Browsed by
Tag: black swan

Misteri Trending Topics

Misteri Trending Topics

Is that what triggers twitter trending topic?

Rasanya makin penasaran saja setelah beberapa kali pengguna twitter Indonesia berhasil meletakkan beberapa hashtag lokal dalam daftar trending topics Twitter. Sebenarnya apa yang jadi resep supaya suatu isu bisa jadi trending topics, atau minimal bisa memicu fenomena penyebaran viral?

Memikirkan hal ini membaut saya sakit kepala. Ada banyak pendekatan yang bisa dipakai untuk menganalisa hal ini. Yang pertama adalah konsep Tipping Point. Tipping point adalah suatu tingkatan yang menjadi titik menggelindingnya bola salju, dalam konteks ini: unstoppable change. Tipping point mengambil pendekatan menganalisa dari titik akhir ke titik awal. Tentu saja, karena setelah suatu fenomena telah terjadi barulah kita bertanya-tanya apa yang menjadi faktor pemicu.

Gladwell mendaftar 3 faktor utama yang mempengaruhi tipping point dan menjadi penyebab epidemik.

  • The Law of The Few. Di luar sana ada orang-orang yang memiliki social gift. Saat orang-orang spesial ini terlibat sesuatu aktivitas, hukum merekalah yang berlaku. Dalam artian, mereka ini adalah influencer spesial. Dijelaskan pula bahwa, fenomena ini sejalan dengan konsep 80/20 di mana 20% partisipan akan menyumbang 80% dari output suatu aktivitas.
  • The Stickiness Factor. Suatu isu bisa menjadi viral jika isu tersebut memiliki kaitan (kedekatan) tertentu dengan seorang subjek. Contohnya: ingatan masa lalu (#jamanSD), objek special (#MbahSurip)
  • The Power of Context. Epidemik sangat terpengaruh pada kondisi di mana dan kapan fenomena tersebut terjadi. Gladwell mencontohkan perang pada tindak kriminal ringan ternyata mengurangi jumlah tindak kriminal berat.

Sementara itu Duncan Watts punya teori lain. Duncan Watts mengemukakan bahwa pengaruh influencer tidak terlalu besar dalam proses penciptaan epidemik. Duncan berhasil mereproduksi efek Six Degrees of Separation lewat cara yang berbeda, tanpa memanfaatkan terlalu banyak koneksi/pengaruh spesial di antara subjek-subjeknya. Jadi ada hal lain yang menyebabkan isu bisa tersebar, walau tanpa melewati influencer khusus.

Jadi apa sebenarnya yang jadi faktor penentu? Jika kita baca Freakonomics, ada penjelasan lain untuk masalah yang sama tentang penurunan tingkat kejahatan di New York. Hukum aborsi. Ya, pengesahan hukum aborsi ditengarai mampu mengurangi kelahiran anak yang tidak diinginkan yang mungkin tidak punya banyak kesempatan secara ekonomi dan edukasi dan berpotensi melakukan tindak kejahatan.

So, bisa jadi semua itu juga bukan jawaban sebenarnya. Mungkin ada faktor random lain yang tak terjelaskan saat ini. Mungkin trending topics ini adalah Black Swan dalam ukuran kecil. Peristiwa yang mengejutkan, punya “major” impact (berupa trending topics) dan dirasionalisasi secara dini.

Mungkin saya harus tidur saja supaya tidak pusing? Ada yang mau urun rembug? Jangan lupa baca blog Virtual, di sana diskusinya sudah mulai dari kemarin.

Rasa Buku: Black Swan

Rasa Buku: Black Swan

Black Swan

Penemuan angsa hitam menggambarkan betapa terbatasnya pembelajaran yang kita peroleh dari pengamatan-pengamatan dan pengalaman-pengalaman serta betapa rapuh pengetahuan kita selama ini.

Bukannya semua angsa itu putih? Sebagian besar dari kita, termasuk saya, hanya senang membaca buku dan mencari informasi yang ingin menegaskan apa yang sudah kita ketahui. Jarang-jarang, dan mungkin malah kita enggan untuk melakukan pembelajaran untuk menegaskan apa yang tidak kita ketahui. Hal ini menghalangi kita untuk melihat Black Swan meskipun si angsa hitam ini muncul di depan kita. Ah, itu kan penyimpangan genetik semata.

Black Swan adalah sebuah peristiwa yang mempunyai tiga sifat sebagai berikut. Pertama, peristiwa tersebut lain dari pada yang lain dan datangnya tidak diharapkan karena tidak pernah kejadian di masa lampau yang dapat menunjukkan kemungkinan terjadinya peristiwa ini. Kedua, peristiwa tersebut mempunyai efek yang ekstrim. Ketiga — yang paling dahsyat – walaupun peristiwa ini berbeda sama sekali dengan yang lain, sifat dasar manusia mendorong kita membuat penjelasa-penjelasan atas peristiwa tersebut setelah peristiwa itu terjadi. Dan membuatnya seolah-olah dapat diterangkan dan diprakirakan.

Black Swan ini bisa berupa hal yang tidak menyenangkan atau justru hal yang kita tunggu-tunggu. Dalam konteks entrepreneurship, hal ini bisa berupa naiknya harga BBM, atau tiba-tiba turunnya suku bunga bank, atau krisis global. Hal-hal ini dikaitkan dengan momentum, kecepatan reaksi dan strategi akan menjadi penentu siapa yang akan bertahan dan memimpin di depan.

Kita selalu mencoba memahami peristiwa sesuai apa yang kita inginkan dengan rumus-rumus yang lebih kita percayai. Tidak, buku Black Swan tidak membahas isu kekurangan informasi, namun lebih pada tingkah laku manusia dalam proses pemilahan dan penyikapan terhadap informasi.

Sejarah tidak merangkak, melainkan melompat. Sejarah berpindah dari satu serpihan ke serpihan lain.

Cuplikan di atas juga salah satu hal yang enggan dipercayai. Dan masih banyak hal lagi yang menghalangi kita untuk melihat Black Swan. Ketidakmampuan untuk melihat Black Swan bisa disamakan dengan salah analisa yang tentu saja membuat proses pembuatan keputusan menjadi tidak efektif.

Nah, sekarang bagaimana tulisan ini harus saya tutup? Siapa yang mengangguk-anggukkan kepala (nodding)?

PS:

  • Saya belum selesai membaca buku Black Swan ini, bahkan belum selesai satu bab. Meskipun demikian pengantar buku ini cukup menggugah dan mengingatkan bagaiamana kita bertingkah laku.
  • Bagi yang sudah membaca buku ini, silahkan menambahkan atau mengkoreksi. Saya yakin bahwa buku adalah cermin yang mampu memantulkan berbagai hal. Efeknya bagi tiap orang tidak akan sama.
  • Rasa Buku bisa disingkat RaBu. Mudah-mudahan bisa konsisten seperti halnya JuTek (Jumat Tekno) 😀