Browsed by
Tag: Amazon

When Cloud Fails

When Cloud Fails

Cloud, buat apa? Opsi pemakaian cloud biasanya muncul karena isu mahalnya harga server dan ongkos pemeliharaannya. Daripada membeli server besar yang belum tentu bisa kita manfaatkan dengan optimal, maka sewa server menjadi opsi menarik. Mengapa tidak mempertimbangkan VPS? VPS biasanya dipertimbangkan, namun seringkali harga sewanya tidak sefleksibel sewa cloud. Sewa cloud biasanya didasarkan pada jumlah pemakaian resource baik cpu, disk, maupun bandwidth sedangkan VPS biasanya bertarif datar (flat/fixed).

Selain sewanya yang fleksibel, cloud juga dianggap sebagai resource terbaik untuk menjalankan aplikasi. Anti gagal, demikian persepsinya. Well, cloud can fail.

Kesalahan Persepsi

Menaruh aplikasi di cloud tidak berarti aplikasi Anda akan langsung jadi bullet proof. Memang resource di belakang mesin virtual Anda akan diatur dan ditat sedemikian rupa supaya selalu tersedia. Media penyimpan akan disalin ke pelbagai tempat sehingga akan selalu tersedia untuk Anda walaupun salah satu hardware mengalami kegagalan. Tapi itu adalah layanan high availability (selalu tersedia) dari penyedia cloud bagi Anda sebagai konsumen. Sedang, high availability bagi klien Anda adalah lain cerita. Anda yang bertanggung jawab.

Oleh karena itu ada bermacam produk dan framework tambahan untuk mengatur resource Anda yang berada di cloud. Produk dan framework ini didesain dengan tujuan menfasilitasi Anda untuk menyediakan high availability bagi konsumen produk Anda. Contohnya: Scalr, RightScale, dan CloudFoundry. Beberapa di antaranya juga menyediakan kemampuan untuk memadukan public cloud dan private cloud (hybrid cloud).

Why Private Cloud

Adalah aturan mendasar bahwa kita tidak boleh meng-outsource inti dari produk kita. Inti produk kita adalah nilai yang membedakannya dengan produk lain di mata konsumen. Menyerahkannya untuk digarap orang lain bisa berarti melepas kontrol kesempurnaan produk. Walau tak selalu berarti seperti itu tetap ada sekian probabilitas bahwa kita menyerahkan nasib kita ke orang lain. What if they fail to deliver?

Di sinilah posisi penting private cloud. Private cloud memberikan Anda kontrol penuh terhadap semua proses inti yang terkait pada penyediaan layanan berkulitas sesuai standar yang Anda tentukan. Public cloud difungsikan sebagai resource cadangan ketika proses penyediaan layanan tak lagi mampu ditangani resource internal, baik karena alasan efisiensi atau murni karena kekurangan processing power.

Beberapa produk yang bisa digunakan untuk membuat private cloud antara lain: VMWare vSphere, ProxMox, Eucalyptus, atau Microsoft Hyper-V Cloud.

Getting Ready for Outage

Don’t put all your eggs in one basket. Atau dalam dunia teknis lebih populer dengan jangan sampai ada single point of failure. Joyent blog menjelaskan kenapa kita harus picky soal memilih penyedia layanan cloud. Tiap cloud diimplementasikan dengan pelbagai jenis pendekatan. Joyent menggambarkan Amazon Cloud sebagai blackbox di atas blackbox dan saat terjadi masalah jaringan, salah satu komponen perekat cloud pun berulah. Berniat baik untuk melakukan auto recovery namun malah memicu proses self-healing yang tak terkendali (vm reboots dan storage failure tak berujung)

Shit happens. Pastikan Anda punya tempat menyimpan data cadangan untuk membuat layanan Anda tetap tersedia atau paling tidak bisa dipulihkan. Lengkapi check-list dari strategi Business Continuity Plan atau Disaster Recovery Plan. Memang ongkosnya bakal mahal, apalagi buat startup. Bak asuransi, keberadaan Business Continuity Plan hanya akan disyukuri saat Anda menggunakannya.

So, mari liat sekeliling. Apa ya yang perlu kita backup? Apa ya yang bisa kita siapkan untuk mendukung Business Continuity?

 

 

Cloud, buat apa? Opsi pemakaian cloud biasanya muncul karena isu mahalnya harga server dan ongkos pemeliharaannya. Daripada membeli server besar yang belum tentu bisa kita manfaatkan dengan optimal, maka sewa server menjadi opsi menarik. Mengapa tidak mempertimbangkan VPS? VPS biasanya dipertimbangkan, namun seringkali harga sewanya tidak sefleksibel sewa cloud. Sewa cloud biasanya didasarkan pada jumlah pemakaian resource baik cpu, disk, maupun bandwidth sedangkan VPS biasanya bertarif datar (flat/fixed).

Selain sewanya yang fleksibel, cloud juga dianggap sebagai resource terbaik untuk menjalankan aplikasi. Anti gagal, demikian persepsinya. Well, cloud can fail.

Kesalahan Persepsi

Menaruh aplikasi di cloud tidak berarti aplikasi Anda akan langsung jadi bullet proof. Memang resource di belakang mesin virtual Anda akan diatur dan ditat sedemikian rupa supaya selalu tersedia. Media penyimpan akan disalin ke pelbagai tempat sehingga akan selalu tersedia untuk Anda walaupun salah satu hardware mengalami kegagalan. Tapi itu adalah layanan high availability (selalu tersedia) dari penyedia cloud bagi Anda sebagai konsumen. Sedang, high availability bagi klien Anda adalah lain cerita. Anda yang bertanggung jawab.

Oleh karena itu ada bermacam produk dan framework tambahan untuk mengatur resource Anda yang berada di cloud. Produk dan framework ini didesain dengan tujuan menfasilitasi Anda untuk menyediakan high availability bagi konsumen produk Anda. Contohnya: Scalr, RightScale, dan CloudFoundry. Beberapa di antaranya juga menyediakan kemampuan untuk memadukan public cloud dan private cloud (hybrid cloud).

Why Private Cloud

Adalah aturan mendasar bahwa kita tidak boleh meng-outsource inti dari produk kita. Inti produk kita adalah nilai yang membedakannya dengan produk lain di mata konsumen. Menyerahkannya untuk digarap orang lain bisa berarti melepas kontrol kesempurnaan produk. Walau tak selalu berarti seperti itu tetap ada sekian probabilitas bahwa kita menyerahkan nasib kita ke orang lain. What if they fail to deliver?

Di sinilah posisi penting private cloud. Private cloud memberikan Anda kontrol penuh terhadap semua proses inti yang terkait pada penyediaan layanan berkulitas sesuai standar yang Anda tentukan. Public cloud difungsikan sebagai resource cadangan ketika proses penyediaan layanan tak lagi mampu ditangani resource internal, baik karena alasan efisiensi atau murni karena kekurangan processing power.

Beberapa produk yang bisa digunakan untuk membuat private cloud antara lain: VMWare vSphere, ProxMox, Eucalyptus, atau Microsoft Hyper-V Cloud.

Getting Ready for Outage

Don’t put all your eggs in one basket. Atau dalam dunia teknis lebih populer dengan jangan sampai ada single point of failure. Joyent blog menjelaskan kenapa kita harus picky soal memilih penyedia layanan cloud. Tiap cloud diimplementasikan dengan pelbagai jenis pendekatan. Joyent menggambarkan Amazon Cloud sebagai blackbox di atas blackbox dan saat terjadi masalah jaringan, salah satu komponen perekat cloud pun berulah. Berniat baik untuk melakukan auto recovery namun malah memicu proses self-healing yang tak terkendali (vm reboots dan storage failure tak berujung)

Shit happens. Pastikan Anda punya tempat menyimpan data cadangan untuk membuat layanan Anda tetap tersedia atau paling tidak bisa dipulihkan. Lengkapi check-list dari strategi Business Continuity Plan atau Disaster Recovery Plan. Memang ongkosnya bakal mahal, apalagi buat startup. Bak asuransi, keberadaan Business Continuity Plan hanya akan disyukuri saat Anda menggunakannya.

So, mari liat sekeliling. Apa ya yang perlu kita backup? Apa ya yang bisa kita siapkan untuk mendukung Business Continuity?

Apa Arti Woot Bagi Amazon?

Apa Arti Woot Bagi Amazon?

Sudah tahu kan Woot telah dibeli oleh Amazon? Setelah Zappos, Woot yang juga terkenal dengan ciri khasnya kini menjadi bagian Amazon. Dua-duanya, Zappos dan Woot bergerak pada area yang sejajar dengan Amazon: jual beli. Apa sih kira-kira makna pembelian dua perusahaan unik ini bagi Amazon?

Less Unsold Inventory

Ini yang pertama terlintas di kepala saya. definitely not the best guess, tapi bisa make sense. Zappos dan Woot bisa jadi channel extra yang saling bersinergi dalam rangka meningkatnya sales Amazon. Woot terutama bisa jadi paltform untuk menjual barang yang kurang laku dan mengendon lama di gudang. Caranya? Woot sudah jago menjual barang-barang dengan strategi khas Woot. Menjual inventori Amazon tak akan jadi masalah besar. tentu saja tidak semua jenis inventori.

Hype Channel

Selain berfungis sebagai kanal penjualan ekstra bagi inventori Amazon, Woot juga bisa jadi kandidat kanal hype yang mumpuni. One Day, One Deal bisa dijadikan platform untuk memberikan teaser produk pada konsumen. Taruhlah ada produk baru yang akan segera dirilis ke pasar publik. Amazon bisa memanfaatkan Woot untuk sarana kampanye mengenalkan produk tersebut ke konsumen dalam packaging yang ekslusif. Tidak hanya bermanfaat bagi Amazon, jasa hype channel ini juga bisa dijual ke pihak luar walau mungkin akan jadi sedikit income extra. Pretty much like Twitter’s Promoted Trending Topics.

Business is A Game of Scaling

Bisnis adalah proses menemukan suatu model ekonomi yang mampu menghasilkan revenue lewat strategi tertentu. Jika model yang bisa membeirkan revenue ini sudah ditemukan maka kegiatan selanjutnya adalah proses mereplikasi model ini untuk melipatgandakan revenue. Woot dan Zappos adalah model ekonomi yang sudah terbukti bisa menghasilkan revenue. Dengan resource yang dimiliki Amazon, melakukan scaling atas model ekonomi Wot dan Zappos adalah hal yang memungkinkan. Double the sales force, double the market reach, double the shipping power, double everything and let’s see if the revenue doubles as well.

Kita tutup artikel ini dengan video monyet nge-rap dari Woot saat dibeli oleh Amazon.