Browsed by
Tag: Blogging

Blogging is Dead, Yet Again

Blogging is Dead, Yet Again

Halaah, blogging itu punya berapa nyawa sih. Dulu dibilang sudah mati, beberapa waktu lalu mati lagi. Sekarang mau mati lagi?

Kematian Pertama

Facebook memberikan tusukan kematian yang pertama. Notes, membuat kegiatan menulis apapun jadi menyenangkan karena kita bisa langsung pamer dan memaksa teman-teman kita di Facebook untuk membaca. Aku tag kamu di artikelku. Kamu gak bisa marah. Remove saja dari tag ngapain repot.

Aktivitas lain seperti update status dan upload foto menjadi penyerap energi. Tidak ada lagi waktu untuk ngopi, merenung, menganalisa dan menarik garis antar titik sebagai rangkaian kegiatan blogging. Why so serious?

Kematian Kedua

Blogging lalu dibunuh kembali oleh Twitter. Akibat Twitter, lebih banyak lagi orang yang malas menulis di blog. Jauh lebih sederhana untuk menulis 140 karakter di Twitter.

Tidak ada lagi cibiran akibat menulis sesuatu yang “gak jelas” di blog kita. “Aku tadi makan siang ketoprak enak banget”. Tidak ada yang protes akibat RSS readernya terupdate terlalu cepat dengan one-liner. Plus model networkingnya yang lebih simpel dari Facebook, Twitter is way wider and fun to play with. The rule is no rule, kecuali soal reply dan RT di Indonesia 😉

Kematian Ketiga (Voodoo Death)

Steve Rubel dua tahun lalu meninggalkan blog di domainnya dan beralih ke Posterous. Tren baru saat itu adalah Lifestreaming. Dan platform blog yang sudah populer pun belum ada yang cocok untuk memenuhi kebutuhan lifestream.

Per Memorial Day kemarin, Steve Rubel pindah kembali. Kali ini dengan sebuah big bang. Pindah ke Tumblr dan menghapus 2 blog lamanya (scorched earth policy – teknik bumi hangus). OMG! Steve Rubel (of Edelman) menganggap page rank sudah lewat masa. Google is into social signal, ditandai dengan fitur baru di search result yang melibatkan circle of friends. Dan yang terbaru, Google Plus One. Dalam rangka tidak membuat Google bingung, blog lama pun dihapus.

Tumblr dinilai lebih cocok dengan visi Google ke depan karena fitur social sudah built in di dalamnya, eg: reblog. Tidak hanya Steve Rubel. Beberapa orang juga pindah dengan alasan serupa. Kevin Marks bilang ini Voodoo SEO.

Blog Never Die

Mirip kata @danrem soal marketing dalam insiden RestInPeaceSoon. Marketing tidak mati tapi bertransformasi. Esensi tidak berubah tapi ada temuan baru yang menjelaskan lebih lanjut tentang esensi mendasarnya. Seperti halnya blogging, esensinya bukan tentang menulis.

Esensinya adalah berbagi. Media saat itu yang paling ekonomis adalah tulisan. Ramah benwit sehingga idenya bisa menyebar dan diterima banyak orang. Podcast juga bentuk lain dari blogging,esensinya adalah sharing namun bermedia audio. It didn’t take off as successful as blogging karena medianya kurang ramah terhadap banyak orang.

A blog is a web log. Tentang catatan dan gagasan yang kita bagi lewat web. Tidak pernah mati.

Rebirth

Terlepas dari mati tidaknya blogging, ada pertanyaan menarik yang muncul. Domain. Domain dulu kita isi dengan blog. Sebagian bilang untuk bersenang-senang, sisanya bilang untuk personal branding. Tapi ini long time ago, sebelum ada twitter dan facebook yang membuat orang sempat beralis ke lifestream. Dan sebelum ada about.me untuk memajang kartu nama.

Dengan bergesernya media untuk berbagi, posisi domain ada di mana? Apakah tetap sebagai identitas ataukah jadi sekedar tempat untuk entry point sebuah layanan? Any takers?

Blog Itu Tren Sesa(a)t

Blog Itu Tren Sesa(a)t

Siapa yang tak kenal dengan kalimat itu. Dibilang benar tapi tren blog sudah berjalan sekian tahun di indonesia. Bisa dibilang hampir satu dekade.

Itu dari sudut pandang tren budaya. Blog is alive and kicking. Scoble masih ngeblog, Paul Graham masih ngeblog dan proyek-proyek opensource juga masih bertumpu pada blog untuk menginformasikan perkembangan proyek pada pengguna dan peminatnya. Naked Conversation masih tak terbantahkan.

Sementara itu, dari sudut personal, Priyadi sudah lama tidak ngeblog. Enda jarang-jarang. Andry? Ah, tak perlu ditanya. Jika dicermati, sebagian besar blogger senior sudah “meninggalkan” blognya. Some stay because it has much to do with their job. Light has gone out.

Sebuah link mendarat di timeline twitter saya. Tulisan dalam link tersebut berusaha menganalisa dan akhirnya menyimpulkan bahwa blog adalah indikator sedang terjadinya transisi pekerjaan pada seseorang. Kasarnya, seseorang baru mulai ngeblog saat hendak berganti pekerjaan. Dan berhenti saat sudah sibuk dengan pekerjaannya.

Contoh blogger lokal di atas saya rasa cukup valid. Contoh lainnya, yang disebut dalam link yang saya baca Ray adalah munculnya post “I’m Back” di blog Ozzie yang beberapa hari kemudian disusul dengan pernyataan mundurnya Ray Ozzie dari Microsoft. Dalam artikel tersebut diduga Ozzie mundur karena personally Ozzie merasakan “lack of disruption” di dalam Microsoft. Dalam rangka bertransisi ke sumber disruption baru, Ray Ozzie back into blogging.

Benar atau Salah?

A few years back it was blogging. Sekarang, sudah ada tren berjualan online walau tak se-mainstream keharusan memiliki Blackberry, akun Twitter dan Facebook. Bagi kelompok tertentu ada juga tren harus punya startup.

Kepercayaan bahwa blogging akan berjaya lama memang harus tetap dipegang. Apalagi jika kita sudah berinvestasi banyak di kultur tersebut. Namun, bagi yang mencari sumber disruption baru kita harus senantiasa percaya juga bahwa nothing lasts forever. Akan ada tren baru yang menjadi adiksi dan standar keren dari manusia di Indonesia (dan dunia). Tergantung di mana Anda memilih berdiri, ini bukan tentang benar salah.

The Next Wave

Di ujung horizon, para buzzer, marketers dan pengusaha online sudah berteriak-teriak tentang social commerce. Facebook dan social network lain akan punya nilai praktis lebih dari sekedar mempertemukan teman lama. Kegunaan yang ditemukan “tidak sengaja”, bahwa pengaruh teman dalam jaringan ternyata sangat efektif dalam membentuk opini individu, akan segera diuangkan. Value ini akan disambungkan dengan kegiatan jual beli. Semua hal akan di-social-kan. Kali ini e-commerce yang akan mendapat giliran. Integrasi review dari teman dan konsumen lain hanya tip of the iceberg. Akan ada banyak inovasi di dunia e-commerce termasuk “belanja bersama” seperti halnya yang dilakukan orang-orang di dunia nyata. Dan itu baru satu buzzword 😉

Bagi yang sudah jarang atau malah berhenti ngeblog, boleh saya tahu what makes you stop? Nilai apa yang hilang dari kegiatan ngeblogmu?

Free, Rehash

Free, Rehash

Free diyakini sebagai salah satu metode ampuh dalam memasarkan produk. Tapi bagaimana caranya. Bagaimana supaya Free tidak disalahgunakan oleh customer? Bagaimana supaya Free memberi nilai balik pada produsen?

Free Always Has (Virtual) Limit

Tetap harus ada batasan. Umumnya batasan yang dipakai adalah storage/bandwidth dan fitur. Batasan ini harus terkait dengan layanan utama yang ditawarkan. Google AppEngine membatasi jumlah pemakaian CPU. Flickr membatasi jumlah foto yang tampil. LastFm membatasi free track sampai 30 lagu. Kursus bahasa jepang online yang dulu pernah saya ikuti hanya memberikan free basic course saja.

Supaya kita ingat value dari Free, kita harus bisa melihat keadaan tanpa Free. Inilah tujuan menempatkan batasan freedom.

Free is Not (Really) Free

Terkadang ada yang harus ditukarkan untuk mendapatkan produk gratis. Menyambung kursus bahasa jepang di atas, yang gratis adalah podcast. Selanjutnya transkrip dan media kit lain hanya bisa didapatkan di websitenya. Natural, karena keterbatasan media podcast. But still, kita harus menukar akses ke transkrip tersebut dengan kunjungan  ke website terkait.

Dalam kasus layanan telco, kita seringkali menukar data diri dengan diskon panggilan dan ongkos SMS.

On Blog and Free

Menarik jika kita tarik konsepnya ke blog. Selama ini kita memberikan semuanya pada pembaca, namun kadangkala kita gagal mengambil nilai baliknya. Batasan apa yang bisa kita pakai dalam menerapkan konsep Free ke blogging. Beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan:

  • Login to view. Pengguna hanya bisa membaca jika dia login. Ada beberapa plugin yang bisa dipakai untuk keperluan ini. Nilai baliknya adalah user acquisition.
  • Summary atau full feed. Masih valid tidak ya? Summary seperti GigaOm yang diarahkan ke premium subscription tampaknya layak diadikan contoh. Premium subscription jadi nilai balik yang kita andalkan.

On Music and Free

Harga CD lokal 40 ribu. ketika saya punya CD, berarti saya punya hak penuh untuk me-rip CD tersebut dan menaruh kontennya di media penyimpan lain yang saya miliki. Total freedom.

Dari konsep ini semestinya kita bisa menentukan harga konten digital yang pantas. 40 ribu sudah make sense bagi saya. Isinya 12 lagu. Berarti eceran satu lagu dihargai 3333 rupiah. See, kita sudah bisa “beat up” Apple store dengan harga seperti ini. Total freedom for 3333 rupiah only.

Makna Free tidak sama dengan harga nol rupiah. Free adalah persepsi. Ada batasan harga di mana kita tak akan mempertanyakannya lagi. Cheap enough equals free. Akan jadi lebih baik lagi jika kita bisa menghilangkan segala jenis hassle pembayarannya.

Apakah 3333 rupiah itu sudah “Free” bagimu? Blogmu “Free”?

Shocking, Nobody Uses Category Anymore!

Shocking, Nobody Uses Category Anymore!

Saya memang tak terlalu ahli dalam mengkategorikan suatu cerita. Bahkan di NavinoT, saya lebih sering menaruh artikel di dalam kategori Web & Internet. Tak salah, tapi tak tepat juga karena semua artikel bersumber dan mengomentari apa yang terjadi di Web & Internet. There’s something not right here.

Were NavinoT a Newspaper

Kalau saja NavinoT ini sebuah koran atau portal berita, tentunya mudah untuk mengklasifikasikan cerita. Ariel dan Lunmay tentu saja masuk infotainment. Kemacetan akibat Patwal bisa masuk ke Metropolitan. Berita ledakan elpiji 3 kilogram masuk Nasional. Berita tentang Google dan Facebook langsung masuk rubrik Teknologi.

Masalah muncul tatkala semua yang kita obrolkan adalah soal IT. Bisa saja digolongkan lewat jenis media: podcast, videocast. Atau desain, tutorial dan gadget. Sayangnya bukan itu materi yang dilingkupi oleh NavinoT.

Need for Navigation

Jika NavinoT adalah koran yang dibaca sehari saja, atau Flipboard yang sedang nge-hype itu maka NavinoT tak perlu pusing memikirkan kategori karena yang terpenting adalah apa yang bisa dibaca hari ini. Urusan kategori yang serba relatif itu bisa diserahkan sepenuhnya ke pembaca. Toh pembaca NavinoT pasti mencari artikel tentang IT dan Strategy. No need to breakdown further. Blog IT ya isinya tentang IT dong.

Kecuali jika kita berpikir tentang navigasi lebih jauh. Mungkin bagi pembaca baru atau pembaca yang ingin menelusuri arsip. Penulusuran kategori tentunya bisa membuat proses pencarian menjadi lebih terarah. Tentunya jika dasar Anda membuat kategori sama dengan dasar saya dalam mengelompokkan artikel.

Who Use Category?

No one!

Engadget lebih memilih topik-topik hangat sebagai pengganti kategori. Panggung utama diisi dengan visual beritan terhangat, Windows Phone, iPhone baru, HTV Evo, dll.

ReadWriteWeb memakai channel yang lebih diarahkan ke point of entry bagi sponsor. Contohnya: ReadWriteWeb Cloud yang disponsori oleh VMWare/Intel.

Techcrunch juga tak memakai kategori. Yang ada adalah featured post yang disuguhkan lewat slideshow.

GigaOm juga sama. Malah kategorinya berupa author artikel.

Sisanya adalah stream of news. Period.

And here I am, headdesk-ing to decide what category best to use.

Kamu pilih mana? Kategori atau tanpa kategori?

Magazine Layout Untuk Blog

Magazine Layout Untuk Blog

magazinelayout

Bagi yang mengikuti perjalanan NavinoT dari awal sampai sekarang, tentunya sudah menyaksikan beberapa theme yang digunakan. Mulai dari awal memang NavinoT punya tampilan yang sedikit berbeda, selain dari sketsa tangan, tapi juga tatanan halaman depan.

Pada mulanya memang berusaha tampil lebih serius dengan magazine layout. Namun dalam prakteknya, magazine layout tidak sesuai dengan kinerja kita. Berikut ada beberapa pertimbangan tentang magazine layout.

Read More Read More

Not Again: Is Blog Really Dying?

Not Again: Is Blog Really Dying?

Plus Minus Zero

I was reading this piece, somehow I had the urge to comment. It’s getting longer in the comment box so I think I’m going to jot it down here while also performing what we called trackback.

What microblogging is for?

Saya rasa microblogging “hanya” menambah unsur realtime dalam penyebaran konten. Untuk jadi realtime, berarti kita harus cepat. Dalam waktu yang cepat berarti konten harus singkat tetapi harus padat pada intinya. Lebih tepat lagi sebenarnya, sesingkat SMS karena mciroblogging dulunya dioptimasi untuk SMS. Microblogging is breaking news.

Microblogging saat ini sudah mengalami re-purposing. Di tangan early adopters yang techie, microblogging menjadi alat tepat untuk berbagi resource. Saling melempar link, dan menginisiasi buzz, membentuk awareness, dan macam-macam agenda lain.

What has happened to bloggers?

“Namun untuk mendekati ke Blogger saat ini tak semudah dulu, agar pesan Anda ditulis. Karena saat ini Blogger sudah jarang menulis, keblinger dengan social media dan microblogging, ditambah lagi dengan begitu banyaknya undangan buat para blogger menghadiri berbagai acara yang disponsori oleh merek tertentu.”

Saya kurang setuju. Dari dulu blogger memang susah didekati jika kita tidak mau mengerti si blogger. Blogger berangkat dari independensi, jadi jika seseorang mendekati blogger untuk menyuruhnya menulis sesuatu tentu saja bakal ditolak (apabila tidak bisa meyakinkan).

Pernyataan “keblinger” sepertinya agak berlebihan. Harus diingat juga bahwa blogger adalah early adopters. Mereka pasti akan mencoba semua hal baru, termasuk di dalamnya adalah microblogging dan social media. Jika memang media baru ini bermanfaat tentu saja mereka akan memakainya, dan bahkan merekomendasikan pada pembacanya.

Blogger diundang ke acara tertentu karena prestasi blogging itu sendiri. Semakin banyak pemegang brand yang sadar bahwa people trust their friends for almost everything. Termasuk dalam hal membeli dan menggunakan produk. Blogger adalah personal “tanpa” agenda. Motivasinya hanya sharing what’s good dan disclose what’s hidden. Kemiskinan agenda ini adalah salah satu hal yang membuat blogger lebih unggul (efektif) daripada media tradisional. Saya rasa kita sudah bisa membandingkan bagaimana acara Anda akan ditulis di media dan di blog. Dengan tambahan, Anda hanya bisa dapat satu tulisan di media tradisional, sementara Anda bisa dapat tulisan dengan banyak sisi di blogosphere.

Blogging vs Microblogging?

Sepertinya blogging dan microblogging ini bukanlah lawan. Hanya saja orang-orang tiba-tiba menemukan banyak hal lain yang bisa dibagi lewat microblogging. Microblogging menjadi dominan karena beberapa aktivitas non-blogging yang sebelumnya terpisah-pisah kini dibundel dalam satu channel. Upload foto, lalu nge-tweet. Masuk mall, lalu update koprol. Ada artikel menarik, selain masuk delicious juga masuk twitter. Anda nge-blog, ternyata mengupdate microblog juga.

Microblogging does not nullify blogging. Tapi blogging juga bukan hal sakral yang tidak boleh/bisa mati.

Apa pendapat Anda? Apa yang telah terjadi dan akan terjadi pada aktivitas blogging?

Ke Mana Harus Mencari Ide?

Ke Mana Harus Mencari Ide?

Dizzy

Salah satu syarat supaya blog bisa cukup sukses adalah visibility. Artinya Anda harus menulis dalam interval yang diketahui oleh pembaca. Misal, senin sampai jumat, senin kamis, 3 kali seminggu, dan pola lain asal tidak random dalam sebulan. Kecuali kalau Anda adalah sosok yang sudah cukup terkenal dan sekali menulis langsung berefek ruar biasa.

Kendala umum dalam menulis secara reguler adalah pencarian ide. Bagi yang menulis berdasar mood, ini adalah persolaan besar. Sedang mood atau tidak, tulisan harus tetap dibuat. Jadi di mana kira-kira ide bisa dicari?

Get in the mood

Iya, mood bisa sedikit diaturkok.Baca saja materi favorit kamu entah itu komik,novel dan lain-lain. Setelah pikiran agak rileks,ide biasanya lebih gampang mendekat. Dalam kasus saya, mandi biasanya jadi solusi get in the mood. Mungkin efekny adalah membuat kepala jadi dingin dan badan menjadi rileks.

Read some more

Ide bisa dicari dari tulisan-tulisan orang lain. Saya membuka feedly (feed reader) secara rutin untuk mengupdate berita dan sekaligus mencari ide. Banyak hal menarik yang bisa disoroti dari tulisan-tulisan orang lain,misal: iPhone baru, aplikasi baru, peristiwa terkini, dan lain-lain. Jika belum menemukan, bacalah lebih banyak.

Jangan rewel!

Terkadang Anda telah menemukan ide, namun Anda tidak ingin mengakui atau menggunakannya. Entah karena tampak terlalu sederhana,  kurang keren, banyak lubang, dan sebagainya yang membuat Anda takut memakai. My ultimate advice: Stop, and give up! Sudahlah, terima saja apa yang mampir di kepala. Semakin Anda lebih pasrah, semakin gampang ide itu masuk. Jangan terus-menerus ngeyel mencari ide terbaik tahun ini tiap pagi. Sayangi otak Anda.

You know what, saya baru saja menyerah. Tak ada ide bagus sama sekali pagi ini. And you can guess, I came up with this lousy post :D. Ini penyakit berulang, you’ll run out of ideas sometime.Just accept it. It won’t hurt.

Okay,sekarang gantian. Di mana Anda mencari ide?

HOWTO: Review Produk

HOWTO: Review Produk

Dell Inspiron Mini 12

Seberapa susah sih review produk? Bukankah tinggal memasang foto, menulis spesifikasi dan mendaftar keunggulan? Jangan salah. Kejelian sangat diperlukan dalam menulis review. Kita harus tahu apa yang sebenarnya benar-benar ingin diketahui oleh pembaca review. Apakah itu battery life, desain case, isi paket, dan lain-lain. Jadi, sebenarnya aktifitas ini gampang-gampang susah.

Mari kita ambil Bhinneka sebagai contoh kasus. Coba kita lihat salah satu contoh review produk di Bhinneka: Dell Inspiron Mini 12. Apa kira-kira yang belum pas dengan model review seperti ini?

Where is the BIG picture?

Karena kita belum pernah memegangatau melihat langsung produknya, tentu saja hal pertama yang ingin kita tahu adalah seperti apa bentuknya. Dalam reviewnya, Bhinneka hanya menyediakan beberapa gambar kecil tanpa ada versi “full size-nya”. Coba bandingkan dengan ulasan Dell Inspiron 12 di sini

Skip the press release!

Satu-satunya hal yang tidak ingin kita baca dalam review adalah semua hal yang tidak ingin kita ketahui. Press release biasanya tidak ingin melewatkan satu hal pun untuk disampaikan kepada khalayak ramai. Spesifikasi rinci yang ditulis dalam bentuk teks adalah salah satu hal menyebalkan. Spesifikasi lebih berguna jika ditaruh dalam sebuah sheet/tabel. Yang ingin dibaca dalam sebuah review adalah hal-hal yang benar-benar terkait dengan masalah yang dihadapi konsumen misalnya: sering bepergian jauh, off road, hostile environment, memerlukan detil, dan lain-lain.

Where is the balanced proportion?

Review yang terlalu formal adalah review yang hanya menyajikan/memaksakan keunggulan produk. Review sperti ini tidak sepenuhnya membantu konsumen dalam memilih produk. HP Mininote 1000 tampak sangat bagus. Keyboard yang full size, bentuk yang seksi dan motif menarik yang menempel dibelakang LCD. Tapi Anda tidak akan tahu kalau HP Mininote 1000 tidak memiliki VGA port. Bagaimana jika Anda ingin melakukan presentasi? Jangan khawatir, hadiah utama kontes kita, HP Mininote 1001, ada VGA port-nya kok 😉

No Video? Come on

Tren gambar mungkin hip beberapa tahun lalu, setelah text dianggap membosankan. Sekarang ini, semua yang disajikan tanpa video sepertinya tidak lagi memuaskan. Tren yang cukup sukses adalah video saat membongkar paket produk (unboxing). Karena Bhinneka pasti memiliki akses ke produk, membuat video hands on seharusnya tidak jadi perkara rumit. Coba lihat video unboxing N97 di tech65.org

Be there before the sale. Kemampuan membuat review yang bagus dan menarik akan menjadi daya tarik tersendiri. Tidak sebatas menjadi catalog pembanding harga, Bhinneka juga akan selalu jadi tempat pertama untuk mencari tahu seluk beluk produk. Kalau Bhinneka bilang bagus berarti ya pasti produknya bagus, demikian efek yang bisa ditimbulkan. Harga nomer dua, feels good yang pertama.

Menurut Anda bagaimana? Review seperti apa sih yang berguna bagi Anda? Review dari uber blogger seperti Scoble?

Sehebat Penjual Voucher

Sehebat Penjual Voucher

Top Up

Beberapa hari lalu saya melakukan pengisian pulsa elektronik untuk ponsel saya. “Simpati 20 mas”. “Yak”, sahut penjaga kios dengan sigap sambil bersedia menekan tombol di ponselnya. “Kosong lapan satu sekian sekian”. “Oke”. “Berapa mas?”. “Dua dua”.

Saya pun membayar dan langsung berlalu, sambil tertegun. Wow, cepat sekali. Saya tak pernah benar-benar menyadari bahwa penjual voucher punya layanan sehebat ini. Kenapa hebat?

  • Fungsi produk yang jelas dan transparan. Beda dengan produk komoditas lain, misal warung makan, rasanya berbeda-beda walaupun menggunakan bahan yang sama. Voucher punya nominal dan berfungsi untuk memungkinkan pengguna memanfaatkan layanan dari operator. Sejelas dan sesederhana itu. Tidak ada kebingungan yang ditimbulkan, terlepas dari skema promosi operator tentunya. Kenapa Anda beli pisau Swiss Army? Karena Anda tahu bahwa Swiss Army knife bisa melakukan segalanya. Dan Anda memang ingin melakukan segalanya.
  • Produk mampu memenuhi ekspektasi. Dalam artian, pulsa dua puluh ribu bisa didapat dengan 22 ribu rupiah. Hal ini terjadi karena produk punya standar. Standar membuat orang tahu, apa yang diharapkan pasti akan diterima. Anda beli kopi Starbucks karena Anda tahu kopi Starbucks ya yang seperti itu, tak akan berubah. Dalam dunia voucher, pengaruh faktor ini jauh lebih terasa karena tidak ada kompetisi akibat variasi produk, ie: anda beri uang, anda dapat pulsa. Ain’t getting any simpler than that.
  • Painless procedure. 1-2-3, nomer hape, jumlah pulsa, dan bayar. Proses ini begitu efektif, baik bagi penjual maupun pembeli. Proses yang efektif berarti lebih banyak pelanggan yang bisa dilayani, berarti lebih banyak sales. Berdasar hal inilah di kasir supermarket dipasang barcode scanner demi mempercepat proses sales. Hal yang sama mungkin dijadikan alasan pemakaian ICR untuk penghitungan suara dalam Pemilu legislatif baru-baru ini.

Tidak hanya berlaku pada produk offline, prinsip ini juga bisa diaplikasikan dalam produk online. Pada blog misalnya, sebuah artikel perlu memiliki tujuan yang jelas. Apa yang dibicarakan dan ke arah mana pembaca akan digiring. Dengan judul yang menarik, artikel juga harus dipastikan mampu memenuhi ekspektasi yang timbul akibat membaca judul. Setelah itu, pastikan proses menulis komentar tidak ribet. Memakai Facebook Connect akan mempermudah proses pengisian detil komentator tanpa harus menulis manual dan berulang-ulang.

Nah, bagaimana dengan produk Anda atau produk yang hendak Anda luncurkan? Sudah lebih hebat dari (jualan) voucher?

Oke, sekarang instruksi untuk kontes. Jika tempo hari Anda telah mengulas aplikasi, sekarang coba ulas sebuah produk riil yang selama ini telah memukau Anda. Kenapa Anda anggap produk tersebut hebat?