Browsed by
Category: Stories

Seputar Internet & Teknologi

Japan E-commerce

Japan E-commerce

Sebulan lagi, saya bakal genap setahun tinggal dan bekerja di Jepang. Apa yang kira-kira sudah saya pelajari sejauh ini? Yang jelas bukan bahasa Jepang 😀

Mobil dari perusahaan logistik Kuroneko (kucing hitam) Yamato

For everything else, there’s Rakuten

Kalau mencari buku, musik, video, action figure, memang ada situs-situs spesifik yang bisa dikunjungi. Tapi untuk sisanya, beberapa pilihan pasti tersedia di Rakuten. Ditambah dengan jangkauan harga yang murah banget sampai agak mahal.

Rakuten jadi semacam Bhinneka untuk e-commerce. Mungkin kita tidak bisa membandingkan secara spesifik satu jenis produk, tapi kita bisa bandingkan untuk mencari tahu apakah ada yang lebih murah. Atau, yang agak mahal apakah lebih bagus. Katalognya sangat besar.

Paypal is common, and everything else is well established

Banyak yang serba berkonsep layanan mandiri di Jepang. Mungkin tumbuh dari semangat efisiensinya di segala bidang. Di indonesia, fotokopi bisa dijadikan mata pekerjaan. Sementara di sini, fotokopi dioperasikan secara mandiri oleh pemakai. Layaknya vending machine, mesin fotokopi (sekaligus printer dokumen dan foto) bisa dipakai dengan koin atau e-wallet (kartu atau keitai).
Dengan kultur semacam ini, alat pembayaran online seperti paypal bisa dipersepsikan sebagai alat tukar lain dalam dunia serba layanan-mandiri tersebut.

Tak berarti metode pembayaran lain tak populer. Transfer lewat bank juga cukup standar walau rasionya sangat kecil dibandingkan pemakaian Paypal/CC (pengamatan pribadi). Selain itu masih ada pembayaran offline dan semi-online, seperti COD dan lewat konbini (convenience store). Beli barang online, lalu bayar saat barang datang atau bayar tunai di konbini. Convenience indeed.

Cheap, scheduled and trackable

Hal lain yang membuat belanja online begitu menyenangkan di Jepang adalah kenyamanan logistik. Logistik ditawarkan dengan harga dokumen (amplop) dan paket. Jadi merchant bisa menekan harga shipping sampai setipis mungkin  supaya tidak jadi penghalang transaksi pembelian. Kisaran ongkosnya sekitar 110 yen (flat rate all japan destination) sampai dengan 3000-an yen (30kg – terjauh). Dengan model subsidi silang, banyak merchant yang menawarkan flat rate untuk semua tujuan paket. Jika dikurskan ke rupiah memang masih mahal ongkos kirim di Jepang, tapi jika dilihat rasionya dengan harga barang maka ongkos kirim tersebut seringkali terlihat jadi recehan. Harga kaos termurah mungkin 1000-an yen, ongkos kirim ke semua destinasi 100 yen. Satu koin.

Belum lagi pengirimannya bisa dijadwalkan. Mau diterima hari apa (setidaknya seminggu setelah ketersediaan barang), dan di jangkauan jam berapa. Untuk jomblo, bisa minta dikirim ke kosan malam hari saat sudah pulang dari kerja.

Local Chances

Mengingat kondisi transportasi Jakarta yang memalukan jika dibandingkan dengan Tokyo, harusnya e-commerce bisa jadi solusi yang sangat nyaman untuk berbelanja. Begitu banyak pain point yang bisa diatasi lewat e-commerce. Harusnya e-commerce justru bisa lebih berkembang di Jakarta, tapi kenyataan tidak.

4 Tahun Kemudian

Yang barusan kamu baca adalah draft 4 tahun yang lalu. Sekarang lanskap commerce di Indonesia sudah diledakkan oleh Toped dan Bukalapak. Semakin banyak yang melakukan transaksi onlen baik melalui transaksi jual beli barang atau jual beli jasa. Bagi saya, sepertinya Go Food adalah layanan yang paling revolusioner 😀

Di Jepang, saya makin banyak tahu pelbagai macam situs tersedia untuk berbagai macam keperluan. Termasuk jasa delivery makanan yang minimum order dan ongkos antarnya membuat enggan pesan antar kecuali super malas.

Namun, yang terpenting adalah poin loyalti. Ada di mana-mana. Baik yang memakai sistem elektronik, atau sistem stempel. Beli dompet untuk menampung sederet kartu loyalti adalah mutlak. Apakah poinnya terasa? Tidak perlu menunggu setahun untuk mengikuti undian. Untuk sistem poin yang menduduki peringkat atas, poin bisa dipakai dan dikumpulkan tidak hanya di satu tempat. Dan tidak terbatas onlen atau offlen. Inilah kenapa belanja itu jadi lebih sepeti hiburan. Proses memilih dan memilah bisa memberikan kepuasan tersendiri.

Fakta lain adalah marketing yang meriah. Selalu saja ada sale. Apalagi untuk offline. Setiap bulan selalu ada tema yang dirayakan semua orang. Januari, tahun baru. Februari, valentine (cewek membelikan coklat untuk cowok). Maret, white day (cowok membelikan coklat untuk cewek). April, Sakura/Spring season. Dan seterusnya sampai musim Natal bulan Desember. Karena kompak seantero Jepang, tentu saja sangat efektif dalam mempengaruhi calon pembeli untuk berbelanja.

Jadi, lebih enak mana belanja offlen dibanding onlen. Walau judul artikel ini mencantumkan kata “e-commerce”, sebenarnya belanja offlen itu juga punya pengalaman yang susah dikopi. Kalau sedang sumpek, keputusan paling jitu adalah masuk ke toko pernak-pernik 100 yen kemudian belanja barang-barang gak perlu tapi perlu. Puas bisa dapat banyak item tapi cuma keluar duit sedikit. 😀

Thumbs up buat pemain lokal. Titik yang Anda buat akan disambung di masa depan.

Times up. Walau tidak harus berangkat setengah lima pagi, masih harus bangun agak pagi supaya tidak ketinggalan kereta. Commuting di mana-mana sama 😀

Thin Client 2.0

Thin Client 2.0

Ketika semua komputasi bisa di-offload ke penyedia layanan komputasi, apa yang akan terjadi? Atarimae da! Tentu saja, hal-hal yang sangat menarik! Setelah membaca artikel ini (Amazon sedang head-to-head dengan VMWare di pasar desktop virtual), saya merasa super-excited. Hal ini, ditambah dengan Gaikai, OTOY, dll (lots will follow suit for sure) akan membuat semua jadi streamable. All of us will end up holding thin clients, exciting!

Upgrade no more

Well, setidaknya kita tak perlu lagi membuat anggaran untuk mengganti laptop/tablet/desktop kita dengan perngakat terbaru tiap 1-3 tahun sekali. Semua aplikasi dan data akan kita taruh di cloud. Upgrade OS dan penambahan fitur akan dikelola olah penyedia layanan. Buat kita, buka dan pakai. Begitu saja. Anggaran pembaruan perangkat keras akan dialihkan ke biaya berlangganan. Akan terasa mahal pada awalnya tapi juga akan sepadan dengan lebih minimalnya pengelolaan manual. Perlu main game dengan kebutuhan spesifikasi dewa? Just flip the switch and play. Tidak perlu pasang GPU, ganti processor, dan membeli memory baru. Full of joy!

New form factor!

About time! Saat mungkin kita cuma bisa bertemu smartphone dengan layar melengkung. Namun dengan berkurangnya kebutuhan processing power di perangkat kita maka akan ada pergeseran spesifikasi dasar perangkat semacam ini. A new form factor may rise soon! Dan bukan sekedar di dimensi resolusi.

Ditambah Internet of Things, banyak sensor yang saat ini builtin di smartphone akan jadi modular. Mungkin bisa direduksi jadi sekedar display and mini storage. Mungkin akhirnya bisa jadi gelang keren yang sering kita bayangkan.

 

More possibilites, a new open field for innovation (and of course, consumerism)! Are you ready? Start your engine early dammit! 😛

Startup doesn’t matter, DIY culture does

Startup doesn’t matter, DIY culture does

Circa 2009-2010, Indonesia terkena demam yang bersumber dari Silicon Valley. Bocah nakal yang membangun Digg jadi role model. Sosok sempurna, pemberontak, yang tak mau mendengar kata orang lain. Impossible is possible. Dan berbagai ide konyol extra ordinary pun bermunculan. It’s about being cool. And hopefully a billionaire in the next morning.

DIY — Do It Yourself — adalah akar dari startup. It’s about scratching your own itch karena solusi yang ada tak dirasa mencukupi. Mulai dari membuat sesuatu yang baru atau menjadi gila dengan jalan re-inventing the wheel.

Growing up sucks.

Perkembangan dari tren hobi di garasi (2008) menjadi tren unit bisnis yang waspada finansial (2012) — pergeseran definisi startup — adalah hal yang patut diacungi jempol. Tapi bersama dengan pergeseran ini, rasanya kultur DIY juga jadi menyurut. Well, mungkin “pehobi garasi” jadi banyak yang menyadari bahwa starting-up itu tak sekedar membangun website. Seminar startup sudah menampar dengan keras, investor akan tertawa dalam hati: holy crap, what this person is trying to pull out with this silly idea.

Tren baru adalah memulai perusahaan sendiri. Banyak investor yang mulai mendanai perusahaan lokal. Kita pun merasa lebih dekat dengan citra Silicon Valley. Sementara itu, di akarnya kita justru tercerabut. Kita malah kehilangan spiritnya — kultur DIY. Kita seperti tercuci otaknya dan menghentikan semua ide jika tak mengarah ke model-model startup.

Should I blame mobile trend?

Web was the norm. Mashups were the the cool buzzword. Nowadays, people gravitates toward mobile app — so said where the money is. Developers gravitate to the end of the spectrum and only an a small fraction focuses on developing the platform.

Kalau tren mobile tak datang, evolusi web bakal lebih gila karena jadi single platform tanpa saingan. Kini, bahkan next trend pun diperkirakan lebih cenderung mengarah ke mobile. Mobile is the future.

I miss those geeks with those fool ideas. Tunggu, tunggu. Kita (pernah) punya kultur (web) DIY?

PS:

Kalau ada seminar startup atau developer conference, mbok yao undang-undang orang macam Ariya Hidayat.

Bro, kulturnya bro.

Foto oleh jimgris

Make it count!

Make it count!

RonaldWidha ini memang nyebelin. Pas ketika saya senang dengan naiknya nilai pagespeed, dia datang dengan twit di seperti ini:

Sad But True

Sebel, tapi pertanyaan itu memang ada benarnya. Terlalu sering kita berfokus pada kehebohan teknologi. Biar keren, Apache diganti Nginx. Aplikasi di-cache dengan Memcache. Oh, databasenya Nosql, pakai mongodb. Setelah itu, pusing karena tidak ada revenue dari apliasu aplikasi.

In the end, bisnis ya ujungnya harus profit. Kalau ingin nambah fitur atau ganti stack biar keren, hmm, tidak tega saya ngomongnya.

Fast is Better Than Slow

Google bilang seperti itu. Nalarnya simpel. Semakin cepat hasil pencarian muncul, semakin banyak iklan yang bisa ditampilkan tiap detik (secara keseluruhan). Efek lain seperti kepuasan pengguna, adalah alat bantu ukur dan bukan tujuan. Revenue harus 1 billion dollar, kepuasan pelanggan (kalau bisa) 100 persen.

Revenue per Line of Code?

Mengukurnya hanya bisa dilakukan jika kode sudah diluncurkan (deployed). Dan tidak mudah karena ada banyak faktor yang berpengaruh ke revenue. Mengklaim bahwa revenue 1 billion dollar terjadi karena ganti stack bisa memancing pertumpahan darah argumentasi.

Cost per Line of Code?

Saya lebih cenderung memilih unit ukur ini untuk menafsir keefektifan sumber kode. Berapa uang yang dikeluarkan untuk menghasilkan kode tersebut. Berapa orang, berapa jam. Dan supaya masuk akal, unit ukuran lain juga harus ada untuk dijadikan guideline kode seperti apa yang layak diukur. Seperti, berapa tes yang gagal, seberapa jauh menyimpang dari standar penulisan kode, dsb.

Focus on high leverage activities

Saya dapat kalimat ini di linimasa. Intinya, apapun aktifitas atau fitur yang anda tambahkan, pastinya hasilnya adalah termasuk highest impact. Daftar highest impact tentunya akan berbeda-beda di tiap tempat. Cara penyusunan daftar inilah yang perlu jam terbang tinggi. Beberapa bisa jadi simpel, tapi pada orang tertentu kadang tak tampak masuk akal. Coba saya baca versi panjang kalimat tersebut di Quora.

Jadi, whatever it is the code you’ll write. Make it count!

Photo by latemodelresto

Creativity Requires A Box

Creativity Requires A Box

Yoi. Kreativitas itu butuh kotak. Bukan sebagai wadah, tapi sebagai pemicu. Karena itulah kita kenal dengan konsep: Think out of the box.

Think out of the box.

Aneh memang. Creative juice kita selalu dipasung dengan syarat. Andai koneksi cepat. Andai payment gateway sudah mendukung. Dan andai-andai yang lain.

The truth is, ketika semua andai-andai itu sudah jadi kenyataan, mood kreatif kita justru hilang. Sialan kan? Atau shame on you?

Take me as an example. Dulu saya berandai-andai. Andai koneksi di Jogja itu kencang (circa 2004-2008) tentunya saya bisa berkontribusi banyak ke proyek open source. Sekarang, koneksi saya sudah berlipat jauh lebih baik dari saat itu, namun belum satu patch atau pet project baru pun saya mulai. Where’s the energy?

I have lost what once was my “box”.

Solve Nobody’s Problem.

Sebelum tulisan ini diberi label “curhat”, mari kita hubungkan dengan isu startup. Mudah-mudahan masih relevan.

Startup atau perusahaan perintis (Perutis?) selalu menjawab masalah (pain point) yang tak pernah eksis atau tak disadari keberadaannya. Segala macam andai-andai yang kita punya — dan hal-hal lain yang mempertanyakannya — adalah pain point. Inilah yang jadi basis Square, IKEA, KickStarter, dan lain-lain.

Startup answers pain point or creating a workaround for it.

WIRED FOR SCARCITY.

Tampaknya, otak manusia ini sudah di-hardwired untuk bereaksi terhadap kelangkaan. BBM langka. Ozon menipis. Salju mencair (es berkurang).

Begitu dihadapkan dengan abundance, otak kita mati. Kita tak lagi melihat masalah. Padahal, dibalik abundace pasti ada scarcity yang lain. BBM murah, konsumsi meningkat. Udara bersih berkurang, TPS capacity menurun. The problem is still there but our brain refuse to see it.

We just need to change our “box”, or put the box back. We need to see more than what meets the eye.

Note to Self.

Solving first world problem is not easy. Start with something small. No, smaller that what you are thinking now! Make yourself feels great, celebrate small wins. Then, without knowing it, you’ll have something listed on NASDAQ. And marries your girlfriend the next day! Or, settling down on beautiful beach house with your lovely wife and adorable boy and daughter (geek-daddy version).

Let’s put back the creativity box.

Photo by Dragan*
Google+ Recap: The Future is Voice

Google+ Recap: The Future is Voice

Jika Anda mendapati blog ini jarang diupdate, maka Anda benar. Satu dua kali saya mendapati keluhan: “terakhir di-update bulan Juni”. Sangat menarik dan bangga untuk mendapatkan keluhan seperti ini. Jarang-jarang seorang band mendapatkan teriakan “Encore”. Saya tak ingin berbesar kepala, tapi saya anggap saja ini memang teriakan “encore”. I can use anything to boost up my writing mood these days.

The truth is, writing about startups is like playing catching up with something that always running. It will never get done. On a business perspective, this is a very good asset. It made sure you have product to sell for a long period of time. But on other side, it demands a good preparation of fuel. Otherwise, you’ll be left out and losing the momentum. Just like what you see in this blog *big grin*

Fret not. The passion is not dead, yet. I still tweets, and recently plussing a lot as well. I still love to thinker with the same subjects that start this blog: marketing dan tech. I just watched a few episodes of Mad Men. It’s nice, which is a good sign. It’s recommended by people in agencies. Means, I’m still on my track with marketing subject.

Okay, to cure your “missing you” of NavinoT, and to fulfill the ‘encore” screams, here I recap some of (well, we’ll see if I can actually managed to write more than one) my posts in G+.

The Future Is Voice

It is interesting to see how lower economical class ppl have left sms and turn to voice, especially the seniors. It’s pretty much in opposite with the phone habit where ppl are afraid the (long distance or cellular) bill.

Maybe the future should have been voice-enabled technology. The telcos should realigning their data-is-future strategy. Those grassroot had helped blowing up twitter and facebook. Only God knows what they’ll do next.

Do you know any startup targetting seniors?

And I got comment from @amasna. YAY! You know you’re good if @amasna pays you a visit. To convince @amasna (and @richardfang) I told ’em I see the trend on the economy buses. I once afraid on using too much phoning, I still do. But those people I see are not afraid at all. Texting is second. There are two probable cause. One, voice is too cheap to meter than text. Second, the qwerty/keypad is just too small for them.

I consider this trend to be “enlighting”. It is a big shift in consumption behaviour. While youngster has been crowned as the most lucrative consumer, the seniors are a niche market. It will always be there. While young consumers are nasty to please (Oh God, just search Twitter on how they yawn, and curse your good enough product), seniors are easily identified by their physical limits. It’s a clear and well defined consumer. A sitting duck. How’s that sound?

Kalau tidak salah, di luar negeri saya pernah baca ada semacam Yahoo! Pipe untuk layanan voice, dan tahun lalu layanan serupa juga dibuat oleh founder lokal. Dua-duanya saya lupa nama produknya. Ada yang ingat?

PS:

In case you didn’t know, commenting on article will push it up. It’s like “Sundul” in Kaskus and “BUMP” in Koprol. Similar to G+ stream.

Photo: http://www.flickr.com/photos/whatmegsaid/3223533904/

Chrome Party Jakarta, What Can You Tell From

Chrome Party Jakarta, What Can You Tell From

Tanggal 22 Juni kemarin saya mendapat undangan untuk hadir di acara peluncuran produk Google. Tidak dituliskan produk apa yang akan diluncurkan. Dan tenyata setelah sampai di sana saya baru sadar ini adalah “chrome party”. Tradisi yang mirip dengan peluncuran Ubuntu terbaru atau Firefox paling gres. Jika Firefox dan Ubuntu sudah punya representasi resmi di Indonesia, lain halnya dengan Chrome.

Chrome Resmi Masuk Indonesia

Ruangan di chrome party diset seperti galeri. Tidak ada lukisan yang dipajang namun sebagai gantinya kita bisa melihat theme Chrome bernuansa lokal yang ditempel di dinding lorong masuk ruangan. Peserta chrome party juga mendapat kesempatan difoto dengan frame Chrome yang memuat halaman Youtube. Hasilnya kita seperti sedang tampil dalam video Youtube, dalam Google Chrome browser.

Ditandai dengan theme sepert Bambang Pamungkas, Benny & Mice, Dian Sastro dan Darbots, Chrome meresmikan eksistensi dirinya dalam komunitas internet Indonesia. Beberapa situs besar juga digandeng lewat penyediaan extension, antara lain: Kaskus, Kapan Lagi, Detik, dan 21Cineplex. berbagai tema lokal tersebut bisa diunduh di halaman resmi Chrome untuk Indonesia: http://google.co.id/chrome

We Are Here Not For Market Domination

Paling tidak begitulah kata Product Manager Chrome untuk South Asia. Dan ini bukan cerita baru. Beberapa kali saya dengar ambisinya memang bukan market domination — walau hasil akhirnya adalah market domination juga. Google is trying to is push the culture and technology. Dengan menciptakan product baru yang keren dan beberapa kali mengubah standar, Google mendorong iklim kompetisi dan akhirnya meningkatkan kualitas standar sebuah lini produk. Google Mail dengan kemampuan offline, javascript intensive, conversation UI dll membuat produsen browser sadar bahwa dengan support teknologi yang baik akan dihasilkan produk yang baik juga. Konsumen juga secara tidak langsung teredukasi untuk meninggalkan browser purbakala. This is how they kill IE6.

Lalu untuk pasar Indonesia, apa yang hendak disampaikan? Mungkin sekedar memberi tahu para pengguna internet bahwa jika mereka sudah akrab dengan GMail, mereka mestinya mencoba Chrome. Chrome is as good as GMail. Google tahu bahwa banyak di antara kita yang tidak bisa membedakan mail client dengan outlook atau gmail atau yahoo mail. Dan juga tak bisa membedakan antara internet, search engine dan browser. Chrome is now your internet 😀

Next Step For Google?

Dominasi Indonesia di dunia intenet internasional sudah sangat terkenal. Langkah perkenalan browser ini hanya testing the water. Google pastinya punya banyak rencana untuk tapping Indonesian market. It’s no brainer. Pemasaran Chrome secara resmi di Indonesia akan menjadi salah satu channel Google dalam mendalami secara langsung market di Indonesia. Dan karena mobile internet sedang tren juga, next step rasanya bakal jadi obvious: Android. Dan layaknya seperti yang dilakukan Google dengan Chrome, Android akan di-push bukan sebagai henpon atau gadget lain tapi sebagai the mobile internet itself.

BTW, hari ini kabarnya jadi hari resmi dimana media partner Google akan promo Chrome versi Indonesia.

PS:

Tema lokal bisa diunduh di https://tools.google.com/chrome/intl/id/themes/index.html

Chrome juga sudah dibundel lewat modem AHA, lho.

BBM is Magical and Unbelievable Application

BBM is Magical and Unbelievable Application

Tahun-tahun ini digadang sebagai tahun social. Lebih banyak orang percaya bahwa keputusan membeli jauh lebih banyak ditentukan oleh teman dari pada iklan. Pengalaman dan testimoni dari trusted circle menjadi salah kunci penting penjualan. Friendster yang dulu jadi tren sesaat kini telah banyak digantikan oleh Facebook dan mengalami transformasi peran luar biasa. Ajaib, ternyata tempat curhat dan ngobrol ngalor-ngidul kini menjadi agen perubahan bagi bisnis dan bahkan cara hidup kita. Kita kini hidup di jaman Socialnomics dimana kehidupan sosial menjadi salah satu unsur pergerakan ekonomi.

BBM is Magical (and Unbelievable) Application

Bayangkan kita bisa mengirim pesan dan gambar ke geng kita. Dan beberapa waktu kemudian, respon berdatangan dan percakapan baru yang mengasikkan langsung terjadi. Ucapan selamat pagi, selamat ulang tahun, koordinasi pekerjaan, cerita seru, semua bisa kita akses setiap saat.

Bukannya Facebook dan milis juga bisa melakukan hal yang sama? Ya, tapi kita akan terhalang oleh aplikasi yang ingin menyajikan newfeed atau antar muka email. Yang terjadi adalah berbalas e-mail, berbalas komentar, masih terganjal sebuah layer tambahan antara komunikan dan komunikator.

Online, online

(Salah satu) Yang menyebabkan BBM menjadi magical adalah karena always on. Tidak perlu menyalakan modem, tidak perlu membuka browser, tidak perlu membuka webmail. Seperti TV. Kita buka, dan kontennya sudah ada di sana. Aplikasi ini seolah menyatu dengan mudahnya dalam bagian aktivitas keseharian.

Friends on the Go

Judul asli artikel ini adalah Friends on the Go. The next best thing setelah always on adalah kita selalu punya teman (person) di kantong kemana pun kita pergi.

Actually, orang-orang tak peduli Facebook atau Twitter. Mereka membeli hape berlogo Facebook dan Twitter bukan karena aplikasinya. Tapi karena teman mereka ada dalam hape tersebut. Sesuai peribahasa “mangan ora mangan sing penting kumpul” yang sangat aplikatif dengan orang Asia, kita selalu ingin berada di mana pun teman kita berada. Karena itu kita follow mereka di Twitter, dan atau berteman di Facebook.

BBM mendekatkan kembali kita pada teman-teman kita, which has been a crucial part of our life. Untuk konsumen Asia, hal ini akan selalu benar sampai kita bisa menemukan makna lain dari berteman.

Mau Inbox Seperti Apa?

Mau Inbox Seperti Apa?

Joyful Day, I'm Inbox Free

Take back your inbox, begitu kata Thunderbird. Tapi saya sudah tidak pernah pakai Thunderbird lagi. Saya sebenarnya suka tapi saya leih mementingkan portability dan availability. Saya lebih suka GMail walaupun sebenarnya Thunderbird bisa mengambil imel lewat IMAP. POP sucks.

Mungkin cerita orang tentang mail client akan mirip-mirip seperti saya. Hanya satu dua fitur utama yang benar-benar tak bsai ditinggalkan. Fitur lainnya, yang dibawa oleh mail client, mau tak mau harus diterima semua kelebihan dan kekurangannya dengan lapang dada.

Sebenarnya mail client seperti apa sih yang kita mau?

Search Don’t Sort

Ini adalah tagline GMail yang merubah perilaku banyak orang dalam berinteraksi dengan e-mail. E-mail memang data yang bertanggal, namun e-mail juga sebuah bentuk conversation. Data tanggal biasanya susah diingat, yang kita ingat adalah keyword percakapan. Oleh karena itu lebih intuitif unutk melakukan search daripada sorting.

Not Just Text

Xoopit adalah salah satu layanan yang saya senangi karena saya bisa menelusuri imel saya dengan cara yang berbeda, berdasarkan attachment gambar. Xobni memperkaya informasi tentang pengirim e-mail dan fitur lain yang lebih person-based. Gist memperkaya e-mail dengan data-data dari social network, menekankan fokus pada membeirtahu apa yang terjadi dengan kontak-kontak kita.

We want a hub

Yang kita monitor tidak lagi imel saja karena kita juga berkomunikasi lewat social network dan social media. Message dari Facebook, Dm dan mentions dari Twitter, dan pesan-pesan lain dari berbagai layanan yang kita ikuti. Memeriksa satu persatu inbox di tiap layanan tentunay tidak efektif. yang ktia perlukan adalah sebuah hub yang akan menampung semua pesan dan mampu menghubungkan pesan-pesan tersebut.

The real value bukan pesan itu sendiri tapi goal yang terpecah-pecah dalam pesan tersebut. Goal bisa berupa diskusi, menentukan tempat, menyusun event, dan lain-lain

Raindrop

Mozilla kembali meluncurkan proyek menarik. Kali ini terkait dengan messaging dan diberi nama Raindrop. Konsepnya mirip dengan hub yang kita singgung di atas. UI-nya belum terlalu menjanjikan. Dalam tahap awal prototype ini, semua message akan dikumpulkan dalam kategori. Tampilannya akan sedikit menyerupai GMail. Mudah-mudahan saja message tidak akan expanded by default karena akan jadi tiresome untuk melihatnya satu per satu.

Yang jadi andalan adalah pengurutan pesan, di mana yang penting akan mendapatkan prioritas. Algoritmanya masih misterius. Namun hasilnya mungkin diharapkan mirip dengan fitur Sort By Magic yang diluncurkan Google Reader baru-baru ini.

Coba, seperti apa mail client yang Anda inginkan?