Browsed by
Tag: netflix

Seberapa Jauh Kamu Melihat ke Depan?

Seberapa Jauh Kamu Melihat ke Depan?

Netflix

Netflix, berdiri sejak tahun 1997 dan memulai usahanya dengan rental DVD. Bukan rental DVD biasa, namun rental dengan biaya flat dan dikirimkan di mana pun Anda tinggal. Cukup ambisius mungkin untuk tahun 1997 di mana tren rental masih mengharuskan konsumen datang dan meminjam di outlet penyedia layanan. Belum lagi jika DVD-nya tak punya batas waktu pengembalian. Saya bisa lihat dahi Anda berkerut-kerut di sana. Netflix hanya membatasi jumlah maksimal DVD yang boleh Anda simpan setiap saat, tergantung jenis langganan yang Anda bayar.

Sepuluh tahun berlalu, dan kini Netflix sudah merambah ke delivery DVD lewat Internet. Tidak dengan hardware khusus, namun dengan menyediakan layanan yang tersedia di berbagai macam media mulai dari Disc Player, TV sampai dengan XBox.

Lalu, apa yang menarik dari Netflix?

Yang pertama adalah soal visi. Jika kita mendirikan rental DVD baru, kira-kira nama apa yang akan kita berikan? Studio One? Snoopy? Seberapa jauh visi yang kita pakai sebagai panduan ke depan? Reed Hastings (CEO Netflix) tidak mengambil nama DVD by Mail yang sebenarnya pas sekali dengan apa yang ditawarkan usahanya saat itu. Pemilihan nama Netflix menggambarkan visi Hastings tentang masa depan usahanya. Bahwa suatu saat nanti, pengiriman lewat post akan digantikan dengan internet. Hastings mungkin sudah melihat tanda-tanda ini walau mungkin saat itu masih berupa proof of concept yang hanya bsia dinikmati sebagian kecil orang saja.

Yang kedua. Netflix sebenarnya sempat punya ide membuat player khusus untuk layanan streaming-nya yang waktu itu sudah populer lewat PC. Namun tak lama sebelum peluncurannya, rencana ini dibatalakan karena Hastings merasa konsumen tidak akan menyukai tambahan peralatan elektronik lain di antara DVD player, game console, dsb. Netflix Player akhirnya di-spin off, dibawa ke perusahaan lain bernama Roku.

Alih-alih mengembangkan hardware, Netflix berfokus pada strategi awalnya yakni mengantarkan DVD ke konsumen. Tidak hanya membatasai diri lewat PC, Netflix memperluas layanannya supaya tersedia langsung di televisi, game console, laptops, dan bahkan smartphone. Alih-alih mecoba menawarkan barang baru, Netflix menginfiltrasi semua hal yang mungkin telah dipunyai konsumen. Netflix is everywhere.

Lesson learned? Teknologi yang saat ini masih berupa prototipe atau dimiliki organisasi besar tertentu, suatu saat akan menjadi mass product. Saat hal itu terjadi, Anda bisa berdiri di sana terlebih dulu. Caranya tentu saja kita harus berpikir cukup jauh ke depan. Pada suatu titik, mungkin kita akan tergoda untuk membanting setir demi mengakomodasi kesempatan yang tampaknya menggoda seperti saat Netflix hendak meluncurkan Netflix Player. Tapi konsistensi rupanya bisa berbuah manis. Ada kesempatan besar yang terselubung di depan. Jika saja Netflix berfokus ke player-nya saja, mungkin Netflix tak akan bisa mendominasi layanan video on demand seperti sekarang ini.

Jujur saja, ini tampak seperti cerita indah yang biasa kita dengar dari orang yang sukses. Hei cerita ini mungkin berguna saat kita bimbang atau sedang memerlukan inspirasi.

Jadi, seberapa jauh Anda memandang ke depan?

Netflix dan Gamefly

Netflix dan Gamefly

Snail mail

Di luar negeri kita mengenal Netflix sebagai penyedia layanan sewa DVD. Kita tidak perlu datang ke kantor Netflix, DVD akan dikirimkan ke rumah kita. Katalog dan pemesanan bisa diakses lewat internet. Dan dengan populernya layanan broadband, Netflix juga turut menawarkan “DVD over IP”. Ibarat memiliki Media Center sendiri, kita bisa menelusuri katalog dan langsung play.

Tidak hanya DVD (movie), ternyata game juga bisa disewakan. Gamefly mengambil bisnis model ini. Pesan lewat katalog online, game akan dikirim ke rumah Anda. Mainkan game sepuasnya, tanpa khawatir denda telat mengembalikan. Begitu dikembalikan, Anda akan dikirimi game lain dalam daftar pesan Anda.

Oke, sekarang mari terbang kembali ke Indonesia. VideoEzy, ada di antara Anda yang sempat atau masih jadi pelanggan? Sewaktu masih tinggal di Jogja, saya sempat menjadi saksi tutupnya salah satu cabang VideoEzy. Tampaknya mereka kalah bersaing dengan jaringan rental DVD bajakan yang semakin solid.

Ada beberapa hal yang membuat saya tidak menjadi pelanggan setia VideoEzy. Yang pertama tentu saja soal keterbaruan koleksi. Jika saya mampu membeli tiket bioskop untuk film terbaru maka saya tak akan pergi ke VideoEzy. VideoEzy tidak bisa mengikuti tren film terbaru. Kalau pun bisa, konsumen akan lebih memilih menonton di bioskop.

Yang kedua, masalah variasi koleksi. Selera umum konsumen tentu saja berkisar pada film-film terbaru. Namun selera khusus konsumen tak punya batasan variasi. VideoEzy bukan layanan terpusat seperti Netflix dan Amazon yang punya repositori besar. Ketersebaran VideoEzy membuat repositorinya tidak bisa memenuhi kebutuhan Long Tail konsumen. Ketika konsumen telah terpenuhi kebutuhan umumnya, mereka akan beralih ke kebutuhan khusus. Tanpa kemampuan memenuhi kebutuhan khusus, layanan seperti VideoEzy tidak akan bisa punya pelanggan tetap.

Kenapa model bisnis Netflix dan Gamefly tampaknya tidak cocok diimplementasikan di Indonesia?

Pricing. Untuk film baru, bioskop bisa memberi lebih banyak value dengan harga yang bersaing. Harga yang dipatok layanan seperti VideoEzy simply terlalu mahal. Rental/kios DVD bajakan, di lain sisi bisa sukses karena koleksinya relatif lebih lengkap dan patokan harganya bersaing (value lebih).

Untuk mengadopsi model Netflix dan Gamefly, pricing harus disesuaikan dengan variabel-variabel lokal.

Hukum. Hukum tampaknya tak mampu mencegah DVD bajakan sebagai alternatif ekonomis untuk menikmati dan mengkoleksi film. Pun hukum ini bisa berjalan, tampaknya masih akan berat sebelah. Bayangkan misalnya jika ada operator agak abal-abal dengan harga sepersepuluh dari rata-rata yang ditawarkan operator saat ini. Anda mungkin akan memilih operator abal-abal ini. Hukum tidak melarang operator ini untuk berjualan dengan harga berapapun. Hukum masih berdiri di sisi produsen.

Soal hukum ini, sebenarnya saya ragu-ragu apa memang ada pengaruhnya. Karena semua pasti akan kembali ke dasar, yakni soal harga. Peran hukum di sini mungkin untuk meniadakan alternatif ilegal, dengan tujuan memberikan lingkungan yang kondusif dan fair untuk berkompetisi.

Bagaimana menurut Anda? Apakah karena peminjam di sini suka ngembat DVD orisinil?