Browsed by
Category: StartUp

That one idea

That one idea

Apakah masih ada yang galau dengan startup? Serasa memiliki urusan yang belum selesai karena belum bikin startup? Bukan untuk jadi biliuner tapi sekedar menghilangkan hal yang membuat tidur tak nyaman. Tak bisa disalahkan. Startup itu ibarat teka-teki. Seringkali membuat kita berpikir: aku juga bisa memecahkannya.

One thing, at its best.

Sialnya, ide tak kunjung datang. Atau banyak ide datang tapi tak ada yang tampak cespleng. Semua ide yang datang hanya memenuhi kriteria “bisa dibikin”, tapi gagal menjawab “apa gunanya”.

Mungkin karena kita berpikir terlalu muluk. Karena ego dan gengsi, malu jika cuma keluar dengan aplikasi yang minim jargon teknologi atau fitur. Yang kita belum sadar, tren “there’s an app for that” sudah mulai menjangkiti dunia layanan web.

Mantranya masih sama: do it better (more effective and efficient), namun kali ini skalanya bisa satu fitur saja. Dan pengguna pun tak akan ragu untuk kembali ke layanan yang sama.

Ingat, semua aktivitas kita hanya berupa perulangan dari deretan aktivitas kecil yang setara dengan satu fitur. Urutan aktivitas tiap orang akan berbeda. Jadi tak usah sok pintar dengan menawarkan sederet aktivitas dalam satu layanan — kecuali deretan itu sudah jadi standar umum.

Create new value.

Ide di belakang instacanvas dan printerous sejalan dengan yang saya bicarakan barusan. Dengan tambahan penting: keberadaan layanan tersebut memberikan nilai baru pada hal yang sebelumnya tak terlalu bernilai.

Social, itu nilai yang diusung sejak awal web 2.0. Kini makna baru yang dikejar adalah personal — what’s in it for me. Narsis sudah dekat dengan tanggal kadaluarsa.

Make is easy, make it dirt cheap.

Karena faktor inilah Moo (semacam kartunama.net) jadi populer — membuat kartunama jadi terlalu mudah dan terlalu murah (well, ongkos kirim selalu mengganjal sih). Saya merasakan “getar” yang sama saat mencoba printerous (noo, ini bukan iklan — hanya contoh). Selain sejalan faktor “Creating new value” dengan mengguna ulang gambar instagram, proses mendaftar sampai checkout pun sangat mudah. Dan harganya (cukup) murah — sementara ongkos kirim masih digratiskan. Alur pemakaian layanan sangat minimalis dan tak menyisakan ruang bagi pengguna untuk mengeluh. Which is awesome — no unnecessary clutter.

It has to pay the bill, bro.

Bikin startup sekedar untuk pembuktian diri atau menjawab penasaran memang tak salah. Tapi tak inginkah kita menjawab teka-teki terbesarnya: “Apakah startup bisa membayar tagihanmu?”? Tidak harus tagihan, tapi something to put your mind and heart at ease. Yang bikin lo merasakan damai. Sometimes, most of the time, it’s all about bills.

Taruh poin ini di daftar paling atas. Jadikan pondasi, lalu bangun infrastruktur  teknologi dan operasi di sekitarnya. Jangan dibalik unless you can afford it.

 

Health Startup: MeetDoctor

Health Startup: MeetDoctor

Dunia kesehatan jarang punya start up. Pertama, mungkin karena pelakunya agak jauh dari hiruk pikuk IT atau bisnis IT. Kedua, orang non IT belum terpikir bagaimana mencari duit dari dokter-dokter yang sudah punya pendapatan tersendiri. Bukannya nambah pendapatan malah cuma nambah kerjaan.

Di luar negeri sih sebenarnya banyak startup di bidang kesehatan. Termasuk salah satunya adalah 23andme.com milik Anne Wojckiki (istri Sergey Brin). 23andme menyediakan layanan analisa DNA, monthly. Bagi saya, ini sudah berskala Google. Very serious. Yang lain masih banyak, seperti yang bisa dilihat di gambar di atas.

Di dalam negeri, saya baru menemukan beberapa saja misalnya: klikdokter.com, tanyadokter.com dan yang baru rilis beberapa waktu lalu yakni MeetDoctor.com. Dari model bisnisnya, sekilas semua masih berbentuk portal dengan tambahan rubrik konsultasi. Tidak ada yang salah, cuma apa memang tidak ada bentuk lain lagi?

Privacy issue

Mungkin membuat startup di bidang kesehatan ini serba beresiko. Setidaknya ada masalah privasi yang harus dilindungi. Sebelum dilindungi, prioritas pertama harusnya diedukasi. Dengan Facebook dan Twitter saja, banyak orang yang tidak paham bahwa semua yang mereka tulis akan terbaca oleh seluruh warga dunia. Beragam fakta dan peristiwa menjadi konsumsi publik. Isu kesehatan tentunya punya dampak tersendiri jika disebar bebas. Mungkin bisa membahayakan kelangsungan hidup seseorang secara tidak langsung. Pekerjaan bisa terancam, pertemanan bisa terganggu. Bukan karena kesehatan itu sendiri namun akibat tak langsung yang terjadi akibat persepsi orang lain yang tak ada relasinya dengan profesionalitas. Some information best kept secret (except with your doctor or psychiatrist, maybe)

Media offline tampaknya sudah paham perihal privasi ini. Setidaknya terbukti dari penyamaran nama dalam rubrik konsultasi. Meetdoctor sendiri mendukung pendaftaran lewat Facebook. Secara teknis akan meningkatkan user-friendliness, tapi di sisi lain jadi pengancam isu privasi. Dilematis karena tanpa nama asli, opini seseorang pun bisa terdistorsi.

Whom to trust

Kenapa user dengan nama “Bocah Ingusan” menjawab pertanyaan konsultasi saya? Apakah jawabannya valid? My life is on the line here. Buat anak kok coba-coba? Yang bener nih bro?. Beberapa kalimat barusan adalah gambaran komentar saudara yang saya minta melihat meetdoctor.com

User generated content, crowdsourcing, bukannya tak beresiko. Untuk memanen hasilnya diperlukan terpenuhinya suatu kuota. Dan ada formula yang harus dipakai untuk membuat kesimpulan, walau berbentuk sekedar rumus rata-rata. Jelas, untuk diskusi atau konsultasi tentang kesehatan juga memerlukan rumus tersendiri. Kita tak langsung menganggap jawaban pertama sebagai jawaban yang benar. Kita harus melihat pengalaman lain dan akhirnya berusaha menarik kesimpulan dengan menambahkan pengalaman kita sendiri. You see, it’s not easy.

Tanpa ada orang yang dipercaya, dikenal dan bisa dibuktikan keahliannya secara sistematis, maka meetdoctor dan juga rubrik konsultasi lain akan berhadapan dengan masalah trust.

What’s in it for the doctors?

Lalu dokternya dapat apa? Bukan hal yang bakal jadi perhatian pemakainya, tapi bakal menentukan kelangsungan hidup startup karena dokter adalah kata kunci dan produk utama di meetdoctor. Mungkin ada fee untuk planned appointment, tapi entah apakah sepadan dengan pendapatan lewat praktik offline 😀

Mungkin pengalaman offline/online ini bisa dibuat seamless. Konsultasi offline bisa dibawa online? Dan konsultasi online bisa dibawa offline? I wonder where the price will settle.

Personalization

Berita saja harus dipersonalisasi untuk menambahkan value. Apalagi dengan situs yang mengambil informasi dari interaksi penggunanya. Meetdoctor is clearly need to work more on it. Saat ini baru tersedia Activity yang mendaftar pertanyaan mana yang mendapatkan interaksi (dijawab oleh dokter atau pengguna lain). Mungkin akan lebih berguna jika diimplementasikan seperti conversation point. Saya cukup yakin tujuan awalnya adalah menvisualisasikan tanya jawab.

Situs-situs jaman dulu biasanya suka menanyakan hobi kita. Seperti hal ini bisa diadopsi oleh meetdoctor untuk memberikan news stream ke dashboard pengguna. Alih-alih mengarahkan user untuk join grup tertentu. Masalahnya bukan soal merepotkan pengguna, tapi informasi yang relevan belum tentu masuk dalam grup yang dikira. Informasi relevan bisa tersebar, mungkin dalam topik OOT sebuah thread konsultasi. Bagaimana pengguna bisa tahu informasi yang terselip semacam ini? Jawabannya satu: semantik.

So?

Cobalah berpartisipasi. Karena gratis, there’s nothing to lose untuk mencari informasi tentang topik kesehatan. Mari kita pantau, akan berevolusi seperti apa meetdoctor.com ini. Semakin niche atau menjadi portal? Karena founder-nya adalah seorang dokter dan ngeh dengan dunia IT, potensi yang terpendam masih besar.

PS:

Satu hal yang mengganggu saya. Ada dropdown kategori di form konsultasi. How the hell should I know which category my question belongs? Akhirnya, banyak tuh yang masuk kategori ADHD :D. My advice: Scrap it! Let the machine do this dirty work.

Minimum Viable Product

Minimum Viable Product


Dari judul mestinya sudah terbayang. Tentang produk, yang minimum. Minimum buat siapa?

Yang punya startup, yang sudah jadi founder atau yang bakal jadi founder, tentunya pernah bertanya kapan produk bisa dirilis. Apakah menganut mantra open source yakni release early release often. Atau memakai perasaan dan tingkat percaya diri. Atau menunggu sampai produk benar-benar matang tanpa ada 1 pixel salah.

Tentunya yang dikehendai adalah produk yang tidak memalukan, cukup berguna, dan tentunya bisa segera dirilis karena tak ingin kehilangan momentum. Kalau bisa sih produk yang langsung sempurna seperti konsep yang sudah kita tulis di kertas. Yang terakhir ini adalah keinginan berbahaya.

Minimum Viable Product is that version of a new product which allows a team to collect the maximum amount of validated learning about customers with the least effort. — Eric Ries, 2009

Yang kita cari seharusnya adalah MVP. Produk yang bisa dipakai untuk mempelajari konsumen yang kita sasar, dengan syarat menghabiskan waktu pengembangan minimal. Contoh yang paling gampang dicerna misalnya saat Bill Gates menelpon produsen Altair bahwa dia sudah membuat program BASIC yang bisa berjalan di komputer Altair. Bill Gates akhirnya mendapatkan pengetahuan (insight) tentang produk seperti apa yang bisa dia jual. — padahal Bill Gates dan Paul Allen belum membuat BASIC. Ide program BASIC ini bisa disebut MVP. It doesn’t even need to be a real product. Tentunya resiko mengikuti model MVP yang seperti jualan asap ini.

Berikut ini adalah tiga hal yang bisa dipakai untuk mengidentifikasi MVP:

  1. Avoid building products that nobody wants
  2. Maximize the learning per dollar spent
  3. Get the facts before it’s too late

Cukup jelas kan? Jadi saat produk kamu rilis, pastikan kamu bisa menggunakannya untuk validated learning. Don’t let it fail, if happens, for nothing.

Untuk belajar lebih banyak tentang MVP dan konsep Lean Startup yang menaunginya, silakan tonton video di bawah ini. Jangan lupa beli bukunya dan atau belajar online lewat Veri.com. Trust me, Veri ini keren buat belajar.

PS:
Selamat Hari Bloger!

BisTip

BisTip

Berapa kali Anda memesan oleh-oleh, atau makan siang pada teman? Pernahkah Anda ingin memesan barang pada teman Anda yang sedang jalan-jalan keluar negeri? Selain gantungan kunci pastinya.

Salah satu masalah yang sering kita hadapi adalah distribusi. Mendekatkan yang jauh. Dalam konteks personal berupa titip menitip, dalam skala komersial menjadi bisnis ekspor impor. Kita sudah pernah membahas wujud bisnis ini dalam bentuk vsHub dan Flutterscape. Dua-duanya punya kemiripan dalam hal mendekatkan yang jauh. Memungkinkan kita menemukan dan membeli barang-barang yang sebelumnya susah kita beli — mostly — karena halangan non ekonomi.

Here comes BisTip

BisTip.com, Bisnis Titipan or Bisa Titip? Yang mana pun itu, website[1] ini berusaha menjadi pelumas/enabler bagi aktivitas titip menitip. Sebelumnya kita hanya bisa menitip pada saudara atau teman dari teman yang sudah terpercaya. Kini kita bisa menitip pada orang yang sama sekali belum kita kenal.

Ada beberapa permasalahan dalam titip menitip yang hendak dihilangkan oleh BisTip. Yang pertama soal siapa yang bisa dititipi. Tak perlu lagi menunggu apalagi memprovokasi teman dan saudara supaya segera jalan-jalan ke luar negeri. Lewat BisTip kita bisa mengetahui rute mana yang akan dilewati para BisTiper. Singapur – Jakarta, London – Surabaya, dan lain-lain.

Yang kedua, soal trust. Masalah yang umum dari sebuah layanan. Masalah trust mencakup banyak hal. Namun BisTip rupanya ingin keep things simple. BisTip saat ini hanya punya fitur rating buat Bistiper, mirip dengan rating merchant di marketplace online. Tidak ada escrow account atau sarana penjamin apapun di sini. Untuk menitip barang bernilai ekonomis kecil memang tak masalah, tapi tidak sebaliknya. Well, bagi BisTip, itu masih harus menjadi urusan pribadi antara penitip dan Bistiper. BisTip hanya menyarankan penggunaan Rekening Bersama yang sudah ada dan dipercaya banyak orang di pelbagai forum.

The Problems

Selain soal trust yang tak sepenuhnya teralamati, walau FJB juga bisa jalan tanpa RekBer, BisTip juga punya masalah umum yang diidap banyak layanan yang baru saja launch: users. Upah titip menitip tentunya jadi masalah tersendiri. BisTip harus berfokus ke pencatatan keberhasilan titip menitip supaya suplai dan permintaan bisa diteruskan dengan mandiri oleh penggunanya. Seperti halnya saat awal membuat blog, kita harus rajin menjemput pembaca ke blog-blog mereka.

Dengan menempelkan layanan ini ke tempat yang tepat, misal: FJB, gadtorade (Gadget to Trade) dan komunitas-komunitas yang sudah mandiri, BisTip bisa jadi tool menarik untuk digunakan anggota komunitas tersebut. Fish where the fishes are.

The Exit Alternatives

Kalau kita perhatikan BisTip, adalah dua hal inti yang akan menjadi basis datanya. Pertama adalah rute perjalanan dan kedua adalah permintaan dan penawaran. Tergantung mana yang akan terkumpul lebih banyak dan peluang bisnis di masa depan, satu dari dua komponen ini bisa dibuang dan mentransformasi BisTip menjadi usaha yang lebih solid. Seperti halnya Kayak.com, dari sekedar pembanding harga 20 situs travel kini mengakomodasi booking langsung dari situs Kayak.com[2][3]

Jadi di masa depan mungkin BisTip akan menjadi produk seperti Tripit atau Flutterscape. Neither are a bad future :). Layanan-layanan yang sederhana (modest) seperti ini bisa jadi the next Craiglist. Zero to Hero.

Jadi, ada yang mau titip-titip atau bermakelar ria? Go for it!

Footnotes

[1] Website, bukan startup. Debatable definition. Ask @ronaldwidha about this :D. Okay, here’s the article: http://bmull.com/out-of-respect-for-people-actually-launching
[2] “if you can’t beat them, aggregate them” #startuplokal. Then beat them on their own game.
[3] Kayak bekerjasama dengan Travelocity untuk fitur Direct Booking http://techcrunch.com/2011/03/14/kayak-partners-with-travelocity-to-take-direct-hotel-reservations/ . Dalam hal ini Kayak tidak membuang core datanya tapi memposisikan ulang menjadi unbeatable addon dari bisnis model baru: direct booking.

Your Next Startup Ideas

Your Next Startup Ideas


Dengan gegap gempita startup di ranah dalam negeri, di antara kita mungkin sudah kehabisan ide tentang produk yang ingin dibangun. Mungkin karena idenya belum matang atau sudah didahului orang. Bagi yang sedang mencari ide produk baru, dibawah ini saya coba identifikasi beberapa cara mendapatkannya.

Good artist copy, great artist steal

Cara termudah untuk mendapatkan ide produk adalah dengan menyalin apa yang sudah ada. Tak perlu susah, lihat saja produk populer yang Anda suka lalu bangun ulang di dalam negeri. Jika beruntung, Anda akan bisa memanfaatkan sentimen lokal termasuk rasa nasionalisme kita yang terkenal itu untuk membuat produk tersebut lebih bisa diterima konsumen lokal daripada produk orisinilnya yang berasal dari luar negeri. Jika tidak maka Anda harus berusaha agak keras untuk mengadaptasi produk tersebut supaya lebih bisa mengakomodasi kebutuhan konsumen lokal secara lebih spesifik.

Urbanesia, Koprol dan Gantibaju masuk dalam kategori ini.

Inverts control

Pola ini pernah saya singgung sebelumnya. Web 2.0 adalah tentang pembalikan kontrol. Membuat konsumen berkuasa atas apa yang diinginkannya. Apa yang ingin dilihat, kapan dan di mana dilihat. Termasuk di dalamnya mengkomoditaskan proses pembuatan konten (democrating content creation). User loves to be in control. That’s how Youtube did it. Youtube inverted television. Digg inverted newspaper.

Cari proses atau produk yang masih satu arah. Balik prosesnya dan jadikan produk baru.

Revamps in bleeding edge

Beberapa web mail client sucks. Beberapa karena kurang berguna akibat ketinggalan jaman dibanding gaya kerja kita. Produk-produk semacam ini harus dikenalkan dengan teknologi baru. Ada banyak teknologi baru yang bisa membuat produk dinosaurus tersebut lebih cocok dengan ritme produktivitas kita. Kirim newsletter tak harus bingung dengan mail merge, ada Mailchimp.

Apa lagi yang bisa dibuat lebih produktif dengan adanya offline storage, desktop notification, web workers, etc dalam HTML 5?

Embrace and expand

Siapa bilang checkin itu harus terkait lokasi? Semestinya check-in juga bisa untuk menandai proses menonton film, membaca buku, bermain game, dll. Kalau tak bisa mengalahkan Foursquare dan Gowalla di LBS, kembangkan konsep check-in ke bidang lain. Getglue dan gomiso mencoba hal ini dengan produk check-in ke film, buku, dll.

Ingin lebih jauh lagi? Jangan berhenti di check-in. check-in bisa mengumpulkan orang dalam satu topic dan waktu, what’s next? Ini peluang di mana produk Anda bisa masuk.

Start with what itch you most

Ini tips abadi yang bisa Anda dapatkan dari founder manapun. Jika kita memulai dari apa yang kita butuhkan, ada kemungkinan besar produk tersebut akan bisa melihat sinar matahari. Akan ada passion yangmengawal, dan ada kebutuhan yang menentukan arah produk. Self fulfilling, tak perlu tergantung pihak manapun.

Coba sebut produk lokal dan tentukan masuk di mana? Menarik juga kalau kita bisa dilihat statistiknya.

SparxUp 2010: Small is The New Big

SparxUp 2010: Small is The New Big

Kalau Anda baru mendengar tagline ini dari SparxUp 2010, you’ve missed the whole world. Small is the new big adalah judul buku karangan Seth Godin. Bagi saya, buku ini memperlihatkan bahwa marketing itu tak seperti yang saya lihat dan saya benci. Kalau Anda benci dengan marketing dan praktiknya yang mengganggu Anda, go grab this book.

What is it?

So, what’s up with SparxUp? SparxUp, bagi yang belum dengar buzz-nya, adalah event yang didedikasikan bagi gerakan startup di Indonesia yang saat ini sedang bergelegak. Jika sebelumnya para digital creative kita harus jauh-jauh pergi ke Singapur untuk pitching demi sorotan di panggung dan mendapatkan investasi, kini mereka bisa menghemat biaya dan berpartisipasi di event lokal ini.

Sejumlah pemain lokal dengan kriteria tertentu (yang jelas bukan established company dan revenue masih tergolong kecil) mendaftarkan diri ke event ini dan berharap bisa lolos untuk pitching di hadapan dewan juri. Pemenangnya tentu akan mendapatkan “segala”-nya. Sorotan media dan kartu nama dari para investor lokal pasti berdatangan.

How is it going?

Jumat malam, Nov 5th 2010, para finalis dari pelbagai kategori berusaha memikat juri dengan pitch terbaiknya. Hanya 5 menit presentasi dan ditambah dengan 3 menit untuk sesi tanya jawab dengan juri. Tiap kategori akan punya juri yang berbeda. Which is good karena otoritas di tiap bidangnya akan terjaga namun bisa berdampak kurang baik juga bagi kontestan karena mereka semua akan dinilai dengan standar yang berbeda-beda.

Ada 24 finalist yang bersaing di level ini untuk memperebutkan Best Raising Star dan Most Promising Startup. Sepertinya pemenang dari tiap kategori akan melakukan pitch final atau justru langsung diambil pemenangnya berdasar nilai lintas kategori.

The Value

Bagi startup yang baru saja dieksekusi atau malah baru digodok, tentunya sorotan yang dihasilkan event ini bisa membantu mempertemukan dengan calon investor atau pengguna baru. Ide cemerlang yang sekarang masih tampak usang bisa dideteksi oleh investor dan dalam beberapa bulan tiba-tiba bisa menyalip yang sebelumnya mulai duluan. You’ll never know.

Bagi startup yang sudah established, semacam gantibaju, event semacam ini akan membuka jalan ke partner-partner baru. Tidak akan jadi dominasi pemain online tapi akan mulai “turun” ke level offline. Local businesses pasti bisa mencium manfaat startup clothing-line ini. And I hope their platform is ready for this.

Few leaks

Tak seru kalau event ini tidak diwarnai gosip dan info terkini. Berikut ini beberapa catatan menarik dari SparxUp pitch event.:

Kaskus Commerce Platform. Sewaktu krazymarket naik panggung, @adarwis tak sengaja membocorkan keinginan Kaskus untuk bergerak lebih jauh dari sekedar Kaspay. Kaskus juga ingin membangung e-commerce platformnya sendiri. Cukup obvious karena keberadaan FJB bukan cuma soal rekening bersama, tapi justru interaksi di dalamnya. Namun cukup mengagetkan karena sudah dibocorkan saat ini. Saya berharap mereka sudah 90% ready jika tak ingin ditinggal pemain lain yang pastinya segera ngebut di tikungan.

Parampaa itu bikin frustrasi. Daniel Armanto dati Koprol bilang di level 2 Parampaa dia tahu bahwa dia tak bakal bisa menang. LOL. Well, Parampaa sepertinya game yang sangat bagus untuk melatih kita berpikir di luar kerangka standar. Saat ini tidak ada target untuk membuat revenue, hanya berorientasi membuat orang tersenyum saja. But obviously, teka-teki parampaa yang membingungkan itu pasti bisa jadi layanan premium. Soal-soal khusus, dengan kerjasama pihak akademis — yang pastinya bakal tertarik — bisa dijadikan materi uji psikologis atau training. Pastinya ini perlu pengaturan pemilihan dan pengurutan teka-teka which is exactly why it can go commercial. *culek @masova*

Next two things from Gantibaju. Job Marketplace dan Social Marketplace. Job marketplace ini sudah jelas fungsinya bagi para designer yang nampang di gantibaju. Sedang social marketplace, ini konsepnya belum sepenuhnya dijabarkan. Dalam pitch dikatakan bahwa kasus penggunaannya adalah untuk menjual karya yang tak lolos penjurian (tak tercetak oleh gantibaju). Interesting to see, kira-kira kasus jualan desainnya seperti apa variasinya.

Hmm, apa catatan menarikmu?

Copy Paste, Early 2011

Copy Paste, Early 2011

Tampaknya Microsoft belajar dari Apple dan Google. Copy Paste di Windows Phone 7 pun ditunda sampai awal 2011. Coba kita tebak kenapa fitur copy paste ini ditunda, tidak oleh satu tapi tiga perusahaan raksasa.

We Can Wait

Memang awalnya ada yang marah-marah, namun entah kenapa ternyata kita masih bisa hidup dengan ponsel pintar yang tak bisa melakukan copy paste. Somehow, kita rela beradaptasi dengan kekurangan dan lebih memerhatikan sisi unggul lain yang bisa kita eksploitasi. We Rule gak butuh copy paste bau!

Sama seperti multitasking. We can wait. Masih ada baterai yang lebih awet dan aplikasi yang jalan dengan cepat.

Getting The Platform Delivered. Fast!

Perang yang terjadi saat ini adalah perang platform dan aplikasi karena hardware sendiri sudah memasuki titik jenuh. Kecuali GPU mau masuk ke kancah mobile. Dengan dua raksasa telah mengeluarkan platform smartphone (saya tidak hitung Nokia dan Blackberry), Microsoft tentunya tak mau kehilangan momentum. Apalagi Facebook juga dirumorkan akan membuat ponsel pintar juga.

Prioritas utama tentunya menghantarkan platform tersebut secepatnya menemui sinar matahari. Semakin cepat SDK dan platform tersebut dihantarkan ke pasar semakin terbuka pula kesempatan bagi developer untuk meramaikan ekosistem dan pada ujungnya menarik konsumen untuk membeli Windows Phone 7. Application, application, application. Developer, developer, developer!

Copy Paste is Obsolete (soon)

Paling tidak di ponsel. Dari dulu kita tidak punya yang namanya copy paste di ponsel (yang bukan smartphone). Tapi kini karena smartphone sudah jadi PDA yang sebenar-benarnya Personal Digital Assistant kita jadi relatif memerlukan fitur ini. Blame the apps, andai ponsel tak sepintar sekarang, copy paste mungkin tak akan jadi isu internasional.

Namun, ada gejala bahwa copy paste akan jadi barang kuno. Di GMail kita sudah bisa melihat integrasi preview Youtube, Map dan Calendar. Tiga fitur tersebut biasanya kita capai outputnya secara manual dengan copy paste ke kotak URL. Tak perlu berkeringat lagi kini semantic processing sudah jauh lebih murah, copy paste pun tak diperlukan karena aplikasi sudah mengenali makna suatu teks. Copy paste direduksi menjadi kegiatan satu klik untuk mengarahkan substansi terkait ke pemroses yang lain. Kalender, Facebook, Twitter, Bookmark, you name it.

So, adakah fitur yang tengah menunda peluncuran produk Anda?
Monetizing Relevancy

Monetizing Relevancy

Artikel TheNextWeb tentang revenue dan relevansi benar-benar insightful. Banyak di antara kita yang cemas karena kesulitan menguangkan potensi yang kita punya (monetisasi). Meskipin kecemasan ini ada benarnya namun ada hal lain yang juga tak kalah penting: relevansi.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, early adopters bukanlah sebuah segmen pasar yang layak digarap. Perkaranya, early adopters adalah “banci daftar”. Semua hal baru akan dicoba dan gampang tega meninggalkan layanan lama yang tak lagi tampak keren. Dalam semalam, Friendster kembali jadi lahan gersang karena warganya bedol desa ke Facebook. Early adopters juga menyebalkan karena saat pindah tempat akan mengajak semua temannya untuk turut berpindah pula.

Relevan Terhadap Pelanggan

Dari ilustrasi singkat di atas kita bisa melihat bahwa relevansi adalah kunci utama dalam memikat pengguna. Keberadaan pengguna kemudian dieksploitasi untuk kepentingan finansial. Relevansi terhadap pengguna dicapai dan dipertahankan dengan dua hal. Pertama adalah penyelesaian pain point. Kedua adalah lewat gameplay. Pain Point adalah inti dari layanan kita. Pain point adalah relasi langsung antara produk dengan kebutuhan pelanggan. Sementara itu, gameplay membuat layanan kita selalu hip setiap saat. Tetap berguna dan tidak membosankan untuk dipakai.

Relevan Terhadap Advertiser (atau Sumber Dana Lain)

Selain relevan terhadap pelanggan, layanan kita tentunya juga harus relevan terhadap advertiser dan sumber pendanaan lain. Kalau terus-menerus mengikuti kata pelanggan, bisa-bisa kita terjebak kebangkrutan. Pelanggan memang raja, tapi harus diingat bahwa orientasi pelanggan dan pemilik bisnis itu ujungnya berbeda. Pemilik bisnis butuh profit, pelanggan butuh kepuasan. Bisa berjalan sejajar namun tak pernah berada di satu titik.

Menjaga relevansi dengan sumber pendanaan membuat layanan kita tetap bisa bertahan. Beberapa tipe konsumen mungkin tidak akan terpuaskan, tapi sebagian besar lagi tetap akan memakai layanan kita. Di titik ini kita harus memilih konsumen mana yang akan kita puaskan dan mana yang terpaksa kita abaikan. Relevansi terhadap sumber pendanaan harus selaras dengan relevansi dengan pelanggan. Jangan sampai segmen pelanggan tidak kompatibel dengan sumber pendanaan.

Relevant Terhadap Diri Sendiri

Yang ini lebih berhubungan dengan passion, namun tak kalah penting dengan dua relevansi di atas. Komitmen dan passion adalah hal penting dalam menjalankan usaha. Komitmen bisa dipaksakan, namun passion tak akan muncul jika produk yang kita buat tak relevan bagi diri kita sendiri. Relevansi di sini tidak dinilai dari pain point kita sebagai pelanggan namun lebih ditinjau dari nilai produk yang kita anggap penting.

Produk dan startupmu masih relevan?

All Works No Play Makes Jack A Dumb Boy

All Works No Play Makes Jack A Dumb Boy

Kali pertama yang dicari-cari orang dari sebuah layanan tentu saja fitur. Orang datang karena dia punya masalah dan pain point yang hendak diselesaikan. Semua layanan akan dipilah dan dinilai kecocokannya berdasar kelengkapan fitur, antarmuka (dan mungkin harga). Akhirnya seseorang pun bisa settle dengan sebuah layanan.

Lalu  seseorang tersebut menjadi bosan. All works no play makes Jack a dumb boy. Kita ingin yang kita kerjakan juga memberikan kesenangan. Kita bosan jika berhadapan dengan satu hal terus menerus tanpa ada perubahan.

Mari kita lihat beberapa situs besar dan apa gameplay-nya

Facebook

Apakah Anda masih memakai Facebook? Facebook bukanlah layanan yang menyenangkan jika hanya berwujud buku tahunan online. Tambahkan status dan kemampuan untuk berkomentar. Berbagai foto dan tag teman-teman kita. Like sebuah foto atau notes, dan terima like dari teman-teman kita. Itulah game yang ada di Facebook (terlepas dari game yang ada di apps). Tanpa hal-hal tersebut kita mungkin tak pernah menengok Facebook kembali.

Twitter

Twitter hampir tak punya game element. Hanya ada follower, following serta mention. Karena itu sebenarnya menggunakan Twitter itu cukup susah karena alternatif aktivitasnya sangat sedikit. Kita harus jadi insightful, lucu atau persona-persona lain supaya mendapat mention dan di-follow.

Gameplay di Twitter justru disediakan oleh pihak ketiga. Layanan semacam Klout, PeerIndex menghitung score pencapaian kita dalam dunia Twitter. Melihat angka tersebut seorang pengguna bisa melihat posisi-nya di antara peer dalam kelompoknya. Angka ini memberikan dorongan bagi pengguna untuk mengeluarkan twit-twit dengan ‘aturan’ tertentu dalam rangka mencapai score yang diinginkan. Mau jadi apa? Punya authority di topik mana?

GetGlue

Bagi produk yang berkaitan dengan semantik seperti GetGlue, gameplay punya peranan yang teramat penting. Nilai produk semacam ini tidak bisa langsung muncul. Ada fase pembelajaran yang harus dijalani supaya produk tersebut bisa memahami preferensi kita dan kemudian akhirnya memberikan rekomendasi. Tapi gameplay yang tepat pengguna bisa bosan sebelum menerima manfaat layanan.

Penutup

Gameplay adalah must-have element dalam produk kita. Namun prioritas utama harus tetap berfokus pada pain-point. Beberapa startup lokal juga sudah punya gameplay, misal Urbanesia dengan UrPoint.

Punya startup? Apa gameplay-mu?
No Need To Go Global. Global Goes Local.

No Need To Go Global. Global Goes Local.

Orientasi kita sejak dulu adalah ekspor, ekspor, ekspor. Jika kita melakukan impor berarti ada yang salah dengan kebijakan dan keadaan ekonomi dalam negeri. Hal serupa juga terjadi dalam konteks online. Umumnya pengusaha online selalu menarget pasar luar negeri. Tak salah juga karena pasar lokal ternyata masih belum siap, terukur dari besar pasar dan kemampuan mengakses produk. Baru-baru ini saja kita mulai bisa menikmati kondisi pasar yang kondusif bagi pengusaha online.

Where Are We?

Saat ini kondisi kita sama-sama well-informed dengan teman-teman di luar Indonesia. Blog dan Twitter menjadi alat pertukaran informasi dan berkecepatan tinggi yang sangat efektif. Begitu efektifnya sehingga kita khawatir jika tidak bisa mengakses kanal informasi ini. We are afraid to miss the trending topic when the earth stop spinning :D.

Akibat keberadaan kanal ini kondisi kita menjadi sejajar. Tidak dalam semua hal namun dalam hal akses informasi yang bisa dipakai untuk menentukan langkah atau membentuk ide usaha baru. Perusahaan perintis baru di luar bisa segera kita intip dan kita salin konsepnya. Kemudian dibawa ke kancah lokal, diadaptasi dan dijalankan dengan nilai-nilai yang relevan dengan Indonesia. Tidak semua bekerja sesuai harapan tapi setidaknya kita punya bahan untuk trial dan error di pasar lokal.

No Need To Go Global

Tak perlu lagi menarget pasar di luar negeri. Bahkan untuk urusan e-commerce pun pasar dalam negeri sudah mulai menunjukkan potensinya. Seiring dengan bertumbuhnya pemain-pemain lokal, menurunnya harga akses dan alat akses baik mobile maupun stationary, masuknya Facebook dan Twitter ke kanal mainstream dalam negeri, pasar-pasar pun mulai terbuka.

It’s big and about to get bigger! Tak percaya? Tanya SaGad.

How Many Copies Is Enough?

Berapa banyak pemain e-commerce di dalam negeri? Banyak. Tidak sangat “banyak” tapi cukup mengagumkan “banyak”. Dan yang cukup mengherankan adalah semuanya running, dengan niche-nya masing-masing. Beberapa tahun lalu, kita mungkin sempat mencibir ke layanan tiruan frenster. Hanya meniru. Kini sudah banyak tiruan dari pelbagai macam hal. Kita tak sering mencibir lagi. Copying is not (so) humiliating. Kita mulai menghargai usaha dibaliknya. Pasar kita begitu besar, satu salinan belumlah cukup. Keep duplicating!

Beware Of The Global Player

Terbukanya pasar dan munculnya pemain-pemain lokal tak pelak menjadi indikator bagi orang-orang di luar Indonesia tentang potensi yang ada di sini. Indonesia, India dan China sudah terkenal dengna sumber tenaga murah. Kemarin mereka melakukan outsource ke lokal. Kini, membuka kantor baru tampak lebih ekonomis dan menjanjikan. Bangun saja pabrik di tengah-tengah konsumen. Hemat, murah, profit!

Dengan mengetahui kelemahan pemain lokal di bidang pendanaan dan pengalaman, pemain luar membawa tongkat yang lebih besar (bigger stick) untuk masuk ke dalam negeri. Dana yang cukup, model bisnis yang teruji dan partner lokal menjadi killer combo.

Jadi, pindahkan pantat Anda lebih cepat! “Belanda” sudah datang.