Browsed by
Tag: business

Menagih Janji Location Based Service

Menagih Janji Location Based Service

Location Based Service, pertama kita kenal lewat FourSquare. Yang kita dengar, seorang pengunjung rutin pub mendapatkan gelar Mayor karena frekuensi kunjungannya. Dan dengan gelar Mayor pub ini maka dia berhak akan reward sejumlah beberapa dollar atau layanan ekstra lain. Idealnya seperti itu, namun sejauh ini rasanya kita tak banyak mendapatkan manfaat kecuali kesenangan di milis dan mendapatkan badges dari layanan LBS ini.

Sebenarnya apa saja yang dijanjikan LBS dan bagaimana kenyataannya sampai hari ini?

Reward for Loyal Customer

Well, sebenarnya ini tidak dijanjikan oleh LBS langsung namun oleh para merchant yang memakai LBS untuk memasarkan atau menambah experience di produknya. Tapi ternyata sampai sekarang tidak banyak atau hampir tidak ada yang bisa memanfaatkan LBS dan memenuhi janji memanjakan loyal customer. Entah pendekatan pemakain LBS yang kurang tepat sehingga tidak ada pengunjung yang berpartisipasi dalam kampanye atau LBS memang sama sekali belum memenuhi kriteria layanan yang dicari merchant. Takut dengan jumper?

Connecting Near-by Friends

Salah satu janji LBS yang menarik adalah mempermudahkan pertemuan antar teman. Sering kita tak tahu ternyata teman-teman kita berada di tempat yang sedang kita kunjungi. LBS menjanjikan kita bisa lebih connect dengan teman-teman kita karena posisi tiap-tiap orang bisa terlacak.

Namun yang terjadi adakah kita justru memanfaatkan media lain (Twitter) untuk menyebarkan posisi kita dan mengatur pertemuan dengan teman. LBS tidak jadi core connecting tool. Yang menggagalkan janji LB ini bukan ketiadaan push notification tapi soal integrasinya dengan perangkat bergerak yang kita gunakan. Notifikasi diberikan saat teman kita checkin di suatu tempat namun kita sedang tidak di sana. Informasi ini terkadang jadi tak relevan dan tak tepat timingnya.

Push Near-by Promo

Masih ingat Minority Report? Saat iklan berganti begitu Tom Cruise melewati sebuah koridor. LBS juga punya janji untuk memenuhi kecanggihan itu. Namun lagi-lagi kita jarang mendengar kisahnya apalagi kisah sukses. Dengan berbekal lokasi pengguna, semestinya siapapun sudah bisa melakukan push-promo ke pengunjung yang lewat. Dari segi peminat pengiklan, pasti jumlahnya banyak. Lebih targeted secara lokasi yang berarti begitu bisa ditimbulkan keinginan untuk membeli maka tidak akan ada banyak halangan untuk terjadi konversi. Apa yang membuatnya tidak jalan?

The Game Changer

LBS adalah layanan yang menarik namun lahir prematur. Teknologi pendukungnya ada tapi belum benar-benar sempurna dan mencapai citical mass. Ada dua hal utama yang menghambat perkembangannya. Pertama dari sisi teknologi. GPS dan alat penentu lokasi lain belum terlekat secara default ke tiap perangkat bergerak. Pun terekat, konsumsi dayanya sering membuat orang sengaja mematikan fitur tersebut.

Saya membayangkan nantinya ada NFC (Near Field Communication) dengan dukungan range yang lebih dari 10cm. Terinstall di masing-masing merchant dan perangkat bergerak kita. Menjadi semacam sensor saat kita mendekat dan mengirimkan notifikasi tak mengganggu tentang diskon atau sisa reward point kita.

Faktor kedua yang menghambat perkembangan LBS adalah privasi. Auto-checkin pernah diperkenalkan oleh beberapa aplikasi LBS namun pemakainya masih agak enggan karena ada kekhawatiran tentang terbaginya data yang harusnya privat. Ada yang pakai? Data lokasi sepertinya perlu dibungkus dengan semacam OAuth dan merchant akan berperan sebagai aplikasi yang meminta permisi ke tiap akses lokasi. Dengan demikian kita bsia mengendalikan siapa saja yang otomatis bisa mengetahui lokasi kita.

Tanpa auto-checkin, LBS rasanya bak WiFi yang harus kita set setiap kali hendak dipakai. Menyebalkan, namun untungnya tidak demikian. Begitu kita datang, koneksi WiFi sudah langsung on dan kita bisa segera mengupdate status Facebook.

PS:

  • Sepertinya saya sempat mendengar ada Telco yang sudah melakukan push-promo berbasis lokasi. Ada yang bisa membantu dengan informasi lebih lanjut?
The Mistery of Pricing

The Mistery of Pricing


Ini adalah artikel pertama NavinoT di 2011. Kita masuk ke 2011 dengan kepalan keras yang menghantam, bukan sekedar selamat tahun baru 🙂

Kali ini saya ingin sharing tentang buku Dan Ariely yang berjudul “Predictably Irrational“. Buku ini berefek sama seperti Small is The New Big milik Seth Godin. Membuka mata saya dengan cerita tanpa harus membaca statistik rumit ala Freakonomics (sorry Mas Malcolm, buku Anda tetap bagus kok dasarnya).

Harga. Berapa sih harga pantas sebuah laptop? Kenapa harga iPad harus segitu mahal? Kenapa ada persepsi mahal, murah dan normal? Apa sekedar karena perbedaan daya beli saja? Tahukah Anda bahwa harga yang masuk akal itu bisa diatur atau didoktrinkan?

Price Anchoring

Eksperimen Dan Ariely menunjukkan bahwa harga yang masuk akal itu ditetapkan pertama kali saat Anda membeli sebuah produk. Misalnya LG LCD TV 32 inchi (rela) Anda beli dengan harga 4 juta. Selanjutnya jika Anda diharuskan membeli produk LG LCD TV 32 inchi lagi maka Anda pasti akan menawar jika harganya 4,5 juta. Padahal, orang lain di tempat lain mungkin membeli LG LCD TV 32 inchi pertamanya dengan harga 4,5 juta. Orang kedua ini tak akan berpikir dua kali jika harus membeli barang kedua dengan harga sama.

Harga cabai bagi kita mungkin naik, tapi bagi turis yang pertama kali membeli cabai di sini pasti tak akan protes dengan harganya. Toh pasti lebih mahal dengan harga cabai di tempat asalnya. Padahal di sini harga cabai mungkin sudah naik sekian kali lipat.

Bagaimana? Coba ingat-ingat contoh yang pernah terjadi dengan diri Anda sendiri. Ada yang rela beli iPhone 7 juta saat pertama rilis? Kenapa mau? Karena kita tak punya pembanding. Tidak ada yang mirip. Ya sudah, kita terima saja MSRP-nya (Manufacturer’s Suggested Retail Price)

Readjusting Price Anchor

Jika harga yang kita terima sepenuh hati ternyata diingat sepanjang masa, bagaimana caranya supaya orang mau beli dengan harga baru yang kita pasang? Ternyata ada caranya. Tidak dengan menambah fitur supaya tampak lebih berharga dari produk lain, tapi dengan jalan mempersulit perhitungan harga.

Contohnya sama dengan cerita harga iPhone di atas. Contoh lainnya, kenapa Anda mau beli kopi seharga 30-40 ribu di Starbuck. Di tempat lain harganya bisa lebih murah. Saat Anda kali pertama masuk Starbucks, Anda mungkin sempat bertanya kok bisa harga kopi “semahal” itu. Yet, you paid it for the first time. Kenapa? Karena semua Frappucino, Macchiato, Short, Tall, Grande, Venti membingungkan Anda. Unit ini tidak pernah Anda temui sebelumnya sehingga Anda tak punya pembanding harga. Dunkin dan jCo juga punya kopi tapi tidak ada Macchiato, dll. Ya sudah, kita terima harganya demi mencoba.

Apa yang sebenarnya terjadi? Ternya Starbucks mencoba membuat price anchor yang baru. Dan ketika kita puas dengan kopi Starbucks, semua kopi lain (tidak harus yang mirip) akan kita bandingkan dengan harga ini.

Hmm, saya rasanya jadi paham dengan lingkaran setan produk Apple. Once you buy one, other Apple product pricing became reasonable and make sense. It’s price anchoring!

Pesannya, jika Anda tidak tahu cara menetapakan harga suatu produk maka sekalian saja dibuat mahal. Jika Anda sendiri bingung tentang harga value produk, itu adalah kesempatan untuk menetapkan price anchor buat yang lain.

PS:
Asik kan bukunya? Ini baru sampai bab dua loh. Ingat, Predictably Irrational oleh Dan Ariely. Beli versi pocketnya di Periplus PIM atau tempat lain. Worth every penny!

Interview With Ollie From NulisBuku.com

Interview With Ollie From NulisBuku.com

It reminds me of Lulu.com where i was so excited at. I can finally publish my own book/mag. For the sake of sharing and fame. Or for some extra dimes.

A few years back, I almost got scammed. A site providing a place to upload poetry is offering my poetry to be published. It must have been my day, somebody finally see my poet inner talent. Or so i thought.

The gist is, publishing a book is an exclusive right. It’s not everybody’s right. It’s both time consuming and pricey. It’s almost like setting up a company. We invest our money and aiming seriously to make profit. It’s a job, not a hobby.

Successful company are those making the impossible become possible. Writing can be a hobby, but book publishing can’t. It is obvious, Lulu and NulisBuku does not believe this. NulisBuku are founded by those know how painful it was to publish a book. So rest assured they are set to make it easy and possible for everyone else.

Let’s confirm to Ollie.

Is it true that I can publish my book in just 1, 2, 3?

Yup! All you have to do just sign up on our website http://nulisbuku.com for FREE, then upload your soft copy book (in PDF format) to Nulisbuku.com, proofread it and if everything’s okay, you can see your book in Nulisbuku.com marketplace for all people to buy. The publishing process should only take maximum 3 days if you don’t have any revision after proofread.

How hard is it to actually publish a book via a regular publishing company?

Regular publishing company has their own idealism in selecting books, spesific marketing strategy and limited number book to publish. That’s why new writers will find themselves waiting for months before they know if their script is successfully approved for publishing. And it’s not easy to get published because of several reasons that I mention earlier make the publishing company select the scripts real carefully.

How can you make it so cheap?

We have our own method to make it possible. My partner, Brilliant Yotenega, has experience in printing industry for almost 10 years. Together with Angeline Anthony and Oka Pratama, we make print on demand, really happened!

How many years of research to get nulisbuku up and running?

Has been on my dream to do list for 2 years, and execute it for 5 months (operational & technical side)

Are you still bleeding or already taking profit?

We’re taking profit from day 1

Day 1? Gross profit or net profit? how could it be possible?

It’s gross profit. It’s possible because we have a clear business model. For every books sold, we got certain percent of royalties. I must say in Nulisbuku early age, the business is sustainable and live from its own sales.

How are you making profit margin?

From printing margin & book royalties

Can you describe the pipeline in NulisBuku kitchen and which part took the most energy to run?

There are 2 kind of order.

First was from Writers. For every book submitted, our administration will confirm first for  writer to make their first proofread version and manage the payment. The print order then goes directly to our production team. They will receive order, preparing the selected paper (we have 2 option, HVS & novel paper), print the script and cover, binding, wrapping, packaging and sending it to customer.

The second kind of order we get from normal customer or reader. The process is similar, but the quantity is up to the customer’s order.

Our energy running mostly to operational process. Every piece of the book matters. To control the quality, doing it one by one and making each book a masterpiece in short period of time to keep up with customer’s expectation is our challenge.

I believe, most of your author at the moment are early adopters (which is also a writer) which may not demand much as long as they can have their book published. But later on, you’ll eventually need to cater commercial-writer (aiming for profit from day one). How do you plan to handle this change? It is surely a market you should embrace to expand NulisBuku.

Yes, we already hosted Ika Natassa, a best selling author and Jed Revolutia, that looking forward to profit from day one. We encourage people to do the marketing for their own book and we will create offline events, not only about how to write, but also how to sell. We might add channel of distribution through partnership and have plan to create Nulisbuku (offline) Library in cafes & restaurant all over Indonesia.

How many years until we can see nulisbuku in full scale?

We’re expecting 2011 or early 2012 to scale

Do you see extra monetization channel in book publishing?

We already see several models of monetization channel and it will involve brands as well

Do you own your own payment gateway?

No, we plan to have partnership with the current payment gateway

Do you meet any difficulties with NulisBuku online store aside from lacking payment gateway?

We will simplify the registration process because we get several input in that section. Other than that, we’ll do more improvement in 2011. We’re expecting to sell ebooks version of Nulisbuku.com books as well and might add several new templates for photo books, recipe, etc.

If you are to look for one (payment gateway), what will be your fitting payment gateway criteria?

Must be easy to implement, easy to use by the customer, no initial fee and cheap fee per transaction :p

If you are about to partner with local startup, which one is it and why?

We’re interested to partner with local startups that already play in ebook business or have hardcore writers or readers community or have a strong marketplace to showcase Nulisbuku books

OK, last but not least. Any advice for fellow startup founder-wannabe?

First, identify your passion. It’s something that you’ll do, after you have everything in life fullfilled. Create a startup idea out of your passion. Then make clear plans on how to make it come true. Network, come to #StartupLokal events, so you can get advice from the experts in your selected field. Give schedule and target to launch your startup. Even when it’s not perfect yet, launch it anyway. Because perfection is a journey. *wave to Nulisbuku beta logo* 😀 Good luck!

Nulisbuku.com already have so many evangelists that form their own communities based on projects held by Nulisbuku. #99writers was an event that we create to launch Nulisbuku.com at Indonesia Book Fair 2010. 99 writers launch their 99 books that they’ve prepared in 9 days in one stage! They continue on supporting each other through twitter and blogs. #writers4indonesia also one of our project to help Indonesian disaster victims. 300 writers wrote 300 short stories compiled in 17 books! All royalties goes to charity arranged by Nulisbuku.com. The #writers4indonesia community is growing even to BBM groups 😀 To accommodate the passion of our writers, we create a forum http://forum.nulisbuku.com

Thanks a bunch Ollie.

Further question can be placed in the comment box. Hopefully Ollie herself and NulisBuku friends can answer your curiosity.

What Is Your Business Again?

What Is Your Business Again?

Lost in Music

Adalah mudah untuk kehilangan fokus. Saya bahkan agak lupa dengan apa yang hendak saya tulis sekarang dan justru berpikir keras kapan saya akan memuter Patience dan apakah saya harus memakai earphone atau tidak. Tadinya saya cuma berniat untuk nge-blog.

Yang ingin saya bicarakan tentang fokus terkait dengan satu pertanyaan penting yang ditekankan dalam, err, entah oleh Clay Shirky (Cognitive Surplus) atau Jeff Anderson (What Would Google Do). Dalam setiap saat di perjalanan produk Anda, harus selalu ditanyakan pada diri sendiri: what is your business? Dang, I left my WWGD in the office.

Begini deh contohnya, mudah-mudahan tidak meleset jauh. Coba ingat kembali pada produk yang sudah atau sedang Anda kembangkan. Berapa kali Anda merasa mendapatkan ide cemerlang tentang bagaimana produk tersebut akan jadi pada akhirnya atau kemana produk tersebut akan dikembangkan. Oh, berjuta ide! Kanan, kiri, atas dan bawah. Terkadang kita jadi lupa pada ide orisinalnya. Lupa pada inti masalah yang akan diselesaikan oleh produk tersebut. Is it a camera or is it a phone? Dan ketika kita turuti ide tersebut, kita berujung pada bloatware yang tak bisa menyelesaikan masalah apapun dengan benar. Jika beruntung, mungkin masih bisa disebut half-assed.

Kita selalu menyukai mencoba hal-hal baru. Menjawab teka-teki adalah hasrat terpendam kita. Oleh karena itu tidak heran saat pengunjung situs kita sudah menjadi angka tertentu, kita ingin memasang iklan. Sejatinya, kita sedang ingin menjawab teka-teki tentang monetisasi. Sementara saat sepi, kadang kita tak segan membeli iklan di Facebook atau bertukar sederet banner untuk mendapatkan pengunjung. Oh, ada yang ingat trafficswarm? traffic365? dammit, rasanya mereka itu satu perusahaan deh. Yet, we, err I, applied to everyone of them.

What was your business again? Apa yang hendak kamu selesaikan. Facebook, dalam The Social Network, menjawab teka-teki tentang apakah seseorang sudah punya pacar? Film apa yang disukainya? Ikut partai mana? Hal apa yang bisa diobrolkan saat pedekate? Apa yang tabu saat pedekate. Dan Facebook tidak bergeser jauh dari teka-teki ini. Tidak dalam tahun-tahun awalnya.

What was your business again? Facebook bilang: cool business. Facebook tidak memasang iklan karena popup dan jenis-jenis iklan saat itu sifatnya terlalu mengganggu. Facebook menemukan konsep iklannya sendiri. A cool ad platform. Kecil, di tempat yang tak menghalangi konten utama dan bisa kita vote down jika tak cocok dengan kita. Facebook mengubah iklan menjadi informasi, dengan memakai berbagai kriteria segmentasi. Cool for facebook users and very effective for advertisers.

Hei, hei! Sedang apa kamu? What was your business again?

PS:

Happy Monday peeps!

Gimme The Badges!

Gimme The Badges!

Badge! Gimme more badges! Entah karena penasaran atau kita secara sederhana tak mampu menahan diri untuk memanfaatkan kelemahan sistem, terciptalah “profesi” jumper. Badge bisa diperoleh tanpa datang ke venue terkait. Super duper crazy awesome near impossble swarm pun bisa terlaksana. Semua demi tampilnya badge langka di profile kita yang jarang dibuka orang itu.

Badge is the new currency

Mungkin Anda jadi bingung. Dulu attention disebut sebagai currency di dunia web. Eyeballs menjadi mata uang yang setara dengan uang di dunia nyata, dengan kurs yang juga senantiasa fluktuatif. Sekarang jadi tampak jelas, attention hanya satu jenis mata uang. Berlaku di “negara” tertentu dan tampak terpuruk nilainya.

Atensi atau perhatian susah diukur dan masih jauh dari tujuan akhir pemilik produk: konversi. Anda bisa saja melihat website atau iklan produk. Then what? Engagement-lah yang dicari. Eh salah, yang dicari penyerahan diri pada suatu produk. Kesediaan untuk bergabung dalam tribe produk dan mengiyakan rekomendasi (bujukan) yang diajukan oleh produsen. In the end, it’s always about sales 😀

So, where’s the badge again? Badge adalah bentuk imbalan terbaru, berharga namun tifak setara secara ekonomis dengan uang. Badge adalah cara untuk menghargai pengorbanan kita dalam mencapai suatu titik tertentu. Badge adalah indikasi langkah pertama dari voluntary engagement.

How the badge works?

Nilai badge dan collectible pattern achievement ini akan terus valid selama bersifat non financial. Harus dijaga keseimbangan antara tidak berharga dan cukup berharga. Saat badge mulai terukur dengan rupiah, efeknya akan otomatis turun. Seperti ketika Anda mengumpulkan stempel demi segelas kopi atau piring cantik.

Badge harusnya tak bisa luntur atau ditukar dengan barang. Badge harusnya hanya memberikan keistimewaan dan kebanggaan. Kita tidak menukarnya dengan sesuatu namun pihak lain dengan sendirinya akan memberikan hal-hal istimewa pada kita.

Open or Close Badge?

Badge adalah closed system. Tidak bisa dibawa kemana-mana dan tidak punya standarisasi nilai di antara satu sama lain kecuali dalam konteks komunitas produk yang sama. Flawed tapi justru di sini lah kunci keberhasilan badge: ekslusifitas. Namun model tertutup ini tak akan bertahan lama. Lingkungan tertutup akan membuat penghuninya bosan. Akan muncul kebutuhan akan keterbukaan. Entah demi portabilitas data atau interoperabilitas (yang seringkali overhyped)

Dengan adanya GameCenter dan OpenFeint dan Badgeville, badge akan terdemokratisasi (jadi umum). Sistem penghargaan badge akan tersedia di mana-mana dan bisa kita bawa kemana-mana. Namun Sebagian besar orang akan berada dalam sistem penilaian yang sama. Kompetisi terlalu sengit sehingga tak lagi menyenangkan untuk diikuti. Seperti halnya game pada umumnya, yang terlalu susah malah tidak mengasikkan. It needs to challenge you, within your possible boundary.

Nah, sekarang siapa mau menyumbang cerita pemakaian sistem badge di Indonesia?

Startup Goes to Enterprise Market, How.

Startup Goes to Enterprise Market, How.

Startup selalu mulai dari sesuatu yang kecil. Jarang ada yang langsung menembak segmen enterprise karena segmen ini punya karakteristik tersendiri. Kebutuhan yang muncul dari segmen enterprise sebenarnya tidak jauh berbeda dari yang ada di segmen lain. Jika sebuah toko online memerlukan sarana pencatatan transaksi dan perhitungan laba rugi, segmen enterprise juga memerlukan hal sama. Tapi tentunya dengan beberapa atribut tambahan.

Scalability

Segmen enterprise tidak bermain dalam ukuran kecil. Jika kita ingin memasukkan produk ke dalam segmen enterprise berarti prosuk kita harus siap menangani data dalam jumlah besar. Masalah yang sebelumnya bisa diselesaikan dengan mudah lewat query SQL harus ditulis ulang demi menjaga performa saat bertemu jutaan record. Map reduce, perhitungan non realtime tiba-tiba jadi masuk akal. Jika sebelumnya data hanya ada di satu server, setelah masuk segmen enterprise data bsia tersebar di beberapa pulau atau benua. Produk yang sebelumya mumpuni di LAN menjadi hang setelah masuk segmen enterprise.

Industry Standard

Dunia enterprise adalah juga sebuah tribe. Enterprise punya bahasanya sendiri dalam berinteraksi satu sama lain. ISO menjadi acuan umum banyak organisasi. Di bidang finansial ada standar tersendiri, contohnya IFRS (International Financial Reporting Standard). Di dunia penerbitan buku ada sertifikasi Book Industry Study Group. Di dunia e-commerce ada PA-DSS yang mengawal keamanan transaksi elektronik. Semua standar ini mempengaruhi karakteristik yang harus dipenuhi oleh suatu produk yang akan masuk ke dalam segmen enterprise. Tidak hanya mampu memenuhi kapasitas tapi juga harus industry compliance.

Still, Start Small

Salesforce juga dimulai dari garasi dan tidak sebesar sekarang. Ada masa di mana Salesforce bertransformasi menjadi apa yang ada sekarang ini. Untuk masuk ke dalam segmen enterprise kita tetap harus berangkat dari pain point seperti biasa. Dalam perjalanan lebih jauh di dunia enterprise kita akan menemui pain point versi enterprise. Di titik itulah produk harus mulai bertransformasi. Di titik itulah produk mulai harus mempertimbangkan stack-stack yang juga enterprise ready sebagai pondasi. Tidak harus selalu proprietary, tapi harus selalu ditantangkan dengan faktor kecepatan transformassi dan biaya. Bisa dimulai dengan Eucalyptus, dan berujung di VMWare vSphere, misalnya dalam urusan scalability.

Are you ready?

What People Want?

What People Want?

Clear Vision
Zooloo.com, bagi saya tampak seperti Friendster on steroid. Lifestream sedang merajalela tapi Zooloo malah balik ke jaman Friendster. UI-nya sangat mengingatkan kita akan Friendster walaupun fitur agregasi stream dan kemudahan mengkustomisasi tema tampilan adalah hal yang tidak dipunyai Friendster.

G.ho.st – another desktop inside web (web OS). Do we really want it? How useful it is? Kenapa lagi-lagi memindahkan konsep desktop ke dalam web tanpa perubahan apapun? Single sign on should be sufficient. Don’t load what you don’t need (email client dalam web OS). Browser speed is scarce, why waste it?

Supaya laku, harusnya kita membangun sesuatu yang diinginkan orang. Antara lain:

  • Something they need. Tiap orang inginn kebutuhannya terpenuhi. Oleh karena itu makan, minum dan tempat tinggal akan selalu laku. Kadang kala orang juga butuh berkomunikasi jarak jauh. Dunia bisnis apalagi, komunikasi jarak jauh yang murah akan bsia menghemat biaya komunikasi. Skype cerdas. Long distance call was never cheap until skype come.
  • Something fun: games, movies,music. Tiap orang menginginkan kesenangan. Game yang bisa mendatangkan kesenangan adalah hal yang diinginkan orang. Mulai dari game flash kecil sampai dengan game konsol berdana besar.
  • Something to make other things easier to achieve. Ini contoh terdahsyat :D. Kita tentunya setuju bahwa membangun startup itu susah. Kita perlu modal dan kita harus tahu ilmunya. Bagaimana jika hal ini bisa dipermudah atau difasilitasi? Apa mungkin? Y Combinator, didirikan oleh Paul Graham karena ia ingin memudahkan pembangunan startup. Y Combinator adalah perusahaan yang menciptakan perusahaan. Apakah Y Combinator laku atau mendapat laba? Well, ternyata banyak investor yang bersedia menanam dana untuk startup yang difasilitasi Y Combinator. Dengan seed $6000 per founder, tiap startup bisa menghasilkan nilai investasi dan akuisisi puluhan ribu dolar. I call that profit.

Apakah segala sesuatu yang kita tawarkan harus bermanfaat? Tidak perlu, tidak harus saat itu juga. Jika layanan Anda cukup keren maka orang akan mencari-cari kegunaan layanan Anda di luar definisi yang telah Anda tetapkan. Contoh:

Twitter – It is cool and simple. It wasn’t really useful until people exploit it.Tidak sekedar menjadi alat komunikasi dengan keluarga dan teman, kini menjadi tempat nongkrong global untuk networking, berbagi resource, dan beraktivitas bersama-sama.

Friendfeed – It’s cool, it aggregates stuff and you can comment on it. People make it really useful by commenting and sharing all over the place. Apakah berguna? Bagi beberapa orang iya, tapi tidak bagi Mr. Arrington.

Keinginan saya? Make something for the future. Tren yang sekarang pasti akan ditinggalkan. Jika anda membuat layanan untuk tren masa depan, maka semakin anda berjalan semakin terang jalan Anda. Perhatikan apa yang akan berubah di masa depan, dan pastikan layanan Anda bisa memanfaatkan atau mengeksplotasinya.

Kefasihan di e-commerce? Internet gratis? Apakah Anda siap mengeksplotasinya? KrazyMarket mungkin melihat hal ini. I mean, siapa yang hari ini masih bandel memaksakan diri membangun pasar e-commerce di Indonesia? Masa e-commerce akan datang, dan jika masa itu datang pemain senior yang telah menunggu lama akan segera melesat. Dan kita tak akan sempat mengejarnya.

Great Game of Business

Great Game of Business

baseball stadium

Apa sih Great Game of Business? Maksudnya business itu sebuah permainan gitu?

Great Game of business dikoinkan oleh Jack Stack di sekitar tahun 80-an. GGoB adalah sebuah konsep yang sangat menarik dalam mendayagunakan resource perusahaan yang seringkali kurang termanfaatkan. Seperti yang kita tahu, bekerja dalam tim selalu lebih banyak memberikan hasil daripada bekerja sendiri-sendiri. GGoB berusaha membuat jaminan bahwa perusahaan akan bekerja sebagai tim besar, dan mendayagunakan sepenuhnya resource kecerdasan pekerja dalam perusahaan.

Contoh GGoB, diterapkan dalam perusahaan Jack Stack sendiri: SRC. Inc.com mencatat, dalam waktu lima tahun, SRC telah berubah dari brain-dead startup dengan rasio debt-to-equity sebesar 89-to-1 menjadi perusahaan sehat berprofit $43M dengan debt-to-equity ratio sebesar 1.8:1. Dan sahamnya naik dari 10 cent ke $13, atau mengalami peningkatan sebesar 13000 persen. Holy cow!

How did it happen? Inc.com pernah berkunjung ke SRC dan mencatat hal-hal tidak wajar yang tak mungkin bisa ditemukan di perusahaan lain. Inc.com menjumpai suatu bagian engineering (fuel-injection-pump) yang tahu gross margin dari setiap produk yang mereka buat. Di bagian lain, mereka bertemu dengan engine assembler yang tahu berapa ROI dari peralatan yang mereka pakai. Dan di tempat lain lagi Inc.com bertemu dengan orang yang menjalankan divisinya seperti sebuah small business miliknya sendiri. Dalam GGoB, semua employee adalah owner dari perusahaan.

How did Jack Stack do it?
“Why hire a guy and only use his brain to grind crankshafts?”. Jack membuat business di SRC  seperti sebuah game, dan semua orang bisa belajar memainkannya. Jadi, apa yang sebenarnya dilakukan jack??? Berikut ini beberapa kunci yang dipakai Jack Stack.

Kunci Pertama: Know the rules
Yang dilakukannya pertama kali adalah membuat sebuah education program untuk memberikan kursus pada semua pegawainya bagaimana game ini dimainkan. Mulai dari accounting sampai dengan warehousing, bahkan juga dibentuk program management training untuk memberikan kesempatan pada pegawai yang ingin menaiki jenjang karir. kesempatan ini benar-benar dibuat nyata dalam SRC. Dalam cerita SRC, beberapa orang tertingginya berasal dari janitor dan shipping clerk. Kalau mereka memang bisa melakukannya, dan bermanfaat bagi perusahaan, kenapa tidak? Bukankah begitu?

Rules juga bisa berupa target, misalnya dalam kasus SRC, SRC mentargetkan 10000 jam tanpa kecelakaan.

Kunci Kedua: Know your reward
Dalam sebuah game harus ditetapkan sebuah hadiah sehingga permainan menjadi lebih menarik. Ada yang menang dan ada yang kalah. Pemenang akan mendapatkan reward yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam SRC, promosi dalah salah satu reward. Namun ada juga reward ayng bisa dinikmati semua pegawainya. Dalam pencapaian target 10000 jam tanpa kecelakaan, SRC menghentikan pabrik dan melakukan perayaan bersama seluruh pegawai. Bukan perayaan besar, namun tidak bsia dibilang tak meriah.

Kunci Ketiga: Keep The Score
Dalam sebuah permainan, kita harus tahu score kita setiap saat. Hal ini penting untuk mengingatkan kita seberapa jauh kita dengan target yang ingin kita capai. Dalam SRC, bisa dijumpai sebuah papan elektronik yang dipasang di sebuah kafetaria dengan salah satu pesan: “FUEL INJECTION LABOR UTILIZATION 98%.”

Lebih lengkapnya, kita bisa membaca “The Turnaround” . GGoB ini adalah salah satu konsep yang memikat saya. Tampak menarik dan pasti ampuh untuk diterapkan. Namun mungkin ada banyak hal tricky di dalamnya. Misalnya, penentuan bentuk game harus tepat. Seperti yang kita ketahui, sebuah genre game tidak selalu menarik bagi semua orang. Jika kita memang ingin membuat game ini bisa berjalan, kita harus pastikan semuanya tertarik untuk memainkannya. Rules dan reward juga harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga bisa memotivasi dan tidak tampak mustahil untuk dicapai.

Hopefully, artikel ini bisa memicu rasa ingin tahu Anda tentang GGoB. Kalau dulu menganggap marketing itu menyebalkan, mungkin sudah tidak lagi setelah membaca artikel-artikel di NavinoT. Setelah membaca artikel ini, mudah-mudahan Anda juga akan menyingkirkan topik manajemen (bisnis) dari daftar menyebalkan.

Untuk kontes utama, beat me, coba koreksi kunci nomer dua. Saya agak susah merecover kunci nomer dua dari ingatan saya :D. Anda juga bisa menuliskan konsep-konsep manajemen lain yang telah Anda temukan beserta keunggulannya.

Untuk kontes harian, coba Anda lihat video di bawah ini dan buat intisarinya dalam kotak komentar.

PS:
Great Game of Business (diklaim juga sebagai salah satu bentuk dari Open Book Management)

Transformasi Bisnis: Kapan?

Transformasi Bisnis: Kapan?

Masih terkait dengan artikel tempo hari tentang “Web Business: Telat atau Keep Trying”. Jika kita amati komentar-komentarnya, ternyata rata-rata yang menjawab “tidak telat”. Dasar jawabannya bisa jadi optimisme, pikiran positif, atau justru denial (penolakan) secara implisit. Kenapa orang tidak ingin/senang menyadari dirinya dalam posisi yang salah?

Kemarin, saya membaca slide yang inspiratif tentang beberapa perusahaan yang bergerak di bidang Social Recommendation service. Sisi teknologinya tak perlu dibahas dulu. Yang menarik adalah bagaimana salah satu dari perusahaan tersebut memunculkan ide baru untuk dimonetisasi.

Strands.com, mungkin kalah gaungnya dibanding last.fm. Strands.com mirip dengan last.fm dalam hal kemampuannya untuk memberikan rekomendasi musik-musik baru yang sesuai dengan preferensi pendengar. Kita bisa meng-install aplikasinya di smartphone kita untuk meng-enhance experience dalam mendengarkan musik. Aplikasi tersebut bisa memberikan informasi tentang siapa yang juga mendengarkan lagu tersebut, biografi dan diskografi artis serta rekomendasi artis atau musik yang mirip.

Joker: If you are good at something, never do it for free

Ternyata, Strands.com kini menawarkan layanan rekomendasi tersebut secara komersil. Strands tahu mereka punya keahlian khusus dalam membuat rekomendasi yang bisa diaplikasikan dalam berbagai bidang/media. Hasil nyatanya? IHeartMovies.com bisa menambahkan fitur movie recommendation hanya dalam hitungan satu jam.

Mari kita lihat slide-nya untuk mengetahu bahwa satu jam itu bisa dianggap prestasi memukau atau tidak. Bayangkan jika kita harus membuatnya sendiri.

Now it begs me a question. Tidak akan saya tanya kembali tentang telat atau tidak. Tapi akan saya tanya, apakah Anda tidak melewatkan apa yang benar-benar menjadi keahlian Anda dan justru lebih layak Anda jual?

PS: Sumber bacaan di sini.

Web Business: Telat atau Keep Trying?

Web Business: Telat atau Keep Trying?

Membaca bagian awal dari FastCompany‘s 10 Years Greatest Hits membuat saya berada di sebuah persimpangan. Di satu sisi saya merasa saat ini adalah kondisi yang sama dengan tulisan dalam buku itu. Di sisi yang lain saya merasa apa yang sedang saya (dan mungkin) kita lakukan ini adalah sesuatu yang telat. Pun belum telat, mungkin sudah di penghujung jalan buntu.

Model bisnis advertising di web? Mereka (Starwave) ini sudah mengeksploitasi habis-habisan model tersebut. Mereka bahkan punya resource terbaik di bidangnya mulai dari programmer sampai dengan jurnalis dan ahli media. Bahkan ada yang sudah menang Pulitzer. Dan jangan salah, mereka juga sudah memanfaatkan media audio dan video.

Look where we are now? Kita bahkan masih hendak berkutat dengan model iklan. Model bisnis yang  telah berada di penghujung jalan. Starwave is long gone. Google, Microsoft, dan beberapa yang lain mungkin akan menjadi penutup era model iklan di web saat ini.

Kita perlu sesuatu yang baru. Web adalah dunia yang luas. Seperti kebun bunga yang menunggu dipetik dan dipupuk. Menunggu dirawat untuk dipanen. Hanya saja sayangnya asumsi ini salah!

Sepuluh tahun yang lalu Mike Slade, CEO Starwave, mengkonfirmasi bahwa web telah didominasi unit-unit media berdana besar yang bertujuan “menggabungkan”, “melabeli”, dan “mengunci” kompetitor. Kira-kira, hal yang sama masih terjadi saat ini. Hanya saja mungkin bukan unit media yang menguasai Web.

Hal di atas menggugah munculnya pemikiran. Jika kita memang berniat mencapai kesuksesan yang sama, kita mestinya mencari tanah yang gersang. Menemukan (rediscovering) kembali Java, menemukan kembali Flash.

Di saat semua orang berkoar bahwa mereka tidak membutuhkan apapun itu bentuk interaksi baru di Web (yang hendak ditawarkan oleh Java dan Flash). Kedua pionir ini terus berjalan, dan pada akhir hari, ternyata Flash akhirnya tertawa dalam kesuksesan. Dan Java bertahta di bidang high-end business.

Mungkinkah apa yang kita mulai saat ini telah telat? Ataukah kita hanya perlu berevolusi dan bertahan sepuluh tahun lagi untuk menemukan jawabannya?

Yang mana langkahmu?