Browsed by
Tag: OneForty

Social Media App No More

Social Media App No More

Dilepasnya 18 orang pegawai Seesmic memberikan sinyal yang cukup kuat. Bahwa model bisnis social media client app itu antara susah dan tidak ada. Walaupun basis penggunanya besar, profitnya sangat susah untuk diperoleh. Mengolah konten 140 karakter menjadi revenue pun juga susah dilakukan. Tidak banyak yang bisa memberikan nilai tambah pada pemakai aplikasi tersebut. List, mute, search, that’s it. Ada juga yang mencoba berbeda seperti aplikasi Bottlenose. Yang memberikan konteks pada lini masa. Berharap menjadi nilai tambah dari sekedar melihat dan membaca.

Kenapa Iklan Tidak Berjalan?

Yang lain, surut. Dibeli AOL (Brizzly), pindah kuadran ke pay-only a.k.a enterprise (CoTweet) atau mengambang “menunggu keberuntungan” sebelum kehabisan napas. Model bisnis default biasanya adalah iklan. Namun sampai sekian tahun tak seorangpun bisa menemukan bentuk iklan yang tepat untuk lini masa. Pernahkan Anda melihat twitter client dengan iklan? Saya tak bisa mengingat.

Seharusnya nilai pasang iklan di aplikasi seperti ini bisa sangat tinggi karena aplikasi selalu dibuka dan kerap di baca. Apa karena linimasa terlalu cepat untuk dianalisa? Tidak juga karena bisa disampling. Atau karena sudah terbukti konversinya kecil?

In stream app memang pelik, tapi model iklan tradisional tetap bisa dipakai. Sesuai policy twitter:

You may advertise in close proximity to the Twitter timeline (e.g., banner ads above or below timeline), but there must be a clear separation between Twitter content and your advertisements.

Why? Lebih ke persoalan teknis atau legal terms (dengan Ad network)?

App on App

App on App adalah salah satu cara memonetasi data dan pengguna. Karena seringkali orang lain punya ide yang lebih cerdas dari kita. Karena kita tidak tahu apa saja yang dibutuhkan pengguna. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Crowdsourcing growth, dan kalau bisa crowdsourcing revenue <insert grin here>.

Ingat OneForty? OneForty dulu berniat menjadi app marketplace untuk Twitter. Sekarang sudah pivot ke bisnis enterprise dengan pitch: Social Business Hub.

We’re a buyers’ guide for businesses who want to invest wisely in doing social right.

Saya sedang mencoba membaca pitch itu lagi dan lagi, tidak mengerti juga. Seharusnya App on App itu bisnis yang mudah karena kita hanya menyediakan platform lalu memanggil developer untuk mengisi marketplace. Tapi bagian rumitnya adalah proses memanggil developer ke dalam ekosistem kita. Hint: Playbook.

What’s for the future?

Apakah akan terjadi konvergensi ke model enterprise? Kalau iya, kasihan pengguna non enterprise. Walau sering susah disuruh bayar, pengguna non enterprise adalah motor inovasi. Bayarnya tidak pakai uang, tapi dengan kerelaan menjadi kelinci percobaan atau menjadi hype machine. Banyak yang sudah berinvestasi waktu dan komitmen untuk memakai satu aplikasi tertentu namun di kemudian hari ditinggalkan karena aplikasi terkait banting setir ke model bisnis enterprise.

Perlu iterasi kembali bagaimana supaya sekian juta pengguna gratisan ini bisa dimonetisasi. Attention economy is just a fad at the moment. It falls on your L of P/L. On server billing and development cost that never stop.

Sebentar lagi, mungkin akan muncul paradigma: Money-first development. Sudah ada tanda-tanda dengan maraknya twit: bangun bisnis, bukan startup.

PS:

Bottlenose tahu, yang berharga bagi Anda adalah waktu.

Photo by joodi
Bunuh Browser, Hidupkan HTML 5?

Bunuh Browser, Hidupkan HTML 5?

Ada artikel menarik di GigaOm tentang pertarungan native app dan HTML 5. Ternyata dari studi yang dilakukan oleh Flurry, native app lebih sering dipakai daripada web app (HTML 5). Lagak-lagaknya, kita mungkin over optimis dengan HTML 5. Jumlah aplikasi yang ada saja jauh lebih sedikit dari pada native app. Padahal sifat HTML 5 ini sudah benar-benar cross platform. Tanya kenapa?

HTML 5 itu Susah?

Ah yang benar? Bukannya membuat web itu gampang? Well, relatif gampang. Yang jelas, banyak yang bisa membuat web bagus dan mengundang decak kagum. Teknologinya bisa agak dinomorduakan, yang penting desain dan pengalaman buat user dulu. Banyak native app yang menyediakan fungsi sederhana, beberapa malah membuat ulang aplikasi jaman PDA dan J2MEyang notabene bukan aplikasi kompleks. Still, masih lebih laku native app.

Gak Ada App Market untuk HTML 5

Ya antara betul dan ngibul. Chrome appstore tak menolak aplikasi sejenis launcher. Mozilla malah punya inisiatif untuk membuat webstore yang bersifat open. Dulu, kita malah sudah punya oneforty walau terbatas hanya untuk Twitter. Tapi tidak ada yang take off. Paling gampang sih kita salahkan sedikitnya jumlah aplikasi. Gak ada aplikasi buat apa ada pasar?

Susah Dimonetisasi?

Ah, bo’ong lu. Web itu sudah ada sejak dulu. Dan e-commerce pun lahir di web. Metode pembayaran paling banyak ya di web. Tinggal pasang tombol Paypal. Kalau mau usaha dikit baru deh implement API supaya tercipta pengalaman yang lebih “seamless”. Yang nge-blend.

Segala peluang model monetisasi di native app bisa dilakukan di web. Mulai dari aktivitas standar beli konten sampai tren masa kini: in-app purchase, bisa juga diterapkan di web. Sifat platform web yang lebih cenderung fleksibel, mudah diupdate, membuat produk di platform web punya potensi untuk selalu kompetitif di sisi bisnis. Sekarang beli besok gratis juga bisa kali. Kurang apa?

Si Browser Brengsek

Bukan, saya tidak membicarakan satu dua browser tertentu, walau memang ada pengaruhnya juga karena cross platform-nya jadi dent di satu sisi. Tapi jaman sekarang semua sudah tahu pentingnya web. Jika browser-nya tidak up-to-date kemungkinan besar service provider tidak bakal mendukungnya. Kontrol platform ada di tangan service provider. Phew.

Kenapa saya sebut browser brengsek? Well, karena penyebab HTML 5 tidak kunjung take off adalah browser itu sendiri. Bukan soal support teknologi, tapi soal chrome/UI-nya. It doesn’t feel app-y. It’s too big?

Lama-lama, tab yang kita puja-puja — karena melepaskan kita dari kekang multi-window — kini serasa mencekik kita kembali. Munculnya smartphone membuat tampilan web di monitor laptop/desktop kita jadi pembuat dosa besar. Tidak maksimal dalam pemanfaatan layar. Terlalu banyak elemen tak penting. Tidak app-y.

Mungkin si browser brengsek ini terlalu lebar, terlalu bebas, terlalu fleksibel, terlalu terbuka. Kurang batasan supaya para pembuat produk jadi lebih kreatif. Perspektif harus diubah. Kelebihan adalah keterbatasan.

Apeu.