Browsed by
Category: Web & Internet

Second Screen App

Second Screen App

Second screen app, adalah aplikasi yang terpasang di layar tambahan yang berfungsi untuk memberikan added-value atau pengalaman ekstra pada konten pada layar utama.

Xbox SmartGlass

SmartGlass, IntoNow adalah salah satu contohnya. Masih belum paham juga? :headdesk: Oke, lihat video ini sampai habis lalu baca paragraf berikutnya

Perlu Gitu?

Ya tergantung mau pakai contoh kasus yang mana. Nonton bioskop tentu saja tidak perlu pakai second screen app. Tapi konten seperti pertandingan, atau serial televisi, bisa ditemani second screen app. Apapun yang bisa disela, berarti bisa ditemani dan diperkaya dengan second screen app.
Sudah sejak lama kita nge-tweet sambil nonton TV kan? Well, Twitter bisa jadi second screen app juga. Tapi, yang saya maksud dengan second screen app bukan app semacam Twitter. It has to be something richer.

It’s no men’s land

Iya, belum ada definisi eksak tentang apa saja yang harus dipenuhi oleh aplikasi sehingga bisa disebut second screen app. Adalah tanah tak bertuan, sama dengan SmartTV atau teknologi Augmented Reality yang belum punya contoh ideal. Tidak ada aplikasi yang sepenuhnya memuaskan (breath-taking), namun dari beberapa aplikasi yang sudah muncul, ada beberapa elemen yang dominan. Mungkin ini akan jadi tren di masa depan.

Literally, A second screen.

Karena memang layar utama kurang besar atau kurang pas untuk ditempeli dengan perkakas tambahan, maka layar kedua diperlukan. XBOX SmartGlass dan WiiU (bisa) memisahkan kontrol/pengaturan tambahan ke layar kedua. Layar kedua menjadi remote plus plus.

It’s boring, but yes it needs to be social

Mantra lama, tapi memang “social” ini bisa dihajar-tempelkan ke apa saja. Tarik semua elemen social media dan social network ke dalam aplikasi layar kedua yang selalu up-to-date dengan layar pertama. Dicontohkan di IntoNow, kita bisa membincangkan apa saja tentang acara yang kita lihat di linimasa twitter.

Navigating on TV sucks!

Layar besar memang susah dinavigasi. Beberapa tahun ini kita tak pernah lupa untuk membawa/menggenggam gadget dalam semua aktivitas kita. Portable, tapi tidak bodoh seperti remote. Sudah sangat pas untuk menelusuri direktori informasi, kecuali mengkonsumsi media secara megah. Zeebox mengerti hal ini dan menempatkan dirinya sebagai nahkoda konten. GetGlue, Gomiso juga sebenarnya bisa masuk di kategori ini.

It’s not easy to make one. You don’t say?

Iya, pendekatan supaya aplikasinya jadi breath-taking itu rocket science (untuk ukuran saya). IntoNow misalnya bisa mengenali acara hanya dari gambar (dan suara). Tapi tak harus terpaku di rocket science. Seamless memang keren, tapi value layar kedua ini bisa dieksplorasi lebih dominan daripada integrasinya. Bagian seamless itu lama-lama juga pasti jadi pustaka sumber terbuka. Percaya deh.

Epilog

So, yang masih bergelora bikin startup tapi kehabisan ide atau malas ikut komunitas merk gadget, bisa mencoba tantangan ini. Yang ngangur dan tak tahu lagi mau ngapain di internet juga bisa koding untuk mencari jawaban soal second screen app ini. Yakin, yang gatal bukan saya saja.

Social Media App No More

Social Media App No More

Dilepasnya 18 orang pegawai Seesmic memberikan sinyal yang cukup kuat. Bahwa model bisnis social media client app itu antara susah dan tidak ada. Walaupun basis penggunanya besar, profitnya sangat susah untuk diperoleh. Mengolah konten 140 karakter menjadi revenue pun juga susah dilakukan. Tidak banyak yang bisa memberikan nilai tambah pada pemakai aplikasi tersebut. List, mute, search, that’s it. Ada juga yang mencoba berbeda seperti aplikasi Bottlenose. Yang memberikan konteks pada lini masa. Berharap menjadi nilai tambah dari sekedar melihat dan membaca.

Kenapa Iklan Tidak Berjalan?

Yang lain, surut. Dibeli AOL (Brizzly), pindah kuadran ke pay-only a.k.a enterprise (CoTweet) atau mengambang “menunggu keberuntungan” sebelum kehabisan napas. Model bisnis default biasanya adalah iklan. Namun sampai sekian tahun tak seorangpun bisa menemukan bentuk iklan yang tepat untuk lini masa. Pernahkan Anda melihat twitter client dengan iklan? Saya tak bisa mengingat.

Seharusnya nilai pasang iklan di aplikasi seperti ini bisa sangat tinggi karena aplikasi selalu dibuka dan kerap di baca. Apa karena linimasa terlalu cepat untuk dianalisa? Tidak juga karena bisa disampling. Atau karena sudah terbukti konversinya kecil?

In stream app memang pelik, tapi model iklan tradisional tetap bisa dipakai. Sesuai policy twitter:

You may advertise in close proximity to the Twitter timeline (e.g., banner ads above or below timeline), but there must be a clear separation between Twitter content and your advertisements.

Why? Lebih ke persoalan teknis atau legal terms (dengan Ad network)?

App on App

App on App adalah salah satu cara memonetasi data dan pengguna. Karena seringkali orang lain punya ide yang lebih cerdas dari kita. Karena kita tidak tahu apa saja yang dibutuhkan pengguna. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Crowdsourcing growth, dan kalau bisa crowdsourcing revenue <insert grin here>.

Ingat OneForty? OneForty dulu berniat menjadi app marketplace untuk Twitter. Sekarang sudah pivot ke bisnis enterprise dengan pitch: Social Business Hub.

We’re a buyers’ guide for businesses who want to invest wisely in doing social right.

Saya sedang mencoba membaca pitch itu lagi dan lagi, tidak mengerti juga. Seharusnya App on App itu bisnis yang mudah karena kita hanya menyediakan platform lalu memanggil developer untuk mengisi marketplace. Tapi bagian rumitnya adalah proses memanggil developer ke dalam ekosistem kita. Hint: Playbook.

What’s for the future?

Apakah akan terjadi konvergensi ke model enterprise? Kalau iya, kasihan pengguna non enterprise. Walau sering susah disuruh bayar, pengguna non enterprise adalah motor inovasi. Bayarnya tidak pakai uang, tapi dengan kerelaan menjadi kelinci percobaan atau menjadi hype machine. Banyak yang sudah berinvestasi waktu dan komitmen untuk memakai satu aplikasi tertentu namun di kemudian hari ditinggalkan karena aplikasi terkait banting setir ke model bisnis enterprise.

Perlu iterasi kembali bagaimana supaya sekian juta pengguna gratisan ini bisa dimonetisasi. Attention economy is just a fad at the moment. It falls on your L of P/L. On server billing and development cost that never stop.

Sebentar lagi, mungkin akan muncul paradigma: Money-first development. Sudah ada tanda-tanda dengan maraknya twit: bangun bisnis, bukan startup.

PS:

Bottlenose tahu, yang berharga bagi Anda adalah waktu.

Photo by joodi
It’s Not File Size That’s Killing iPad (Digital) Magazines

It’s Not File Size That’s Killing iPad (Digital) Magazines

bcolbow:

If you’re going to successfully evolve into a new medium you can’t just add gimmicks, you have to substantially upgrade the user experience. If you asked anyone 15 years ago what the future of music looked like they would have told you that it was about fidelity, listening to an album would sound like you were at a concert or in the center of the orchestra pit. But that hasn’t been the case, in fact the overall quality of the music we listen to has gone down. The experience of being able to fit your entire music collection in your pocket, or stream any song to your phone leapfrogged any fidelity improvements other formats like DVD audio could make.

Oh no. Ini bukan artikel orisinil. Ini reblog. Memancing diskusi. Apakah kamu puas dengan majalah digital yang ada sekarang ini? Puas? Baca majalah digital saja jarang? 😀

PS:

Beberapa tahun lalu kita heboh dengan e-paper. Kenapa tidak ada yang melahirkan ulang e-paper ya? Tidak ekonomis dibanding versi digital dalam tablet?

Photo: blackbiscuits

To check-in or not to check-in

To check-in or not to check-in

Now that Loopt (dubbed as the father/mother of LBS) has been bought. Gowalla shut down. Who will be the king of LBS? Are those company buying smaller player are hurting the innovation? Talent got acquired but for sure there won’t be any output within a short time. The lean experiments have to be scaled up, to match acquirer massive user base.

The only big players left is Foursquare — are they relieved and clapping? — (and SCVNGR?). And merchants are not really flying it. Remind me again, why this service is so sexy in the first place?

What spice are we missing? Is it the same spice missing in semantic web? Real world value? Have we been using incorrect misleading approach for this problem?

Jot down your doubt (or belief)!

Photo by: Reavel

Bunuh Browser, Hidupkan HTML 5?

Bunuh Browser, Hidupkan HTML 5?

Ada artikel menarik di GigaOm tentang pertarungan native app dan HTML 5. Ternyata dari studi yang dilakukan oleh Flurry, native app lebih sering dipakai daripada web app (HTML 5). Lagak-lagaknya, kita mungkin over optimis dengan HTML 5. Jumlah aplikasi yang ada saja jauh lebih sedikit dari pada native app. Padahal sifat HTML 5 ini sudah benar-benar cross platform. Tanya kenapa?

HTML 5 itu Susah?

Ah yang benar? Bukannya membuat web itu gampang? Well, relatif gampang. Yang jelas, banyak yang bisa membuat web bagus dan mengundang decak kagum. Teknologinya bisa agak dinomorduakan, yang penting desain dan pengalaman buat user dulu. Banyak native app yang menyediakan fungsi sederhana, beberapa malah membuat ulang aplikasi jaman PDA dan J2MEyang notabene bukan aplikasi kompleks. Still, masih lebih laku native app.

Gak Ada App Market untuk HTML 5

Ya antara betul dan ngibul. Chrome appstore tak menolak aplikasi sejenis launcher. Mozilla malah punya inisiatif untuk membuat webstore yang bersifat open. Dulu, kita malah sudah punya oneforty walau terbatas hanya untuk Twitter. Tapi tidak ada yang take off. Paling gampang sih kita salahkan sedikitnya jumlah aplikasi. Gak ada aplikasi buat apa ada pasar?

Susah Dimonetisasi?

Ah, bo’ong lu. Web itu sudah ada sejak dulu. Dan e-commerce pun lahir di web. Metode pembayaran paling banyak ya di web. Tinggal pasang tombol Paypal. Kalau mau usaha dikit baru deh implement API supaya tercipta pengalaman yang lebih “seamless”. Yang nge-blend.

Segala peluang model monetisasi di native app bisa dilakukan di web. Mulai dari aktivitas standar beli konten sampai tren masa kini: in-app purchase, bisa juga diterapkan di web. Sifat platform web yang lebih cenderung fleksibel, mudah diupdate, membuat produk di platform web punya potensi untuk selalu kompetitif di sisi bisnis. Sekarang beli besok gratis juga bisa kali. Kurang apa?

Si Browser Brengsek

Bukan, saya tidak membicarakan satu dua browser tertentu, walau memang ada pengaruhnya juga karena cross platform-nya jadi dent di satu sisi. Tapi jaman sekarang semua sudah tahu pentingnya web. Jika browser-nya tidak up-to-date kemungkinan besar service provider tidak bakal mendukungnya. Kontrol platform ada di tangan service provider. Phew.

Kenapa saya sebut browser brengsek? Well, karena penyebab HTML 5 tidak kunjung take off adalah browser itu sendiri. Bukan soal support teknologi, tapi soal chrome/UI-nya. It doesn’t feel app-y. It’s too big?

Lama-lama, tab yang kita puja-puja — karena melepaskan kita dari kekang multi-window — kini serasa mencekik kita kembali. Munculnya smartphone membuat tampilan web di monitor laptop/desktop kita jadi pembuat dosa besar. Tidak maksimal dalam pemanfaatan layar. Terlalu banyak elemen tak penting. Tidak app-y.

Mungkin si browser brengsek ini terlalu lebar, terlalu bebas, terlalu fleksibel, terlalu terbuka. Kurang batasan supaya para pembuat produk jadi lebih kreatif. Perspektif harus diubah. Kelebihan adalah keterbatasan.

Apeu.

Blogging is Dead, Yet Again

Blogging is Dead, Yet Again

Halaah, blogging itu punya berapa nyawa sih. Dulu dibilang sudah mati, beberapa waktu lalu mati lagi. Sekarang mau mati lagi?

Kematian Pertama

Facebook memberikan tusukan kematian yang pertama. Notes, membuat kegiatan menulis apapun jadi menyenangkan karena kita bisa langsung pamer dan memaksa teman-teman kita di Facebook untuk membaca. Aku tag kamu di artikelku. Kamu gak bisa marah. Remove saja dari tag ngapain repot.

Aktivitas lain seperti update status dan upload foto menjadi penyerap energi. Tidak ada lagi waktu untuk ngopi, merenung, menganalisa dan menarik garis antar titik sebagai rangkaian kegiatan blogging. Why so serious?

Kematian Kedua

Blogging lalu dibunuh kembali oleh Twitter. Akibat Twitter, lebih banyak lagi orang yang malas menulis di blog. Jauh lebih sederhana untuk menulis 140 karakter di Twitter.

Tidak ada lagi cibiran akibat menulis sesuatu yang “gak jelas” di blog kita. “Aku tadi makan siang ketoprak enak banget”. Tidak ada yang protes akibat RSS readernya terupdate terlalu cepat dengan one-liner. Plus model networkingnya yang lebih simpel dari Facebook, Twitter is way wider and fun to play with. The rule is no rule, kecuali soal reply dan RT di Indonesia 😉

Kematian Ketiga (Voodoo Death)

Steve Rubel dua tahun lalu meninggalkan blog di domainnya dan beralih ke Posterous. Tren baru saat itu adalah Lifestreaming. Dan platform blog yang sudah populer pun belum ada yang cocok untuk memenuhi kebutuhan lifestream.

Per Memorial Day kemarin, Steve Rubel pindah kembali. Kali ini dengan sebuah big bang. Pindah ke Tumblr dan menghapus 2 blog lamanya (scorched earth policy – teknik bumi hangus). OMG! Steve Rubel (of Edelman) menganggap page rank sudah lewat masa. Google is into social signal, ditandai dengan fitur baru di search result yang melibatkan circle of friends. Dan yang terbaru, Google Plus One. Dalam rangka tidak membuat Google bingung, blog lama pun dihapus.

Tumblr dinilai lebih cocok dengan visi Google ke depan karena fitur social sudah built in di dalamnya, eg: reblog. Tidak hanya Steve Rubel. Beberapa orang juga pindah dengan alasan serupa. Kevin Marks bilang ini Voodoo SEO.

Blog Never Die

Mirip kata @danrem soal marketing dalam insiden RestInPeaceSoon. Marketing tidak mati tapi bertransformasi. Esensi tidak berubah tapi ada temuan baru yang menjelaskan lebih lanjut tentang esensi mendasarnya. Seperti halnya blogging, esensinya bukan tentang menulis.

Esensinya adalah berbagi. Media saat itu yang paling ekonomis adalah tulisan. Ramah benwit sehingga idenya bisa menyebar dan diterima banyak orang. Podcast juga bentuk lain dari blogging,esensinya adalah sharing namun bermedia audio. It didn’t take off as successful as blogging karena medianya kurang ramah terhadap banyak orang.

A blog is a web log. Tentang catatan dan gagasan yang kita bagi lewat web. Tidak pernah mati.

Rebirth

Terlepas dari mati tidaknya blogging, ada pertanyaan menarik yang muncul. Domain. Domain dulu kita isi dengan blog. Sebagian bilang untuk bersenang-senang, sisanya bilang untuk personal branding. Tapi ini long time ago, sebelum ada twitter dan facebook yang membuat orang sempat beralis ke lifestream. Dan sebelum ada about.me untuk memajang kartu nama.

Dengan bergesernya media untuk berbagi, posisi domain ada di mana? Apakah tetap sebagai identitas ataukah jadi sekedar tempat untuk entry point sebuah layanan? Any takers?

When Cloud Fails

When Cloud Fails

Cloud, buat apa? Opsi pemakaian cloud biasanya muncul karena isu mahalnya harga server dan ongkos pemeliharaannya. Daripada membeli server besar yang belum tentu bisa kita manfaatkan dengan optimal, maka sewa server menjadi opsi menarik. Mengapa tidak mempertimbangkan VPS? VPS biasanya dipertimbangkan, namun seringkali harga sewanya tidak sefleksibel sewa cloud. Sewa cloud biasanya didasarkan pada jumlah pemakaian resource baik cpu, disk, maupun bandwidth sedangkan VPS biasanya bertarif datar (flat/fixed).

Selain sewanya yang fleksibel, cloud juga dianggap sebagai resource terbaik untuk menjalankan aplikasi. Anti gagal, demikian persepsinya. Well, cloud can fail.

Kesalahan Persepsi

Menaruh aplikasi di cloud tidak berarti aplikasi Anda akan langsung jadi bullet proof. Memang resource di belakang mesin virtual Anda akan diatur dan ditat sedemikian rupa supaya selalu tersedia. Media penyimpan akan disalin ke pelbagai tempat sehingga akan selalu tersedia untuk Anda walaupun salah satu hardware mengalami kegagalan. Tapi itu adalah layanan high availability (selalu tersedia) dari penyedia cloud bagi Anda sebagai konsumen. Sedang, high availability bagi klien Anda adalah lain cerita. Anda yang bertanggung jawab.

Oleh karena itu ada bermacam produk dan framework tambahan untuk mengatur resource Anda yang berada di cloud. Produk dan framework ini didesain dengan tujuan menfasilitasi Anda untuk menyediakan high availability bagi konsumen produk Anda. Contohnya: Scalr, RightScale, dan CloudFoundry. Beberapa di antaranya juga menyediakan kemampuan untuk memadukan public cloud dan private cloud (hybrid cloud).

Why Private Cloud

Adalah aturan mendasar bahwa kita tidak boleh meng-outsource inti dari produk kita. Inti produk kita adalah nilai yang membedakannya dengan produk lain di mata konsumen. Menyerahkannya untuk digarap orang lain bisa berarti melepas kontrol kesempurnaan produk. Walau tak selalu berarti seperti itu tetap ada sekian probabilitas bahwa kita menyerahkan nasib kita ke orang lain. What if they fail to deliver?

Di sinilah posisi penting private cloud. Private cloud memberikan Anda kontrol penuh terhadap semua proses inti yang terkait pada penyediaan layanan berkulitas sesuai standar yang Anda tentukan. Public cloud difungsikan sebagai resource cadangan ketika proses penyediaan layanan tak lagi mampu ditangani resource internal, baik karena alasan efisiensi atau murni karena kekurangan processing power.

Beberapa produk yang bisa digunakan untuk membuat private cloud antara lain: VMWare vSphere, ProxMox, Eucalyptus, atau Microsoft Hyper-V Cloud.

Getting Ready for Outage

Don’t put all your eggs in one basket. Atau dalam dunia teknis lebih populer dengan jangan sampai ada single point of failure. Joyent blog menjelaskan kenapa kita harus picky soal memilih penyedia layanan cloud. Tiap cloud diimplementasikan dengan pelbagai jenis pendekatan. Joyent menggambarkan Amazon Cloud sebagai blackbox di atas blackbox dan saat terjadi masalah jaringan, salah satu komponen perekat cloud pun berulah. Berniat baik untuk melakukan auto recovery namun malah memicu proses self-healing yang tak terkendali (vm reboots dan storage failure tak berujung)

Shit happens. Pastikan Anda punya tempat menyimpan data cadangan untuk membuat layanan Anda tetap tersedia atau paling tidak bisa dipulihkan. Lengkapi check-list dari strategi Business Continuity Plan atau Disaster Recovery Plan. Memang ongkosnya bakal mahal, apalagi buat startup. Bak asuransi, keberadaan Business Continuity Plan hanya akan disyukuri saat Anda menggunakannya.

So, mari liat sekeliling. Apa ya yang perlu kita backup? Apa ya yang bisa kita siapkan untuk mendukung Business Continuity?

 

 

Cloud, buat apa? Opsi pemakaian cloud biasanya muncul karena isu mahalnya harga server dan ongkos pemeliharaannya. Daripada membeli server besar yang belum tentu bisa kita manfaatkan dengan optimal, maka sewa server menjadi opsi menarik. Mengapa tidak mempertimbangkan VPS? VPS biasanya dipertimbangkan, namun seringkali harga sewanya tidak sefleksibel sewa cloud. Sewa cloud biasanya didasarkan pada jumlah pemakaian resource baik cpu, disk, maupun bandwidth sedangkan VPS biasanya bertarif datar (flat/fixed).

Selain sewanya yang fleksibel, cloud juga dianggap sebagai resource terbaik untuk menjalankan aplikasi. Anti gagal, demikian persepsinya. Well, cloud can fail.

Kesalahan Persepsi

Menaruh aplikasi di cloud tidak berarti aplikasi Anda akan langsung jadi bullet proof. Memang resource di belakang mesin virtual Anda akan diatur dan ditat sedemikian rupa supaya selalu tersedia. Media penyimpan akan disalin ke pelbagai tempat sehingga akan selalu tersedia untuk Anda walaupun salah satu hardware mengalami kegagalan. Tapi itu adalah layanan high availability (selalu tersedia) dari penyedia cloud bagi Anda sebagai konsumen. Sedang, high availability bagi klien Anda adalah lain cerita. Anda yang bertanggung jawab.

Oleh karena itu ada bermacam produk dan framework tambahan untuk mengatur resource Anda yang berada di cloud. Produk dan framework ini didesain dengan tujuan menfasilitasi Anda untuk menyediakan high availability bagi konsumen produk Anda. Contohnya: Scalr, RightScale, dan CloudFoundry. Beberapa di antaranya juga menyediakan kemampuan untuk memadukan public cloud dan private cloud (hybrid cloud).

Why Private Cloud

Adalah aturan mendasar bahwa kita tidak boleh meng-outsource inti dari produk kita. Inti produk kita adalah nilai yang membedakannya dengan produk lain di mata konsumen. Menyerahkannya untuk digarap orang lain bisa berarti melepas kontrol kesempurnaan produk. Walau tak selalu berarti seperti itu tetap ada sekian probabilitas bahwa kita menyerahkan nasib kita ke orang lain. What if they fail to deliver?

Di sinilah posisi penting private cloud. Private cloud memberikan Anda kontrol penuh terhadap semua proses inti yang terkait pada penyediaan layanan berkulitas sesuai standar yang Anda tentukan. Public cloud difungsikan sebagai resource cadangan ketika proses penyediaan layanan tak lagi mampu ditangani resource internal, baik karena alasan efisiensi atau murni karena kekurangan processing power.

Beberapa produk yang bisa digunakan untuk membuat private cloud antara lain: VMWare vSphere, ProxMox, Eucalyptus, atau Microsoft Hyper-V Cloud.

Getting Ready for Outage

Don’t put all your eggs in one basket. Atau dalam dunia teknis lebih populer dengan jangan sampai ada single point of failure. Joyent blog menjelaskan kenapa kita harus picky soal memilih penyedia layanan cloud. Tiap cloud diimplementasikan dengan pelbagai jenis pendekatan. Joyent menggambarkan Amazon Cloud sebagai blackbox di atas blackbox dan saat terjadi masalah jaringan, salah satu komponen perekat cloud pun berulah. Berniat baik untuk melakukan auto recovery namun malah memicu proses self-healing yang tak terkendali (vm reboots dan storage failure tak berujung)

Shit happens. Pastikan Anda punya tempat menyimpan data cadangan untuk membuat layanan Anda tetap tersedia atau paling tidak bisa dipulihkan. Lengkapi check-list dari strategi Business Continuity Plan atau Disaster Recovery Plan. Memang ongkosnya bakal mahal, apalagi buat startup. Bak asuransi, keberadaan Business Continuity Plan hanya akan disyukuri saat Anda menggunakannya.

So, mari liat sekeliling. Apa ya yang perlu kita backup? Apa ya yang bisa kita siapkan untuk mendukung Business Continuity?

Social Ideation, Crowdsourcing Went Profit-Oriented

Social Ideation, Crowdsourcing Went Profit-Oriented

Crowdsourcing tidak muncul saat internet mulai menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Crowdsourcing sudah ada sejak lama dan seringkali tak kita sadari keberadaannya. Proses penentuan juara suatu kontes lewat sms, atau musyawarah untuk mufakat itu juga crowdsourcing.

Internet bak steroid, yang semula prosesnya lambat kini jadi terakselerasi. Semuanya serba efisien. Termasuk crowdsourcing, kini jadi tak terbatas oleh dimensi geografis atau bahasa. Crowdsourcing has went a whole new level. Sedunia!

Dari sekedar menentukan berita terpanas dan terpenting lewat Digg, sampai dengan aktivitas pengembangan produk dan bahkan ide. Ada starbuck’s ideas dan juga KickStarter yang terkenal karena berhasil mendanai Diaspora — bakal pesaing Facebook — sebesar $200K.

Beberapa orang mungkin mengalami eureka moment. Hellooo, this works. Kalau kita bisa jual saham dan kontrak saham, kita juga bisa jual ide. Ide bisa divaluasi. Orang-orang bisa menilai apakah suatu ide bisa meningkatkan kualitas hidup mereka, baik secara langsung atau tidak langsung. Mungkin jika Diaspora sukses, cloud server bakal laris bak kacang goreng. Mungkin.

Oh, people going to love it. 99% kesuksesan ada pada aktivitas pelaksanaan. Lebih banyak orang justru berada pada segmen 1% sisanya. Those with ideas only! Kini orang-orang yang lebih punya ide daripada kesempatan merealisasikannya bisa memonetisasi ide mereka dengan jalan menjadi innovator atau membantu innovator.

Selain KickStarter, ada AHHHA dan juga Quirky. Saya lebih cenderung suka dengan KickStarter dan Quirky walaupun AHHHA menyimpan potensi yang cukup menggiurkan: menguruskan paten.

Terlepas dari manfaat bagi orang-orang yang ingin mendanai ide dan memonetisasi ide, ada efek samping yang menurut saya cukup berbahaya. Kelatahan monetisasi di pelbagai hal ini secara sistematis bisa merusak kultur crowdsourcing yang sebelumnya bersifat non-profit. Akibat persaingan mencari perhatian, user generated content bisa menjadi paid-user generated content. Not that it is totally a bad thing loh ya. Orang juga perlu duit untuk hidup dan meningkatkan kualitas hidup.

Okay, sampai poin ini saya mungkin sudah mirip Andrew Keen di Cult of The Amateur. Lebay. Tapi, memang ada sebersit kekhawatiran akibat hype monetisasi ini. Kalau terpeleset ke jalur yang kurang tepat, internet yang banyak dimotori crowdsourcing bakal stagnan. Semakin hari akan diperlukan insentif yang lebih besar dan riil daripada badge. Mesin ekonomi juga punya batas, apalagi yang harus ditarik dan didorong adalah populasi global netizen.

Bagaimana pendapatmu terhadap fenomena ini? Cukup serius atau kekhawatiran berlebih?

PS:

Saya ganti capitalist dengan profit-oriented, supaya lebih “membumi”.

I Confess. I Play Cityville

I Confess. I Play Cityville

Beberapa minggu lalu saya melakukan kejahatan luar biasa. Akhirnya saya mendaftar di Cityville — game di Facebook itu bukannya negatif?. Apa sih Farmville, Mafiawars, blah blah blah. Buat apa sih main gituan? Setelah bermain Gamedev studio, dan Oregon trail akhirnya saya ketagihan untuk main game lain. Saya bukan avid gamer, jadi yang saya cari adalah game yang sederhana namun cukup fun.

Tak salah, game ini cukup adiktif. Supaya saya dan Anda tak merasa bersalah saat bermain game ini, mari kita cari apa yang bisa kita pelajari dari Cityville. Kita tidak sekedar bermain, kita juga belajar kok 😀

In-Game Guide

Fitur ini sangat membantu saya sebagai newbie. Tiap bagian dashboard diterangkan fungsi dan cara bacanya. Tutorial diletakkan sebagai bagian dari gameplay awal. Manual tidak diperlukan karena sudah built-in dalam produk. Tidak banyak produk yang mengadopsi pendekatan semacam ini karena ada extra mile yang harus ditempuh –walau terkadang harga extra mile ini tak terlalu mahal. Padahal efeknya luar biasa.

Kecuali Anda membeli lego atau gunpla, Anda tak ingin berlama-lama merakit atau membaca manual sebelum menggunakan produk yang Anda beli. Produk yang self-explanatory akan sangat menarik konsumen.

What’s Next?

Salah satu hal yang membuat game menarik adalah tantangannya. Tiap level yang disusun sedemikian rupa untuk kita lalui. Dalam game tipe fighting, kita harus mengalahkan sejumlah jagoan dengan tingkat kesaktian yang terus naik. Demikian pula dalam Cityville. Kita tidak akan bingung apa yang harus dilakukan karena sistem akan memberi tahu prestasi-prestasi apa yang bisa kita raih selanjutnya. It keep us away from boredom by offerring multiple goals to complete. Tidak ada lagi kebingungan, habis ini ngapain?

Never Ending Story

Teman baru saya minggu ini sudah level 62, wilayah kotanya sudah luas sekali. Yet, belum ada tanda-tanda bakal segera bertemu game over. Cityville tampaknya memang tidak didesain untuk selesai. Sama nasib atau strateginya dengan beberapa manga sukses seperti Naruto, Bleach dan One Piece. Begitu menemui tanda-tanda kesuksesan, cerita akan dibikin ulang untuk mengakomodasi produksi sampai beberapa tahun ke depan.

Kebosanan pasti akan muncul di suatu titik. Tapi saya rasa kebosanan itu muncul karena tidak ada teman bermain. Seperti yang kita tahu, Cityville ini adalah game jaringan. Hanya seru jika dimainkan bersama-sama. Saat ada teman yang sudah lelah, yang lain pun akan merasa kurang fun. Seperti bermain Counter Strike sendirian. Apa sih serunya?

Tapi saat kebosanan datang, akan ada pemain baru. Si non beliefer yang akhirnya mengerti esensi (baca: adiksi) bermain Cityville. Dan siklus pun berulang lagi. Cityville jadi seru kembali. Rinse and repeat.

Coda

SCVNGR punya daftar tersendiri tentang apa saja yang bisa dijadikan game mechanics – walau akhirnya tak bisa mencegah saya dari rasa bosan. Badgeville punya game mechanics yang dijual sebagai produk. Kampanye online juga seringkali dan harus memakai game mechanisc supaya sukses. Bagaimana dengan produk Anda? Apakah memerlukan game mechanics? Jangan salah, produk serius pun bisa mendapatkan keuntungan dari implementasi game mechanics.

So, are you ready to play?