Browsed by
Tag: Chris Anderson

Macam-Macam Bisnis Model Free

Macam-Macam Bisnis Model Free

Buku Free adalah buku yang provokatif. Buku ini membuka mata atas berbagai bentuk model bisnis yang dilakukan orang. Adalah menakjubkan betapa konsep Free bisa dipakai untuk mencapai profit.

Subsidi Silang Langsung

Model ini adalah model yang paling umum kita jumpai. Kita menjual murah suatu produk dan menutup kerugiannya dengan menjual barang lain dengan harga tinggi.

Di kafe, jual murah makanannya, mahalkan minumannya. Di klub, gratiskan pertunjukan mahalkan konsumsi. Tidak semua orang akan membeli barang yang mahal tersebut. Namun hasil penjualannya bisa dipakai untuk menutupi barang lain yang dijual murah demi menarik konsumen.

Free for ladies tapi tidak gratis untuk pria. Bahkan mungkin tiket masuk bagi pria sudah mencakup tiket yang digratiskan buat the ladies.

Gratis masuk wahana hiburan bagi anak-anak. Tapi tidak untuk orang tua. Yang akhirnya orang tua harus membayar secara tidak langsung tiket anak-anaknya. Plus harga makanan dan minuman, menggratiskan tiket untuk anak tak akan jadi model bisnis yang merugikan.

Prinsip penting dalam subsidi silang langsung adalah persolan persepsi psikologis. Diharapkan konsumen tertarik membeli produk yang (hampir) digratiskan dan kemudian juga membeli produk lain yang mampu memberi profit pada produsen.

Three-Party Market

Model subsidi silang ini sangat dekat dengan keseharian kita. Dalam model ini pihak ketiga berusaha masuk ke dalam pasar pertukaran gratis yang diciptakan pihak pertama dan kedua.

Contohnya adalah blog dengan iklan. Penulis memberikan konten gratis pada pembaca, dan pengiklan harus membayar supaya bisa masuk ke dalam interaksi ini.

Koran tidak menjual berita dan foto. Penerbit majalah dan koran  tidak pernah memasang harga melebihi ongkos membuat, mencetak dan mendistribusikan produknya. Penerbit ini tidak menjual berita dan foto pada pembaca, namun menjual pembaca pada advertiser.

Freemium

Semua pengguna layanan dasar Flickr bisa menikmati layanan tersebut dengan gratis. Ini adalah salah satu contoh freemium dimana semua produk gratis memiliki pasangan produk premium.

Model subsidi ini tampak tak jauh berbeda dengan subsidi silang langsung. Namun sebenarnya ada perbedaan mendasar. Dalam konsep freemium umumnya ada aturan 5 Persen di mana 5 persen pengguna menanggung biaya semua pengguna lain.

Non-Monetary Market (Pasar Tanpa Uang)

Wikipedia adalah salah satu contoh dalam kategori ini. Sepertinya memang tidak ada uang yang terlibat namun itu terjadi karena mata uang tak selalu berbentuk uang. Profit yang bisa diperoleh adalah reputasi, karma, kepuasan pribadi dan lain-lain.

Ekosistem google search, tanpa adsense, adalah pasar tanpa uang. Google tidak meminta kita membayar setiap kali pencarian. Namun Google jadi bisa memperbaiki algoritma pencariannya setiap kali kita memakai Google search. Hal yang sama berlaku untuk voice search, Google jadi lebih pintar mengenali suara.

Musik gratis yang terwujud akibat dorongan ongkos distribusi yang mendekati nol juga bisa dianggap pasar nonmonetary. Pemusik tidak mendapatkan uang langsung dari menjual dan mendistribusikan musik, namun dari merchandise dan konser yang memang mencerminkan value pemusik sebenarnya, sebagai persona. Sementara musik adalah alat untuk branding. Walau tak semua setuju.

Dan masih ada banyak lagi hal menarik yang ada dalam buku Free karangan Chris Anderson. Jika punya kesempatan, tak akan rugi untuk membelinya.

The Rules of FREE

The Rules of FREE

Calliandra

Beberapa hari ini saya selalu berbicara tentang buku baru Chris Anderson, “Free”. Chris Anderson ini adalah penulis buku Long Tail yang juga memukau. Terlalu banyak hal menarik yang bisa menggelitik pikiran kita dalam buku tersebut. Berikut ini saya sadurkan 10 aturan Free yang bisa kita jumpai di bagian Apendix A dalam buku Free.

  1. If it’s digital, soon or later it’s going to be free
  2. Seperti yang kita tahu, ada kecenderungan penurunan biaya penyimpanan, storage, computing power. Free bukan pilihan tapi justru tak terhindarkan.

  3. Atom (non-digital) wants to be free to, but not so pushy about it
  4. Tapi free ini terlalu atraktif sehingga begitu banyak marketer yang ingin menjadikannya sebagai strategi. Pada saat ini banyak produsen yang membuat core productnya free dengan jalan menjual sesuatu yang lain.

  5. You can’t stop free
  6. Kita bisa saja mencegah terjadinya free dengan berbagai macam usaha penguncian atau lewat hukum. Tapi kita tak akan bisa melawan gravitasi ekonomi yang menginginkan free. Tinggal tunggu waktu saja sampai ada orang yang mampu memecahkan kunci atau menghadapi hukum yang ada.

  7. You can make money from free
  8. People will pay to save time. People will pay to lower risk. People will pay for something they love. People will pay for status. For everything else? You can use Visa .. err you can give it Free maksudnya 😀

  9. Redefine your market
  10. Anda bisa menggratiskan ongkos bus ke PRJ, tapi Anda bisa tetap mendapatkan uang lewat profit sharing dengan merchant PRJ. Free akan dan bisa membuat Anda mendefinisikan ulang market yang Anda sasar.

  11. Round Down
  12. Harga akan bergerak ke nol. Datangnya Free bukan soal bagaimana, tapi soal kapan. Kenapa tidak menjadi yang pertama dalam hal Free? Yang pertama akan memenangkan perhatian dan akan selalu ada cara memonetisasi Free.

  13. Soon or later you will compete with Free
  14. Iklim kompetisi lambat laun akan membuat kompetitor Anda men-charge less dari Anda. Berapa tarif data dan voice operator Anda sekarang?

  15. Embraces ways
  16. Jika harga semakin murah dan menjadi terlalu susah diukur maka berhentilah mengukurnya. Produsen yang cerdas akan segera melihat ke mana tren harga mengarah dan segera mendahuluinya.

  17. Free makes other things more valuable
  18. Every abundance makes a new scarcity. Dulu orang suka melihat tivi karena entertainment begitu langka sedangkan waktu tidak. Bertolak belakang dengan saat ini, siapa yang suka menunggu entertainment datang di tivi? Saat suatu hal menjadi Free, value berpindah ke layer yang lain.

  19. Manage for abundance not scarcity
  20. Ketika suatu resource masih langka maka kita harus berhati-hati menggunakannya. Dalam kultur perusahaan kita mengenal budaya top down karena ketidakmampuan membiayai kegagalan akibat mensia-siakan resource. Bagaimana jika resource tersebut berlimpah? Kultur perusahaan mungkin akan berubah dari “don’t screw up” ke “fail fast”

Ada economy of scarcity dan sekarang ini ada economy of free. Mana yang akan Anda terapkan untuk melibas kompetitor?

PS:
Tahukah Anda bahwa buku Free ini bisa dibaca gratis di Scribd dan bisa didownload dalam bentuk audiobook.