Browsed by
Category: Tips

Panduan nyata siap praktek

Don’t Start Any Startup!

Don’t Start Any Startup!

Yeah. Sudah bisa dipastikan saya mendapatkan mata Anda membelalak ke arah saya. What the ef?! Kenapa tidak boleh membuat startup? Bukannya ini yang sedang sama-sama kita galakkan? Buat startup, dapatkan keuntungan, be satisfied (and rich). Anda cuma salah di langkah pertama saja.

Darimana Ide Datang

Pada saat kita merencanakan sebuah startup, ada dua tempat mencari ide untuk diwujudkan ke dalam sebuah produk. Tempat terdekat untuk mencari adalah lewat pengalaman pribadi. Dalam aktivitass sehari-hari pasti kita menemukan sesuatu yang tidak memuaskan. Entah karena ada sesuatu yang broken atau justru malah sama sekali tidak ada. Andaikan artikel blog bisa ditulis otomatis hanya dengan menyediakan keyword. Andai pageview situs tak dipengaruhi SEO. When you need it, probably someone else will need it as well. Sekarang jika Anda bisa membuatnya sendiri, that’s even better.

Ide juga bisa muncul dari hasil pengamatan aktivitas orang lain. Sepertinya kawan Anda yang bertitel otaku mengalami kesulitan untuk mendapatkan barang koleksi dari Jepang, oh FlutterScape. Seorang teman lain yang maniak diskon tampaknya akan senang jika ada tempat terpusat untuk informasi segala jenis diskon, oh AdaDiskon.com. Kita tak tahu pasti apa yang mereka butuhkan, tapi kita bisa mengira-ngira 80% spesifikasi kebutuhan tersebut.

Kenapa Dilarang Bangun Startup?

Paul Graham menasihatkan supaya kita fokus pada ide. Jangan fokus pada membangun perusahaan terlebih dulu. Jika dipikir memang banyak keuntungan berfokus pada ide saja.

Pertama, kita akan punya banyak kesempatan untuk melakukan testing atas lebih banyak ide. Jika kita terburu, ide pertama mungkin langsung kita ajukan ke investor. Padahal ide tersebut setelah dicoba sendiri akan gagal dalam waktu singkat. Dalam kisah perjalanan Tokopedia, 2 tahun barulah ide mereka bisa direalisasi. Dalam dua thaun tersebut saya yakin banyak terjadi penyempurnaan ide lewat diskusi atau pemasukan variabel peristiwa dunia e-commerce sepanjang tahun.

Kedua, ide itu tak langsung akan jadi besar. Jadi jika kita terburu-buru, ada kemungkinan kita akan merugi banyak. Paul Graham bilang, ide yang bagus pertama kali akan dicemooh orang. Entah dianggap sebagai mainan atau sama sekali tak diperlukan. Berfokus pada ide membuat kita berpikir realistis. Start small. Bertumbuh secara incremental. Jika kita terburu-buru, mungkin kita akan berakhir seperti Friendster :D. Terlibas oleh (buku tahunan) Facebook yang tak pernah ditujukan untuk global social network.

Organic Growth

Berfokus pada ide berarti mengandalkan organic growth. Sebagai generasi early adopters, hal ini tidak susah untuk kita laksanakan. Early adopter berarti kita selalu menjadi yang nomor satu dalam hal mencoba hal baru. Ini berarti kita juga menjadi yang pertama mengetahui atau bisa menebak apa yang masih tidak sempurna sekarang atau dalam beberapa tahun ke depan.

So, work on your ideas. Know what you need. Build it yourself. Don’t touch that business plan just yet!

Work On Why

Work On Why


Saya punya produk keren yang bisa mengarsipkan timeline Anda, mengelompokkannya dalam kluster entitas seperti Google, iPhone, etc. Anda mau membeli produk saya?

Sebagian mungkin ingin mencoba, sebagian lagi bertanya: kenapa harus membeli?

Kenapa Anda membeli produk Apple? Karena produknya bersinar, enak dipakai dan keren? Memang benar. Tapi itu rasionalisasi. Kalau ada produk tanpa logo Apple namun sama bagusnya dengan produk Apple, apakah Anda masih mau membelinya?

Kenapa saya memakai Linux setiap saat? Karena Linux membuat saya jadi benar-benar powerful. Ini juga sebenarnya rasionalisasi. Ada banyak produk lain yang juga bisa membuat saya powerful. Mac OSX juga turunan Unix.

Masih ingat bahwa konsumen sebenarnya sudah membuat keputusan membeli produk bahkan sebelum dia melihat produk Anda?

Perilaku manusia ditentukan oleh bagian otak yang mewakili pertanyaan “Why”. Proses rasionalisasi lewat bahasa dan logika dilakukan oleh bagian otak yang mewakili pertanyaan “How” dan “What”. Why terletak di bagian paling dalam, How diluar Why dan What berada di lapisan paling luar.

Kebiasaan kita berpikir adalah memulai dengan What, kemudian How, barulah terakhir menjawab pertanyaan Why. Why tidak bisa dijawab dengan rumus matematika karena Why adalah pertanyaan yang tak bisa dijawab secara rasional. Kenapa ada orang yang tak pernah mau masuk jalur busway, dan ada orang yang terkadang masuk jalur busway?

Jawabannya adalah bukan karena jalur busway itu berbahaya bagi kendaraan lain. Bagaimana jika jalur tersebut kosong, atau belum terpakai? Kenapa orang tetap saja tidak mau masuk jalur tersebut? Karena Anda percaya bahwa Anda memang tidak boleh lewat situ.

Ada keputusan-keputusan kita yang bahkan kita sendiri tidak bisa menjelaskannya. Satu-satunya kalimat yang kita pakai adalah: because it feels right.

Ada yang disebut pemimpin (memegang kekuasaan) dan ada yang disebut orang yang memimpin (menginspirasi). Orang yang memimpin, seperti Steve Jobs, Bill Gates, dan Linus Torvalds menginspirasi kita. Kita membeli produknya bukan karena fitur tapi karena kita percaya pada mimpinya.

Kita membeli mimpi mereka. Selalu.

Tak percaya? Coba saksikan penjelasan yang lebih renyah di presentasi TED ini.

PS:
Thanks a bunch to @ronaldwidha of temanmacet.com for pointing me to this awesome material. You should really follow him and his awesome tech podcast.

How Many Days To Move A Button?

How Many Days To Move A Button?

Joel did it again. Kali ini Joel menulis tentang bahaya yang terjadi akibat overcommunication dalam suatu organisasi. Pernahkah Anda mengisi kolom cc sebuah surel? Seberapa sering? Ataukah hampir untuk semua pekerjaan Anda?

The Founder’s Garage

Cerita sebagian besar kesuksesan brand bisanya berawal dari garasi. Dua orang yang idealis dan berapi-api berusaha memecahkan masalah dunia. Segala jenis isu terkait pencarian solusi dipecahkan bersama. Tidak ada rahasia di antara keduanya. Keduanya bisa saling menggantikan peran walaupun ada keahlian yang menjadi pembeda.

Micromanagement

Setelah sukses di garasi, dua orang founder di atas mulai memiliki kantor dan menambah pegawai. Supaya nilai customer satisfaction jadi tinggi maka dua orang founder ini selalu mengawasi pekerjaan pegawainya. Setiap proses pembuatan keputusan harus diketahui founder. Desain produk baru, rencana marketing dan eksekusinya, semua harus dikonfirmasi. Dengan lima orang pegawai, proses pengawasan ini masih efektif. Namun ketika pegawai bertambah banyak, dua founder ini seperti mengerjakan pekerjaan semua orang.

Overcommunication

Obrolan tentang segala hal yang dulunya bisa terlaksana dengan komposisi dua orang menjadi tidak efektif ketika jumlah orang sudah mencapai 10 lebih. Seringkali kita meminta pendapat dari banyak atau semua orang dalam memutuskan sesuatu. Ketika rapat, kita mengundang banyak orang dari berbagai departemen untuk membahas suatu hal. Dengan banyaknya orang kita berharap semua bisa saling melengkapi dan membantu.

Harapan kita memang seperti itu tapi yang terjadi sebenarnya adalah semua orang yang seharusnya tidak ikut dalam rapat tersebut telah membunuh produktivitas. Atau ketika kita melakukan cc ke berbagai alamat surel, semua yang tidak perlu membaca surel tersebut sebenarnya sudah terdistraksi.

Semakin kecil sebuah tim, semakin kecil pula ongkos komunikasi. Menambah satu orang ke dalam tim berarti menambah ongkos komunikasi. Menambahkan C ke dalam tim yang berisi A dan B berarti membuat A harus berkomunikasi tidak hanya dengan B tapi juga dengan C. Menambahkan D dan seterusnya akan membuat graph komunikasi menjadi semakin kompleks. Akhirnya produktivitas akan terkalahkan oleh keperluan untuk berkomunikasi.

Oleh karena itu, dalam organisasi dengan jumlah anggota yang banyak akan dibentuk departemen atau tim dalam rangka mengurangi ongkos komunikasi. Akhirnya diperolehlah bentuk struktural di mana koordinasi bisa dibatasi pada orang-orang yang memang berkepentingan. Dan pada prakteknya, jumlah departemen dan struktur ini pun harus dibatasi supaya tidak terjadi overcommunication antara departemen dan juga communication lag akibat terlalu dalamnya struktur.

Sebagai tes, sepertinya menarik untuk dicoba seberapa lama waktu yang Anda perlukan untuk memindahkan sebuah tombol di website Anda?

Baca artikel lengkapnya di sini

Yang Tak Terlihat Seksi

Yang Tak Terlihat Seksi

Ketika sedang mencari ide tentang startup, pikiran kita pasti segera berputar untuk mencari suatu hal baru. Hal yang tak pernah dikerjakan orang. hal yang bisa diselesaikan dengan teknologi. Hal yang bisa dupermudah dan difasilitasi dengan aplikasi web atau dekstop baru. Sisanya? Emangnya ada yang lain?

Teknologi Is Not The Whole Package

Seringkali, kita terjebak pada solusi parsial. Dengan twitter misalnya, kita bisa mengumpulkan insight tentang brand dan produk. Tulis saja kode untuk mengambil kata-kata kunci tertentu dari twitter search dan kita pun bisa memasarkan kode tersebut sebagai Brand/Product Monitoring Tool. Kita mengira produk tadi sudah jadi segalanya.

Salah, value yang diperlukan pemilik brand masih jauh keluaran produk kita tersebut. Angka-angka masih harus diterjemahkan dalam unit yang bisa direlasikan dengan komponen lain dalam rumusan formula performa brand. Dan prosesnya tidak berhenti di sana saja.

Proses yang tak tampak ini justru lebih rumit dan jadi pain point dari pemilik brand. Sayangnya tidak banyak yang memberikan solusi, padahal nilai komersialnya pasti besar.

Support is Sexy

Bidang industri support semacam hotline dan call center tampak tidak menarik. Tak tampak ada sesuatu yang baru atau breaking thru. Padahal support adalah salah satu gerbang dari retaining customer, namun hal utama ini malah sering terlupakan atau tak terurus oleh banyak produsen.

Jangan salah, support tidak hanya terbatas pada call center dan hotline. Layanan semacam GeekSquad juga patut dilirik. Aplikasi Opensource yang begitu banyak itu masih membuka pintu lebar bagi siapa saja yang ingin memberikan jasa support. Tidak sekedar install OS, namun bisa lebih spesifik ke aplikasi, performa atau integrasi.

Di antara kita pasti ada yang tahu bagaimana mengoptimalkan kombinasi LAMP. Tentunya hal ini bisa jadi tawaran menggiurkan bagi startup yang sedang naik daun. Apakah benar setiap ada lonjakan pengguna baru kita harus menambah server supaya sekedar tidak collapse? Sell your expertise!

Solve Something!

Ada banyak urusan yang terlalu merepotkan untuk dikerjakan sendiri. Oleh karena itu ada industri outsource. Fokus pada masalah yang dihadapi seseorang, tanyakan pada diri sendiri bagaimana saya bisa membuatnya jadi lebih menyenangkan bagi pemilik masalah.

Mungkin ada pihak Bank yang kesusahan dalam mengurusi reward bagi para nasabahnya. Kita bisa jadi perusahaan logistik yang mencoba memecahkan masalah ini. Dan seterusnya. Dan kita selalu bisa memulainya dari skala kecil.

The Power of Inconvenience

The Power of Inconvenience

Produk selalu dikaitkan dengan emosi konsumen. Semakin produk punya koneksi dengan konsumen, semakin besar kemungkinan produk tersebut dikonsumsi. Setiap orang punya sejumlah aturan dan standar kenyamanan. Kenyamanan ini menjadi titik pangkal emosi. Lalu apa yang bisa kita lakukan dalam menyikapi peluang ini?

Ciptakan Keterasingan

Pasarkan Blackberry atau Cumiberry. Pastikan sekelompok besar orang punya akses terhadap produk ini. Lambat laun, satu atau dua orang yang tidak memakai akan merasa terasing dan tidak menjadi anggota komunitas besar. Populerkan twitter dan facebook, buat ABG se-jakarta menjadi gelisah karena belum membuat akun di layanan social network ini. Setelah itu bentuk imej yang mengasosiasikan produk kita dengan twitter dan facebook. Tiru dan ulang untuk tipe-tipe produk lain.

Manusia adalah makhluk sosial. Menjadi terasing adalah tidak nyaman. Berapa banyak dari Anda yang beli kamera DLSR karena merasa terasing?

Ciptakan Perasaan Bersalah

Apakah Anda sudah ikut kampanye ‘hijau’? Terlepas dari peranan kampanye hijau dalam menghambat penghancuran bumi, kampanye hijau adalah salah satu metode efektif untuk menjual produk. Kapan lagi Anda bisa membuat konsumen yakin untuk membeli kantung hijau yang awet dipakai namun tak selamanya bisa dipakai?

Produk kita pun bisa lebih bersinar dengan menempelkan logo ‘hijau’. Logo ‘hijau’ ini  menjadi obat yang dicari konsumen untuk menghilangkan rasa bersalahnya akibat mengkonsumsi produk-produk lain yang menyumbangkan polusi. Dengan adanya produk hijau, kita semua menjadi merasa bersalah karena melakukan perbuatan amoral terhadap bumi.

Nobody is Perfect

Kulit yang tidak putih, bau badan yang kurang sedap, rambut yang kurang keren. Semua orang  punya keluhan dengan dirinya. Ini adalah satu ceruk besar yang bisa dipenuhi oleh produk kita. Hal terpenting adalah soal feel. Soal efek riilnya sendiri tidak terlalu jadi masalah. Begitu seseorang telah memakai suatu produk, akan ada sugesti yang mengatakan bahwa dirinya sudah menghilangkan satu nilai minus tentang dirinya.

Ciptakan Nilai Baru

Apabila beberapa contoh di atas tidak mencukupi, kita bisa menciptakan nilai lain. Yang penting efeknya adalah memberikan perasaan tidak nyaman dan sesuatu yang kurang pada konsumen. Buka saja kamus bahasa Indonesia dan catat semua kata sifat yang bisa kita temukan. Pilih satu kata dan mulai kerjakan strategi marketingnya.

Kurus? Mau olahraga saja? Dream on. Sudahkah Anda membuat konsumen Anda tidak nyaman? Saya sedang membuat Anda tidak nyaman jika tidak membaca NavinoT setiap hari.

When Will We Have Mobile Year?

When Will We Have Mobile Year?

Satu pemain membuat gebrakan, mau tak mau yang lain akan turut serta. Dimulai dengan iPhone, kini semua percaya bahwa there’s more that meet the eye dalam ekosistem smartphone.

Powered by Android

Jika yang lain membuat OS yang eksklusif untuk dipakai dengan hardwarenya sendiri, Android malah melakukan langkah yang berbeda. Android kini sudah dipasang di banyak hardware yang berasal dari vendor yang berbeda-beda. Tentu saja efeknya luar biasa. Yang dulunya hanya mampu membuat hardware saja, kini bisa meluncurkan produk komplit yang mampu bersaing dengan produk lain.

Tentunya ini juga jadi kesempatan bagi pasar dalam negeri untuk turut bermain. Kebutuhan kita dengan konsumen negara lain tentunya berbeda. Karena Android cukup opensource, ada banyak kesempatan bagi pemain lokal untuk meng-enhance produknya. Mungkin ditambahkan modul khusus untuk memberikan karakteristik pada produk. Atau memberikan integritas lebih pada keseluruhan produk.

Value shifting

Yang berharga dari iPhone, tanpa bisa disangkal adalah OS yang dipakai. OS ini menambahkan berbagai macam fitur breaking through yang membedakannya dari produk lain. Ditambah dengan kehadiran App Store, ekosistem iPhone menjadi lengkap dari end-to-end.

Namun hal tersebut tak mungkin akan berlangsung selamanya. OS lain akan segera menyusul. Walau value yang ditawarkan tidak sama persis, konsumen tetap akan bisa menerima. Dari poin ini, OS tidak akan terlalu signifikan lagi. Value akan bergeser ke fitur dan layanan lain misalnya App Store. Dan tidak menutup kemungkinan akan ada inovasi lain untuk meningkatkan value smartphone bagi pengguna.

Indonesia Selalu Berbeda

Paling tidak klaim ini berlaku dahulu. Kini perilaku konsumen sudah mulai terlihat arahannya. Bisa kita anggap lebih aligned dengan selera pasar internasional. Lebih mudah ditebak karena akses informasi kita dan konsumen luar negeri sudah tak terlalu berbeda. Jika mereka bisa memonitor gadget apa saja yang diluncurkan di CES hari ini, kita juga bisa melakukan hal yang sama. Pikiran kita, tak jauh berbeda dari konsumen-konsumen lain.

Kali ini tidak akan ada banyak misteri. Jika satu layanan bisa booming di luar negeri, berarti tinggal tunggu waktu saja bagi layanan tersebut untuk populer di sini. Selama tren yang dibawa masih terkait dengan aktivitas interaktifitas (komunikasi antar warga internet) dan bsia dipakai untuk menunjukkan “this is me”, berarti masih ada peluang untuk meraih sejumlah besar konsumen di dalam negeri. Lihat saja formspring.me yang tampak lebih hype dari Yahoo Answer. Padahal konsepnya tak berbeda.

What’s Next

Tampaknya booming smartphone tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Harga hardware penyusunnya semakin menyusut. Tentu tak terbayang sebelumnya, bagaimana smartphone bisa punya prosesor 1 GHz. Dua tiga tahun lalu, laptop dengan memori sekian tergolong sudah high-end. Kini kita terjengkang karena hape kita sudah sekuat laptop dua tahun lalu.

Ini saatnya kita berpikir tentang kebutuhan lain. Something big! We know where it’s going to end. It’s gonna be cheaper, so don’t hold yourself from wasting it. Let’s have a mobile trend this year!

It All Begins With A Story

It All Begins With A Story

Fairy Tale

Konsumen selalu punya pendirian dan keyakinan sebelum membeli. Konsumen sudah punya cerita tentang apa yang akan terjadi sebelum membeli. Kita bisa mengikuti cerita ini atau memilih membuat cerita baru yang lebih hebat.

Cerita yang mana?

Bayangkan satu skenario dimana seorang pengunjung akan meninggalkan komentar di blog kita. Pengunjung datang, membaca artikel kemudian mengisi nama, email dan website. Setelah itu baru pengunjung bisa menulis komentar. Well, memang sudah seharusnya seperti itu prosedurnya.

Tidak adakah skenario lain? Bagaimana dengan pengunjung datang kemudian membaca artikel lalu dengan nyaman langsung meninggalkan komentar? Ya, kita tidak perlu mengisi apapun kecuali komentar yang memang menjadi inti aktivitas pengunjung. Ada dua perbedaan dalam dua skenario di atas. Yang kedua menghilangkan bagian mengisi identitas dan menambahkan kata nyaman. Nyaman sebelumnya tak pernah ada dalam cerita konsumen, namun di sini kita bisa memilih untuk menambahkannya.

Coba lihat video di bawah ini. Simak betapa banyak cerita ekstra yang ditambahkan oleh Apple pada produk-produknya.

Where should we start?

Tentu saja dengan cerita yang hebat. Semakin hebat ceritanya, semakin besar punya usaha yang diperlukan dalam mewujudkan cerita tersebut. Jadi yang harus turut kita pikirkan sewaktu membuat produk atau layanan, selain fitur, adalah bagaimana fitur-fitur ini bisa dirangkai untuk menuturkan cerita hebat pada konsumen. Jika Anda gagal membuat cerita, bisa dipastikan ada yang masih kurang dalam produk Anda.

Untungnya cerita yang hebat tidak selalu datang dengan bungkus yang besar. Cerita yang hebat bisa datang dalam bungkus yang kecil atau sederhana. Sebuah cincin dan ajakan menikah yang tulus, punya cerita yang hebat pada pasangan kita. Perkara berupa berlian dan diikuti sertifikat rumah, itu improvisasi kita untuk membuat cerita tersebut jadi lebih hebat lagi.

How to tell a great story?

Yang pertama, pick a person. Kita harus tahu kepada siapa kita bercerita. Semakin personal, maka dampak cerita akan lebih terasa. Bayangkan bercerita di dalam kelas dengan 40 murid dengan kelompok keil beranggotakan lima orang. Semakin dikit pendengar semakin bisa kita berkonsentrasi dan bekomunikasi demi mewujudkan cerita yang hebat. Karena itulah word-of-mouth relatif lebih berhasil daripada iklan di televisi.

It’s not all about naration. Cerita punya banyak unsur, termasuk cara bertutur. Kisah akan jadi lebih hidup jika kita mampu menampilkan emosi-emosi yang terlibat di dalamnya.

Sekarang, coba, apa cerita produk Anda?

About Design Pattern

About Design Pattern

designpattern

What is Design Pattern

Design pattern adalah serangkaian solusi setengah jadi yang bisa digunakan ulang. Dalam konteks web umumnya dipakai dalam penerapan navigasi atau alur penggunaan suatu situs, agar lebih nyaman dan ‘masuk akal’ bagi penggunanya.

Some Examples

paging

Paging – Halaman hasil pencarian dengan puluhan, atau bahkan ratusan, halaman perlu ditata sedemikian rupa, sehingga pengguna bisa mengetahui berapa halaman yang telah dijelajahi, dan berapa halaman lagi yang perlu disimak.

Salah satu solusinya adalah memberi tanda khusus halaman sekarang dan menunjukkan total halaman yang ada. Pengguna harus bisa beranjak ke halaman awal, halaman sebelum atau sesudahnya, serta lompat langsung ke halaman terakhir.

form

Registration Form – Kiranya mana yang lebih efektif, label di atas, di bawah, atau di samping sebuah field? Bagaimana semestinya sebuah pemberitahuan ditampilkan atas kesalahan input? Di bagian atas atau bagian bawah formulir?

Why You Should Use It?

Faster Development – Dengan adanya solusi yang setengah jadi, waktu yang dibutuhkan untuk pengembangan user interface bisa dipersingkat.

Field Tested – Sebuah solusi bisa dianggap sebagai sebuah design pattern, bila telah diuji dan terbukti kesuksesannya. Namun sayangnya tidak selalu gampang untuk mengukur kesuksesan dari solusi ini.

Flexible & ReusableDesign pattern biasanya muncul dalam bentuk yang setengah jadi. Selain bisa digunakan ulang, design pattern termasuk fleksibel untuk disesuaikan dengan kebutuhan.

Part of Design Quality – Suatu desain yang sukses bukan hanya sebatas indah dipandang, tapi juga nyaman untuk digunakan. Penerapan design pattern yang benar akan meningkatkan kualitas dalam penggunaan produk. Tentunya juga mempengaruhi kualitas desain secara keseluruhan.

Few Things to Remember

Design is about solution – Peranan design dalam suatu web adalah memberikan solusi, agar informasi yang berusaha disampaikan tidak terhalang oleh faktor lain, seperti navigasi yang ribet. Sekali lagi, design bukanlah seni semata.

Doesn’t apply to every case – Dari segala design pattern yang telah ada, tidak bisa dicomot langsung tanpa tahap penyesuaian yang layak. Untuk beberapa kasus, solusi yang ada bahkan tidak bisa digunakan. Oleh karena itu amati, dan jangan dipaksakan, bila memang tidak pantas untuk digunakan.

Some Resources

Berikut beberapa situs tentang design pattern yang bisa dijadikan panduan:

Apa pendapatmu tentang design pattern? Sudah digunakan? Apa benar menghemat waktu?

Software House and Customization

Software House and Customization

Siap Pakai atau Siap Kustomisasi

Jika Anda adalah seorang sproduct manager suatu software house, apa yang akan Anda tawarkan pada calon pembeli? Produk yang siap pakai atau produk yang siap dikustomisasi?

Produk Siap Pakai Dong!

Memang harus siap pakai. Produk yang ditawarkan siap pakai tidak akan memerlukan biaya kustomisasi yang bisa membengkakkan harga produk. Dengan produk yang siap pakai, klien tidak akan memerlukan waktu tunggu untuk segera memakai produk. Time is money, so they said.

One size to rule them all?

Idealnya memang siap pakai. Tapi tidak mungkin produk Anda bisa siap pakai untuk semua keperluan. Semakin banyak fungsi yang ditawarkan produk, semakin sulit punya untuk mengakomodasi keinginan setiap calon klien. Kecuali Anda membuat produk yang punya suatu standar, Anda tak akan pernah bisa menghindar dari kustomisasi.

Standing in the middle?

Kata orang yang bagus itu yang di tengah-tengah.Ini berarti produk kita harus siap pakai dan juga siap dikustomisasi. Salah satu caranya adalah dengan melakukan sinkronisasi setiap kustomisasi yang terjadi di klien ke dalam produk utama. Tidak semua perubahan namun setiap hal generik yang bisa digunakan untuk meng-improve produk utama.

Tapi itu teorinya. Riilnya sendiri susah untuk diterapkan. Anda minimal harus punya tim terpisah untuk kustomisasi dan pengembangan produk. Atau harus punya cukup jeda waktu antar proyek dalam rangka sinkronisasi fitur kustomisasi dengan produk utama.

Banyak yang terjebak di posisi tengah ini. Proses kustomisasi justru menjebak kegiatan pengembangan. Sinkronisasi tidak pernah terjadi dan ujungnya kita berakhir dengan berbagai macam variasi produk tanpa punya satu pun produk generik.

Start From Best Practices

Jika produk Anda tak pernah berhenti dikustomisasi, jelas sudah bahwa Anda telah melewatkan sesuatu. Selalu ada benang merah dari semua proses. Berangkatlah dari best practises yang sudah terbukti manfaatnya. Kita ada karena kita ingin membantu klien, bukan sekedar menuruti kemauannya. Pastinya tak semua hal bisa dinegosiasikan, tapi pasti keinginan dari klien untuk meng-improve dirinya sendiri. Di titik inilah Anda menawar, kustomisasi produk atau adaptasi klien?

Bagaimana menurut Anda? Tabukah jika kita menjual produk yang selalu memerlukan kustomisasi? Atau malah jadi bisnis model?

Me Inc.

Me Inc.

ROAR!

Biasanya ABG selalu identik dengan pencarian identitas. Pencarian identitas ini sebenarnya adalah proses umum seperti yang dialami oleh semua produk. Pencarian identitas ini adalah usaha branding untuk memberikan karakteristik pada produk.

Terlebih dengan hadirnya social media, kita lebih cenderung memerlukan usaha untuk membedakan diri kita dari yang lain. Social media membuat kita bertemu lebih banyak orang daripada sebelumnya. Kecenderungan untuk mendapati orang lain dengan kemiripan dengan kita pun semakin banyak. Kini kita telah menjelma sebagai suatu produk dalam perusahaan bernama Me Inc. (Perusahaan Aku)

What is your power?

Apa kemampuan terhebat yang Anda miliki? Terkadang kita punya terlalu banyak hal yang kita sukai sampai-sampai kita kesulitan mengukur atau menentukan apa sebenarnya kekuatan super kita. Seorang superhero biasanya mengalami tahap denial karena perbedaannya dengan orang lain. Selama dia tidak mau menerima gift tersebut maka dia tidak akan pernah menjadi superhero. Superman tak akan bisa terbang selama dia tidak mau mau menerima kenyataan bahwa dia bisa terbang.

Terkadang kita membayangkan mempunyai kekuatan super seperti Superman, sementara kita menolak gen Hulk yang mengalir di darah kita.

Make a difference

Salah satu yang saya ingat dalam hal personal branding adalah “bakarlah jenjang karir” yang ditulis Tom Peters dalam majalah Fast Company tahun 1997. Jenjang karir membatasi diri kita untuk bekerja seperti job desc. Padahal untuk bisa benar-benar bersinar, kita harus melakukan lebih dari itu. Kalau performa kita selalu dibatasi job desc, kapan kita bisa memberi tahu orang lain apa yang jadi keunggulan kita?

Fokuslah pada apa yang Anda kerjakan dan berilah nilai lebih. Jangan ragu untuk mencapai extra mile. Terimalah pengakuan (credit) atas apa yang Anda lakukan.

What are you offering?

Terkadang apa yang rutin kita kerjakan tidak mampu mengakomodasi kemampuan terhebat kita. Oleh karena itu terkadang masih diperlukan usaha untuk memasarkan diri kita. beruntunglah kita karena kini telah ada berbagai macam channel yang bisa kita pakai untuk mengenalkan diri kepada orang lain. Blog, microblog. kopdar dan social media bisa kita gunakan untuk membangun profil sesuai yang kita inginkan. Terlepas dari keterbatasan pekerjaan tetap sehari-hari.

Yang tak boleh terlupa dari memasarkan diri kita: it’s all about the story

Jadi, apa yang telah Anda lakukan untuk Me Inc.?

PS:

Tahukah Anda bahwa membaca NavinoT secara rutin saja sudah memberikan pembeda pada Anda.