Browsed by
Category: StartUp

Ideas Are Dime A Dozen. Ini Buktinya.

Ideas Are Dime A Dozen. Ini Buktinya.

Bagi teman-teman yang memantau tweet saya semalam, pasti sempat menjawab pertanyaan: UI atau database dulu saat membuat aplikasi? Sebagian menjawab dengan UI karena berawal dari profesi designer dan sesuai dengan panduan Getting Real. Sisanya menjawab database sebagai salah satu komponen yang terkait dengan logis pemrograman. Saya sendiri sebenarnya ingin memulai dengan UI untuk memetakan aktivitas pengguna.

Pertanyaan kedua yang saya munculkan adalah: alat apa yang bisa dipakai untuk merancang UI/wireframe. Jawaban yang sudah bisa ditebak: Omnigraffle. Sisanya adalah MockingBird (beta berakhir 15 agustus) yang memang bagus. Ada juga Balsamiq dan juga paper prototyping. Paper prototyping belum pernah saya lihat langsung prosesnya namun saya pernah tahu dari beberapa blog pengembang aplikasi open source.

Yang mana ideas are dime a dozen-nya? Berikut ini adalah mockup yang sedang saya rancang semalam (akhirnya saya memilih mockingbird). Idenya muncul dari fitur melihat daftar acara dan penjadwalan playlist dari sebuah kabel tivi. Alangkah menyenangkan jika kita bisa melihat berapa banyak orang yang sedang melihat atau akan melihat acara tertentu. Lalu kita bisa masuk ke dalam chat room suatu acara dan bisa berdialog, menebak atau saling mencela jagoan kontes.

Guess what. Mashable ternyata membahas tentang topik yang mirip. Check-in into culture. Tidak dibatasi oleh lokasi, checkin bisa dilakukan ke dalam suatu konsep budaya. Yep, salah satu contohnya adalah TV Shows!

Miso, aplikasi yang dibahas oleh Mashable, memungkinkan kita untuk berbagi acara apa yang sedang kita tonton. Konsep yang sama dengan Foursquare atau Gowalla yang menfasilitasi kita dalam berbagi lokasi namun diterapkan pada tipe objek yang berbeda. Seperti last.fm namun tidak berfokus pada statistik.

Saya tutup artikel saya di sini. Sisanya kita jadikan perenungan saja 😀

PS:

Saya terpikir satu hal lagi. Membuat situs untuk menampung ide yang satu sen harganya ini. Siapa tahu banyak yang ingin melempar ide dan mengambil ide.

Law of Fashion (and others too)

Law of Fashion (and others too)

Saya baca Law of Fashion ini di Signal vs Noise. Sangat menarik karena berhubungan dengan tren fashion yang cenderung berulang. Dalam Law of Fashion ada suatu tabel yang mengelompokkan fashion berdasar umurnya dan bagaimana orang akan bereaksi pada produk fashion tersebut.

Berikut ini tabelnya:

Indecent 10 years before its time
Shameless 5 years before its time
Outré (Daring) 1 year before its time
Smart Current Fashion’
Dowdy 1 year after its time
Hideous 10 years after its time
Ridiculous 20 years after its time
Amusing 30 years after its time
Quaint 50 years after its time
Charming 70 years after its time
Romantic 100 years after its time
Beautiful 150 years after its time

Lihat. Orang cenderung mengatakan bahwa produk fashion dari 150 tahun yang lalu itu beautiful. Sedangkan yang berusia setahun lalu disebut dowdy (old-fashioned). Sama dengan barang peninggalan bersejarah. Semakin tua semakin antik. Semakin tua semakin nge-trend kembali. Yes, the 70’s back.

Apple is Daring

Saya menyebut Apple sebagai daring company/product. Produk 12 core-nya yang baru adalah standard tahun depan. Model iPhone 4G adalah role model bagi produk lain di tahun depan. Apple selalu membuat something different yang selalu kita percaya datang dari masa depan. Sementara itu Nexus, HTC, Droid, Palm Pre adalah smart product. Mereka adalah current fashion yang diset standard-nya oleh iPhone di tahun lalu.

Gartner Hype Cycle

Dengan mengabaikan kontroversinya, Gartner Hype Cycle bisa dipakai untuk menentukan “what’s next”. Dalam grafik GHC, diperlihatkan teknologi mana yang sudah matang dan mana yang masih dalam masa pertumbuhan. Dikaitkan dengan Fashion Law, kita bisa memilih calon produk yang daring atau indecent sebagai investasi. Dengan strategi yang tertata, dalam waktu 5-10 tahun diharapkan investasi ini akan kembali dalam bentuk tren dan pasar yang bisa dimonetisasi.

Repeat The Cycle, Revive the Looser

Kalau kita takut untuk berinvestasi lewat produk indecent, maka kita bisa memilih opsi produk yang charming. Kita ambil produk lama dari beberapa tahun lalu, kita sesuaikan ulang dengan kondisi sekarang. Boom. Radio kayu namun bermesin baru sekarang jadi punya nilai lebih dibanding produks ama dengan desain modern (yang akan segera phased out).

Atau, ambil saja produk gagal dan ciptakan ulang di masa sekarang. Tablet adalah produk gagal beberapa tahu lalu. Saat ini, teknologi telah mampu membangkitkan mereka kembali persis seperti apa yang kita inginkan di jaman dulu. Long live iPad and Android tablets.

Jadi, mau daring atau ikut current fashion?

Lagi-Lagi Agregator

Lagi-Lagi Agregator

Masih, saya masih menyimpan ide agregator untuk blog sejak beberapa tahun lalu. Dulu mencari sumber berita itu susah akibat  tidak sempat mengeksplorasi seluruh internet dalam kapasitas terbatas kita. Jadi mengumpulkan beberapa blog atau penerbit berita lain dalam satu website itu tergolong masih punya value tinggi. Tidak seperti sekarang, adanya Twitter menyebabkan proses penemuan sumber berita menjadi lebih mudah. Tak perlu mencari bahkan, berita akan dihantarkan langsung di depan kita. Kita tinggal pilih mana yang menarik, klik dan kemudian membacanya.

Keep On Piling

Kita kita cukup savvy dengan teknologi dan menjadi fans berat RSS, sumber berita tersebut bisa dimasukkan ke dalam feed reader. Hanya perlu beberapa kali bertemu dengan sumber berita menarik yang sama sehingga kita yakin untuk menjadikannya salah satu sumber informasi dalam koran pribadi kita (feed reader). Proses mengumpulkan informasi ini terus berlangsung sehingga agregator menjadi kehilangan fungsi. Tidak kehilangan fungsi, tapi mengalami masalah karena faktor skala jumlah data.

Search, Don’t Sort.

Jika jumlah data terlalu banyak, opsi yang masuk akal adalah melakukan pencarian alih-alih menelusuri data satu per satu guna menemukan apa yang ingin kita akses. Die grid die. Die list die. Karena inilah GMail lebih cocok bagi kita. Jika data sudah menumpuk maka akan diperlukan fitur tambahan untuk mengaksesnya.

Tasteful Topping

Di Twitter kita mengenal Retweet. Retweet adalah sarana menemukan jarum dalam tumpukan jerami.

Di Slashdot kita mengenal karma untuk artikel dan komentar. Komentar dengan karma kecil akan otomatis tidak ditampilkan by default.

Di situs macam Scriptlance atau GetAFrelancer, ada fitur rating bagi coder dan project owner.

PriceArea.com mengumpulkan berbagai informasi dari situs-situs e-commerce. Di atasnya ditambahkan fitur pencarian.

StackOverflow.com menjadi agregator pertanyaan teknis. Di dalamnya ditambahkan fitur vote untuk menandai jawaban yang paling manjur.

Banyak sekali layanan yang berbasis agregator. Perbedaannya hanya topping apa yang ditawarkan di atasnya. Topping inilah yang menjadi pemanis dan pembeda dari konsep agregasi yang diterapkan tiap-tiap layanan.

Coba sebutkan situs-situs lain yang basisnya agreagasi. Craiglist? Urbanesia? Autosally?

PS:

BTW, blog itu juga salah satu bentuk agregasi lho. Tinggal pilih topping untuk membuatnya beda dengan yang lain. I don’t intend to make this aggregating things sound easy, but it is somewhere we can start from 😉

Foto oleh Herman Saksono

The Pitch: KayaKarya

The Pitch: KayaKarya

Tidak sedikit startuplokal yang memulai bisnisnya dengan langsung menerjuni e-commerce. Tetapi ada satu website yang membuat dobrakan dalam mempromisikan dirinya di dalam industri kreatif. Seperti melawan arus, KayaKarya membangun sebuah portal portfolio di tengah startup lokal lainnya.

Adakah kesalahan di dalam keputusan Sang Founder? Tentunya tidak. KayaKarya menyelami dunia kreatif yang mungkin tidak kalah besarnya dengan dunia-dunia lainnya. Jika dilihat, potensinya masih sangat besar untuk bertumbuh. Apalagi di Indonesia ini, negara yang penuh dengan seni dan keistimewaan. Sang Founder rindu untuk membawa karya-karya bangsa ke kancah International. KayaKarya adalah wadah dari impiannya itu.

KayaKarya dilahirkan untuk membuat suatu wadah yang dapat menampung orang-orang kreatif, dimana orang-orang kreatif bisa bebas berkarya. Suatu komunitas dimana orang-orang bisa memberi inspirasi dan menginspirasi satu dan yang lainnya. Yang terpenting adalah menghasilkan karya yang memperkaya lewat layanan direktori jasa kreatif di Indonesia.

Inilah visi misi dari KayaKarya yang dicantum jelas di atas homepagenya:

“We dream of becoming Asia’s Central Creative Hub.”
“We dream to inspire.”
“We belive in creativity and thinking differently.”
“We believe in the impossible.”

Sumber daya dan bakat-bakat yang ada di KayaKarya adalah sumber yang berharga. Walaupun KayaKarya memfokuskan pada portfolio, ada beberapa cara bagaimana KayaKarya akan mendukung dirinya:

  1. Dari proyek-proyek yang tercantum di websitenya, KayaKarya akan mendapatkan percentage dari jumlah award yang tertera oleh project owner.
  2. Members yang ingin meng-upgrade accountnya juga bisa meningkatkannya menjadi FEATURED MEMBER dengan membayar sedikit uang.
  3. Untuk para bisnis owners, tentunya tidak tertinggal. Anda bisa menjadi PARTNERS di KayaKarya dengan membayar bulanan. Dengan ini bisnis owners bisa bertumbuh dengan perkembangan KayaKarya dan showcase hasil dari pekerjaannya.
  4. Exposure yang didapatkan tidak akan sedikit. KayaKarya juga mempunyai pasar tersendirinya yang disebut MARKETPLACE. Barang-barang koleksi, tas, t-shirt, kartu, accesories, tiket dan barang-barang lainnya bisa diperjual belikan di KayaKarya. Untuk sementara memang KayaKarya masih menyediakan feature ini dengan gratis.

Perkembangannya ke depan akan ada dual language: English dan Indonesia. Ini untuk mempermudah negara Asia lainnya untuk ikut bergabung. Tidak tertutup kemungkinan juga jika KayaKarya melakukan RoadShow untuk memperluas jaringannya.

Semoga KayaKarya akan melakukan yang “tidak mungkin” itu dan berdiri dengan website besar lainnya. Tentunya perjalannya yang baru saja dimulai ini masih butuh banyak dukungan dari teman-teman sekalian. Bagaimanakah cerita KayaKarya selanjutnya?

Jeannie Tan

KayaKarya.com

PS:

Artikel ini adalah debut kolom The Pitch. Salah satu kategori baru di NavinoT yang dibuat untuk menfasilitasi pitching oleh startup. Keseluruhan artikel ditulis sendiri oleh founder dengan beberapa feedback dari NavinoT.

What happen with Launchpad. Launchpad is a bit broken but this “The Pitch” category will be eventually integrated with Launchpad. Hopefully we can fix Launchpad right away so that you can use it as a platform to gather initial users. Be it via exclusive invitation code, promo, or other kind of campaign.

So, send your pitch to navinot@gmail.com. And I mean NOW.

End to End, Thinking.

End to End, Thinking.

No brainer ya kalau ketersediaan pasar itu harus jadi pertanyaan dalam proses validasi ide? Setelah ide didapatkan, langkah pertama jangan masuk ke teknologi. Langkah pertama adalah pastikan ketersedian orang-orang yang punya pain-point yang sama. Keberadaan orang-orang ini akan jadi syarat sukses supaya at the very least ide Anda bisa berjalan setelah diimplementasikan. An initial market as a jump start to run your idea.

Mature or Not Mature

Market ini terkadang tidak selalu harus telah benar-benar tersedia secara eksplisit. Semakin eksplisit, berarti semakin tinggi pula tingkat konfidensi Anda dalam meraih kesuksesan. Namun ada juga yang cukup yakin dengan market yang masih belum tumbuh. Yang masih memerlukan insentif supaya mau menunjukkan dirinya. Model yang terakhir ini paling menarik, paling beresiko dan paling menjanjikan. Siapa nyana hape qwerty kacangan bisa laris bak kacang goreng.

Pasar yang telah matang mampu membuat Anda start lebih cepat. Tak perlu mengeluarkan dana tambahan untuk membuatnya benar-benar siap dengan kedatangan produk kita. Ibarat memancing di kolan, Anda tinggal mengarahkan ke tempat yang paling banyak ikannya dan memakai umpan yang paling menarik.

Pasar yang belum mature? Kemungkinan besar tak seorang pun yang memilikinya. Less competition, lebih banyak waktu untuk mematangkan produk lewat berbagai eksperimen.

Centralized or Distributed

Pasar sudah ada dan telah matang, sering kali kita yakin dengan hal ini. Tapi kita mengabaikan fakta bahwa ternyata pasar tersebut tersebar. Selama ini yang kita nilai adalah agregasinya. Hal ini sepertinya sering menjadi pitfall di dunia online. Siapa yang tak butuh program A? Pasti banyak yang memerlukan, hanya saja mereka tersebar di pelbagai belahan dunia dan tak pernah terkumpul dalam satu kolam.

Oh, what about viral product? Yang tak memerlukan kumpulan massa tapi mampu mendistribusikan produk itu sendiri? Ini sih yang ideal. But still, cara yang lebih efektif adalah mengumpulkan sejumlah orang yang kemudian menjadi agen penyebar. Menyebarkan produk dari satu orang akan menuntut waktu lebih lama sampai terjadi efek viral. Cara terbaik untuk mengosongkan air dari dalam kantung plastik adalah dengan membuat cukup lubang sehingga air bisa keluar dengan cepat dan tak membuat plastik tersebut pecah.

Thinking End to End

Ketika Anda hendak membuat proposal atau startup, berpikir secara end-to-end, dari ujung ke ujung menjadi penting. Seperti business plan, harus dijabarkan dari mana ide akan dimulai, apa saja yang diperlukan, bagaimana akan didanai, bagaimana akan dipasarkan atau dijual, dan bagaimana mendapatkan profit dan exit strategy apa yang dipakai untuk “menutup” ide.

Ketika memikirkan startup, jangan lupa memikirkan pain point dan siapa saja pemilik pain point. Di mana dan bagaimana Anda akan merengkuh mereka. You need a wheel to run your car. No wheel, no move. Better wheel, less fuel.

Akuisisi Koprol.com, Artinya?

Akuisisi Koprol.com, Artinya?

Mudah-mudahan tidak terlalu basi untuk membahas soal akuisi Koprol. Timingnya memang tidak pas untuk kategori hot news, tapi tak akan pernah cukup basi untuk hidangan khas “slashing the web and internet strategy” a la NavinoT. So wassup?

Ingat Lagi Tentang Exit Strategy

Exit strategy memang materi jebakan. Bagaimana tidak. Bubble burst satu dekade lalu juga terjadi karena trend exit strategy yang mirip satu sama lain, yakni: IPO. None the less, exit strategy tetap perlu. Tetap harus ditentukan ujung dari startup kita. Mau hidup berapa tahun, dengan cara seperti apa dan bagaimana cara keluar lubang (jika kita terperosok) dengan cara yang paling tidak menyakitkan. Kalau bisa malah harus sambil membawa tas berisi profit.

Pindahnya Koprol ke tangan Yahoo! pasti akan menjadi cerita sukses dalam buku panduan startup tahun-tahun ke depan. Beberapa hal akan coba ditiru dan diulang dengan harapan sukses yang sama. Mudah-mudahan saja proses tersebut akan menghasilkan boom yang kuat dan bukan bubble besar namun kosong.

What Can Go Right, Will Go Right

Kebalikan dari what can go wrong, will go wrong. Yang punya peluang sukses pasti akan sukses. Masalah yang tersisa adalah soal waktu dan siapa yang “kebetulan” akan berada di waktu yang tepat tersebut. Teknologi lokasi mungkin tak terlalu populer beberapa waktu lalu. Tapi memang pada dasarnya salah satu jenis tipe data ini memang akan mendapat giliran untuk jadi first citizen class di ekosistem internet. Koprol, Foursquare dan Gowalla mengalahkan pendahulunya di bidang perlokasian. Even Google Latitude and Yahoo!’s FireEagle.

Status sudah jadi warga kelas pertama. Lokasi sudah. Dengan gerak-gerik Twitter dan Facebook di semantic web, tren ini tampaknya akan berlanjut. Kalau Anda sudah membaca ulasan OpenGraph beberapa waktu lalu, Anda pasti bisa melihat bahwa apa yang hendak dicapai dengan OpenGraph ini terlalu besar untuk bisa dipenuhi satu entitas saja. Masih ada kesempatan lebar untuk membuat spesifikasi dan implementasinya bisa memuaskan suatu unit terkecil sejenis lokasi. Every verb and noun will count!

Luck = Opportunity Meets Preparation

Jika kamu siap, kedatangan pemain besar ke Indonesia dan hype yang dibawanya akan jadi keberutungan Anda. The wave is coming. Are you going to dive or surf it?

Lomba Business Plan Berhadiah 25 Juta

Lomba Business Plan Berhadiah 25 Juta

Masih ingat dengan cerita Flutterscape yang mendapatkan dana bootstrap dari lomba business plan? Tampak too good to be true bagi Anda untuk mendapatkan kesempatan serupa? Tidak juga. Ternyata ada lomba kreatif membuat Business Plan dengan hadiah utama 25 juta. Tidak terlalu banyak, tapi tidak sedikit juga nilainya. Beberapa dari kita mungkin sedang berdarah-darah dan sangat berharap apapun untuk kickstart proyek yang telah lama tersimpan.

Lomba ini berakhir Selasa, 30 Mei 2010 pukul 24.00 WIB. Segera cetak business plan-mu. Lihat info selengkapnya di sini

Create Your Gap

Create Your Gap

Masih ingat waktu saya bilang innovation is playing catch up? Mungkin tanpa bagian “innovation”-nya. Tapi memang seperti itulah yang terjadi sekarang. Untuk menelurkan inovasi yang benar-benar menggebrak kita harus riset lama atau membuka simpanan beberapa tahun lalu.

Moodmill waktu itu punya twist ukuran emosi jika dibanding Twitter. Bahkan bisa menempelkan URL. Foursquare dan Gowalla ternyata tak jauh beda. Dibandingkan dengan Koprol, ketiganya juga bermain data lokasi. So, what makes each of them worthwhile?

It’s about creating gaps.

Unggul berarti selangkah di depan dibanding yang lain. Kalau sekarang semua hanya punya fitur checkin, kita bisa menambah gap dengan fitur shout. Kalau semua bisa shout, kita buat gap dengan poin dan badge. Kalau semua bisa melayani pembayaran lewat transfer bank, kita bisa selangkah di depan dengan melayani kartu kredit. Jika yang lain belum punya Blackberry app, maka kita harus membuat Blackberry App. (Koprol will have a real one, next week — finger crossed — which will make us leave Foursquare)

Semakin besar gap yang kita buat, semakin lama pula waktu yang diperlukan kompetitor untuk menyusul kita. Semakin tinggi pula probabilitas kita untuk meningkatkan sales dan mendapatkan profit.

How to create gap?

Di sinilah keyword “pick your fight” harus dicamkan. Pertama, pertarungan tidak wajib dijalani dalam bentuk serial. Bersaing jumlah quota email bukanlah strategi yang bagus karena kapasitas storage bisa disusul dengan mudah. Pindah saja ke jalur lain dan jadikan persaingan tersebut paralel tanpa banyak berpengaruh satu sama lain.

The secret is make the most of our resource. Pilih pemakaian result yang bisa menciptakan gap terlebar dan paling susah disusul. Kalau kita punya modal, beli perangkat terbaik di bidangnya. Kalau otak kita brilian, buat produk keren dengan resep rahasia.

SITTI (sittibelajar.com), berusaha membuat gap dengan menghadirkan adsense versi lokal yang bisa bekerja optimal dengan bahasa Indonesia. Teknologinya memang sangat menarik, namun sebenarnya tak akan susah disusul oleh Google. Google sudah bisa memberikan rekomendasi topik dari query yang kita buat. Belum lagi ada fitur Data Prediction API yang membuat siapa saja bisa menggunakan pustaka ini untuk membuat produk sepintar itu. Nonetheless, Google juga perlu waktu untuk masuk ke Indonesia. Google juga perlu waktu untuk belajar bahasa Indonesia. Dan bisa jadi pasar Indonesia belum terlalu seimbang dengan investasi yang harus dikucurkan. This is the gap!

The Message

Ada satu lagi cerita menarik yang bisa dipakai untuk memilih pertarungan. Bagaimana ilmuwan Amerika dan Rusia menemukan alat tulis yang mampu dipakai di dalam air? Amerika memulai dengan riset lab yang akhirnya membuahkan alat tulis canggih. Sedangkan pihak rusia memilih pensil sebagai solusinya. Get what I mean?

So, tak perlu terlalu khawatir dengan the big guys. Cara pandang atas masalah antara yang besar dan kecil pasti beda. Think creative, pick your fight, and create your gap!

No Sweat! Ada Open Data

No Sweat! Ada Open Data

Belum juga menemukan ide menakjubkan yang bisa mengguncang dunia? Bahkan dari kebutuhan sehari-hari pun sudah tak ada yang menarik lagi? Menyerah? Tunggu dulu.

The Power of Open

“Open” adalah nama seorang toko yang pernah muncul dalam buku teks pelajaran SMP atau SMA dulu. Nama Belanda. “Open” juga jadi kata yang belakangan ini populer kembali dengan konteks berbeda dari sebelumnya. Konteks “Open” sebelumnya, muncul dari gerakan Open Source. Dengan semangat berbagi tidak hanya hasil akhir (free beer) tapi juga berbagi sumber daya (the raw material). Gerakan ini benar-benar meubah tatanan keseimbangan yang sudah ada. Ibarat udara segar bagi banyak orang yang sebelumnya powerless atau merasa sama sekali tak memiliki kontrol atas apapun. It is empowering!

Konteks “open” berikutnya adalah “web”. Satu pihak menuduh pihak lain “not open enough”, tentunya Anda tahu peristiwa tersebut. Di dunia web, “open” lebih didefinisikan sebagai kepatuhan pada standar. Dengan acuan standar yang berasal dari W3C. “Open” dalam dunia web telah berhasil mendorong kemajuan platform ini lebih cepat daripada perkembangannya di masa pre Firefox. Walaupun standar yang diacu ini tak lepas juga dari kontroversi. It’s good but taking too long of Working Group time.

Reuse, Mashup!

“Open” memicu ketersediaan dua hal yang menjadi kekuatan prosumer. Dua hal inilah yang mengembalikan kekuasaan ke tangan pengguna (internet). Membuat aplikasi tak lagi sulit karena most of the heavylifting sudah dilakukan oleh orang-orang kurang kerjaan yang berbagi pustaka keren untuk melakukan tugas-tugas mustahil. Menggambar di canvas bukan perkara sulit, tinggal menentukan titik dan menarik garis. Tapi ada yang bersedia membagi kode untuk membuat animasi atau framework game di atas Canvas. Tak usah terlalu jauh, siapa yang tidak memakai jQuery. How’s your life before jQuery?

Mashup adalah bahan kedua. Dengan alat yang tersedia gratis, tetap ada batasan jumlah aplikasi yang bisa dibuat. Aplikasi memerlukan input dan menghasilkan output. Mashup memakai ketersediaan data yang terbuka dan bisa dimanfaatkan siapa saja. Input kini bisa ditemukan di mana-mana, menunggu kreativitas para pembuat aplikasi. Beberapa hal yang sebelumnya mustahil dilakukan kini menjadi mungkin karena missing link-nya ditemukan dalam bentuk data terbuka.

Open Sesame!

Coba check EveryBlock.com, situs ini menyediakan tidak hanya data kriminal namun juga berbagai data lain yang bisa diakses bebas oleh pengguna. Mau bermain augmented reality? Siapa bilang datanya harus venue bisnis? Point of Interest (POI) juga bisa berubah lokasi bersejarah atau event di masa depan. Lokasi hanya salah satu aksis, sumbu lainnya bisa dipasangkan dengan data apapun.

Want more? Coba Echo Nest. Apakah Anda tahu kalau lagu A dan B mirip? Atas dasar apa? Echo Nest bisa memberi informasi ini pada Anda. Mulai dari metadata biasa seperti penyanyi, genre, judul, atau album sampai ke beat, loudness, tempo dan lain-lain. Mau membuat playlist dinamis yang bisa mengerti mood Anda? Tentu bisa dilakukan lewat platform ini. Tinggal pilih lagu yang sesuai dengna mood saat ini lalu sisanya diproduksi lewat kemiripan berbagai karakteristik audio dan metadata.

More? Jangan mengkonsumsi terus. Coba buka data yang kamu punya 😉

Don’t Start Any Startup!

Don’t Start Any Startup!

Yeah. Sudah bisa dipastikan saya mendapatkan mata Anda membelalak ke arah saya. What the ef?! Kenapa tidak boleh membuat startup? Bukannya ini yang sedang sama-sama kita galakkan? Buat startup, dapatkan keuntungan, be satisfied (and rich). Anda cuma salah di langkah pertama saja.

Darimana Ide Datang

Pada saat kita merencanakan sebuah startup, ada dua tempat mencari ide untuk diwujudkan ke dalam sebuah produk. Tempat terdekat untuk mencari adalah lewat pengalaman pribadi. Dalam aktivitass sehari-hari pasti kita menemukan sesuatu yang tidak memuaskan. Entah karena ada sesuatu yang broken atau justru malah sama sekali tidak ada. Andaikan artikel blog bisa ditulis otomatis hanya dengan menyediakan keyword. Andai pageview situs tak dipengaruhi SEO. When you need it, probably someone else will need it as well. Sekarang jika Anda bisa membuatnya sendiri, that’s even better.

Ide juga bisa muncul dari hasil pengamatan aktivitas orang lain. Sepertinya kawan Anda yang bertitel otaku mengalami kesulitan untuk mendapatkan barang koleksi dari Jepang, oh FlutterScape. Seorang teman lain yang maniak diskon tampaknya akan senang jika ada tempat terpusat untuk informasi segala jenis diskon, oh AdaDiskon.com. Kita tak tahu pasti apa yang mereka butuhkan, tapi kita bisa mengira-ngira 80% spesifikasi kebutuhan tersebut.

Kenapa Dilarang Bangun Startup?

Paul Graham menasihatkan supaya kita fokus pada ide. Jangan fokus pada membangun perusahaan terlebih dulu. Jika dipikir memang banyak keuntungan berfokus pada ide saja.

Pertama, kita akan punya banyak kesempatan untuk melakukan testing atas lebih banyak ide. Jika kita terburu, ide pertama mungkin langsung kita ajukan ke investor. Padahal ide tersebut setelah dicoba sendiri akan gagal dalam waktu singkat. Dalam kisah perjalanan Tokopedia, 2 tahun barulah ide mereka bisa direalisasi. Dalam dua thaun tersebut saya yakin banyak terjadi penyempurnaan ide lewat diskusi atau pemasukan variabel peristiwa dunia e-commerce sepanjang tahun.

Kedua, ide itu tak langsung akan jadi besar. Jadi jika kita terburu-buru, ada kemungkinan kita akan merugi banyak. Paul Graham bilang, ide yang bagus pertama kali akan dicemooh orang. Entah dianggap sebagai mainan atau sama sekali tak diperlukan. Berfokus pada ide membuat kita berpikir realistis. Start small. Bertumbuh secara incremental. Jika kita terburu-buru, mungkin kita akan berakhir seperti Friendster :D. Terlibas oleh (buku tahunan) Facebook yang tak pernah ditujukan untuk global social network.

Organic Growth

Berfokus pada ide berarti mengandalkan organic growth. Sebagai generasi early adopters, hal ini tidak susah untuk kita laksanakan. Early adopter berarti kita selalu menjadi yang nomor satu dalam hal mencoba hal baru. Ini berarti kita juga menjadi yang pertama mengetahui atau bisa menebak apa yang masih tidak sempurna sekarang atau dalam beberapa tahun ke depan.

So, work on your ideas. Know what you need. Build it yourself. Don’t touch that business plan just yet!