Browsed by
Tag: blog31hari

No Sweat! Ada Open Data

No Sweat! Ada Open Data

Belum juga menemukan ide menakjubkan yang bisa mengguncang dunia? Bahkan dari kebutuhan sehari-hari pun sudah tak ada yang menarik lagi? Menyerah? Tunggu dulu.

The Power of Open

“Open” adalah nama seorang toko yang pernah muncul dalam buku teks pelajaran SMP atau SMA dulu. Nama Belanda. “Open” juga jadi kata yang belakangan ini populer kembali dengan konteks berbeda dari sebelumnya. Konteks “Open” sebelumnya, muncul dari gerakan Open Source. Dengan semangat berbagi tidak hanya hasil akhir (free beer) tapi juga berbagi sumber daya (the raw material). Gerakan ini benar-benar meubah tatanan keseimbangan yang sudah ada. Ibarat udara segar bagi banyak orang yang sebelumnya powerless atau merasa sama sekali tak memiliki kontrol atas apapun. It is empowering!

Konteks “open” berikutnya adalah “web”. Satu pihak menuduh pihak lain “not open enough”, tentunya Anda tahu peristiwa tersebut. Di dunia web, “open” lebih didefinisikan sebagai kepatuhan pada standar. Dengan acuan standar yang berasal dari W3C. “Open” dalam dunia web telah berhasil mendorong kemajuan platform ini lebih cepat daripada perkembangannya di masa pre Firefox. Walaupun standar yang diacu ini tak lepas juga dari kontroversi. It’s good but taking too long of Working Group time.

Reuse, Mashup!

“Open” memicu ketersediaan dua hal yang menjadi kekuatan prosumer. Dua hal inilah yang mengembalikan kekuasaan ke tangan pengguna (internet). Membuat aplikasi tak lagi sulit karena most of the heavylifting sudah dilakukan oleh orang-orang kurang kerjaan yang berbagi pustaka keren untuk melakukan tugas-tugas mustahil. Menggambar di canvas bukan perkara sulit, tinggal menentukan titik dan menarik garis. Tapi ada yang bersedia membagi kode untuk membuat animasi atau framework game di atas Canvas. Tak usah terlalu jauh, siapa yang tidak memakai jQuery. How’s your life before jQuery?

Mashup adalah bahan kedua. Dengan alat yang tersedia gratis, tetap ada batasan jumlah aplikasi yang bisa dibuat. Aplikasi memerlukan input dan menghasilkan output. Mashup memakai ketersediaan data yang terbuka dan bisa dimanfaatkan siapa saja. Input kini bisa ditemukan di mana-mana, menunggu kreativitas para pembuat aplikasi. Beberapa hal yang sebelumnya mustahil dilakukan kini menjadi mungkin karena missing link-nya ditemukan dalam bentuk data terbuka.

Open Sesame!

Coba check EveryBlock.com, situs ini menyediakan tidak hanya data kriminal namun juga berbagai data lain yang bisa diakses bebas oleh pengguna. Mau bermain augmented reality? Siapa bilang datanya harus venue bisnis? Point of Interest (POI) juga bisa berubah lokasi bersejarah atau event di masa depan. Lokasi hanya salah satu aksis, sumbu lainnya bisa dipasangkan dengan data apapun.

Want more? Coba Echo Nest. Apakah Anda tahu kalau lagu A dan B mirip? Atas dasar apa? Echo Nest bisa memberi informasi ini pada Anda. Mulai dari metadata biasa seperti penyanyi, genre, judul, atau album sampai ke beat, loudness, tempo dan lain-lain. Mau membuat playlist dinamis yang bisa mengerti mood Anda? Tentu bisa dilakukan lewat platform ini. Tinggal pilih lagu yang sesuai dengna mood saat ini lalu sisanya diproduksi lewat kemiripan berbagai karakteristik audio dan metadata.

More? Jangan mengkonsumsi terus. Coba buka data yang kamu punya 😉

Beauty Sells!

Beauty Sells!

Masih ingat dengan Yong Fook? Ya, orang yang sama yang merilis Sweetcron untuk mengagregasi konten Anda yang tersebar di pelbagai media sosial. Termasuk juga orang yang membuat opensourcefood.com. Yang lucu, Yong Fook sekarang sudah tidak lagi memakai Sweetcron dan malah berpindah ke Posterous. Alasannya, Sweetcron yang diharapkan bsia meningkatkan interaksi antara pemilik situs dan pengunjung malah mendorong impersonalisasi pada situs itu sendiri.

Tapi itu kisah lain. Yong Fook punya dua produk bagus lagi. Salah satunya adalah alat untuk mengukur kampanye di Twitter. It’s pretty, trust me. Aplikasi ini bisa Anda temui di Peashootapp.com. Berkampanye di social media itu susah berhitung ROI-nya, demikian banyak orang berkata. Rasanya hal ini bisa jadi alasan yang mendorong diimplementasikannya Peashootapp. ROI bisa dihitung. Lihat saja sendiri penawarannya.

Produk kedua adalah Seashellapp.com. Aplikasi ini berfungsi sebagai mesin survey. Lagi-lagi tampilannya yang menawan membuat produk ini benar-benar menggoda. Fiturnya ya sebagaimana mesin survey biasanya, plus dukungan mobile view.

Dua aplikasi di atas seolah menjerit pada saya. Hey, ini gak kompleks. Gak perlu teknologi high-tech. Kamu cuma perlu membuatnya indah dan usable tanpa banyak aksesoris di sana sini. Sekarang, berapa banyak site yang bisa Anda tiru hanya dengan mengubahnya menjadi lebih indah dan usable?

Creating Community Based Product

Creating Community Based Product

Saya sampai saat ini masih bertanya-tanya bagaimana sih komunitas itu bisa terbentuk. Kenapa Wikipedia bisa sukses? Tanpa dibayar, tanpa banyak diatur, kontennya tetap saja bertambah. dan kualitas masih bisa dijaga.

Dalam buku Wikinomics (The Peer Pioneers), dijelaskan bahwa Wikipedia itu memenuhi tiga persyaratan peer work yang valid. Tiga persyaratan ini menjelaskan kenapa banyak orang bisa berpartisipasi dalam pembangungan Wikipedia.

  1. Low Participation Cost. Berpartisipasi ke Wikipedia tidak memerlukan banyak biaya. Dengan akses internet yang relatif mudah didapatkan di mana-mana, tiap orang bisa segera mengakses Wikipedia dan menambahkan atau mengkoreksi halaman yang ada.
  2. Distributable Tasks. Wikipedia adalah sebuah kesatuan halaman yang bisa dimodifikasi secara terpisah. Sama dengan source code sebuah software yang mungkin dikerjakan oleh banyak orang.
  3. Low Cost of Integration. Integrasi hasil modifikasi masing-masing orang juga tidak memerlukan banyak biaya. Hal ini juga terjadi karena unsur utama dari Wikipedia adalah informasi. Mudah untuk ditransformasi dan dimodifikasi. Tidak banyak diperlukan supervisi dan quality control juga dilakukan secara bersama-sama.

Namun tiga persyaratan tersebut tidak menjamin kerja peer akan sukses. Kriteria di atas hanya akan menyaring jenis pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan mekanisme peer. Bagaimana seseorang akan tertarik untuk chip in dan akhirnya membentuk snowball effect dari partisipasi penguna-pengguna yang lain? Menurut saya, ada dua tahapan yang harus dilalui oleh produk atau komunitas tersebut. Tahapan ini juga bisa dianggap sebagai jenis insentif yang memotifasi tingkatan pengguna tertentu dalam berpartisipasi.

Level 1. Self Fulfillment (Short Term)

Pengguna harus bisa mendapatkan manfaat langsung dari produk tanpa tergantung pada partisipasi orang lain. Hal ini pasti terjadi di fase awal sebuah peer community. Dalam kasus Linux, hacker yang bergabung untuk menulis kernel Linux berpikir bahwa mereka bisa menulis kode kernel dan bisa melakukannya lebih baik daripada kernel yang sudah ada. Dalam kasus Wikipedia, para kontributor merasa bahwa ada beberapa peristiwa atau hal yang memang harus didokumentasikan. Because they can.

Level 2. Creating The Future (Long Term)

Ketika Linux sudah mencapai critical mass. Akhirnya banyak perusahaan besar yang turut terjun ke dalam pengembangan proyek komunitas ini. The product is proven to be competitive, even for IBM itself. And the market is promising to tap into.

Kenapa IBM berpartipasi dan bahkan menggaji pegawainya untuk berkontribusi ke Linux? Karena IBM ingin mendapatkan profit di masa depan. Dengan penetrasi Linux yang masif, tentunya IBM ingin hardware dan software juga turut tersebar dan mendukung platform Linux. Siapa lagi yang paling tepat dan punya resource untuk mewujudkan dukungan tersebut? Berkontribusi juga tak ditarik biaya bahkan dianjurkan. Berkontribusi hari ini berarti turut menentukan bentuk produk di masa depan. It’s such a small price to pay for a bigger profit tomorrow.

Setelah melewati masa self-fulfillment, masa yang akan dihadapi adalah masa pembentukan Tribe. Pengguna yang berkumpul akan memerlukan fasilitas serupa bahasa baru untuk komunikasi yang lebih efektif. Selain itu juga diperlukan sosok kepala suku yang akan dijadikan panutan dalam penyelesaian konflik yang tidak dapat diselesaikan sendiri oleh anggota komunitas.

Sampai titik ini sepertinya masih ada bumbu-bumbu kesuksesan penciptaan produk berbasis komunitas yang masih belum ditemukan. Care to join the discussion?

Trivia:

IBM kali pertama bergabung ke OpenSource bukan lewat Linux tapi lewat pendirian Apache Foundation.

Don’t Start Any Startup!

Don’t Start Any Startup!

Yeah. Sudah bisa dipastikan saya mendapatkan mata Anda membelalak ke arah saya. What the ef?! Kenapa tidak boleh membuat startup? Bukannya ini yang sedang sama-sama kita galakkan? Buat startup, dapatkan keuntungan, be satisfied (and rich). Anda cuma salah di langkah pertama saja.

Darimana Ide Datang

Pada saat kita merencanakan sebuah startup, ada dua tempat mencari ide untuk diwujudkan ke dalam sebuah produk. Tempat terdekat untuk mencari adalah lewat pengalaman pribadi. Dalam aktivitass sehari-hari pasti kita menemukan sesuatu yang tidak memuaskan. Entah karena ada sesuatu yang broken atau justru malah sama sekali tidak ada. Andaikan artikel blog bisa ditulis otomatis hanya dengan menyediakan keyword. Andai pageview situs tak dipengaruhi SEO. When you need it, probably someone else will need it as well. Sekarang jika Anda bisa membuatnya sendiri, that’s even better.

Ide juga bisa muncul dari hasil pengamatan aktivitas orang lain. Sepertinya kawan Anda yang bertitel otaku mengalami kesulitan untuk mendapatkan barang koleksi dari Jepang, oh FlutterScape. Seorang teman lain yang maniak diskon tampaknya akan senang jika ada tempat terpusat untuk informasi segala jenis diskon, oh AdaDiskon.com. Kita tak tahu pasti apa yang mereka butuhkan, tapi kita bisa mengira-ngira 80% spesifikasi kebutuhan tersebut.

Kenapa Dilarang Bangun Startup?

Paul Graham menasihatkan supaya kita fokus pada ide. Jangan fokus pada membangun perusahaan terlebih dulu. Jika dipikir memang banyak keuntungan berfokus pada ide saja.

Pertama, kita akan punya banyak kesempatan untuk melakukan testing atas lebih banyak ide. Jika kita terburu, ide pertama mungkin langsung kita ajukan ke investor. Padahal ide tersebut setelah dicoba sendiri akan gagal dalam waktu singkat. Dalam kisah perjalanan Tokopedia, 2 tahun barulah ide mereka bisa direalisasi. Dalam dua thaun tersebut saya yakin banyak terjadi penyempurnaan ide lewat diskusi atau pemasukan variabel peristiwa dunia e-commerce sepanjang tahun.

Kedua, ide itu tak langsung akan jadi besar. Jadi jika kita terburu-buru, ada kemungkinan kita akan merugi banyak. Paul Graham bilang, ide yang bagus pertama kali akan dicemooh orang. Entah dianggap sebagai mainan atau sama sekali tak diperlukan. Berfokus pada ide membuat kita berpikir realistis. Start small. Bertumbuh secara incremental. Jika kita terburu-buru, mungkin kita akan berakhir seperti Friendster :D. Terlibas oleh (buku tahunan) Facebook yang tak pernah ditujukan untuk global social network.

Organic Growth

Berfokus pada ide berarti mengandalkan organic growth. Sebagai generasi early adopters, hal ini tidak susah untuk kita laksanakan. Early adopter berarti kita selalu menjadi yang nomor satu dalam hal mencoba hal baru. Ini berarti kita juga menjadi yang pertama mengetahui atau bisa menebak apa yang masih tidak sempurna sekarang atau dalam beberapa tahun ke depan.

So, work on your ideas. Know what you need. Build it yourself. Don’t touch that business plan just yet!

Interview Dengan Ariawan Dari FlutterScape

Interview Dengan Ariawan Dari FlutterScape

FlutterScape adalah startup di Jepang. Konsepnya mirip dengan eBay yang mengakomodasi kegiatan jual beli Consumer-to-Consumer (C2C). Kenapa sampai di-interview oleh NavinoT? Karena CTO-nya adalah anak Indonesia. Penasaran dengan Flutterscape? Mari kita ikuti wawancaranya di bawah ini.

Jangan kaget dengan bahasa gaulnya. Beginilah kira-kira sifat asli Ariawan. Bisa kita lihat langsung dari gaya tulisannya 😉

Who am I ?

Nama Ariawan, biasa dipanggil Awan, tapi beberapa temen panggil Ari, dan di Jepang semuanya panggil Ari. Lahir di Jogja, alamat di Indonesia di Jakarta. SMA dulu satu ekskul sama Natali Ardianto (Urbanesia). Kuliah S1 di ITB, Research 1 thn di Tokyo Institute of Tech, S2 di Tokyo University, jurusannya sama semua Teknik Industri.

Lulus S1, sempat kerja jadi karyawan sebentar, sebelum mendirikan perusahaan konsultasi IT (klien utamanya Hospital – RSPP, RSCM, RSUD di jakarta dan bank – Niaga, Citibank, BCA) — perusahaan ini diputusin untuk ditutup tahun lalu setelah kontrak terakhir selesai, alasannya karena founder-founder-nya sudah tidak ada yang di Indonesia lagi, dan juga karena tidak ada growth.

Kok bisa sampai Jepang?

Setelah kira-kira 2 tahun malang melintang di jakarta, terpikir untuk melanjutkan sekolah. Waktu itu apply ke GA Tech dan apply beasiswa panasonic. Panasonic ternyata lebih cepet 6 bulan resultnya dan harus ambil keputusan cepat. Akhirnya cabut deh ke Tokyo. Disini sejak April 2005.

What is FlutterScape?

A mix of Flickr + Ebay for Niche Product (initial focus is Japanese Product)

Flickr –> sharing pictures

Ebay –>  selling

Ide dari mana?

Yang punya ide awalnya Takehiro Kakiyama (founder CEO), gue cuma me-refine dan memperkuat ide itu.

Take dulu lama di luar negeri sebelum balik ke Jepang. Selama di luar negeri, setiap kali dia ke supermarket, dia selalu senang melihat berbagai macam produk yg belum pernah dia liat. Ide awalnya adalah bagaimana re-creating pengalaman ini secara online. Setelah itu idenya di-refine lagi sambil belajar dari eBay. sebelum bikin FlutterScape, Takehiro sempat ambil internship di Ebay, untuk melakukan “stealth research” dan tes beberapa ide. FlutterScape sempat sekantor dengan eBay japan. Ebay japan director duduknya dulu adep2an sama gue.

What makes FlutterScape different?

Konsep flutterscape adalah sharing = selling. Selling online itu keliatannya gampang tapi banyak banget faktor “X” nya. Terutama kalo cross-border selling, 2 hal yang paling penting: shipping dan payment.

Di FlutterScape, seller berurusan dengan FlutterScape. Buyer juga berurusan dengan FlutterScape, jadi faktor X -nya di serap oleh FlutterScape.

Buat penjual kita sebut konsep ini “casual selling”. Upload foto (share), kalo ada yg mau beli, tinggal kirim barangnya ke FlutterScape, kita langsung bayar (sell).

Buat pembeli, sama saja seperti beli barang lewat amazon, convenient, comfortable, and risk-free.

Our main business model is?

Kita ambil 9 – 15% margin dari transaction price, ini revenue utama.

Tapi ada business model lain yg lagi kita tes. Salah satunya adalah premium feature untuk seller. Sedang kita test, udah roll-out tapi masih terbatas. Dan yang tertarik untuk jadi testernya sudah mesti langsung bayar.

Luck is when preparation meets opportunity. Bagaimana gambaran pepatah ini di FlutterScape?

FlutterScape ini bisa terwujud karena kita menang lomba business plan yg diadakan oleh netprice + cyberagent. Modalnya adalah hadiah utama dari lomba business plan ini.

Jadi segi luck-nya ya menang kompetisi ini. Sementara segi persiapan adalah persiapan yang kita buat untuk ikut lomba ini, salah satunya adalah research dan internship di ebay.

How hard is it to setup a company in japan?

It is not that hard. Kalau memang mau bikin company, agak lebih susah dibanding Singapore tapi lebih gampang dibanding di Indonesia. Modal 1 yen juga bisa (asal bisa bahasa jepang dan ngerti segala macem legal term utk urus paperworknya).

Modal yang mahal adalah untuk hire lawyer karena males atau tidak mengerti urusan paperwork (kalo tidak salah minimum 200 ribu yen). Dan satu lagi — tergantung dari jenis perusahaannya — ada minimum annual tax yg mesti dibayar (gak peduli perusahaan untung atau rugi).

Jadi gak susah, tapi ini dalam artian bikin legal entity lho yaa. Kalau bikin startup yang bisa scale ini mah beda lagi urusannya.

Sepertinya salah satu target market FlutterScape adalah otaku. Is this otaku market really real? Seberapa jenuh pasar otaku di sana yang terdeteksi oleh flutterscape?

Salah satu target market kita memang otaku, karena memang kalau jualan barang collectible dari jepang rata-rata bersangkutan dengan anime/manga.

Otaku market is real. Untuk kasih gambaran ya, di ebay per tahun lalu ada 54 ribu item yang bisa dikategorikan “otaku market”. Average price nya adalah 100 USD. Merchant otaku item, salah satunya yg terkenal adalah J-List and their revenue is about 2 mio USD / m.

Kalau pasar otaku, memang sudah jenuh di domestic market. Tapi ini karena demand-nya shrinking . Tapi untuk overseas market, it is still growing. Tahun ini jumlah orang yang belajar bahasa jepang (mendaftar utk ikut JLPT) ada 2.970.000 orang.

Berdasarkan research kita, potensialnya masih gede. Dan perusahaan2-perusahaan jepang is really bad at getting this market. Makanya yang menggarap otaku market di luar kebanyakan asing, perusahaan jepang disini cuma jual license. Liat aja Danny Choo (DannyChoo.com, probably NSFW).

Trend startup di jepang seperti apa sih? Berapa banyak startup di sana yang menyalin ide dari luar?

Wah ini bisa dibikin topik sendiri nih, satu wawancara sendiri. Hahahhaa.

Startup disini cukup lumayan tapi tidak se-vibrant di Amerika, terutamanya adalah kesulitan mencari dana. Yg mengklaim sebagai “startup” rata-rata adalah spinoff dari perusahaan2 gede. VC2 disini cukup banyak tapi rata-rata gak mau invest di seed stage, mereka maunya invest di series A.

Kalau soal ide, banyak yang original, tapi sayangnya only applicable for domestic market. Tapi tiap tahun rata-rata ada 2 startup jepang yang masuk di Techcrunch 50.

Nah menariknya lagi ya, startup community di sini itu motor utamanya adalah orang asing atau minimal orang jepang yg sudah lama tinggal di luar negeri.

Tapi gue rasa tahun ini bakal berubah. Barusan Joi Ito kerjasama dengan Teruhide Sato (investor utama FlutterScape) mendirikan Open Network Lab (http://onlab.jp). Onlab ini adalah Y-Combinator versi jepang. Dan menariknya lagi, mereka fokus ke startup dengan visi global. Yah mereka sadar bahwa mereka tidak bisa lagi mengandalkan domestic demand, harus expand ke luar.

Menurut gue startup-startup di Amerika itu bisa sukses karena tanpa harus berpikir untuk reach ke luar pun mereka sebenarnya sudah reach ke luar dengan sendirinya. Setelah market terbentuk di luar barulah mereka lokalisasi. Hal ini dikonfirmasi oleh VP international user growth-nya Facebook. Kebetulan mereka ke Jepang dan kita sempat meeting dengan mereka.

Ada situs di jepang yang mirip dgn FlutterScape?

Ada. Coba buka buyma.com. Ini mirip dengan FlutterScape tapi kebalikan. Meraka fokus ke barang-barang di Amerika. Target seller-nya adalah orang-orang Jepang di Amerika. Orang-orang tersebut share barang-barang di Amerika ke orang Jepang di Jepang. Investor utama buyma ini Sony Corp.

Kalau yang kamu maksud adalah kompetitor (mentargetkan market yang sama) ya banyak. Misal JList, atau rinkya.com dan tentunya ebay (japan) sendiri.

Whom to network to boost your business? Where?

Untuk sekarang kita sedang berencana mencari investor dari Silicon Valley. Bukan karena kita cari tambahan modal, tapi utamanya lebih karena kita ingin ada advisor dari Amerika. Jadi gue banyak networking sama orang-orang geek-on-a-plane, utamanya Dave McClure. Kita juga sedang fokus networking ke Singapore dan Hongkong. Dengan ikut Echelon 2010, harapannya bakal dapat banyak lead dari sini.

Untuk di jepang sendiri kita banyak networking dengan VC di sini. Rakuten, Yahoo! Auction, pemegang license anime, toy manufacturer, fashion designer, dan sudah pasti media. Kita juga banyak mendapat bantuan dari Serkan Toto dan Hirano (writers of TechCrunch) untuk mengenalkan kita dengan orang yang kita mau.

Where did you meet your partner in crime?

Takehiro itu dulu sempat internship di Deutsche Bank dan Bosnya dia orang Indonesia yang kebetulan teman baik gue. Perjumpaan dengan Takehiro ceritanya agak unik sih.

Jadi gue kebetulan adalah VP organisasi ICJ (Indonesian Community in Japan). Nah waktu perayaan ultah 50 tahun Indonesia-Jepang, kita di daulat sama KBRI utk bikin event. Kita bikin fashion show batik (Javarizm — http://javarizm.com) dan gue tanggung jawabnya adalah show director (termasuk in-charge model). Nah model-model untuk fashion show ini adalah model-model jepang. Salah satu model yang gue pake adalah finalis Miss Universe jepang 2009. Si Takehiro datang ke acara Javarizm, dan dia naksir sama model ini. Teman gue yang juga bosnya dia kenalin Take ke gue minta gue comblangin Take ke model ini. Disini gue kenalan sama Take pertama kali.

Investor, where did you get them? How much?

Untuk modal awal FlutterScape adalah 15 million yen (1.5 M rupiah), hadiah dari lomba business plan. Sekarang kita sedang dalam tahap untuk raise seed stage funding. Line up investornya sudah ada, tapi sedang negosiasi untuk menentukan siapa ambil berapa share. Soalnya kita tidak mau ambil investor yang cuma ngasih duit. Sori gue gak bisa bilang siapa, sebelum di finalize.

Kalau ada orang yang berpikiran opening an offshore shop, misalnya bikin situs hobi cosplay di paris. How do you think this idea will work? Intinya adalah menangkap ikan di luar negeri.

Lagi-lagi tergantung marketnya. Tapi kalau bisa jalan atau tidak, kata gue bisa. Start small put your target on niche market. Masalahnya tinggal para pehobi cosplay di paris (bisa scale ke eropa) mereka ini model yang mau spend money atau tidak untuk hobinya ini (menurut gue sih mau banget). Jadi pasti bisa jalan.

Flutterscape for indonesian product. Will it fly?

Enggak, kalau business model FlutterScape dijiplak habis-habisan. FlutterScape can only work where there’s significant international demand for the product. There’s already general branding/good image about it, and there’s significant gap or “trade barrier”. FlutterScape business model is highly dependent on this “gap”. However I think it will work in almost similar model with just a little tweak. I won’t explain this little tweak, because I am planning something. Hahaha ..

What’s next after FlutterScape?

FlutterScape is just getting started. But we’re planning for exit in 1-2 years from now.

Gue sekarang lagi planning my entry back to Indonesia. Gue udah punya legal entitynya, udah ada investor, dan sekarang lagi cari tim. Sedikit numpang promosi nih Ton. Gue lagi cari 1 front-end developer, 1 back-end developer, 1 designer/copywriter. Kalo ada yg berminat kerja bareng gue, bisa kontak di twitter atau email ke ariawan@altavindo.com. Hahahhaha, numpang gini nih Ton.

Oh, ada sedikit berita. Gue sudah enlist one big name that I am sure all of you guys in Indonesian startup industry know. Nama masih off the record tapi tinggal tunggu tanggal mainnya. Kita udah offer package dan dia udah bilang setuju.

Any lesson learned to share?

Wah gue belum pantes kali utk ngajarin orang-orang. Tapi gue share apa yg udah gue pelajari dari orang-orang besar yang gue temuin ya. Dan ini mungkin applicable hanya untuk engineer yang mau bikin startup saja:

  1. Selalu mulai dengan business model. Business plan is good but its almost useless karena untuk menyusun business plan terlalu banyak asumsi yang akan bermain di dalamnya.
  2. Untuk arsitektur sistem, think for scalability but don’t plan for scalability until it’s really necessary. Soalnya bisa dipastikan your business model will change along with your product, before you’re scaling up. Jadi kalo sudah membuat scalable sistem untuk satu jenis produk/business model ternyata harus ganti (pivot) jadi bikin baru lagi deh (happened to FlutterScape). Dan dengan segala macam teknologi yang ada scalability is not a difficult thing to do anymore. So you can plan and implement within a really short period.
  3. Always setup a measurable metrics that you can always benchmark on for every single thing that you do. For example: move the button 2px to the left. The pirate metrics by Dave McClure is a really good one.
  4. Technical stuffs is only 50% of the game (except if you’re planning to get a patent of the technology). So learn your business stuffs. Operations (accounting etc), marketing/sales (design), finance and legal. You can’t just dump those stuffs on your business co-founder. If you are a CEO or CTO, you have to be the master of all domains. Startup is always small, so you’ll be better off partnering with someone who is a generalist rather than specialist. You can have specialist later on when you’re ready to scale, and get that funding.

Your favorite quote is?

“Dont take life too seriously, nobody gets out alive anyway” by anonymous. It will help you remember and put things into different perspective.

Phew. No comment deh dari saya. Sila langsung menulis komentar atau pertanyaan sendiri di kolom komentar.

Compfest 2010

Compfest 2010

Sudah tahukah kamu bahwa ada event Compfest di SMESCO? Eventnya berlangsung Sabtu dan Minggu ini. Berbagai rangkaian acara mulai dari lomba game, pemrograman dan seminar ada di event ini. Tak ketinggalan juga ada beberapa booth perusahaan dan startup lokal yang turut serta.

Salah satunya adalah Evolitera. Belum pernah dengar? Evolitera ini sudah terkenal sampai Singapore loh. Produknya adalah online publishing tool. Jadi kita bisa mempublikasikan konten kita, baik berupa buku, komik, foto dan lain-lain di Evolitera. The twist? Kita bisa dapat revenue dari iklan yang tampil di samping konten. Kita juga bisa membatasi konten supaya tampil beberapa halaman saja dan membuat sisa halaman jadi konten premium. Kalau dipikir tampaknya Evolitera ini bakal jadi killer combo kalau digabung dengan nulisbuku.com. Penasaran? Datang saja ke Compfest. Cari booth-nya di area dalam sebelah kiri area seminar. Bisa dikunjungi juga situsnya di evolitera.co.id

Jangan lupa juga hari minggu ini akan ada seminar yang diisi oleh Leon dari Tokopedia. Kapan lagi bisa mendengar cerita langsung dari Founder Tokopedia. Dari cerita di FreSh tempo hari, Tokopedia ini bisa menginspirasi banyak orang loh. Make sure you don’t miss it!

Satu lagi, pernah dengar gantibaju.com? Yang desainnya keren-keren itu loh. Sayangnya tidak ikut di Compfest namun jangan khawatir karena ada Kementrian Desain Republik Indonesia yang tak kalah keren. Saya masih naksir dengan kaos Gatotkacanya yang sangar itu. Sayang ukuran M sudah habis di booth. Jangan lupa kunjungi booth-nya di compfest atau kunjungi situsnya di distrokdri.com

Hari minggu ini adalah hari terakhir Compfest. Jadi jangan lupa untuk datang. Saya membayangkan jika semua boothnya adalah startup lokal. Pasti bakal keren sekali. Probably we are going to see it at SparxUp!

Cek rangkaian acara Compfest 2010 di situs compfest2010.com. Have fun!

It’s All Military Funding, Honey

It’s All Military Funding, Honey

“It’s all military funding, honey”, begitu kata Tony Stark pada reporter majalah Vanity Fair dalam film Ironman. Kenapa saya ngobrol tentang Ironman? Ternyata ada hal menarik yang bisa direlasikan dengan dunia startup. Tepatnya terkait pemodalan.

Who’s Military?

Sosok fisik dan karakeristiknya sudah akrab dengan kita tentunya. Baik melalui pengamatan langsung maupun lewat berita dan film. Beberapa karakteristik yang patut dicermati terkait startup dan pemodalan antara lain:

Want to advance faster than others. Sudah pasti, suatu pihak militer pasti tidak ingin tertinggal dari pihak yang lain. Terutama dalam bidang-bidang terkait kekuatan tempur. Tidak hanya dalam bentuk senjata namun juga dalam kelengkapan lain seperti sustainable power atau intelejen. Dari artikel yang saya baca di Inc., beberapa startup memilih didanai oleh militer sedang sisanya didanai non-militer. The point is that they need startup brains.

Money is not a problem. Bagi beberapa negara, militer punya dana riset yang besar. Dana ini diistribusikan lewat berbagai macam riset demi keunggulan pihak milter terkait. Defense Advanced Research Agency (DARPA) adalah salah satu lenbaga yang didanai oleh Department of Defense (DoD). Aktivtiasnya berjalan tiap tahun, bahkan sering mengadakan kompetisi-kompetisi. The point? Money is not my problem, honey.

Why We Want Military Funding?

Access to prior knowledge. Jika Anda menemukan teknologi awal untuk mendeteksi keberadaan alien, kemungkinan besar Anda bisa dapat sedikit bocoran dokumen dari area 51. Jika Anda melakukan riset tentang produksi listrik lewat gerakan badan, kemungkinan besar Anda juga akan mendapatkan teaser untuk riset lebih lanjut. Ternyata, ada yang juga tak kalah penting dari uang.

It’s never for sale. Hasil riset yang didanai militer tidak akan pernah dijual, kecuali militer punya teknologi yang sudah unggul jauh beberapa tahun di depannya. Ini adalah salah satu keuntungan sendiri karena dalam membuat produk kita tak perlu memikirkan pricing jika produk tersebut diproduksi secara massal. Yang harus jadi fokus hanyalah it must work. Period.

What Are You Trying To Say?

Karakteristik di atas sebenarnya tidak dibatasi pada institusi milter saja. Beberapa pihak lain di luar militer bisa jadi punya kemiripan sifat. Jika startup Anda sedang dalam masa riset untuk mematangkan produk, ada baiknya dipertimbangkan funding yang berasal dari institusi serupa. Startup kita mungkin tidak akan selalu bisa independen seperti idealisme yang kita damba. Didanai militer/pemerintah biasanya membuat kita terasosiasi dengan the bad guys (the dark side) berseberangan dengan semangat indie atau punk. Tapi kesempatan tetaplah kesempatan. Mungkin tidak akan datang dua kali.

Berikut adalah beberapa institusi yang didanai militer:

  • Avenda, bergerak di bidang Software Protection Initiative (SPI), berusaha memenuhi kebutuhan proteksi critical software dari desktop sampai supercomputer.
  • Internet. ARPANet yang menjadi cikal bakal internet adalah proyek yang didanai DoD
Work On Why

Work On Why


Saya punya produk keren yang bisa mengarsipkan timeline Anda, mengelompokkannya dalam kluster entitas seperti Google, iPhone, etc. Anda mau membeli produk saya?

Sebagian mungkin ingin mencoba, sebagian lagi bertanya: kenapa harus membeli?

Kenapa Anda membeli produk Apple? Karena produknya bersinar, enak dipakai dan keren? Memang benar. Tapi itu rasionalisasi. Kalau ada produk tanpa logo Apple namun sama bagusnya dengan produk Apple, apakah Anda masih mau membelinya?

Kenapa saya memakai Linux setiap saat? Karena Linux membuat saya jadi benar-benar powerful. Ini juga sebenarnya rasionalisasi. Ada banyak produk lain yang juga bisa membuat saya powerful. Mac OSX juga turunan Unix.

Masih ingat bahwa konsumen sebenarnya sudah membuat keputusan membeli produk bahkan sebelum dia melihat produk Anda?

Perilaku manusia ditentukan oleh bagian otak yang mewakili pertanyaan “Why”. Proses rasionalisasi lewat bahasa dan logika dilakukan oleh bagian otak yang mewakili pertanyaan “How” dan “What”. Why terletak di bagian paling dalam, How diluar Why dan What berada di lapisan paling luar.

Kebiasaan kita berpikir adalah memulai dengan What, kemudian How, barulah terakhir menjawab pertanyaan Why. Why tidak bisa dijawab dengan rumus matematika karena Why adalah pertanyaan yang tak bisa dijawab secara rasional. Kenapa ada orang yang tak pernah mau masuk jalur busway, dan ada orang yang terkadang masuk jalur busway?

Jawabannya adalah bukan karena jalur busway itu berbahaya bagi kendaraan lain. Bagaimana jika jalur tersebut kosong, atau belum terpakai? Kenapa orang tetap saja tidak mau masuk jalur tersebut? Karena Anda percaya bahwa Anda memang tidak boleh lewat situ.

Ada keputusan-keputusan kita yang bahkan kita sendiri tidak bisa menjelaskannya. Satu-satunya kalimat yang kita pakai adalah: because it feels right.

Ada yang disebut pemimpin (memegang kekuasaan) dan ada yang disebut orang yang memimpin (menginspirasi). Orang yang memimpin, seperti Steve Jobs, Bill Gates, dan Linus Torvalds menginspirasi kita. Kita membeli produknya bukan karena fitur tapi karena kita percaya pada mimpinya.

Kita membeli mimpi mereka. Selalu.

Tak percaya? Coba saksikan penjelasan yang lebih renyah di presentasi TED ini.

PS:
Thanks a bunch to @ronaldwidha of temanmacet.com for pointing me to this awesome material. You should really follow him and his awesome tech podcast.

Konsumen Yang Tak Sabar dan Selalu Benar

Konsumen Yang Tak Sabar dan Selalu Benar

Berdasar pada tulisan Aaron Seigo (KDE hacker), ternyata ada cukup banyak pengguna KDE yang melakukan protes atas keberadaan Nepomuk. Beberapa memrotes karena Nepomuk membuat komputer menjadi lambat. Ada juga yang sebal karena muncul kotak-kotak dialog yang tidak ingin mereka lihat. Terlepas dari isu teknis, saya mencoba mentelaah protes ini dari sudut relasi produsen dan konsumen

Customers Are Impatient

“Nepomuk itu jelek, bikin berat, gak ada gunanya. Kenapa pengguna dipaksa memakainya?” Begitulah kira-kira komentar salah satu pemrotes. Padahal jika dilihat kembali, penyebab lambatnya komputer adalah aktivitas pengindeksan berkas oleh Strigi. Komponen ini sebenarnya sudah cukup pintar karena akan beralih ke mode suspend begitu resource komputer sedang dipakai banyak program.

Customer akan selalu benar, atau tepatnya malu mengaku salah. Mereka selalu menginginkan perubahan saat itu juga. Perubahan yang menurut mereka paling baik, mungkin tanpa mendengar respon customer yang lain.

Listening Is Not Enough

Mendengar saja tidak cukup. Kini produsen juga harus bereaksi cepat untuk merespon keluhan konsumen. Tidak hanya dengan respon lewat e-mail namun juga tindakan nyata untuk memodifikasi produk jika memang diharapkan. Kalau sekedar keluhan copywriting sih tak akan masalah, tapi jika keluhannya menyangkut peubahan arsitektur sistem atau menyangkut core functionality tentunya tidak bisa bertindak gegabah. Nevertheless, action must be done. Dan harus dipaparkan jelas pada si pengeluh. Otherwise, produsen akan dianggap berpangku tangan.

Dalam kasus Nepomuk, jelas developer harus segera menanggapi keluhan konsumen. Entah menonaktifkan Strigi by default, menyembunyi kompleksitas dengan lebih rapi, atau membuat pengorbanan konsumen terbayar dengan peningkatan manfaat Nepomuk secara signifikan. I prefer the later.

Consumer Behaviour Shifting?

Bagi produk yang menerapkan release-early-release-often, keluhan semacam ini jauh lebih sering terdengar karena setiap saat akan ada saja poin yang bisa dikritik. Sebenarnya ini normal karena sifat alami release-early-release-often. Pada suatu kurva pengembangan, akan terpapar masa infancy dari sebuah produk. Transisi dari KDE 3 yang bisa dianggap sudah matang menuju KDE 4.4 yang membawa begitu banyak fitur baru membuka berbagai celah perbaikan. Sebagian berusaha menambal celah ini, sementara beberapa yang lain malah menabur garam.

Bagi saya, hal ini tampak seperti lembah sebelum puncak critical mass. Consumer sebelumnya yang mostly developer dan tech savvy, kini mulai didominasi end users yang bertransisi ke power user. Yang sebelumnya selalu menunggu apa kata orang lain sebelum mencoba produk, kini berani berdiri di barisan paling depan untuk mencicil materi beta atau bleeding edge. No fear!

Celakanya, ekspektasi yang sebelumnya lekat dengan rilis stabil turut terbawa ke rilis beta. Secara tak langsung, hal ini membuat produsen harus turut serta menyesuaikan diri. Rilis produk harus dilakukan jauh lebih berhati-hati karena apapun yang sempat dicicipi oleh pengguna, entah dari leak atau official release akan dinilai tanpa mengindahkan status rilis. Mungkin, status beta GMail beberapa tahun ke belakang bisa turut disalahkan dalam fenomena pergeseran perilaku konsumen ini.

Misteri yang belum terpecahkan: produsen akan selalu berpegang pada prinsip “you cannot please everybody”, sedang konsumen selalu berpikir “i am the one to please”.

PS:
Kamu berani ikut tantangan #blog31hari? Temukan kembali semangat ngeblog-mu!