone or Android are, they won’t be able to beat Blackberry unless the price is right.

Punya pendapat atau uneg-uneg lain? Kolom komentar sudah menanti gan!

PS:
This post is written entirely on Blackberry using WordPress app.

What I Learned from Open Hack Day

What I Learned from Open Hack Day

Yahoo Open Hack Day

Rasanya badan ini belum sepenuhnya pulih dari kegiatan Open Hack Day kemarin. Bisa dibayangkan, tidak tidur dari Sabtu sore sampai dengan Minggu sore. Untunglah Yahoo benar-benar tahu bagaimana menangani para geek yang coding semalam suntuk ini. Makanan, minuman, hiburan (Wii, PS, Jamaica Cafe — bukan lap dancer) tersedia tanpa kekurangan. Bahkan ada bean bags untuk geek yang mau coding sambil rileks.

Lalu, apa makna dan kesan yang saya dapat dari Yahoo! Open Hack Day?

Misunderstanding

Banyak yang mengira hacking itu selalu terkait security dan adanya hanya di dunia jaringan. Bahkan dalam video wawancara Yahoo dengan orang di jalan ternyata ada kesalahpahaman yang sama. Hacking itu bisa diartikan sebagai proses kreatif. Oleh karena itu bisa diaplikasikan dalam berbagai bidang. Dalam konteks Yahoo! Open Hack Day proses kreatifitas yang terjadi adalah pembuatan value baru dari berbagai peralatan dan API yang disediakan Yahoo namun tidak dibatasi dari Yahoo saja.

Ideas are dime a dozen, but the rest are not

Ide memang mudah dicari. Semua hal yang kita lihat atau rasakan bisa dirangkai dalam sebuah ide. Tapi dengan batasan waktu dan lain-lain, ide-ide ini akan jadi langka. Ide yang semula tampak keren harus direvisi karena mungkin tidak akan bisa terwujud dalam semalam. Atau tidak ada resource yang mencukupi untuk mengimplementasikan ide tersebut.

Yahoo! Open Hack Day ini seperti project management satu malam. Siangnya kita menentukan ide yang cukup feasible dan malam sampai paginya kita melakukan pengembangan sambil melakukan monitoring dan revisi. Fitur yang di tengah jalan diketahui akan mamakan waktu lama akan mendapat prioritas terakhir. Di akhir kegiatan pastinya tujuan kita adalah hack selesai dengan hasil yang bisa didemokan.

Research is important

Terkait dengan poin kedua di atas. Kadangkala banyak faktor yang tiba-tiba kita temui tidak sesuai dengan harapan. Mungkin kita berharap konten lokal punya petunjuk lokasi atua meng-embed microformat. Tapi ternyata tidak. Mungkin dari sisi teknologi kita berharap teknologi A dan B bisa direkatkan dengan gampang. Ternyata pada akhirnya ada kendala yang belum terkirakan. Atau mungkin teknologi yang kita andalkan ternyata masih experimental. Tanpa riset cukup di awal kegiatan, akan muncul semakin banyak resiko kegagalan. Kita harus siap bermanuver saat menemui hal seperti ini.

All in all, Yahoo! Open Hack Day benar-benar luar biasa. Luar biasa melelahkan dan menyenangkan. Yang tak tergantikan adalah bertemu dengan Yahoo! dan Yahoo! fans dan bersama-sama hacking the codes. Yahoo! Open Hack Day rocks!

PS:

Ini pemenang favorit di Open Hack Day: Chat Plus by @ksetyadi

Google Wave crashes on beach of overhype

Google Wave crashes on beach of overhype

Wave

Sengaja saya mengambil judul yang sama dengan apa yang dipakai Robert Scoble. Memang benar, rasanya Google Wave ini tak seheboh yang di-hype-kan selama ini. Menyambung teaser kemarin, berikut ini beberapa poin kenapa Google Wave sucks

Google Wave tidak bisa dipakai sendiri.

Saya masih ingat poin ini dari Bokardo. Disebutkan bahwa salah satu kesalahan dalam membuat layanan web adalah ketiadaan kemampuan untuk dimanfaatkan secara personal (self satisfying) tanpa tergantung pada pengguna yang lain.

Begitu Anda masuk Wave, pasti rasanya sangat sepi. Tidak ada teman yang bisa diajak waving sama sekali. Cuma ada video perkenalan dan setting Wave extension yang isinya cuma dua buah extension (dan sudah terinstall). Jadi yang bisa Anda lakukan saat belum memiliki contact teman yang telah tergabung dalam Wave adalah memfungsikan Wave sebagai Google Notebook.

Tidak terlalu intuitif.

Wave ini seperti sebuah flow baru yang dipaksakan. Tidak seperti model kolaborasi dokumen di mana kita buat dokumen, lalu di-share dan di-edit bersama. Untuk Wave, Anda memulai dengan “Create Wave”. Hmm, ini seperti programmer yang memaksakan diri membuat UI. Seperti skenario menambah data customer baru, difasilitasi dengan tombol “Create Record”. Very geeky indeed.

It’s not the part of a bigger hub

Wave ini instan terpisah, tidak terkoneksi dengan email, calendar, dokumen dan fitur-fitur lain yang terkait dengan aktivitas kita sehari-hari. Tak heran jika setelah mencoba Google Wave untuk mencari tahu isinya, kita akan bingung. Mau apa lagi?

Ronald Widha dari TemanMacet bilang Google Wave mengingatkannya akan ICQ, di mana kita bsia melihat apa yang sedang diketikkan oleh partner chat kita. Menurut saya, Google Wave mirip dengan Plurk dan Friendfeed terkait dengan unsur realtime dan live preview.

Fitur-fitur tersebut benar-benar berguna dalam Friendfeed dan Plurk karena menjadi added value. Tapi dalam Google Wave, added value ini justru berdiri sendiri which is a bit pointless. Saya lebih berharap penambahan seperti ini justru bisa di-merge ke GMail dan aset Google yang lain.

Dan tidak hanya saya yang merasakan kekecewaan, beberapa tokoh terkenal di Internet juga merasakan hal serupa. Coba saja baca ulasan ReadWriteWeb tentang hal ini.

So, what is it all about?

Okay, yang jelas Google Wave memfasilitasi kolaborasi realtime. Seperti group, dengan live preview of content. Selain menambahkan konten berupa link dan file, kita juga bisa meng-embed google gadget ke dalam Wave. Sebagai contoh, saya meng-embed gadget Tetris.

wave tetris gadget

Selain Wave, juga ada Ping. Ping bisa dikatakan sebagai Wave Lite, err mirip Google Chat dan juga akan terarsip dalam kumpulan Wave.

wave ping
Wave Ping
wave rich toolbar
wave rich toolbar

Wave punya fitur playback. Fungsinya untuk mengulang proses terbentuknya Wave, seperti fasilitas replay. Kita bisa menggeser-geser slider maju-mundur untuk melakukan playback.

wave playback
wave playback

Bagi developer, Google Wave adalah mainan baru yang menarik. Kita bisa membuat robot atau wave extension untuk ditambahkan dalam Wave. Fungsinya tak terbatas, justru harus dieksplorasi. Bagi yang sudah kenal dengan AppEngine, Anda bisa membuat wave extension dengan mudah. Ada tutorial yang bisa di-copy paste sebagai robot pertama Anda.

wave-robot

Menurut Anda, terutama yang sudah berkesempatan mencoba, di mana sebenarnya potensi Google Wave berada? Di tengah tren social media, di mana posisi Google Wave? Hit or miss?

PS:

Thanks untuk @alderina, @avianto, @chikastuff, @ronaldwidha serta @satya yang telah jadi partner testing Google Wave