Browsed by
Tag: Local Startup

Urbanesia Meluncur Dengan API

Urbanesia Meluncur Dengan API

Urbanesia Meluncurkan API
Location, Location, Location
Urbanesia memberikan fitur auto detection untuk menentukan di mana pengguna saat ini berada. Fitur ini tentu saja sangat menarik karena outputnya akan dinamis sesuai dengan perpindahan lokasi tempat mengakses API. Tapi masih punya kelemahan.
Yang jadi masalah utama dalam service seperti urbanesia ini adalah menentukan lokasi default pengguna. Permasalahan bertambah karena tidak semua alat akses punya fitur GPS.
Hal kecil ini jadi perkara detil yang mengganjal overall pengalaman dalam memakai API Urbanesia. Karena tanpa memberikan latitude dan longitude, kita akan dianggap berada di titik yang tidak akurat, eg: Jakarta.
Breadcrumb
Salah satu yang cukup membantu dalam hal mencerna informasi lokasi adalah hierarki lokasi. Kadangkala kita mendapatkan dua informasi lokasi yang berlainan, namun sebenarnya berada di tempat yang sama. Misalnya lokasi Pancious dan Aksara bsia mempunyai kordinat berbeda. Tanpa breadcrumb lokasi, kita bisa saja salah sangka jika dua venue tersebut terletak di tempat yang berbeda. Padahal keduanya sama-sama berada di Pacific Place.
Urbanesia memberikan informasi breadcrumb ini sehingga untuk setiap spot yang dimilikinya akan ada informasi spot yang menaungi. Misalnya Pancious akan punya informasi business_place Pacific Place. Pendekatan serupa juga ada di Koprol, paling tidak bisa kita lihat di UInya.
Granularity
Dalam konteks location based service, parameter yang di-expose API ini cukup lengkap dan tak kalah detil dari output yang dikembalikan. Kita bisa memfilter berdasarkan lokasi, atau latitude longitude (demi keakuratan), serta radius. Tipe spot yang dihasilkan juga bisa difilter berdasar fungsi bisnisnya, misalkan restoran, dll.
Yang kurang adalah diferensiasi yang menyisihkan Urbanesia dari API yang lain (not that it has any local competitor at the moment). Kekuatan resourcenya dalam menghimpun informasi bisa ditingkat satu notch. Misalnya dengan informasi range harga, atau menu dan detil-detil lain dari spot yang dihimpun.

urbanesia

Hidup di Jakarta memang serba susah. Karena begitu luasnya, sesuatu yang unik bisa tersembunyi di sela keramaian. Tidak heran bila kehadiran sebuah online directory macam Urbanesia sangat diharapkan untuk memecahkan masalah keseharian ini.

Setelah melewati proses pengembangan yang cukup sangat lama, Urbanesia tidak pernah resmi meluncur dan membuka dirinya secara formal. Namun dalam perjalanannya, Urbanesia telah banyak mendapatkan traksi, terutama lewat data yang telah terindeks oleh mesin pencari.

Dari kategori dan definisi Urbanesia sebagai sebuah lifestyle city directory, saya pribadi tidak bisa membayangkan sejauh apa sebuah online directory bisa begitu menawan. Namun setelah duduk bersama para founder dan lead developer, saya rasa mereka punya misi dan pastinya ada keunikan tersendiri baik secara layanan atau teknologi.

Urbanesia kini telah resmi meluncur, dan tidak tanggung-tanggung, serangkaian API juga siap sedia untuk para developer. Apa yang bisa disuguhkan dari sebuah online directory, mungkin tidak akan jauh dari informasi bisnis dan lokasi. Berapa banyak API bisa membantu Urbanesia untuk mengukuhkan posisinya? Mengingat location based service tampaknya lebih cocok digunakan secara mobile (read: Koprol). Apakah Urbanesia juga sudah seharusnya lanjut dengan mobile application?

Berikut beberapa poin penting tentang API Urbanesia:

Compressed Result – API ini sangat berguna bagi para developer untuk menyuguhkan hasil pencarian yang dikompres agar irit bandwidth bagi pengguna mobile internet. Data sebesar 27 kb bisa dikompres menjadi 2 kb saja.

Pilihan Format – Format dari output ini tersedia dalam beberapa pilihan seperti JSON, Serialize, atau XML.

– Untuk ulasan lebih lanjut, silahkan simak pendapat Toni berikut ini. –

Location, Location, Location

Urbanesia memberikan fitur auto detection untuk menentukan lokasi pengguna saat ini berada. Fitur ini tentu saja sangat menarik karena output-nya akan selalu dinamis sesuai dengan perpindahan lokasi tempat mengakses API. Tapi masih ada beberapa kelemahan.

Yang jadi masalah utama dalam layanan seperti Urbanesia ini adalah menentukan lokasi default pengguna. Permasalahan bertambah karena tidak semua alat akses punya fitur GPS. Hal kecil ini jadi perkara detil yang mengganjal overall pengalaman dalam memakai API Urbanesia. Karena tanpa memberikan latitude dan longitude, kita akan dianggap berada di titik yang tidak akurat, eg: Jakarta.

Breadcrumb

Salah satu yang cukup membantu dalam hal mencerna informasi lokasi adalah hirarki lokasi. Kadangkala kita mendapatkan dua informasi lokasi yang berlainan, namun sebenarnya berada di tempat yang sama. Misalnya lokasi Pancious dan Aksara bsia mempunyai koordinat berbeda. Tanpa breadcrumb lokasi, kita bisa saja salah sangka jika dua venue tersebut terletak di tempat yang berbeda. Padahal keduanya sama-sama berada di Pacific Place.

Urbanesia memberikan informasi breadcrumb ini sehingga untuk setiap spot yang dimilikinya akan ada informasi spot yang menaungi. Misalnya Pancious akan punya informasi business_place Pacific Place. Pendekatan serupa juga ada di Koprol, paling tidak bisa kita lihat di UI-nya.

Granularity

Dalam konteks location based service, parameter yang di-expose API ini cukup lengkap dan tak kalah detil dari output yang dikembalikan. Kita bisa menyaring berdasarkan lokasi, atau latitude longitude (demi keakuratan), serta radius. Tipe spot yang dihasilkan juga bisa disaring berdasar fungsi bisnisnya, misalkan restoran, dll.

Yang kurang adalah diferensiasi yang menyisihkan Urbanesia dari API yang lain (not that it has any local competitor at the moment). Kekuatan resource-nya dalam menghimpun informasi bisa ditingkat satu notch. Misalnya dengan informasi range harga, atau menu dan detil-detil lain dari spot yang dihimpun.

– Kembali ke Ivan –

API yang disuguhkan Urbanesia terbilang lumayan menawan. Namun bukankah suatu API harus dilatarbelakangi oleh popularitas layanan? Mengingat Urbanesia masih baru, tapi jumlah visit yang diklaim sudah lumayan banyak, apakah API is the way to go? Not sure.

Tetap Waspada: Hit or Miss?

Tetap Waspada: Hit or Miss?

tetapwaspada

Kasus bom Kuningan telah menggegerkan masyarakat kita, bahkan sektor pariwisata juga merasakan imbasnya. Sejalan dengan pencarian tersangka utama Noordin M. Top, polisi telah banyak menyebarkan selebaran berupa foto dan ciri-ciri Noordin di berbagai tempat guna meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

Bagaimana dengan web? Tidak ada situs resmi dari pihak kepolisian?

Read More Read More

Startup Lokal Surabaya

Startup Lokal Surabaya

startuplokalsby

Selama ini kita selalu berfokus kepada Jakarta sebagai ibu kota dan pusat dari segala aktifitas, baik bisnis secara umum ataupun teknologi. Banyak situs lokal baru yang tumbuh dari generasi muda, generasi teknologi ini. Meskipun masih terlihat kurang serius dalam operasionalnya, beberapa mampu menunjukan keberhasilan, setidaknya dari sisi trafik, kualitas, atau penghargaan yang diterima.

Read More Read More

Keseriusan William Tanuwijaya Mengolah Tokopedia

Keseriusan William Tanuwijaya Mengolah Tokopedia

tokopedia-william

Dari sederetan pemenang Bubu Awards 2009, kemenangan Tokopedia merupakan sebuah kejutan tersendiri. Selain masih berstatus closed beta, situs ini berhasil menyingkirkan beberapa finalis lainnya dalam kategori e-commerce.

Berikut adalah penuturan dari salah satu founder Tokopedia, yang bernama William Tanuwijaya, yang juga mewakili tim Tokopedia. Menurutnya, beliau adalah seorang penggemar film yang suka dengan dunia web. Cowok kelahiran Pematangsiantar ini telah menetap di Jakarta sejak kuliah Teknik Informatika di Universitas Bina Nusantara (1999). Setelah lulus di tahun 2003, beliau sempat bekerja di salah satu perusahaan lokal. Sekarang hanya Tokopedia yang ada di dalam benaknya, karena memang dia pendiri sekaligus direkturnya. ๐Ÿ™‚

Read More Read More

Memperkenalkan Budaya Kuliner Indonesia

Memperkenalkan Budaya Kuliner Indonesia

kuliner

Bila dilihat dari jumlah penduduk, Indonesia berada diperingkat ke-4 dari ratusan negara di dunia. Dari sini sudah terlihat potensi yang begitu menjanjikan. Belum lagi lahan yang luas dan terdiri dari berbagai macam adat dan budaya, termasuk budaya kuliner. Sayangnya, angka yang cukup signifikan ini masih belum mampu membawa nama Indonesia setenar negara-negara lain, bahkan yang lebih kecil.

Selama saya tinggal di Amerika Serikat, termasuk susah untuk mendapatkan restoran Indonesia yang berkualitas. Untungnya, Indomie dan kecap ABC masih bisa didapatkan lewat toko-toko asia. Lumayan untuk mengobati rasa kangen akan cita rasa Indonesia. Bahkan sekarang anda bisa membeli Indomie di Amazon.com ๐Ÿ™‚

Dari sekian banyak suku, adat, dan budaya, banyak juga ragam makanan yang bisa dinikmati. Masing-masing mempunyai ciri khas tersendiri dan unik satu sama lainnya. Tapi kenapa makanan Indonesia masih belum bisa setenar seperti layaknya pad thai dari Thailand, sushi dari Jepang, atau pho dari Vietnam?

Sering kita mendengar dan melihat program kampanye wisata yag dilakukan pemerintah. Sebelum era internet, kita memang tidak bisa berbuat banyak. Setidaknya bisa membantu secara lokal, seperti menjaga kebersihan kota dan sebagainya. Tapi dengan adanya akses internet, hampir semua orang bisa turun tangan untuk ikut serta membantu mempromosikan budaya Indonesia ini.

Teloor, sebagai situs kuliner, mempunyai misi untuk memperkenalkan makanan Indonesia ke mata dunia lewat layanan tukar resep. Meskipun bersifat umum dan terbuka untuk siapa saja, Teloor sudah mempersiapkan ‘alat bantu’ untuk melakukan misinya tersebut.

Dengan membentuk komunitas maya, kita bisa saling bertukar resep sambil mempromosikan budaya kuliner kita. Dengan menggunakan bahasa Inggris untuk setiap resep, proses pengenalan jadi lebih mudah untuk diterima. Yang kurang dari upaya mencapai sukses ini adalah komitmen dan partisipasi dari komunitas itu sendiri.

Nah, sekarang Teloor ingin tahu, kiranya kampanye, program, atau fitur apa yang bisa membantu penggemar kuliner Indonesia untuk memperkenalkan masakan Indonesia lewat situs seperti Teloor ini?

—————————————————————–

Baik kategori harian atau kategori artikel, silahkan menjawab pertanyaan di paragraf terkahir. Ingat, ini adalah minggu terkahir untuk memperebutkan hadiah kaos dan hadiah utama Kontes Berpikir Kritis 2009.

Sekilas Tentang Pecha Kucha Surabaya

Sekilas Tentang Pecha Kucha Surabaya

pechateaser

Dengan selingan tiupan angin malam, Pecha Kucha Surabaya Volume 1 sukses diadakan di Java Paragon Hotel Surabaya. Sewaktu datang, saya masih belum yakin benar bagaimana cara melafalkan nama acara ini. Namun setelah mendengarkan beberapa kali dari si pembawa acara, akhirnya ngerti juga.

Terus terang, saya termasuk newbie untuk urusan datang ke seminar. Tapi tampaknya panitia Pecha Kucha Surabaya, yang dipelopori oleh Dr. Adhiatma, terbilang sangat sukses. Mengingat mereka juga baru pertama kalinya menjadi penyelenggara, dukungan sponsor yang diperoleh termasuk TOP BGT. Mulai dari Java Paragon Hotel, sebagai penyedia venue, sampai beberapa bisnis lokal di bidang kreatif, sampai media partner seperti harian Surya dan Colors Radio. Maklum, pada teman semua. ๐Ÿ™‚

Tidak lupa pula kesuksesan panitia untuk mengajak nama-nama besar di dunia kreatif, seperti Yoris Sebatian dan Bernhard Subiakto, yang tengah sibuk dengan film terbarunya, yaitu Queen Bee. Jangan lupa juga si tukang makan kulinari blogger, Jiewa.

Format acara sendiri terbilang santai dan ringkas, sesuai dengan arti Pecha Kucha yang sebenarnya, yaitu ‘chit chat‘. Setiap pembicara diberi 20 detik untuk tiap slide, dan maximal boleh menayangkan 20 slide.

Meskipun terbilang singkat, banyak pembicara yang masih belum terbiasa dengan format ini, sehingga berhenti terlalu cepat, atau berbicara terlalu lama. Beberapa pembicara juga terbilang baru dan sedikit demam panggung, sehingga topik yang dibawakan jadi tersendat-sendat.

Karena gratis, maklum bila tidak disediakan makanan. Namun panitia tetap siap dengan beberapa stan makanan untuk yang ‘berkepentingan’.

Pendek kata, saya salut dengan 4 orang panitia yang telah sukses menjadi tuan rumah. Semoga Pecha Kucha selanjutnya menjadi lebih sukses. Cheers!

Politikana: Free for All Megaphone

Politikana: Free for All Megaphone

Megaphone

Tagline aslinya Politikana.com sih, politik 2.0. Di mana pembicaraan politik tidak lagi dimonopoli oleh segelintir orang. Dan kini semua orang bisa saling melempar wacana dengan lebih mudah, tanpa harus menunggu forum/event tertentu untuk diselenggarakan. Namun definisi yang tepat menurut saya adalah a free megaphone. Mari kita lihat buktinya.

Megaphone apaan?

Megaphone adalah alat pengeras suara portable. Tinggal comot, angkat, nyalakan dan mulailah berbicara. Mirip dengan blog, atau Wikipedia dimana kita bisa menciptakan halaman baru untuk diisi sesuatu dan disiarkan ke orang lain. Kalau di Wikipedia, mungkin ada tim editor. Dan kalau di blog, kita mungkin masih harus mencari audiens. Politikana punya audiens, tapi tidak ada editor. Editor di-outsource-kan pada pihak ke tiga: the wisdom of crowd. Dan karena wisdom of crowd inilah mengapa Politikana jadi sebuah pengeras suara bebas pakai. Ada sebagian dari crowd yang duduk dalam kubu yang sama, membawa agenda yang sama, dan kemudian meng-โ€abuseโ€ Politikana. Politikana tiba-tiba menjadi channel privat perpanjangan media komunikasi atau doktrinasi. Which is, mungkin bukan tujuan awal kenapa Politikana dibangun.

Good or bad, jadinya?

Personally, apa yang terjadi di Politikana sekarang ini bagus untuk membangun kemampuan diskusi. Lebih tepatnya,bagi saya, conflict management. Jika Anda terjun di sana, bersiap-siaplah untuk berbeda pendapat. Bersiaplah dengan konflik yang muncul. Dan dalam konteks pemasaran, konflik adalah salah satu bentuk kontroversi yang bisa jadi bahan bakar promosi dan daya tarik.

Namun sisi jeleknya adalah Politikana mungkin tidak akan bisa jadi konsumsi para newcomers dalam bidang politik. Mungkin orang yang jarang berbicara politik menjadi jengah karena begitu masuk dan membaca komentar akan langsung mendapatkan berbagai macam pandangan, dan mungkin konflik sengit yang tidak dicari. Newcomers biasanya senang dengan lingkungan yang โ€œamanโ€ dan โ€œdamaiโ€, bukan war zone.

Sebenarnya kandungan Politikana ini, termasuk konfliknya, adalah sangat niche. Akan tetapi, di sisi lain, juga membuat kontenya jadi itu-itu saja. Yang dibahas, karena terdominasi crowd tertentu, menjadi lingkaran yang tidak ada ujung pangkal. It’s getting no where forward.

Apakah ini tujuan asli Politikana?

I really doubt it. Tujuan aslinya mungkin jadi crowd-supported portal sebagai media monitoring perjalanan politik di Indonesia. Tapi politik tampaknya memang mirip OS, ada yang tak ambil pusing dan ada juga yang bersikap fanatik. Dan ketika ternyata banyak fanatik yang justru masuk Politikana, lebih banyak energi yang terfokus ke sana.

What Politikana did wrong?

  • Too few direction. Pancingan diskusi terkontrol memang ada, seperti fitur wacana ya dan tidak yang ada di sidebarnya. Tapi dibanding dengan kontribusi bebas pembaca, arahan ini jadi sedikit tersisih. Kalau agak lebay, mungkin Politikana bisa disebut sebagai chaos/riot chamber ๐Ÿ˜€
  • Too many noise, too few signal. Yang ini sangat debatable, karena tergantung bagaimana seseorang menyikapi informasi yang ada di sana. Tapi karena too few direction tadi, akhirnya kontribusi-kontrbusi signal jadi kurang terpancing. Yang muncul adalah noise dari agenda-agenda penggunanya yang memanfaatkan Politikana sebagai megaphone.

Kesimpulan

Apapun yang terjadi dengan Politikana saat ini, ada hal menarik yang bisa kita lihat. Fenomena di mana Politikana menjadi megaphone 2.0 adalah sebuah tanda bahwa dunia politik ternyata sangat menginginkan media interaktif. Begitu semangatnya ingin terjun dalam keramaian two-way communication, walau ujung-ujungnya masih memakai corong satu arah.

Konflik adalah bagian normal dalam proses manapun. Konflik bisa mereda akibat kejenuhan sehingga no one feed the troll anymore. Ini adalah early stage dari Politikana yang akan menentukan ke mana sebaiknya Politikana melangkah.

Politikana can die anytime soon. Begitu agenda para penggunanya selesai, Politikana bisa saja sepi dari konflik karena tiba-tiba ditinggal begitu saja. Bahan bakar yang membuatnya jadi ramai pun hilang. Akhirnya diskusi jadi adem ayem, crowdnya berubah. Crowdnya jadi 4L, Loe Lagi Loe Lagi. Akhirnya jadi platform yang tidak punya daya tarik.

Bagaimana menurutmu? Cari masalah -1? Biasa saja +0? Inspiratif +1?