Browsed by
Tag: microblogging

Ketika Facebook Jadi Membosankan, What Is Next?

Ketika Facebook Jadi Membosankan, What Is Next?

Mengagumkan memang ketika jumlah pengguna Facebook melebihi jumlah pemilik laptop dan komputer. Belum ada penelitian resmi, namum bisa dinalar bahwa kultur Facebook lebih mampu menyelesaikan persoalan gagap teknologi di berbagai lapisan masyarakat.

Dengan dukungan dari perangkat bergerak yang semakin murah harganya, dan spesifikasinya pun mendukung kebutuhan internet, maka jumlah tersebut lebih cenderung bertambah daripada berjalan di tempat.

The Next Big Thing

Facebook dan Twitter tak akan jadi tren abadi. Mau tak mau, mereka pasti akan menemui nasib seperti Friendster saat muncul produk baru yang lebih seksi dan menarik.

Jangan terlalu fokus membuat the next big thing. The next big thing teramat susah dikalkulasi. The next big thing happens in split second. Seperti saat Twitter jadi populer karena ada tragedi yang terjadi di sini.

Yang lebih masuk akal dan lebih mudah dihitung adalah produk yang menawarkan added value atau alternatif bagi yang sudah bosan dengan Facebook dan Twitter

Peluang Bagi Produk Lokal

Facebook dan Twitter bukan produk sempurna yang bisa memuaskan semua orang. Sehebat apapun manfaatnya, tak semua orang bakal merasa cocok dengan Facebook atau Twitter. Tapi banyak dari mereka yang terpaksa mencoba Facebook dan Twitter.

Setelah mereka bosan, kemana mereka akan pergi? Akan dipakai untuk apa perangkat bergerak yang sudah mendukung internet tersebut? Inilah peluang yang bisa ditangkap oleh produk lokal.

Bagaimana strategi untuk menangkap konsumen ini?

Augments Microblog

Habit konsumen tidak bisa diubah secara drastis. Saat ini mereka baru akrab dengan model status update di Facebook dan Twitter. Mungkin ditambah dengan mengunggah gambar dan video langsung dari hape. Oleh karena itu produk yang punya kesempatan sukses adalah produk yang model penggunaannya tidak terlalu jauh update status.

Ya, jadi agak jelas sekarang. Koprol bisa jadi the next thing karena mengaugmentasi status update dengan data lokasi. Tapi permainan baru mungkin harus ditambahkan supaya tidak terlalu terasa seperti produk pemain lama.

Enhances Social Network

Mengomentari status teman dan unggah foto jadul lama-lama pasti membosankan. Sedangkan Mafia Wars dan Farmville mungkin akan jadi produk tersendiri seperti yang disebut @dianarakeren. Lalu apa yang baru?

Mungkin koneksi selanjutnya adalah koneksi antara orang dan bisnis. Tidak sekedar dalam bentuk fans dan grup namun sudah menjangkau aktivitas transaksi. Jaringan sosial bisa dibawa ke tingkatan yang lebih lokal dengan entitas-entitas yang lebih nyata. Misalnya dengan entitas bisnis di sekitar tempat tinggal atau posisi realtime pengguna.

Where is Realtime Things?

Untuk yang satu ini silahkan Anda menyumbangkan komentar 😀

So, sudah siap dengan produk baru setelah Facebook dan Twitter jadi membosankan?

Kolaborasi Online

Kolaborasi Online

Collaboration

Kolaborasi adalah hal yang sudah terbukti bisa memberikan hasil lebih dari kerja sendiri. Wikipedia jadi bukti tak terpungkiri dari kolaborasi tingkat global. Twitter juga merupakan fenomena kolaborasi online, walau tidak punya arahan khusus seperti Wikipedia. Twitter membuat semua orang bisa berkomunikasi tanpa batas pada tempat yang sama yang pada akhirnya bisa digerakkan untuk membentuk output tertentu.

Jika ditujukan untuk kepentingan non-privat, dua contoh tersebut memang cocok. Namun bagaimana dengan kepentingan privat atau konersil, yang terkait dengan properti intelektual? Ada beberapa tool yang bisa dipakai.

Yammer

Yammer mirip sekali dengan Twitter. Hanya saja didesain untuk kepentingan korporat. Pengguna dikelompokkan berdasarkan imel korporat dan semua update-nya hanya bisa dilihat oleh anggota kelompok itu saja.

Shareflow

Produk dari Zenbe ini juga mirip dengan Yammer namun dilengkapi dengan attachment, dan konten tambahan yang mirip dengan status Facebook. Mungkin mirip Jaiku atau Pownce namun dibuat untuk keperluan privat/group.

Mediawiki

Tidak seperti microblog, Mediawiki lebih mirip Wikipedia. Ya karena pada mulanya memang digunakan oleh Wikipedia. Tidak berbentuk stream, mediawiki bisa dibentuk dengan kolaborasi untuk membangun knowledge center.

Google Wave

Google Wave memang belum dibuka sebagia produk umum, namun dari perviewnya telah jelas bahwa Wave akan jadi alat kolaborasi yang canggih. Memang belum ada kepastian akan adanya fitur group namun jika Wave bisa bekerja berdasar/berpusat pada imel, dengan sendirinya fitur privat akan terpenuhi.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkan Anda memanfaatkan kolaborasi online? Layanan apa yang Anda pakai? Apakah Anda memakai layanan kolaborasi lain diluar genre di atas?

PS:

Artikel ini adalah usaha diversifikasi konten. Melengkapi kategori tips yang lama tak terisi. Adakah tips-tips lain yang Anda inginkan?

Dampak Twitterfikasi oleh Facebook

Dampak Twitterfikasi oleh Facebook

twitterfication

Dari segenap pembaharuan yang dilakukan Facebook dengan fitur ‘publisher‘-nya, semakin mengarah ke fungsi-fungsi Twitter. Di sini pengguna bisa mengabarkan status terakhirnya, dan teman-temannya bisa saling memberi komentar.

Pergerakan ini sudah nyata bahwa Facebook ada minat untuk mengarah ke Twitter. Nah, apakah Facebook akan berhasil? Atau sebaliknya, Twitter akan melaju terus?

Read More Read More

Not Again: Is Blog Really Dying?

Not Again: Is Blog Really Dying?

Plus Minus Zero

I was reading this piece, somehow I had the urge to comment. It’s getting longer in the comment box so I think I’m going to jot it down here while also performing what we called trackback.

What microblogging is for?

Saya rasa microblogging “hanya” menambah unsur realtime dalam penyebaran konten. Untuk jadi realtime, berarti kita harus cepat. Dalam waktu yang cepat berarti konten harus singkat tetapi harus padat pada intinya. Lebih tepat lagi sebenarnya, sesingkat SMS karena mciroblogging dulunya dioptimasi untuk SMS. Microblogging is breaking news.

Microblogging saat ini sudah mengalami re-purposing. Di tangan early adopters yang techie, microblogging menjadi alat tepat untuk berbagi resource. Saling melempar link, dan menginisiasi buzz, membentuk awareness, dan macam-macam agenda lain.

What has happened to bloggers?

“Namun untuk mendekati ke Blogger saat ini tak semudah dulu, agar pesan Anda ditulis. Karena saat ini Blogger sudah jarang menulis, keblinger dengan social media dan microblogging, ditambah lagi dengan begitu banyaknya undangan buat para blogger menghadiri berbagai acara yang disponsori oleh merek tertentu.”

Saya kurang setuju. Dari dulu blogger memang susah didekati jika kita tidak mau mengerti si blogger. Blogger berangkat dari independensi, jadi jika seseorang mendekati blogger untuk menyuruhnya menulis sesuatu tentu saja bakal ditolak (apabila tidak bisa meyakinkan).

Pernyataan “keblinger” sepertinya agak berlebihan. Harus diingat juga bahwa blogger adalah early adopters. Mereka pasti akan mencoba semua hal baru, termasuk di dalamnya adalah microblogging dan social media. Jika memang media baru ini bermanfaat tentu saja mereka akan memakainya, dan bahkan merekomendasikan pada pembacanya.

Blogger diundang ke acara tertentu karena prestasi blogging itu sendiri. Semakin banyak pemegang brand yang sadar bahwa people trust their friends for almost everything. Termasuk dalam hal membeli dan menggunakan produk. Blogger adalah personal “tanpa” agenda. Motivasinya hanya sharing what’s good dan disclose what’s hidden. Kemiskinan agenda ini adalah salah satu hal yang membuat blogger lebih unggul (efektif) daripada media tradisional. Saya rasa kita sudah bisa membandingkan bagaimana acara Anda akan ditulis di media dan di blog. Dengan tambahan, Anda hanya bisa dapat satu tulisan di media tradisional, sementara Anda bisa dapat tulisan dengan banyak sisi di blogosphere.

Blogging vs Microblogging?

Sepertinya blogging dan microblogging ini bukanlah lawan. Hanya saja orang-orang tiba-tiba menemukan banyak hal lain yang bisa dibagi lewat microblogging. Microblogging menjadi dominan karena beberapa aktivitas non-blogging yang sebelumnya terpisah-pisah kini dibundel dalam satu channel. Upload foto, lalu nge-tweet. Masuk mall, lalu update koprol. Ada artikel menarik, selain masuk delicious juga masuk twitter. Anda nge-blog, ternyata mengupdate microblog juga.

Microblogging does not nullify blogging. Tapi blogging juga bukan hal sakral yang tidak boleh/bisa mati.

Apa pendapat Anda? Apa yang telah terjadi dan akan terjadi pada aktivitas blogging?

The 2010 Web

The 2010 Web

google squared

I’m going to write this as short as possible. My head almost explodes from the successive writing activity :(.

Bagi yang belum tahu, baru-baru ini Scoble berdebat soal web 3.0 dan web 2010. Scoble tidak setuju kalau web selanjutnya adalah web 3.0. Scoble lebih suka web 2010 atau pelabelan dengan model tahun. Web 2.0 bukanlah web versi 2.2.0 hanya dipakai sebagai penanda adanya beberapa perubahan mendasar dari model yang yang sebelumnya populer sampai dengan masa dot com bubble burst.

I’m a Scoble believer, I’ll stick with web 2010. jadi apa kira-kira bentuk web 2010? Dugaan saya sih web semantik. Demand ke arah ini sudah ada sejak lama. Dan kini teknologi pendukungnya mulai bermunculan. Wanna know?

Google Squared

Hari ini Google menjawab tantangan Wolfram. Google meluncurkan Google Squared. Squared memang tidak mirip dengan Wolfram dalam hal tampilan. Squared menyajikan tabel dengan memberikan analisa semantik atas result dari pencarian. Yang cukup mengesankan adalah pencarian tentang planet yang menghasilkan daftar planet dan atribut-atributnya. Yang jgua menarik adalah fitur yang memperbolehkan kita mengkombinasikan hasil pencarian dan menyimpan pencarian. Hasilpencarian untuk beberapa kunci memang terkadang meleset. Tapi saya kira hal ini akan segera diperbaiki baik lewat perbaikan algoritma atau integrasi partisipasi pengguna (wiki-like)

Semantic Twitter

Twitter dan sederet layanan microblogging lain adalah fenomena serupa web 1.0. microblogging saat ini adalah bentuk awal yang pastinya akan mengalami evolusi sebagaimana yang dialami oleh web. Saat ini kita sedang mengalami microblogging bubble. Pertumbuhan datanya sangat pesat, dan arahannya tidak pasti. Microblogging digunakan untuk berbagai keperluan dan konsep 140 karakter membuat usaha membaca data menjadi semakin rumit. Microblogging akhirnya berubah menjadi SMS on steroid, dengan berbagai singkatan kata yang tidak standar demi memenuhi batasan 140 karakter.

What we really need is another semantic for this microblogging services. Usaha ke arah ini sudah dipelopori oleh beberapa orang. Mereka membentuk sebuah “foundation” yang menawarkan sebuah proposal bagaimana microblogger bisa memformat datanya supaya menjadi machine processable dan tetap human readable.

Sama nasibnya dengan web. Metode bottom-up ini mungkin susah berjalan. Lihat saja microformats yang adem ayem saja. Perlu gebrakan top-down semacam Wolfram alpha atau Google Squared untuk membuat warga internet sadar akan manfaat semantic dan mau berpartisipasi secara bottom-up.

Who’s the Player?

Google sudah naik panggung. Siapa pemain selanjutnya? I won’t bet for Microsoft even they have their talented people in their house. Pemain selanjutnya ayng akan naik panggung adalah IBM. IBM sudah terkenal dengan konsep akademisi. Semantic lebih dekat dengan persoalan akademisi/lab. So, saya rasa IBM akan punya kesempatan kedua untuk kembali mendapat sorotan seperti dulu di awal era Personal Computing.

Pemain-pemain semantic seperti Calais, dan Wolfram. Apa yang akan terjadi dengan mereka saat the big guys waking up? Mereka harus banting setir supaya menjadi cukup berguna bagi akuisisi, atau bergerak ke arah niche menjadi makelar konsumen semantik. Jika mereka bisa menawarkan analisis semantik sebelumnya tentunya mereka sudah jadi ahli bagaimana cara memanfaatkan data hasil analisis tersebut.

Okay, sisanya silahkan go wild dalam kolom komentar. I need to rest my boiling head. Ayo jin-jin semantik, keluarlah kalian!

Menciptakan Peluang itu Tidak Sulit!

Menciptakan Peluang itu Tidak Sulit!

Yahoo Meme

Berita tentang Yahoo! Meme, sebuah microblogging service yang diklaim mirip Twitter, membuat saya bertanya-tanya? Kenapa meniru? Kenapa harus diluncurkan di Portugis? Mari kita coba cari tahu jawabannya.

Kenapa Meniru?

Sebenarnya tidak benar-benar meniru. Yahoo Meme! tidak punya batasan 140 karakter. Dan Yahoo! Meme juga tidak sekedar menawarkan kotak teks untuk mengupdate status. Masih ada fasilitas upload media yang bisa dipakai untuk berbagi foto maupun video.

Ternyata peluang itu mudah ditemukan ya? Lihat saja siapa yang sukses. Kalau meniru tidak mendapatkan hambatan soal hukum, ya kenapa tidak ditiru saja. Sambil berjalan, pengembangannya pasti akan mendapatkan arahan-arahan baru berdasarkan feedback pemakai.

Tengok saja situs-situs dalam negeri yang sebenarnya mencoba mengulang kesuksesan layanan serupa di luar negeri. Fupei,beoscope, dan Koprol mungkin terinspirasi dari layanan serupa yang sudah sukses. Tapi ternyata meniru tidak membuat layanan ini gagal total di pasar lokal.

Kenapa harus di Portugis?

Langkah ini adalah yang paling saya sukai. Untuk menghindari head-to-head dengan layanan serupa, Yahoo Meme sengaja diluncurkan di tempat yang kurang tersentuh efek twitter. Kalau Anda lihat di Alexa, Portugis sama sekali tidak terdaftar dalam 20 besar penyumbang trafik. Ini berarti Portugis adalah pasar yang cukup potensial. Gema twitter pasti terdengar sampai di sana namaun penggunanya tidak terlalu banyak. Berarti twitter mungkin bukan produk yang diidamkan pengguna internet di Portugis. Di sinilah peluang yang diciptakan oleh Yahoo Meme. Peluang berdasar tempat.

Kesimpulan

Jadi mungkin untuk membuat startup baru kita tidak perlu pusing dengan ide. Tiru saja startup yang sudah sukses. Dan temukan juga tempat yang tepat untuk meluncurkan layanan ini. Eh, bingung bagaimana kita bisa pindah ke Portugis? Bukannya calon pengguna bisa dicari lewat iklan tergetted? Pasang saja iklan yang diset untuk negara tertentu saja. Tiap negara pasti punya jaringan iklan online lokal. Kalau masih susah, coba saja beriklan di Facebook.

Bagaimana? Masih beralasan susah cari ide atau susah cari calon pengguna? Kalau soal modal bagaimana?

Kebutuhan vs. Keinginan

Kebutuhan vs. Keinginan

neednwant

Beberapa hal yang dibutuhkan…

Saya butuh Google untuk membantu saya mencari informasi di internet hanya dengan serangkaian kata kunci.

Saya butuh WordPress untuk membangun blog ini secara cepat & irit.

Saya butuh Detik.com untuk mendapatkan informasi online paling cepat & aktual.

Saya butuh Facebook untuk berhubungan kembali dengan teman-teman lama, sembari menjalin persahabatan baru.

Saya butuh BlackBerry untuk berkomunikasi dengan teman & rekan di mana saja, kapan saja.

Beberapa hal yang diinginkan…

Saya ingin beli Apple iPhone 3G, karena keren banget layar sentuh-nya!

Saya ingin beli kaos karya designer terkenal, karena desainnya OK banget.

Saya ingin berlangganan RSS NavinoT, karena artikelnya menarik.

Saya ingin bergabung dengan Kaskus, karena ingin tahu gosip terbaru.

Saya ingin bergabung di Flickr, karena komunitas fotonya menarik sekali.

Dari sedikit perbandingan di atas bisa terlihat perbedaan antara keinginan dan kebutuhan. Sesuatu yang dibutuhkan terkesan begitu mendasar dan integral. Tanpa pikir panjang, produk atau layanan ini lebih mudah untuk diterima, bahkan mempunyai kemungkinan sukses yang lebih besar.

Lain halnya dengan beberapa contoh kalimat yang berdasarkan keinginan. Terlihat tidak terlalu penting, bisa dilewatkan, dan lebih berasal dari impulse. Tanpa barang atau layanan ini, sang pengguna/pembeli masih bisa bertahan hidup dengan fungsi awalnya.

Bila dilihat dari sederetan produk atau layanan web/teknologi yang selamat dari DotCom bubble, terlihat bahwa kehadiran mereka begitu mendasar. Seperti Google dengan mesin pencari-nya, meskipun revenue-nya berasal dari iklan sepenuhnya. Begitu juga dengan eBay yang menjadi pusat pedagangan bagi perseorangan yang selama ini kesusahan menjual barang-barang yang tidak diperlukan.

Bila diamati, suatu yang dibutuhkan cenderung mempunyai tingkat kesuksesan yang lebih tinggi, meskipun tidak mutlak. Banyak layanan web2.0 yang sangat keren, tapi tidak memenuhi kebutuhan dasar. Bahkan model bisnis saja tidak ada.

Hal ini juga dialami oleh Twitter diawal kehadirannya. Banyak yang menganggap berkomunikasi secara singkat dalam ukuran SMS tidak ada manfaatnya. Lambat laun, manfaat Twitter semakin terasa di dunia social media, bahkan banyak selebriti yang berpartisipasi. Kini Twitter dianggap mempunyai nilai lebih, bukan karena keren saja. Microblogging dibutuhkan untuk berkomunikasi secara singkat dan efisien.

Facebook? Bila semua teman sudah dikumpulkan, yang tersisa hanyalah permainan ala Mafia War. Inilah saat penentuan apakah Facebook benar-benar kebutuhan dasar kita di dunia maya.

Apa pendapatmu tentang Kebutuhan vs. Keinginan? Apakah Facebook & Twitter merupakan kebutuhan? Atau hanya tren sesaat? Apa aplikasi anda memenuhi kebutuhan?

Asyik Koprol Dengan Satya Witoelar

Asyik Koprol Dengan Satya Witoelar

koprollogo

Koprol – Nama lucu yang merupakan karya terbaru dari Satya Witoelar ini adalah sebuah layanan jejaring sosial berbasis lokasi. Dengan ciri khan warna hijaunya, Koprol sempat mendapatkan perhatian media televisi di awal peluncurannya. Kini Koprol telah mendekati tahap public beta dalam waktu dekat. Berikut adalah perbincangan NavinoT dengan sang pendiri Koprol:

Read More Read More

Apa Twitter Pantas Untuk Google?

Apa Twitter Pantas Untuk Google?

twitter

Bila mengamati tren percakapan di bidang teknologi akhir-akhir ini, tentu tidak akan luput dengan bahasan Facebook atau Twitter. Selain Facebook yang semakin gencar dengan penggunannya yang protes akan halaman barunya, Twitter juga tidak kalah gaungnya dengan pertumbuhan layanannya yang semakin pesat. Beberapa juga masih bingung model bisnis apa yang akan menghidupi Twitter untuk kemudian hari.

Read More Read More