Browsed by
Tag: Google Latitude

Menagih Janji Location Based Service

Menagih Janji Location Based Service

Location Based Service, pertama kita kenal lewat FourSquare. Yang kita dengar, seorang pengunjung rutin pub mendapatkan gelar Mayor karena frekuensi kunjungannya. Dan dengan gelar Mayor pub ini maka dia berhak akan reward sejumlah beberapa dollar atau layanan ekstra lain. Idealnya seperti itu, namun sejauh ini rasanya kita tak banyak mendapatkan manfaat kecuali kesenangan di milis dan mendapatkan badges dari layanan LBS ini.

Sebenarnya apa saja yang dijanjikan LBS dan bagaimana kenyataannya sampai hari ini?

Reward for Loyal Customer

Well, sebenarnya ini tidak dijanjikan oleh LBS langsung namun oleh para merchant yang memakai LBS untuk memasarkan atau menambah experience di produknya. Tapi ternyata sampai sekarang tidak banyak atau hampir tidak ada yang bisa memanfaatkan LBS dan memenuhi janji memanjakan loyal customer. Entah pendekatan pemakain LBS yang kurang tepat sehingga tidak ada pengunjung yang berpartisipasi dalam kampanye atau LBS memang sama sekali belum memenuhi kriteria layanan yang dicari merchant. Takut dengan jumper?

Connecting Near-by Friends

Salah satu janji LBS yang menarik adalah mempermudahkan pertemuan antar teman. Sering kita tak tahu ternyata teman-teman kita berada di tempat yang sedang kita kunjungi. LBS menjanjikan kita bisa lebih connect dengan teman-teman kita karena posisi tiap-tiap orang bisa terlacak.

Namun yang terjadi adakah kita justru memanfaatkan media lain (Twitter) untuk menyebarkan posisi kita dan mengatur pertemuan dengan teman. LBS tidak jadi core connecting tool. Yang menggagalkan janji LB ini bukan ketiadaan push notification tapi soal integrasinya dengan perangkat bergerak yang kita gunakan. Notifikasi diberikan saat teman kita checkin di suatu tempat namun kita sedang tidak di sana. Informasi ini terkadang jadi tak relevan dan tak tepat timingnya.

Push Near-by Promo

Masih ingat Minority Report? Saat iklan berganti begitu Tom Cruise melewati sebuah koridor. LBS juga punya janji untuk memenuhi kecanggihan itu. Namun lagi-lagi kita jarang mendengar kisahnya apalagi kisah sukses. Dengan berbekal lokasi pengguna, semestinya siapapun sudah bisa melakukan push-promo ke pengunjung yang lewat. Dari segi peminat pengiklan, pasti jumlahnya banyak. Lebih targeted secara lokasi yang berarti begitu bisa ditimbulkan keinginan untuk membeli maka tidak akan ada banyak halangan untuk terjadi konversi. Apa yang membuatnya tidak jalan?

The Game Changer

LBS adalah layanan yang menarik namun lahir prematur. Teknologi pendukungnya ada tapi belum benar-benar sempurna dan mencapai citical mass. Ada dua hal utama yang menghambat perkembangannya. Pertama dari sisi teknologi. GPS dan alat penentu lokasi lain belum terlekat secara default ke tiap perangkat bergerak. Pun terekat, konsumsi dayanya sering membuat orang sengaja mematikan fitur tersebut.

Saya membayangkan nantinya ada NFC (Near Field Communication) dengan dukungan range yang lebih dari 10cm. Terinstall di masing-masing merchant dan perangkat bergerak kita. Menjadi semacam sensor saat kita mendekat dan mengirimkan notifikasi tak mengganggu tentang diskon atau sisa reward point kita.

Faktor kedua yang menghambat perkembangan LBS adalah privasi. Auto-checkin pernah diperkenalkan oleh beberapa aplikasi LBS namun pemakainya masih agak enggan karena ada kekhawatiran tentang terbaginya data yang harusnya privat. Ada yang pakai? Data lokasi sepertinya perlu dibungkus dengan semacam OAuth dan merchant akan berperan sebagai aplikasi yang meminta permisi ke tiap akses lokasi. Dengan demikian kita bsia mengendalikan siapa saja yang otomatis bisa mengetahui lokasi kita.

Tanpa auto-checkin, LBS rasanya bak WiFi yang harus kita set setiap kali hendak dipakai. Menyebalkan, namun untungnya tidak demikian. Begitu kita datang, koneksi WiFi sudah langsung on dan kita bisa segera mengupdate status Facebook.

PS:

  • Sepertinya saya sempat mendengar ada Telco yang sudah melakukan push-promo berbasis lokasi. Ada yang bisa membantu dengan informasi lebih lanjut?
Google Has It All, But

Google Has It All, But

Saya bukan orang yang sangat up to date soal gadget. Well, saya baca beritanya tapi kalau soal experiencing the real device itu lain cerita. Ketelatan saya ini juga berlaku untuk Google Latitude, baru belakangan ini saya bisa mencoba karena ada gadget agak pintar yang bisa dimuati Google Latitude. Apakah Google Latitude sangat mengagumkan?

Untuk gadget yang tidak punya GPS, Google Latitude masih bisa berjalan dengan cukup baik. Tergantung kartu telco yang Anda pilih, posisi realtime bisa diplot dengan presisi lumayan tinggi. Lebih banyak BTS, lebih besar presisi yang Anda dapat.

Google Latitude menjadi sebuah layer tambahan pada Google Map, selain layer satelite dan traffic view. Seperti layaknya Google Map di desktop, Anda bisa menjadi jalur mencapai tempat tertentu. Dan karena Google Latitude sudah mengetahui posiis realtime Anda, Anda bisa menggunakannya sebagai titik awal untuk mencapai suatu tempat. Dan karena posisi kita bisa terupdate secara realtime, Google Latitude ini bisa dipakai seperti perangkat GPS untuk navigasi itu. That’s not all. Karena posisi teman-teman kita di Latitude juga terupdate secara realtime (by their choice), kita jadi mudah untuk mengatur kopdar.

Now, let’s visit Google latest rumour: Google Me. Apa sih yang bisa dilakukan Facebook tapi tidak bisa dilakukan Google? Apa yang bisa dilakukan Twitter yang tidak bisa dilakukan Google?

Latitude, by far is an awesome infrastructure for location based service. Google punya lebih dulu dari pada geolocation support dari Twitter. Google sudah punya petanya, informasi lalu lintass bahkan streetview. Untuk location based service, Google jauh lebih siap dari banyak nominasi yang lain.

Facebook stream? Friendfeed model is not a rocket science for Google (founder Friendfeed adalah jebolan Google). Walaupun Google sepertinya lebih tertarik ke masalah yang lebih pelik (mungkin karena Google cenderung selalu mengambil pendekatan akademis): realtime collaboration a.k.a Google Wave. Facebook Video, Google punya Youtube yang tiap iterasi tampak lebih menarik. Photos, Picasa tak terlalu tak terlalu populer tapi dekstop app-nya punya banyak kelebihan untuk masalah koleksi foto. Tambahan fitur face recognition beberapa waktu lalu di Picasa 3 jadi salah satu killer feature yang bisa banyak membantu kegiatan koleksi foto. Kita bisa punya virtual album berdasar wajah.

Apalagi yang diperlukan untuk social network? Network graph, Google punya social graph yang terintegrasi dengan layanan searchnya. Integrasi dengan layanan di luar Google juga tersedia lewat Buzz, albeit not much. Social graph ini juga menjadi lebih luas ketika pengguna melengkapi akun-akun social media dan social networknya di Google Profile.

Apa sih ya yang ditunggu Google? Mungkin Google sadar sekedar meniru Facebook tak akan memenangkan banyak orang. Mungkin Google masih menunggu saat yang tepat dan tiba-tiba: BOOM! Semua layanan Google yang sekarang tercerai berai di pelbagai segmen mulai terintegrasi satu persatu membentuk Google World. Google Me, all of google prop for me.

Punya bahan masak yang langka membuat koki punya dua pilihan. Pertama, memakai resep sama untuk membuat masakan dengan bahan terbaik demi memunculkan citarasa baru. Atau kedua, membuat resep yang sama sekali baru.

Menurutmu Google pilih yang mana?