Browsed by
Tag: branding

Brinx My Identity Anywhere!

Brinx My Identity Anywhere!

Bagaimana kalau url shortener itu bisa dikasih branding macam punya hootsuite, dkk. Asik kan ya? Kita bisa pasang foto kita di situ. Kalau di-RT/retweet, wajah rupawan kita bisa terbawa ke timeline orang. Jodoh lebih dekat jadinya. Terbayang tidak manfaatnya?!

Dan ternyata bisa loh kita memiliki branding di-link seperti itu. Dengan tampilan yang “gak malu-maluin” pula. Oh, pengen banget rasanya saya ngeplak yang bikin layanan ini. Ide sederhana, tapi segar dan cespleng banget. Cocok sangat buat menambahkan khasanah sisi di prisma identitas kita. Yes peeps, identity is a prism.

Brinx.it! Bawa deh identitasku ini! Tampilkan citra personalku dan citra produkku ke mana saja. Sedolar sebulan. OH MY GOD! Kayak gak bayar aja ini.

Sorry for my overwhelming words. It’s just too awesome to miss. You can even have your custom domain instead of brinx.it. It just so YOU. You can tweak your branded link as much as you want. You can write your own HTML if you feel default theme is annoyingly too great.

Have it your way. Brinx it on!

Hell Yeah Monday!

Hell Yeah Monday!

Hell Yeah!

Saya punya beberapa pertanyaan yang belum bisa saya jawab dengan pasti. Saya pikir akan lebih tepat jika pertanyaan-pertanyaan ini saya bagi dengan teman-teman NavinoT. Lagipula ini pertanyaan yang cukup menarik untuk didiskusikan. Let’s get started.

Pembayaran dan e-commerce

e-commerce tampaknya kembali bangkit di Indonesia. Tidak dalam bentuk toko-toko online besar namun justru tumbuh dalam bentuk unit-unit personal (mikro). Blog dan Facebook dijadikan etalase dan titik kontak antara penjual dan pembeli.

Pertanyaannya apakah metode pembayarannya juga akan mengalami twist yang sama? Benarkah COD dan transfer bank akan jadi metode pilihan? Ataukah dukungan bank akan membuat dukungan payment gateway lokal jadi kenyataan? Atau justru kita akan sukses dengan micropayment (via ponsel dan voucher) yang tak banyak menuai sukses di tempat lain?

Brand dan Branding

Ada apa dengan brand dan branding? Brand selalu ingin citra positif. Beberapa melakukannya dengan cara yang sederhana. Mereka membuat produk yang sangat bagus dan layak dibicarakan orang. Iklan bagi brand seperti ini hanya meng-amplify kekuatan word of mouth-nya.

Tapi, bagi yang lain yang tidak mampu atau belum bisa membuat produk yang layak jadi buah bibir biasanya mencoba langkah yang rumit. Brand ini berusaha mengontrol informasi dan menyeimbangkan perspektif negatif yang dipunyai pasar dengan image positif buatan.

Apakah ini murni strategi atau hanya akibat dari “everybody else is doing it, why don’t we”?

What broadband?

Saya terpikir, kalau saja bandwidth di negeri kita ini bisa dimurahkan sampai mendekati nol maka para penjual DVD akan segera beralih business model meniru Netflix. All you can watch DVD, seratus ribu per bulan. Mungkin.

Well, soal harga sepertinya tinggal menunggu kapan. Mau tidak mau tuntutan kebutuhan akan membawa kita ke sana. Yang jadi misteri adalah bentuk implementasi broadband internet yang akan kita nikmati. Kabel atau wireless dengan fokus di perangkat bergerak?

Harusnya ada pertanyaan ketiga tapi rupanya ingatan saya sedang tidak kooperatif. Jadi, mari kita brainstorming bersama. Kita gabungkan apa yang pernah kita dengar dan apa yang kita bayangkan.

Oke, siap “bertarung” hari ini? Hell yeah!???

PS:
Hari ini saya memulai kerja di tempat yang baru dengan tanggung jawab baru. So, let’s get the party started people!

It’s a Competition from Day One

It’s a Competition from Day One

competition

Tidak lama setelah kita lahir, sudah ada baby contests. Kemudian dilanjutkan dengan peringkat kelas di sekolah. Tidak luput juga penghargaan dan prestasi di lingkungan kerja.

Kompetisi, itulah salah satu hal yang kita jalani tiap hari. Entah daftar atau tidak, anda sudah secara otomatis ikutan masuk menjadi peserta.

Tapi sebelum kita melangkah lebih jauh, apa anda juga memperhatikan, bahwa jagoan tidak selalu menang. Beberapa sangat berbakat, bahkan lebih berpeluang dari sang pemenang. Siapakah mereka?

Mereka yang berbakat ini tidak diketahui oleh khayalak umum, tidak ikut berlomba, atau bahkan tidak tahu cara berpartisipasi. Hilang, lenyap, dan diam di bawah radar.

Beberapa sempat bertanya, ini lomba macam apa sih? Jawabannya adalah berlomba untuk diketahui sebagi orang terbaik dalam bidang yang anda kuasai, di dunia ini. Kita menyebutnya sebagai Personal Branding.

Seseorang dikenal sebagai seorang Mac Expert. Seseorang lainnya dikenal sebagai PHP Master. Apakah mereka begitu hebat? Atau hanya karena lebih banyak orang mengenalnya?

Seseorang bisa tweet and retweet catatan dari seseorang ke orang lain. Tapi di bawah meja, sebenarnya adalah sebuah persaingan yang sangat seru.

Seperti istilah branding di dunia marketing, kesuksesan tidak bisa diukur langsung lewat ROI (Return of Investement). Tapi sebagai pelaku, anda sudah seharusnya merasakan imbasnya. Bukan berarti sales dan revenue anda meningkat dari tiap 100 tweet yang anda lontarkan, tapi bisa juga anda mendapatkan pekerjaan baru tanpa melewati pre-screening test. (Kalo resume kamu jelek, sudah pasti gugur dulu.)

Sekali lagi, personal branding bukan berarti memasang brandol harga akan dirimu. Tapi ini lebih berperan untuk membangun citra, tentang bagaimana publik seharusnya menilaimu.

Social media telah merubah segalanya. Seseorang tidak perlu lagi saling berebut halaman koran untuk publikasi. (Sisakan saja untuk para politikus). Media baru ini telah membuka kesempatan yang sama bagi tiap orang, untuk dikenal dan sukses dalam bidangnya. Tapi permasalahannya tetap sama, yaitu partisipasi anda sangat diharuskan.

Dalam dunia social media, anda punya segala macam alat dan tenaga. Tapi lebih penting adalah bagaimana cara memakai alat tersebut.

So, what are you good for?


PS: Artikel ini ditujukan untuk seseorang yang masih belum puas akan hari ini.

Social Network Untuk Tiap Brand?

Social Network Untuk Tiap Brand?

bbworld

Beberapa hari lalu, Research In Motion (RIM) meluncurkan situs social network khusus untuk pengguna BlackBerry. Situs jejaring sosial ini bertujuan untuk menjadi wadah bagi para pengguna BlackBerry untuk saling membantu akan segala pernak-pernik Blackberry, mulai rating aplikasi sampai troubleshooting.

Sekilas memang merupakan ide yang cemerlang, yaitu menyatukan konsumen BlackBerry untuk berkolaborasi, satu sama lain, menyelesaikan masalah ataupun hanya untuk nongkrong bareng berbagi pengalaman tentang BlackBerry-nya. Tapi di sisi lain, sudah begitu banyak situs jejaring sosial atau komunitas maya, baik secara umum atau yang spesifik membahas BlackBerry.

Dunia jejaring sosial sendiri sudah identik dengan Facebook sebagai raja, dan diikuti beberapa situs lain seperti Myspace dan Friendster. Yang menjadi pertanyaan, apakah ini merupakan langkah yang bagus bagi sebuah perusahaan, sebesar RIM sekalipun, untuk membuat situ jejaring sosial untuk masing-masing brand-nya?

Read More Read More

Branding Lewat Repetisi

Branding Lewat Repetisi

sosro

Ada satu fenomena branding yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini, yaitu praktek branding lewat repetisi. Umumnya merek ini adalah pelopor pasar dalam kategori tertentu, sehingga mereka punya keuntungan untuk memperkenalkan produk lebih awal, dibanding para pesaingnya.

Read More Read More

Brand Monitoring: Apa Yang Bikin Susah?

Brand Monitoring: Apa Yang Bikin Susah?

Crane

“If you can’t measure it, you can’t improve it”. Kita akan berangkat dari filosofi ini kembali. Kali ini kita bahas tentang brand kembali. Saya kira kita semua sudah aware dengan potensi social media bagi brand marketing. Mengingat Indonesia sebagai negara pemimpin dalam hal pertumbuhan user di Facebook, social media adalah tempat hang out dari konsumen dan calon konsumen produk kita di masa kini dan masa depan. Tapi apa iya prakteknya bakal selezat teorinya?

Kembali ke filosofi di atas, ada baiknya kita mulai dulu dari pengukuran keberhasilan brand marketing. Kita pilih langkah seperti ini supaya kita tidak terjebak dalam usaha marketing brand secara membabi buta, tanpa tahu apakah usaha tersebut bsia dinilai berhasil atau kita sekedar menikmati efek kebetulan. Alat ukur keberhasilan marketing di social media ini sendiri masih jadi produk mahal yang diminati banyak orang. Ada beberapa tool sederhana yang ada dalam jangkauan kita, dan ada juga produk yang komprehensif dengan berbagai tambahan value added. Yang terjangkau misalnya: Google Alert, Search.twitter.com, technorati.com, dll. Metodenya sendiri belum ada yang pasti. Namun hal seperti jumlah hasil pencarian di google/twitter/technorati untuk keyword (brand) tertentu sudah bisa dipakai sebagai angka awal.

Kita kesampingkan dulu soal alat dan metode. Ada hal lain yang ingin saya diskusikan, yang tak kalah pelik dari mencari alat dan formulasi penurunan angka. Menurut saya, ada beberapa hal sederhana yang membuat brand monitoring di Indonesia lebih rumit dari sekedar alat dan rumus. Antara lain:

  • Profit equals acquiring new customers. Bagi banyak brand, rumusan tersebut masih berlaku. Profit berarti seberapa banyak pelanggan baru yang bisa direkrut. Keeping loyal customers around really is expensive, bullying new customer — on the other hand — is cheap and easy. Contoh: 3G services, we are at the mercy of 3G service provider. Brand seperti ini bahkan merasa tak memerlukan “brand monitoring”. Nilainya terlalu insignificant dibanding output perekrutan pelanggan baru.
  • People does not have the megaphone. Megaphone untuk bercuap-cuap saat ini masih sebatas koran. Blog, dll masih jadi konsumsi terbatas sebagian orang (bukan segmen konsumen terbesar, kecuali untuk layanan online). Contoh megaphone: Politikana sebagai megaphone perspektif politik. Tanpa megaphone, konsumen tidak bisa memberikan feedback. Kemungkinan besar feedback-nya akan tenggelam dalam derau atau sinyal lain yang berlimpah.
  • People talk but brand does not listen, thus giving up. Walaupun konsumen punya megaphone, tidak berarti brand akan mau mendengar. Akibatnya konsumen memilih diam karena berkoar-koar di megaphone hanya akan memberikan lelah.

Bagaimana Anda bisa memonitor keberhasilan brand marketing jika tidak ada data yang bisa dianalisa?

Okay bagaimana menurut Anda? Anda setuju mengukur keberhasilan marketing di social media, apalagi di dalam negeri, masih susah dilakukan? Lebih berat di faktor alat atau justru ketiadaan data? Apakah Anda setuju social media harus lebih dipopulerkan lagi sebelum bisa benar-benar punya peranan dalam proses (brand) marketing?

Discussing Design & Branding with Yolanda Santosa

Discussing Design & Branding with Yolanda Santosa

yo-teaser

Yolanda ‘Yo’ Santosa is an Indonesian born designer, who lives in Los Angeles, California. Since she was a kid, a lot of subjects have failed to interest her, except for art. After graduated from Art Center in 2000, she began working at yU+co designing main titles for projects like 300, Desperate Housewives and Ugly Betty. She realized that she couldn’t ignore her curiosity in branding, and she finally founded Ferroconcrete in 2006. Pinkberry was her first client, and she got involved in managing all brand and marketing strategies. Throughout her career, she has earned several awards, including 3 consecutive Emmy nominations.

The following is our (quick) email conversation regarding branding and design.

Read More Read More

Facebook Quiz for Brand Marketing

Facebook Quiz for Brand Marketing

farm

Saya yakin Anda sudah sebal dengan Facebook Quiz yang memenuhi halaman Home Anda di Facebook. Walau sebel, tapi sepertinya jumlah dan peserta quiz tiap harinya tidak kunjung berkurang. Beberapa yang mulanya sebal, malah akhirnya turut bermain kuis juga gara-gara penasaran tentang apa sih yang membuat orang kerajingan. Apa iya, Facebook quiz itu kerjaan iseng tak bermanfaat?

Dari sudut peserta kuis mungkin iya, sekedar mendatangkan kepuasan emosional karena bisa membandingkan dirinya dengan yang lain. Atau sekedar ingin mengkonfirmasi tebakan atas diri sendiri lewat quiz yang berkaitan. Tapi pernahkah terpikir bahwa Facebook quiz bisa mejadi tool luar biasa untuk keperluan brand marketing? Sifatnya yang cenderung viral dan mengalir terus-menerus membuatnya jadi media yang efektif untuk mengantarkan pesan ke depan calon konsumen. Jadi bagaimana kita bisa memanfaatkan Facebook quiz?

What to avoid?

Kita mulai dari yang paling penting: praktek yang harus dihindari.

  • Direct selling (as always). Tidak ada yang senang dipaksa untuk membeli. Jangan berjualan lewat quiz.
  • Blatantly branding. Jangan ngasal memasarkan brand. Jika tidak hati-hati, bisa-bisa hasil yang didapatkan justru hal yang tidak diinginkan.
  • Don’t always do something about YOU YOU YOU, more about the user. Ingat, tidak ada direct-value bagi Anda sebagai pemilik brand. Jadi dalam langkah ini, semuanya adalah tentang user. Hal ini juga terkait dengan konsep viralitas. Jika tidak berguna bagi user, ngapain disebarkan?
  • Branding up front may increase traffic. Make it seems like an ad. Memang sih, jor-joran di depan akan men-drive tambahan trafik ke site Anda. Tapi berita baiknya hanya sampai di situ saja. Selanjutnya Anda tidak akan bisa melakukan hal yang sama lagi. “Ah, si itu lagi, pasti ngiklan.”

What we can do

Untuk branding, kita bisa memanfaatkan kekuatan viral untuk menebar brand awareness. Ada dua hal yang bisa disebar.yang pertama adalah gambar brand itu sendiri, berupa logo atau badge hasil quiz. Namun hal ini tidak dianjurkan untuk dipakai dalam langkah-langkah awal pelaksanaan strategi. Alih-alih gambar brand, kita bisa menebar awareness tentang sifat-sifat atau nilai emosional brand. Misalnya dengan mengenalkan keyword brand, eg: smart, fun, serious, knowledgeable, dll.

Bisa juga ditambahkan asosiasi warna untuk mengaitkan dengan bentuk fisik brand. Misal, selalu mengaitkan biru dengan smart, freedom, dll. Kita juga bisa memakai model game dimana user harus melaksanakan misi tertentu demi menjawab pertanyaan quiz. Misi bisa diarahkan untuk memberikan informasi tentang brand, atau men-drive pemikiran bahwa brand yang nantinya diperkenalkan benar-benar matters (penting). Quiz bersambung mungkin akan jadi lebih seru!

Where to deploy

Selain menentukan bentuk kuiz, kita juga harus memetakan network yang akan menjadi sasaran quiz. Terutama dari mana quiz ini akan kita mulai sebarkan. Kesalahan memilih awal penyebaran bisa membuat quiz mati sebelum bisa menikmati viralitas. Quiz yang gokil jangan disodorkan ke kutu buku, dijamin susah menyebar. Sebaliknya, kuis-kuis yang akademis gk akan laku di network gokil yang tak suka materi terlalu serius.

Statistic, statistic, statistic

Yang terakhir, jangan lupa mengukur hasil quiz. Lihat statistik, mana yang lebih cepat menyebar. Mana network yang lebih kondusif. Dimana sebenarnya posisi peserta kuiz yang potensial. Sekali lagi, if you can’t measure it, you can’t improve it. Jangan membabi buta.

Baca juga:

Untuk kontes hariandan kontes utama, coba tulis Facebook quiz yang bisa dikategorikan sebagai kegiatan branding. Tulis juga apakah quiz tersebut cukup efektif atau gagal sama sekali. Apa yang bisa diimprove dari quiz tersebut.

Promosi di Facebook: Mengertilah Aturan Main!

Promosi di Facebook: Mengertilah Aturan Main!

train

Dengan semakin populernya Facebook, semakin terasa imbasnya bagi para komunitas maya. Ajang mencari teman lama sudah menjadi alasan utama dalam penggunaan Facebook. Bahkan dunia korporat dan pelaku politik telah mulai melirik Facebook sebagai media promosi. Sayangnya, banyak pihak masih belum juga mengerti aturan main, serta strategi penggunaan layanan Facebook yang benar dan efisien.

Read More Read More

Brand dan Transporter: Brand adalah Janji

Brand dan Transporter: Brand adalah Janji

Jika kemarin kita sempat melontarkan sebuah shortnote tentang brand dan Hancock di mana kita bisa membaca bahwa brand must speak itself. Atau jika tidak mampu, brand harus menggaet PR untuk meluruskan image. Lebih jauh lagi, brand harus mampu membentuk laskar pribadi yang tidak hanya berfungsi sebagai pasar tapi juga pejuang pembela di saat brand sedang terluka.

Tidak mengulang Hancock, kali ini kita akan membicarakan hal serupa dengan contoh berbeda: Brand dan Transporter. Saya berharap paling tidak Anda telah pernah menonton atau mendengar film ini. Lebih baik lagi jika Anda pernah melihat Transporter paling tidak yang pertama dan salah satu sekuelnya. Jika tidak, saya akan mengalami kesulitan men-transport (pun intended) ide saya ke pihak Anda 😀

Seperti yang kita tahu, Transporter adalah film tentang kisah seorang sopir. Bukan sopir sembarangan. Sopir di Transporter ini berpenampilan rapi, memakai jas serta dasi serta memiliki mobil sendiri. Dan yang paling penting, si sopir punya aturan dalam pemakaian jasanya.

Dan inilah yang dijual dan diulang, bahkan dalam semua sekuelnya. Inilah contoh brand. Frank Martin, si Transporter, selalu dicari orang karena dia selalu berhasil mendeliver apa yang dijanjikan. Pelanggannya semakin menyenanginya karena Frank Martin bertingkah sangat simple. Semua suka produk yang simple dan bekerja sesuai gambar/iklan bukan? Inilah konsistensi. Brand is a promise. Consistency means fulfilling the promise.

Lalu apa yang dijanjikan? Transporter punya 4 aturan:

  1. Never change the deal. Apa yang disepakati di awal akan berlaku sampai dengan akhir pengantaran paket.
  2. No names. Tak perlu repot dengan detil-detil yang tidak perlu. Yang terpenting adalah paket dan alamat yang dituju.
  3. Never open the package. Paket tidak akan pernah terbuka. Ini adalah jaminan privacy yang tak semua orang mampu memberi.
  4. Never make a promise you cannot keep. Jika dia tak bisa melakukannya, dia akan menolak tawaran. Dan sebaliknya, jika dia setuju, paket dijamin pasti akan sampai tujuan.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda mendeskripsikan aturan dan janji untuk brand Anda? Kalau kita ambil contoh produk Apple, kira-kira apa ya janji brand-nya?

PS:
Tergantung sudut pandang dan cara berpikir, banyak yang menganggap sekuel Transporter terbaru (Transporter 3) sebagai pelanggaran semua janji. Bagi saya, sama sekali Frank Martin tidak melanggar janji Transporter. I’ll let you know if you ask 😀