Browsed by
Tag: Crowdsourcing

Health Startup: MeetDoctor

Health Startup: MeetDoctor

Dunia kesehatan jarang punya start up. Pertama, mungkin karena pelakunya agak jauh dari hiruk pikuk IT atau bisnis IT. Kedua, orang non IT belum terpikir bagaimana mencari duit dari dokter-dokter yang sudah punya pendapatan tersendiri. Bukannya nambah pendapatan malah cuma nambah kerjaan.

Di luar negeri sih sebenarnya banyak startup di bidang kesehatan. Termasuk salah satunya adalah 23andme.com milik Anne Wojckiki (istri Sergey Brin). 23andme menyediakan layanan analisa DNA, monthly. Bagi saya, ini sudah berskala Google. Very serious. Yang lain masih banyak, seperti yang bisa dilihat di gambar di atas.

Di dalam negeri, saya baru menemukan beberapa saja misalnya: klikdokter.com, tanyadokter.com dan yang baru rilis beberapa waktu lalu yakni MeetDoctor.com. Dari model bisnisnya, sekilas semua masih berbentuk portal dengan tambahan rubrik konsultasi. Tidak ada yang salah, cuma apa memang tidak ada bentuk lain lagi?

Privacy issue

Mungkin membuat startup di bidang kesehatan ini serba beresiko. Setidaknya ada masalah privasi yang harus dilindungi. Sebelum dilindungi, prioritas pertama harusnya diedukasi. Dengan Facebook dan Twitter saja, banyak orang yang tidak paham bahwa semua yang mereka tulis akan terbaca oleh seluruh warga dunia. Beragam fakta dan peristiwa menjadi konsumsi publik. Isu kesehatan tentunya punya dampak tersendiri jika disebar bebas. Mungkin bisa membahayakan kelangsungan hidup seseorang secara tidak langsung. Pekerjaan bisa terancam, pertemanan bisa terganggu. Bukan karena kesehatan itu sendiri namun akibat tak langsung yang terjadi akibat persepsi orang lain yang tak ada relasinya dengan profesionalitas. Some information best kept secret (except with your doctor or psychiatrist, maybe)

Media offline tampaknya sudah paham perihal privasi ini. Setidaknya terbukti dari penyamaran nama dalam rubrik konsultasi. Meetdoctor sendiri mendukung pendaftaran lewat Facebook. Secara teknis akan meningkatkan user-friendliness, tapi di sisi lain jadi pengancam isu privasi. Dilematis karena tanpa nama asli, opini seseorang pun bisa terdistorsi.

Whom to trust

Kenapa user dengan nama “Bocah Ingusan” menjawab pertanyaan konsultasi saya? Apakah jawabannya valid? My life is on the line here. Buat anak kok coba-coba? Yang bener nih bro?. Beberapa kalimat barusan adalah gambaran komentar saudara yang saya minta melihat meetdoctor.com

User generated content, crowdsourcing, bukannya tak beresiko. Untuk memanen hasilnya diperlukan terpenuhinya suatu kuota. Dan ada formula yang harus dipakai untuk membuat kesimpulan, walau berbentuk sekedar rumus rata-rata. Jelas, untuk diskusi atau konsultasi tentang kesehatan juga memerlukan rumus tersendiri. Kita tak langsung menganggap jawaban pertama sebagai jawaban yang benar. Kita harus melihat pengalaman lain dan akhirnya berusaha menarik kesimpulan dengan menambahkan pengalaman kita sendiri. You see, it’s not easy.

Tanpa ada orang yang dipercaya, dikenal dan bisa dibuktikan keahliannya secara sistematis, maka meetdoctor dan juga rubrik konsultasi lain akan berhadapan dengan masalah trust.

What’s in it for the doctors?

Lalu dokternya dapat apa? Bukan hal yang bakal jadi perhatian pemakainya, tapi bakal menentukan kelangsungan hidup startup karena dokter adalah kata kunci dan produk utama di meetdoctor. Mungkin ada fee untuk planned appointment, tapi entah apakah sepadan dengan pendapatan lewat praktik offline 😀

Mungkin pengalaman offline/online ini bisa dibuat seamless. Konsultasi offline bisa dibawa online? Dan konsultasi online bisa dibawa offline? I wonder where the price will settle.

Personalization

Berita saja harus dipersonalisasi untuk menambahkan value. Apalagi dengan situs yang mengambil informasi dari interaksi penggunanya. Meetdoctor is clearly need to work more on it. Saat ini baru tersedia Activity yang mendaftar pertanyaan mana yang mendapatkan interaksi (dijawab oleh dokter atau pengguna lain). Mungkin akan lebih berguna jika diimplementasikan seperti conversation point. Saya cukup yakin tujuan awalnya adalah menvisualisasikan tanya jawab.

Situs-situs jaman dulu biasanya suka menanyakan hobi kita. Seperti hal ini bisa diadopsi oleh meetdoctor untuk memberikan news stream ke dashboard pengguna. Alih-alih mengarahkan user untuk join grup tertentu. Masalahnya bukan soal merepotkan pengguna, tapi informasi yang relevan belum tentu masuk dalam grup yang dikira. Informasi relevan bisa tersebar, mungkin dalam topik OOT sebuah thread konsultasi. Bagaimana pengguna bisa tahu informasi yang terselip semacam ini? Jawabannya satu: semantik.

So?

Cobalah berpartisipasi. Karena gratis, there’s nothing to lose untuk mencari informasi tentang topik kesehatan. Mari kita pantau, akan berevolusi seperti apa meetdoctor.com ini. Semakin niche atau menjadi portal? Karena founder-nya adalah seorang dokter dan ngeh dengan dunia IT, potensi yang terpendam masih besar.

PS:

Satu hal yang mengganggu saya. Ada dropdown kategori di form konsultasi. How the hell should I know which category my question belongs? Akhirnya, banyak tuh yang masuk kategori ADHD :D. My advice: Scrap it! Let the machine do this dirty work.