Browsed by
Tag: blackberry

Connected TV, Exciting Platform

Connected TV, Exciting Platform

Salah satu proyek Yahoo!, Connected TV, tampaknya mulai berwujud. Setelah SDKnya dirilis, kini partner produsen perangkat kerasnya pun sudah merilis TVnya masing-masing. Dimulai dari Sony Bravia yang segera akan tersedia di berbagai negara, termasuk di Asia. Beberapa TV lokal di Amerika, satu — WRAL News, sudah meluncurkan widget di platform connectedTV ini.

What Would You Build

Connecting People App. Orang Indonesia yang suka sekali ngobrol satu sama lain, thus the popularity of Twitter and Facebook, tentunya akan senang juga jika mereka bias terhubung lewat televise. Menangis bersama sewaktu menonton Cinta Fitri, atau bersorak bersama saat gol di pertandingan sepakbola bias jadi skenario awal yang cukup masuk akal.

Saya sendiri membayangkan messaging app di televise, menghubungkan saya dengan tetangga sesama penghuni kompleks atau teman di kompleks perumahan sebelah. Lalu saya bias menyorot ikon wajah teman, klik OK dan memunculkan jendela video chat. “Eh, lagi nonton Indonesian Idol gak?”. “Ah sori, lagi nonton film Bollywood”, jawab teman saya. Exciting. Connectivity everywhere!

Loveable Platform

Tak hanya pemilik televise yang akan menikmati platform ini. Pemilik stasiun televisi pun pastinya akan meyambut dengan gegap gempita. Hey, this is their chance to get a realtime rating. Yes, waktunya memotong budget untuk membeli data survey dari orang lain.

Jangan lupa dengan pemilik iklan. Mereka akan bisa menghitung dengan pasti efektifitas pemasangan iklannya. Bagaimana dengan kemungkinan untuk berinteraksi langsung dengan pemirsa. “Ya, daftar sekarang, menangkan Blackberry!”, begitu bunyi iklan diiringi dengan munculnya UI berisi kotak teks untuk mengisi nomor hape dan tombol submit. Call to action, baby!

What About The Bandwidth?

Sudah kuduga Anda akan bertanya. Bagaimana harga data plan sebelum Blackberry mendefinisikan ulang “hape sejuta umat”? Sekarang Anda bisa mendapatkan harga langganan BIS termasuk “unlimited” internet dengan harga di bawah 100 ribu. Hanya telco yang mau bunuh diri saja berani memasang harga data plan serendah ini, tahun lalu.

Kalau kata @kuncoro dalam artikelnya — TV Sosial, ini bukan soal lingkaran telur dan ayam. Kata @kuncoro lingkaran tersebut sebenarnya spiral. Ada awal dan akhirnya. You bring the (good) demand, supply will follow. Keep your finger crossed. May the connectedTV blessed by the Blackberry pixie dust. Can I have amen here, please?

BBM is Magical and Unbelievable Application

BBM is Magical and Unbelievable Application

Tahun-tahun ini digadang sebagai tahun social. Lebih banyak orang percaya bahwa keputusan membeli jauh lebih banyak ditentukan oleh teman dari pada iklan. Pengalaman dan testimoni dari trusted circle menjadi salah kunci penting penjualan. Friendster yang dulu jadi tren sesaat kini telah banyak digantikan oleh Facebook dan mengalami transformasi peran luar biasa. Ajaib, ternyata tempat curhat dan ngobrol ngalor-ngidul kini menjadi agen perubahan bagi bisnis dan bahkan cara hidup kita. Kita kini hidup di jaman Socialnomics dimana kehidupan sosial menjadi salah satu unsur pergerakan ekonomi.

BBM is Magical (and Unbelievable) Application

Bayangkan kita bisa mengirim pesan dan gambar ke geng kita. Dan beberapa waktu kemudian, respon berdatangan dan percakapan baru yang mengasikkan langsung terjadi. Ucapan selamat pagi, selamat ulang tahun, koordinasi pekerjaan, cerita seru, semua bisa kita akses setiap saat.

Bukannya Facebook dan milis juga bisa melakukan hal yang sama? Ya, tapi kita akan terhalang oleh aplikasi yang ingin menyajikan newfeed atau antar muka email. Yang terjadi adalah berbalas e-mail, berbalas komentar, masih terganjal sebuah layer tambahan antara komunikan dan komunikator.

Online, online

(Salah satu) Yang menyebabkan BBM menjadi magical adalah karena always on. Tidak perlu menyalakan modem, tidak perlu membuka browser, tidak perlu membuka webmail. Seperti TV. Kita buka, dan kontennya sudah ada di sana. Aplikasi ini seolah menyatu dengan mudahnya dalam bagian aktivitas keseharian.

Friends on the Go

Judul asli artikel ini adalah Friends on the Go. The next best thing setelah always on adalah kita selalu punya teman (person) di kantong kemana pun kita pergi.

Actually, orang-orang tak peduli Facebook atau Twitter. Mereka membeli hape berlogo Facebook dan Twitter bukan karena aplikasinya. Tapi karena teman mereka ada dalam hape tersebut. Sesuai peribahasa “mangan ora mangan sing penting kumpul” yang sangat aplikatif dengan orang Asia, kita selalu ingin berada di mana pun teman kita berada. Karena itu kita follow mereka di Twitter, dan atau berteman di Facebook.

BBM mendekatkan kembali kita pada teman-teman kita, which has been a crucial part of our life. Untuk konsumen Asia, hal ini akan selalu benar sampai kita bisa menemukan makna lain dari berteman.

Kenapa Harus Blackberry?

Kenapa Harus Blackberry?

Blackberry masih ngetren gak sih? Sepertinya sih iya. Fase laggardnya udah cukup lama dimulai tapi belum tampak ujung akhir kurvanya. Kira-kira Blackberry bisa ngetren di sini? Dibahas lagi?

It looks weird

Qwerty adalah barang baru. Keypad yang menjadi periperal umum di hape tak lagi keren walaupun sebenarnya tak kalah fungsional (jika sudah terbiasa). Orang-orang butuh menjadi berbeda. These people buy qwerty phone or BB.

Viral like Microsoft’s docx


Oh maaf, belum install Office 2003? Belum bisa baca lampiran docx di surel? Aduh gimana ya? Install dong.

Sekali dua kali mungkin kita bisa bertahan dari bujuk rayu pengadaan software baru. Namun, lambat laun kita akan menyerah karena waktu kita terlalu berharga untuk dibuang dalam bentuk rasa frustasi.

Anda bisa saja berkelit dari todongan PIN BBM namun akhirnya Anda akan terjebak dan menyerah apalagi teman-teman Anda makin banyak yang memakai. It’s like a new protocol or standard you need to adopt or else your browser will be almost useless.

Why Can’t Push Mail Work?


Hari gene gak bisa push mail? Apa kata dunia?

Paling tidak ada dua core yang dimiliki Blackberry: BIS/BES dan push technology. Seperti halnya Apple, kalau kita bisa mendikte hardware dan software dalam produk maka kita punya kesempatan memberikan penawaran value yang unik kepada konsumen.

RIM menawarkan BBM, tidak punya standard terbuka namun cara kerjanya lebih simpel dari e-mail. Semua kontak telah tertera, no signatures and other excess baggage, it get pushed and boils down to sending and receiving message. Push mail look a wee bit clumsy.

Tapi jangan tertipu. Keypoint-nya bukan soal fitur. Ketiadaan fitur masih bisa ditolerir tapi tidak untuk urusan harga. Push mail dan BBM works because it’s almost free.

Appstorification Is Here To Stay


RIM ini bak telco as platform. Dengan push technology, RIM menciptakan platform bernama Blackberry. Platform ini ternyata good enough sehingga developer mau masuk ke dalam ekosistemnya. Fungsionalitas push technology yang dulunya hanya untuk delivery mail kini diperluas untuk menghantar segala jenis message. App world pun berhasil naik daun.

So, no matter how good iPhone or Android are, they won’t be able to beat Blackberry unless the price is right.

Punya pendapat atau uneg-uneg lain? Kolom komentar sudah menanti gan!

PS:
This post is written entirely on Blackberry using WordPress app.

There’s No Appstore For That

There’s No Appstore For That

Dimulai dengan Apple dengan toko musiknya. Kemudian berkembang dengan penyediaan aplikasi untuk iPhone dan iPod. Langkah ini ditiru oleh banyak produsen lain termasuk Nokia, Blackberry, Android dan bahkan platform untuk Twitter (OneForty). Ada apa gerangan?

The Missing Link

Fungsi Appstore sebenarnya menjadi komponen yang mengeliminasi keberadaan missing link. Jika kita berkaca pada Apple, Apple punya suatu ekosistem terpadu dari hulu ke hilir yang menjadikan pengalaman memakai produk benar-benar maksimal. Tak lagi kita disulitkan dengan membolak-balik halaman Google untuk mencari aplikasi yang mampu memenuhi kebutuhan kita. Semua bisa diakses di satu tempat dan dipastikan telah lulus standar kualitas tertentu. Bagi konsumen berarti ada keuntungan dalam bentuk kemudahan discovery dan trust. Belum lagi harganya yang sangat miring. It’s a complete circle, for the consumer.

Emerging Market

Dengan tren paket murah untuk mengakses Facebook dan Twitter, hape QWERTY mulai memperluas dan mendominasi pasar. Spesifikasi kemampuan hardwarenya pun tak begitu berbeda satu sama lain dan mungkin bisa dianggap standar. Kamera, MIDP, dan 3G/EDGE ada di semua hardware baru ini. Ya, jelas sudah kesamaan ini sebenarnya telah membentuk pasar baru. Tidak hanya dari sisi hardware, kultur konsumennya pun sudah tidak terlalu gagap dengan dunia online. Kenapa belum ada Appstore untuk pasar ini?

Barrier of Entry

Salah satu yang menjadi penyebab tidak adanya appstore untuk kondisi di atas adalah karena tidak ada seorang pun yang memiliki kontrol atas keberagaman brand hardware. Tentunya berbeda dengan Apple, Nokia dan Blackberry yang menjadi pemilik hardware sekaligus Appstore. Ketiadaan single control ini menimbulkan kesulitan untuk masuk dalam ekosistem. Seorang inisiator Appstore harus menggandeng sejumlah banyak vendor untuk memasukkan platformnya ke dalam masing-masing hardware. Biayanya akan jauh meroket dibandingkan dengan setup Appstore untuk satu brand saja.

We Own It

Karena tidak ada satu entiti yang memiliki kewenangan penuh atas pasar di atas, berarti kita semua berpeluang memilikinya. Mirip kasusnya dengan OneForty yang tidak dimiliki oleh Twitter. Appstore ini hanya bergantung pada platform Twitter yang terbuka. Memang tidak ada benefit mendapatkan dukungan dari pemilik platform, namun ini juga berarti kebebasan yang lebih bagi pemilik Appstore.

Mudah-mudahan saja ada big guy yang melihat kesempatan ini dan kemudian menginisiasi Appstore untuk lintas brand. Efeknya tentu akan positif bagi pemain lokal. Ibaratnya lapangan pekerjaan baru. What do you think?

PS:

Sebenarnya saya masih kurang paham dengan konsep OneForty. Menurut saya, yang lebih bisa laku itu Appstore untuk Tweetdeck dan Seesmic berupa plugin/addon yang akan meng-enhance fungsionalitas. Atau mungkin Appstore untuk browser seperti AMO (Addon.Mozilla.Org) yang sayangnya tak memunculkan potensi komersial.

Photo by Joe Shlabotnik

Nokia vs Blackberry

Nokia vs Blackberry

Blackberry vs Nokia
Ada apa dengan Blackberry dan Nokia? Well, Nokia jelas sempat mendapat julukan ponsel sejuta umat. Hal tersebut menjadi indikator bahwa Nokia adalah pemain lama yang berkuasa di pasar ponsel Indonesia. Blackberry sebelumnya hanya dikenal sebagai gadget eksklusif milik para eksekutif. Kini kondisi seperti hendak berbalik. Semua orang menginginkan Blackberry.

Kepopuleran Blackberry sepertinya muncul bersamaan dengan boom Facebook sebagai social network. Sepertinya juga diiringi kesalahpahaman bahwa hanya Blackberry yang bisa mengakses Facebook. Padahal fitur utama Blackberry adalah Push Mail, bukan untuk keperluan browsing. Setelah kesalahpahaman, Blackberry pun menjadi komponen bagi standard baru dalam mendefinisikan up-to-date.

Mungkin ini menjadi salah satu bukti keunikan pasar Indonesia. Majalah Marketeer mengutip hal ini dengan kalimat “Nothing is impossible di Indonesia”.

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Mungkin Blackberry harus berterimakasih pada Friendster yang telah menyiapkan pasar dengan menjadi inisiator social network. Friendster telah mendidik konsumen supaya tidak takut internet dan menanamkan social networking dengan salah satu kebutuhan, lebih dari sekedar lifestyle.

Terkoneksi setiap saat dengan peer bukanlah prioritas bagi generasi tua, namun bagi generasi baru ini adalah what defines them. Kita harus tahu apa yang orang lain lakukan dan orang lain harus tahu apa yang kita lakukan. Jika tidak, maka kita akan kehilangan presensi dalam kelompok kita.

Kita sangat adiktif pada apapun yang baru. Mungkin karena kita terobsesi untuk menjadi berbeda dengan yang lain. Bisa jadi hal ini yang membuat Blackberry dikejar banyak orang. Mereka ingin membedakan dari kelompok lama.

Tentunya hal juga ini tak lepas dari naiknya kemampuan beli konsumen dan peran penjual dalam memberikan skema harga yang semakin affordable. Peningkatan kemampuan beli konsumen menjadikan Blackberry less exclusive dari sebelumnya namun tetap ekslusif karena harganya masih di atas jangkauan kebanyakan konsumen ponsel.

How to undo or deal with such effect?

Salah satu caranya adalah “Be flexible and jump into the local bandwagon. Don’t resist.” Namun langkah semacam itu beresiko mengikis karakteristik brand. Membeo pada tren pasar bisa membuat brand kehilangan diferensiasi

Bisakah hal ini terjadi pada konteks/produk lain?

Nothing is impossible in Indonesia, dan mungkin juga di negara lain. We are what people define us. Paling tidak formula inilah yang berlaku bagi generasi baru konsumen Indonesia. Hal ini bisa jadi memang menjadi sifat permanen konsumen atau efek sementara dari membanjirnya konsumen newbie.

Bagaimana menurut Anda, apa sebenarnya yang membuat Blackberry naik daun. Bagaimana dengan peran produsen ponsel murah? Adakah kaitannya tren Blackberry dengan perang harga telko beberapa waktu lalu?

iPhone Menghajar Javelin? Unlikely!

iPhone Menghajar Javelin? Unlikely!

Peluncuran iPhone 3G yang menggandeng Telkomsel tampaknya menjadi respon cepat dari peluncuran Blackberry/Javelin oleh Indosat tempo hari. Website reservasi iPhone di Telkomsel kabarnya langsung susah diakses akibat lonjakan trafik. Sepertinya iPhone bakal mendepak Javelin keluar pasar. Apa iya?

Mari coba kita lihat dari 3 elemen yang mempengaruhi sudut pandang konsumen.

Perhatian. Kira-kira siapa yang akan memperhatikan iPhone? Wah, sepertinya sangat banyak. Produk-produk Apple sudah mengukir prestasi selalu tampak elegan dan manis dibanding produk lain. Tentu saja semua akan berliur ingin memilikinya. Tapi dari sekian banyak yang berliur tersebut, berapa persen yang benar-benar mampu dan akan membeli? Anda mampu? Anda akan beli?

Bias. Apple, bagus. Yang lain, belum tentu bagus. Misalnya saja kita belum pernah melihat iPhone dan Javelin. Dan tiba-tiba kita disodori iPhone dengan software Xperia. Memang kita mungkin akan mengkritik karena iPhone jadi tak seperti produk Apple, tapi mungkin sisa pendapatnya adalah: iPhone bagus kok, walau ada beberapa poin minus yang bisa dimaafkan.
Hal ini mungkin mirip dengan pilihan antara Coke dan Pepsi. Jika isinya ditukar satu sama lain tanpa sepengetahuan Anda, manakah yang Anda pilih?
Pilihan pertama mungkin akan jatuh ke iPhone, tapi apakah iPhone akan benar-benar memenuhi kebutuhan nyata dan bukan sekedar kebutuhan emosional Anda semata? Grafik pembelian iPhone mungkin akan melaju kencang tapi setelah itu akan mendatar. Sementara Javelin akan terus stabil melaju.

Jargon. Yang terakhir, bagaimana kedua produk ini akan disajikan ke konsumen. Apakah sistem  kontraknya bakal cocok dengan nilai ideal konsumen? Akankah iPhone menjadi smartphone sejuta umat? Apakah prestige-nya bakal bertahan?

Pilihan para penulis NavinoT sendiri bagaimana?
Ivan pilih mana?
Toni pilih mana? (LG) Cookie dong.

Yang setuju dan tidak setuju wajib komen di bawah!