Browsed by
Tag: e-commerce

Marketplace Chicken and Egg Problem

Marketplace Chicken and Egg Problem

Eggs of a Quail (Coturnix sp.), in comparison ...
Eggs of a Quail (Coturnix sp.), in comparison to a chicken’s egg. (Photo credit: Wikipedia)

Ini materi tahun 2012 sebenarnya tapi tetap ingin ditulis supaya tak terbuang percuma. Rumus umum tapi seringkali terlupa karena gegap gempita peluncuran produk atau panik tiba-tiba karena kemunculan kompetitor. Saya sebut chicken and egg problem karena memang tidak ada titik pasti di mana kita harus memulai. You can start anywhere but make sure to iterate.

It got to be purple!

Yes, no brainer lah ya kalau mau jualan apapun memang harus punya produk keren dulu. Tapi masalahnya kan kita belum tahu siapa sebenarnya konsumen kita. Apakah yang mirip dengan kita, teman kita, atau teman dari teman kita? Yang memulai dari titik ini biasanya memulai dengan produk yang ia sukai. Belum tentu keren bagi orang lain tapi ya we need to start somewhere.

Know your customer!

Masih ingat fish where the fish are? Tentu saja jika ingin mendapatkan ikan harus memancing di tempat yang ada ikannya. Barang yang kita jual boleh saja keren dan harganya miring, tapi kalau tidak ada yang tahu atau yang tahu justru yang tidak minat dengan barang tersebut ya wassalam. “Ikan” bisa dicari di Facebook, Google atau tempat lain yang menawarkan iklan berbasis segmentasi. Tapi hati-hati, jangan gegabah, karena sekali ikan gagal dipancing maka akan sulit untuk didatangkan lagi. Ikan sekarang pintar-pintar.

Measure and iterate!

Tetaplah bereksperimen untuk mendapatkan kombinasi terbaik dari barang dan segmen konsumen. Your goal is not to serve your ideal. Your goal is profit. Kalau harus pivot, ya lakukan pivot. Tapi jangan asal. Ukur dan ulang ukur. Pastikan kita paham kenapa kita ambil sebuah langkah dan bagaimana mengukur kesuksesannya.

Nah, itu rumus umumnya. Sekarang mari dibahas apa yang kira-kira dicari penjual dan pembeli.

Penjual mencari pembeli

Oh ya jelas ini. Tapi yang biasanya masih mencari adalah yang tak punya banyak pembeli. Yang sudah punya merek biasanya tak ngoyo karena pembeli sudah tahu di mana mencari mereka. Pain point merchant yang bergabung di marketplace adalah kurang pembeli. Ngapain saya pajang barang di situ kalau gak ada yang beli? Jadi ya pastikan marketplace yang dibuka banyak selalu banyak pembelinya. Ingat, pembeli ya, bukan visitor.

Pembeli mencari pembanding

Menyediakan yang dicari tidaklah cukup. Pembeli menunggu sampai merasa mantap (atau impulsif) untuk membeli. Karenanya, jangan lupa sediakan pembanding berupa variasi piihan atau spesifikasi yang lebih informatif. Jika hal ini tak berhasil membuahkan konversi, mungkin kita harus cek harga. Kalau mahal ya jangan berharap banyak yang beli. Rumus gampang-gampang susah. Tapi jual murah tak berarti harus rugi. Ingat FREE.

Last but not least, jika Anda akan menendang 2013 dengan sebuah startup baru, jangan lupa baca artikel pedas ini. Selamat tahun baru 2013!
Why Engagement Matters in Most Digital Commerce

Why Engagement Matters in Most Digital Commerce

Tulisan menarik dari GetElastic, penyedia platform e-commerce Elastic Path. Platformnya mahal dan memang disarankan untuk pakai jika revenue sudah sampai sekian ribu dolar. Okelah memang serius banget softwarenya.

Back to article. Dari judul sih rada-rada jelas rada-rada ngeblur. Kenapa pertunangan menjadi penting dalam dunia e-commerce? LOL. Kenapa ya poin interaksi penting dalam jual beli online? Kenapa harus ditambah basa basi? Tujuannya sales kan? The sooner the better. Lebih ciamik lagi kalau bisa dapat returning customer.

Dari diagram yang di contohkan, kegiatan jual belinya itu ditaruh di belakang. Hampir sepertiga akhir. Lalu yang bagian depan sepertinya bakar-bakar uang entah untuk apa. Promosi, iklan, likes, download freemium, dll. Apa ya poinnya? Mengenalkan produk? Pasti dong, logical effect. But what is the intention?

Setelah saya ulang membaca, akhirnya ada sedikit titik terang. Because you can’t always sell. Oww, no way. I’m a great salesman. Pssh, ini bukan jualan iklan. Kecuali kita sudah sebesar Amazon, dengan long tail yang panjang dan menggurita, tidak setiap saat terjadi sales. Tidak semua barang cocok dengan keinginan konsumen. Lebih sering lagi tidak cocok dengan tanggal gajiannya. So? Jadi kalau semua kegiatan promo bla bla bla itu langsung kita paksakan untuk menjadi kegiatan jual beli, it means we are pretty much stupid 😀

Our best bet is to let user use our site longer, visit it more often to extend our sales pitch window. They’ll buy only when they feel like buying. Ada orang yang harus muter mangga dua dan ratu plaza dua kali sebelum akhirnya nyaman membeli. Kecuali Anda jualan Ferarri, Anda bisa hiraukan tipe konsumen seperti itu.

Jadi, kalau customer belum mau beli sekarang ya gak papa. Besok dia datang lagi kok. Bisa ditanyai lagi mau beli atau tidak. Seterusnya seperti itu. Dalam case Zynga, mereka mendapatkan kesempatan 3-7 menit sekali sesi untuk melakukan sales pitch. Dan dalam sehari bisa terjadi 7-11 sesi permainan. Panen, ngecek teman, obsesi whohoo, dll. Sehari mereka dapat window sales 77 menit. Dan itu customer yang meminta sales pitch.

Satu lagi yang penting sekali dalam artikel itu adalah tentang cara menempatkan sisi komersil produk kita. Value propotitionnya harus align dengan engagement dan fungsinya adalah meng-enhance. Suka tanam-tanam? Mau tanaman yang keren? Ini aku jual murah loh. Lagi keburu pengen panen? Bisa loh pakai potion ini. The experience is pretty much the same but way much better jika sales pitch kita diterima.

So, so, so? Selanjutnya terserah Anda. Jangan buang-buang duit marketing ya :p *digaplok*

PS:

Ini tulisan pertama NavinoT yang diketik dari Tokyo. Won’t be the last. Merry Christmas buat yang merayakan.

No Need To Go Global. Global Goes Local.

No Need To Go Global. Global Goes Local.

Orientasi kita sejak dulu adalah ekspor, ekspor, ekspor. Jika kita melakukan impor berarti ada yang salah dengan kebijakan dan keadaan ekonomi dalam negeri. Hal serupa juga terjadi dalam konteks online. Umumnya pengusaha online selalu menarget pasar luar negeri. Tak salah juga karena pasar lokal ternyata masih belum siap, terukur dari besar pasar dan kemampuan mengakses produk. Baru-baru ini saja kita mulai bisa menikmati kondisi pasar yang kondusif bagi pengusaha online.

Where Are We?

Saat ini kondisi kita sama-sama well-informed dengan teman-teman di luar Indonesia. Blog dan Twitter menjadi alat pertukaran informasi dan berkecepatan tinggi yang sangat efektif. Begitu efektifnya sehingga kita khawatir jika tidak bisa mengakses kanal informasi ini. We are afraid to miss the trending topic when the earth stop spinning :D.

Akibat keberadaan kanal ini kondisi kita menjadi sejajar. Tidak dalam semua hal namun dalam hal akses informasi yang bisa dipakai untuk menentukan langkah atau membentuk ide usaha baru. Perusahaan perintis baru di luar bisa segera kita intip dan kita salin konsepnya. Kemudian dibawa ke kancah lokal, diadaptasi dan dijalankan dengan nilai-nilai yang relevan dengan Indonesia. Tidak semua bekerja sesuai harapan tapi setidaknya kita punya bahan untuk trial dan error di pasar lokal.

No Need To Go Global

Tak perlu lagi menarget pasar di luar negeri. Bahkan untuk urusan e-commerce pun pasar dalam negeri sudah mulai menunjukkan potensinya. Seiring dengan bertumbuhnya pemain-pemain lokal, menurunnya harga akses dan alat akses baik mobile maupun stationary, masuknya Facebook dan Twitter ke kanal mainstream dalam negeri, pasar-pasar pun mulai terbuka.

It’s big and about to get bigger! Tak percaya? Tanya SaGad.

How Many Copies Is Enough?

Berapa banyak pemain e-commerce di dalam negeri? Banyak. Tidak sangat “banyak” tapi cukup mengagumkan “banyak”. Dan yang cukup mengherankan adalah semuanya running, dengan niche-nya masing-masing. Beberapa tahun lalu, kita mungkin sempat mencibir ke layanan tiruan frenster. Hanya meniru. Kini sudah banyak tiruan dari pelbagai macam hal. Kita tak sering mencibir lagi. Copying is not (so) humiliating. Kita mulai menghargai usaha dibaliknya. Pasar kita begitu besar, satu salinan belumlah cukup. Keep duplicating!

Beware Of The Global Player

Terbukanya pasar dan munculnya pemain-pemain lokal tak pelak menjadi indikator bagi orang-orang di luar Indonesia tentang potensi yang ada di sini. Indonesia, India dan China sudah terkenal dengna sumber tenaga murah. Kemarin mereka melakukan outsource ke lokal. Kini, membuka kantor baru tampak lebih ekonomis dan menjanjikan. Bangun saja pabrik di tengah-tengah konsumen. Hemat, murah, profit!

Dengan mengetahui kelemahan pemain lokal di bidang pendanaan dan pengalaman, pemain luar membawa tongkat yang lebih besar (bigger stick) untuk masuk ke dalam negeri. Dana yang cukup, model bisnis yang teruji dan partner lokal menjadi killer combo.

Jadi, pindahkan pantat Anda lebih cepat! “Belanda” sudah datang.

Beberapa Skenario Transaksi Online

Beberapa Skenario Transaksi Online

Seseorang membeli sesuatu lewat Internet. Anggap saja transaksi primitif tanpa penengah, tanpa marketplace. Secara normal, setelah transaksi disetujui, pembayaran dilakukan, pesanan dikirim, pesanan diterima, maka transaksi boleh dinyatakan sukses.

Dalam prakteknya, bisa terjadi beberapa skenario, yang boleh dianggap sebagai penipuan atau celah dari proses yang telah ada.

Read More Read More

Indonesia Fashion Market

Indonesia Fashion Market

Saya akan mengulang kembali pernyataan ini. E-commerce memang sedang booming di Indonesia. Banyak pemain besar dan kecil dan belum termasuk lapak Facebook yang menjadi komponen ekosistem e-commerce Indonesia. Kalau kita melihat televisi dan portal berita, pemain-pemain ini jarang mendapatkan sorotan karena memang tak selalu melakukan langkah gebrakan. Tapi mereka ada dan berjalan diam-diam.

Berikut ini adalah beberapa bentuk pasar fashion di Indonesia yang didirikan oleh para pemain di atas

Online Shop

Beberapa memulai dari Facebook karena telah mempunyai modal jaringan teman yang sekaligus berperan menjadi calon konsumen. Album foto dijadikan etalase dan sekaligus forum untuk berinteraksi mengenai produk yang dijual. Ada juga yang punya modal lebih sehingga memilih untuk membuat situs khusus sebagai etalase.

Proses jual beli yang sebelumnya sudah diawalai dengan kegiatan pertemanan membuat transaksi relatif mudah terjadi. Trust yang menjadi salah satu kendala utama untuk transaksi e-commerce sudah tercicil lewat pertemanan. Yang sebelumnya hanya maya kini terasa lebih nyata karena kita percaya ada orang di belakang etalase, dan kita bisa tahu seluk beluknya lewat akun Facebook yang dimiliki.

Exclusive/Private Sale

Banyak juga yang menilai online shop yang terbuka itu kurang menarik karena harga murah kadang bukan segalanya. Beberapa orang yang percaya hal ini kemudian mengimplementasikan model eksklusif untuk menarik pembeli. Tentu saja supaya lebih memikat, produk fashion yang dijualpun dipilih yang sudah ternama.

Beberapa contohnya adalah Reebonz, Haute Look, Vente Privee dan yang baru-baru ini muncul di indonesia: FashionPrivate (daftar di sini). Situs-situs ini membuat pelanggan seolah menjadi anggota eksklusif dengan sistem keanggotaan yang (biasanya) invitation only. Dan dengan membatasi jumlah barang yang dijual, pembeli semakin menggila untuk mendapatkan produk yang ditawarkan. Emosi yang dieksploitasi masih sama: kapan lagi bisa dapat diskon segini, barang terkenal pula?

Reebonz yang berbasis di Singapore tak banyak bergaung di Indonesia. Mempertimbangkan perilaku konsumen lokal yang diklaim punya perilaku berbeda dengan konsumen luar yang sudah fasih dengan e-commerce, apakah FashionPrivate bisa mendapat nasib berbeda? Mampukah diskon up-to 80% yang tercantum di press-release-nya menjadi kunci sukses?

Mixed Model

Yang masuk dalam kategori ini adalah Wolipop. Berasal dari Detik.com yang sudah masyur dengan revenue iklannya, Wolipop pun tak mengambil model online shop atau private club. Model yang diterapkan justru lebih ke arah portal fashion di mana pengunjung bisa memantau informasi tentang fashion luar negeri dan dalam negeri. Untuk bagian dalam negeri ada twist penghadiran ikon trendy masa kini: Farah Quinn. Dipadu dengan fitur mix and match untuk bermain bongkar pasang produk fashion, Wolipop telah membuat langkah yang tidak seperti Detik yang biasanya. Revenue diambil dari iklan dan bisa juga berasal dari rev share penjualan oleh partner penyedia produk fashion.

Mana menurutmu yang akan berhasil dan kenapa? Yang bagus sepertinya mengambil model Facebook tapi dalam skala besar. Namun itu berarti seseorang harus punya modal social network. Wolipop, dalam hal ini bisa dianggap smart karena bermodal dari apa yang telah berfungsi secara ekselen bagi mereka.

PS:

Lain cerita kalau di Jepang, fashion bukan monopoli manusia saja. Boneka juga punya industri fashion sendiri. Way more advanced than Barbies. Coba saja search (super) dolfie. Beware of NSFW content ya 😉

Tahun E-Commerce Juga?

Tahun E-Commerce Juga?

Topik payment gateway di FreSh semalam di IDS benar-benar menggugah. Membuka mata bahwa ada sekian banyak payment gateway yang tersedia dan siap dipakai oleh siapa saja, termasuk startup.

Telco Is In The Haus

Dari sekian banyak payment gateway, sebagian besar diinisiasi oleh Telco. Make sense karena berurusan dengan Bank bukan perkara mudah. Anda harus unjuk gigi supaya bisa punya bargaining power. Plus kita harus punya cukup resource untuk mengurusi perkara legal, pe rsyaratan integrasi dan juga urusan teknis. Untuk ukuran startup yang masih bermasalah dalam hal finansial hal ini susah untuk dipenuhi.

Munculnya pemain dari Telco seperti jadi blessing buat kita semua. Secara finansial, Telco pastinya lebih punya kemampuan untuk membuat payment gateway. Begitu juga untuk urusan bargaining power. Bank yang mungkin sebelumnya masih agak ogah-ogahan untuk terjun ke dalam urusan  payment gateway akan termotivasi. Dan dengan adanya kasus yang riil, policy dari BI juga akan turut terevisi. Yang belum terakomodasi akan segera dibuat dan yang belum bulletproof akan disempurnakan.

It’s All About Wallet, and Phone Number

Pulsa memang tidak diperbolehkan untuk dipakai sebagai alat jual beli, kecuali untuk layanan lain dalam satu kerangka besar produk. Oleh karena itu model e-wallet menjadi pilihan penyelenggara payment-gateway ini. Pengguna diwajibkan mengisi e-wallet-nya dengan transfer antar rekening atau cara lain. Satu di antara beberapa penyelenggara payment gateway ini ada yang memakai sejenis virtual account sehingga sewaktu mendaftar kita akan memperoleh nomer yang bisa kita jadikan rekening tujuan transfer di bank.

Sementara itu, cara transaksinya hampir seragam. Nomer hape dijadikan nomer ‘rekening’ sekaligus juga sarana klarifikasi transaksi. Apa bedanya dengan mobile banking? Bedanya adalah kita bertransaksi dengan merchant langsung, bukan transfer antar rekening. Dan levelnya juga bisa mikro. Transaksi terkecil dibatasi oleh ongkos pengiriman notifikasi. Ini adalah variasi dari satu product payment gateway.

Who Can Use It?

CMIIW, berbagai model payment-gateway ini tidak ada yang mirip Paypal. Terutama yang memudahkan siapa saja untuk mendaftar dan melakukan transaksi antar pengguna. Sejauh yang bisa saya tangkap, payment gateway ini hanya menfasilitasi Business to Consumer. Jadi Anda tidak bisa memakainya untuk membayar ongkos desainer  memperbaiki CSS atau membuat logo. Dan Anda kemungkinan besar juga tidak bisa mencairkan kembali dana dari e-wallet Anda. Beberapa kekurangan ini kemungkinan besar muncul dalam rangka mengakomodasi tuntutan keamanan dan kemudahan pemrosesan.

Dari segi merchant juga tak banyak berbeda. Tanpa nama yang agak besar rasanya akan sulit untuk mendatangi salah satu penyedia kemudian meminta integrasi dengan payment gateway. Ini salah satu kelemahannya.Tiap registrasi masih memerlukan campur tangan yang cukup banyak dari pihak penyedia payment gateway. Prosesnya tidak bisa instan dan terotomatisasi. Lagi-lagi isu keamanan transaksi yang jadi pikiran utama.

In the end of this tunnel, a beautiful rainbow awaits us

Semoga saja isu-isu ini hanya bersifat sementara. Seiring dengan waktu, implementasi dan infrastruktur payment gateway akan menjadi semakin baik. Pihak bank selaku institusi keuangan, pihak pemerintah selaku regulator dan juga kultur konsumen akan semakin siap. The good news is that we don’t need to spend much. The big guys akan saling menekan dan mendorong terwujudnya ekosistem e-commerce. Modal konsumen hanya say yes pada e-commerce dan payment gateway, serta membentuk opini publik. Pihak merchant juga tak peru bersusah payah. The big guys will come after you. Mereka akan mengetuk pintu dan mempersilahkan Anda untuk bergabung. Di sinilah peran merchant untuk bersuara dan turut mendorong ekosistem e-commerce yang lebih kondusif dan implementasi payment gateway yang applicable.

So, tahun ini juga bakal jadi tahun e-commerce Indonesia?

Do We Really Want Micropayment?

Do We Really Want Micropayment?

Wikipedia[0] mendefinisikan micropayment sebagai transaksi finansial yang melibatkan sejumlah kecil uang. Paypal mendefinisikan micropayment sebagai transaksi yang bernilai kurang dari 12 USD. Dalam konteks Indonesia, micropayment berarti kesempatan untuk berusaha tanpa terdominasi oleh pemain besar saja.

Kenapa kita menginginkan micropayment?

Lower price is better, for many

Dari sekian banyak Facebooker, seberapa banyak yang mampu bertransaksi di internet? Jika dikembangkan lebih luas dengan cakupan pengguna internet secara umum, berapa banyak yang mampu? Terlepas dari e-book, harga barang yang dijual langsung di internet relatif masih cukup mahal untuk pengguna umum internet. Seberapa banyak dari kita yang mampu berlangganan Flickr Pro? Dalam perhitungan biaya mungkin kita mampu, namun dalam daftar prioritas akhirnya Flickr Pro akan diletakkan di urutan terakhir. Apa jadinya jika Flickr Pro jadi $5 setahun? Harga yang lebih murah membuka akan peluang baru.

Bigger Market

Tak semua barang dan jasa patut dibandrol dengan harga mahal. Beberapa barang dan jasa bisa jadi punya ongkos produksi yang kecil. Jika menjual dalam volume besar tidak masuk akal dalam rangka memudahkan pembayaran, maka terpaksa harga juga harus dibuat micro. e-book dan musik bisa dijual dalam harga micro. Mungkin kita bisa menjual artikel blog, atau komik strip dalam harga mikro tanpa harus membebani pembaca dengan biaya langganan tahunan yang besar. Lebih banyak variasi harga yang bisa dipakai berarti makin besar pula jenis dan cara menjual produk. Lebih banyak pilihan produk lebih banyak customer yang bisa disasar. Artinya pasar yang lebih besar juga.


Kira-kira ada tidak yang salah dengan micropayment? Kenapa kira-kira sampai sekarang micropayment belum juga take off, bahkan dalam konteks internasional?

Penny Gap

Bukan soal ketiadaan payment gateway tapi ada persoalan psikologi juga. Umumnya kita tak suka (terlalu) banyak pikiran. Oleh karena itu kita suka dengan diskon karena kalau pun rugi kita tak akan rugi terlalu banyak seperti saat membeli dengan harga asli. Kita juga suka dengan barang gratis karena nothing to lose.

Ada yang disebut dengan “mental transaction costs” dengan gejala “malas berpikir” seperti yang dicontohkan di atas. Semakin kecil harga kadangkala kita semakin berpikir apakah harga tersebut pantas. Apakah harga edisi digital Cinemags bisa dibandrol 5 ribu, misalnya? Apakah 5 ribu yang akan kita keluarkan akan sepadan dengan isi Cinemags? Kita dapat poster apa saja, ada informasi film baru dan review film tidak?

Atau kita pakai contoh harga sms dan data yang kemarin sempat berlomba-lomba sampai 0,0000…1. Kita dipaksa untuk berhitung, untuk menentukan apakah harga tersebut pantas atau kita tertipu. Proses semacam ini menjadi harga transaksi mental. Harga yang kecil ternyata memicu pemikiran yang kompleks. Pusing.

Competitor

Micropayment memiliki kompetitor. Kompetitor ini adalah advertising[2] . Program seperti adsense telah menjadi standar de facto untuk micropayment. Adsense memberikan kemudahan dalam menjual konten dengan harga mikro. Tak perlu payment gateway baru, hanya perlu pencatat transaksi mikro yang akan mengagregasi semua penjualan kita. Kalau ada yang lebih mudah, kenapa harus memilih jalur micropayment murni yang kompleks?

Jadi bagaimana caranya micropayment bisa sukses?
Micropayment perlu beradaptasi, perlu blending dengan aktivitas sehari-hari. Micropayment harus hadir dalam bentuk yang tak menghadirkan kendala baru.

Referensi

[0] http://en.wikipedia.org/wiki/Micropayment
[1] FREE. Chris Anderson. 2009. Chapter 4: The Psychology of Free. Page 59.
[2] http://donationcoder.com/Articles/One/index.html

Hiruk-Pikuk Pasar Maya Indonesia

Hiruk-Pikuk Pasar Maya Indonesia

Bisnis e-commerce macam eBay atau Amazon sudah menjadi cermin kesuksesan di masa lalu. Bisnis internet dengan model business macam itu telah terbukti stabil dan mempunyai siklus pergantian yang lebih lama.

Umumnya, start-up dengan status ‘konsep’ hanya bertahan beberapa tahun, sebelum tergantikan dengan situs sejenis dengan konsep yang lebih baru. Contoh gampangnya adalah evolusi social networking. Yang dimulai dengan eCircle, Friendster, Myspace, dan kini Facebook.

Read More Read More

The Tipping Point Is Near!

The Tipping Point Is Near!


Setidaknya sudah ada tanda dengan membengkaknya populasi facebooker. Bergesernya twitter dari konsumsi early adopters only menjadi konsumsi umum. Dan lebih jelas lagi, media mainstream sudah mengafirmasi media sosial dengan jalan memakainya sebagai jembatan untuk menghubungkan diri secara langsung dengan konsumen

Is It Real or Fad?

Tergantung dengan konteks yang Anda pakai. Untuk media sosial sendiri tentunya angka penggunaannya sudah bisa dijadikan patokan tak terbantahkan. Namun jika kita menggunakan konteks internet pada umumnya, tipping point sepertinya masih agak jauh di depan.

Untuk tipping point penggunaan internet, jika hanya mengambil sampel pengguna media sosial maka perkiraan posisi tipping point tidak akan bisa tepat. Media sosial hanya cocok untuk beberapa orang saja. Masih banyak profil penggunaan layanan lain yang belum terlengkapi.

Bagi saya, tipping point penggunaan internet baru bisa ditengarai jika sudah ada cukup banyak billboard yang memajang URL dan konsumen benar-benar mengunjunginya.

Potensi Apa Yang Tersimpan?

Setelah tahun lalu kita melewati tipping point untuk blog, dan kemudian microblogging dan media sosial tahun ini, tahun depan sepertinya akan jadi saat kemunculan tipping point untuk e-commerce.

Penyedia marketplace dan toko online sudah mulai bertaburan. Kini yang diperlukan adalah percikan api untuk membuat pengguna internet berbelanja gila-gilaan.

Jumlah pemakai media sosial saat ini dan akseleras pertumbuhannya membawa momentum perubahan pada apapun yang dilaluinya. Jika kita memang menginginkan e-commerce sebagai the next big thing maka kita harus mengarahkan kekuatan besar ini ke sana.

How To Make It Real?

Kemarin saya sempat membaca Kukuh Tw (Kronologger) ingin membangun semacam e-commerce platform di atas Facebook. Detilnya memang belum diungkap, namun saya rasa ini akan jadi ide bagus untuk menjadi tahap transisi dari social networking ke e-commerce. Apparently sudah ada beberapa orang yang mendahului Kukuh Tw, melakukan penjualan lewat stream Facebook.

Dalam transisi menuju e-commerce literate, ada satu poin yang masih harus dipikirkan. Teknologi tak akan terlalu jadi masalah. Yang paling krusial justru budaya. Budaya membeli offline selain terbentur ketiadaan payment gateway juga terbentur aksesibilitas. Aksesibilitas di sini bukan sekedar koneksi internet tapi justru pada currency dan volume transaksi.

Bisakan Anda melakukan transaksi e-commerce di bawah 50 ribu? Beberapa bank sudah membatasi nominal mininal transfer. Di sini micropayment tentunya akan bisa mengeliminasi masalah ini. Semakin kecil nilai transaksi yang bisa dilakukan, semakin cepat pula kultur online terbentuk.

Pulsa adalah salah satu currency yang under-utilized. Lagi-lagi terjadi karena ketiadaan gerbang pemroses pembayaran. Andai saja ada platform terbuka yang memfasilitasi mata uang berbentuk pulsa, tentunya akan segera menjamur bisnis-bisnis kecil di internet.

Menurut Anda, sudahkah tipping point berada di depan mata?

Foto oleh woodleywonderworks