Browsed by
Category: Stories

Seputar Internet & Teknologi

I Like It Quick

I Like It Quick

what to do?

Ada beberapa strategi yang dipakai produsen film dalam membuat dan memasarkan film yang dibuat. Beberapa membuat film lepas, atau trilogi. Beberapa membuat serial, baik pendek atau yang panjang.

Menurut Anda, mana yang lebih efektif antara serial pendek dan serial panjang?

Better die famous than fade away

Kata-kata terakhir Kurt Cobain ini ada benarnya. Cara membuat orang mengingat produk Anda adalah dengan jalan membuat kisah terbaik lalu mengakhirinya begitu saja. Jangan memberikan kesempatan pada produk untuk berlama-lama di pasar mengeruk profit sampai ke rupiah terakhir. Jangan sampai produk tersebut dinyatakan tak berguna dan tak meninggalkan bekas yang memorable.

Apa yang bisa Anda ingat dari sinetron Tersanjung? Apakah Anda akan menunggu sinetron lain dari rumah produksi yang sama? Beberapa mungkin menjawab tak masalah, namun sekian banyak sisanya mungkin akan menjadi ragu-ragu. Ragu-ragu apakah sinetron baru hanya sekedar jadi usaha murahan yang akhirnya membuat kita kecewa.

There’s an app for that

Ada produk untuk setiap segmen market, demi optimasi profit. Membuat serial yang pendek memberikan kesempatan pada produsen untuk mencoba banyak hal. Tidak hanya terjebak dalam satu ceruk saja, namun bisa mengeksplorasi ceruk-ceruk lain dan memahami karakteristiknya.

Dengan pengetahuan luas tentang pasar, profit hanya soal di mana dan kapan.

No pain no gain

Membuat serial pendek mirip gambling atau sangat berisiko. Jika berhasil maka kita Anda mendapatkan banyak yang kita inginkan. Namun jika gagal, kita akan jatuh dengan sangat cepat.

Untungnya, sudah terbukti bahwa kegagalan adalah jalan tercepat menuju kesuksesan.

Nah, sekarang siapa yang sudah bosan dengan Heroes dan True Blood? Ada yang kangen dengan dorama berdurasi 12 episode?

PS:

Oh ya, sudah vote NavinoT untuk Pesta Blogger Award belum?

Apa saja Isi HTML 5?

Apa saja Isi HTML 5?

HTML 5 Today

Ternyata adopsi teknologi itu perlu waktu yang sangat lama. Di seputaran tahun 2000, seingat saya, adopsi HTML baru saja bertransisi ke versi 4. HTML was all about layout and formatting. Not anymore.

HTML 5 yang saat ini sudah mulai diimplementasikan oleh beberapa browser grade A akan membawa lebih dari sekedar fitur untuk layout dan format halaman. Beberapa di antaranya adalah Canvas dan Video.

Canvas

Dulu, untuk bisa memberikan interaksi menggambar di halaman web kita harus memakai applet Java atau Flash. HTML 5 akan memberikan satu opsi tambahan: canvas. Seperti namanya, canvas adalah media yang bisa dicorat-coret langsung. Tidak lagi perlu memuat plugin khusus. Cukup tambahkan <canvas> dan javascript maka kita sudah bisa menggambar langsung di halaman web. Sekarang Anda bisa berimaginasi sendiri, kira-kira apa saja yang orang lakukan dengan <canvas>. Apa yang sebelumnya jadi monopoli Flash dan aplet Java akan di-take-over oleh <canvas>.

Video dan Audio

Akan ada tag <audio> dan <video> di HTML 5. Jadi tidak perlu lagi menempelkan flash untuk sekedar memutar audio. Format video yang didukung akan bervariasi terhadap browser, kemungkinan besar codecnya adalah Ogg Theora (patent free) dan H.264. Sepertinya sampai sekarang codecnya masih jadi kontroversi.

Local Storage

Masih ingat Google Gears? Sekarang storage untuk browser akan diakomodasi sebagai standard dalam HTML 5. Aplikasi bisa menyimpan data dalam jumlah lebih besar dari biasanya tanpa harus mengimplementasikan trik dengan cookie atau Flash. Tentunya ini kabar baik bagi pengembang aplikasi web. Mungkin bisa meningkatkan performa aplikasi dengan menggunakan storage sebagai local cache. Coba liat detilnya di sini.

Web Workers

Yang ini juga sempat kita nikmati lewat Google Gears. Jika javascript biasanya yang kita nikmati di web kadangkala menyebabkan komputer kita melambat atau paling tidak membuat browser seperti sesak napas maka web worker akan bsia jadi pelega. Salah satu fitur web worker adalah threading. Kini javascript bisa dipakai untuk melakukan beberapa proses sekaligus tanpa harus menghambat proses terkait UI.

Semantics

Nah ini dia. Buat designer yang sering meng-abuse div dan span sebagia elemen nav, fret no more. Akan ada tag khusus untuk navigasi, section, footer, dll. Tag yang kaya semantic seperti ini pasti akan lebih bermanfaat dari pada tag yang hanya punya informasi format dan layout saja. Dan bagi mesin, HTML5 akan jadi lebih bisa dimengerti.

Tidak berhenti di situ saja, nantinya juga akan ada dukungan microformats yang lebih baik dari sekarang ini. Dukungan microformats ini akan memanfaatkan tag dan atribut baru yang diperkenalkan di HTML 5. Tentang microformats, bisa kita baca progress-nya di sini.

Browser Anda sudah siap untuk HTML 5? Test saja di sini.

Jangan Cuma Setengah-Setengah

Jangan Cuma Setengah-Setengah

Drink

Ada apa dengan yang setengah-setengah? Seth Godin berpendapat bahwa yang setengah-setengah itu tidak akan punya tempat di dunia (pemasaran). Satu-satunya jalan adalah produk kita harus benar-benar eksepsional. Eksepsional sangat bagus atau ekseksional sangat buruk.

Kenapa?

Attention is the new currency

Dari dulu, yang namanya attention itu terbatas. Contohnya adalah eyeballs, mata manusia cuma dua dan hanya bisa melihat satu hal dalam satu saat. Oleh karena itu iklan disisipkan ke koran atau majalah demi memperoleh perhatian saat manusia sedang membaca apa yang ingin dia baca. Hal yang sama juga berjalan di televisi dan internet.

Attention telah menjadi mata uang baru. Semua orang berlomba untuk berebut mendapatkan perhatian. Coba tebak, siapa yang bakal mendapat lebih banyak perhatian? Benar. Yang paling nyleneh atau dalam istilah Seth Godin: Purple Cow. Hanya yang terbaik yang akan mendapatkan perhatian. Dan tentu saja yang terburuk juga akan mendapatkan perhatian. Yang terbaik bsia langsung menuai profit sedang yang buruk harus mengubah perhatian yang diterima menjadi penjualan dari produk-produknya setelah diperbaiki.

Lying is not easy

Kabarnya, all marketers are liars. Dalam artian untuk memasarkan sesuatu yang jadi penentu adalah bagaimana seorang marketer bisa menuturkan cerita yang menyentuh hati konsumen.

Jika produk kita bagus, maka menuturkan cerita yang indah tidak akan jadi soal. Semuanya akan terasa natural karena kita tidak perlu berkeringat dingin menambal sulam fakta yang sebenarnya tidak ada. Bagi produk yang setengah-setengah, cerita yang menyentuh sangat susah untuk dibuat karena tidak ada unsur produk yang mampu menyentuh hati konsumen. Bagi produk yang buruk, tak perlu bercerita.

Lalu bagaimana saya tahu produk saya ada di posisi yang mana?

Sebenarnya kita pasti tahu produk kita ada di posisi mana. Pertanyaan paling mudah bisa diajukan: apakah Anda sendiri mau memakainya? Apakah teman dekat Anda mau memakainya? Hanya saja seringkali kita diselimuti over-confidence atau lack of knowledge. Saat hal ini terjadi maka yang harus dilakukan adalah segera luncurkan produk. Reaksi pasar akan menunjukkan di mana produk kita berada. Jangan berlama-lama, segera bergerak setelah tahu posisi produk kita.

Bagaimana jika kita tak mampu membuat produk yang lebih baik karena keterbatasan yang ada. Jangan putus asa, masih ada kesempatan untuk memasarkan produk tersebut. Caranya, tawarkan saja pada pasar yang tak memiliki banyak pilihan. Orang yang haus di gurun tak akan peduli apakah air kemasan yang Anda tawarkan adalah air dari kran atau air mineral Evian asli.

The E-Reader Business

The E-Reader Business

e-reader

Jika berbicara E-Reader, atau membaca buku lewat perangkat elektronik, kita tidak bisa melupakan Kindle dari Amazon. Strategi menyimpang dari Amazon ini telah membawa berkah revenue tersendiri bagi Amazon, sekaligus memperkuat posisi Amazon di jajaran pembuat gadget.

Buku, atau membaca, pada dasarnya adalah bisnis dengan pangsa pasar yang sangat besar. Setidaknya di negeri Paman Sam yang sudah mempunyai budaya membaca sejak kecil. Berkat bisnis menjual buku ini, Amazon sukses di dunia maya dan berkembang menjadi sebuah superstore dengan reputasi yang sangat hebat. Go public pula!

Karena teknologi semakin berkembang, transfer data untuk film antar bioskop sudah bukan masalah lagi. Tentunya secara teori, transfer data buku lewat internet juga tidak menjadi masalah. Para geek tentunya mempunyai impian untuk mengusung buku bacaan setebal 2 centimeter ke format elektronik, dan bisa diisi ulang dengan buku bacaan lainnya. Terbitlah E-Reader macam Kindle dan Sony Reader.

Secara konsep tentunya ini adalah sebuah gagasan jitu. Mengingat penerbit bisa melakukan distribusi secara elektronik, dan harga tiap judul bisa ditekan, karena tidak perlu biaya cetak, serta ramah lingkungan. Pengiriman dan pembelian juga bisa dilakukan secara instan, tidak perlu antri lama di toko buku atau menunggu pengiriman lewat pos.

Namun di dunia distribusi media, selalu ada kendala. Selain penerbit dan artis atau penulis yang berebut royalti, juga isu pembajakan yang tidak pernah berhenti. Seperti yang terjadi di media digital lainnya, seperti lagu (mp3) dan video (dvd).

Mengapa E-Reader?

Bukankah Netbook sudah pantas untuk membaca buku? Mungkin saja cukup. Namun bagi para pembuat gadget, ini bisa disegmentasikan lebih lanjut, untuk menjadi satu kategori produk baru. Yang berarti ada alasan untuk membeli gadget baru dan berarti juga tambahan revenue. Pemikiran ini juga sejalan dengan retailer elektronik, yang juga berarti kesempatan mengeruk revenue baru dengan kategori produk baru.

E-Reader harus ringan dan nyaman digunakan untuk berjam-jam. Lain dengan Netbook yang terkesan tebal dan lebih bertenaga untuk sekedar membaca buku. Namun karena perkembangan teknologi, kategori E-Reader kini semakin merapat ke arah Netbook. Selain Netbook bisa menjadi semakin ramping, E-Reader juga mampu menerima konten lain, tidak hanya buku bacaan, tapi juga lagu dan video.

Berikut ini beberapa E-Reader yang telah dan akan beredar dipasaran:

Amazon Kindle DX (US$ 489)

amazon-kindle-dx

Meskipun bukan yang pertama kali, tapi Amazon mempunyai dukungan toko buku dan customer database yang kuat. Membuat Kindle jadi pemimpin untuk urusan E-Reader. Kindle yang sekarang beredar telah mengalami beberapa kali pembaharuan, dan tentunya lebih menawan dari versi sebelumnya.

Sony Reader Touch Edition (US$ 299)

sony-reader

Sony telah berusaha membidik pasar ini untuk sekian lama. Bahkan sebelum Kindle muncul, Sony telah merilis E-Reader-nya sendiri. Namun karena Sony pada dasarnya berangkat dari sebuah perusahaan elektronik, urusan distribusi masih tidak sehebat Amazon. Versi terakhir juga telah mempunyai fitur layar sentuh untuk mengisi kekosongan pasar.

iRex DR800SG (US$ 399)

irex-reader

Dengan layar berukuran 8.1 inci dan didukung oleh jaringan telekomunikasi Verizon Wireless, pengguna iRex Reader diharapkan bisa menikmati buku bacaannya kapan saja, selama jaringan Verizon Wireless ada.

Samsung Papyrus

samsung-papyrus

Samsung Papyrus yang masih berstatus prototype mulai dipamerkan di bulan Maret. Beberapa pengamat tampaknya masih belum menyatakan begitu menjanjikan dari fitur yang ditampilkan. Tapi sudah pasti Samsung tidak tinggal diam di segmen ini.

Microsoft Courier

msft-courier

Microsoft Courier Menampilkan 2 layar berukuran 7 inci, dan lebih mengarah ke fungsi tablet. Tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga bisa dipakai untuk menulis sebagai input. Dari gambar bocoran yang ditampilkan, terlihat sangat menjanjikan. Dengan catatan operating system berjalan lancar. 🙂

Apple Tablet

apple-tablet

Dengan sukses iPod dan iPhone, Apple tidak mau ketinggalan dan juga melihat E-Reader dan Tablet sebagai peluang. Tablet juga sangat cocok sebagai kelanjutan dari produk dengan layar sentuh. Rumor menyebutkan Apple kini lagi mempersiapkan sebuah tablet untuk tahun 2010.

Bagaimana dengan Indonesia?

E-Readers mungkin bisa dijual sebagai kategori baru, dan alternatif untuk membeli buku import secara instan. Namun dengan budaya membaca yang tidak sebesar di luar negeri, tidak terlalu menjanjikan untuk mengubah buku tradisional ke arah elektronik. Namun dari segala faktor yang ada, pasar Indonesia termasuk mengejutkan. Salah satu contohnya ada produk Apple yang premium, namun sukses merebut hati banyak fans.

Menurut Blog Kindle, Amazon masih belum menyatakan tanda-tanda untuk masuk pasar Indonesia. Semoga tidak terlalu lama lagi.

So, will you buy?

Going with The Flow

Going with The Flow

Starwars Keitai

Menciptakan buzz sendiri itu benar-benar susah. Apalagi jika kita bukan rainmaker atau kepala suku komunitas online. Pada kondisi seperti tersebut ada beberapa hal yang bisa diperhatikan supaya kita juga bisa menjadi trend setter online.

Know what is happening

Langkah pertama adalah mendengarkan dengan seksama apa saja yang sedang terjadi di luar sana. Topik Anda mungkin tentang climate change, tapi Anda juga harus tahu topik politik terkini atau gadget terbaru. Tidak harus tahu dengan detil, namun cukup untuk membuat Anda punya pintu masuk ke topik-topik tersebut.

Jump into the conversation

Setelah Anda tahu channel-channel yang bisa dimasuki, mulainya untuk turut serta dalam perbincangan. Pada tahap awal, Anda sebaiknya tidak langsung mendominasi apalagi langsung memaksa arah perbincangan ke dalam topik Anda. Bicarakan hal yang orang lain suka. Biarkan Anda mengenal mereka supaya mereka mau mengenal Anda dalam perbincangan berikutnya. Saat itulah Anda menunjukkan authority yang Anda punya.

Be best friend with some

Seperti yang banyak orang bilang: it is not what you know but who you know. Jaringan mengalahkan banyak hal. Orang-orang bekerja atas dasar saling percaya. Mereka cenderung memberikan kesempatan lebih banyak pada orang-orang yang mereka kenal atau tahu dengan baik. Beberapa memilih dari yang sudah kenal dan beberapa lainnya melatih orang baru supaya dapat dipercaya.

Menjadi teman baik seseorang akan menghubungkan Anda dengan apa yang Anda cari: kesempatan berdiri di sorotan lampu.

Going with the flow

Tiga poin di atas akan susah untuk dilakukan jika Anda senantiasa menentang arus. Anda tidak bisa menutup telinga dari hal lain kecuali climate change karena Anda tidak bisa selalu mengawali percakapan dengan “tahukah Anda bahwa Jakarta akan tenggelam tidak lama lagi?”

Anda tidak bisa terus-menerus bercakap tentang climate change saja karena tidak banyak orang yang ingin berbicara tentang satu hal saja tanpa henti dan tanpa variasi. Dan Anda perlu waktu lama untuk sampai di panggung rainmaker tanpa kenal orang yang tahu jalan ke sana dan orang yang menentukan siapa yang boleh naik ke atas panggung.

Tapi, going with the flow berarti menyerahkan semua yang Anda inginkan dan memenuhi banyak keinginan orang. Namun jangan salah jalan, saya tidak berbicara tentang penyuapan. Saya berbicara tentang: bergabung saja dengan buzz yang sudah ada jika memang susah membuat buzz sendiri. If you can’t create one, join one.

Freemium Tidak Akan Pernah Mati

Freemium Tidak Akan Pernah Mati

freemium_tidakakanpernahmati

Model bisnis freemium bisa dipastikan akan terus bisa bertahan dan tidak akan pernah mati, walaupun di awal tahun ini ada pendapat yang mengatakan bahwa freemium tidak bisa berjalan. Saya menjadi terusik ketika membaca salah satu posting di blog MailChimp, (sebuah aplikasi web untuk melakukan pemasaran melalui email). Intinya posting itu mengatakan…

Kenapa tidak dari dulu MailChimp menggunakan model freemium?, dan baru sekarang MailChimp menggunakan model ini, hasilnya adalah peningkatan jumlah pemakai gratisan, tentu dengan harapan minimal 5-15% pengguna gratisan akan konversi ke layanan premium nantinya.

Memang ada beberapa kriteria yang harus di penuhi jika ingin menggunakan model ini. Tapi di jaman yang serba berkelimpahan akan pilihan seperti sekarang ini, model freemium menurut saya masih merupakan jalan yang terbaik untuk web startup.

Batas yang jelas antara Free dan Premium

Sebaiknya kita memulai dengan memberikan batasan dan pilihan yang jelas antara yang gratis dan berbayar, beserta dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hal ini akan menanamkan ke benak pengguna yang hanya coba-coba dan yang mempunyai potensial, sehingga pada saatnya nanti mereka akan memilih layanan berbayar, mereka tidak akan ragu.

Biarkan Mereka Mencoba dan Merasakan

Inti dari model ini adalah mencoba, jika kita meluncurkan suatu layanan baru dan langsung menggunakan sistem berbayar, bisa dipastikan layanan kita tidak akan ramai. Seperti yang saya sebutkan tadi, pilihan pengguna sudah banyak sekali, kalau ada yang gratis kenapa mereka harus membayar? Biarkan mereka mencoba dan mengalami sendiri layanan tersebut, sehingga mereka tahu kualitas dari aplikasi/layanan tersebut.

Memupuk Ketergantungan

Selanjutnya kita menciptakan ketergantungan pengguna terhadap layanan kita, ini merupakan trik freemium yang sesungguhnya. Layanan yang kita buat harus bersifat adiksi. Contoh yang paling mudah adalah layanan online file storage/sharing, bagi para pekerja online yang sering mengirim file berukuran besar tentu sangat berguna, trik yang biasa di lakukan adalah membatasi space penyimpanan file. Yang gratis hanya 2gb, dan yang berbayar bisa sampai 25gb. Trik ini bisa di terapkan di layanan apapun, pembatasan akan sesuatu yang penting akan menciptakan adiksi dan eksklusifitas secara tidak langsung.

Berikan Layanan Hebat dan Konstan

Ada beberapa web startup yang membatasi layanan konsumen juga — yang gratis akan dapat pelayanan biasa-biasa saja, dan yang berbayar akan mendapatkan prioritas layanan yang baik. Menurut saya, untuk masalah layanan konsumen, jangan dibeda-bedakan. Layanan untuk yang gratis harus tetap hebat dan layanan untuk yang berbayar harus lebih hebat lagi. Karena selain fungsi aplikasi dan ketergantungan, layanan konsumen juga memainkan hal penting yang transparan. Siapa yang tahu pengguna gratisan akan konversi dalam waktu seminggu hanya karena dia puas terhadap pelayanan yang hebat?

Sebagai bahan untuk berdiskusi, kira-kira menurut Anda, apakah freemium bisa berjalan atau tidak di Indonesia?

Yang paling berpotensial adalah layanan file storage/sharing dengan server lokal, saya melihat ada beberapa yang sudah menerapkan tetapi masih takut-takut, mereka menamakan layanan berbayarnya sebagai donatur/donasi, namun fitur yang didapatkan oleh donatur masih belum cukup untuk membuat pengguna gratisan ikut menjadi donatur juga (termasuk saya).

Perlu sedikit keberanian lebih-kah untuk menggunakan model freemium?

Seberapa Jauh Kamu Melihat ke Depan?

Seberapa Jauh Kamu Melihat ke Depan?

Netflix

Netflix, berdiri sejak tahun 1997 dan memulai usahanya dengan rental DVD. Bukan rental DVD biasa, namun rental dengan biaya flat dan dikirimkan di mana pun Anda tinggal. Cukup ambisius mungkin untuk tahun 1997 di mana tren rental masih mengharuskan konsumen datang dan meminjam di outlet penyedia layanan. Belum lagi jika DVD-nya tak punya batas waktu pengembalian. Saya bisa lihat dahi Anda berkerut-kerut di sana. Netflix hanya membatasi jumlah maksimal DVD yang boleh Anda simpan setiap saat, tergantung jenis langganan yang Anda bayar.

Sepuluh tahun berlalu, dan kini Netflix sudah merambah ke delivery DVD lewat Internet. Tidak dengan hardware khusus, namun dengan menyediakan layanan yang tersedia di berbagai macam media mulai dari Disc Player, TV sampai dengan XBox.

Lalu, apa yang menarik dari Netflix?

Yang pertama adalah soal visi. Jika kita mendirikan rental DVD baru, kira-kira nama apa yang akan kita berikan? Studio One? Snoopy? Seberapa jauh visi yang kita pakai sebagai panduan ke depan? Reed Hastings (CEO Netflix) tidak mengambil nama DVD by Mail yang sebenarnya pas sekali dengan apa yang ditawarkan usahanya saat itu. Pemilihan nama Netflix menggambarkan visi Hastings tentang masa depan usahanya. Bahwa suatu saat nanti, pengiriman lewat post akan digantikan dengan internet. Hastings mungkin sudah melihat tanda-tanda ini walau mungkin saat itu masih berupa proof of concept yang hanya bsia dinikmati sebagian kecil orang saja.

Yang kedua. Netflix sebenarnya sempat punya ide membuat player khusus untuk layanan streaming-nya yang waktu itu sudah populer lewat PC. Namun tak lama sebelum peluncurannya, rencana ini dibatalakan karena Hastings merasa konsumen tidak akan menyukai tambahan peralatan elektronik lain di antara DVD player, game console, dsb. Netflix Player akhirnya di-spin off, dibawa ke perusahaan lain bernama Roku.

Alih-alih mengembangkan hardware, Netflix berfokus pada strategi awalnya yakni mengantarkan DVD ke konsumen. Tidak hanya membatasai diri lewat PC, Netflix memperluas layanannya supaya tersedia langsung di televisi, game console, laptops, dan bahkan smartphone. Alih-alih mecoba menawarkan barang baru, Netflix menginfiltrasi semua hal yang mungkin telah dipunyai konsumen. Netflix is everywhere.

Lesson learned? Teknologi yang saat ini masih berupa prototipe atau dimiliki organisasi besar tertentu, suatu saat akan menjadi mass product. Saat hal itu terjadi, Anda bisa berdiri di sana terlebih dulu. Caranya tentu saja kita harus berpikir cukup jauh ke depan. Pada suatu titik, mungkin kita akan tergoda untuk membanting setir demi mengakomodasi kesempatan yang tampaknya menggoda seperti saat Netflix hendak meluncurkan Netflix Player. Tapi konsistensi rupanya bisa berbuah manis. Ada kesempatan besar yang terselubung di depan. Jika saja Netflix berfokus ke player-nya saja, mungkin Netflix tak akan bisa mendominasi layanan video on demand seperti sekarang ini.

Jujur saja, ini tampak seperti cerita indah yang biasa kita dengar dari orang yang sukses. Hei cerita ini mungkin berguna saat kita bimbang atau sedang memerlukan inspirasi.

Jadi, seberapa jauh Anda memandang ke depan?

Aktif di Facebook Fans Page

Aktif di Facebook Fans Page

fbfans

Facebook semakin ramai saja, tidak peduli untuk pertemanan, promosi, atau jual beli. Facebook sendiri mempunyai banyak fasilitas yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan tersebut. Beberapa bahkan gratis!

Satu di antaranya adalah Facebook Fans Page. Dari namanya, layanan ini diperuntukan bagi sesuatu yang mempunyai potensi penggemar. Beberapa contohnya adalah profil situs, selebriti, produk, atau profil bisnis.

Read More Read More