Browsed by
Tag: culture

Social Ideation, Crowdsourcing Went Profit-Oriented

Social Ideation, Crowdsourcing Went Profit-Oriented

Crowdsourcing tidak muncul saat internet mulai menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Crowdsourcing sudah ada sejak lama dan seringkali tak kita sadari keberadaannya. Proses penentuan juara suatu kontes lewat sms, atau musyawarah untuk mufakat itu juga crowdsourcing.

Internet bak steroid, yang semula prosesnya lambat kini jadi terakselerasi. Semuanya serba efisien. Termasuk crowdsourcing, kini jadi tak terbatas oleh dimensi geografis atau bahasa. Crowdsourcing has went a whole new level. Sedunia!

Dari sekedar menentukan berita terpanas dan terpenting lewat Digg, sampai dengan aktivitas pengembangan produk dan bahkan ide. Ada starbuck’s ideas dan juga KickStarter yang terkenal karena berhasil mendanai Diaspora — bakal pesaing Facebook — sebesar $200K.

Beberapa orang mungkin mengalami eureka moment. Hellooo, this works. Kalau kita bisa jual saham dan kontrak saham, kita juga bisa jual ide. Ide bisa divaluasi. Orang-orang bisa menilai apakah suatu ide bisa meningkatkan kualitas hidup mereka, baik secara langsung atau tidak langsung. Mungkin jika Diaspora sukses, cloud server bakal laris bak kacang goreng. Mungkin.

Oh, people going to love it. 99% kesuksesan ada pada aktivitas pelaksanaan. Lebih banyak orang justru berada pada segmen 1% sisanya. Those with ideas only! Kini orang-orang yang lebih punya ide daripada kesempatan merealisasikannya bisa memonetisasi ide mereka dengan jalan menjadi innovator atau membantu innovator.

Selain KickStarter, ada AHHHA dan juga Quirky. Saya lebih cenderung suka dengan KickStarter dan Quirky walaupun AHHHA menyimpan potensi yang cukup menggiurkan: menguruskan paten.

Terlepas dari manfaat bagi orang-orang yang ingin mendanai ide dan memonetisasi ide, ada efek samping yang menurut saya cukup berbahaya. Kelatahan monetisasi di pelbagai hal ini secara sistematis bisa merusak kultur crowdsourcing yang sebelumnya bersifat non-profit. Akibat persaingan mencari perhatian, user generated content bisa menjadi paid-user generated content. Not that it is totally a bad thing loh ya. Orang juga perlu duit untuk hidup dan meningkatkan kualitas hidup.

Okay, sampai poin ini saya mungkin sudah mirip Andrew Keen di Cult of The Amateur. Lebay. Tapi, memang ada sebersit kekhawatiran akibat hype monetisasi ini. Kalau terpeleset ke jalur yang kurang tepat, internet yang banyak dimotori crowdsourcing bakal stagnan. Semakin hari akan diperlukan insentif yang lebih besar dan riil daripada badge. Mesin ekonomi juga punya batas, apalagi yang harus ditarik dan didorong adalah populasi global netizen.

Bagaimana pendapatmu terhadap fenomena ini? Cukup serius atau kekhawatiran berlebih?

PS:

Saya ganti capitalist dengan profit-oriented, supaya lebih “membumi”.

Kultur Microsoft Terefleksi Lewat Produk yang Dihasilkan

Kultur Microsoft Terefleksi Lewat Produk yang Dihasilkan

Which product would you choose?

Beberapa hari yang lalu, aku baru saja meng-install salah satu penawaran Microsoft terbaru yaitu Microsoft Office 2010. Walaupun statusnya yang masih beta, aplikasi ini sudah terlihat sempurna. Rupanya, di versi ini Microsoft sedikit lebih menaruh fokus terhadap sharing dan kolaborasi.

Salah satu fitur yang dimiliki oleh Word di Office 2010 yang sepertinya memungkinkan kolaborasi adalah Save to SkyDrive. SkyDrive adalah pelayanan Windows Live yang memungkinkan penggunanya untuk menyimpan file di awan. Ini adalah strategi murah untuk Microsoft bersaing dengan fitur kolaborasi Google Docs.

SkyDrive bukanlah satu-satunya penawaran penyimpanan cloud based dari Microsoft. Microsoft Office Live, Live Sync dan Live Mesh memecahkan masalah yang serupa. Empat pelayanan tersebut memungkinkan penggunanya untuk mengakses file yang sudah disimpan di mana saja walaupun dengan teknik yang sedikit berbeda. Tinggal kita sebagai penggunanya memilih apa yang paling tepat untuk metode penggunaan kita.

Yang mana yang harus aku pakai?

Pengguna produk Microsoft memang sudah terbiasa untuk dipaksakan untuk memilih. Microsoft selalu punya berbagai varian dalam penawarannya untuk melayani market yang berbeda. Dari sisi operating system kita akan menemukan berbagai varian dari Windows; Server, Home Server, Media Center, Home, Professional, Enterprise, Ultimate, dsb. Begitu pula dari sisi programming kita akan menemukan berbagai varian untuk metode pengambilan data; ADO.Net, ADO.Net Data Services, Linq to SQL, Entity Framework, dsb. Dan kali ini kesulitan yang sama pun terjadi, rupanya aku bukan satu-satunya yang kebingungan.

Setelah melakukan riset kecil, aku menemukan bahwa It takes another Microsoft Guy to show how to use their technology. Ini rangkumannya:

SkyDrive adalah jasa yang cocok untuk berbagi file yang tidak perlu dirubah lagi dan ternyata bukan untuk kolaborasi secara real time. Bayangkan SkyDrive sebagai cloud based USB stick.

Microsoft Office Live diciptakan spesifik untuk dokumen dan bekerja mirip seperti document management di SharePoint dengan sistem Check In/Check Out. Office Live juga dilengkapi dengan fitur Share Screen di mana penggunanya bisa berbagi real time view (berbasis Live Meeting) dari sesi salah satu editornya. Sayangnya tidak ada fungsi real time collaboration seperti Google Docs.

Live Sync atau dulunya dikenal dengan nama Folder Share memungkinkan penggunanya untuk sync file dengan komputer yang berbeda. Jasa ini cocok dipakai untuk sinkronisasi beberapa komputer yang berbeda.

Live Mesh memiliki semua fungsi yang ditawarkan oleh Live Sync ditambah akses web. Live Mesh tidak hanya mensinkronisasi komputer tapi juga perangkat lain seperti telepon genggam. Yang membuat Live Mesh sangat menarik adalah jasa ini menyimpan file-file kita di cloud sehingga bisa kita dapatkan kapan saja dan dari mana saja melalui websitenya.

Lemak?

Melihat daftar di atas, aku merasa bahwa dalih Microsoft ‘setiap jenis pelayanan diciptakan untuk target market yang spesifik’ tidak dapat dipegang dengan kuat. Kita bisa melihat bahwa segmentasi pasar SkyDrive dan Microsoft Office Live sangat overlap dan seharusnya bisa dikonsolidasi. Begitu juga Live Sync bisa seharusnya ditelan oleh Live Mesh.

Fenomena ini juga terjadi di dunia programming di mana Microsoft berusaha menkonsolidasi Linq To Sql dengan Entity Framework melalui Linq to Entities, dan juga membuat sinergi yang lebih ketat antara SQL Server Modelling (Oslo) dengan Entity Data Model setelah teknologi-teknologi ini keluar.

Conway’s law

Sebagai perusahaan besar, Microsoft memiliki lemak untuk dapat bergerak lincah dan beroperasi se-efisien perusahaan yang lebih kecil. Di kala perusahaan baru bertumbuh, jumlah karyawan biasanya sangat rendah. Deskripsi kerja setiap karyawannya juga seringkali tidak jelas. Situasi ini menuntut dan mengembangkan kultur komunikasi yang aktif dan efisien. Di fase ini, perusahaan beroperasi seperti kelompok organik yang berusaha menuju ke satu tujuan, yaitu untuk berkembang.

Tetapi ketika perusahaan sudah bertumbuh menjadi besar dan terdiri dari berbagai kantor cabang di seluruh penjuru dunia, hal-hal yang tadinya sepele menjadi masalah rumit yang harus dipecahkan. Contohnya, Logistik untuk karyawisata tidak bisa lagi dipecahkan dengan musyawarah nebeng sama yang nyetir. Sang koordinator harus ingat sewa bus.

Masalah yang sama juga terjadi dengan komunikasi antar individu maupun tim. Menjaga komunikasi yang efektif antar regional, kantor, tim dan individu di perusahaan skala besar bukanlah sesuatu yang mudah. Dan bila masalah ini tidak terpecahkan dengan baik, konsumer akan bisa melihat dampaknya di jasa atau produk yang kita berikan.

Seperti kata Melvin Conway di tahun 1968: sistem yang diciptakan oleh sebuah organisasi mencerminkan struktur komunikasi organisasinya.

Ronald Widha, seorang konsultan software yang berspesialisasi dalam teknologi dari Microsoft. Juga bertanggung jawab atas podcast Teknologi Informatika mingguan di TemanMacet.com.

Can Social Media help Brands / Companies in Asia?

Can Social Media help Brands / Companies in Asia?

Asian Culture: Barongsai

Satu artikel tiap hari kecuali hari minggu. Itulah janji NavinoT. Jadi, walau hari ini tanggal merah NavinoT tidak akan libur meninggalkan Anda :). Senin ini NavinoT punya sesuatu yang spesial. Sebuah artikel dari seorang secret guest yang hendak berbagi dengan kita sebuah pertanyaan menggelitik mengenai brand dan social media. Berikut adalah artikel yang ditulisnya, dalam bahasa Inggris. Bagi yang agak kesulitan, bisa langsung lompat ke bagian akhir. Telah diusahakan sebuah benang merah dari tulisan tersebut, dalam bahasa Indonesia. Oke, silahkan disimak dan mari berdiskusi 🙂

Can Social Media help Brands / Companies in Asia?

That’s what has been lingering on my mind lately. Yes. Can social media really be a tool that helps brands connect with people especially in Asia?

A colleague of mine just sent this link to me recently: http://www.refresheverything.com/ when I saw this it really blew my mind. So I thought “Now that’s a GREAT implementation of social media strategy with Pepsi!”. If you don’t believe me, go check it out for yourselves. :p

So here’s the thing…. Most of the time we see this great implementation, it’s always coming from US, Europe (hmmm even Europe is not so…). Basically we will never hear a great social media implementation like that in Asia. Have you guys learn any? Please share.

I guess what I am drawing conclusions is… Asian are very “private” people unlike westerners where views can be said openly without being afraid of being nabbed by authorities as they have freedom of speech. So when you see implementation like what Pepsi did it bounds to be successful. Because westerners like to share views, say what they think, and they say it with sincerity although not all are good but I guess it kind of balance off in a way… I mean whose gonna police a web 2.0 sites anyway? We have shifted that power to the community to police itself right? But off course that is in general sense. And unlike Westerners, Asian tends to stand back, observe, and contribute when they think it’s necessary to comment.

So the question is really: Is Brand / Companies in Asia brave enough to adopt social media? Because once they do it, would people really be “engaged” and contribute to it? And once they go to new media, they are susceptible to critics and praises at the same time. But are they open enough to be criticised in public?

And to share further some successful implementation: http://communityserver.com/showcases/

Ok, let’s get the discussion started 😉

Bisakah social media membantu brand atau perusahaan di Asia? Mengingat sifat orang Asia yang umumnya cenderung menjaga privasi (tertutup), lebih suka mengamati dari jauh dan hanya akan berpartisipasi jika mereka pikir waktunya telah tepat. Hal ini berbeda dengan orang Barat yang lebih blak-blakan mengutarakan pendapat baik atau buruk yang sebenarnya saling menyeimbangkan. Dengan wacana tersebut, bagaimana peluang media bisa membantu brand/perusahaan? Apakah orang-orang akan segera “engage” (nyambung dan aktif)? Pun iya,apakah brand/perusahaan telah siap dipuji dan dikritik di ruang publik?
Hayo, berapa banyak dari kita yang masih menunggu untuk sekedar menulis komen? Seberapa banyak perusahaan yang sudah merespon pujian atau makian Anda di social media? Mari kita lanjutkan di kotak komentar 🙂