Browsed by
Tag: Entrepreneurship

Interview Dengan Ariawan Dari FlutterScape

Interview Dengan Ariawan Dari FlutterScape

FlutterScape adalah startup di Jepang. Konsepnya mirip dengan eBay yang mengakomodasi kegiatan jual beli Consumer-to-Consumer (C2C). Kenapa sampai di-interview oleh NavinoT? Karena CTO-nya adalah anak Indonesia. Penasaran dengan Flutterscape? Mari kita ikuti wawancaranya di bawah ini.

Jangan kaget dengan bahasa gaulnya. Beginilah kira-kira sifat asli Ariawan. Bisa kita lihat langsung dari gaya tulisannya 😉

Who am I ?

Nama Ariawan, biasa dipanggil Awan, tapi beberapa temen panggil Ari, dan di Jepang semuanya panggil Ari. Lahir di Jogja, alamat di Indonesia di Jakarta. SMA dulu satu ekskul sama Natali Ardianto (Urbanesia). Kuliah S1 di ITB, Research 1 thn di Tokyo Institute of Tech, S2 di Tokyo University, jurusannya sama semua Teknik Industri.

Lulus S1, sempat kerja jadi karyawan sebentar, sebelum mendirikan perusahaan konsultasi IT (klien utamanya Hospital – RSPP, RSCM, RSUD di jakarta dan bank – Niaga, Citibank, BCA) — perusahaan ini diputusin untuk ditutup tahun lalu setelah kontrak terakhir selesai, alasannya karena founder-founder-nya sudah tidak ada yang di Indonesia lagi, dan juga karena tidak ada growth.

Kok bisa sampai Jepang?

Setelah kira-kira 2 tahun malang melintang di jakarta, terpikir untuk melanjutkan sekolah. Waktu itu apply ke GA Tech dan apply beasiswa panasonic. Panasonic ternyata lebih cepet 6 bulan resultnya dan harus ambil keputusan cepat. Akhirnya cabut deh ke Tokyo. Disini sejak April 2005.

What is FlutterScape?

A mix of Flickr + Ebay for Niche Product (initial focus is Japanese Product)

Flickr –> sharing pictures

Ebay –>  selling

Ide dari mana?

Yang punya ide awalnya Takehiro Kakiyama (founder CEO), gue cuma me-refine dan memperkuat ide itu.

Take dulu lama di luar negeri sebelum balik ke Jepang. Selama di luar negeri, setiap kali dia ke supermarket, dia selalu senang melihat berbagai macam produk yg belum pernah dia liat. Ide awalnya adalah bagaimana re-creating pengalaman ini secara online. Setelah itu idenya di-refine lagi sambil belajar dari eBay. sebelum bikin FlutterScape, Takehiro sempat ambil internship di Ebay, untuk melakukan “stealth research” dan tes beberapa ide. FlutterScape sempat sekantor dengan eBay japan. Ebay japan director duduknya dulu adep2an sama gue.

What makes FlutterScape different?

Konsep flutterscape adalah sharing = selling. Selling online itu keliatannya gampang tapi banyak banget faktor “X” nya. Terutama kalo cross-border selling, 2 hal yang paling penting: shipping dan payment.

Di FlutterScape, seller berurusan dengan FlutterScape. Buyer juga berurusan dengan FlutterScape, jadi faktor X -nya di serap oleh FlutterScape.

Buat penjual kita sebut konsep ini “casual selling”. Upload foto (share), kalo ada yg mau beli, tinggal kirim barangnya ke FlutterScape, kita langsung bayar (sell).

Buat pembeli, sama saja seperti beli barang lewat amazon, convenient, comfortable, and risk-free.

Our main business model is?

Kita ambil 9 – 15% margin dari transaction price, ini revenue utama.

Tapi ada business model lain yg lagi kita tes. Salah satunya adalah premium feature untuk seller. Sedang kita test, udah roll-out tapi masih terbatas. Dan yang tertarik untuk jadi testernya sudah mesti langsung bayar.

Luck is when preparation meets opportunity. Bagaimana gambaran pepatah ini di FlutterScape?

FlutterScape ini bisa terwujud karena kita menang lomba business plan yg diadakan oleh netprice + cyberagent. Modalnya adalah hadiah utama dari lomba business plan ini.

Jadi segi luck-nya ya menang kompetisi ini. Sementara segi persiapan adalah persiapan yang kita buat untuk ikut lomba ini, salah satunya adalah research dan internship di ebay.

How hard is it to setup a company in japan?

It is not that hard. Kalau memang mau bikin company, agak lebih susah dibanding Singapore tapi lebih gampang dibanding di Indonesia. Modal 1 yen juga bisa (asal bisa bahasa jepang dan ngerti segala macem legal term utk urus paperworknya).

Modal yang mahal adalah untuk hire lawyer karena males atau tidak mengerti urusan paperwork (kalo tidak salah minimum 200 ribu yen). Dan satu lagi — tergantung dari jenis perusahaannya — ada minimum annual tax yg mesti dibayar (gak peduli perusahaan untung atau rugi).

Jadi gak susah, tapi ini dalam artian bikin legal entity lho yaa. Kalau bikin startup yang bisa scale ini mah beda lagi urusannya.

Sepertinya salah satu target market FlutterScape adalah otaku. Is this otaku market really real? Seberapa jenuh pasar otaku di sana yang terdeteksi oleh flutterscape?

Salah satu target market kita memang otaku, karena memang kalau jualan barang collectible dari jepang rata-rata bersangkutan dengan anime/manga.

Otaku market is real. Untuk kasih gambaran ya, di ebay per tahun lalu ada 54 ribu item yang bisa dikategorikan “otaku market”. Average price nya adalah 100 USD. Merchant otaku item, salah satunya yg terkenal adalah J-List and their revenue is about 2 mio USD / m.

Kalau pasar otaku, memang sudah jenuh di domestic market. Tapi ini karena demand-nya shrinking . Tapi untuk overseas market, it is still growing. Tahun ini jumlah orang yang belajar bahasa jepang (mendaftar utk ikut JLPT) ada 2.970.000 orang.

Berdasarkan research kita, potensialnya masih gede. Dan perusahaan2-perusahaan jepang is really bad at getting this market. Makanya yang menggarap otaku market di luar kebanyakan asing, perusahaan jepang disini cuma jual license. Liat aja Danny Choo (DannyChoo.com, probably NSFW).

Trend startup di jepang seperti apa sih? Berapa banyak startup di sana yang menyalin ide dari luar?

Wah ini bisa dibikin topik sendiri nih, satu wawancara sendiri. Hahahhaa.

Startup disini cukup lumayan tapi tidak se-vibrant di Amerika, terutamanya adalah kesulitan mencari dana. Yg mengklaim sebagai “startup” rata-rata adalah spinoff dari perusahaan2 gede. VC2 disini cukup banyak tapi rata-rata gak mau invest di seed stage, mereka maunya invest di series A.

Kalau soal ide, banyak yang original, tapi sayangnya only applicable for domestic market. Tapi tiap tahun rata-rata ada 2 startup jepang yang masuk di Techcrunch 50.

Nah menariknya lagi ya, startup community di sini itu motor utamanya adalah orang asing atau minimal orang jepang yg sudah lama tinggal di luar negeri.

Tapi gue rasa tahun ini bakal berubah. Barusan Joi Ito kerjasama dengan Teruhide Sato (investor utama FlutterScape) mendirikan Open Network Lab (http://onlab.jp). Onlab ini adalah Y-Combinator versi jepang. Dan menariknya lagi, mereka fokus ke startup dengan visi global. Yah mereka sadar bahwa mereka tidak bisa lagi mengandalkan domestic demand, harus expand ke luar.

Menurut gue startup-startup di Amerika itu bisa sukses karena tanpa harus berpikir untuk reach ke luar pun mereka sebenarnya sudah reach ke luar dengan sendirinya. Setelah market terbentuk di luar barulah mereka lokalisasi. Hal ini dikonfirmasi oleh VP international user growth-nya Facebook. Kebetulan mereka ke Jepang dan kita sempat meeting dengan mereka.

Ada situs di jepang yang mirip dgn FlutterScape?

Ada. Coba buka buyma.com. Ini mirip dengan FlutterScape tapi kebalikan. Meraka fokus ke barang-barang di Amerika. Target seller-nya adalah orang-orang Jepang di Amerika. Orang-orang tersebut share barang-barang di Amerika ke orang Jepang di Jepang. Investor utama buyma ini Sony Corp.

Kalau yang kamu maksud adalah kompetitor (mentargetkan market yang sama) ya banyak. Misal JList, atau rinkya.com dan tentunya ebay (japan) sendiri.

Whom to network to boost your business? Where?

Untuk sekarang kita sedang berencana mencari investor dari Silicon Valley. Bukan karena kita cari tambahan modal, tapi utamanya lebih karena kita ingin ada advisor dari Amerika. Jadi gue banyak networking sama orang-orang geek-on-a-plane, utamanya Dave McClure. Kita juga sedang fokus networking ke Singapore dan Hongkong. Dengan ikut Echelon 2010, harapannya bakal dapat banyak lead dari sini.

Untuk di jepang sendiri kita banyak networking dengan VC di sini. Rakuten, Yahoo! Auction, pemegang license anime, toy manufacturer, fashion designer, dan sudah pasti media. Kita juga banyak mendapat bantuan dari Serkan Toto dan Hirano (writers of TechCrunch) untuk mengenalkan kita dengan orang yang kita mau.

Where did you meet your partner in crime?

Takehiro itu dulu sempat internship di Deutsche Bank dan Bosnya dia orang Indonesia yang kebetulan teman baik gue. Perjumpaan dengan Takehiro ceritanya agak unik sih.

Jadi gue kebetulan adalah VP organisasi ICJ (Indonesian Community in Japan). Nah waktu perayaan ultah 50 tahun Indonesia-Jepang, kita di daulat sama KBRI utk bikin event. Kita bikin fashion show batik (Javarizm — http://javarizm.com) dan gue tanggung jawabnya adalah show director (termasuk in-charge model). Nah model-model untuk fashion show ini adalah model-model jepang. Salah satu model yang gue pake adalah finalis Miss Universe jepang 2009. Si Takehiro datang ke acara Javarizm, dan dia naksir sama model ini. Teman gue yang juga bosnya dia kenalin Take ke gue minta gue comblangin Take ke model ini. Disini gue kenalan sama Take pertama kali.

Investor, where did you get them? How much?

Untuk modal awal FlutterScape adalah 15 million yen (1.5 M rupiah), hadiah dari lomba business plan. Sekarang kita sedang dalam tahap untuk raise seed stage funding. Line up investornya sudah ada, tapi sedang negosiasi untuk menentukan siapa ambil berapa share. Soalnya kita tidak mau ambil investor yang cuma ngasih duit. Sori gue gak bisa bilang siapa, sebelum di finalize.

Kalau ada orang yang berpikiran opening an offshore shop, misalnya bikin situs hobi cosplay di paris. How do you think this idea will work? Intinya adalah menangkap ikan di luar negeri.

Lagi-lagi tergantung marketnya. Tapi kalau bisa jalan atau tidak, kata gue bisa. Start small put your target on niche market. Masalahnya tinggal para pehobi cosplay di paris (bisa scale ke eropa) mereka ini model yang mau spend money atau tidak untuk hobinya ini (menurut gue sih mau banget). Jadi pasti bisa jalan.

Flutterscape for indonesian product. Will it fly?

Enggak, kalau business model FlutterScape dijiplak habis-habisan. FlutterScape can only work where there’s significant international demand for the product. There’s already general branding/good image about it, and there’s significant gap or “trade barrier”. FlutterScape business model is highly dependent on this “gap”. However I think it will work in almost similar model with just a little tweak. I won’t explain this little tweak, because I am planning something. Hahaha ..

What’s next after FlutterScape?

FlutterScape is just getting started. But we’re planning for exit in 1-2 years from now.

Gue sekarang lagi planning my entry back to Indonesia. Gue udah punya legal entitynya, udah ada investor, dan sekarang lagi cari tim. Sedikit numpang promosi nih Ton. Gue lagi cari 1 front-end developer, 1 back-end developer, 1 designer/copywriter. Kalo ada yg berminat kerja bareng gue, bisa kontak di twitter atau email ke ariawan@altavindo.com. Hahahhaha, numpang gini nih Ton.

Oh, ada sedikit berita. Gue sudah enlist one big name that I am sure all of you guys in Indonesian startup industry know. Nama masih off the record tapi tinggal tunggu tanggal mainnya. Kita udah offer package dan dia udah bilang setuju.

Any lesson learned to share?

Wah gue belum pantes kali utk ngajarin orang-orang. Tapi gue share apa yg udah gue pelajari dari orang-orang besar yang gue temuin ya. Dan ini mungkin applicable hanya untuk engineer yang mau bikin startup saja:

  1. Selalu mulai dengan business model. Business plan is good but its almost useless karena untuk menyusun business plan terlalu banyak asumsi yang akan bermain di dalamnya.
  2. Untuk arsitektur sistem, think for scalability but don’t plan for scalability until it’s really necessary. Soalnya bisa dipastikan your business model will change along with your product, before you’re scaling up. Jadi kalo sudah membuat scalable sistem untuk satu jenis produk/business model ternyata harus ganti (pivot) jadi bikin baru lagi deh (happened to FlutterScape). Dan dengan segala macam teknologi yang ada scalability is not a difficult thing to do anymore. So you can plan and implement within a really short period.
  3. Always setup a measurable metrics that you can always benchmark on for every single thing that you do. For example: move the button 2px to the left. The pirate metrics by Dave McClure is a really good one.
  4. Technical stuffs is only 50% of the game (except if you’re planning to get a patent of the technology). So learn your business stuffs. Operations (accounting etc), marketing/sales (design), finance and legal. You can’t just dump those stuffs on your business co-founder. If you are a CEO or CTO, you have to be the master of all domains. Startup is always small, so you’ll be better off partnering with someone who is a generalist rather than specialist. You can have specialist later on when you’re ready to scale, and get that funding.

Your favorite quote is?

“Dont take life too seriously, nobody gets out alive anyway” by anonymous. It will help you remember and put things into different perspective.

Phew. No comment deh dari saya. Sila langsung menulis komentar atau pertanyaan sendiri di kolom komentar.

Berdiri Tanpa Investasi

Berdiri Tanpa Investasi

ship to horizon

Di barat sana, sedang ada kecenderungan perubahan perilaku VC menjadi lebih seperti Record Label. Tidak lagi terlalu banyak memberikan fund pada startup yang ambisius tapi lebih cenderung mencari the next big hit seperti Lady Gaga dan Justin Timberlake. Beberapa orang merasa terganggu karena mengganggap hype terjadi di tempat yang salah. Startup harusnya menjadi agen pembawa perubahan dunia menjadi tidak punya kesempatan. VC sedang melakukan permainan bisnis aman.

Bagaimana dengan lingkungan VC lokal? Syukurlah kita tidak mengalami “kemunduran” seperti yang terjadi di Barat sana. Tepatnya, kita belum punya banyak VC yang membesarkan startup dalam negeri. Kita bahkan belum punya event seperti DEMO atau TC50 sebagai panggung untuk public pitching dan mencari spotlight di dunia IT.

Sebagai entrepreneur, tak usah berkecil hati. Seperti yang ditulis dalam artikel Investor or No Investor kemarin, investor tidak akan memberi free lunch. Punya investor berarti akan ada kontrol atas startup yang kita miliki. Startup tidak lagi bisa murni berfokus pada konsumen saja, namun juga harus memperhatikan komando pemberi investasi. Freedom yang dulu digaung-gaungkan saat kita memulai startup akan sedikit luntur karena konflik kepentingan.

Bagi yang tidak ingin terjerat konflik investasi atau belum mendapat investor, rasanya kita bisa menenangkan diri dengan meresapi nasihat Trent Reznor (Nine Inch Nail). Trent Reznor bilang, jika kita ingin cepat terkenal maka record label adalah satu-satunya jalan. Old-school marketing trick akan efektif, namun kita harus merelakan idealisme dan macam-macamnya termasuk porsi pendapatan supaya bisa masuk jalur mainstream. Ada benarnya juga, dari sekian banyak artis baru yang sering tampil di televisi beberapa mungkin masih nge-kos atau markasnya masih mirip band indie.

Bagi yang ingin membentuk jalannya sendiri, Trent Reznor bilang: give away your content free (dengan ditukar hal lain seperti e-mail, dan sarana untuk membangun jaringan). Lupakan penjualan rekaman lewat record label. Word of mouth adalah hal terpenting yang kita inginkan supaya hasil kerja kita bisa dipakai banyak orang. (jangan lupa baca link Trent Reznor di atas, it’s long and detailed)

Jalur indie sepertinya penuh peluh dan kerja keras ya? Jalan lewat investor sepertinya tinggal ongkang-ongkang kaki karena tidak memikirkan urusan uang lagi. Rasanya tidak ada pilihan yang tidak beresiko. Semakin besar resiko, semakin besar pula outcome-nya. No pain no gain katanya.

Bagi saya pribadi, dan mungkin juga bagi banyak orang lain, investor or no investor bukan pilihan tapi soal kesempatan. Sebelum kesempatan itu datang, berikut ini beberapa hal untuk mensiasati keperluan investasi.

Kendala besar bagi startup biasanya modal untuk server dan resource sejenis. Untuk hal ini saya menyarankan Google App Engine. Kuota bebas yang ditawarkan cukup besar untuk bisa dipakai mengawali startup. Tidak perlu pusing memikirkan load balancer, load server dan kapasitas database. Asal tidak ngawur saja dalam membuat aplikasi, kuota bebas ini pasti cukup untuk membangun userbase. The only catch is, either you need to learn Python or Java and noSQL.

Spotlight? Sebenarnya ada banyak. Tren yang akan segera merajalela adalah App Store. iPhone punya, Android punya, Blackberry punya, Nokia juga. Dan baru-baru ini App Store untuk Twitter juga muncul dalam bentuk situs oneforty. Ini adalah spotlight yang beberapa di antaranya gratis untuk dimasuki.

Marketing? Kita semua pastinya sudah tamat kurikulum Facebook dan social media lain. Social media adalah alat marketing gratis yang tersedia bagi semua orang. Dan menariknya, orang tidak dipaksa melihat seperti halnya iklan di televisi.

PS:

Hari ini tidak ada pertanyaan, perenungan saja ya 🙂

It’s a Competition from Day One

It’s a Competition from Day One

competition

Tidak lama setelah kita lahir, sudah ada baby contests. Kemudian dilanjutkan dengan peringkat kelas di sekolah. Tidak luput juga penghargaan dan prestasi di lingkungan kerja.

Kompetisi, itulah salah satu hal yang kita jalani tiap hari. Entah daftar atau tidak, anda sudah secara otomatis ikutan masuk menjadi peserta.

Tapi sebelum kita melangkah lebih jauh, apa anda juga memperhatikan, bahwa jagoan tidak selalu menang. Beberapa sangat berbakat, bahkan lebih berpeluang dari sang pemenang. Siapakah mereka?

Mereka yang berbakat ini tidak diketahui oleh khayalak umum, tidak ikut berlomba, atau bahkan tidak tahu cara berpartisipasi. Hilang, lenyap, dan diam di bawah radar.

Beberapa sempat bertanya, ini lomba macam apa sih? Jawabannya adalah berlomba untuk diketahui sebagi orang terbaik dalam bidang yang anda kuasai, di dunia ini. Kita menyebutnya sebagai Personal Branding.

Seseorang dikenal sebagai seorang Mac Expert. Seseorang lainnya dikenal sebagai PHP Master. Apakah mereka begitu hebat? Atau hanya karena lebih banyak orang mengenalnya?

Seseorang bisa tweet and retweet catatan dari seseorang ke orang lain. Tapi di bawah meja, sebenarnya adalah sebuah persaingan yang sangat seru.

Seperti istilah branding di dunia marketing, kesuksesan tidak bisa diukur langsung lewat ROI (Return of Investement). Tapi sebagai pelaku, anda sudah seharusnya merasakan imbasnya. Bukan berarti sales dan revenue anda meningkat dari tiap 100 tweet yang anda lontarkan, tapi bisa juga anda mendapatkan pekerjaan baru tanpa melewati pre-screening test. (Kalo resume kamu jelek, sudah pasti gugur dulu.)

Sekali lagi, personal branding bukan berarti memasang brandol harga akan dirimu. Tapi ini lebih berperan untuk membangun citra, tentang bagaimana publik seharusnya menilaimu.

Social media telah merubah segalanya. Seseorang tidak perlu lagi saling berebut halaman koran untuk publikasi. (Sisakan saja untuk para politikus). Media baru ini telah membuka kesempatan yang sama bagi tiap orang, untuk dikenal dan sukses dalam bidangnya. Tapi permasalahannya tetap sama, yaitu partisipasi anda sangat diharuskan.

Dalam dunia social media, anda punya segala macam alat dan tenaga. Tapi lebih penting adalah bagaimana cara memakai alat tersebut.

So, what are you good for?


PS: Artikel ini ditujukan untuk seseorang yang masih belum puas akan hari ini.

Pain Point

Pain Point

YC make startup like mushroom

Weekend kemarin seorang teman (stwn) melempar link tentang sejarah YCombinator. Why YC? Tentang mengapa YC berdiri, apa yang menjadi alasan mendasar didirikannya YC, dan bagaimana business model YC disusun. Mungkin semua yang tidak beralasan normal memang punya kans besar untuk sukses, demikian pula dengan YC ini.

Jadi, kenapa YC berdiri? Jika Anda sempat menyimak beberapa cerita tentang Paul Graham di NavinoT, Anda pasti tahu bahwa YC berfungsi sebagai Venture Capital yang menolong orang-orang dengan ide cemerlang untuk mendirikan startup impiannya. Tapi tahukah Anda bahwa YC pertama kali didirikan bukan demi menolong orang lain, atau mengumpulkan investasi?

Paul Graham menjelaskan bahwa YC didirikan karena it will be a great hack. Ya, a great hack bagi proses pembentukan startup yang biasanya tedious dan amat susah. Seperti CPU yang bisa di-overclock dan hardware atau software yang bisa dimodifikasi supaya bisa berjalan lebih efisien atau melakukan lebih banyak hal, dengan sentuhan yang tepat ke arah yang tepat YC bisa menyuburkan pertumbuhan startup yang sebelumnya sangat sulit untuk tumbuh.

Okay. Tapi apakah hanya karena noble cause dan konsep hacking yang membuat YC bisa sukses? Bisa bertahan lama sebagai VC dan tidak terbakar karena selalu berinvestasi? Ada satu istilah penting yang saya dapatkan dari ideas.inc: Pain-Point. Produk kita hanya bisa sukses dengan jalan punya masalah yang bisa diselesaikan. Demand belum tentu kelihatan, namun masalah pasti selalu ada pada setiap orang. YC sukses dan bisa bertahan karena bisa menjadi obat bagi calon entrepreneur, sekaligus menjadi obat bagi VC lain yang susah menemukan startup yang potensial. ‘Sisanya’ adalah soal pengaturan pembagian profit dan saham.

Either it is what people want or what people need, both may be correct. Tergantung bagaimana kita melihatnya. What people want is something to ease their pain, eventhough they are not currently looking. What people need is something to solve their visible problem, their top list priority.

So, what’s your pain-point?