Browsed by
Tag: Kontes Kritis 2009

Starting Up, Paul Graham Way

Starting Up, Paul Graham Way

The match is starting

Beberapa waktu ini berulang-ulang saya mendengarkan interview Mixergy dengan founder Reddit. Dalam interview tersebut, beberapa kali diceritakan hal menarik seputar Y Combinator dan sosok Paul Graham. Hal tersebut akhirnya memicu saya untuk mencari interview lain terkait Paul Graham.

Ada beberapa pointer menarik yang akan saya bagi di sini, mengenai starting up dalam perspektif Paul Graham (as I can understand).

One thing we’ve learned in this past year is that commitment matters more than we thought, and brains less

Bukan berarti otak dan ide tidak penting ya? Ideas is dime a dozen. Ide itu murah, begitu yang saya ingat dari tulisan Hendry Lee. Jika Anda dengarkan wawancara Mixergy yang saya singgung di atas, founder Reddit mulanya datang ke Y Combinator dengan sebuah ide cemerlang (bukan Reddit). Ide ini ditolak oleh Y Combinator, namun dua orang founder ini tetap diminta kembali lagi dengan ide yang lain. Story short, founder ini akhirnya bisa membangun sesuatu yang recognizable.

Untuk cerita lengkap sejarah Reddit, pastikan Anda dengarkan podcastnya. Saya stempel “NavinoT Recommends”.

The most important task at first is to build something people want. If you don’t do that, it won’t matter how clever your business model is

Ada yang bilang dan saya kira banyak yang percaya, ngapain sih punya ide bagus kalau model monetisasinya tidak jelas? Dalam perspektif Paul Graham, model business adalah urusan nomor dua. Yang pertama adalah membuat sesuatu yang diinginkan orang. Kenapa?

…to make money from something popular is a lot easier than making something popular

Sekarang mungkin Anda baru paham (begitu pula saya). Jika Anda sudah punya sesuatu yang populer, Anda bisa bebas bereksperimen dengan model bisnis dan monetisasi apapun. Sepertinya memang seperti ini jalan pikiran VC. Oleh karena itu mereka tidak ragu berinvestasi pada Twitter yang tak jelas monetisasinya. Targetnya adalah populer tepat pada waktunya, the rest will (should) follow.

“Make something people wnt.” If you had to reduce the recipe for a successful startup to four words, those would probably be the four

Jadi, bagaimana caranya membuat sesuatu yang populer? Paul Graham menyarankan kita untuk membuat sesuatu yang memang diinginkan orang. Tentu saja sangat masuk akal. Namun jangan terpaku pada yang kini diinginkan saja. Sebelum twitter ada, tak seorang pun yang tampaknya menginginkan twitter. Namun coba liat saat ini? Tiba-tiba twitter jadi kebutuhan!

The easiest way to make something people want is to make something you want. What do you wish existed that doesn’t?

Cara termudah untuk memenuhi keinginan orang adalah dengan jalan memenuhi kebutuhan sendiri. Ada sekian milyar calon konsumen di dunia ini. Tak mungkin semuanya punya keinginan yang berbeda. Dengan memenuhi kebutuhan diri sendiri, dipastikan Anda juga akan memenuhi kebutuhan orang-orang lain yang punya kesamaan dengan Anda. Ah masa sih?

Google do better job on online calendar than a video sharing site, because their employees are probably not supposed to be sitting watching videos at work

Kenapa Google membeli Youtube padahal Google juga bisa membuat situs video sendiri? Karena Google memang tidak excel dalam hal video. Bukan pada soal teknis, namun pada soal what people really want. Pegawai Google pastinya lebih sering mengetik kode, sharing dokumen, dan menjadwal meeting daripada menonton video seharian. You see, dengan memenuhi kebutuhan sendiri berarti Anda memenuhi kebutuhan orang lain. Jika kita melakukan hal ini dengan baik, produk yang dihasilkan pun akan jadi lebih baik manfaatnya bagi orang lain.

Pertanyaan evaluasi diri

Bagi Anda, apa yang masih menjadi ganjalan membuat startup? Ide kah?Modal kah? Motivasi? Saya rasa quotes dari Paul Graham bisa jadi motivasi.

Referensi:
http://www.techcrunch.com/2006/09/02/an-interview-with-vc-paul-graham-of-ycombinator/
http://www.paulgraham.com/web20interview.html
http://mixergy.com/no-reddit-didnt-copy-digg-heres-how-it-was-built-with-alexis-ohanian/

Customer Service: Mengurangi Waktu Tunggu

Customer Service: Mengurangi Waktu Tunggu

customerservice-teaser

Banyak hal telah berubah di dekade terakhir, bisnis mulai maju, persaingan makin ketat. Banyak trik dan strategi dijalankan untuk mencapai hasil yang lebih. Lebih efisien, lebih besat omzet, lebih besar keuntungan. Satu hal yang paling banyak berubah adalah sisi pelayanan, atau customer service.

Ketika berkunjung ke salah satu operator selular, sudah terasa benar bahwa dunia korporat sudah banyak memperhatikan tim customer service-nya. Selain rapi dan berdandan, tutur kata da gaya bahasa sudah menunjukan profesionalisme. Dari 15-20 antrean yang telah ada, giliran saya masuk dalam menit ke-20, kurang lebih. Termasuk cepat bila dihitung per menit bisa melayani setidaknya satu pelanggan. Perlu dicatat, ada 15 meja layanan yang aktif dan tersedia.

Kesan yang sama juga terjadi di salah satu bank swasta terbesar, di mana untuk antri customer service diharuskan untuk mengambil nomer terlebih dahulu. Karena antrean tidak panjang, tidak lama juga sudah masuk giliranku.

Dengan gaya hidup metropolis yang serba cepat, pelanggan jadi tidak punya waktu untuk menunggu. Kesannya seperti membuang waktu dan lebih baik melakukan hal lain yang lebih produktif.

Akibatnya customer service bisa menjadi penentu untuk meningkatkan penjualan yang tidak bisa diremehkan. Apa gunanya berpromosi, tapi tidak bisa melayani, atau tidak punya kapasitas untuk melayani.

Dari beberapa contoh di atas, permasalahan yang muncul adalah waktu tunggu (wait time). Mulai dari operator selular dengan jutaan pelanggan dengan berbagai masalah, sampai restoran favorit dengan antrian yang berjibun. Bagaimana cara mengakali problema ini?

Dari kedua proses menunggu di operator seluler dan bank swasta, ada satu kemiripan, yaitu langkah pengambilan nomor. Meskipun terkesan sepele, tapi ini juga merupakan langkah untuk memberi update secara berkala bagi pelanggan yang lagi menunggu. Setidaknya para pelanggan bisa antisipasi kapan gilirannya untuk dipanggil.

Satu hal yang bisa diperbaiki adalah mempertanyakan keperluan pelanggan saat pengambilan nomor. Kadang jawaban yang diperlukan sangat singkat dan tidak perlu waktu menunggu yang begitu lama. Selain itu, tim customer service bisa memeriksa dokumen persyaratan, mungkin untuk pendaftaran. Sehingga tidak ada lagi kekecewaan, karena telah menunggu begitu lama dan ternyata dokumen yang diminta masih kurang.

Untuk restoran, bisa memberikan diskon khusus bagi para pelanggan yang bersedia untuk pesan bungkus, daripada makan di tempat. Tentu saja dengan catatan kapasitas dapur masih memenuhi syarat.

Untuk kasus transaksi elektronik, waktu tunggu juga merupakan masalah. Karena ada tenggang waktu cukup lama dari waktu pemesanan sampai barang diterima pelanggan. Bhinneka.com sebagai salah satu pelopor toko online, sudah sadar benar akan hal ini. Pemberitahuan berkala telah dilakukan di tiap pemesanan, agar pelanggan selalu tahu berita terbaru dan kapan barang pesanannya akan diterima.

Masih banyak lagi solusi sepele yang merupakan akibat dari masalah waktu tunggu yang berlebihan. Kiranya, apa yang bisa dilakukan untuk mengakali waktu tunggu dalam transaksi elektronik seperti pemesanan lewat toko maya? Bhinneka mau tahu 🙂

———————————————————————-

Untuk Kontes Berpikir Kritis 2009, anda bisa berkomentar tentang pengalaman anda masing-masing. Sedangkan untuk kategori artikel, anda bisa bercerita atau memberi contoh solusi tentang customer service, yang berkaitan dengan belanja di toko maya. Apa permasalahannya, dan apa yang bisa diperbaiki.

Not Again: Is Blog Really Dying?

Not Again: Is Blog Really Dying?

Plus Minus Zero

I was reading this piece, somehow I had the urge to comment. It’s getting longer in the comment box so I think I’m going to jot it down here while also performing what we called trackback.

What microblogging is for?

Saya rasa microblogging “hanya” menambah unsur realtime dalam penyebaran konten. Untuk jadi realtime, berarti kita harus cepat. Dalam waktu yang cepat berarti konten harus singkat tetapi harus padat pada intinya. Lebih tepat lagi sebenarnya, sesingkat SMS karena mciroblogging dulunya dioptimasi untuk SMS. Microblogging is breaking news.

Microblogging saat ini sudah mengalami re-purposing. Di tangan early adopters yang techie, microblogging menjadi alat tepat untuk berbagi resource. Saling melempar link, dan menginisiasi buzz, membentuk awareness, dan macam-macam agenda lain.

What has happened to bloggers?

“Namun untuk mendekati ke Blogger saat ini tak semudah dulu, agar pesan Anda ditulis. Karena saat ini Blogger sudah jarang menulis, keblinger dengan social media dan microblogging, ditambah lagi dengan begitu banyaknya undangan buat para blogger menghadiri berbagai acara yang disponsori oleh merek tertentu.”

Saya kurang setuju. Dari dulu blogger memang susah didekati jika kita tidak mau mengerti si blogger. Blogger berangkat dari independensi, jadi jika seseorang mendekati blogger untuk menyuruhnya menulis sesuatu tentu saja bakal ditolak (apabila tidak bisa meyakinkan).

Pernyataan “keblinger” sepertinya agak berlebihan. Harus diingat juga bahwa blogger adalah early adopters. Mereka pasti akan mencoba semua hal baru, termasuk di dalamnya adalah microblogging dan social media. Jika memang media baru ini bermanfaat tentu saja mereka akan memakainya, dan bahkan merekomendasikan pada pembacanya.

Blogger diundang ke acara tertentu karena prestasi blogging itu sendiri. Semakin banyak pemegang brand yang sadar bahwa people trust their friends for almost everything. Termasuk dalam hal membeli dan menggunakan produk. Blogger adalah personal “tanpa” agenda. Motivasinya hanya sharing what’s good dan disclose what’s hidden. Kemiskinan agenda ini adalah salah satu hal yang membuat blogger lebih unggul (efektif) daripada media tradisional. Saya rasa kita sudah bisa membandingkan bagaimana acara Anda akan ditulis di media dan di blog. Dengan tambahan, Anda hanya bisa dapat satu tulisan di media tradisional, sementara Anda bisa dapat tulisan dengan banyak sisi di blogosphere.

Blogging vs Microblogging?

Sepertinya blogging dan microblogging ini bukanlah lawan. Hanya saja orang-orang tiba-tiba menemukan banyak hal lain yang bisa dibagi lewat microblogging. Microblogging menjadi dominan karena beberapa aktivitas non-blogging yang sebelumnya terpisah-pisah kini dibundel dalam satu channel. Upload foto, lalu nge-tweet. Masuk mall, lalu update koprol. Ada artikel menarik, selain masuk delicious juga masuk twitter. Anda nge-blog, ternyata mengupdate microblog juga.

Microblogging does not nullify blogging. Tapi blogging juga bukan hal sakral yang tidak boleh/bisa mati.

Apa pendapat Anda? Apa yang telah terjadi dan akan terjadi pada aktivitas blogging?

Memperkenalkan Budaya Kuliner Indonesia

Memperkenalkan Budaya Kuliner Indonesia

kuliner

Bila dilihat dari jumlah penduduk, Indonesia berada diperingkat ke-4 dari ratusan negara di dunia. Dari sini sudah terlihat potensi yang begitu menjanjikan. Belum lagi lahan yang luas dan terdiri dari berbagai macam adat dan budaya, termasuk budaya kuliner. Sayangnya, angka yang cukup signifikan ini masih belum mampu membawa nama Indonesia setenar negara-negara lain, bahkan yang lebih kecil.

Selama saya tinggal di Amerika Serikat, termasuk susah untuk mendapatkan restoran Indonesia yang berkualitas. Untungnya, Indomie dan kecap ABC masih bisa didapatkan lewat toko-toko asia. Lumayan untuk mengobati rasa kangen akan cita rasa Indonesia. Bahkan sekarang anda bisa membeli Indomie di Amazon.com 🙂

Dari sekian banyak suku, adat, dan budaya, banyak juga ragam makanan yang bisa dinikmati. Masing-masing mempunyai ciri khas tersendiri dan unik satu sama lainnya. Tapi kenapa makanan Indonesia masih belum bisa setenar seperti layaknya pad thai dari Thailand, sushi dari Jepang, atau pho dari Vietnam?

Sering kita mendengar dan melihat program kampanye wisata yag dilakukan pemerintah. Sebelum era internet, kita memang tidak bisa berbuat banyak. Setidaknya bisa membantu secara lokal, seperti menjaga kebersihan kota dan sebagainya. Tapi dengan adanya akses internet, hampir semua orang bisa turun tangan untuk ikut serta membantu mempromosikan budaya Indonesia ini.

Teloor, sebagai situs kuliner, mempunyai misi untuk memperkenalkan makanan Indonesia ke mata dunia lewat layanan tukar resep. Meskipun bersifat umum dan terbuka untuk siapa saja, Teloor sudah mempersiapkan ‘alat bantu’ untuk melakukan misinya tersebut.

Dengan membentuk komunitas maya, kita bisa saling bertukar resep sambil mempromosikan budaya kuliner kita. Dengan menggunakan bahasa Inggris untuk setiap resep, proses pengenalan jadi lebih mudah untuk diterima. Yang kurang dari upaya mencapai sukses ini adalah komitmen dan partisipasi dari komunitas itu sendiri.

Nah, sekarang Teloor ingin tahu, kiranya kampanye, program, atau fitur apa yang bisa membantu penggemar kuliner Indonesia untuk memperkenalkan masakan Indonesia lewat situs seperti Teloor ini?

—————————————————————–

Baik kategori harian atau kategori artikel, silahkan menjawab pertanyaan di paragraf terkahir. Ingat, ini adalah minggu terkahir untuk memperebutkan hadiah kaos dan hadiah utama Kontes Berpikir Kritis 2009.

Netflix dan Gamefly

Netflix dan Gamefly

Snail mail

Di luar negeri kita mengenal Netflix sebagai penyedia layanan sewa DVD. Kita tidak perlu datang ke kantor Netflix, DVD akan dikirimkan ke rumah kita. Katalog dan pemesanan bisa diakses lewat internet. Dan dengan populernya layanan broadband, Netflix juga turut menawarkan “DVD over IP”. Ibarat memiliki Media Center sendiri, kita bisa menelusuri katalog dan langsung play.

Tidak hanya DVD (movie), ternyata game juga bisa disewakan. Gamefly mengambil bisnis model ini. Pesan lewat katalog online, game akan dikirim ke rumah Anda. Mainkan game sepuasnya, tanpa khawatir denda telat mengembalikan. Begitu dikembalikan, Anda akan dikirimi game lain dalam daftar pesan Anda.

Oke, sekarang mari terbang kembali ke Indonesia. VideoEzy, ada di antara Anda yang sempat atau masih jadi pelanggan? Sewaktu masih tinggal di Jogja, saya sempat menjadi saksi tutupnya salah satu cabang VideoEzy. Tampaknya mereka kalah bersaing dengan jaringan rental DVD bajakan yang semakin solid.

Ada beberapa hal yang membuat saya tidak menjadi pelanggan setia VideoEzy. Yang pertama tentu saja soal keterbaruan koleksi. Jika saya mampu membeli tiket bioskop untuk film terbaru maka saya tak akan pergi ke VideoEzy. VideoEzy tidak bisa mengikuti tren film terbaru. Kalau pun bisa, konsumen akan lebih memilih menonton di bioskop.

Yang kedua, masalah variasi koleksi. Selera umum konsumen tentu saja berkisar pada film-film terbaru. Namun selera khusus konsumen tak punya batasan variasi. VideoEzy bukan layanan terpusat seperti Netflix dan Amazon yang punya repositori besar. Ketersebaran VideoEzy membuat repositorinya tidak bisa memenuhi kebutuhan Long Tail konsumen. Ketika konsumen telah terpenuhi kebutuhan umumnya, mereka akan beralih ke kebutuhan khusus. Tanpa kemampuan memenuhi kebutuhan khusus, layanan seperti VideoEzy tidak akan bisa punya pelanggan tetap.

Kenapa model bisnis Netflix dan Gamefly tampaknya tidak cocok diimplementasikan di Indonesia?

Pricing. Untuk film baru, bioskop bisa memberi lebih banyak value dengan harga yang bersaing. Harga yang dipatok layanan seperti VideoEzy simply terlalu mahal. Rental/kios DVD bajakan, di lain sisi bisa sukses karena koleksinya relatif lebih lengkap dan patokan harganya bersaing (value lebih).

Untuk mengadopsi model Netflix dan Gamefly, pricing harus disesuaikan dengan variabel-variabel lokal.

Hukum. Hukum tampaknya tak mampu mencegah DVD bajakan sebagai alternatif ekonomis untuk menikmati dan mengkoleksi film. Pun hukum ini bisa berjalan, tampaknya masih akan berat sebelah. Bayangkan misalnya jika ada operator agak abal-abal dengan harga sepersepuluh dari rata-rata yang ditawarkan operator saat ini. Anda mungkin akan memilih operator abal-abal ini. Hukum tidak melarang operator ini untuk berjualan dengan harga berapapun. Hukum masih berdiri di sisi produsen.

Soal hukum ini, sebenarnya saya ragu-ragu apa memang ada pengaruhnya. Karena semua pasti akan kembali ke dasar, yakni soal harga. Peran hukum di sini mungkin untuk meniadakan alternatif ilegal, dengan tujuan memberikan lingkungan yang kondusif dan fair untuk berkompetisi.

Bagaimana menurut Anda? Apakah karena peminjam di sini suka ngembat DVD orisinil?

Lebih Sederhana Dengan Free Shipping

Lebih Sederhana Dengan Free Shipping

Banyak cara dilakukan para retailer untuk memikat pelanggan, termasuk juga retailer online. Umumnya, para retailer melakukan promosi atau penawaran khusus lewat iklan.

Salah satu yang sering dijumpai di dunia e-commerce adalah penawaran free shipping, atau bebas ongkos kirim. Maklum, setiap pembelian masih perlu ongkos pengiriman yang dibebankan ke pembeli. Sehingga ongkos kirim tersebut menjadi hambatan tersendiri untuk bertransaksi.

Read More Read More

Ke Mana Harus Mencari Ide?

Ke Mana Harus Mencari Ide?

Dizzy

Salah satu syarat supaya blog bisa cukup sukses adalah visibility. Artinya Anda harus menulis dalam interval yang diketahui oleh pembaca. Misal, senin sampai jumat, senin kamis, 3 kali seminggu, dan pola lain asal tidak random dalam sebulan. Kecuali kalau Anda adalah sosok yang sudah cukup terkenal dan sekali menulis langsung berefek ruar biasa.

Kendala umum dalam menulis secara reguler adalah pencarian ide. Bagi yang menulis berdasar mood, ini adalah persolaan besar. Sedang mood atau tidak, tulisan harus tetap dibuat. Jadi di mana kira-kira ide bisa dicari?

Get in the mood

Iya, mood bisa sedikit diaturkok.Baca saja materi favorit kamu entah itu komik,novel dan lain-lain. Setelah pikiran agak rileks,ide biasanya lebih gampang mendekat. Dalam kasus saya, mandi biasanya jadi solusi get in the mood. Mungkin efekny adalah membuat kepala jadi dingin dan badan menjadi rileks.

Read some more

Ide bisa dicari dari tulisan-tulisan orang lain. Saya membuka feedly (feed reader) secara rutin untuk mengupdate berita dan sekaligus mencari ide. Banyak hal menarik yang bisa disoroti dari tulisan-tulisan orang lain,misal: iPhone baru, aplikasi baru, peristiwa terkini, dan lain-lain. Jika belum menemukan, bacalah lebih banyak.

Jangan rewel!

Terkadang Anda telah menemukan ide, namun Anda tidak ingin mengakui atau menggunakannya. Entah karena tampak terlalu sederhana,  kurang keren, banyak lubang, dan sebagainya yang membuat Anda takut memakai. My ultimate advice: Stop, and give up! Sudahlah, terima saja apa yang mampir di kepala. Semakin Anda lebih pasrah, semakin gampang ide itu masuk. Jangan terus-menerus ngeyel mencari ide terbaik tahun ini tiap pagi. Sayangi otak Anda.

You know what, saya baru saja menyerah. Tak ada ide bagus sama sekali pagi ini. And you can guess, I came up with this lousy post :D. Ini penyakit berulang, you’ll run out of ideas sometime.Just accept it. It won’t hurt.

Okay,sekarang gantian. Di mana Anda mencari ide?