Browsed by
Tag: advertising

Mengukur Nilai Blog

Mengukur Nilai Blog

Berapa sih nilai blog kita. Berapa sih kita bisa jual ke advertiser? Mari kita coba timbang beberapa alternatif menghitung nilai sebuah blog.

Content Value

Apa yang menjadi penentu nilai konten sebuah blog? Tidak hanya dari manfaatnya terhadap pembaca, kita juga bisa mengukur dari post frequency, comments, pingback dan linkback. Post frequency menandakan keaktifan blog, yang turut mempengaruhi besaran returning visitor pada blog. Comments menandakan seberapa kuat konten bisa membuat pembaca berinteraksi. Pingback dan linkback juga jadi unit serupa, hanya saja pada tataran yang lebih luas (antar produsen konten)

Blogger Value

Selain konten, tentu saja pemilik blog juga punya value. Bisa saja konten yang dihasilkan tidak banyak namun pemilik blog adalah seorang seleb atau public figure. Atau mungkin pemilik blog adalah seorang akademisi yang hanya punya jaringan orang-orang akademisi pula. Orang yang hanya punya sedikit jaringan yang dimiliki namun semua adalah pemegang keputusan tentunya punya value tersendiri. Network, impact, dan jumlah pengikut adalah beberapa faktor yang patut dipertimbangkan.

Preference Variable

Tidak semua blog yang punya nilai konten dan blogger tinggi bisa dianggap sama. Masih ada multiplier berupa preferensi. Situs HYIP dan getting rich quick pasti punya pengunjung banyak dan interaksi tinggi. Namun situs-situs tersebut bisa jadi berada diluar target kita karena alasan tertentu. Di sini preferensi juga jadi salah satu penentu nilai akhir sebuah blog.

Future-Projected Value

Kondisi di masa depan bisa saja berubah. Kita perlu juga melihat tren, tidak hanya present value saja. Oleh karena itu pengukuran nilai blog tidak bisa dilakukan hanya sekali, namun harus berulang kali layaknya sebuah percobaan. Dari beberapa pengukuran ini kita bisa mengetahui rata-rata nilai sebenarnya dari sebuah blog.

So, How?

Tentukan tujuan yang hendak dicapai. Dari sana kita bisa breakdown atau petakan value apa saja yang kita perlukan. Nilai-nilai ini mungkin tidak bisa kita petakan langsung, namun bisa diturunkan dari nilai-nilai yang ada. Blog value akan selalu tergantung kategori. Nilainya akan selalu bervariasi. Anda tidak bisa mengukur dengan kategori A lalu menggunakan nilainya untuk strategi produk di kategori B. Pasti hasil akhirnya berbeda.

Iklan: Untuk Pemirsa atau Citra Produk?

Iklan: Untuk Pemirsa atau Citra Produk?

pariwara

Satu hal yang saya catat tentang periklanan Indonesia adalah penyajian iklan yang…. hmm apa yah… ndeso! Bila anda merasa demikian, pasti anda telah menangkap maksud saya, yaitu iklan-iklan yang terkesan murahan banget. Tanpa casting, tanpa konsep, hanya tujuan menampilkan suatu produk dibarengi jingle-jingle yang gampang diingat. Beberapa di antaranya adalah iklan sosis siap makan. Tak perlu disebutkan yang mana khan?

Read More Read More

Iklan yang Aku Mau

Iklan yang Aku Mau

Billboard Advertising

Siapa sih yang senang dengan iklan? Sudah lancang menyela acara kesayangan, ditambah memaksa-maksa beli produk pula. Masih mending kalau iklannya lucu atau keren, ada juga nih iklan ‘ecek-ecek’ yang diulang sampe tiga kali sekali tayang. Duh, cape deh.

Tapi kenapa tidak ada yang protes dengan iklan di Google ya? Ada beberapa faktor penyebabnya.

  1. User memang sedang mencari sesuatu. Kalau mengutip pak Herman Chang dalam acara FreSh semalam, user telah membuat keputusan membeli sebelum mulai mencari di Google. Oleh karena itu, iklan yang tampak di samping kanan tersebut justru dianggap sebagai informasi tambahan.
  2. Non obstrusive. Google membuat separasi antara konten dan iklan secara jelas. Akibatnya user bisa benar-benar fokus ke konten hasil pencarian tanpa terdistraksi dengan iklan. Keberadaan iklan, walau tidak diharapkan, ternyata tidak mengganggu user.

Analogi serupa bisa diaplikasikan ke blog. Kenapa orang benci iklan di blog walau ikan tersebut berasal dari sistem Google. Yaitu karena sedari awal user memang tidak berharap dan mencari iklan. Informasi blog lah yang dicari. Dan yang kedua, rata-rata keberadaan iklan tersebut menyita fokus dari konten.

Sekarang kita coba beranjak ke wacana RichMedia CDN (Content Delivery Network) yang (segera) diluncurkan oleh Detik. Detik, dalam acara FreSh semalam menjelaskan mengapa iklan RichMedia ini adalah masa depan dari iklan. Atau istilah kerennya “Ad 2.0”. Detik mengamati bahwa ad yang ada sekarang ini sudah tidak jamannya lagi. Selain formatnya membatasi kreativitas advertiser, value yang didapat advertiser juga kurang.

Detik memperkenalkan RichMedia sebagai alternatif baru. Dengan sistem pintar EyeBlaster, Detik akan mampu menghantarkan pengalaman lebih menarik dalam berinteraksi dengan iklan. Selain pandai dalam menentukan format iklan yang sesuai dengan kualitas koneksi, RichMedia ini juga akan memberikan value lebih pada advertiser lewat iklan interaktif eg: user bisa bermain-main dengan iklan, advertiser bisa mengcapture data untuk database, dll mirip dengan menaruh website advertiser dalam sebuah kotak iklan.

Setelah membaca paragraph-paragrat di atas, menurut Anda RichMedia yang ditawarkan Detik ini bisa laku? Menurut saya, ada pro kontra-nya.

  • What works? Long exposure. Menaruh iklan di internet selalu akan mendapatkan keuntungan ketakterbatasan waktu tayang. User bisa melihat kapan saja di mana saja. Dengan iklan interaktif yang juga punya fleksibilitas durasi dan size, faktor long exposure akan memberikan lebih banyak peluang konversi (sales).
  • What does not work? Interaction. user does not want ad in the first place. Saya tak berpikir interaction adalah the magic word yang akan jadi rahasia efektifitas iklan di masa depan. Menambah iklan tidak akan banyak menolong. User akan bertambah pintar dan mainan baru yang bernama “interaktifitas” ini akan segera jadi membosankan. Tapi kenapa interaktifitas justru jadi kata kunci Web 2.0. kenapa interaktifitas itu bekerja dalam konteks blog? Karena orang datang ke blog, bukan sebaliknya. Mereka memang sudah mendambakan interaktifitas.

So, apakah ini akan jadi blooper-nya Detik. Saya tidak tahu. Detik is not stupid. Yang jelas produk ini akan menuai perhatian besar dari para advertiser karena advertiser sedang membutuhkan cara baru untuk tampil beda dari advertiser yang lain. Sementara itu di pihak konsumen, formula yang berlaku masih sama: Kita tidak mau iklan kecuali kalau kita memang menginginkannya.

Kita tutup artikel ini dengan quote menarik dari artikel “Where is Everyone” (thanks @hendrylee untuk lemparannya).

In the same way, information will not be something you ‘consume’ a certain times – like you did with prime-time on TVs. The information stream will be a natural part of every second of your life. It is not something you get, it is something you have.

Jadi, di masa depan, informasi (termasuk iklan) adalah bagian natural dari setiap saat hidup kita. Interaktifitas bukan value utama yang akan membuat user mau melihat iklan kita. They will see it when they feel like watching it. It’s not about advertiser, it’s all about user.

Bagaimana pendapat Anda tentang iklan di masa depan?

Perbincangan Bisnis Cetak Gratis Bersama Yogi Prasetya

Perbincangan Bisnis Cetak Gratis Bersama Yogi Prasetya

mobmagheader

Dibalik peningkatan jumlah pengguna internet di Indonesia yang dibarengi penurunan tarif internet, bisnis cetak masih terlihat sehat-sehat saja. Bahkan dalam beberapa tahun terkahir, bisnis majalah malah berkembang pesat. Terbukti dari banyaknya majalah baru dengan topik-topik niche.

Dari sekian banyak jenis majalah yang beredar, satu yang menarik perhatian adalah bisnis majalah gratis. Mengapa menarik? Karena pada umumnya biaya terbesar dari penerbitan majalah adalah ongkos cetak, termasuk kertas. Perusahaan penerbitan biasanya mengimbangi langsung dengan bandrol harga, sedangkan nilai keuntungan dihitung langsung dari jumlah pemasukan iklan yang dipotong biaya operasional.

Read More Read More

11 Unsur Untuk Membangun Persepsi

11 Unsur Untuk Membangun Persepsi

Don’t Judge a Book by Its Cover – Jangan menilai suatu buku hanya dari sampulnya, begitulah bunyi peribahasa yang kerap kita dengar. Dalam hal ini, sampul atau kemasan adalah gambaran pertama yang membangun persepsi calon pembeli tentang isi buku tersebut. Dengan desain yang menarik, lengkap dengan serangkaian kata-kata persuasi, menjadikan buku ini semakin meyakinkan untuk ditelusuri lebih lanjut.

Read More Read More

Susahnya Hidup dari Iklan

Susahnya Hidup dari Iklan

Untuk media online, pendapatan lewat iklan sudah merupakan hal yang lumrah. Bahkan layanan internet yang top seperti Google atau Detik.com juga mengandalkan iklan sebagai sumber pemasukan. Hal ini juga sudah menjadi panutan bagi pemain kecil, seperti kamu2 dan saya, bahwa alternatif pertama untuk monetisasi suatu web aplikasi atau blog adalah dengan menerima iklan. Tapi sadarkah anda, bahwa jalan dengan tujuan ini sangatlah berliku dan penuh rintangan?

Read More Read More

TransCab: Media Advertising Baru?

TransCab: Media Advertising Baru?

TransCab adalah armada taksi yang punya ciri khas memiliki fasilitas televisi bagi penumpang. Warna khasnya kuning dengan ornamen pola papan catur. Pemilihan warna ini cukup cerdik karena berhasil membedakan armada ini dengan armada BlueBird. Mungkin ini memang diniati untuk berbeda,dan tidak menjadi pengikut pemimpin pasar saat ini. Lalu, apakah yang menarik dibalik taksi dengan televisi ini?

Tebakan umum adalah televisi tersebut dipasang dengan tujuan memberikan fasilitas hiburan kepada penumpang. Apalagi di Jakarta yang sudah terkenal dengan kalimat kota yang menjadikan orang jadi tua di jalan. Televisi ini diharapkan bisa menghibur penumpang yang terjebak macet. Jika penumpang merasa tetap senang maka tak usah pikir panjang pasti mereka akan memilih taksi ini di lain waktu. Customer service rules!

Tebakan lain? Ini mungkin tahap awal pembuatan media advertising baru. Tentunya kita ingat dengan televisi yang terpasang di dekat elevator pada gedung-gedung tertentu yang menampilkan iklan. Atau televisi besar di perempatan jalan “milik” LA Light.

Media broadcast (televisi) mungkin dianggap makin kuno. Televisi mempunyai kelemahan fatal karena bergantung pada mercy dan generousity (kemurahan hati) penonton. Jika penonton tidak mau melihat, iklan pasti dilewatkan, channel dipindah, muka dipalingkan, dan lain-lain. Televisi di pinggir jalan beda karena bentuknya yang besar menarik mata pengguna jalan yang lewat. Apalagi ditaruh di perempatan lampu merah dimana pengguna jalan pasti sedang bosan menunggu dan mencari hal menarik untuk membunuh waktu.

Televisi dalam TransCab juga berbeda karena mau menjemput bola. Di tempat dimana audience tak terjangkau sebelumnya, kini bisa dijangkau karena ada televisi yang dipasang di sana. Fitur hiburan mungkin hanya sebagai sarana penarik audience untuk mendekati media advertising ini. Menarik untuk mendekati dan kemudian berinteraksi dengan strategi yang telah disusun pemilik media.

Apa saya berpikir terlalu positif? Istri saya mengeluh. Katanya dari dua dari tiga TransCab yang dijumpainya, semuanya suka ngebut. Keluhan ini mengingatkan kita kembali bahwa televisi bukanlah daya tarik utama bagi penumpang. Kenyamanan tetap nomor satu. Akan tetapi, kenyamanan plus televisi bisa berarti kenyamanan kuadrat, tidak kenyamanan kali dua.

Masih perlu dilihat juga bagaimana aksi TransCab selanjutnya. Strategi jemput bola memang menarik, tapi kita semua sudah tahu bahwa targetted ad itu jauh lebih efektif. Apakah TransCab nantinya bisa menerapkan model targetted ad? Televisi yang dipasang di gedung bisa memakai model targetted ad. Paling tidak dengan memasang iklan sesuai dengan mayoritas pengunjung atau penyewa ruang. Tapi bagaimana dengan taksi? Tidak ada yang menyaring penumpang. Biasanya bisa dipakai harga sebagai alat saring. Misalnya Silverbird. Tapi TransCab ini justru memasang tarif bawah (tarif lama, lebih murah).

Hmm, bagaimana menurut Anda? Anda punya tebakan lain tentang apa yang akan terjadi dengan TransCab?

The User-Experience

The User-Experience

Kemarin pikiranku tergeletik, bukan untuk berpikir kritis, tapi untuk memberi kritikan. Sebagaiseorang self-proclaimed internet addict, saya merasakan bahwa situs administrasi pengacara imigrasi yang saya bayar mahal tidak berfungsi seperlunya dan tampilannya yang masih era 90-an membuat mata ini gatal. Yang paling mengganggu adalah untuk menjawab suatu pertanyaan yang cukup berupa satu kalimat, saya harus melewati jalus pendaftaran dan log in masuk ke sistem mereka. Walaupun pertanyaan yang dilontarkan bukan suatu yang sensitif. Inilah user-experience yang buruk yang tidak menambah nilai suatu layanan, tapi malah menjatuhkan citra yang selama ini dibangun. Lalu mengapa saya koq mengumpat disini? bukankah ini blog tentang IT?

Read More Read More