Browsed by
Tag: Nexus One

Google I/O, Wassup?

Google I/O, Wassup?

Google I/O sudah selesai beberapa waktu lalu. Dalam waktu 2 hari, Google memanjakan peserta Google I/O dengan 3 buah handset gratis dan juga keynote dan sesi teknis tentang beberapa hal terkini tentang Google. Keynote-nya tidak benar-benar mengguncang, beberapa orang malah agak kecewa karena ekpektasinya tak terpenuhi. Nevertheless, mari kita coba lihat beberapa yang menarik atau yang berpotensi menarik di masa depan terkait Google I/O.

App Engine for Business and Cloud Portability

Mahal. Begitulah kesan saya setelah mendengarkan keynotenya. Well, dunia bisnis memang tak pernah murah. Dengan tambahan SLA, enkripsi  lewat HTTPS, dan juga SQL rasanya sudah bisa jadi jaminan yang mencukupi bagi instansi bisnis yang ingin mencoba App Engine. Kalau tak salah tarifnya bakal dipasang di $8 / user month, flat. Jadi tidak perlu lagi memikirkan quota CPU, storage atau bandwidth lagi. Untuk CPU rasanya bakal tetap ada batas namun tidak akan sepelit edisi free-nya.

Dalam rangka mengobarkan konsep openness ¬†— sebagai strategi untuk menggaet pendukung filosofi openness, dan juga sekaligus “menyerang” Apple — Google menyuguhkan API standar lewat Roo (Spring) dan GWT. Dengan tawaran ini, diharapkan pengguna tidak akan lagi pernah terkurung (locked-in) dalam satu cloud karena keputusan awal yang dibuat saat memilih arsitektur sistem. Supaya solusi ini lebih bersifat end-to-end, Google menggandeng VMWare sebagai partner.

Konsep openness semacam ini sebenarnya bermata dua. Di satu sisi ini menandakan keyakinan diri akan kualitas dan menghilangkan keengganan pengguna yang ingin coba-coba. Namun di sisi lain ini berarti pengguna yang sedikit kecewa bisa segera langsung pindah tanpa banyak pertimbangan (biasanya orang malas pindah karena proses migrasi justru memberikan masalah).

Frozen Yoghurt (Froyo)

Kalau kalian sudah menyimak Temanmacet edisi spesial Google I/O, kalian akan tahu bahwa salah satu hal penting di Froyo adalah keberadaan JIT (Just In Time compiler). Kode yang biasanya dieksekusi dalam bentuk bytecode (berada di tengah-tengah antara high level dan low level language), kini akan di-compile oleh JIT menjadi bahasa mesin (low level). Akibatnya tentu saja proses eksekusi jadi lebih cepat karena overhead eksekusi bytecode bisa dikurangi.

Yang juga cukup menakjubkan adalah konsep instalasi aplikasi. Biasanya kita mendownload aplikasi ke PC atau Mac, lalu mentransfer aplikasi tersebut lewat kabel data ke device kita. Itu masa lalu. Kini, saat kita menekan tombol “Download”, aplikasi akan dikirim langsung ke device kita Over The Air. Pop! Tiba-tiba saja aplikasi tersebut muncul di Nexus One (tergantung koneksi).

Tak mau kalah dengan iAd, Android juga akan mendukung iklan dalam aplikasi. Dengan konsep openness, iklan yang dilayani akan bervariasi. Baik dari segi visual atau sumber. Dari segi visual, iklan bisa berbentuk teks sederhana sampai dengan rich media yang terintegrasi dengan fitur “call”, “map” dan tentunya mendukung Flash. Selain dari inventori Google, iklan juga akan disediakan lewat DoubleClick. Contextual? You bet. It’s Google’s game you know.

Google TV

Selama ini saya baru kenal Boxee, XBMC dan Windows Media Center. UI Google TV lebih mirip Windows Media Center. Daftar aplikasi dilist secara vertikal dan detilnya berada di sebalah kanan. Aplikasi bisa diinstall lewat OTA, sama dengan yang tersedia di Froyo.

Jika Boxee dan Wndows Media Center masih memerlukan sebuah PC, Google TV nantinya bakal bisa dinikmati secara instan tanpa PC. Akhir tahun ini Sony dan Logitech akan mulai menjual TV terinstall dengan Google TV dan juga tersedia perangkat tambahan terpisah bagi yang tak ingin berganti TV. Android pastinya bakal jadi software yang mengisi Sony/Google TV, dan mungkin juga berlaku hal yang sama untuk Logitech.

Google TV ini nantinya akan bisa dikontrol lewat handset Android. Spesifikasi remote kontrol ini akan dibuat publik sehingga developer bisa berkreasi menciptakan pengalaman interaksi dengan Google TV sesuai selera. lagi-lagi Google berjualan konsep openness.

Tapi openness hanya satu sisi menarik saja. Yang disrupting adalah contextual TV. Slogannya adalah TV meets Web. Web Meets TV. Web masuk TV menjadi instan, no boot or whatsoever. It is always playing something (begitu menyala, selalu ada show yang diputar). Sementara di sisi lain, TV menjadi media dua arah. Pengguna akan punya lebih banyak kontrol atas apa yang ingin dikonsumsinya. Dan TV pun menjadi kontekstual karena teknologi Web.

Bisakah Anda bayangkan jika TV mengerti Anda? Related show, iklan yang sesuai suasana hati. Bagi penonton, televisi bakal jadi media yang totally entertaining. Bagi pengiklan, it is like dream come true. Akhirnya mereka bisa meraih penonton dan menyuguhkan apa yang penonton inginkan. Huzzah untuk kenaikan konversi iklan!

Tak tanggung-tanggung, untuk urusan Google TV ini (dan juga beberapa hal lain, eg: HTML 5), Google menggandeng sejumlah partner besar. Tapi khusus untuk Google TV, saya tak melihat ada partner konten. Did I miss it?