Browsed by
Tag: naked conversation

Kenapa Perusahaan Takut Ngeblog

Kenapa Perusahaan Takut Ngeblog

Can't commit?

Melanjutkan Rasa Buku minggu kemarin, masih tentang blogging dan Naked Conversation. Kali ini akan kita bahas bersama 4 poin sisa dari topik Kenapa Perusahaan Takut Ngeblog. Berbeda dengan tiga poin pertama, empat poin terakhir ini agak susah saya cerna. Poin-poinnya lumayan mirip dan bisa beririsan dengan tiga poin yang pertama sehingga agak susah dicari penjelasan pasnya.

  1. Loss of Message Control. Perusahaan takut kehilangan kontrol atas pesan yang ingin disampaikan. Takut akan konsumen yang bersuara dan membuat apa yang coba disampaikan perusahaan menjadi tidak tersampaikan sesuai tujuan. Well, kabarnya, sales executive yang bagus pasti akan mengatakan: ketika saya bicara dan prospek hanya mendengarkan secara pasif, besar kemungkinan deal tidak akan tercapai. Sebaliknya, jika prospek menyambut perkataan saya atau bahkan bertanya macam-macam, justru kemungkinan deal semakin besar. Ketika prospek menyambut apa yang dilempar sales, baik dengan kritik pertanyaan tajam dan lain-lain, berarti prospek sebenarnya sedang mencoba berkompromi dan mencari solusi terbaik (“working the issue”). Dialog beats monologue.
  2. Competitive Disadvantages. Perusahaan takut bahwa semua yang muncul di blog nantinya akan digunakan oleh pesaing untuk menyerang balik. Hal ini memang mungkin namun blog bukan satu-satunya sumber informasi. Pesaing bisa mencari informasi tentang rivalnya dari mana saja, tidak terbatas blog. Lebih jauh, dalam aktivitas blogging, pegawai tentu sudah cukup waspada mengenai apa yang bisa bebas dibicarakan dan mana materi yang sensitif.
    Bahkan, memupuk kompetisi justru bisa membawa advantage. Dalam kasus Scoble sewaktu masih bekerja di Microsoft, Scoble sering membicarakan kekagumannya dengan iPod atau kerennya Google. Tampak aneh memang namun hasil akhirnya adalah orang percaya dia dan Microsoft (sebagian mungkin) karena Scoble mampu memberikan gambaran wacana-wacana secara berimbang.
    Juga, dalam hal kompetisi, siapa yang memulai lebih dulu hampir pasti punya memiliki lebih banyak advantage. Sisanya, walaupun bisa jadi juara, masih akan dicap sebagai pengikut dan penggembira.
  3. Too Much Time – So Few in the Audience. Tak bisa ditampik, blogging itu perlu waktu bahkan bisa memakan waktu tahunan. Ini adalah investasi. Semakin kecil perusahaan, semakin besar investasi yang diperlukan demi blogging. Blog yang dimulai namun kemudian ditinggalkan hanya akan mendatangkan banyak kerugian daripada keuntungan.
    Ada alternatif yang bisa dipakai untuk mengatasi hal ini, yaitu: outsourcing. Tentu saja harus direncanakan dengan matang karena menyuruh orang lain menulis tentunya tidak akan sama hasilnya jika kita tulis sendiri. Meskipun demikian, hal ini masih lebih baik daripada tidak ada blog, bagi beberapa pihak.
  4. Employee Misbehaviour. Takut tiba-tiba karyawan berulah di ruang blog? Masih ingat tentunya dengan kasus blog hitam TransTV. Karyawan yang tidak puas pasti akan selalu ada, tak peduli betapa sempurnanya si employer. Namun seperti yang kita ketahui, hal ini jarang sekali terjadi. Sangat jarang orang yang berulah secara destruktif dalam blog perusahaan. Walau kemungkinan ini masih terbuka untuk berkembang, di sisi lain orang-orang akan semakin pandai dalam melakukan blogging. Fase pertama mungkin dipenuhi syok kebebasan, akan tetapi setelah itu budaya akan terbentuk dan orang-orang menjadi lebih mengerti cara melakukan blogging secara efektif.

Kesimpulannya, menambahkan apa yang ditulis Ivan kemarin, blogging memang relatif kedudukannya dalam suatu perusahaan. Blogging itu penting, walau tak selalu diperlukan. Kesuksesannya ditentukan oleh budaya perusahaan dan niat dalam melakukan blogging. Jika kita tidak berniat berubah, atau tak berniat benar-benar mendengar maka blog hanya akan jadi duri sumber luka bagi kita dan budaya kita.
Tapi ketahuilah, orang-orang di luar sana selalu mendambakan perusahaan yang mau melakukan percakapan dengan mereka. Tidak akan ada yang mudah percaya kalau suatu perusahaan baik-baik saja. Apalagi kalau perusahaan terlalu berlebihan dalam berupaya membentuk opini “I am perfectly fine” tanpa mengakui hal-hal lain yang mungkin tidak terlalu sempurna.

Naked Conversation: Kenapa Perusahaan Takut Ngeblog?

Naked Conversation: Kenapa Perusahaan Takut Ngeblog?

Unsure

Blogging bagi banyak orang hanya soal sepele. Mau ngobrol apa saja juga bisa, tak perlu terlalu banyak pikiran aneh-aneh. Tapi lain halnya dengan perusahaan. Yang jelas, perusahaan bukan milik satu orang saja, dan cara interaksinya dengan pihak lain adalah tidak sama dengan komunikasi tingkat personal.

Naked Conversation mendaftar tujuh alasan kenapa perusahaan takut memulai blog. Mari kita bahas satu per satu.

  1. Komentar Negatif (Negative Comments). Perusahaan mana coba yang suka dijelek-jelekkan? Tapi perusahaan tersebut lupa, bahwa cepat atau lambat, jika mereka memang jelek pasti akan mucul komentar jelek. Blog hanya salah satu kanal yang sebenarnya malah lebih bisa dikontrol. Dikontrol tidak dalam artian dihapus atau dimoderasi selamanya, akan tetapi dijawab secara langsung di tempat yang sama.Percaya atau tidak, ternyata komentar dalam blog perusahaan cenderung lebih sopan daripada komentar yang ditulis di tempat lain. Bagi yang berpikiran positif, komentar negatif adalah ”tough love” seperti jeweran seorang ibu pada anaknya yang nakal. Jika perusahaan tidak melakukan hal yang buruk, tak perlu takut dengan komentar negatif. Masih ada Hancock effect. Mungkin saja customer loyalty (customer evangelists) Anda akan turun tangan memberikan pembelaan.
  2. Membeberkan Rahasia (Disclosing Confidential Information). Ya, perusahaan takut bahwa blogging bisa (tak) sengaja membuat resep atau skandal rahasia perusahaan tersebar. Sebenarnya bukan hanya blogsaja yang harus diwaspadai sebagai sumber kebocoran. Kanal-kanal lain yang lebih jauh dari publik justru bisa jadi lebih berbahaya. Walau memang kekhawatiran kebocoran rahasia lewat blog adalah nyata, sebenarnya efeknya telah dibesar-besarkan oleh FUD (Fear, Uncertainty and Doubt). No one really sure, not?
  3. Tidak ada ROI (No ROI). Perusahaan takut, blogging jelas-jelas akan makan waktu sementara tidak menghasikan Return of Investment. Padahal ROI mutlak vital sifatnya bagi perusahaan.Sebenarnya, banyak juga aktifitas perusahaan yang tidak menghasilkan ROI. Seperti press release, undangan CEO menjadi pembicara, brosur profil perusahaan, dan lain lain. Tapi hampir semua paham bahwa aktifitas tersebut adalah investasi jangka panjang. Bloggin juga bisa dianggap investasi jangka panjang sebagai bagian dari bentuk goodwill, kontribusi non-profit, atau layanan pada komunitas. Bahkan blogging bisa dianggap perpanjangan brand, jika kita mendefinisikan brand sebagai: apa yang orang rasakan tentang perusahaan Anda

Bagaimana? It’s not all bad. Indeed, memang ada resiko yang harus di-manage. Tapi bukannya selalu begitu? Bahwa setiap langkah perusahaan adalah permainan resiko. Bahkan mungkin ada yang bilang: greater risk leads to greater profit 😉

PS:

  • Katanya tujuh, kok di atas cuma tiga? Yang tiga gratis, sisanya bayar dong. Kidding? Empat sisanya boleh ditagih minggu depan 🙂
  • Buku yang dibahas di atas adalah Naked Conversation