Browsed by
Category: Web & Internet

Menagih Janji Location Based Service

Menagih Janji Location Based Service

Location Based Service, pertama kita kenal lewat FourSquare. Yang kita dengar, seorang pengunjung rutin pub mendapatkan gelar Mayor karena frekuensi kunjungannya. Dan dengan gelar Mayor pub ini maka dia berhak akan reward sejumlah beberapa dollar atau layanan ekstra lain. Idealnya seperti itu, namun sejauh ini rasanya kita tak banyak mendapatkan manfaat kecuali kesenangan di milis dan mendapatkan badges dari layanan LBS ini.

Sebenarnya apa saja yang dijanjikan LBS dan bagaimana kenyataannya sampai hari ini?

Reward for Loyal Customer

Well, sebenarnya ini tidak dijanjikan oleh LBS langsung namun oleh para merchant yang memakai LBS untuk memasarkan atau menambah experience di produknya. Tapi ternyata sampai sekarang tidak banyak atau hampir tidak ada yang bisa memanfaatkan LBS dan memenuhi janji memanjakan loyal customer. Entah pendekatan pemakain LBS yang kurang tepat sehingga tidak ada pengunjung yang berpartisipasi dalam kampanye atau LBS memang sama sekali belum memenuhi kriteria layanan yang dicari merchant. Takut dengan jumper?

Connecting Near-by Friends

Salah satu janji LBS yang menarik adalah mempermudahkan pertemuan antar teman. Sering kita tak tahu ternyata teman-teman kita berada di tempat yang sedang kita kunjungi. LBS menjanjikan kita bisa lebih connect dengan teman-teman kita karena posisi tiap-tiap orang bisa terlacak.

Namun yang terjadi adakah kita justru memanfaatkan media lain (Twitter) untuk menyebarkan posisi kita dan mengatur pertemuan dengan teman. LBS tidak jadi core connecting tool. Yang menggagalkan janji LB ini bukan ketiadaan push notification tapi soal integrasinya dengan perangkat bergerak yang kita gunakan. Notifikasi diberikan saat teman kita checkin di suatu tempat namun kita sedang tidak di sana. Informasi ini terkadang jadi tak relevan dan tak tepat timingnya.

Push Near-by Promo

Masih ingat Minority Report? Saat iklan berganti begitu Tom Cruise melewati sebuah koridor. LBS juga punya janji untuk memenuhi kecanggihan itu. Namun lagi-lagi kita jarang mendengar kisahnya apalagi kisah sukses. Dengan berbekal lokasi pengguna, semestinya siapapun sudah bisa melakukan push-promo ke pengunjung yang lewat. Dari segi peminat pengiklan, pasti jumlahnya banyak. Lebih targeted secara lokasi yang berarti begitu bisa ditimbulkan keinginan untuk membeli maka tidak akan ada banyak halangan untuk terjadi konversi. Apa yang membuatnya tidak jalan?

The Game Changer

LBS adalah layanan yang menarik namun lahir prematur. Teknologi pendukungnya ada tapi belum benar-benar sempurna dan mencapai citical mass. Ada dua hal utama yang menghambat perkembangannya. Pertama dari sisi teknologi. GPS dan alat penentu lokasi lain belum terlekat secara default ke tiap perangkat bergerak. Pun terekat, konsumsi dayanya sering membuat orang sengaja mematikan fitur tersebut.

Saya membayangkan nantinya ada NFC (Near Field Communication) dengan dukungan range yang lebih dari 10cm. Terinstall di masing-masing merchant dan perangkat bergerak kita. Menjadi semacam sensor saat kita mendekat dan mengirimkan notifikasi tak mengganggu tentang diskon atau sisa reward point kita.

Faktor kedua yang menghambat perkembangan LBS adalah privasi. Auto-checkin pernah diperkenalkan oleh beberapa aplikasi LBS namun pemakainya masih agak enggan karena ada kekhawatiran tentang terbaginya data yang harusnya privat. Ada yang pakai? Data lokasi sepertinya perlu dibungkus dengan semacam OAuth dan merchant akan berperan sebagai aplikasi yang meminta permisi ke tiap akses lokasi. Dengan demikian kita bsia mengendalikan siapa saja yang otomatis bisa mengetahui lokasi kita.

Tanpa auto-checkin, LBS rasanya bak WiFi yang harus kita set setiap kali hendak dipakai. Menyebalkan, namun untungnya tidak demikian. Begitu kita datang, koneksi WiFi sudah langsung on dan kita bisa segera mengupdate status Facebook.

PS:

  • Sepertinya saya sempat mendengar ada Telco yang sudah melakukan push-promo berbasis lokasi. Ada yang bisa membantu dengan informasi lebih lanjut?
Vertical Cloud Computing

Vertical Cloud Computing

Cloud computing dengan pembagai variasinya, SaaS, PaaS, IaaS sudah cukup sering kita dengar sehari-hari (walau tak sadar). Tapi entah kenapa saat Amazon mengumumkan EB (Elastic Beanstalk) ada sedikit perasaan excited yang tak bisa saya jelaskan penyebabnya.

Cloud Computing

Kita sudah terbiasa dengan e-mail semacam GMail, Live Mail ataupun Yahoo Mail. Google Docs, Zoho Docs dan beberapa variasi lain termasuk Google Apps dengan marketplacenya juga sering kita pakai, tanpa menyadari bahwa kesemuanya adalah layanan berbasis cloud computing.

Apa sih cloud computing? Apa yang membedakannya dengan model computing yang lain? Di artikel ZDNet ini disebutkan ada lima karakteristik cloud computing. Dua yang paling sering kita kenali adalah dynamic computing infrasturucture dan consumption based billing.

Dynamic computing infrastructure berarti kita bisa mendefinisikan secara run-time apa yang kita butuhkan. Suatu saat mungkin kita menyalakan 2 buah instan server untuk database dan web server. Saat kita melakukan launching produk kita kemudian menambahkan 2 buah instan server untuk mengantisipasi lonjakan traffic. Setelah itu 2 instan baru tadi bisa kita matikan kembali.

Consumption based billing tak perlu dijelaskan lagi. Meski tak semua pernah memakai EC2, pasti kita sudah familiar dengan konsep pay as you go-nya. Resource komputasi dihitung dalam satuan kecil sesuai pemakaian. Model semacam ini memungkinkan pengguna untuk melakukan estimasi budget secara akurat.

What is the big fuzz about EB?

Bagian paling menarik dari Elastic Beanstalk, menurut saya, adalah drop and deploy. EB menyediakan layanan “hosting” aplikasi java di atas Tomcat. Sebelumnya kita sudah akrab dengan layanan hosting LAMP atau IIS. Namun tidak ada solusi untuk maslaah High Availability di sana. Hosting umumnya hanya menyediakan storage terbatas, dan memori terbatas. Saat storage, memori atau cpu cycle tak lagi cukup maka kita harus berpindah paket yang mana bisa jadi sangat mahal.

Inti yang membuat cloud computing laku adalah sifat cloud computing yang IT service centric. Seperti slogan Debian, ada banyak tugas yang bisa dikerjakan sys admin selain mengurus server (terjemahan bebas), memang kita tak ingin mengurusi hal yang tak menjadi core business. Jika perusahaan minyak saya berkantor di gedung mewah, saya tak ingin pusing dengan masalah kebersihannya. Saya hanya ingin berurusan dengan minyak, titik.

Sebagai pengembang aplikasi tentunya kita juga tak ingin terlalu disibukkan oleh urusan infrastruktur. Membuat aplikasi sendiri sudah cukup susah apalagi harus mengurus infrastruktur. Infrastruktur harusnya bisa disetel auto-pilot.

Inilah yang berusaha diselesaikan oleh Amazon Elastic Beanstalk.

“You simply upload your application, and Elastic Beanstalk automatically handles the deployment details of capacity provisioning, load balancing, auto-scaling, and application health monitoring”

Voila. Vertical (Specialized) cloud. Autopilot on HA.

Where to go?

Amazon, Google, dan Microsoft punya tawarannya masing-masing terkait solusi data dan komputasi. Tapi solusi-solusi tersebut mengharuskan kita untuk belajar protokol baru. Bukannya belajar itu tidak baik tapi dari segi bisnis berarit diperlukan persyaratan tambahan untuk pindah ke cloud computing. Kita belum bisa secara mudah pada satu detik memindahkan proses bisnis kita ke cloud dan di detik selanjutnya memindahkannya kembali ke dalam data center kita. Either Amazon, Google dan Microsoft harus mencari pendekatan baru soal highly available dan scalable storage dan computing power atau kita sendiri yang mendorong protokol-protokol baru tadi menjadi sebuah standar.

Saya bermimpi dan berharap lebih banyak web app stack (populer) bisa diadopsi dan dibungkus seperti Elastic Beanstalk. Heroku (Rails), PHP Fog (PHP), AppHarbor (.NET), Amazon Elastic Beanstalk (Tomcat), Joyent (Free Node.js) dan entah apalagi setelah ini. Interesting times!

Kalau kamu, apa yang kamu inginkan dari cloud computing? How can it help you? Apa yang ingin kamu outsource ke cloud?

Blog Itu Tren Sesa(a)t

Blog Itu Tren Sesa(a)t

Siapa yang tak kenal dengan kalimat itu. Dibilang benar tapi tren blog sudah berjalan sekian tahun di indonesia. Bisa dibilang hampir satu dekade.

Itu dari sudut pandang tren budaya. Blog is alive and kicking. Scoble masih ngeblog, Paul Graham masih ngeblog dan proyek-proyek opensource juga masih bertumpu pada blog untuk menginformasikan perkembangan proyek pada pengguna dan peminatnya. Naked Conversation masih tak terbantahkan.

Sementara itu, dari sudut personal, Priyadi sudah lama tidak ngeblog. Enda jarang-jarang. Andry? Ah, tak perlu ditanya. Jika dicermati, sebagian besar blogger senior sudah “meninggalkan” blognya. Some stay because it has much to do with their job. Light has gone out.

Sebuah link mendarat di timeline twitter saya. Tulisan dalam link tersebut berusaha menganalisa dan akhirnya menyimpulkan bahwa blog adalah indikator sedang terjadinya transisi pekerjaan pada seseorang. Kasarnya, seseorang baru mulai ngeblog saat hendak berganti pekerjaan. Dan berhenti saat sudah sibuk dengan pekerjaannya.

Contoh blogger lokal di atas saya rasa cukup valid. Contoh lainnya, yang disebut dalam link yang saya baca Ray adalah munculnya post “I’m Back” di blog Ozzie yang beberapa hari kemudian disusul dengan pernyataan mundurnya Ray Ozzie dari Microsoft. Dalam artikel tersebut diduga Ozzie mundur karena personally Ozzie merasakan “lack of disruption” di dalam Microsoft. Dalam rangka bertransisi ke sumber disruption baru, Ray Ozzie back into blogging.

Benar atau Salah?

A few years back it was blogging. Sekarang, sudah ada tren berjualan online walau tak se-mainstream keharusan memiliki Blackberry, akun Twitter dan Facebook. Bagi kelompok tertentu ada juga tren harus punya startup.

Kepercayaan bahwa blogging akan berjaya lama memang harus tetap dipegang. Apalagi jika kita sudah berinvestasi banyak di kultur tersebut. Namun, bagi yang mencari sumber disruption baru kita harus senantiasa percaya juga bahwa nothing lasts forever. Akan ada tren baru yang menjadi adiksi dan standar keren dari manusia di Indonesia (dan dunia). Tergantung di mana Anda memilih berdiri, ini bukan tentang benar salah.

The Next Wave

Di ujung horizon, para buzzer, marketers dan pengusaha online sudah berteriak-teriak tentang social commerce. Facebook dan social network lain akan punya nilai praktis lebih dari sekedar mempertemukan teman lama. Kegunaan yang ditemukan “tidak sengaja”, bahwa pengaruh teman dalam jaringan ternyata sangat efektif dalam membentuk opini individu, akan segera diuangkan. Value ini akan disambungkan dengan kegiatan jual beli. Semua hal akan di-social-kan. Kali ini e-commerce yang akan mendapat giliran. Integrasi review dari teman dan konsumen lain hanya tip of the iceberg. Akan ada banyak inovasi di dunia e-commerce termasuk “belanja bersama” seperti halnya yang dilakukan orang-orang di dunia nyata. Dan itu baru satu buzzword 😉

Bagi yang sudah jarang atau malah berhenti ngeblog, boleh saya tahu what makes you stop? Nilai apa yang hilang dari kegiatan ngeblogmu?

Why Mobile App Matters?

Why Mobile App Matters?

Saya bertanya-tanya apa saja faktor yang membuat mobile app bisa booming dan seksi. Apakah layarnya yang lebih lebar daru generasi terdahulu? Resolusi yang lebih manusiawi dan kekuatan komputasi yang sekelas PC 2-4 tahun lalu?

Terlepas dari faktor perkembangan perangkat keras yang menyusun sebuah smartphone atau perangkat bergerak lain, tampaknya ada beberapa hal lain yang turut punya andil.

What you type is what you search.

Salah satu faktor besar yang membuat aplikasi bergerak menjadi populer adalah efektifitas alur kerjanya. Dimulai dari sebuah launcher yang mengeliminasi proses pengetikan URL, pengguna biasanya langsung disambut dengan daftar aksi yang straight-forward. Bisa berupa sebuah kotak teks untuk mencari atau menambahkan data. Atau daftar data dalam jumlah yang tidak banyak per-halaman. Proses input menjadi output dibatasi dalam 2-3 langkah saja.

Empty space problem.

Alur kerja yang efektif dari aplikasi bergerak terbentuk karena screen estate yang terbatas. Luas layar 3″ dengan resolusi tinggi tampaknya jadi pilihan yang pas bagi perangkat bergerak. Pengembang aplikasi jadi punya kanvas yang tidak terlalu kecil (ingat luas layar dan resolusi perangkat bergerak tahun lalu) untuk menempatkan antarmuka yang ramah terhadap pengguna. Semua aksi tidak dibungkus ke dalam menu namun diletakkan untuk memberikan pengalaman yang intuitif.

Lalu kenapa aplikasi web (desktop) tidak sepopuler dan seksi aplikasi di perangkat bergerak? Web punya dimensi kanvas yang luas. Seringkali kita terjerumus untuk berusaha memenuhi area kanvas yang kosong. Hal ini berujung pada banyak elemen antarmuka aplikasi yang ditempatkan tidak semestinya dan tidak berfungsi dengan benar.

Getting Things Done.

Dimensi layar yang tak terlalu kecil namun tak terlalu luas membuat pengembangan antarmuka didefinisikan ulang. Proses definisi yang sukses menuntun kita pada alur kerja yang efisien. Fokus dibatasi hanya pada satu kegiatan saja untuk setiap cabang alur kerja. Akibatnya produktifitas kita secara rata-rata bisa meningkat karena semakin banyak output yang bisa dihasilkan dalam waktu tertentu dibandingkan dengan proses kerja di perangkat lain.

Seperti yang bisa kita lihat, paradigma pengembangan dan kareakteristik aplikasi perangkat bergerak ini turut dibawa ke perangkat dan platform baru yang sedang berkembang. Connected TV (dalama artian terhubung ke internet) akan banyak merasakan manfaat dari pelajaran yang kita dapatkan dari perkembangan aplikasi perangkat bergerak. Tentu saja tidak semua hal dari aplikasi perangkat bergerak bisa diterapkan pada aplikasi connected TV. Ada faktor besar yang menjadi pembeda yakni: dual view. Dalam kosep connected TV, pengguna ada punya dua view yang tersedia bersama-sama. Satu untuk melihat konten utama (eg: film, program TV) dan satu lagi view untuk menyuguhkan nilai tambah berupa aplikasi. Pastinya: Fun time ahead.

Menurutmu apa yang membuat aplikasi perangkat bergerak menjadi penting dan turut menentukan perkembangan platform lain di masa depan?

Foto Copyright All rights reserved by pinkjay

Ping. Get It?

Ping. Get It?

Apakah Apple berpikir bahwa Apple bisa menyalin strategi Facebook? Apakah ini bukti pengakuan Apple atas dominasi Facebook? Kenapa dibuat social network di atas iTunes? Apakah Apple punya Social DNA?

Social DNA

Pertanyaan yang sering muncul beberapa waktu lalu sampai sekarang adalah: apakah Google punya social DNA? Google tak pernah sukses membuat produk berbasis social network. Orkut memang tidak dimatikan, tapi juga tidak sukses di secara global. Kecuali di Brazil. Google Buzz juga tak menuai sukses. Yang muncul justru isu privacy akibat Google “terlalu pintar” dalam menghubungkan pengguna-penggunanya secara otomatis sebagai teman. Yang masih kita tunggu adalah Google Me — sebuah usaha lain dari Google untuk masuk ke pasar social network. Dengan pendekatannya yang selalu scientific, aneh juga kenapa produkya tidak take off. Mungkin karena misleading numbers.

Here Comes $APPL

Baru saja, Apple merilis produk-produk baru terkait musik (dan hiburan). iPod Nano baru yang berbentuk iPod shuffle dengan multitouch. Mengingatkan saya dengan produk-produk Google: amazing but not necessarily useful (hint: Wave). Apple TV yang seperempat lebih kecil dari generasi sebelumnya, tampaknya tak ingin melewatkan gelombang set top box 2.0 yang tampak jelas akan ditunggangi oleh Google, Boxee, dll. Dan yang sama sekali baru: Ping. Social network yang dibangun di atas iTunes. Mencoba memberikan value baru lewat mengikuti update dari artis dan teman-teman seputar musik. Tujuan akhirnya tetap diarahkan ke sales dengan jalan menempatkan tombol buy di semua sudut yang memungkinkan.

Is it Facebook or Is It Last.fm?

UI dari Ping (kata orang) tampak seperti peranakan dari Twitter dan Facebook. Pengguna bisa melakukan follow dan menerima updates. Jika Anda bertanya apa lagi fiturnya, saya tak bisa menjawab karena mungkin hanya (sebegitu fokus) itu fiturnya. Apakah Anda bingung siapa yang hendak dihajar Apple kali ini? Facebook atau Last.fm? Atau seperti kemunculan iPad? Bahwa Apple berusaha fill in the gap? Last.fm kurang social dan Facebook tidak menggubris musik. Beberapa orang meragukan bahwa Ping adalah platform yang benar-benar ditujukan ke social network. Sebagian melihat ini hanya strategi sales saja. Saya lebih setuju yang terakhir.

Menurutmu, kenapa Apple tak membeli Last.fm saja? Siapa saja sih perusahaan yang mempunyai Social DNA?

Does Digg Work For You?

Does Digg Work For You?

Pesona Agregator

Digg dibangun dengan konsep agregasi. Berpijak pada masalah penemuan dan penyaringan informasi. Berita dikirim oleh pengguna, dikelompokkan dalam topik-topik lalu disaring lewat mekanisme voting. Berita paling menarik akan naik ke permukaan. Mirip dengan konsep relevansi yang diterapkan mesin pencari, hanya saja pada Digg berdasarkan kepopuleran. Konsep ini berjalan dengan baik, dan mampu menembus tingkatan mainstream. Sesuatu yang mungkin tak pernah dicapai oleh buyutnya — Slashdot?

The New Digg

Digg yang baru bagi saya mirip dengan Facebook. Kesan saya dengna warna biru dan tata letak elemennya membuat saya langsunng teringat dengan Facebook. Adakah yang tahu kenapa Digg membuat tampilan baru? Apakah sekedar tampilan saja untuk menyegarkan suasana. ataukah ada hal mendasar dalam mesinnya yang disesuaikan untuk mengatasi penyalahgunaan oleh anggota. Atau ada pergeseran fokus? Lebih difokuskan ke arah social network?

Saya bukan fan Digg, jadi saya tidak tahu apakah fitur sponsored link atau Digg Ad ini baru. Dibandingkan dengan Twitter, pendekatan sponsored link ini tampaknya lebih bisa bekerja di Digg. Somewhat, link ini terasa less spammy.

Welcome to my news, begitu kata Digg. My news adalah pengakuan Digg terhadap nilai jaringan pertemanan dan pengaruhnya pada informasi yang diminati seorang pengguna. Topnews? Itu adalah Digg yang lama.

Does it Work For You?

Digg dulunya menyenangkan. Paling tidak untuk membaca berita-berita baru dari pelbagai sumber yang seringkali susah dimonitor secara keseluruhan. We just didn’t have the time. Feed reader waktu itu memang sudah ada, namun konsepnya masih seperti inbox e-mail. Sama sekali tidak sosial jadi kita malah mendapat masalah baru: information overload. Namun setelah dipakai beberapa waktu, Digg menjadi terkikis nilainya. Kemungkinan besar karena perubahan kebutuhan informasi yang saya butuhkan. Less hot air.

Seperti yang kita tahu, variasi preferensi masing-masing orang sangatlah banyak. Tak mungkin terakomodasi dalam beberapa topik besar saja. Teknologi misalnya masih punya banyak sub dan tidak semua ingin kita baca. Jika Anda penggemar berita model Detik, Anda mungkin suka Digg. Semua yang panas saja yang Anda suka, tidak ada minat khusus atau minat khusus ini terakomodasi lewat channel lain. Bagi saya, Digg terlalu broad. Di satu sisi memang tidak akan banyak membantu menambah informasi, namun di sisi lain bisa jadi kacamata untuk melihat apa yang dilihat oleh konsumen mainstream.

How to Make It Relevant Again?

Bagi saya ini berarti: penyaring yang lebih canggih, enhance twitter value. Yep, sumber informasi saya saat ini adalah Feed Reader dan Seesmic. Feed Reader adalah hal rutin yang dibaca setiap hari. Sedang Twitter saya gunakan untuk menangkap breaking news dan memanfaatkan crowd filter.

Connected TV, Exciting Platform

Connected TV, Exciting Platform

Salah satu proyek Yahoo!, Connected TV, tampaknya mulai berwujud. Setelah SDKnya dirilis, kini partner produsen perangkat kerasnya pun sudah merilis TVnya masing-masing. Dimulai dari Sony Bravia yang segera akan tersedia di berbagai negara, termasuk di Asia. Beberapa TV lokal di Amerika, satu — WRAL News, sudah meluncurkan widget di platform connectedTV ini.

What Would You Build

Connecting People App. Orang Indonesia yang suka sekali ngobrol satu sama lain, thus the popularity of Twitter and Facebook, tentunya akan senang juga jika mereka bias terhubung lewat televise. Menangis bersama sewaktu menonton Cinta Fitri, atau bersorak bersama saat gol di pertandingan sepakbola bias jadi skenario awal yang cukup masuk akal.

Saya sendiri membayangkan messaging app di televise, menghubungkan saya dengan tetangga sesama penghuni kompleks atau teman di kompleks perumahan sebelah. Lalu saya bias menyorot ikon wajah teman, klik OK dan memunculkan jendela video chat. “Eh, lagi nonton Indonesian Idol gak?”. “Ah sori, lagi nonton film Bollywood”, jawab teman saya. Exciting. Connectivity everywhere!

Loveable Platform

Tak hanya pemilik televise yang akan menikmati platform ini. Pemilik stasiun televisi pun pastinya akan meyambut dengan gegap gempita. Hey, this is their chance to get a realtime rating. Yes, waktunya memotong budget untuk membeli data survey dari orang lain.

Jangan lupa dengan pemilik iklan. Mereka akan bisa menghitung dengan pasti efektifitas pemasangan iklannya. Bagaimana dengan kemungkinan untuk berinteraksi langsung dengan pemirsa. “Ya, daftar sekarang, menangkan Blackberry!”, begitu bunyi iklan diiringi dengan munculnya UI berisi kotak teks untuk mengisi nomor hape dan tombol submit. Call to action, baby!

What About The Bandwidth?

Sudah kuduga Anda akan bertanya. Bagaimana harga data plan sebelum Blackberry mendefinisikan ulang “hape sejuta umat”? Sekarang Anda bisa mendapatkan harga langganan BIS termasuk “unlimited” internet dengan harga di bawah 100 ribu. Hanya telco yang mau bunuh diri saja berani memasang harga data plan serendah ini, tahun lalu.

Kalau kata @kuncoro dalam artikelnya — TV Sosial, ini bukan soal lingkaran telur dan ayam. Kata @kuncoro lingkaran tersebut sebenarnya spiral. Ada awal dan akhirnya. You bring the (good) demand, supply will follow. Keep your finger crossed. May the connectedTV blessed by the Blackberry pixie dust. Can I have amen here, please?

Shocking, Nobody Uses Category Anymore!

Shocking, Nobody Uses Category Anymore!

Saya memang tak terlalu ahli dalam mengkategorikan suatu cerita. Bahkan di NavinoT, saya lebih sering menaruh artikel di dalam kategori Web & Internet. Tak salah, tapi tak tepat juga karena semua artikel bersumber dan mengomentari apa yang terjadi di Web & Internet. There’s something not right here.

Were NavinoT a Newspaper

Kalau saja NavinoT ini sebuah koran atau portal berita, tentunya mudah untuk mengklasifikasikan cerita. Ariel dan Lunmay tentu saja masuk infotainment. Kemacetan akibat Patwal bisa masuk ke Metropolitan. Berita ledakan elpiji 3 kilogram masuk Nasional. Berita tentang Google dan Facebook langsung masuk rubrik Teknologi.

Masalah muncul tatkala semua yang kita obrolkan adalah soal IT. Bisa saja digolongkan lewat jenis media: podcast, videocast. Atau desain, tutorial dan gadget. Sayangnya bukan itu materi yang dilingkupi oleh NavinoT.

Need for Navigation

Jika NavinoT adalah koran yang dibaca sehari saja, atau Flipboard yang sedang nge-hype itu maka NavinoT tak perlu pusing memikirkan kategori karena yang terpenting adalah apa yang bisa dibaca hari ini. Urusan kategori yang serba relatif itu bisa diserahkan sepenuhnya ke pembaca. Toh pembaca NavinoT pasti mencari artikel tentang IT dan Strategy. No need to breakdown further. Blog IT ya isinya tentang IT dong.

Kecuali jika kita berpikir tentang navigasi lebih jauh. Mungkin bagi pembaca baru atau pembaca yang ingin menelusuri arsip. Penulusuran kategori tentunya bisa membuat proses pencarian menjadi lebih terarah. Tentunya jika dasar Anda membuat kategori sama dengan dasar saya dalam mengelompokkan artikel.

Who Use Category?

No one!

Engadget lebih memilih topik-topik hangat sebagai pengganti kategori. Panggung utama diisi dengan visual beritan terhangat, Windows Phone, iPhone baru, HTV Evo, dll.

ReadWriteWeb memakai channel yang lebih diarahkan ke point of entry bagi sponsor. Contohnya: ReadWriteWeb Cloud yang disponsori oleh VMWare/Intel.

Techcrunch juga tak memakai kategori. Yang ada adalah featured post yang disuguhkan lewat slideshow.

GigaOm juga sama. Malah kategorinya berupa author artikel.

Sisanya adalah stream of news. Period.

And here I am, headdesk-ing to decide what category best to use.

Kamu pilih mana? Kategori atau tanpa kategori?

Google dan Zynga, Ada Apa?

Google dan Zynga, Ada Apa?

Google ternyata berinvestasi $100+ mio di Zynga. Agak mengagetkan karena kita tak pernah dengar sebelumnya dan kita belum pernah melihat bahwa Google melirik-lirik area game. Facebook yang juga punya deal dengan Zynga sudah lama kita dengar beritanya. Demikian pula dengan Yahoo yang tersirat lewat game-game Zynga yang dipajang di Yahoo! Pulse. Apakah Google ingin meluncurkan website game yang akan dijual seperti MatchMoveGames (hint: KompasGames, DetikGames)?

Secret Recipe

Seperti yang kemarin sempat kita obrolkan di artikel tentang Woot. Menyalin sebuah kisah sukses itu tidak mudah. Kita bisa saja meniru semua komponen sebuah produk sama persis, atau mungkin lebih bagus tapi belum tentu kisah sukses akan berpindah ke tangan kita. Google yang sedemikian besar dan kaya mestinya tak masalah untuk sekedar meniru Zynga. Seperti juga Amazon dengan Zappos. Tapi kunci suksesnya mungkin tak terletak di komponen produknya, atau jumlah inventorinya. Zappos is about happyness. Hal ini tidak bisa disalin dengan mudah. Ada banyak kombinasi yang memang hanya terjadi lewat keberuntungan (preparation + opportunity) tertentu. Berbagai kombinasi faktor ini jadi secret recipe. Google ingin resep rahasia ini.

The Next Big Thing

Permainan adalah esensi dari banyak aktivitas. Kita bisa saja bilang bahwa Augmented reality dan Location Based Service (LBS) adalah the next big thing, tapi tetap saja kita perlu melapisinya dengan permainan. Jika tidak, akan sulit dilakukan interaksi dengan pengguna. Hal ini sudah terbukti dengan FourSquare, dan GetGlue. Badges di Foursquare dan GetGlue (semantic related) membuat misi yang semula mustahil atau membosankan menjadi executable.

Sementara game itu sendiri juga jadi kandidat sebagai the next big thing. Game online sudah lama ada dan sudah punya jaringan sosial tersendiri dalam satu game tersebut. Beberapa perusahaan besar seperti Blizzard, Microsoft (via XBOX) juga punya komunitas kuat. Namun gugusan pulau game ini belum terkoneksi satu sama lain. Google, yang sepertinya tak terlalu berbakat di dunia social, mungkin hendak mencoba sekali lagi terjun ke pasar ini.

The Usual Suspect?

Dengan rumor akan diluncurkannya Google Me, investasi ke Zynga ini jadi make sense. Banyak yang menduga Zynga akan jadi bagian penting dalam Google Me. Games memang bisa menarik banyak orang, namun jika yang dimaksud Google adalah game yang sama dengan apa yang ada di Facebook dan Yahoo!, tampaknya Google Me tak akan punya banyak value. Lagipula beberapa game Zynga pasti sudah diikat kontrak ekslusif beberapa tahun oleh Facebook.

Bagaimana dengan Chrome Games? Bisa jadi Zynga akan dibuka platformnya lewat Google Me dan diintegrasikan di chrome sebagai bagian dari Chrome App Store.

Kira-kira, apa yang terlihat dari kacamata Google sewaktu menatap Zynga?

Apa Arti Woot Bagi Amazon?

Apa Arti Woot Bagi Amazon?

Sudah tahu kan Woot telah dibeli oleh Amazon? Setelah Zappos, Woot yang juga terkenal dengan ciri khasnya kini menjadi bagian Amazon. Dua-duanya, Zappos dan Woot bergerak pada area yang sejajar dengan Amazon: jual beli. Apa sih kira-kira makna pembelian dua perusahaan unik ini bagi Amazon?

Less Unsold Inventory

Ini yang pertama terlintas di kepala saya. definitely not the best guess, tapi bisa make sense. Zappos dan Woot bisa jadi channel extra yang saling bersinergi dalam rangka meningkatnya sales Amazon. Woot terutama bisa jadi paltform untuk menjual barang yang kurang laku dan mengendon lama di gudang. Caranya? Woot sudah jago menjual barang-barang dengan strategi khas Woot. Menjual inventori Amazon tak akan jadi masalah besar. tentu saja tidak semua jenis inventori.

Hype Channel

Selain berfungis sebagai kanal penjualan ekstra bagi inventori Amazon, Woot juga bisa jadi kandidat kanal hype yang mumpuni. One Day, One Deal bisa dijadikan platform untuk memberikan teaser produk pada konsumen. Taruhlah ada produk baru yang akan segera dirilis ke pasar publik. Amazon bisa memanfaatkan Woot untuk sarana kampanye mengenalkan produk tersebut ke konsumen dalam packaging yang ekslusif. Tidak hanya bermanfaat bagi Amazon, jasa hype channel ini juga bisa dijual ke pihak luar walau mungkin akan jadi sedikit income extra. Pretty much like Twitter’s Promoted Trending Topics.

Business is A Game of Scaling

Bisnis adalah proses menemukan suatu model ekonomi yang mampu menghasilkan revenue lewat strategi tertentu. Jika model yang bisa membeirkan revenue ini sudah ditemukan maka kegiatan selanjutnya adalah proses mereplikasi model ini untuk melipatgandakan revenue. Woot dan Zappos adalah model ekonomi yang sudah terbukti bisa menghasilkan revenue. Dengan resource yang dimiliki Amazon, melakukan scaling atas model ekonomi Wot dan Zappos adalah hal yang memungkinkan. Double the sales force, double the market reach, double the shipping power, double everything and let’s see if the revenue doubles as well.

Kita tutup artikel ini dengan video monyet nge-rap dari Woot saat dibeli oleh Amazon.