Browsed by
Tag: Database Of Intention

Collaborated Post: Internet As A Database Of Intention

Collaborated Post: Internet As A Database Of Intention

Artikel ini adalah sebuah collaborated post antara Navinot, Fikri Rasyid dan Pandu Truhandito. Di sini kami akan membahas mengenai sebuah persepsi unik dalam melihat web, yakni sebagai sebuah database dari kumpulan niat / keinginan / kemauan (selanjutnya akan kami sebut “database of intention”)

Introduction

John Battele adalah pengarang buku “The Search: How Google and Its Rivals Rewrote the Rules of Business and Transformed Our Culture”. Pada 2003, dia mendefinisikan sesuatu yang disebut sebagai “database of intention”. Idenya seperti ini:

Ketika kita mencari sesuatu di search engine, kita mengekspresikan sebuah keinginan dan menuliskannya ke dalam kolom search yang tersedia dengan harapan hasil yang diberikan akan cocok seperti keinginan kita. Dan semua search engine mengkoleksi kata-kata yang kita masukkan tersebut. Dan kalau begitu, berarti search engine memiliki database of intention!

Kira-kira seminggu yang lalu, John meredefinisikan ulang “database of intention”. Dia merasa bahwa, sekarang ini, database of intention tidak hanya dikumpulkan melalui search engine saja. Tetapi juga melalui beberapa web media yang lainnya di mana kita bisa mengekspresikan keinginan / niat kita. Diagram ini merangkum media-media tersebut (klik untuk versi gambar lebih besar):

Dan semua media tersebut dipakai oleh (let’s assume) semua pengguna internet! Jadi bisa dikatakan bahwa the web, secara keseluruhan, adalah sebuah database of intention dari semua netizen!

Jadi, di search engine, mungkin kita mengekspresikan “what I want”. Tetapi di social media seperti twitter dan facebook, kita mengekspresikan “what I’m doing” dan “what’s happening” melalui status update. Dan semuanya itu: “what I want, who I am, who I know, what I’m doing, what’s happening, where I am” adalah bagian dari “database of intention” yang merupakan sebuah koleksi keinginan, kemauan, niat semua pengguna internet.

Sekarang kami bertiga akan mencoba menjawab 2 hal berikut dari persepsi kami masing-masing:

  1. Apakah web = database of intention?
  2. Kalau tidak, apakah yang salah dengan definisi tersebut? Kalau ya, bagaimana database of intention ini bisa membantu orang awam dan / atau juga para pelaku bisnis?

Fikri Rasyid

Web = database of intention? Web bahkan merupakan manifestasi upaya pemenuhan intention. Pada dasarnya, semua tindakan merupakan manifestasi dari upaya pemenuhan tujuan / pemenuhan hasrat. Makan dilakukan agar tidak lapar. Olahraga dilakukan agar tubuh tetap bugar atau memang hobi.

Setiap halaman web yang dipublikasikan merupakan manifestasi atas apa yang pemilik halaman tersebut ingin orang lain ketahui mengenai diri/organisasinya. Setiap tweet yang di publish merupakan manifestasi atas apa yang dianggap oleh pemilik akun tersebut penting (untuknya atau untuk audiencenya). Setiap kata kunci yang diketik dan di-googling melalui google merupakan manifestasi atas keingintahuan sang pencari atas kata kunci tersebut. Following dan friend relationship merupakan manifestasi keinginan kita untuk keep in touch dengan seseorang. Geo location merupakan manifestasi atas keinginan manusia untuk membuat semua informasi menjadi lebih relevan karena kedekatan turut menentukan penting-tidaknya suatu informasi.

Semua hal merupakan manifestasi akan pemenuhan suatu kebutuhan, keinginan atau tujuan. Andaikan semua manifestasi berbentuk informasi digital tadi disatukan, lalu dipilah-pilah berdasarkan frekuensi kemunculan, ‘kekuatan’ narasumber berdasarkan algoritma pagerank atau social integrity yang dihitung melalui jumlah follower dan ‘dipetakan’ berdasarkan wilayah geografis, maka voila! I guess you’ll know what world wants, the world’s intention — meskipun jika dibilang world’s intention secara keseluruhan juga kurang tepat, karena belum semua penghuni bumi merupakan pengguna internet.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana memanfaatkan web yang merupakan ‘cuplikan’ database of intention ini? Upaya pemanfaatan database of intention ini pastinya tidak akan pernah ‘saklek’ karena kedinamisan web itu sendiri. Beberapa tahun lalu, satu-satunya ‘database of intention’ yang terbayang mungkin hanya kata kunci pencarian yang ‘dihimpun’ google. Sekarang, tweet bisa ‘diterjemahkan’ sebagai intention juga. Satu-satunya cara untuk memanfaatkan database of intention ini hanyalah dengan melihat tujuan yang ingin dicapai dan kondisi terkini web (aplikasi / API apa yang dapat dieksplorasi), lalu dicari pemecahan kontekstualnya.

Twitter saat ini bisa dilirik sebagai solusi pemenuhan ‘intention’ akan keinginan konsumen akan Real Time Customer Service yang lebih nyaman untuk dijangkau para tweeple (lihat bagaimana @blitzmegaplex melakukannya). Dalam kasus berbeda Gary Vaynerchuk menangkap ‘intention’ akan videopodcast yang saat itu belum ‘terendus’ siapa-siapa dan menggunakannya sebagai media untuk meningkatkan bisnis wine-nya.


Pandu Truhandito

Ya, menurut saya web bisa dibilang sebuah database of intention

Sebagai seorang web analyst, saya sangat senang dengan artikel ini yang menyadarkan kita bahwa web = database of intention. Data, data, data; ada banyak sekali data yang dikumpulkan melalui web. Sekarang tinggal bagaimana menggunakannya.

Salah satu cara para pelaku bisnis dapat memanfaatkan database ini adalah dengan meneliti data dengan peringkat tertinggi. Data yang mengandung intention membuat mereka bisa menggali ke dalamnya dan mulai bertanya “mengapa”: “Mengapa kata ini menjadi populer?” “Mengapa keyword ini yang paling banyak dicari?”

Sebagai contoh, saya ambil tipe database of intention “what is happening” dari Twitter. Pada saat saya menulis ini, kata terpopuler untuk harian dan mingguan adalah “Justin Bieber”. Dan yang keren di sini adalah, kita bisa mulai mencari tahu lebih jauh alasan di balik kepopuleran nama tersebut. Apakah karena dia melakukan skandal? Ataukah karena dia memiliki fitur fisik yang sangat menarik? Atau mungkin karena dia adalah seorang artis youtube?

Ketenaran di Twitter ini tentunya sangat menguntungkan Justin (free publicity!). Pelaku usaha industry music tentu ingin artis-artisnya juga bisa mendapatkan ketenaran yang serupa. Sekarang mereka bisa meneliti mengapa Justin bisa menjadi populer dari data “what is happening”, mempelajari datanya dan kemudian mencoba menerapkan strategi yang sama bagusnya bagi artis-artis mereka.

Contohnya lagi adalah kata “march madness” yang menjadi keyword popular di google.com pada saat saya menulis ini. Seorang pengusaha bisa melakukan riset sosiologi dimana dia bisa mencari tahu mengapa keyword tersebut menjadi populer: apa yang dipikirkan para pengguna google.com ketika mereka memasukan keyword tersebut, apakah arti keyword tersebut dan demografis orang-orang yang memasukkan kata kunci itu. Riset tersebut kemudian bisa diterapkan sebagai strategi pemasaran di masa yang akan dating.

Jadi, dengan adanya kumpulan data ber-intention tersebut, kita semua bisa meneliti lebih jauh alasan di balik kepopuleran sebuah hal. Alasan-alasan tersebut kemudian bisa kita formulasikan sebagai sebuah strategi yang bisa diterapkan untuk mempopulerkan usaha kita sendiri nantinya.


Toni

What’s right and wrong?

Kalau dikatakan internet equal dengan database of intention jelas kurang tepat. Tidak semua konten yang diproduksi oleh netizen adalah perwakilan intention. There’s a lot of sharing, and a part of it are intentions.

Tentang intention sendiri, tidak semua intention dibagi secara publik. Sebagian besar justru ditelan oleh walled garden institution seperti Google, Amazon, e-Bay, dan lain-lain. Mereka menyediakan fitur search dan mengumpulkan data niatan (konsumsi) banyak orang.

Intention tergali dari berbagai bentuk query oleh aplikasi terhadap pengguna. Aplikasi universal search menggali hampir semua bentuk keinginan. Sedang yang vertikal lebih menggali niatan pada topik tertentu.

Facebook, Twitter, dll tidak termasuk sebagai database of intention murni karena mereka ini hanya menampung overflow dan kebetulan sebagian dari konten itu adalah intention.

Situs seperti Yahoo! Answer, ExpertExchange, StackOverflow menjadi pengumpul intention. Walaupun niatan tidak bisa diturunkan secara langsung. Setiap pertanyaan adalah perwakilan dari permasalahan yang timbul dalam proses pencapaian suatu tujuan. Tujuan adalah ujung akhir dari sebuah niatan.

Sebuah pertanyaan “bagaimana cara offload SSL pada F5” bisa berujung pada keputusan pengadaan F5. Dari awal si pemilik pertanyaan memang telah punya niat untuk membeli F5. Paling tidak, satu dari beberapa niatan.

Dari sini kita bisa menarik kesimpulan dini bahwa database of intention sebagian besar bisa tergali dari pertanyaan atau keingintahuan. Sementara sisanya diturunkan lewat sejumlah interpretasi dari data mentah yang ada. Playlist (entah lokal atau yang tersimpan di Netflix dan last.fm) misalnya, bisa diinterpretasikan sebagai “what I want to buy” dan tidak hanya “what I want to play”

Intention hanyalah snapshot dari sebagian data internet yang keseluruhannya mencakup the past, present, and a glimpse of the future.

How can it help?

Database of intention bisa membantu orang lain saat hasil aggregasinya (wisdom of crowd) dibagi ke orang lain. Entah secara implisit atau eksplisit. secara implisit hasil akhirnya bisa digunakan untuk memperbaiki algoritma dalam suatu mesin pencari. Secara eksplisit, bisa dimunculkan dalam bentuk rekomendasi atau related info ke pengguna.

Proses seperti ini tentunya menjadi domain data mining. Interpretasi dari input tak selalu bisa straight forward. Ada berbagai macam analisa, cross check dan mungkin proses perelasian dengan sumber data lain sebelum hasil akhirnya bisa punya efek langsung ke konsumen.

Bagaimana database of intention bisa membantu orang awam dan bisnis? Paragraf sebelumnya sudah menjelaskan bagaimana database ini bisa dipakai untuk memberikan rekomendasi kepada netizen. Sedang bagi kelompok bisnis, database of intention bisa dipakai sebagai sinyal untuk memproyeksi produksi di masa depan atau bahan mentah untuk riset produk unggulan.


Demikianlah ulasan dari kami bertiga akan topik kali ini dan sekarang giliran anda. Apakah anda menyukai artikel kolaborasi ini? Bagaimana jika kami membuatnya lagi di kemudian hari? Apakah anda ada masukan untuk kami bertiga?

Apakah anda setuju bahwa web = database of intention? Manfaat apa yang kita semua bisa petik dari kenyataan tersebut? Kami tunggu komentar anda di bawah.