Browsed by
Category: Reviews

Ulasan Produk & layanan IT Indonesia

Sudah Muak Dengan Jejaring Sosial?

Sudah Muak Dengan Jejaring Sosial?

vomitus

Akhir-akhir ini saya menemukan banyak web startup baru karya anak bangsa, itu memang sudah tugas saya untuk menemukan dan membantu memberikan sedikit eksposure untuk diketahui para anggota komunitas web. Dan satu hal yang sangat mengherankan saya adalah banyaknya jejaring sosial baru yang dibentuk tahun ini. Memang sih, sudah lama ada jejaring sosial pioneer di Indonesia seperti Fupei, Kombes dan LiveConnector. Namun sepertinya kematian situs-situs ini tidak membuat developer mengurungkan niat untuk membuat kompetisi baru di ranah ini.

Sebut saja Digli, Adandu, TemanKuliah, KenalanYuk, YouFaceSter, FunPage, Ngecap, MyPulau, XL Funbook, Arghh… dan masih banyak lagi yang belum terjamah oleh saya. Sebenarnya kenapa sih harus ada sebanyak ini?

Read More Read More

Politikana: Free for All Megaphone

Politikana: Free for All Megaphone

Megaphone

Tagline aslinya Politikana.com sih, politik 2.0. Di mana pembicaraan politik tidak lagi dimonopoli oleh segelintir orang. Dan kini semua orang bisa saling melempar wacana dengan lebih mudah, tanpa harus menunggu forum/event tertentu untuk diselenggarakan. Namun definisi yang tepat menurut saya adalah a free megaphone. Mari kita lihat buktinya.

Megaphone apaan?

Megaphone adalah alat pengeras suara portable. Tinggal comot, angkat, nyalakan dan mulailah berbicara. Mirip dengan blog, atau Wikipedia dimana kita bisa menciptakan halaman baru untuk diisi sesuatu dan disiarkan ke orang lain. Kalau di Wikipedia, mungkin ada tim editor. Dan kalau di blog, kita mungkin masih harus mencari audiens. Politikana punya audiens, tapi tidak ada editor. Editor di-outsource-kan pada pihak ke tiga: the wisdom of crowd. Dan karena wisdom of crowd inilah mengapa Politikana jadi sebuah pengeras suara bebas pakai. Ada sebagian dari crowd yang duduk dalam kubu yang sama, membawa agenda yang sama, dan kemudian meng-”abuse” Politikana. Politikana tiba-tiba menjadi channel privat perpanjangan media komunikasi atau doktrinasi. Which is, mungkin bukan tujuan awal kenapa Politikana dibangun.

Good or bad, jadinya?

Personally, apa yang terjadi di Politikana sekarang ini bagus untuk membangun kemampuan diskusi. Lebih tepatnya,bagi saya, conflict management. Jika Anda terjun di sana, bersiap-siaplah untuk berbeda pendapat. Bersiaplah dengan konflik yang muncul. Dan dalam konteks pemasaran, konflik adalah salah satu bentuk kontroversi yang bisa jadi bahan bakar promosi dan daya tarik.

Namun sisi jeleknya adalah Politikana mungkin tidak akan bisa jadi konsumsi para newcomers dalam bidang politik. Mungkin orang yang jarang berbicara politik menjadi jengah karena begitu masuk dan membaca komentar akan langsung mendapatkan berbagai macam pandangan, dan mungkin konflik sengit yang tidak dicari. Newcomers biasanya senang dengan lingkungan yang “aman” dan “damai”, bukan war zone.

Sebenarnya kandungan Politikana ini, termasuk konfliknya, adalah sangat niche. Akan tetapi, di sisi lain, juga membuat kontenya jadi itu-itu saja. Yang dibahas, karena terdominasi crowd tertentu, menjadi lingkaran yang tidak ada ujung pangkal. It’s getting no where forward.

Apakah ini tujuan asli Politikana?

I really doubt it. Tujuan aslinya mungkin jadi crowd-supported portal sebagai media monitoring perjalanan politik di Indonesia. Tapi politik tampaknya memang mirip OS, ada yang tak ambil pusing dan ada juga yang bersikap fanatik. Dan ketika ternyata banyak fanatik yang justru masuk Politikana, lebih banyak energi yang terfokus ke sana.

What Politikana did wrong?

  • Too few direction. Pancingan diskusi terkontrol memang ada, seperti fitur wacana ya dan tidak yang ada di sidebarnya. Tapi dibanding dengan kontribusi bebas pembaca, arahan ini jadi sedikit tersisih. Kalau agak lebay, mungkin Politikana bisa disebut sebagai chaos/riot chamber 😀
  • Too many noise, too few signal. Yang ini sangat debatable, karena tergantung bagaimana seseorang menyikapi informasi yang ada di sana. Tapi karena too few direction tadi, akhirnya kontribusi-kontrbusi signal jadi kurang terpancing. Yang muncul adalah noise dari agenda-agenda penggunanya yang memanfaatkan Politikana sebagai megaphone.

Kesimpulan

Apapun yang terjadi dengan Politikana saat ini, ada hal menarik yang bisa kita lihat. Fenomena di mana Politikana menjadi megaphone 2.0 adalah sebuah tanda bahwa dunia politik ternyata sangat menginginkan media interaktif. Begitu semangatnya ingin terjun dalam keramaian two-way communication, walau ujung-ujungnya masih memakai corong satu arah.

Konflik adalah bagian normal dalam proses manapun. Konflik bisa mereda akibat kejenuhan sehingga no one feed the troll anymore. Ini adalah early stage dari Politikana yang akan menentukan ke mana sebaiknya Politikana melangkah.

Politikana can die anytime soon. Begitu agenda para penggunanya selesai, Politikana bisa saja sepi dari konflik karena tiba-tiba ditinggal begitu saja. Bahan bakar yang membuatnya jadi ramai pun hilang. Akhirnya diskusi jadi adem ayem, crowdnya berubah. Crowdnya jadi 4L, Loe Lagi Loe Lagi. Akhirnya jadi platform yang tidak punya daya tarik.

Bagaimana menurutmu? Cari masalah -1? Biasa saja +0? Inspiratif +1?

Teloor.com: Situs Komunitas Resep Etnis

Teloor.com: Situs Komunitas Resep Etnis

teloorintro

Teloor.com adalah situs komunitas maya yang menyuguhkan resep makanan dari berbagai entis. Nama situsnya sendiri diambil dari keberadaan teloor telor sebagai bahan dasar yang bisa ditemui di berbagai makanan, dan dari berbagai daerah dan negara. Salah satu misi Teloor adalah mempromosikan kebudayaan kuliner dari masing-masing negara, termasuk Indonesia, untuk lebih dikenal di mata internasional. Dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia, budaya kuliner Indonesia masih jarang terdengar di manca negara, terutama Amerika. Paling mentok ya cuman satay!

Situs yang satu ini dikelola oleh dua orang Indonesia yang berdomisili di Chicago, yang kebetulan juga teman gosip saya untuk topik teknologi (dan investasi). Pada saat diperkenalan pertama kali di bulan Oktober 2008, Teloor mendapatkan kritikan keras akan tampilannya yang kurang menunjukkan cita rasa situs kuliner. Oleh karena itu sang pengelola, Ramin Surya dan Barry Simorangkir, memutuskan untuk merombak ulang tampilan Teloor, sekaligus merapikan alur penggunaan situs ini.

teloorabovethefold

Setelah beberapa bulan diobrak-abrik, Teloor kini telah selesai dengan proyek facelift-nya, dan hasilnya ternyata jauh lebih bersahabat. Above the fold, Teloor telah sukses menampilkan identitasnya dengan menampilkan gambar-gambar makanan, seperti umumnya sebuah situs kuliner. Satu yang bisa ditambahkan adalah memberi label asal usul resep makanan tersebut. Hal ini diharapkan bisa lebih menonjolkan Teloor sebagai situs resep yang menonjolkan etnis, seperti deskripsi awalnya.

Mencari Resep

Sebagai pengguna, naluri pertama adalah menggunakan fitur pencarian dengan kata kunci. Karena ini situs makanan, wajar saja bila kata kunci yang digunakan adalah bahan dasar, seperti ayam, teloor, atau mungkin nama-nama makanan umum seperti ayam panggang, atau lasagna.

alphabet

Alternatif kedua adalah menulusuri (browse) resep-resep yang sudah ada. Sayangnya metode penelusurannya menggunakan alphabet, yang tidak terlalu efisien untuk pencarian resep makanan. Sekali lagi, bila Teloor memang berusaha menonjolkan etnis, mengapa tidak menggunakan negara asal sebagai filter pencarian. Mungkin bisa juga dikombinasikan dengan filter bahan dasar makanan. Saya yakin cara ini lebih gampang untuk menemukan ayam panggang khas Indonesia.

Cara penyajian lain adalah menampilkan daftar resep yang paling sering dilihat atau disimpan oleh pengguna lain. Hasil kolaborasi dari aktifitas pengguna bisa digunakan untuk menentukan popularitas resep, yang nantinya bisa disuguhkan untuk meningkatkan pageview, seperti interestingness di Flickr.

Persiapan Memasak

Mari kita masak Jamaican Jerk Chicken! Satu yang mengganggu adalah avatar sang chef, yang prioritasnya terkesan lebih tinggi dari detil resep yang ditampilkan. Sekilas dari paragraf pertama, sangkaan saya adalah penjelasan tentang si chef, dan ternyata salah.

save

Ternyata ayam Jamaica-nya enak lho, coba simpan ah! Oops! Usability problem! Bila JavaScript pop-up sudah memberi konfirmasi, bagaimana dengan pengguna yang berkunjung kembali dan tidak yakin apakah resep tersebut sudah disimpan atau belum. ‘Recipe has been saved‘ seharusnya cukup informatif untuk mengatasi masalah ini, dan konfirmasi JavaScript bisa dihilangkan.

Untuk peninggalan komentar dan penilaian, alangkah baiknya tidak menggunakan modal box yang kesannya tidak terlihat. Satu kolom komentar tidak makan tempat terlalu banyak dan lebih ‘mengundang’.

Sumbang Resep

Untuk situs� komunitas yang mengandalkan materi dari penggunanya (user-generated content), persentase kontribusi pengguna terbilang sangat kecil. Oleh karena itu halaman semacam penambah resep harus diusahakan untuk seoptimal mungkin.

form

Umumya para pengguna mengisi formulir dari atas ke bawah sesuai urutan. Tapi di bagian baris penambahan bahan dasar, formulir baru malah muncul di atas (setelah bahan ditambahkan). Selain itu informasi bahan belum disimpan di database, jadi tombol update tidak perlu ditampilkan.

Pernak Pernik

Secara keseluruhan Teloor terlihat bersih dengan navigasi yang mudah digunakan. Satu hal yang diterapkan adalah penggunaan foto-foto makanan sebagai ‘eye-candy‘ untuk meningkatkan pageview.

Sebagai komunitas maya, tantangan terberat adalah mengajak komunitas untuk berpartisipasi. Pengelola harus banyak bekerja keras mencari kuliner yang antusias dengan koleksi resep berjibun. Memberi semacam insentif bagi para chaef, baik dalam bentuk virtual (badges atau ranking), ataupun dalam bentuk nyata (hadiah), bisa banyak membantu pertumbuhan komunitas.

Di samping itu, juga perlu seorang evangelist yang mampu memimpin komunitas dengan memberi arahan, tip-tip memasak, atau informasi acara-acara kuliner. Format blog tampaknya cukup untuk memenuhi kepentingan ini.

Siap memasak?

—————————————————————————————-

Kontes Harian & Artikel Terbaik – Apa saja yang bisa diperbaiki dari Teloor.com?

Jangan lupa vote artikel ini di Lintas Berita yah!

Reebonz: Luxury You Can Afford

Reebonz: Luxury You Can Afford

reebonz

Disclaimer:
Saya bekerja di perusahaan yang menaungi Reebonz. However, yang saya tulis adalah pendapat personal dan tidak mewakili perspektif Reebonz atau perusahaan tempat saya bekerja.

Reebonz.com adalah situs komersial yang dibuat untuk menepis mitos bahwa kemewahan selalu identik dengan mahal. Yang membuatnya berbeda adalah bagaimana Reebonz mengeksekusi brand promise-nya. “Luxury you can afford” dieksekusi lewat penawaran diskon atas barang-barang branded dalam jumlah terbatas. Selain itu membership juga tidak terbuka. Pengunjung hanya bisa jadi member lewat waiting list atau invitation dari orang yang telah menjadi member.

Jadi bagaimana Anda memasarkan layanan yang harusnya jadi private service. Sekilas memang mirip dengan kasus koprol.com yang invitation only atau gmail yang dulu juga sempat dipasarkan dengan model invitation only. Tapi Reebonz beda, karena limited dan private adalah model bisnisnya. Reebonz tak mungkin tiba-tiba menerapkan open registration. Jadi bagaimana Anda membuat orang ingin mendaftar sedangkan pendaftaran sendiri dibatasi demi eksklusifitas?

Where are the Fish?

Fish where the fish are, tentunya Reebonz harus mencari orang-orang yang memang menginginkan solusi yang ditawarkan Reebonz untuk memecahkan masalahnya. Dimana orang-orang yang branded minded dan e-commerce literate ini? Adalah beruntung karena Reebonz dimulai di Singapura, di mana internet sudah jadi barang tak mewah bagi sebagian besar penduduknya. E-commerce tidak terhalang kekhawatiran fraud ataupun minimnya budaya online transaction.

Reebonz sejauh ini mengoptimalkan pemakaian Facebook dan Twitter untuk menginformasikan event-event sale yang sedang berlangsung di Reebonz dan membentuk brand awareness. Sumbangan membership terbesar datang dari Facebook Page. Tampaknya the fish memang berkerumun di Facebook karena Twitter masih jadi konsumsi para net-savvy. Atau ada yang kurang pas dengan umpan yang dipakai di Twitter.

Worth Spreading Ideas

Setelah membaca Social Media Marketing Kit, saya jadi tersadar. Kenapa buzz Reebonz seperti agak tersangkut, terutama di Twitter. Jika kita ingat lagi All Marketing Are Liars-nya Seth Godin, yang harus dan bisa disebar adalah ide/cerita yang luar biasa. Informasi event sales memang bisa jadi luar biasa, tapi tidak untuk setiap orang. Apalagi jika sales-nya limited. Sepertinya kita tidak ingin menyebarkan infonya sebelum kita bisa mendapatkan barang dari event tersebut. Reebonz perlu shift behaviour. Alih-alih hanya menyebar info sales yang kurang viral, Reebonz bisa menyebar ide atau cerita lain yang masih punya kaitan dengan bisnisnya. Ide fashion tentunya tidak dibatasi oleh info event sales, masih ada tips fashion atau info sales produk lain yang tidak berkompetisi dengan Reebonz.

Di bawah ini coba kita lihat seberapa besar buzz yang diciptakan Reebonz, dibandingkan dengan Ruelala, penyedia layanan serupa.

reebonz in social collider

[Reebonz]

ruelala in socialcollider

[Ruelala]

Jika kita rujuk keterangan di situs socialcollider.net, bentuk spiral diibaratkan suatu poin di kertas yang dilingkari berulang-ulang dengan bolpen demi menyatakan tingkat kepentingannya. Ruelala punya lebih banyak spiral dan garis horizontal (persebaran buzz) dalam satu minggu, dibandingkan dengan Reebonz. Ini berarti Ruelala lebih bisa membuat buzz dengan network yang dia miliki. Coba kita bandingkan keduanya dengan hasil socialcollider untuk trend “Swine Flu”.

swineflu in socialcollider

Use more channels

Blog Reebonz, alih-alih sekedar jadi info corporate, bisa di-makeover jadi blog (komunitas) tentang fashion. Reebonz bisa menggunakan jasa profesional writer untuk menulis artikel tentang fashion, yang lebih berpotensi untuk disimpan di del.icio.us, di-share di Facebook, atau mendapat thumbs up di StumbleUpon. Different fish need different diet menu, saya setuju dengan komentar Hendry Lee minggu lalu. Bahkan jika kita baca di Social Media Marketing Kit di atas, kita akan tahu bahwa StumbleUpon, Digg dan Reddit itu less net-savvy daripada Twitter. Alias lebih banyak ikan yang bisa ditemukan di sana.

The Era of Backlash

Pemasaran lewat social media punya resiko yang lebih tinggi daripada media konvensional. Sekali salah langkah, pasti akan dibantai habis. Yang dipertaruhkan adalah (personal) brand si marketer. Setiap orang atau komunitas di internet punya internal treshold, sebuah batas toleransi. Jika kita terlalu bersemangat untuk menyuapkan brand kita, batas ini bisa terlewati.

Tentunya kita ingin menghindari hal ini. Ada beberapa jalan yang bisa ditempuh. Yang pertama adalah penetapan target konversi yang dipastikan tidak akan melewati treshold backlash. Hal terakhir yang tidak kita inginkan adalah berpalingnya kastemer potensial akibat aksi marketing yang berlebihan. Yang kedua tentu saja adalah pemilihan pendekatan yang dipakai dalam marketing. Branding is not repetition, although it can work in a certain degree. Kita bisa bercuap tiap satu menit. Tapi tentunya akan menyebalkan jika kita mengatakan hal yang sama tiap saatnya. Akan lebih acceptable jika repetition-nya diganti dalam bentuk frekuensi interaksi.

Beware of The Cost

Jika Anda mengikuti saya di plurk (@neofreko), tentunya Anda menerima beberapa kali plurk tentang Reebonz. Menemukan menu diet yang tepat memang susah. Kali pertama saya sekedar meneruskan broadcast, no body responded. Kali kedua, saya coba masuk lewat thread yang menyebut keyword “fashion”. Less intrusive tapi sepertinya belum berhasil juga. Ada dua dugaan kenapa eksperimen saya ini belum berhasil. Pertama karena saya memang tidak punya authority sama sekali di bidang fashion. Untuk sekedar memberi info diskon mungkin bisa, tapi jika saya terus-terusan menyebut Reebonz saya rasa friends saya bakalan kesal juga. Yang kedua, pilihan pendekatan yang sama sekali salah. Mungkin masih ada celah untuk masuk walaupun tanpa authority kuat di bidang fashion. Mungkin bisa lewat authority yang saya punyai di bidang teknologi. Dalam tinjauan “shift behaviour”, pilihan pendekatan ini adalah langkah panjang (dan berputar). Tapi bisa dipastikan akan efektif (get the message through) tanpa mempertaruhkan personal brand yang sudah saya bangun.

Waktunya Kontes

Seberapa aktif Anda di social media? Adakah tujuan khusus yang ingin Anda capai? Seberapa jauh pencapaian Anda? Atau Anda sering terganggu karena aktivitas marketing di social media? Silahkan tulis pengalaman Anda dengan social media. Peluang masih terbuka lebar untuk memenangkan HP Mininote 1001!

Update

Untuk melihat-lihat dalam Reebonz, Anda bisa pakai http://www.reebonz.com/invite_code/navinot

Friendfeed: Mencari Sinyal Baru

Friendfeed: Mencari Sinyal Baru

Dengan adanya berbagai macam layanan Web 2.0, kita pun mengalami kerepotan dalam memonitor informasi dari berbagai macam sumber. Terkadang kita ingin memonitor foto apa saja yang di-share teman. Atau artikel-artikel terbaru di blognya. Status twitter terakhir, dan sebagainya. Di sinilah peran layanan semacam Friendfeed dibutuhkan.

Friendfeed adalah layanan agregasi untuk mengumpulkan berbagai macam informasi yang berasal dari orang tertentu yang tersebar di berbagai macam jaringan dan layanan web 2.0. Kita bisa menambahkan atau memonitor berbagai macam update kita yang kemudian juga bisa dimonitor oleh orang lain. Dengan satu kali berlangganan kita akan terupdate dengan semua User Generated Content (UGC) yang dihasilkan oleh seseorang.

Tidak berhenti di agregasi, Friendfeed juga menambahkan fitur komentar dimana kita bisa menambahkan komentar atas UGC seseorang. Di sinilah conversation terjadi. Percakapan ini mirip dengan komentar dalam blog hanya saja sekarang terjadi dalam Friendfeed. Dan karena banyak informasi teragregasi dalam satu tempat, kini orang menjadi lebih efektif dan efisien dalam berinteraksi. Penyaringan informasi bisa dilakukan di satu tempat tanpa harus mencari-cari informasi, dan membacanya satu-satu. Contentwalking (bentuk generik dari blogwalking) bisa dilakukan di satu tepat. Skimming informasi bisa lebih cepat dilakukan sehingga pengguna Friendfeed bisa fokus ke aktivitas berkomunikasi dengan pengguna yang lain.

Pengguna awal Friendfeed biasanya mengeluh karena Friendfeed hanya tool baru lain yang tidak begitu berguna. Ini biasanya terjadi karena tidak ada yang berkomentar di item-item yang disharenya di Friendfeed. Hal ini sebenarnya bisa dipecahkan dengan jalan melakukan langganan ke orang-orang yang tepat. Untuk tokoh Indonesia memang hampir tidak ada. Oleh karena itu kita bisa mencoba berlangganan ke tokoh/selebritis luar negeri seperti Robert Scoble, Dave Winer, Jeremiah Owyang dan lain-lain. Di tempat-tempat itu percakapan bisa kita temui dengan mudah. Kita bisa langsung turut bercakap atau sekedar membuat tempat-tempat tersebut sebagai teladan untuk memulai hal yang sama dengan kontent lokal.

Cara lain adalah dengan bergabung ke dalam Room. Room adalah semacam chatroom di mana orang-orang yang mempunyai minat sama berkumpul. Ada ruang Social Media Club, Apps (yang membahas aplikasi-aplikasi Web 2.0 baru), RWW: Future of Tech, dan lain-lain. Dalam room-room ini percakapan juga gampang ditemukan.

Okay, Anda sudah siap mencari sinyal baru? Anda bisa mulai berlangganan ke friendfeed saya, dan channel-channel lain dari sana. Room? Bagaimana kalau kita mulai dari room Sinyal Baru? Ada sumber-sumber lain yang bisa saya tambahkan di sana?

NavinoT Best of Indonesia 2008

NavinoT Best of Indonesia 2008

Tahun 2009 sudah sangat dekat dalam hitungan hari. Tidak ada salahnya bila kita berhenti sejenak dan mengamati para petualang online yang masing-masing berjuang dengan aplikasinya. Dunia online memang masih terbilang muda untuk pasar Indonesia, oleh karena itu harap dimaklumi dengan segala kekurangannya. Karena kita semua juga saling belajar sambil meraba dunia maya ini.

Read More Read More

Yahoo! Messenger yang Lebih Baik

Yahoo! Messenger yang Lebih Baik

Disclaimer: Tulisan ini dibuat berdasar Yahoo! Messenger (Y!M) versi 8.1.0.421.

Saat ini saya masih memakai Y!M di laptop. Kenapa tidak berpaling ke Pidgin, atau software multi IM account lain? Kita simpan cerita itu untuk lain hari saja ;).

Mari kita fokus dulu ke Yahoo Messenger. Kenapa saya berpikir Yahoo Messenger bisa perform lebih baik lagi? Berikut adalah daftar saya:

  • Yahoo! Messenger Insider. Plis deh, apa fungsi Insider ini bagi saya? Tidak ada info yang bisa menjadi bekal saya hari itu. Padahal, jika Insider bisa menampilkan informasi yang saya inginkan,saya tak akan men-disable-nya via Preference ;). Jika ada informasi relevan, semua yang melihatnya akan berhenti lebih lama untuk mengkonsumsi informasi yang tersedia. Ujungnya, iklan yang dipasang di sana bisa mendapatkan exposure sepantasnya.
  • Yahoo! Livewords. Sebenarnya fitur ini sungguh luar biasa. Anda lihat tanpa loupe di jendela percakapan Anda? Nah itu termasuk bagian dari Livewords.Y!M akan men-scan perckapan Anda dan memonitor kata-kata penting yang kemudian diberi link menuju penjelasannya. Misalnya kata-kata yang terdaftar dalam Stocks, Yahoo! picks, Weather, dll. Ya, mirip dengan layanan semantik dari OpenCalais. Tapi sayang kosakatanya terbatas, dan lagi-lagi bukan yang benar-benar saya inginkan. Untuk hal-hal umum, saya tak menginginkan Weather atau Stocks, yang saya inginkan adalah Wikipedia atau link ke blog search.

Jika kita lihat ke halaman features, kita bisa menemukan: “Yahoo! Updates: Get real-time updates in Yahoo! Messenger about what your friends are posting online, reviewing and generally buzzing about“. Menarik sekali, mungkin ini di-link-kan dengan Yahoo! Buzz. Sayang sekali saya belum bisa menemukan dimana letak fitur ini. Mungkin di versi terbaru Y!M.

Bagaimana dengan Anda? Apa yang anda sukai dan benci dari Y!M? Apa yang bisa dilakukan supaya Y!M bisa lebih baik lagi?

Harus baca Kompasiana ya?

Harus baca Kompasiana ya?

Unspun menulis bahwa Kompasiana adalah jawaban Kompas atas New Media. I would say, Kompasiana adalah pencurian start untuk menampakkan sisi manusiawi Kompas. Orang-orang enggan berinteraksi atau sekedar mendekat jika tidak kenal. Tak kenal maka tak sayang, Kompasiana pun berusaha mengenalkan (“jerohan”) Kompas kepada khalayak ramai.

Kompasiana adalah usaha membangun trust. Trust yang tidak sekedar percaya pada merek kompas tapi lebih intimate, lebih dekat dan “mengikat”. Kompasiana ini mengalamati sisi lain Kompas yang masih “terbuka”. Sisi lain dari mengejar kualitas dan keakuratan berita. Kompasiana menfasilitasi interaksi langsung setiap saat, tanpa penghalang, dengan orang-orang di belakang Kompas. Kini semua orang-orang akan punya kesempatan menjadi lebih tahu siapa yang menulis berita yang mereka baca. Sekarang mereka punya satu kriteria tambahan untuk mengukur kredibilitas koran yang dibaca. Jika sudah percaya dan mengakui expertise serta pengalaman penulis di Kompasiana, berarti kepercayaan terhadap berita di Korannya pun tidak akan jadi banyak pertanyaan.

Jadi apakah saya harus baca?
Jika ini adalah usaha Kompas dalam menggalang trust di seputar brand-nya apakah jika kita membaca berarti kita telah masuk “perangkap”? Usaha marketing tak selalu sekedar buang-buang duit tanpa memberikan manfaat. Tulisan-tulisan dalam Kompasiana rasanya sama dengan Kompas. Jadi seperti membaca koran tapi kita bisa langsung corat-coret alias memberi komentar. Tentu saja expertise yang dari koran juga ikut bertransisi ke blog. Jika Anda menikmati membaca Kompas, membaca Kompasiana tak akan membuang waktu Anda. Tentu saja, minus iklan satu halaman, dan topik olahraga atau gosip. Memang bukan portal, dan tidak semua hal harus dijawab dengan portal.

Bonus:
This one is interesting. Dahulu, back to 2005, Kompas sempat tidak akur dengan dunia online (hint: tendangan milis kompas). Sepertinya semua orang memang sedang belajar saat itu. Kini, langkah Kompas meluncurkan Kompasiana sepertinya menjadi tanda bahwa Kompas kini telah meng-embrace New Media. Menjadi lebih bijaksana dan berbesar hati untuk mau membuka diri.

Jangan salah, membuka diri itu susah. Apalagi bagi yang tidak nyaman dengan kritik. Apalagi kritik yang pedas tanpa basa-basi. Apalagi, untuk level korporat. Lebih kompleks lagi isunya.

So, akan jadi seperti apa Kompasiana ini tahun depan? Sekarat, makin solid atau jadi sub portal? Bagaimana menurut Anda? Harus dibawa kemana Kompasiana ini?