Browsed by
Tag: google

Marketplace Chicken and Egg Problem

Marketplace Chicken and Egg Problem

Eggs of a Quail (Coturnix sp.), in comparison ...
Eggs of a Quail (Coturnix sp.), in comparison to a chicken’s egg. (Photo credit: Wikipedia)

Ini materi tahun 2012 sebenarnya tapi tetap ingin ditulis supaya tak terbuang percuma. Rumus umum tapi seringkali terlupa karena gegap gempita peluncuran produk atau panik tiba-tiba karena kemunculan kompetitor. Saya sebut chicken and egg problem karena memang tidak ada titik pasti di mana kita harus memulai. You can start anywhere but make sure to iterate.

It got to be purple!

Yes, no brainer lah ya kalau mau jualan apapun memang harus punya produk keren dulu. Tapi masalahnya kan kita belum tahu siapa sebenarnya konsumen kita. Apakah yang mirip dengan kita, teman kita, atau teman dari teman kita? Yang memulai dari titik ini biasanya memulai dengan produk yang ia sukai. Belum tentu keren bagi orang lain tapi ya we need to start somewhere.

Know your customer!

Masih ingat fish where the fish are? Tentu saja jika ingin mendapatkan ikan harus memancing di tempat yang ada ikannya. Barang yang kita jual boleh saja keren dan harganya miring, tapi kalau tidak ada yang tahu atau yang tahu justru yang tidak minat dengan barang tersebut ya wassalam. “Ikan” bisa dicari di Facebook, Google atau tempat lain yang menawarkan iklan berbasis segmentasi. Tapi hati-hati, jangan gegabah, karena sekali ikan gagal dipancing maka akan sulit untuk didatangkan lagi. Ikan sekarang pintar-pintar.

Measure and iterate!

Tetaplah bereksperimen untuk mendapatkan kombinasi terbaik dari barang dan segmen konsumen. Your goal is not to serve your ideal. Your goal is profit. Kalau harus pivot, ya lakukan pivot. Tapi jangan asal. Ukur dan ulang ukur. Pastikan kita paham kenapa kita ambil sebuah langkah dan bagaimana mengukur kesuksesannya.

Nah, itu rumus umumnya. Sekarang mari dibahas apa yang kira-kira dicari penjual dan pembeli.

Penjual mencari pembeli

Oh ya jelas ini. Tapi yang biasanya masih mencari adalah yang tak punya banyak pembeli. Yang sudah punya merek biasanya tak ngoyo karena pembeli sudah tahu di mana mencari mereka. Pain point merchant yang bergabung di marketplace adalah kurang pembeli. Ngapain saya pajang barang di situ kalau gak ada yang beli? Jadi ya pastikan marketplace yang dibuka banyak selalu banyak pembelinya. Ingat, pembeli ya, bukan visitor.

Pembeli mencari pembanding

Menyediakan yang dicari tidaklah cukup. Pembeli menunggu sampai merasa mantap (atau impulsif) untuk membeli. Karenanya, jangan lupa sediakan pembanding berupa variasi piihan atau spesifikasi yang lebih informatif. Jika hal ini tak berhasil membuahkan konversi, mungkin kita harus cek harga. Kalau mahal ya jangan berharap banyak yang beli. Rumus gampang-gampang susah. Tapi jual murah tak berarti harus rugi. Ingat FREE.

Last but not least, jika Anda akan menendang 2013 dengan sebuah startup baru, jangan lupa baca artikel pedas ini. Selamat tahun baru 2013!
Health Startup: MeetDoctor

Health Startup: MeetDoctor

Dunia kesehatan jarang punya start up. Pertama, mungkin karena pelakunya agak jauh dari hiruk pikuk IT atau bisnis IT. Kedua, orang non IT belum terpikir bagaimana mencari duit dari dokter-dokter yang sudah punya pendapatan tersendiri. Bukannya nambah pendapatan malah cuma nambah kerjaan.

Di luar negeri sih sebenarnya banyak startup di bidang kesehatan. Termasuk salah satunya adalah 23andme.com milik Anne Wojckiki (istri Sergey Brin). 23andme menyediakan layanan analisa DNA, monthly. Bagi saya, ini sudah berskala Google. Very serious. Yang lain masih banyak, seperti yang bisa dilihat di gambar di atas.

Di dalam negeri, saya baru menemukan beberapa saja misalnya: klikdokter.com, tanyadokter.com dan yang baru rilis beberapa waktu lalu yakni MeetDoctor.com. Dari model bisnisnya, sekilas semua masih berbentuk portal dengan tambahan rubrik konsultasi. Tidak ada yang salah, cuma apa memang tidak ada bentuk lain lagi?

Privacy issue

Mungkin membuat startup di bidang kesehatan ini serba beresiko. Setidaknya ada masalah privasi yang harus dilindungi. Sebelum dilindungi, prioritas pertama harusnya diedukasi. Dengan Facebook dan Twitter saja, banyak orang yang tidak paham bahwa semua yang mereka tulis akan terbaca oleh seluruh warga dunia. Beragam fakta dan peristiwa menjadi konsumsi publik. Isu kesehatan tentunya punya dampak tersendiri jika disebar bebas. Mungkin bisa membahayakan kelangsungan hidup seseorang secara tidak langsung. Pekerjaan bisa terancam, pertemanan bisa terganggu. Bukan karena kesehatan itu sendiri namun akibat tak langsung yang terjadi akibat persepsi orang lain yang tak ada relasinya dengan profesionalitas. Some information best kept secret (except with your doctor or psychiatrist, maybe)

Media offline tampaknya sudah paham perihal privasi ini. Setidaknya terbukti dari penyamaran nama dalam rubrik konsultasi. Meetdoctor sendiri mendukung pendaftaran lewat Facebook. Secara teknis akan meningkatkan user-friendliness, tapi di sisi lain jadi pengancam isu privasi. Dilematis karena tanpa nama asli, opini seseorang pun bisa terdistorsi.

Whom to trust

Kenapa user dengan nama “Bocah Ingusan” menjawab pertanyaan konsultasi saya? Apakah jawabannya valid? My life is on the line here. Buat anak kok coba-coba? Yang bener nih bro?. Beberapa kalimat barusan adalah gambaran komentar saudara yang saya minta melihat meetdoctor.com

User generated content, crowdsourcing, bukannya tak beresiko. Untuk memanen hasilnya diperlukan terpenuhinya suatu kuota. Dan ada formula yang harus dipakai untuk membuat kesimpulan, walau berbentuk sekedar rumus rata-rata. Jelas, untuk diskusi atau konsultasi tentang kesehatan juga memerlukan rumus tersendiri. Kita tak langsung menganggap jawaban pertama sebagai jawaban yang benar. Kita harus melihat pengalaman lain dan akhirnya berusaha menarik kesimpulan dengan menambahkan pengalaman kita sendiri. You see, it’s not easy.

Tanpa ada orang yang dipercaya, dikenal dan bisa dibuktikan keahliannya secara sistematis, maka meetdoctor dan juga rubrik konsultasi lain akan berhadapan dengan masalah trust.

What’s in it for the doctors?

Lalu dokternya dapat apa? Bukan hal yang bakal jadi perhatian pemakainya, tapi bakal menentukan kelangsungan hidup startup karena dokter adalah kata kunci dan produk utama di meetdoctor. Mungkin ada fee untuk planned appointment, tapi entah apakah sepadan dengan pendapatan lewat praktik offline 😀

Mungkin pengalaman offline/online ini bisa dibuat seamless. Konsultasi offline bisa dibawa online? Dan konsultasi online bisa dibawa offline? I wonder where the price will settle.

Personalization

Berita saja harus dipersonalisasi untuk menambahkan value. Apalagi dengan situs yang mengambil informasi dari interaksi penggunanya. Meetdoctor is clearly need to work more on it. Saat ini baru tersedia Activity yang mendaftar pertanyaan mana yang mendapatkan interaksi (dijawab oleh dokter atau pengguna lain). Mungkin akan lebih berguna jika diimplementasikan seperti conversation point. Saya cukup yakin tujuan awalnya adalah menvisualisasikan tanya jawab.

Situs-situs jaman dulu biasanya suka menanyakan hobi kita. Seperti hal ini bisa diadopsi oleh meetdoctor untuk memberikan news stream ke dashboard pengguna. Alih-alih mengarahkan user untuk join grup tertentu. Masalahnya bukan soal merepotkan pengguna, tapi informasi yang relevan belum tentu masuk dalam grup yang dikira. Informasi relevan bisa tersebar, mungkin dalam topik OOT sebuah thread konsultasi. Bagaimana pengguna bisa tahu informasi yang terselip semacam ini? Jawabannya satu: semantik.

So?

Cobalah berpartisipasi. Karena gratis, there’s nothing to lose untuk mencari informasi tentang topik kesehatan. Mari kita pantau, akan berevolusi seperti apa meetdoctor.com ini. Semakin niche atau menjadi portal? Karena founder-nya adalah seorang dokter dan ngeh dengan dunia IT, potensi yang terpendam masih besar.

PS:

Satu hal yang mengganggu saya. Ada dropdown kategori di form konsultasi. How the hell should I know which category my question belongs? Akhirnya, banyak tuh yang masuk kategori ADHD :D. My advice: Scrap it! Let the machine do this dirty work.

Google+ Recap: The Future is Voice

Google+ Recap: The Future is Voice

Jika Anda mendapati blog ini jarang diupdate, maka Anda benar. Satu dua kali saya mendapati keluhan: “terakhir di-update bulan Juni”. Sangat menarik dan bangga untuk mendapatkan keluhan seperti ini. Jarang-jarang seorang band mendapatkan teriakan “Encore”. Saya tak ingin berbesar kepala, tapi saya anggap saja ini memang teriakan “encore”. I can use anything to boost up my writing mood these days.

The truth is, writing about startups is like playing catching up with something that always running. It will never get done. On a business perspective, this is a very good asset. It made sure you have product to sell for a long period of time. But on other side, it demands a good preparation of fuel. Otherwise, you’ll be left out and losing the momentum. Just like what you see in this blog *big grin*

Fret not. The passion is not dead, yet. I still tweets, and recently plussing a lot as well. I still love to thinker with the same subjects that start this blog: marketing dan tech. I just watched a few episodes of Mad Men. It’s nice, which is a good sign. It’s recommended by people in agencies. Means, I’m still on my track with marketing subject.

Okay, to cure your “missing you” of NavinoT, and to fulfill the ‘encore” screams, here I recap some of (well, we’ll see if I can actually managed to write more than one) my posts in G+.

The Future Is Voice

It is interesting to see how lower economical class ppl have left sms and turn to voice, especially the seniors. It’s pretty much in opposite with the phone habit where ppl are afraid the (long distance or cellular) bill.

Maybe the future should have been voice-enabled technology. The telcos should realigning their data-is-future strategy. Those grassroot had helped blowing up twitter and facebook. Only God knows what they’ll do next.

Do you know any startup targetting seniors?

And I got comment from @amasna. YAY! You know you’re good if @amasna pays you a visit. To convince @amasna (and @richardfang) I told ’em I see the trend on the economy buses. I once afraid on using too much phoning, I still do. But those people I see are not afraid at all. Texting is second. There are two probable cause. One, voice is too cheap to meter than text. Second, the qwerty/keypad is just too small for them.

I consider this trend to be “enlighting”. It is a big shift in consumption behaviour. While youngster has been crowned as the most lucrative consumer, the seniors are a niche market. It will always be there. While young consumers are nasty to please (Oh God, just search Twitter on how they yawn, and curse your good enough product), seniors are easily identified by their physical limits. It’s a clear and well defined consumer. A sitting duck. How’s that sound?

Kalau tidak salah, di luar negeri saya pernah baca ada semacam Yahoo! Pipe untuk layanan voice, dan tahun lalu layanan serupa juga dibuat oleh founder lokal. Dua-duanya saya lupa nama produknya. Ada yang ingat?

PS:

In case you didn’t know, commenting on article will push it up. It’s like “Sundul” in Kaskus and “BUMP” in Koprol. Similar to G+ stream.

Photo: http://www.flickr.com/photos/whatmegsaid/3223533904/

Vertical Cloud Computing

Vertical Cloud Computing

Cloud computing dengan pembagai variasinya, SaaS, PaaS, IaaS sudah cukup sering kita dengar sehari-hari (walau tak sadar). Tapi entah kenapa saat Amazon mengumumkan EB (Elastic Beanstalk) ada sedikit perasaan excited yang tak bisa saya jelaskan penyebabnya.

Cloud Computing

Kita sudah terbiasa dengan e-mail semacam GMail, Live Mail ataupun Yahoo Mail. Google Docs, Zoho Docs dan beberapa variasi lain termasuk Google Apps dengan marketplacenya juga sering kita pakai, tanpa menyadari bahwa kesemuanya adalah layanan berbasis cloud computing.

Apa sih cloud computing? Apa yang membedakannya dengan model computing yang lain? Di artikel ZDNet ini disebutkan ada lima karakteristik cloud computing. Dua yang paling sering kita kenali adalah dynamic computing infrasturucture dan consumption based billing.

Dynamic computing infrastructure berarti kita bisa mendefinisikan secara run-time apa yang kita butuhkan. Suatu saat mungkin kita menyalakan 2 buah instan server untuk database dan web server. Saat kita melakukan launching produk kita kemudian menambahkan 2 buah instan server untuk mengantisipasi lonjakan traffic. Setelah itu 2 instan baru tadi bisa kita matikan kembali.

Consumption based billing tak perlu dijelaskan lagi. Meski tak semua pernah memakai EC2, pasti kita sudah familiar dengan konsep pay as you go-nya. Resource komputasi dihitung dalam satuan kecil sesuai pemakaian. Model semacam ini memungkinkan pengguna untuk melakukan estimasi budget secara akurat.

What is the big fuzz about EB?

Bagian paling menarik dari Elastic Beanstalk, menurut saya, adalah drop and deploy. EB menyediakan layanan “hosting” aplikasi java di atas Tomcat. Sebelumnya kita sudah akrab dengan layanan hosting LAMP atau IIS. Namun tidak ada solusi untuk maslaah High Availability di sana. Hosting umumnya hanya menyediakan storage terbatas, dan memori terbatas. Saat storage, memori atau cpu cycle tak lagi cukup maka kita harus berpindah paket yang mana bisa jadi sangat mahal.

Inti yang membuat cloud computing laku adalah sifat cloud computing yang IT service centric. Seperti slogan Debian, ada banyak tugas yang bisa dikerjakan sys admin selain mengurus server (terjemahan bebas), memang kita tak ingin mengurusi hal yang tak menjadi core business. Jika perusahaan minyak saya berkantor di gedung mewah, saya tak ingin pusing dengan masalah kebersihannya. Saya hanya ingin berurusan dengan minyak, titik.

Sebagai pengembang aplikasi tentunya kita juga tak ingin terlalu disibukkan oleh urusan infrastruktur. Membuat aplikasi sendiri sudah cukup susah apalagi harus mengurus infrastruktur. Infrastruktur harusnya bisa disetel auto-pilot.

Inilah yang berusaha diselesaikan oleh Amazon Elastic Beanstalk.

“You simply upload your application, and Elastic Beanstalk automatically handles the deployment details of capacity provisioning, load balancing, auto-scaling, and application health monitoring”

Voila. Vertical (Specialized) cloud. Autopilot on HA.

Where to go?

Amazon, Google, dan Microsoft punya tawarannya masing-masing terkait solusi data dan komputasi. Tapi solusi-solusi tersebut mengharuskan kita untuk belajar protokol baru. Bukannya belajar itu tidak baik tapi dari segi bisnis berarit diperlukan persyaratan tambahan untuk pindah ke cloud computing. Kita belum bisa secara mudah pada satu detik memindahkan proses bisnis kita ke cloud dan di detik selanjutnya memindahkannya kembali ke dalam data center kita. Either Amazon, Google dan Microsoft harus mencari pendekatan baru soal highly available dan scalable storage dan computing power atau kita sendiri yang mendorong protokol-protokol baru tadi menjadi sebuah standar.

Saya bermimpi dan berharap lebih banyak web app stack (populer) bisa diadopsi dan dibungkus seperti Elastic Beanstalk. Heroku (Rails), PHP Fog (PHP), AppHarbor (.NET), Amazon Elastic Beanstalk (Tomcat), Joyent (Free Node.js) dan entah apalagi setelah ini. Interesting times!

Kalau kamu, apa yang kamu inginkan dari cloud computing? How can it help you? Apa yang ingin kamu outsource ke cloud?

Giving Up

Giving Up

Ini bukan artikel perpisahan. Don’t worry be happy. Saya hendak membicarakan tentang beberapa hal yang selalu bsia ditemui di pelbagai buku yang saya baca. Terakhir saya menemukannya di buku What Would Google Do. Inti dari beberapa hal tersebut adalah: give your user (full) control.

Don’t get in the way

Penjabarannya bisa jadi banyak hal. Pertama adalah don’t get it the way. Pengguna menelusuri internet untuk melakukan sesuatu. Sebagian besar di antaranya adalah mencari jawaban atas permasalah yang sedang mereka hadapi. Bagi mereka waktu adalah komponen yang dinilai paling tinggi. Mereka tidak punya waktu luang untuk menelusuri setiap halaman di internet untuk mendapatkan jawaban.

Google mengerti hal ini. Google search engine is about speed and relevancy. Di masa awalnya, Google bisa membuat orang meninggalkan mesin pencari lain karena Google memberikan lebih banyak dokumen dan relevansi yang dicari pengguna. Jawaban selalu bisa ditemukan di halaman pertama. Google tidak menahan kita di halamannya, tapi segera mengantarkan kita ke tempat yang kita cari. Time is money.

Alltop memiliki prinsip sama. Sebagai rak majalah yang disinggahi untuk menemukan pelbagai hal menarik. Pembaca haus akan hal-hal baru. Mesin pencari tidak bisa mengakomodasi hal ini. Pembaca harus menentukan sendiri apa yang menarik dengan datang ke Alltop untuk melihat apa yang menarik di hari tersebut. Ketika mereka menemukannya, mereka akan segera beranjak dari Alltop menuju tempat yang menyediakan konten tersebut.

Give them the tools

Sejaan dengan Tribe, yang diperlukan untuk membentuk sebuah komunitas adalah suatu perangkat dan ketentuan yang bisa dijadikan alat interaksi dan komunikasi.

Jimmy Wales tahu betapa Encarta dan ensiklopedia lain terlalu lambat dalam memperbarui kontennya. Belum lagi adanya keterbatasan tempat untuk menampung hal-hal penting bagi semua orang. Inilah kenapa Wikipedia bisa diterima. Pengguna sudah gatal untuk mengkoreksi kesalahan dan menambahkan banyak hal yang tak pernah masuk dalam ensiklopedia cetak.

Squidoo mengambil konsep yang mirip, memberikan fasilitas pada penggunanya untuk mengumpulkan materi-materi dengan tujuan melihat lebih dalam pada suatu topik khusus. Squidoo tidak bisa take-off sebaik Wikipedia, walau secara teori memang ada kebutuhan untuk menyatukan pelbagai materi terpisah di internet dalam sebuah topik khusus.

The Best Strategy: Giving Up

jadi strategi terbaik dalam memenangkan pengguna adalah strategi menyerah. Pemilik situs harus menyerahakan semuanya pada pengguna. Tidak dalam hal kontrol atas arahan produk tapi pada kebebasan penggunaan produk. Youtube lebih menarik kalau kita bisa mengunggah semua video, termasuk klip musik dan hal-hal lain yang diklaim sebaga properti intelektual perusahaan rekaman tertentu. ThePirateBay harusnya tidak di-takedown.

Feed reader seperti feedly lebih menyenangkan dari pada porta berita karena kita bisa mengatur apa yang hendak kita baca. Andaikan tidak ada iklan yang membuat kuota bandwidth kita cepat habis dan berefek samping sakit mata. Ada banyak hal yang tidak bisa kita tentukan, mana yang terbaik bagi pengguna. Pengguna lebih tahu selera mereka, kita hanya bisa membantu menyediakan fasilitas yang memudahkan mereka melakukan aktivitasnya dalam cara mereka sendiri. Don’t be a smartass.

Anda siap menyerah?

PS:

Salah satu strategi menyerah paling baru: Montage

Kenapa Semua Ingin Bangun Smartphone

Kenapa Semua Ingin Bangun Smartphone

image

Kenapa Facebook ingin membuat smartphone? Mungkin karena merasa punya value seperti google account atau itunes account. Bahwa ada banyak layanan lain yang ber-evolusi di sekitarnya.

Google

Google walau punya banyak tapi tak seluruhnya integrated. Tapi beberapa di antaranya menjadi core of our life. Eg: search, gmail, docs, calendar. Ketika Android muncul di tangan kita, atribut-atribut online kita mulai tersinkronisasi ke smartphone. Magic happens. The cloud is in our hand.

Apple iTunes

Itunes account? Tak banyak yang bisa saya bilang karena saya tak punya. Bagi banyak orang itunes is music dan itunes is app. Mac is itunes. Bagi warga klub apple, valuenya tak dipertanyakan. iPhone yang berkutat seputar aplikasi dan music. Perangkat bergerak ini  menjadi center of apple user’s life.

Facebook

Bagaimana dengan Facebook? Tampaknya Facebook juga ingin menjadi pusat hidup kita. Sudah banyak kegiatan kita yang terkait demgan Facebook. Tak semua dari kita, paling tidak yang sering memperbarui status, foto dan komentar. Facebook punya jaringan pertemanan. Bagi beberapa orang, ini adalah jaringan sesungguhnya dan bukan sekedar atribut sosial. Jaringan ini adalah potensi besar untuk direalisasikan lebih jauh. Sudah berhasil dengan game. Hal lain yang lebih riil dalam aktifitas sehari-hari pasti bisa mengikuti jalan yang sama.

Tapi apa iya Facebook punya cukup value untuk dijadikan core sebuah smartphone? Cukup dengan jaringan pertemanan? Bahkan bagi pemain mafia wars die-hard pun belum tentu berminat dengan facebook phone.

iPhone dan Android is about OS (and hardware) differences. App doesn’t really matter anymore. Kalau Facebook, mau bikin diferensiasi di mana? Apa core value-nya? Apa bisa jadi center of our life?

Bagaimana menurutmu? Facebok sudah punya alasan cukup untuk membangun smartphone? Mozilla memurutmu juga harus bangun smartphone juga?

Ping. Get It?

Ping. Get It?

Apakah Apple berpikir bahwa Apple bisa menyalin strategi Facebook? Apakah ini bukti pengakuan Apple atas dominasi Facebook? Kenapa dibuat social network di atas iTunes? Apakah Apple punya Social DNA?

Social DNA

Pertanyaan yang sering muncul beberapa waktu lalu sampai sekarang adalah: apakah Google punya social DNA? Google tak pernah sukses membuat produk berbasis social network. Orkut memang tidak dimatikan, tapi juga tidak sukses di secara global. Kecuali di Brazil. Google Buzz juga tak menuai sukses. Yang muncul justru isu privacy akibat Google “terlalu pintar” dalam menghubungkan pengguna-penggunanya secara otomatis sebagai teman. Yang masih kita tunggu adalah Google Me — sebuah usaha lain dari Google untuk masuk ke pasar social network. Dengan pendekatannya yang selalu scientific, aneh juga kenapa produkya tidak take off. Mungkin karena misleading numbers.

Here Comes $APPL

Baru saja, Apple merilis produk-produk baru terkait musik (dan hiburan). iPod Nano baru yang berbentuk iPod shuffle dengan multitouch. Mengingatkan saya dengan produk-produk Google: amazing but not necessarily useful (hint: Wave). Apple TV yang seperempat lebih kecil dari generasi sebelumnya, tampaknya tak ingin melewatkan gelombang set top box 2.0 yang tampak jelas akan ditunggangi oleh Google, Boxee, dll. Dan yang sama sekali baru: Ping. Social network yang dibangun di atas iTunes. Mencoba memberikan value baru lewat mengikuti update dari artis dan teman-teman seputar musik. Tujuan akhirnya tetap diarahkan ke sales dengan jalan menempatkan tombol buy di semua sudut yang memungkinkan.

Is it Facebook or Is It Last.fm?

UI dari Ping (kata orang) tampak seperti peranakan dari Twitter dan Facebook. Pengguna bisa melakukan follow dan menerima updates. Jika Anda bertanya apa lagi fiturnya, saya tak bisa menjawab karena mungkin hanya (sebegitu fokus) itu fiturnya. Apakah Anda bingung siapa yang hendak dihajar Apple kali ini? Facebook atau Last.fm? Atau seperti kemunculan iPad? Bahwa Apple berusaha fill in the gap? Last.fm kurang social dan Facebook tidak menggubris musik. Beberapa orang meragukan bahwa Ping adalah platform yang benar-benar ditujukan ke social network. Sebagian melihat ini hanya strategi sales saja. Saya lebih setuju yang terakhir.

Menurutmu, kenapa Apple tak membeli Last.fm saja? Siapa saja sih perusahaan yang mempunyai Social DNA?

Early Adopters? Not a Market.

Early Adopters? Not a Market.

Google Wave is (almost) dead. Jumlah adopsi yang terjadi ternyata jauh di bawah harapan. Google pun akhirnya memutuskan untuk menghentikan pengembangannya sebagai produk standalone. What did go wrong? Sebagian mungkin ada hubungannya dengan early adopters. Apakah kita harus menarget early adopter?

Early Adopting is a Habit

Early Adopter bukanlah pengguna. Early Adopting adalah perwujudan hobi. Keingintahuan yang berulang akan produk-produk baru yang dikeluarkan perusahaan terkenal atau disebut-sebut oleh pimpinan tribe. Early adopting is not really a need walau sebenarnya sudah seperti bentuk ketagihan. Jika early adopting disebut kebutuhan maka kebutuhan ini tergolong kebutuhan tersier. Pemenuhannya tergantung dari banyak faktor. Prioritasnya ada di bagian paling bawah.

Early Adopter Will Leave You

Logis. Karena early adopter adalah orang dengan hobi bukan orang dengan kebutuhan maka tentu saja produk Anda akan ditinggalkan. Konsumen bertipe early adopter adalah para “pemberani” yang mau mencoba dan mau bertoleransi terhadap beberapa kekurangan hanya demi merasakan menjadi yang pertama. Jika produk kita didesain hanya untuk orang-orang ini maka ketika mereka sudah memperoleh kepuasan menjadi yang pertama, produk Anda pun akan segera ditinggalkan. Konsekuensinya, produk kita tidak boleh berhenti dipoles sampai kondisi memuaskan bagi early adopter saja.

Early Adopter is a Rocket Launcher

Early Adopting adalah fase euforia. Orang memakai produk karena orang lain telah memakai produk tersebut. Ketika pimpinan tribe tidak lagi membicarakannya maka hilang pula selera orang-orang terhadap produk tersebut.

Ibarat peluncur roket, early adopter akan melontarkan produk Anda setinggi mungkin. But, that’s it. Selanjutnya akan ditentukan oleh: apakah produk Anda memiliki sayap untuk tetap terbang? Apakah produk Anda punya bahan bakar lebih untuk tetap mengorbit.

Fase euforia tak bertahan lama. Mendapatkan fase euforia pun tidak gampang. Sekali kita berhasil memindahkan produk kita ke dalam fase ini sebaiknya kita sudah siap dengan rencana untuk membuatnya bertahan lama sekaligus bersiap mengorbit sendiri tanpa tenaga early adopters.

Are you ready?

Google Has It All, But

Google Has It All, But

Saya bukan orang yang sangat up to date soal gadget. Well, saya baca beritanya tapi kalau soal experiencing the real device itu lain cerita. Ketelatan saya ini juga berlaku untuk Google Latitude, baru belakangan ini saya bisa mencoba karena ada gadget agak pintar yang bisa dimuati Google Latitude. Apakah Google Latitude sangat mengagumkan?

Untuk gadget yang tidak punya GPS, Google Latitude masih bisa berjalan dengan cukup baik. Tergantung kartu telco yang Anda pilih, posisi realtime bisa diplot dengan presisi lumayan tinggi. Lebih banyak BTS, lebih besar presisi yang Anda dapat.

Google Latitude menjadi sebuah layer tambahan pada Google Map, selain layer satelite dan traffic view. Seperti layaknya Google Map di desktop, Anda bisa menjadi jalur mencapai tempat tertentu. Dan karena Google Latitude sudah mengetahui posiis realtime Anda, Anda bisa menggunakannya sebagai titik awal untuk mencapai suatu tempat. Dan karena posisi kita bisa terupdate secara realtime, Google Latitude ini bisa dipakai seperti perangkat GPS untuk navigasi itu. That’s not all. Karena posisi teman-teman kita di Latitude juga terupdate secara realtime (by their choice), kita jadi mudah untuk mengatur kopdar.

Now, let’s visit Google latest rumour: Google Me. Apa sih yang bisa dilakukan Facebook tapi tidak bisa dilakukan Google? Apa yang bisa dilakukan Twitter yang tidak bisa dilakukan Google?

Latitude, by far is an awesome infrastructure for location based service. Google punya lebih dulu dari pada geolocation support dari Twitter. Google sudah punya petanya, informasi lalu lintass bahkan streetview. Untuk location based service, Google jauh lebih siap dari banyak nominasi yang lain.

Facebook stream? Friendfeed model is not a rocket science for Google (founder Friendfeed adalah jebolan Google). Walaupun Google sepertinya lebih tertarik ke masalah yang lebih pelik (mungkin karena Google cenderung selalu mengambil pendekatan akademis): realtime collaboration a.k.a Google Wave. Facebook Video, Google punya Youtube yang tiap iterasi tampak lebih menarik. Photos, Picasa tak terlalu tak terlalu populer tapi dekstop app-nya punya banyak kelebihan untuk masalah koleksi foto. Tambahan fitur face recognition beberapa waktu lalu di Picasa 3 jadi salah satu killer feature yang bisa banyak membantu kegiatan koleksi foto. Kita bisa punya virtual album berdasar wajah.

Apalagi yang diperlukan untuk social network? Network graph, Google punya social graph yang terintegrasi dengan layanan searchnya. Integrasi dengan layanan di luar Google juga tersedia lewat Buzz, albeit not much. Social graph ini juga menjadi lebih luas ketika pengguna melengkapi akun-akun social media dan social networknya di Google Profile.

Apa sih ya yang ditunggu Google? Mungkin Google sadar sekedar meniru Facebook tak akan memenangkan banyak orang. Mungkin Google masih menunggu saat yang tepat dan tiba-tiba: BOOM! Semua layanan Google yang sekarang tercerai berai di pelbagai segmen mulai terintegrasi satu persatu membentuk Google World. Google Me, all of google prop for me.

Punya bahan masak yang langka membuat koki punya dua pilihan. Pertama, memakai resep sama untuk membuat masakan dengan bahan terbaik demi memunculkan citarasa baru. Atau kedua, membuat resep yang sama sekali baru.

Menurutmu Google pilih yang mana?

Chrome Party Jakarta, What Can You Tell From

Chrome Party Jakarta, What Can You Tell From

Tanggal 22 Juni kemarin saya mendapat undangan untuk hadir di acara peluncuran produk Google. Tidak dituliskan produk apa yang akan diluncurkan. Dan tenyata setelah sampai di sana saya baru sadar ini adalah “chrome party”. Tradisi yang mirip dengan peluncuran Ubuntu terbaru atau Firefox paling gres. Jika Firefox dan Ubuntu sudah punya representasi resmi di Indonesia, lain halnya dengan Chrome.

Chrome Resmi Masuk Indonesia

Ruangan di chrome party diset seperti galeri. Tidak ada lukisan yang dipajang namun sebagai gantinya kita bisa melihat theme Chrome bernuansa lokal yang ditempel di dinding lorong masuk ruangan. Peserta chrome party juga mendapat kesempatan difoto dengan frame Chrome yang memuat halaman Youtube. Hasilnya kita seperti sedang tampil dalam video Youtube, dalam Google Chrome browser.

Ditandai dengan theme sepert Bambang Pamungkas, Benny & Mice, Dian Sastro dan Darbots, Chrome meresmikan eksistensi dirinya dalam komunitas internet Indonesia. Beberapa situs besar juga digandeng lewat penyediaan extension, antara lain: Kaskus, Kapan Lagi, Detik, dan 21Cineplex. berbagai tema lokal tersebut bisa diunduh di halaman resmi Chrome untuk Indonesia: http://google.co.id/chrome

We Are Here Not For Market Domination

Paling tidak begitulah kata Product Manager Chrome untuk South Asia. Dan ini bukan cerita baru. Beberapa kali saya dengar ambisinya memang bukan market domination — walau hasil akhirnya adalah market domination juga. Google is trying to is push the culture and technology. Dengan menciptakan product baru yang keren dan beberapa kali mengubah standar, Google mendorong iklim kompetisi dan akhirnya meningkatkan kualitas standar sebuah lini produk. Google Mail dengan kemampuan offline, javascript intensive, conversation UI dll membuat produsen browser sadar bahwa dengan support teknologi yang baik akan dihasilkan produk yang baik juga. Konsumen juga secara tidak langsung teredukasi untuk meninggalkan browser purbakala. This is how they kill IE6.

Lalu untuk pasar Indonesia, apa yang hendak disampaikan? Mungkin sekedar memberi tahu para pengguna internet bahwa jika mereka sudah akrab dengan GMail, mereka mestinya mencoba Chrome. Chrome is as good as GMail. Google tahu bahwa banyak di antara kita yang tidak bisa membedakan mail client dengan outlook atau gmail atau yahoo mail. Dan juga tak bisa membedakan antara internet, search engine dan browser. Chrome is now your internet 😀

Next Step For Google?

Dominasi Indonesia di dunia intenet internasional sudah sangat terkenal. Langkah perkenalan browser ini hanya testing the water. Google pastinya punya banyak rencana untuk tapping Indonesian market. It’s no brainer. Pemasaran Chrome secara resmi di Indonesia akan menjadi salah satu channel Google dalam mendalami secara langsung market di Indonesia. Dan karena mobile internet sedang tren juga, next step rasanya bakal jadi obvious: Android. Dan layaknya seperti yang dilakukan Google dengan Chrome, Android akan di-push bukan sebagai henpon atau gadget lain tapi sebagai the mobile internet itself.

BTW, hari ini kabarnya jadi hari resmi dimana media partner Google akan promo Chrome versi Indonesia.

PS:

Tema lokal bisa diunduh di https://tools.google.com/chrome/intl/id/themes/index.html

Chrome juga sudah dibundel lewat modem AHA, lho.