Browsed by
Tag: MarkPlus

Laporan dari MarkPlus Conference 09

Laporan dari MarkPlus Conference 09

MarkPlus Conference 09 ini benar-benar membuka mata. Di kala banyak orang menyangka bahwa 2009 bakal suram, ternyata masih tersimpan banyak peluang menggiurkan. “Krisis itu tidak ada”, kata HK. “Adanya hanya di sini (sambil menunjuk kepala)”, tukasnya lebih lanjut.

Diskusi dengan banyak ketua asosiasi industri mengungkap bahwa tahun 2009 adalah tahun yang cerah. Walau ada beberapa rasa pesimis terutama soal bunga pinjaman bank, sisanya masih positif. Pemilu khususnya malah bakal jadi salah satu alat penyembuhan krisis. 200.000 caleg, dengan anggaran 1-2 juta di tingkat bawah, belum lagi di tingkat atasnya yang masih mempunyai jumlah anggaran berbanding terbalik dengan jumlah caleg. Belum lagi tingkat nasional untuk RI 1. Bayangkan saja berapa banyak uang yang akan dikucurkan ke masyarakat luas dalam berbagai bentuk proyek.

Di atas adalah penutup rangkaian diskusi di Mark Conference 09. Di breakout session sendiri, materi-materinya tak kalah menarik.

Dulu saya tak pernah tahu sebenarnya fungsi POIN dalam dunia hape. Ternyata ini bentuk customer reward, dengan tujuan meningkatkan customer loyalty. Walau terkadang saya suka atau menghujat prgram seperti ini, saya tak pernah mengira ini ditujukan untuk mencapai customer loyalty. Lebih menarik lagi, ternyata bisa diturunkan suatu bisnis baru dari isu customerloyalty ini. MORE adalah aliansi mobile reward merchant dan operator yang concern dengan pembentukan customer loyalty (lewat wireless device). Kasarnya MORE ini adalah (micro)currency yang bisa ditranfer ke dan antar customer. MORE point bisa dijadikan gift kepada customer, dengan efek satisfaction dan loyalty yang lebih tinggi. Efek ini bsia dicapai karena MORE point bersifat fleksibel seperti gift/uang yang bsia di-redeem sesuai preferensi customer.

Ada banyak sekali hal-hal menarik lain seperti strategy Trident Indosat, optimisme Oke Shop tentang pasar jual-beli hape, dll. Tapi saya justru ingin bercerita tentang strategi Kentucky Fried Chicken.

Saya dulu masih heran: “Apaan sih ini CD Juliette ditawar-tawarkan di KFC. Emang bagus ya? Emang ada yang beli ya? Lagunya aja saya ndak pernah dengar.” Sekarang saya paham. Ternyata Juliette ini adalah salah satu brand Ambassador KFC. KFC menjual CD Juliete dalam rangka meningkatkan brand awareness KFC lewat brand KFC Hitlist. Tidak, penjualan CD bukan jadi sumber profit baru bagi KFC walaupun katanya penjualan CD di luar jawa sudah mengalahkan omset jualan ayam goreng. KFC memakai strategi KFC Hitlist dalam rangka membangun komunitas Hitter, berbicara lewat bahasa universal: Musik. Segmennya pun jelas:youngster. Jadi, yang merasa tidak bisa paham dengan langkah KFC ini mungkin bisa mengingat tanggal lahirnya kembali. Masih masuk generation Y atau tidak?

Berbicara tentang youngster, saya masih bertanya-tanya. Apakah segmen ini dituju karena jumlahnya yang besar, ataukah sebagai investasi? Menanamkan brand sejak dini sehingga saat kustomer saat dewasa sudah terlanjur lekat dengan brand terkait? Seperti pelanggan KFC yang umumnya sudah resep original dan berusia tua, dibandingkan dengan pelanggan muda yang suka crispy.Seperti Toyota Yaris yang disukai anak muda sementara orang tuanya memilih Avanza. Tidak hanya berusaha sekedar menyentuh seluruh market namun juga berwawasan panjang untuk “make the brand sticks forever”

Bagaimana menurut teman-teman? Atau malah muncul pertanyaan dan ide-ide beringas? Ayo segera tulis di kotak komentar!

PS:
NavinoT berhasil keluar sebagai salah satu pemengan kontes New Wave Marketing. Kami tak bisa mengungkap betapa kami berterimakasih banyak-banyak pada para teman-teman yang selalu bersemangat bertukar pikiran di sini. Ya, itu salah satu bukti efektifitas New Wave Marketing, khususnya di poin komunitas saya kira. Prestasi ini adalah prestasi NavinoT sebagai komunitas, bukan sekedar Ivan dan Toni saja. Jadi, Anda juga harus turut berbangga. Ini prestasi Anda juga!!

PPS:

Simak juga laporan MarkPlus Conference di MediaIde

Gak Jualan Obat!

Gak Jualan Obat!

“Peduli kolesterol”, begitu pesannya. Aneh bukan? Bukannya lebih baik jika langsung saja memakai pesan: “Pfizer datang, kolesterol hilang!”. Kenapa harus jauh-jauh dan repot-repot menghabiskan biaya dengan membuat iklan terselubung?

Bukannya ini hanya sekedar “microsite”? Ya,kampanye Pfizer ini memang mirip dengan penggunaan microsite yang lain. Mirip tapi tidak sama.Pfizer membangun kampanyenya tidak lewat game, atau aktivitas fun lain. Kampanye Pfizer ini berbeda karena sifatnya lebih serius, membahas isu kolesterol yang sepertinya telah menjadi isu penting dalam masyarakat. Atau justru ingin membangun kepedulian masyarakat akan efek kolesterol.

Apa yang didapat dengan menyediakan game untuk bersenang-senang? Tentu saja banyak buzz. Apalagi jika lucu, maka pemakai game tersebut akan memberitahukan temannya yang lain. Apalagi jika gamenya punya unsur “social”.

Lalu apa yang didapat dengan kampanye peduli kolesterol? “Do no evil”. Ya, yang didapat adalah nilai-nilai kebaikan. Kebaikan yang kemudian membuahkan rasa kepercayaan pada brand. Konsumen dan calon konsumen pun lebih percaya. Pfizer tak mungkin jahat pada mereka. “Pfizer membantu kita, Pfizer peduli kolesterol”. Dan selanjutnya,konsumen pun akan lebih memperhatikan iklan-iklan Pfizer. Yang biasanya segera dilewatkan, kali ini konsumen akan meluangkan sedikit waktu mereka untuk melihat apa yang ditawarkan Pfizer. Pun jika konsumen tidak akan membeli produk Pfizer dalam waktu dekat, pastilah mereka akan menaruh Pfizer dalam daftar prioritas saat mereka dihadapkan pada beberapa pilihan obat.

Intinya, di sini Pfizer membangun komunitas. Konsumen diajak bersama-sama berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang kolesterol. Tentu saja dengan dukungan expertise Pfizer dalam dunia farmasi. Konsumen senang karena tidak dibodohkan, sebaliknya diajak menjadi pandai dengan pengetahuan akan seluk beluk kolesterol.

Reap what you sow. Tebarkan benih baik maka niscaya akan kita panen hasil yang baik. Bukan jualan obat ;).

You know what? Counter pedulikolesterol.com saat tulisan ini dibuat sudah menunjukkan angka 277.407 kunjungan!

Dihubungkan dengan konsep New Wave Marketing, kampanye Pfizer ini sepertinya dimasukkan sebagai contoh Communization.

PS:

Ada yang tidak sinkron antara kampanye ini di televisi dan di websitenya. Ada tahu pada bagian mana?

NWMC: Menjual Diri Lewat Internet

NWMC: Menjual Diri Lewat Internet

Bila melihat konsep New Wave Marketing tentang pendekatan lewat komunitas, sepintas terlihat bahwa peranan individual menjadi semakin besar. Seseorang dengan jaringan yang lebih luas tentunya mempunyai bobot pendapat yang lebih berat di dalam komunitasnya. Hal ini membuat persaingan secara individual juga semakin kuat. Apakah anda telah mempersiapkan segalanya untuk bersaing? Dan mengapa harus bersaing?

Read More Read More

NWMC: Kreatif Memandang Pasar Dalam The Long Tail

NWMC: Kreatif Memandang Pasar Dalam The Long Tail

Setelah Blogging is Dead, sekarang ada hal kontroversial lagi. The Long Tail sebenarnya tak akurat![1] Paling tidak inilah yang diutarakan dalam artikel di The Register. Ini adalah pukulan telak bagi fan atau orang-orang yang percaya pada fenomena The Long Tail. Artikel dalam The Register mengklaim bahwa The Long Tail adalah merupakan teori yang menimbulkan sebuah gerakan, memotivasi ekonomi yang sedang lesu, memunculkan harapan baru. The Long Tail diklaim tidak memiliki data yang akurat, atau lebih tepatnya data yang disediakan diduga memang diarahkan untuk mendukung teori yang diangkat.

Diperlukan kapasitas tertentu untuk bisa pro atau kontra dalam hal akurasi data The Long Tail, oleh karena itu agaknya lebih baik jika kita bahas The Long Tail dalam kaitannya dengan New Wave Marketing.

The Long Tail memberikan informasi bahwa selling less is more. Bahwa ada pasar potensial yang diremehkan atau tak pernah dilihat padahal memberikan kontribusi luar biasa pada banyak perusahaan sukses. Amazon, Rhapsody, Netflix, dll adalah beberapa contoh yang disebut dalam The Long Tail. Dalam konteks New Wave Marketing, mengingat teori penting dalam buku Hermawan Kartajaya — On Segmentation, The Long Tail bisa dikategorikan sebagai proses kreatif dalam memandang pasar. Dengan cara kreatif memandang pasar, segmentasi berdasar demografi dan psikografi (watak konsumen) menjadi kuno karena memandang konsumen sebagai organisasi sosial (komunitas) adelah lebih kreatif dan tepat sasaran. Model komunitas yang mandiri dan saling menguatkan adalah lebih menarik dibandingkan dengan model pemasaran one-to-one.

Dengan mengangkat communitization, The Long Tail bisa menjadi lebih panjang lagi. Teori Long Tail hanya mencontohkan pembagian pasar berdasar popularitas produk dan preferensi konsumen. Menambahkan metrik (ukuran) komunitas akan memberikan satu aksis/poros tambahan untuk melihat Long Tail yang lain.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda juga terinspirasi oleh The Long Tail?

Photo by dan taylor

[1] via @budip

Artikel ini merupakan bagian dari New Wave Marketing Contest 2008 yang diadakan oleh MarkPlus, Inc. Silahkan simak juga artikel lainnya.

NWMC: Let Users Do The Marketing

NWMC: Let Users Do The Marketing

Membuat produk yang nyleneh dan langka (Purple Cow) memang menjadi modal utama. Tapi tidak harus berhenti sampai di situ saja. Produk yang unggul dan superior tak akan pernah terjual jika tidak ada orang yang tahu akan produk tersebut. Oleh karena itu keunggulan dan superioritas ini harus dikomunikasikan dengan sungguh-sungguh kepada konsumen. Lebih baik lagi, kepada konsumen yang tepat.

Siapakah dan kenapa harus memperhitungkan konsumen yang tepat? Tidakkah semua konsumen itu sama? Ya, mungkin beda kekuatan belinya, bukan begitu?

Tentu saja, konsumen yang tepat adalah yang memang mampu membeli produk kita. Dan juga membutuhkan value yang ditawarkan produk kita. Namun yang lebih tepat lagi, yang jauh lebih bermanfaat bagi produsen, adalah konsumen yang mau menjadi tenaga pemasar dari produk-produk Anda!

Seperti Threadless yang menggunakan participant untuk melakukan marketing. Seperti Feedly yang mengubah saya dan Aria Rajasa menjadi penyebar virus Feedly (thanks to @snydez). Seperti otaku yang tak ragu bercerita tentang anime terbaru dan terbaik yang ia tonton atau koleksi figurines terseksi atau paling keren yang mereka miliki. Anda bahkan tak perlu meminta mereka untuk bercerita, mereka akan bercerita dengan sendirinya. Mereka merefleksikan apa yang mereka terima, produk-produk yang benar-benar luar biasa.

Intinya ada pada menciptakan suatu produk yang experience/value-nya bisa dan pantas diceritakan ulang. Dengan modal ini Anda telah membuat satu langkah tepat ke arah memberdayakannya konsumen sebagai tenaga marketing. Lalu apa langkah berikutnya. Konsumen bisa saja telah mau menceritakan produk luar biasa kita, akan tetapi belum tentu mereka bisa atau mempunyai kesempatan untuk bercerita tentang pengalaman mereka. Jadi? Seperti yang Seth Godin katakan dalam Small Is The New Big: berikanlah corong! Berikan fasilitas pada para otaku-otaku Anda supaya lancar dalam proses menceritakan pengalaman mereka kepada orang lain. Kepada calon-calon konsumen potensial Anda. Temukan komunitas, bentuklah jika memang tidak ditemukan komunitas yang cocok. Perhatikan dan pupuk komunitas ini. Dapatkan feedback dan pastikan mereka selalu mendapatkan yang luar biasa dari produk-produk Anda. Niscaya meraka tak akan ragu untuk bercerita kepada yang lain untuk sekedar pamer atau mengajak yang lain untuk memakai produk Anda.

Communitization adalah strategi jitu, bukan lagi branding yang selalu dijejalkan tiap hari lewat billboard atau iklan televisi. Model seperti itu adalah model cuci otak. Hasil tidak dijamin tapi jelas berbiaya tinggi. Customer as Evangelist is the new frontier!

Artikel ini merupakan bagian dari New Wave Marketing Contest 2008 yang diadakan oleh MarkPlus, Inc. Silahkan simak juga artikel lainnya.

Photo by josangel_ap

NWMC: Please Take Pictures and Blog About It…

NWMC: Please Take Pictures and Blog About It…

Kisah ini diambil dari pengalaman saya ketika menemani sang calon istri untuk memilih baju pengantin. Karena saya berdomisili di Chicago dan sang calon istri masih di Indonesia, maka kita memutuskan agar dia jalan2 terlebih dahulu untuk mencari gambaran baju pengantin yang dikehendaki. Anehnya hampir semua tempat persewaan tidak memperbolehkan pelanggannya untuk mengambil foto baju2 pengantin yang disukainya. Memang ini bukan alasan satu2nya dan wajar bagi seorang perancang busana untuk melindungi hak intelektualnya. Tapi kita2 yang telah biasa dengan dunia internet jadi merasakan ini sebagai suatu ganjalan.

Read More Read More

NavinoT New Wave Marketing Month

NavinoT New Wave Marketing Month

Kehadiran NavinoT di dunia internet tentunya akan lebih lengkap bila kita berbicara tentang pemasaran, bukan hanya sekedar cara mengembangkan suatu aplikasi. Kebetulan sekali MarkPlus, Inc. sedang menyelenggarakan New Wave Marketing Contest 2008, maka NavinoT akan mencoba berpartisipasi dengan menulis artikel tentang marketing. Mungkin artikel yang bakal disajikan belum tentu terkait dengan dunia aplikasi, namun diharapkan masih bisa diterapkan dan diambil hikmahnya.

Read More Read More