Browsed by
Tag: crowd

Summoning The Online Wave

Summoning The Online Wave

online wave

I bet we are all aware on the issues that we have a unique or at least a potential internet users. What’s unique or potential about them is the kind of wave they made when they are really on it. Take #indonesiaunite or #MbahSurip as an example, and then #marshanda. Those issues create a huge wave that even shock us all. It puts Indonesia in a world-visible place, and I haven’t said this was done by no athlete nor professor. It was us the regular joes of the internet.

So who do we do that? I don’t really know. There are magic recipes and spells to summon the wave. But by looking at former case we can deduct some of those recipes and spells.

Nationalism

This is the easy one. Everyone has one or two things about nationalism. It’s a well proven recipe to cast the wave. However, not every piece of nationalism will work as there are too many of it. One trick we know, pick something old from the history book and revive them, you’ll have your wave very soon. Take the border and culture stealing issues as example.

We are all victim of something

We are such a weakling when it comes to emotion shaking stuff. That’s just why reality shows and sinetrons still dominates our telly. We are so weak that we want them so much. Bring this teary moment to the net, voila! Prita case might be the perfect example for this, while Manohara one is a hybrid kind one between nationalism and victimization. We are all victim of something. Expose this well, and it will echo.

Sense of belonging

This has a little to do with nationalism. It’s more into the feeling of owning something collectively. Mbah Surip was very down to earth. It’s nobody to somebody. He’s someone, everyone can claim to be close/tie with. A collective-selected star which belongs to everyone. Whatever such person do, it will be followed by wave. Why, because the whole country is his tribe.

We disagree on many things

When you didn’t elect some persons to be public figures, you know you’ll have “something” about them. And when they slip, we’ll be cheering all the way. It’s a way in expressing disagreement. Marshanda is one case. She was close with mother fairy but who knows she has another story on her youtube? Remember “Say NO to Mega”?

I’m sure there are a lot more. Care to share what’s on your mind? I’d love to hear how to polish non popular stuff into something popular and in the end summoning the online wave.

PS: Indonesian version available here

photograph by Duncan Rawlinson

Your Crowd Sucks, Mine Rocks

Your Crowd Sucks, Mine Rocks

Guardian of The Flock

Sebenarnya ada tidak sih crowd yang sucks atau nge-rock dibanding yang lain? Sebelum kita sampai ke sana, mari kita lihat apa sih yang membedakan suatu crowd dengan crowd yang lain.

  1. Different set of member. Lain ladang lain belalang, begitu kata pepatah. Setiap crowd punya daya tarik sendiri yang membuat orang berdatangan. Hanya orang-orang yang punya kemiripan saja yang akan datang dan menetap dalam crowd.
  2. Different set of culture. Akibat konvensi tertentu, baik secara sadar maupun bawah sadar, yang disepakati oleh anggota crowd maka akan terbentuk suatu kultur tertentu. Karena set anggota tiap crowd berbeda maka kultur yang terbentuk pun akan berbeda.
  3. Different agendas. Setiap crowd pasti terbentuk dengan goal tertentu. Hal ini adalah salah satu yang menarik orang-orang untuk datang. Akibat datang perginya anggota, agenda crowd bisa saja mengalami penyesuaian.

It’s more about you than them. Tapi, apa benar hal-hal di atas menyebabkan crowd bisa menjadi sucks? Kalau kita pikir dalam-dalam mungkin sebenarnya yang ada adalah kita yang tidak bisa atau tidak mau bekerja sama dengan crowd. Maybe it’s just us that sucks, no?

It’s about pulling, not pushing. You can’t force community/crowd. Semakin kuat Anda mendorong, semakin kuat Anda ditolak. Mungkin hal ini yang bisa membuat crowd tampak susah diajak kerjasama. Karena kita tidak menarik crowd untuk bekerja sama akan tetapi memaksa crowd untuk bekerja bagi kita.

Re-evaluating your membership. Pada saat komunitas berubah karena suatu hal, saat itu adalah waktunya anda menentukan apakah Anda akan tetap tinggal atau pergi. Dasar evaluasi tergantung tujuan kali pertama bergabung dalam crowd, dan pengalaman selama menjadi anggota. Apakah crowd masih memberikan value bagi Anda? Apakah Anda masih sanggup menerima bad apples (hal-hal yang tidak Anda inginkan) selama bergabung?

Don’t take everything too personal. Be reasonable.

How The Crowd Works

How The Crowd Works

Crowd Harvesting

Beberapa waktu yang lalu, salah satu ”teman” dalam network saya di FB menuliskan tentang bagaimana nikmatnya mempunyai jejaring dan akses sumber daya (Being Networked and Resourceful). Saya melihat ada sesuatu yang terlewat di sana, yang jika tak disadari bisa menjerumuskan pada misinterpretasi.

Walau berjejaring dan punya akses terhadap sumber daya adalah bisa dikatakan sebagai kondisi yang lebih menguntungkan daripada tanpa jaringan, hal tersebut tidaklah cukup. Jaringan, dalam hal ini akan kita sebut sebagai crowd, bekerja dengan cara yang unik. Ekosistem crowd hanya berfungsi pada anggotanya yang turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan crowd dalam rangka memberikan manfaat pada crowd secara parsial maupun keseluruhan.

Authority, expertise, juga bisa dianggap sebagai manfaat bagi crowd. Hal ini sering membuat orang secara tak sadar mengira bahwa sekedar menjadi bagian dari crowd berarti dia sudah bisa mendapatkan manfaat dari sistem. Walaupun kadang kala sebenarnya orang tersebut teleh memberikan sumbangan terhadap crowd dengan status authority-nya.

Apa iya benar? Saya sama sekali tidak menyumbangkan kode ke pengembangan kernel Linux, tapi saya tetap bisa mendapatkan manfaatnya. Well, hal ini bisa terjadi karena orang lain telah meng-overlap peran yang harus kita lakukan. Telah ada orang lain yang menyumbangkan kode, testing, dan men-submit bug report. Karena itulah sistem tampak sudah bekerja walaupun kita tidak berpartisipasi aktif dan memberikan sumbangan langsung pada sistem.

Salah satu cara memberikan donasi pada crowd dan memperoleh authority adalah dengan jalan berpartisipasi aktif. Seperti berkomentar di blog ini misalnya 😉 Anda memberikan manfaat tambahn konten dan bahkan sudut pandang yang belum ter-cover oleh penulis. Efeknya membuat konten menjadi jauh lebih menarik dan memicu yang lain untuk berinteraksi memberikan kontribusi yang secara keseluruhan juga turut memberikan manfaat pada Anda sendiri.

Bayangkan saja jika hanya sedikit komentar yang ada dalam sebuah artikel, tentunya potensi artikel tersebut tidak akan maksimal. Bayangkan jika semua subscriber digg hanya melihat saja, tanpa pernah melakukan aksi digg dan bury. Atau jika mereka hanya melakukannya sekali saja, tentunya Digg tak akan jadi bermanfaat bagi Anda dan juga subscriber yang lain.

The point is, it’s about balance. Sebelum Anda bisa memanen manfaat dari crowd, Anda harus memberikan kontribusi Anda. Jangan memulai dengan pertanyaan, mulailah dengan memberikan konstribusi sudut pandang atau informasi lain. Semakin banyak kontribusi manfaat yang Anda berikan, crowd akan menjadi semakin berguna bagi Anda sendiri.

Tentu saja, Anda pasti juga punya trik untuk memanen manfaat dari crowd. Apa tips Anda?