Browsed by
Tag: kaskus

Google+ Recap: The Future is Voice

Google+ Recap: The Future is Voice

Jika Anda mendapati blog ini jarang diupdate, maka Anda benar. Satu dua kali saya mendapati keluhan: “terakhir di-update bulan Juni”. Sangat menarik dan bangga untuk mendapatkan keluhan seperti ini. Jarang-jarang seorang band mendapatkan teriakan “Encore”. Saya tak ingin berbesar kepala, tapi saya anggap saja ini memang teriakan “encore”. I can use anything to boost up my writing mood these days.

The truth is, writing about startups is like playing catching up with something that always running. It will never get done. On a business perspective, this is a very good asset. It made sure you have product to sell for a long period of time. But on other side, it demands a good preparation of fuel. Otherwise, you’ll be left out and losing the momentum. Just like what you see in this blog *big grin*

Fret not. The passion is not dead, yet. I still tweets, and recently plussing a lot as well. I still love to thinker with the same subjects that start this blog: marketing dan tech. I just watched a few episodes of Mad Men. It’s nice, which is a good sign. It’s recommended by people in agencies. Means, I’m still on my track with marketing subject.

Okay, to cure your “missing you” of NavinoT, and to fulfill the ‘encore” screams, here I recap some of (well, we’ll see if I can actually managed to write more than one) my posts in G+.

The Future Is Voice

It is interesting to see how lower economical class ppl have left sms and turn to voice, especially the seniors. It’s pretty much in opposite with the phone habit where ppl are afraid the (long distance or cellular) bill.

Maybe the future should have been voice-enabled technology. The telcos should realigning their data-is-future strategy. Those grassroot had helped blowing up twitter and facebook. Only God knows what they’ll do next.

Do you know any startup targetting seniors?

And I got comment from @amasna. YAY! You know you’re good if @amasna pays you a visit. To convince @amasna (and @richardfang) I told ’em I see the trend on the economy buses. I once afraid on using too much phoning, I still do. But those people I see are not afraid at all. Texting is second. There are two probable cause. One, voice is too cheap to meter than text. Second, the qwerty/keypad is just too small for them.

I consider this trend to be “enlighting”. It is a big shift in consumption behaviour. While youngster has been crowned as the most lucrative consumer, the seniors are a niche market. It will always be there. While young consumers are nasty to please (Oh God, just search Twitter on how they yawn, and curse your good enough product), seniors are easily identified by their physical limits. It’s a clear and well defined consumer. A sitting duck. How’s that sound?

Kalau tidak salah, di luar negeri saya pernah baca ada semacam Yahoo! Pipe untuk layanan voice, dan tahun lalu layanan serupa juga dibuat oleh founder lokal. Dua-duanya saya lupa nama produknya. Ada yang ingat?

PS:

In case you didn’t know, commenting on article will push it up. It’s like “Sundul” in Kaskus and “BUMP” in Koprol. Similar to G+ stream.

Photo: http://www.flickr.com/photos/whatmegsaid/3223533904/

SparxUp 2010: Small is The New Big

SparxUp 2010: Small is The New Big

Kalau Anda baru mendengar tagline ini dari SparxUp 2010, you’ve missed the whole world. Small is the new big adalah judul buku karangan Seth Godin. Bagi saya, buku ini memperlihatkan bahwa marketing itu tak seperti yang saya lihat dan saya benci. Kalau Anda benci dengan marketing dan praktiknya yang mengganggu Anda, go grab this book.

What is it?

So, what’s up with SparxUp? SparxUp, bagi yang belum dengar buzz-nya, adalah event yang didedikasikan bagi gerakan startup di Indonesia yang saat ini sedang bergelegak. Jika sebelumnya para digital creative kita harus jauh-jauh pergi ke Singapur untuk pitching demi sorotan di panggung dan mendapatkan investasi, kini mereka bisa menghemat biaya dan berpartisipasi di event lokal ini.

Sejumlah pemain lokal dengan kriteria tertentu (yang jelas bukan established company dan revenue masih tergolong kecil) mendaftarkan diri ke event ini dan berharap bisa lolos untuk pitching di hadapan dewan juri. Pemenangnya tentu akan mendapatkan “segala”-nya. Sorotan media dan kartu nama dari para investor lokal pasti berdatangan.

How is it going?

Jumat malam, Nov 5th 2010, para finalis dari pelbagai kategori berusaha memikat juri dengan pitch terbaiknya. Hanya 5 menit presentasi dan ditambah dengan 3 menit untuk sesi tanya jawab dengan juri. Tiap kategori akan punya juri yang berbeda. Which is good karena otoritas di tiap bidangnya akan terjaga namun bisa berdampak kurang baik juga bagi kontestan karena mereka semua akan dinilai dengan standar yang berbeda-beda.

Ada 24 finalist yang bersaing di level ini untuk memperebutkan Best Raising Star dan Most Promising Startup. Sepertinya pemenang dari tiap kategori akan melakukan pitch final atau justru langsung diambil pemenangnya berdasar nilai lintas kategori.

The Value

Bagi startup yang baru saja dieksekusi atau malah baru digodok, tentunya sorotan yang dihasilkan event ini bisa membantu mempertemukan dengan calon investor atau pengguna baru. Ide cemerlang yang sekarang masih tampak usang bisa dideteksi oleh investor dan dalam beberapa bulan tiba-tiba bisa menyalip yang sebelumnya mulai duluan. You’ll never know.

Bagi startup yang sudah established, semacam gantibaju, event semacam ini akan membuka jalan ke partner-partner baru. Tidak akan jadi dominasi pemain online tapi akan mulai “turun” ke level offline. Local businesses pasti bisa mencium manfaat startup clothing-line ini. And I hope their platform is ready for this.

Few leaks

Tak seru kalau event ini tidak diwarnai gosip dan info terkini. Berikut ini beberapa catatan menarik dari SparxUp pitch event.:

Kaskus Commerce Platform. Sewaktu krazymarket naik panggung, @adarwis tak sengaja membocorkan keinginan Kaskus untuk bergerak lebih jauh dari sekedar Kaspay. Kaskus juga ingin membangung e-commerce platformnya sendiri. Cukup obvious karena keberadaan FJB bukan cuma soal rekening bersama, tapi justru interaksi di dalamnya. Namun cukup mengagetkan karena sudah dibocorkan saat ini. Saya berharap mereka sudah 90% ready jika tak ingin ditinggal pemain lain yang pastinya segera ngebut di tikungan.

Parampaa itu bikin frustrasi. Daniel Armanto dati Koprol bilang di level 2 Parampaa dia tahu bahwa dia tak bakal bisa menang. LOL. Well, Parampaa sepertinya game yang sangat bagus untuk melatih kita berpikir di luar kerangka standar. Saat ini tidak ada target untuk membuat revenue, hanya berorientasi membuat orang tersenyum saja. But obviously, teka-teki parampaa yang membingungkan itu pasti bisa jadi layanan premium. Soal-soal khusus, dengan kerjasama pihak akademis — yang pastinya bakal tertarik — bisa dijadikan materi uji psikologis atau training. Pastinya ini perlu pengaturan pemilihan dan pengurutan teka-teka which is exactly why it can go commercial. *culek @masova*

Next two things from Gantibaju. Job Marketplace dan Social Marketplace. Job marketplace ini sudah jelas fungsinya bagi para designer yang nampang di gantibaju. Sedang social marketplace, ini konsepnya belum sepenuhnya dijabarkan. Dalam pitch dikatakan bahwa kasus penggunaannya adalah untuk menjual karya yang tak lolos penjurian (tak tercetak oleh gantibaju). Interesting to see, kira-kira kasus jualan desainnya seperti apa variasinya.

Hmm, apa catatan menarikmu?

Apapun Bisa Jadi Platform

Apapun Bisa Jadi Platform

Platform Construction

Tepatnya jika kita tahu hal apa yang bisa jadi pondasi utama. Yahoo Messenger punya plugin dan SDK yang terbuka. Chat dalam Yahoo Messenger adalah pondasi utama dan sistem plugin menjadikannya sebuah platform bertumbuh bagi pihak ketiga. Firefox memiliki hal yang serupa.

Masih ingat Chat Plus yang jadi jawara Open Hack Day? Prinsip aplikasinya cukup sederhana tapi fungsionalitasnya benar-benar terasa. Dan jika Anda perhatikan selain fitur chat ada juga gambar dari Flickr, map dari Yahoo dan lain-lain yang ditempelkan dalam rangka menambahkan experience pengguna. Tempelan-tempelan ini tersambung dan beroperasi berdasar teks chat. Chat Plus adalah platform, in its early days.

Build on something great

Salah satu secret sauce membuat platform adalah harus ada unsur greatness dalam pondasi utamanya. Firefox sangat hebat dalam urusan browsing. Firefox benar-benar jadi WYSIWYG bagi web developer. Apa yang kita tulis benar-benar jadi seperti apa yang kita harapkan. Javascriptnya pun standard.

Dari greatness ini banyak yang mendapat harapan baru. Pustaka javascript yang serius pun bertumbuh, tidak lagi jadi sekedar side dish yang messy. Tidak hanya addon, bahkan hal lain yang tidak langsung berhubungan dengan Firefox juga ikut berkembang. Firefox is a platform.

Make it open

Yang ini tentunya no-brainer. Jika kita tak memberikan tempat untuk tumbuh bagaimana mungkin kita bisa jadi platform? Harus ada suatu komponen yang terbuka baik disengaja atau tidak. Harus ada sesuatu yang menghubungkan platform dengan dunia luar yang terbebas dari kontrol pemilik platform. Dalam banyak kasus, komponen konektor ini adalah API.

Facebook menyediakan konektor berupa canvas dan API supaya pihak ketiga bisa menempel. Facebook app memanfaatkan keterbukaan canvas dan API ini untuk membangun something big yang bahkan bisa menjadi another platform.

Make it easy

Kalau saja Firefox hanya membuka diri dalam bentuk C++, mungkin ceritanya akan berbeda dengan yang kita tahu hari ini. Untungnya Firefox membuka diri dalam bentuk Javascript, dan bahkan UI-nya disusun dengan XUL (subset XML). Dua teknologi ini lebih mudah dicerna dari pada C++. Akibatnya proses tumbuhnya pihak ketiga menjadi lebih cepat. Tak bisa kita bayangkan seumpama sebuah aplikasi membuka diri namun hanya dalam bentuk bahasa assembler. Ouch.

Oleh karena itu, banyak pemain besar yang berusaha menyediakan sebanyak mungkin dukungan bahasa perograman untuk API-nya. Tujuannya adalah mengakselerasi pertumbuhan pihak ketiga dan mematangkan platformnya.

Oke sekarang pertanyaan buat pembaca. Apakah Kaskus dengan Kaspay dan Kaskus API akan bisa mengubah Kaskus dari forum yang great menjadi sebuah platform? Menurut Anda apakah blog juga bisa diubah menjadi sebuah platform?

Dear Giant, Kaspay is Coming!

Dear Giant, Kaspay is Coming!

davidgoliath

Melanjutkan topik raksasa kemarin, banyak yang yakin akan masa depan e-commerce sebagai kelanjutan dari dunia internet Indonesia. Tentunya dari segala jenis business model yang bertahan di era dotcom bubble, e-commerce (Amazon & eBay) termasuk salah satu yang bertahan. Namun e-commerce sendiri termasuk kompleks dan penuh dengan regulasi pemerintah, terutama dalam masalah transaksi dan pembayaran.

Read More Read More

Monetize Now or Monetize Later?

Monetize Now or Monetize Later?

camel

Saya rasa saya telah pernah menulis sebelumnya, Flickr tidaklah dimulai dengan Flickr sebagai tempat menunggah dan berbagai foto yang murah hati dan enak dipakai. Kenapa Flickr menjadi Flickr yang sekarang ini? Memang dulunya Flickr itu situs apa?

Flickr dimulai dengan FlickrLive, sebuah sarana pertukaran foto secara realtime dalam aplikasi chatroom di game MMOG milik Ludicorp (2002). FlickrLive baru menjadi Flickr tahun 2004 dan kemudian tahun 2006 menjadi milik Yahoo lewat akuisisi Ludicorp.

Jika dibandingkan, Flickr punya core service yang sangat mirip dengan FlickrLive. Namun dengan reposisi menjadi layanan umum (tidak terbatas dalam game) penyimpan foto. Tidak lagi berfokus pada pertukaran dan penemuan gambar di web, Flickr menjadi gudang tempat mengunggah foto dari pengguna sendiri. Seperti album foto yang online.

So, what’s the point?

Kaskus. Ada apa dengan Kaskus? Kaskus punya banyak hal terkenal. Dulu punya bagian khusus dewasa, sekarang punya bagian jual beli yang tak ramai. Dengan jumlah pengguna yang sudah lewat satu juta, tentunya Kaskus banyak menyimpan potensi unik yang bisa dikembangkan.

Bandingkan dengan cerita Flickr di atas. Ada bagian kecil dari sistem yang bekerja dengan sangat baik dan akhirnya malah menjadi salah satu hal utama yang dikenal dalam layanan besarnya. Dalam Kaskus ada (Forum Jual Beli) FJB yang punya nilai khas dan punya manfaat besar pada penggunanya. Ini bisa jadi strategi Monetize Later-nya Kaskus, selain bergantung pada Monetize Now iklan. Sayang mereka sudah meniadakan forum dewasa, padahal bisa jadi strategi Monetize Later yang bisa cepat mencapai ROI. Hahaha.

Monetize Later seringkali tak direncanakan dari titik nol. Monetize Later biasanya jadi strategi yang muncul akibat perubahan tak terprediksi akibat respon konsumen. FlickrLive tidak pernah direncanakan sebagai FLickr, dan BBS Alibaba tidak mungkin pula dirancang sebagai Asian’s eBay.

Jadi jangan sampai kita menganut strategi Monetize Later, sambil mengawang-awang akan jadi apa layanan kita nanti. Mungkin hal ini jadi tampak bertentangan dengan apa yang sering saya katakan sebelumnya bahwa yang penting adalah membangun layanan yang ramai dan dimonetisasi kemudian. Tapi sebenarnya tidak. Monetisasi tetap harus dipikir sejak awal namun tidak perlu tergesa atau memaksa dieksekusi secara penuh sejak titik nol. Biarkan layanan Anda berkembang dan punya user base yang cukup. Toh monetisasi Anda pasti ada hitungan yang melibatkan jumlah pengguna.

Kalau Kaskus akhirnya akan membangun FJB menjadi layanan tersendiri yang terpisah, berarti ceritanya akan mirip dengan Alibaba. Alibaba, eBay-nya Asia, dimulai dari bulletin board yang mengakomodasi jual beli. Dan kemudian bertransformasi menjadi pasar jual beli internasional.

Kira-kira apakah Kaskus bakal mengambil langkah serupa tahun-tahun ke depan? Bagaimana kalau kita tanyakan langsung ke Chief Marketing Officer-nya, Danny Oei? Mau? Datang saja ke acara SSL3 (Sarasehan Startup Lokal) jumat ini (2009-08-14) di Wetiga. Saya akan datang, dan Ivan sepertinya juga akan datang. Rama dari DailySocial juga pasti di sana. Jadi tunggu apa lagi? Saatnya menimba ilmu komunitas dari Kaskus!

sarasehan-3