Browsed by
Tag: facebook

Marketplace Chicken and Egg Problem

Marketplace Chicken and Egg Problem

Eggs of a Quail (Coturnix sp.), in comparison ...
Eggs of a Quail (Coturnix sp.), in comparison to a chicken’s egg. (Photo credit: Wikipedia)

Ini materi tahun 2012 sebenarnya tapi tetap ingin ditulis supaya tak terbuang percuma. Rumus umum tapi seringkali terlupa karena gegap gempita peluncuran produk atau panik tiba-tiba karena kemunculan kompetitor. Saya sebut chicken and egg problem karena memang tidak ada titik pasti di mana kita harus memulai. You can start anywhere but make sure to iterate.

It got to be purple!

Yes, no brainer lah ya kalau mau jualan apapun memang harus punya produk keren dulu. Tapi masalahnya kan kita belum tahu siapa sebenarnya konsumen kita. Apakah yang mirip dengan kita, teman kita, atau teman dari teman kita? Yang memulai dari titik ini biasanya memulai dengan produk yang ia sukai. Belum tentu keren bagi orang lain tapi ya we need to start somewhere.

Know your customer!

Masih ingat fish where the fish are? Tentu saja jika ingin mendapatkan ikan harus memancing di tempat yang ada ikannya. Barang yang kita jual boleh saja keren dan harganya miring, tapi kalau tidak ada yang tahu atau yang tahu justru yang tidak minat dengan barang tersebut ya wassalam. “Ikan” bisa dicari di Facebook, Google atau tempat lain yang menawarkan iklan berbasis segmentasi. Tapi hati-hati, jangan gegabah, karena sekali ikan gagal dipancing maka akan sulit untuk didatangkan lagi. Ikan sekarang pintar-pintar.

Measure and iterate!

Tetaplah bereksperimen untuk mendapatkan kombinasi terbaik dari barang dan segmen konsumen. Your goal is not to serve your ideal. Your goal is profit. Kalau harus pivot, ya lakukan pivot. Tapi jangan asal. Ukur dan ulang ukur. Pastikan kita paham kenapa kita ambil sebuah langkah dan bagaimana mengukur kesuksesannya.

Nah, itu rumus umumnya. Sekarang mari dibahas apa yang kira-kira dicari penjual dan pembeli.

Penjual mencari pembeli

Oh ya jelas ini. Tapi yang biasanya masih mencari adalah yang tak punya banyak pembeli. Yang sudah punya merek biasanya tak ngoyo karena pembeli sudah tahu di mana mencari mereka. Pain point merchant yang bergabung di marketplace adalah kurang pembeli. Ngapain saya pajang barang di situ kalau gak ada yang beli? Jadi ya pastikan marketplace yang dibuka banyak selalu banyak pembelinya. Ingat, pembeli ya, bukan visitor.

Pembeli mencari pembanding

Menyediakan yang dicari tidaklah cukup. Pembeli menunggu sampai merasa mantap (atau impulsif) untuk membeli. Karenanya, jangan lupa sediakan pembanding berupa variasi piihan atau spesifikasi yang lebih informatif. Jika hal ini tak berhasil membuahkan konversi, mungkin kita harus cek harga. Kalau mahal ya jangan berharap banyak yang beli. Rumus gampang-gampang susah. Tapi jual murah tak berarti harus rugi. Ingat FREE.

Last but not least, jika Anda akan menendang 2013 dengan sebuah startup baru, jangan lupa baca artikel pedas ini. Selamat tahun baru 2013!
To check-in or not to check-in

To check-in or not to check-in

Now that Loopt (dubbed as the father/mother of LBS) has been bought. Gowalla shut down. Who will be the king of LBS? Are those company buying smaller player are hurting the innovation? Talent got acquired but for sure there won’t be any output within a short time. The lean experiments have to be scaled up, to match acquirer massive user base.

The only big players left is Foursquare — are they relieved and clapping? — (and SCVNGR?). And merchants are not really flying it. Remind me again, why this service is so sexy in the first place?

What spice are we missing? Is it the same spice missing in semantic web? Real world value? Have we been using incorrect misleading approach for this problem?

Jot down your doubt (or belief)!

Photo by: Reavel

Health Startup: MeetDoctor

Health Startup: MeetDoctor

Dunia kesehatan jarang punya start up. Pertama, mungkin karena pelakunya agak jauh dari hiruk pikuk IT atau bisnis IT. Kedua, orang non IT belum terpikir bagaimana mencari duit dari dokter-dokter yang sudah punya pendapatan tersendiri. Bukannya nambah pendapatan malah cuma nambah kerjaan.

Di luar negeri sih sebenarnya banyak startup di bidang kesehatan. Termasuk salah satunya adalah 23andme.com milik Anne Wojckiki (istri Sergey Brin). 23andme menyediakan layanan analisa DNA, monthly. Bagi saya, ini sudah berskala Google. Very serious. Yang lain masih banyak, seperti yang bisa dilihat di gambar di atas.

Di dalam negeri, saya baru menemukan beberapa saja misalnya: klikdokter.com, tanyadokter.com dan yang baru rilis beberapa waktu lalu yakni MeetDoctor.com. Dari model bisnisnya, sekilas semua masih berbentuk portal dengan tambahan rubrik konsultasi. Tidak ada yang salah, cuma apa memang tidak ada bentuk lain lagi?

Privacy issue

Mungkin membuat startup di bidang kesehatan ini serba beresiko. Setidaknya ada masalah privasi yang harus dilindungi. Sebelum dilindungi, prioritas pertama harusnya diedukasi. Dengan Facebook dan Twitter saja, banyak orang yang tidak paham bahwa semua yang mereka tulis akan terbaca oleh seluruh warga dunia. Beragam fakta dan peristiwa menjadi konsumsi publik. Isu kesehatan tentunya punya dampak tersendiri jika disebar bebas. Mungkin bisa membahayakan kelangsungan hidup seseorang secara tidak langsung. Pekerjaan bisa terancam, pertemanan bisa terganggu. Bukan karena kesehatan itu sendiri namun akibat tak langsung yang terjadi akibat persepsi orang lain yang tak ada relasinya dengan profesionalitas. Some information best kept secret (except with your doctor or psychiatrist, maybe)

Media offline tampaknya sudah paham perihal privasi ini. Setidaknya terbukti dari penyamaran nama dalam rubrik konsultasi. Meetdoctor sendiri mendukung pendaftaran lewat Facebook. Secara teknis akan meningkatkan user-friendliness, tapi di sisi lain jadi pengancam isu privasi. Dilematis karena tanpa nama asli, opini seseorang pun bisa terdistorsi.

Whom to trust

Kenapa user dengan nama “Bocah Ingusan” menjawab pertanyaan konsultasi saya? Apakah jawabannya valid? My life is on the line here. Buat anak kok coba-coba? Yang bener nih bro?. Beberapa kalimat barusan adalah gambaran komentar saudara yang saya minta melihat meetdoctor.com

User generated content, crowdsourcing, bukannya tak beresiko. Untuk memanen hasilnya diperlukan terpenuhinya suatu kuota. Dan ada formula yang harus dipakai untuk membuat kesimpulan, walau berbentuk sekedar rumus rata-rata. Jelas, untuk diskusi atau konsultasi tentang kesehatan juga memerlukan rumus tersendiri. Kita tak langsung menganggap jawaban pertama sebagai jawaban yang benar. Kita harus melihat pengalaman lain dan akhirnya berusaha menarik kesimpulan dengan menambahkan pengalaman kita sendiri. You see, it’s not easy.

Tanpa ada orang yang dipercaya, dikenal dan bisa dibuktikan keahliannya secara sistematis, maka meetdoctor dan juga rubrik konsultasi lain akan berhadapan dengan masalah trust.

What’s in it for the doctors?

Lalu dokternya dapat apa? Bukan hal yang bakal jadi perhatian pemakainya, tapi bakal menentukan kelangsungan hidup startup karena dokter adalah kata kunci dan produk utama di meetdoctor. Mungkin ada fee untuk planned appointment, tapi entah apakah sepadan dengan pendapatan lewat praktik offline 😀

Mungkin pengalaman offline/online ini bisa dibuat seamless. Konsultasi offline bisa dibawa online? Dan konsultasi online bisa dibawa offline? I wonder where the price will settle.

Personalization

Berita saja harus dipersonalisasi untuk menambahkan value. Apalagi dengan situs yang mengambil informasi dari interaksi penggunanya. Meetdoctor is clearly need to work more on it. Saat ini baru tersedia Activity yang mendaftar pertanyaan mana yang mendapatkan interaksi (dijawab oleh dokter atau pengguna lain). Mungkin akan lebih berguna jika diimplementasikan seperti conversation point. Saya cukup yakin tujuan awalnya adalah menvisualisasikan tanya jawab.

Situs-situs jaman dulu biasanya suka menanyakan hobi kita. Seperti hal ini bisa diadopsi oleh meetdoctor untuk memberikan news stream ke dashboard pengguna. Alih-alih mengarahkan user untuk join grup tertentu. Masalahnya bukan soal merepotkan pengguna, tapi informasi yang relevan belum tentu masuk dalam grup yang dikira. Informasi relevan bisa tersebar, mungkin dalam topik OOT sebuah thread konsultasi. Bagaimana pengguna bisa tahu informasi yang terselip semacam ini? Jawabannya satu: semantik.

So?

Cobalah berpartisipasi. Karena gratis, there’s nothing to lose untuk mencari informasi tentang topik kesehatan. Mari kita pantau, akan berevolusi seperti apa meetdoctor.com ini. Semakin niche atau menjadi portal? Karena founder-nya adalah seorang dokter dan ngeh dengan dunia IT, potensi yang terpendam masih besar.

PS:

Satu hal yang mengganggu saya. Ada dropdown kategori di form konsultasi. How the hell should I know which category my question belongs? Akhirnya, banyak tuh yang masuk kategori ADHD :D. My advice: Scrap it! Let the machine do this dirty work.

Blogging is Dead, Yet Again

Blogging is Dead, Yet Again

Halaah, blogging itu punya berapa nyawa sih. Dulu dibilang sudah mati, beberapa waktu lalu mati lagi. Sekarang mau mati lagi?

Kematian Pertama

Facebook memberikan tusukan kematian yang pertama. Notes, membuat kegiatan menulis apapun jadi menyenangkan karena kita bisa langsung pamer dan memaksa teman-teman kita di Facebook untuk membaca. Aku tag kamu di artikelku. Kamu gak bisa marah. Remove saja dari tag ngapain repot.

Aktivitas lain seperti update status dan upload foto menjadi penyerap energi. Tidak ada lagi waktu untuk ngopi, merenung, menganalisa dan menarik garis antar titik sebagai rangkaian kegiatan blogging. Why so serious?

Kematian Kedua

Blogging lalu dibunuh kembali oleh Twitter. Akibat Twitter, lebih banyak lagi orang yang malas menulis di blog. Jauh lebih sederhana untuk menulis 140 karakter di Twitter.

Tidak ada lagi cibiran akibat menulis sesuatu yang “gak jelas” di blog kita. “Aku tadi makan siang ketoprak enak banget”. Tidak ada yang protes akibat RSS readernya terupdate terlalu cepat dengan one-liner. Plus model networkingnya yang lebih simpel dari Facebook, Twitter is way wider and fun to play with. The rule is no rule, kecuali soal reply dan RT di Indonesia 😉

Kematian Ketiga (Voodoo Death)

Steve Rubel dua tahun lalu meninggalkan blog di domainnya dan beralih ke Posterous. Tren baru saat itu adalah Lifestreaming. Dan platform blog yang sudah populer pun belum ada yang cocok untuk memenuhi kebutuhan lifestream.

Per Memorial Day kemarin, Steve Rubel pindah kembali. Kali ini dengan sebuah big bang. Pindah ke Tumblr dan menghapus 2 blog lamanya (scorched earth policy – teknik bumi hangus). OMG! Steve Rubel (of Edelman) menganggap page rank sudah lewat masa. Google is into social signal, ditandai dengan fitur baru di search result yang melibatkan circle of friends. Dan yang terbaru, Google Plus One. Dalam rangka tidak membuat Google bingung, blog lama pun dihapus.

Tumblr dinilai lebih cocok dengan visi Google ke depan karena fitur social sudah built in di dalamnya, eg: reblog. Tidak hanya Steve Rubel. Beberapa orang juga pindah dengan alasan serupa. Kevin Marks bilang ini Voodoo SEO.

Blog Never Die

Mirip kata @danrem soal marketing dalam insiden RestInPeaceSoon. Marketing tidak mati tapi bertransformasi. Esensi tidak berubah tapi ada temuan baru yang menjelaskan lebih lanjut tentang esensi mendasarnya. Seperti halnya blogging, esensinya bukan tentang menulis.

Esensinya adalah berbagi. Media saat itu yang paling ekonomis adalah tulisan. Ramah benwit sehingga idenya bisa menyebar dan diterima banyak orang. Podcast juga bentuk lain dari blogging,esensinya adalah sharing namun bermedia audio. It didn’t take off as successful as blogging karena medianya kurang ramah terhadap banyak orang.

A blog is a web log. Tentang catatan dan gagasan yang kita bagi lewat web. Tidak pernah mati.

Rebirth

Terlepas dari mati tidaknya blogging, ada pertanyaan menarik yang muncul. Domain. Domain dulu kita isi dengan blog. Sebagian bilang untuk bersenang-senang, sisanya bilang untuk personal branding. Tapi ini long time ago, sebelum ada twitter dan facebook yang membuat orang sempat beralis ke lifestream. Dan sebelum ada about.me untuk memajang kartu nama.

Dengan bergesernya media untuk berbagi, posisi domain ada di mana? Apakah tetap sebagai identitas ataukah jadi sekedar tempat untuk entry point sebuah layanan? Any takers?

I Confess. I Play Cityville

I Confess. I Play Cityville

Beberapa minggu lalu saya melakukan kejahatan luar biasa. Akhirnya saya mendaftar di Cityville — game di Facebook itu bukannya negatif?. Apa sih Farmville, Mafiawars, blah blah blah. Buat apa sih main gituan? Setelah bermain Gamedev studio, dan Oregon trail akhirnya saya ketagihan untuk main game lain. Saya bukan avid gamer, jadi yang saya cari adalah game yang sederhana namun cukup fun.

Tak salah, game ini cukup adiktif. Supaya saya dan Anda tak merasa bersalah saat bermain game ini, mari kita cari apa yang bisa kita pelajari dari Cityville. Kita tidak sekedar bermain, kita juga belajar kok 😀

In-Game Guide

Fitur ini sangat membantu saya sebagai newbie. Tiap bagian dashboard diterangkan fungsi dan cara bacanya. Tutorial diletakkan sebagai bagian dari gameplay awal. Manual tidak diperlukan karena sudah built-in dalam produk. Tidak banyak produk yang mengadopsi pendekatan semacam ini karena ada extra mile yang harus ditempuh –walau terkadang harga extra mile ini tak terlalu mahal. Padahal efeknya luar biasa.

Kecuali Anda membeli lego atau gunpla, Anda tak ingin berlama-lama merakit atau membaca manual sebelum menggunakan produk yang Anda beli. Produk yang self-explanatory akan sangat menarik konsumen.

What’s Next?

Salah satu hal yang membuat game menarik adalah tantangannya. Tiap level yang disusun sedemikian rupa untuk kita lalui. Dalam game tipe fighting, kita harus mengalahkan sejumlah jagoan dengan tingkat kesaktian yang terus naik. Demikian pula dalam Cityville. Kita tidak akan bingung apa yang harus dilakukan karena sistem akan memberi tahu prestasi-prestasi apa yang bisa kita raih selanjutnya. It keep us away from boredom by offerring multiple goals to complete. Tidak ada lagi kebingungan, habis ini ngapain?

Never Ending Story

Teman baru saya minggu ini sudah level 62, wilayah kotanya sudah luas sekali. Yet, belum ada tanda-tanda bakal segera bertemu game over. Cityville tampaknya memang tidak didesain untuk selesai. Sama nasib atau strateginya dengan beberapa manga sukses seperti Naruto, Bleach dan One Piece. Begitu menemui tanda-tanda kesuksesan, cerita akan dibikin ulang untuk mengakomodasi produksi sampai beberapa tahun ke depan.

Kebosanan pasti akan muncul di suatu titik. Tapi saya rasa kebosanan itu muncul karena tidak ada teman bermain. Seperti yang kita tahu, Cityville ini adalah game jaringan. Hanya seru jika dimainkan bersama-sama. Saat ada teman yang sudah lelah, yang lain pun akan merasa kurang fun. Seperti bermain Counter Strike sendirian. Apa sih serunya?

Tapi saat kebosanan datang, akan ada pemain baru. Si non beliefer yang akhirnya mengerti esensi (baca: adiksi) bermain Cityville. Dan siklus pun berulang lagi. Cityville jadi seru kembali. Rinse and repeat.

Coda

SCVNGR punya daftar tersendiri tentang apa saja yang bisa dijadikan game mechanics – walau akhirnya tak bisa mencegah saya dari rasa bosan. Badgeville punya game mechanics yang dijual sebagai produk. Kampanye online juga seringkali dan harus memakai game mechanisc supaya sukses. Bagaimana dengan produk Anda? Apakah memerlukan game mechanics? Jangan salah, produk serius pun bisa mendapatkan keuntungan dari implementasi game mechanics.

So, are you ready to play?

What Is Your Business Again?

What Is Your Business Again?

Lost in Music

Adalah mudah untuk kehilangan fokus. Saya bahkan agak lupa dengan apa yang hendak saya tulis sekarang dan justru berpikir keras kapan saya akan memuter Patience dan apakah saya harus memakai earphone atau tidak. Tadinya saya cuma berniat untuk nge-blog.

Yang ingin saya bicarakan tentang fokus terkait dengan satu pertanyaan penting yang ditekankan dalam, err, entah oleh Clay Shirky (Cognitive Surplus) atau Jeff Anderson (What Would Google Do). Dalam setiap saat di perjalanan produk Anda, harus selalu ditanyakan pada diri sendiri: what is your business? Dang, I left my WWGD in the office.

Begini deh contohnya, mudah-mudahan tidak meleset jauh. Coba ingat kembali pada produk yang sudah atau sedang Anda kembangkan. Berapa kali Anda merasa mendapatkan ide cemerlang tentang bagaimana produk tersebut akan jadi pada akhirnya atau kemana produk tersebut akan dikembangkan. Oh, berjuta ide! Kanan, kiri, atas dan bawah. Terkadang kita jadi lupa pada ide orisinalnya. Lupa pada inti masalah yang akan diselesaikan oleh produk tersebut. Is it a camera or is it a phone? Dan ketika kita turuti ide tersebut, kita berujung pada bloatware yang tak bisa menyelesaikan masalah apapun dengan benar. Jika beruntung, mungkin masih bisa disebut half-assed.

Kita selalu menyukai mencoba hal-hal baru. Menjawab teka-teki adalah hasrat terpendam kita. Oleh karena itu tidak heran saat pengunjung situs kita sudah menjadi angka tertentu, kita ingin memasang iklan. Sejatinya, kita sedang ingin menjawab teka-teki tentang monetisasi. Sementara saat sepi, kadang kita tak segan membeli iklan di Facebook atau bertukar sederet banner untuk mendapatkan pengunjung. Oh, ada yang ingat trafficswarm? traffic365? dammit, rasanya mereka itu satu perusahaan deh. Yet, we, err I, applied to everyone of them.

What was your business again? Apa yang hendak kamu selesaikan. Facebook, dalam The Social Network, menjawab teka-teki tentang apakah seseorang sudah punya pacar? Film apa yang disukainya? Ikut partai mana? Hal apa yang bisa diobrolkan saat pedekate? Apa yang tabu saat pedekate. Dan Facebook tidak bergeser jauh dari teka-teki ini. Tidak dalam tahun-tahun awalnya.

What was your business again? Facebook bilang: cool business. Facebook tidak memasang iklan karena popup dan jenis-jenis iklan saat itu sifatnya terlalu mengganggu. Facebook menemukan konsep iklannya sendiri. A cool ad platform. Kecil, di tempat yang tak menghalangi konten utama dan bisa kita vote down jika tak cocok dengan kita. Facebook mengubah iklan menjadi informasi, dengan memakai berbagai kriteria segmentasi. Cool for facebook users and very effective for advertisers.

Hei, hei! Sedang apa kamu? What was your business again?

PS:

Happy Monday peeps!

Define Differentiation

Define Differentiation

Diferensiasi, inilah yang dicari banyak orang. Apalagi jika sudah masuk ke arus mainstream. Everybody is on the same page, heading the same direction, on the same boat. Diferensiasi adalah langkah yang akan dia tempuh untuk menuju titik akhir sebagai yang pertama. Ada yang terjun dengan pelampung. Ada yang mendayung kano penyelamat. Ada yang menikmati kapal seolah sedang tamasya. Diferensiasi adalah apa yang kita yakini sebagai perangkat terbaik untuk mencapai tujuan kita.

Differentiation is Doing The Impossible!

Contoh termudah, Zappos. Menggratiskan biaya kirim termasuk jika pelanggan kurang puas dan inign menukar barang adalah tindakan bodoh dan gila. Menarik tapi beresiko tinggi karena bisa saja pelanggan melakukan gaming pada sistem. Bukannya revenue yang didapat malah tekor ongkos kirim tiap hari. Itis insane and impossible to do, yet they pull it out.

Melakukan hal yang mustahil (dilakukan oleh orang lain) adalah apa yang membuat kita berbeda dan unggul. Dan cara mencari pembeda ini pun sangat mudah. Tanya saja apa yang tak mungkin dilakukan orang dalam memberikan suatu layanan? All you can eat dulu mungkin ide gila, tapi jadi strategi umum saat ini.

Differentiation is Owning A Huge Valuation

Screw revenue! Screw profit! We will hit IPO. Sean Parker mengajarkan pada Zuckerberg untuk tidak cepat puas. Jangan berhenti pada angka jutaan karena sebenarnya kita bisa mencapai angka 12 digit. Menarget valuasi tinggi berarti menjadi raksasa yang menjadi magnet bagi investor. You eat, a lot and focus on one thing: getting bigger. So big that you become a plate people eat on. Menjadi Facebook dan Twitter yang begitu besar dan menjadi platform kebergantungan pihak-pihak lain. Revenue dan profit? Itu soal membalik telapak tangan. Every inch of your body is a seed of revenue and profit.

Differentiation is Having the Longest Breathe

Tiap jenis layanan tidak selalu beranalogi dengan sprint tapi kadang kala justru mirip maraton. You don’t need to win every corner but you need to arrive first at the REAL finish line.

Hal yang cukup njlimet di sini adalah menentukan finish line mana yang bakal Anda anut? 1 tahun? 5 tahun?10 juta pengguna? Di fase mana Anda harus menghemat napas dan di tikungan mana Anda mulai sprint.

Bagaimana menurut Anda? Apa yang Anda sebut sebagai diferensiasi?

PS:
Sebenarnya, saya lebih cenderung ke nomor 1. Sisanya adalah penjabaran dan detil poin tersebut. Setuju?

Copy Paste, Early 2011

Copy Paste, Early 2011

Tampaknya Microsoft belajar dari Apple dan Google. Copy Paste di Windows Phone 7 pun ditunda sampai awal 2011. Coba kita tebak kenapa fitur copy paste ini ditunda, tidak oleh satu tapi tiga perusahaan raksasa.

We Can Wait

Memang awalnya ada yang marah-marah, namun entah kenapa ternyata kita masih bisa hidup dengan ponsel pintar yang tak bisa melakukan copy paste. Somehow, kita rela beradaptasi dengan kekurangan dan lebih memerhatikan sisi unggul lain yang bisa kita eksploitasi. We Rule gak butuh copy paste bau!

Sama seperti multitasking. We can wait. Masih ada baterai yang lebih awet dan aplikasi yang jalan dengan cepat.

Getting The Platform Delivered. Fast!

Perang yang terjadi saat ini adalah perang platform dan aplikasi karena hardware sendiri sudah memasuki titik jenuh. Kecuali GPU mau masuk ke kancah mobile. Dengan dua raksasa telah mengeluarkan platform smartphone (saya tidak hitung Nokia dan Blackberry), Microsoft tentunya tak mau kehilangan momentum. Apalagi Facebook juga dirumorkan akan membuat ponsel pintar juga.

Prioritas utama tentunya menghantarkan platform tersebut secepatnya menemui sinar matahari. Semakin cepat SDK dan platform tersebut dihantarkan ke pasar semakin terbuka pula kesempatan bagi developer untuk meramaikan ekosistem dan pada ujungnya menarik konsumen untuk membeli Windows Phone 7. Application, application, application. Developer, developer, developer!

Copy Paste is Obsolete (soon)

Paling tidak di ponsel. Dari dulu kita tidak punya yang namanya copy paste di ponsel (yang bukan smartphone). Tapi kini karena smartphone sudah jadi PDA yang sebenar-benarnya Personal Digital Assistant kita jadi relatif memerlukan fitur ini. Blame the apps, andai ponsel tak sepintar sekarang, copy paste mungkin tak akan jadi isu internasional.

Namun, ada gejala bahwa copy paste akan jadi barang kuno. Di GMail kita sudah bisa melihat integrasi preview Youtube, Map dan Calendar. Tiga fitur tersebut biasanya kita capai outputnya secara manual dengan copy paste ke kotak URL. Tak perlu berkeringat lagi kini semantic processing sudah jauh lebih murah, copy paste pun tak diperlukan karena aplikasi sudah mengenali makna suatu teks. Copy paste direduksi menjadi kegiatan satu klik untuk mengarahkan substansi terkait ke pemroses yang lain. Kalender, Facebook, Twitter, Bookmark, you name it.

So, adakah fitur yang tengah menunda peluncuran produk Anda?
Monetizing Relevancy

Monetizing Relevancy

Artikel TheNextWeb tentang revenue dan relevansi benar-benar insightful. Banyak di antara kita yang cemas karena kesulitan menguangkan potensi yang kita punya (monetisasi). Meskipin kecemasan ini ada benarnya namun ada hal lain yang juga tak kalah penting: relevansi.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, early adopters bukanlah sebuah segmen pasar yang layak digarap. Perkaranya, early adopters adalah “banci daftar”. Semua hal baru akan dicoba dan gampang tega meninggalkan layanan lama yang tak lagi tampak keren. Dalam semalam, Friendster kembali jadi lahan gersang karena warganya bedol desa ke Facebook. Early adopters juga menyebalkan karena saat pindah tempat akan mengajak semua temannya untuk turut berpindah pula.

Relevan Terhadap Pelanggan

Dari ilustrasi singkat di atas kita bisa melihat bahwa relevansi adalah kunci utama dalam memikat pengguna. Keberadaan pengguna kemudian dieksploitasi untuk kepentingan finansial. Relevansi terhadap pengguna dicapai dan dipertahankan dengan dua hal. Pertama adalah penyelesaian pain point. Kedua adalah lewat gameplay. Pain Point adalah inti dari layanan kita. Pain point adalah relasi langsung antara produk dengan kebutuhan pelanggan. Sementara itu, gameplay membuat layanan kita selalu hip setiap saat. Tetap berguna dan tidak membosankan untuk dipakai.

Relevan Terhadap Advertiser (atau Sumber Dana Lain)

Selain relevan terhadap pelanggan, layanan kita tentunya juga harus relevan terhadap advertiser dan sumber pendanaan lain. Kalau terus-menerus mengikuti kata pelanggan, bisa-bisa kita terjebak kebangkrutan. Pelanggan memang raja, tapi harus diingat bahwa orientasi pelanggan dan pemilik bisnis itu ujungnya berbeda. Pemilik bisnis butuh profit, pelanggan butuh kepuasan. Bisa berjalan sejajar namun tak pernah berada di satu titik.

Menjaga relevansi dengan sumber pendanaan membuat layanan kita tetap bisa bertahan. Beberapa tipe konsumen mungkin tidak akan terpuaskan, tapi sebagian besar lagi tetap akan memakai layanan kita. Di titik ini kita harus memilih konsumen mana yang akan kita puaskan dan mana yang terpaksa kita abaikan. Relevansi terhadap sumber pendanaan harus selaras dengan relevansi dengan pelanggan. Jangan sampai segmen pelanggan tidak kompatibel dengan sumber pendanaan.

Relevant Terhadap Diri Sendiri

Yang ini lebih berhubungan dengan passion, namun tak kalah penting dengan dua relevansi di atas. Komitmen dan passion adalah hal penting dalam menjalankan usaha. Komitmen bisa dipaksakan, namun passion tak akan muncul jika produk yang kita buat tak relevan bagi diri kita sendiri. Relevansi di sini tidak dinilai dari pain point kita sebagai pelanggan namun lebih ditinjau dari nilai produk yang kita anggap penting.

Produk dan startupmu masih relevan?

Kenapa Semua Ingin Bangun Smartphone

Kenapa Semua Ingin Bangun Smartphone

image

Kenapa Facebook ingin membuat smartphone? Mungkin karena merasa punya value seperti google account atau itunes account. Bahwa ada banyak layanan lain yang ber-evolusi di sekitarnya.

Google

Google walau punya banyak tapi tak seluruhnya integrated. Tapi beberapa di antaranya menjadi core of our life. Eg: search, gmail, docs, calendar. Ketika Android muncul di tangan kita, atribut-atribut online kita mulai tersinkronisasi ke smartphone. Magic happens. The cloud is in our hand.

Apple iTunes

Itunes account? Tak banyak yang bisa saya bilang karena saya tak punya. Bagi banyak orang itunes is music dan itunes is app. Mac is itunes. Bagi warga klub apple, valuenya tak dipertanyakan. iPhone yang berkutat seputar aplikasi dan music. Perangkat bergerak ini  menjadi center of apple user’s life.

Facebook

Bagaimana dengan Facebook? Tampaknya Facebook juga ingin menjadi pusat hidup kita. Sudah banyak kegiatan kita yang terkait demgan Facebook. Tak semua dari kita, paling tidak yang sering memperbarui status, foto dan komentar. Facebook punya jaringan pertemanan. Bagi beberapa orang, ini adalah jaringan sesungguhnya dan bukan sekedar atribut sosial. Jaringan ini adalah potensi besar untuk direalisasikan lebih jauh. Sudah berhasil dengan game. Hal lain yang lebih riil dalam aktifitas sehari-hari pasti bisa mengikuti jalan yang sama.

Tapi apa iya Facebook punya cukup value untuk dijadikan core sebuah smartphone? Cukup dengan jaringan pertemanan? Bahkan bagi pemain mafia wars die-hard pun belum tentu berminat dengan facebook phone.

iPhone dan Android is about OS (and hardware) differences. App doesn’t really matter anymore. Kalau Facebook, mau bikin diferensiasi di mana? Apa core value-nya? Apa bisa jadi center of our life?

Bagaimana menurutmu? Facebok sudah punya alasan cukup untuk membangun smartphone? Mozilla memurutmu juga harus bangun smartphone juga?