Browsed by
Tag: Marketing

Why Engagement Matters in Most Digital Commerce

Why Engagement Matters in Most Digital Commerce

Tulisan menarik dari GetElastic, penyedia platform e-commerce Elastic Path. Platformnya mahal dan memang disarankan untuk pakai jika revenue sudah sampai sekian ribu dolar. Okelah memang serius banget softwarenya.

Back to article. Dari judul sih rada-rada jelas rada-rada ngeblur. Kenapa pertunangan menjadi penting dalam dunia e-commerce? LOL. Kenapa ya poin interaksi penting dalam jual beli online? Kenapa harus ditambah basa basi? Tujuannya sales kan? The sooner the better. Lebih ciamik lagi kalau bisa dapat returning customer.

Dari diagram yang di contohkan, kegiatan jual belinya itu ditaruh di belakang. Hampir sepertiga akhir. Lalu yang bagian depan sepertinya bakar-bakar uang entah untuk apa. Promosi, iklan, likes, download freemium, dll. Apa ya poinnya? Mengenalkan produk? Pasti dong, logical effect. But what is the intention?

Setelah saya ulang membaca, akhirnya ada sedikit titik terang. Because you can’t always sell. Oww, no way. I’m a great salesman. Pssh, ini bukan jualan iklan. Kecuali kita sudah sebesar Amazon, dengan long tail yang panjang dan menggurita, tidak setiap saat terjadi sales. Tidak semua barang cocok dengan keinginan konsumen. Lebih sering lagi tidak cocok dengan tanggal gajiannya. So? Jadi kalau semua kegiatan promo bla bla bla itu langsung kita paksakan untuk menjadi kegiatan jual beli, it means we are pretty much stupid 😀

Our best bet is to let user use our site longer, visit it more often to extend our sales pitch window. They’ll buy only when they feel like buying. Ada orang yang harus muter mangga dua dan ratu plaza dua kali sebelum akhirnya nyaman membeli. Kecuali Anda jualan Ferarri, Anda bisa hiraukan tipe konsumen seperti itu.

Jadi, kalau customer belum mau beli sekarang ya gak papa. Besok dia datang lagi kok. Bisa ditanyai lagi mau beli atau tidak. Seterusnya seperti itu. Dalam case Zynga, mereka mendapatkan kesempatan 3-7 menit sekali sesi untuk melakukan sales pitch. Dan dalam sehari bisa terjadi 7-11 sesi permainan. Panen, ngecek teman, obsesi whohoo, dll. Sehari mereka dapat window sales 77 menit. Dan itu customer yang meminta sales pitch.

Satu lagi yang penting sekali dalam artikel itu adalah tentang cara menempatkan sisi komersil produk kita. Value propotitionnya harus align dengan engagement dan fungsinya adalah meng-enhance. Suka tanam-tanam? Mau tanaman yang keren? Ini aku jual murah loh. Lagi keburu pengen panen? Bisa loh pakai potion ini. The experience is pretty much the same but way much better jika sales pitch kita diterima.

So, so, so? Selanjutnya terserah Anda. Jangan buang-buang duit marketing ya :p *digaplok*

PS:

Ini tulisan pertama NavinoT yang diketik dari Tokyo. Won’t be the last. Merry Christmas buat yang merayakan.

End to End, Thinking.

End to End, Thinking.

No brainer ya kalau ketersediaan pasar itu harus jadi pertanyaan dalam proses validasi ide? Setelah ide didapatkan, langkah pertama jangan masuk ke teknologi. Langkah pertama adalah pastikan ketersedian orang-orang yang punya pain-point yang sama. Keberadaan orang-orang ini akan jadi syarat sukses supaya at the very least ide Anda bisa berjalan setelah diimplementasikan. An initial market as a jump start to run your idea.

Mature or Not Mature

Market ini terkadang tidak selalu harus telah benar-benar tersedia secara eksplisit. Semakin eksplisit, berarti semakin tinggi pula tingkat konfidensi Anda dalam meraih kesuksesan. Namun ada juga yang cukup yakin dengan market yang masih belum tumbuh. Yang masih memerlukan insentif supaya mau menunjukkan dirinya. Model yang terakhir ini paling menarik, paling beresiko dan paling menjanjikan. Siapa nyana hape qwerty kacangan bisa laris bak kacang goreng.

Pasar yang telah matang mampu membuat Anda start lebih cepat. Tak perlu mengeluarkan dana tambahan untuk membuatnya benar-benar siap dengan kedatangan produk kita. Ibarat memancing di kolan, Anda tinggal mengarahkan ke tempat yang paling banyak ikannya dan memakai umpan yang paling menarik.

Pasar yang belum mature? Kemungkinan besar tak seorang pun yang memilikinya. Less competition, lebih banyak waktu untuk mematangkan produk lewat berbagai eksperimen.

Centralized or Distributed

Pasar sudah ada dan telah matang, sering kali kita yakin dengan hal ini. Tapi kita mengabaikan fakta bahwa ternyata pasar tersebut tersebar. Selama ini yang kita nilai adalah agregasinya. Hal ini sepertinya sering menjadi pitfall di dunia online. Siapa yang tak butuh program A? Pasti banyak yang memerlukan, hanya saja mereka tersebar di pelbagai belahan dunia dan tak pernah terkumpul dalam satu kolam.

Oh, what about viral product? Yang tak memerlukan kumpulan massa tapi mampu mendistribusikan produk itu sendiri? Ini sih yang ideal. But still, cara yang lebih efektif adalah mengumpulkan sejumlah orang yang kemudian menjadi agen penyebar. Menyebarkan produk dari satu orang akan menuntut waktu lebih lama sampai terjadi efek viral. Cara terbaik untuk mengosongkan air dari dalam kantung plastik adalah dengan membuat cukup lubang sehingga air bisa keluar dengan cepat dan tak membuat plastik tersebut pecah.

Thinking End to End

Ketika Anda hendak membuat proposal atau startup, berpikir secara end-to-end, dari ujung ke ujung menjadi penting. Seperti business plan, harus dijabarkan dari mana ide akan dimulai, apa saja yang diperlukan, bagaimana akan didanai, bagaimana akan dipasarkan atau dijual, dan bagaimana mendapatkan profit dan exit strategy apa yang dipakai untuk “menutup” ide.

Ketika memikirkan startup, jangan lupa memikirkan pain point dan siapa saja pemilik pain point. Di mana dan bagaimana Anda akan merengkuh mereka. You need a wheel to run your car. No wheel, no move. Better wheel, less fuel.

The Power of Inconvenience

The Power of Inconvenience

Produk selalu dikaitkan dengan emosi konsumen. Semakin produk punya koneksi dengan konsumen, semakin besar kemungkinan produk tersebut dikonsumsi. Setiap orang punya sejumlah aturan dan standar kenyamanan. Kenyamanan ini menjadi titik pangkal emosi. Lalu apa yang bisa kita lakukan dalam menyikapi peluang ini?

Ciptakan Keterasingan

Pasarkan Blackberry atau Cumiberry. Pastikan sekelompok besar orang punya akses terhadap produk ini. Lambat laun, satu atau dua orang yang tidak memakai akan merasa terasing dan tidak menjadi anggota komunitas besar. Populerkan twitter dan facebook, buat ABG se-jakarta menjadi gelisah karena belum membuat akun di layanan social network ini. Setelah itu bentuk imej yang mengasosiasikan produk kita dengan twitter dan facebook. Tiru dan ulang untuk tipe-tipe produk lain.

Manusia adalah makhluk sosial. Menjadi terasing adalah tidak nyaman. Berapa banyak dari Anda yang beli kamera DLSR karena merasa terasing?

Ciptakan Perasaan Bersalah

Apakah Anda sudah ikut kampanye ‘hijau’? Terlepas dari peranan kampanye hijau dalam menghambat penghancuran bumi, kampanye hijau adalah salah satu metode efektif untuk menjual produk. Kapan lagi Anda bisa membuat konsumen yakin untuk membeli kantung hijau yang awet dipakai namun tak selamanya bisa dipakai?

Produk kita pun bisa lebih bersinar dengan menempelkan logo ‘hijau’. Logo ‘hijau’ ini  menjadi obat yang dicari konsumen untuk menghilangkan rasa bersalahnya akibat mengkonsumsi produk-produk lain yang menyumbangkan polusi. Dengan adanya produk hijau, kita semua menjadi merasa bersalah karena melakukan perbuatan amoral terhadap bumi.

Nobody is Perfect

Kulit yang tidak putih, bau badan yang kurang sedap, rambut yang kurang keren. Semua orang  punya keluhan dengan dirinya. Ini adalah satu ceruk besar yang bisa dipenuhi oleh produk kita. Hal terpenting adalah soal feel. Soal efek riilnya sendiri tidak terlalu jadi masalah. Begitu seseorang telah memakai suatu produk, akan ada sugesti yang mengatakan bahwa dirinya sudah menghilangkan satu nilai minus tentang dirinya.

Ciptakan Nilai Baru

Apabila beberapa contoh di atas tidak mencukupi, kita bisa menciptakan nilai lain. Yang penting efeknya adalah memberikan perasaan tidak nyaman dan sesuatu yang kurang pada konsumen. Buka saja kamus bahasa Indonesia dan catat semua kata sifat yang bisa kita temukan. Pilih satu kata dan mulai kerjakan strategi marketingnya.

Kurus? Mau olahraga saja? Dream on. Sudahkah Anda membuat konsumen Anda tidak nyaman? Saya sedang membuat Anda tidak nyaman jika tidak membaca NavinoT setiap hari.

It All Begins With A Story

It All Begins With A Story

Fairy Tale

Konsumen selalu punya pendirian dan keyakinan sebelum membeli. Konsumen sudah punya cerita tentang apa yang akan terjadi sebelum membeli. Kita bisa mengikuti cerita ini atau memilih membuat cerita baru yang lebih hebat.

Cerita yang mana?

Bayangkan satu skenario dimana seorang pengunjung akan meninggalkan komentar di blog kita. Pengunjung datang, membaca artikel kemudian mengisi nama, email dan website. Setelah itu baru pengunjung bisa menulis komentar. Well, memang sudah seharusnya seperti itu prosedurnya.

Tidak adakah skenario lain? Bagaimana dengan pengunjung datang kemudian membaca artikel lalu dengan nyaman langsung meninggalkan komentar? Ya, kita tidak perlu mengisi apapun kecuali komentar yang memang menjadi inti aktivitas pengunjung. Ada dua perbedaan dalam dua skenario di atas. Yang kedua menghilangkan bagian mengisi identitas dan menambahkan kata nyaman. Nyaman sebelumnya tak pernah ada dalam cerita konsumen, namun di sini kita bisa memilih untuk menambahkannya.

Coba lihat video di bawah ini. Simak betapa banyak cerita ekstra yang ditambahkan oleh Apple pada produk-produknya.

Where should we start?

Tentu saja dengan cerita yang hebat. Semakin hebat ceritanya, semakin besar punya usaha yang diperlukan dalam mewujudkan cerita tersebut. Jadi yang harus turut kita pikirkan sewaktu membuat produk atau layanan, selain fitur, adalah bagaimana fitur-fitur ini bisa dirangkai untuk menuturkan cerita hebat pada konsumen. Jika Anda gagal membuat cerita, bisa dipastikan ada yang masih kurang dalam produk Anda.

Untungnya cerita yang hebat tidak selalu datang dengan bungkus yang besar. Cerita yang hebat bisa datang dalam bungkus yang kecil atau sederhana. Sebuah cincin dan ajakan menikah yang tulus, punya cerita yang hebat pada pasangan kita. Perkara berupa berlian dan diikuti sertifikat rumah, itu improvisasi kita untuk membuat cerita tersebut jadi lebih hebat lagi.

How to tell a great story?

Yang pertama, pick a person. Kita harus tahu kepada siapa kita bercerita. Semakin personal, maka dampak cerita akan lebih terasa. Bayangkan bercerita di dalam kelas dengan 40 murid dengan kelompok keil beranggotakan lima orang. Semakin dikit pendengar semakin bisa kita berkonsentrasi dan bekomunikasi demi mewujudkan cerita yang hebat. Karena itulah word-of-mouth relatif lebih berhasil daripada iklan di televisi.

It’s not all about naration. Cerita punya banyak unsur, termasuk cara bertutur. Kisah akan jadi lebih hidup jika kita mampu menampilkan emosi-emosi yang terlibat di dalamnya.

Sekarang, coba, apa cerita produk Anda?

Social Network Untuk Tiap Brand?

Social Network Untuk Tiap Brand?

bbworld

Beberapa hari lalu, Research In Motion (RIM) meluncurkan situs social network khusus untuk pengguna BlackBerry. Situs jejaring sosial ini bertujuan untuk menjadi wadah bagi para pengguna BlackBerry untuk saling membantu akan segala pernak-pernik Blackberry, mulai rating aplikasi sampai troubleshooting.

Sekilas memang merupakan ide yang cemerlang, yaitu menyatukan konsumen BlackBerry untuk berkolaborasi, satu sama lain, menyelesaikan masalah ataupun hanya untuk nongkrong bareng berbagi pengalaman tentang BlackBerry-nya. Tapi di sisi lain, sudah begitu banyak situs jejaring sosial atau komunitas maya, baik secara umum atau yang spesifik membahas BlackBerry.

Dunia jejaring sosial sendiri sudah identik dengan Facebook sebagai raja, dan diikuti beberapa situs lain seperti Myspace dan Friendster. Yang menjadi pertanyaan, apakah ini merupakan langkah yang bagus bagi sebuah perusahaan, sebesar RIM sekalipun, untuk membuat situ jejaring sosial untuk masing-masing brand-nya?

Read More Read More

Iklan: Untuk Pemirsa atau Citra Produk?

Iklan: Untuk Pemirsa atau Citra Produk?

pariwara

Satu hal yang saya catat tentang periklanan Indonesia adalah penyajian iklan yang…. hmm apa yah… ndeso! Bila anda merasa demikian, pasti anda telah menangkap maksud saya, yaitu iklan-iklan yang terkesan murahan banget. Tanpa casting, tanpa konsep, hanya tujuan menampilkan suatu produk dibarengi jingle-jingle yang gampang diingat. Beberapa di antaranya adalah iklan sosis siap makan. Tak perlu disebutkan yang mana khan?

Read More Read More

Making Hardselling Look Less Like One

Making Hardselling Look Less Like One

Hard Rock
Level toleransi tiap-tiap orang bagi hardselling adalah berbeda-beda. Ada yang bisa sangat toleran karena kemampuan filternya yang mumpuni, dan ada yang susah mentoleransi gara-gara terlalu sensitif. Apa yang kira-kira membuat pesan-pesan marketing kita tampak seperti hardselling?

  • Terlalu eksplisit. Buy buy buy. Tidak ada basa-basi atau pengantar. Langsung ke pesan inti: belilah produk ini. Anda tak perlu tahu alasannya. Carilah sendiri alasannya.
  • Terlalu banyak pesan dalam satu waktu. Iklan yang muncul 5 menit sekali atau durasinya terlalu lama, atau durasi singkat namun diulang tiga kali menjadi mengganggu karena tampak berusaha menjejalkan sesuatu. Tanpa usaha kreatif, iklan ini akhirnya menjadi hardselling.

Kasus di atas biasanya sering ditemui di media konvensional seperti televisi dan radio. Dalam dunia online, ternyata penghuninya tidak kalah sensitif. Naked Conversation menyebutkan bahwa penghuni internet punya kecenderungan untuk menjaga agar channel ini selalu bersih. Oleh karena itu, hal-hal yang tidak bersifat otentik, tidak menampakkan sifat asli author, atau tidak punya good will biasanya akan mendapatkan apa yang disebut “tough love”. Seperti VivaNews beberapa waktu lalu yang mendapatkan kritikan keras karena praktek tweeting-nya yang kurang memenuhi standar institusi yang resourceful.

Saya juga pernah mendapatkan tough love. Kemarin di Plurk, karena sedang sensitif, saya merasa fenomena Kuburan Band yang sering tayang di televisi tampak seperti hardselling. Terlalu sering muncul, tanpa banyak variasi. Mungkin sekedar beda selera saja.

Tough love datang sewaktu saya melontar isu ini di Plurk. Zerobyte bilang, saya seharusnya tidak berkata demikian karena dalam kondisi serupa, promosi NavinoT yang saya lakukan di Plurk mungkin membuat sebagian orang merasa tidak nyaman. Hal ini membuat saya berpikir, mungkin praktek promosi saya kembali terjebak pada dua poin di atas.

Berikut ini adalah hal yang harus saya lakukan untuk mengurangi kemunculan hardselling. Well, sebenanrya intinya hanya satu. Faktor eksplisit harus dikurangi. Ini berarti dua hal. Saya harus lebih sering muncul dalam percakapan harian, dan saya harus menyembunyikan pesan saya dengan derau (noise). Jumlah kemunculan dikombinasikan dengan penambahan derau akan membuat promosi yang sebelumnya seperti hardselling menjadi relatif jauh lebih “jinak”. Peserta percakapan yang lain akan terbiasa dengan kehadiran saya dan saya tidak akan tampak seperti orang yang sedang berjualan saja.

Bagi yang merasa terganggu dengan aktifitas online saya, I promise you I’ll be better. I’ll be there before the sale :). Bagaimana dengan Anda. Saya harap Anda tidak terjebak hardselling setelah sekian lama online. Menurut Anda, seberapa besar efek dari rencana saya di atas. Apakah akan memecahkan masalah?

Discussing Design & Branding with Yolanda Santosa

Discussing Design & Branding with Yolanda Santosa

yo-teaser

Yolanda ‘Yo’ Santosa is an Indonesian born designer, who lives in Los Angeles, California. Since she was a kid, a lot of subjects have failed to interest her, except for art. After graduated from Art Center in 2000, she began working at yU+co designing main titles for projects like 300, Desperate Housewives and Ugly Betty. She realized that she couldn’t ignore her curiosity in branding, and she finally founded Ferroconcrete in 2006. Pinkberry was her first client, and she got involved in managing all brand and marketing strategies. Throughout her career, she has earned several awards, including 3 consecutive Emmy nominations.

The following is our (quick) email conversation regarding branding and design.

Read More Read More

Social Media Marketing: Fish Where The Fish Are

Social Media Marketing: Fish Where The Fish Are

koi

Social Media di satu sisi adalah hal lumrah yang selalu bersentuhan dengan aktivitas kita, terutama pengguna internet. Sifatnya yang mendukung interaktifitas dan hyper conection antar pengguna membuat jaringannya lebih massive daripada jaringan di era web 1.0. Dan jaringan yang besar berarti pasar yang besar pula. Bagaimana cara memanfaatkan pasar ini? Bisakah kita pakai prinsip-prinsip dalam marketing tradisional (offline)?

Chris Brogan menuliskan 6 poin untuk memanfaatkan pasar online lewat social media. Inti poin-poin tersebut adalah Fish Where The Fish Are yakni pancinglah ikan di tempat ikan berada. Di sini kita akan coba bahas satu persatu poin-poin pendekatan tersebut dalam kaitannya dengan mempengaruhi transaksi penjualan produk.

Find the Customer. Tentu saja, ini sangat jelas. Sebelum memasarkan produk, Anda harus tahu siapa target Anda dan di mana mereka berada. Agak bodoh rasanya jika Anda bersikukuh menjual papan skateboard di pasar ikan. Konsumen Anda tidak berada di sana. Tidak dalam gerombolan besar.

Mencari calon pembeli tidaklah mudah. Namun, daripada menerka tanpa dasar, saat ini kita telah mempunyai beberapa alat gratis yang bisa dipakai sebagai sonar untuk mendeteksi dimana kumpulan ikan berada. Walau tidak akan dapat memberikan gambaran pasti tentang posisi dan jumlah pembeli potensial, layanan-layanan microblogging dan social media bisa dipakai untuk mencari starting point. Gunakan search.twitter.com untuk memonitor keyword, keyword tertentu. cari tahu di mana orang-orang yang terjaring di sana benar-benar berkomunitas. Cari jalan untuk “menghubungi” orang-orang tersebut.

Contoh orang-orang yang bisa dicari adalah orang-orang yang memiliki masalah yang bisa dipecahkan dengan produk Anda.

Be There Before the Sale. Berarti kita harus menjadi salah satu hal yang diingat saat pembeli hendak melakukan pembelian. hal ini bsai kita capai dengan jalan menjadi sosok yang tulus dan baik hati. Membantu tanpa meminta timbal balik (langsung) adalah salah satu caranya. Jadikan diri kita orang bijak yang dicari dan dipercaya orang. Sehingga kita pun menjadi hal pertama yang diingat calon customer sebelum membeli.

Tidak ada yang suka disodor-sodori dan dicekoki dengan rekomendasi tak berdasar. Siapa yang merekomendasikan produk akan dievaluasi secara otomatis oleh calon pembeli. Apakah pemberi rekomendasi cukup kredibel? Jika pemberi rekomendasi baru saja menjadi anggota komunitas, tentu saja kredibilitasnya akan dipertanyakan. Dengan memastikan calon pembeli telah mengenal siapa kita, kredibilitas dan authority kita. Dengan demikian, perkataan-perkataan kita akan diterima dengan gelas setengah penuh oleh calon pembeli produk.

Be (or Empower) the Influencer. Tidak berhenti menjadi hal pertama yang dipikirkan konsumen saja, kita juga bisa menjadi influencer. Menjadi influencer berarti kita bisa menggerakkan Tribe ke arah yang kita inginkan. Tanpa harus secara langsung menggerakkan konsumen untuk membeli produk, kita bisa melakukan aktifitas-aktifitas influensial yang bisa mengarahkan orang untuk melakukan transaksi. Corporate blogging dan aktifitas evangelism lain bisa menjadi faktor influencer terjadinya transaksi.

Shift Behavior. Proses influensi dan pengerahan konsumen bisa dilakukan cara cukup ekstrim. Kira-kira apa yang bisa dilakukan seorang head divisi social media dalam sebuah perusahaan mobil? Alih-alih sekedar berbicara tentang spesifikasi dan keunggulan produk, head divisi tersebut bisa menawarkan pengalaman mengendarai mobil terbaru pada para blogger yang influential. Tidak ada yang bisa menjamin keberhasilan langkah ini tapi langkah ini tergolong bisa me-revolusi acara jumpa press/blogger yang sekedar ngiler di acara launching/showroom produk.

Warm Up the Funnel. Kontinuitas itu penting. Proses influensi tak boleh berhenti di satu waktu. Channel-channel yang memberikan peluang konversi atau transaksi harus selalu dihangatkan. Jangan sampai proses yang sudah berjalan menjadi mentah kembali karena calon konsumen menjadi kurang bersemangat. Social media memberikan fasilitas untuk bisa menyentuh berbagai macam konsumen di berbagai tempat dalam rangka menjaga dan menemukan the right fish.

Measure. If you can’t measure it, you can’t improve it! Setiap approach harus diukur dengan tepat dan benar. Pastikan angka yang diperoleh benar-benar valid dan tidak muncul karena adanya anomali. Social media memang susah diukur, namun tidak berarti tidak bisa diukur. Kabarnya hanya diperlukan sedikit pemikiran ekstra untuk mengukur output dari approach/campaign di social media.

Sebagai penutup, jangan lupakan nasihat Jeremiah Owyang : fokuslah pada pencarian konsumen daripada meributkan alat pancing.

Okay, dalam rangka kontes berpikir kritis, coba Anda tulis satu atau lebih hal nyata yang bisa atau telah Anda temukan terkait poin-poin di atas. Seperti biasa, hadiah kaos eksklusif bisa diperebutkan dengan meninggalkan komentar. Dan HP Mininote 1001 bisa dimenangkan lewat trackback ke artikel ini. Satu .. dua ..tiga! Go go go!

PS: Hat-tip to @mahadewa.

Sehebat Penjual Voucher

Sehebat Penjual Voucher

Top Up

Beberapa hari lalu saya melakukan pengisian pulsa elektronik untuk ponsel saya. “Simpati 20 mas”. “Yak”, sahut penjaga kios dengan sigap sambil bersedia menekan tombol di ponselnya. “Kosong lapan satu sekian sekian”. “Oke”. “Berapa mas?”. “Dua dua”.

Saya pun membayar dan langsung berlalu, sambil tertegun. Wow, cepat sekali. Saya tak pernah benar-benar menyadari bahwa penjual voucher punya layanan sehebat ini. Kenapa hebat?

  • Fungsi produk yang jelas dan transparan. Beda dengan produk komoditas lain, misal warung makan, rasanya berbeda-beda walaupun menggunakan bahan yang sama. Voucher punya nominal dan berfungsi untuk memungkinkan pengguna memanfaatkan layanan dari operator. Sejelas dan sesederhana itu. Tidak ada kebingungan yang ditimbulkan, terlepas dari skema promosi operator tentunya. Kenapa Anda beli pisau Swiss Army? Karena Anda tahu bahwa Swiss Army knife bisa melakukan segalanya. Dan Anda memang ingin melakukan segalanya.
  • Produk mampu memenuhi ekspektasi. Dalam artian, pulsa dua puluh ribu bisa didapat dengan 22 ribu rupiah. Hal ini terjadi karena produk punya standar. Standar membuat orang tahu, apa yang diharapkan pasti akan diterima. Anda beli kopi Starbucks karena Anda tahu kopi Starbucks ya yang seperti itu, tak akan berubah. Dalam dunia voucher, pengaruh faktor ini jauh lebih terasa karena tidak ada kompetisi akibat variasi produk, ie: anda beri uang, anda dapat pulsa. Ain’t getting any simpler than that.
  • Painless procedure. 1-2-3, nomer hape, jumlah pulsa, dan bayar. Proses ini begitu efektif, baik bagi penjual maupun pembeli. Proses yang efektif berarti lebih banyak pelanggan yang bisa dilayani, berarti lebih banyak sales. Berdasar hal inilah di kasir supermarket dipasang barcode scanner demi mempercepat proses sales. Hal yang sama mungkin dijadikan alasan pemakaian ICR untuk penghitungan suara dalam Pemilu legislatif baru-baru ini.

Tidak hanya berlaku pada produk offline, prinsip ini juga bisa diaplikasikan dalam produk online. Pada blog misalnya, sebuah artikel perlu memiliki tujuan yang jelas. Apa yang dibicarakan dan ke arah mana pembaca akan digiring. Dengan judul yang menarik, artikel juga harus dipastikan mampu memenuhi ekspektasi yang timbul akibat membaca judul. Setelah itu, pastikan proses menulis komentar tidak ribet. Memakai Facebook Connect akan mempermudah proses pengisian detil komentator tanpa harus menulis manual dan berulang-ulang.

Nah, bagaimana dengan produk Anda atau produk yang hendak Anda luncurkan? Sudah lebih hebat dari (jualan) voucher?

Oke, sekarang instruksi untuk kontes. Jika tempo hari Anda telah mengulas aplikasi, sekarang coba ulas sebuah produk riil yang selama ini telah memukau Anda. Kenapa Anda anggap produk tersebut hebat?