Browsed by
Tag: mozilla

Bunuh Browser, Hidupkan HTML 5?

Bunuh Browser, Hidupkan HTML 5?

Ada artikel menarik di GigaOm tentang pertarungan native app dan HTML 5. Ternyata dari studi yang dilakukan oleh Flurry, native app lebih sering dipakai daripada web app (HTML 5). Lagak-lagaknya, kita mungkin over optimis dengan HTML 5. Jumlah aplikasi yang ada saja jauh lebih sedikit dari pada native app. Padahal sifat HTML 5 ini sudah benar-benar cross platform. Tanya kenapa?

HTML 5 itu Susah?

Ah yang benar? Bukannya membuat web itu gampang? Well, relatif gampang. Yang jelas, banyak yang bisa membuat web bagus dan mengundang decak kagum. Teknologinya bisa agak dinomorduakan, yang penting desain dan pengalaman buat user dulu. Banyak native app yang menyediakan fungsi sederhana, beberapa malah membuat ulang aplikasi jaman PDA dan J2MEyang notabene bukan aplikasi kompleks. Still, masih lebih laku native app.

Gak Ada App Market untuk HTML 5

Ya antara betul dan ngibul. Chrome appstore tak menolak aplikasi sejenis launcher. Mozilla malah punya inisiatif untuk membuat webstore yang bersifat open. Dulu, kita malah sudah punya oneforty walau terbatas hanya untuk Twitter. Tapi tidak ada yang take off. Paling gampang sih kita salahkan sedikitnya jumlah aplikasi. Gak ada aplikasi buat apa ada pasar?

Susah Dimonetisasi?

Ah, bo’ong lu. Web itu sudah ada sejak dulu. Dan e-commerce pun lahir di web. Metode pembayaran paling banyak ya di web. Tinggal pasang tombol Paypal. Kalau mau usaha dikit baru deh implement API supaya tercipta pengalaman yang lebih “seamless”. Yang nge-blend.

Segala peluang model monetisasi di native app bisa dilakukan di web. Mulai dari aktivitas standar beli konten sampai tren masa kini: in-app purchase, bisa juga diterapkan di web. Sifat platform web yang lebih cenderung fleksibel, mudah diupdate, membuat produk di platform web punya potensi untuk selalu kompetitif di sisi bisnis. Sekarang beli besok gratis juga bisa kali. Kurang apa?

Si Browser Brengsek

Bukan, saya tidak membicarakan satu dua browser tertentu, walau memang ada pengaruhnya juga karena cross platform-nya jadi dent di satu sisi. Tapi jaman sekarang semua sudah tahu pentingnya web. Jika browser-nya tidak up-to-date kemungkinan besar service provider tidak bakal mendukungnya. Kontrol platform ada di tangan service provider. Phew.

Kenapa saya sebut browser brengsek? Well, karena penyebab HTML 5 tidak kunjung take off adalah browser itu sendiri. Bukan soal support teknologi, tapi soal chrome/UI-nya. It doesn’t feel app-y. It’s too big?

Lama-lama, tab yang kita puja-puja — karena melepaskan kita dari kekang multi-window — kini serasa mencekik kita kembali. Munculnya smartphone membuat tampilan web di monitor laptop/desktop kita jadi pembuat dosa besar. Tidak maksimal dalam pemanfaatan layar. Terlalu banyak elemen tak penting. Tidak app-y.

Mungkin si browser brengsek ini terlalu lebar, terlalu bebas, terlalu fleksibel, terlalu terbuka. Kurang batasan supaya para pembuat produk jadi lebih kreatif. Perspektif harus diubah. Kelebihan adalah keterbatasan.

Apeu.

Toys to play

Toys to play

jetpack

Weekend sudah datang kembali. Bagi yang hobi nonton, mungkin ini saatnya nonton marathon. Bagi yang suka coding, mungkin ini saat yang tepat untuk hacking melepas penat mingguan. Apa yang bisa dibuat mainan weekend ini?

Jetpack

Addon mozilla ini baru saja menambahkan galeri dalam rangka melengkapi sitemapnya. Jika Anda telah akrab dengan Greasemonkey, Anda tidak akan terlalu merasa asing dengan Jetpack. Jetpack punya banyak kemiripan dengan Greasemonkey. Fitur utamanya adalah menjalankan skrip (javascript) pada halaman yang sedang dilihat. Bedanya dengan Greasemonkey, Jetpack lebih well-thought (belajar dari Greasemonkey juga) dengan desain yang tak tampak seperti hack.

Saat ini dengan Jetpack kita bisa menggunakan jQuery (included) untuk melakukan manipulasi DOM, dan melakukan XHR. Jetpack juga punya kemampuan menambah menu baik di context atau di toolbar. API untuk dukungan storage dan multimedia juga telah tersedia. Browse saja bebeerapa contoh Jetpack. Saya yakin Anda akan ternganga melihat kesederhanaannya. Sesuai moto Jetpack, Anda cukup perlu tahu HTML, CSS dan Javascript!

Contoh Jetpack, untuk mengedit gambar menggunakan Pixlr:

jetpack.future.import("menu");

jetpack.menu.context.page.on("img").add(function(target)({
  label: "Edit Image",
  icon: "http://pixlr.com/favicon.ico",
  command: function(){
    $.get("http://developer.pixlr.com/_script/pixlr_minified.js", function(js){
      var doc = target.document;
      var win = target.window;

      var script = doc.createElement("script");
      script.innerHTML = js;
      doc.body.appendChild( script );

      win.wrappedJSObject.pixlr.overlay.show({
        image: target.node.src,
        title: "Edited Image"
      });
    });
  }
}));

Ubiquity

Ubiquity menyediakan set perintah yang bisa dipakai di browser Firefox. Ubiquityberfungsi seperti konsol yang bisa dimunculkan dan punya konteks sesuai dengan halaman webyang sedang dilihat. Kita bisa memakai Ubiquity untuk mengupdate status twitter. Kita bisa menyorot sejumlah paragraf dan kemudian memakai Ubiquity untuk menerjemahkannya (tanpa harus dilempar ke halaman Google Translate).

What to hack? Tentu saja kita bsia membuat perintah-perintah baru dalam rangka memudahkan pekerjaan kita (atau orang lain) sehari-hari. Tidak hanya berinteraksi dengan halaman web, Ubiquity juga bisa berinteraksi extension yang kita install di Firefox, misal: Foxytunes.

Contoh “Hello World” dalam Ubiquity:

CmdUtils.CreateCommand({
  names: ["say hello"],
  execute: function hello_execute() {
    displayMessage("Hello, World!");
  }
});

Yang menarik dari dua mainan di atas adalah kita tidak perlu restart Firefox untuk menjalankan skrip yang telah kita tulis.

Nah, minggu ini mau pilih mainan yang mana? Atau mau mencoba Git?

Mau Inbox Seperti Apa?

Mau Inbox Seperti Apa?

Joyful Day, I'm Inbox Free

Take back your inbox, begitu kata Thunderbird. Tapi saya sudah tidak pernah pakai Thunderbird lagi. Saya sebenarnya suka tapi saya leih mementingkan portability dan availability. Saya lebih suka GMail walaupun sebenarnya Thunderbird bisa mengambil imel lewat IMAP. POP sucks.

Mungkin cerita orang tentang mail client akan mirip-mirip seperti saya. Hanya satu dua fitur utama yang benar-benar tak bsai ditinggalkan. Fitur lainnya, yang dibawa oleh mail client, mau tak mau harus diterima semua kelebihan dan kekurangannya dengan lapang dada.

Sebenarnya mail client seperti apa sih yang kita mau?

Search Don’t Sort

Ini adalah tagline GMail yang merubah perilaku banyak orang dalam berinteraksi dengan e-mail. E-mail memang data yang bertanggal, namun e-mail juga sebuah bentuk conversation. Data tanggal biasanya susah diingat, yang kita ingat adalah keyword percakapan. Oleh karena itu lebih intuitif unutk melakukan search daripada sorting.

Not Just Text

Xoopit adalah salah satu layanan yang saya senangi karena saya bisa menelusuri imel saya dengan cara yang berbeda, berdasarkan attachment gambar. Xobni memperkaya informasi tentang pengirim e-mail dan fitur lain yang lebih person-based. Gist memperkaya e-mail dengan data-data dari social network, menekankan fokus pada membeirtahu apa yang terjadi dengan kontak-kontak kita.

We want a hub

Yang kita monitor tidak lagi imel saja karena kita juga berkomunikasi lewat social network dan social media. Message dari Facebook, Dm dan mentions dari Twitter, dan pesan-pesan lain dari berbagai layanan yang kita ikuti. Memeriksa satu persatu inbox di tiap layanan tentunay tidak efektif. yang ktia perlukan adalah sebuah hub yang akan menampung semua pesan dan mampu menghubungkan pesan-pesan tersebut.

The real value bukan pesan itu sendiri tapi goal yang terpecah-pecah dalam pesan tersebut. Goal bisa berupa diskusi, menentukan tempat, menyusun event, dan lain-lain

Raindrop

Mozilla kembali meluncurkan proyek menarik. Kali ini terkait dengan messaging dan diberi nama Raindrop. Konsepnya mirip dengan hub yang kita singgung di atas. UI-nya belum terlalu menjanjikan. Dalam tahap awal prototype ini, semua message akan dikumpulkan dalam kategori. Tampilannya akan sedikit menyerupai GMail. Mudah-mudahan saja message tidak akan expanded by default karena akan jadi tiresome untuk melihatnya satu per satu.

Yang jadi andalan adalah pengurutan pesan, di mana yang penting akan mendapatkan prioritas. Algoritmanya masih misterius. Namun hasilnya mungkin diharapkan mirip dengan fitur Sort By Magic yang diluncurkan Google Reader baru-baru ini.

Coba, seperti apa mail client yang Anda inginkan?

Mozilla Ubiquity: The Good and The Bad

Mozilla Ubiquity: The Good and The Bad

Mozilla Ubiquity adalah salah satu proyek Mozilla yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas interaksi antara pengguna dan browser. Mozilla Ubiquity ini mirip dengan script Greasemonkey yang dengan setia menuggu di belakang layar. Menunggu untuk dipanggil dan digunakan lewat berbagai periuntah yang ada. Bedanya dengna greasemonkey adlah set API yang disediakan, yang bisa dipakai dalam pengkodean perintah. Jika greasemonkey memiliki userscript.org, maka sepertinya Ubiquity memiliki semacam repositori resmi tersendiri yang disebut Herd.

The Good: Aspek sosial

Selain memberikan shorcut tambahan untuk membantu kita dalam beraktivitas dan berinteraksi dengan internet, Ubiquity juga akan mengikutkan fitur sosial. Meskipun aspek sosial belum begitu tampak saat ini, bsia dipastikan bahwa aspek sosial ini akan segera diimplementasikan ke dalam Ubiquity. Hal ini bisa kita lihat dari tampilan pesan yang muncul sewaktu kita hendak menginstall perintah baru. Dijanjikan pada versi 0.2, akan ada fitur social trust.

The Bad: Apa yang salah?

Dari segi teknis, Ubiquity sangat menjanjikan akan tetapi dalam keseharian Ubiquity ini tidak pernah saya pakai. Padahal banyak aktivitas saya yang bisa dilakukan lewat Ubiquity. Misal, mencari referensi lewat Google. Ubiquity secara default selalu berada pada mode pencarian. Jika perintah yang anda ketik tidak terdaftar sebagai perintah maka seara otomatis Ubiquity akan menampilkan shortcut pencarian ke google, dan wikipedia.

Bagaimana mungkin Ubiquity tidak saya pakai. Apakah Ubiquity kurang efektif dan efisien? Bukankah lebih cepat untuk menekan beberapa tombol daripada menarik mouse ke sudut kanan atas dan mengetikkan ”search terms”? Alih-alih membuka Google map dan mengetikkan koordinat atau alamat yang kita cari, tidakkah lebih cepat jika kita sekedar mem-blok baris-baris alamat di halaman web dan mengetikkan “map this”?

Jawabannya sederhana: saya tak pernah ingat bahwa saya punya Ubiquity! Benar, dalam UI browser saya, tak satupun tanda bisa ditemukan untuk mengingatkan saya bahwa Ubiquity telah ada di sana dan siap membantu saya dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari saya dalam berinteraksi dengan browser. Untuk googling atau mencari di Wikipedia saya menekan Ctrl+K, untuk membuka halaman baru saya memakai Ctrl+L, untuk twittering saya memakai Twitterfox.

The Hope

Disamping logo atau tanda presensi apapun itu, sepertinya kita juga harus menunggu atau malah langsung beraksi untuk menambahkan perintah-perintah yang sering kita pakai namun belum tersedia. Tak bisa disangkal, Ubiquity takkan bisa memenuhi kebutuhan semua orang.Apalagi jika yang menulis dan menambahkan perintah baru hanyalah para geek yang mungkin kebutuhannya sama sekali jauh dari dunia anda. Saya membayangkan di masa depan mungkin ada starter pack

untuk Joe User, Internet savvy, Stock Broker, Hacker, Graphic Designer, dan lain-lain. Mungkin juga Ubiquity akan jadi default addon di Firefox 3.1 mengingat potensinya yang luar biasa. Ubiquity mungkin juga akan menyumbangkan API resmi yang bisa dipakai oleh addon-addon lain untuk menyisipkan shortcut fungsionalitas addon-addon tersebut.

Sampai saat itu terjadi, yang saya inginkan hanyalah “buatlah saya tahu kamu (Ubiquity) ada di sana”.

Reblog this post [with Zemanta]