Browsed by
Tag: insentive

Mencari Insentif yang Tepat

Mencari Insentif yang Tepat

Halloween

Banyak yang berkata jangan libatkan uang di masa awal mengawali sesuatu karena uang bisa merusak semangat yang ada. Apa sebenarnya yang menjadi esensi pepatah atau keyakinan tersebut? Uang itu buruk? Kurang tepat. Yang lebih tepat adalah uang tidak selalu jadi hal yang pas sebagai insentif semua hal.

Joko Anwar dan Circle K

Kenapa orang percaya pada janji @jokoanwar beberapa waktu lalu? Bahkan tidak banyak orang yang tidak mengenal Joko Anwar. Ada yang berpikir tidak ada salahnya menjadi follower dan nothing to lose kalau pun Joko Anwar tidak menepati janji. Sementara yang lain sama sekali tak percaya dengan omong kosong tersebut.

Ternyata prasyarat “cause” terpenuhi dan Joko Anwar pun memenuhi janji. Joko Anwar ternyata telah menemukan insentif yang pas untuk menggerakkan massa.

How to find the right insentive for my cause?

Klik atau follow yang tampaknya murah ternyata juga tidak semudah itu bisa didapat. Untuk menggerakkan massa terkadang bisa seharga ledakan bom atau konflik dengan negara tetangga.

Seperti yang bisa kita amati di dunia nyata, insentif berhubungan dengan trust. Semakin pembeli percaya pada penjual, kegiatan tawar menawar semakin berkurang. Insentif untuk mengeluarkan uang semakin kecil. Insentif di sini bukan harga barang tapi ongkos yang dibayarkan pada pembeli, oleh penjual supaya barangnya dibeli.

Tapi trust sepertinya hanya jadi salah satu komponen saja dan tidak selalu berlaku dalam setiap cause.

Bagaimana dengan cause yang lain?

Cause “berkomentar di blog Anda” misalnya. Pembaca akan menaruh komentar di blog dengan berbagai alasan. Bisa jadi dalam rangka bertanya karena ketidaktahuan. Mungkin karena ingin mengkoreksi. Mungkin karena gatal dengan typo yang Anda lakukan. Insentifnya adalah menjadi tahu, menuaikan kewajiban mengkoreksi, dan memperoleh kelegaan dari perasaan sebal akibat typo.

Aneh kan? Anda tidak mengeluarkan insentif berupa uang supaya pembaca mau berkomentar. Yang Anda lakukan justru memberikan ketidaknyamanan pada pembaca sehingga pembaca mau berkomentar demi insentif kenyamanan pada dirinya sendiri.

Bingung? Hal ini memang menarik untuk didiskusikan. Kolom komentar sudah gatal menanti respon Anda. Trackback untuk respon yang lebih panjang juga selalu terbuka. Sengaja saya hanya membahas contoh yang mudah, yang susah saya serahkan pada Anda (supaya gatal sendiri)