Browsed by
Tag: Product Development

Monetizing Relevancy

Monetizing Relevancy

Artikel TheNextWeb tentang revenue dan relevansi benar-benar insightful. Banyak di antara kita yang cemas karena kesulitan menguangkan potensi yang kita punya (monetisasi). Meskipin kecemasan ini ada benarnya namun ada hal lain yang juga tak kalah penting: relevansi.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, early adopters bukanlah sebuah segmen pasar yang layak digarap. Perkaranya, early adopters adalah “banci daftar”. Semua hal baru akan dicoba dan gampang tega meninggalkan layanan lama yang tak lagi tampak keren. Dalam semalam, Friendster kembali jadi lahan gersang karena warganya bedol desa ke Facebook. Early adopters juga menyebalkan karena saat pindah tempat akan mengajak semua temannya untuk turut berpindah pula.

Relevan Terhadap Pelanggan

Dari ilustrasi singkat di atas kita bisa melihat bahwa relevansi adalah kunci utama dalam memikat pengguna. Keberadaan pengguna kemudian dieksploitasi untuk kepentingan finansial. Relevansi terhadap pengguna dicapai dan dipertahankan dengan dua hal. Pertama adalah penyelesaian pain point. Kedua adalah lewat gameplay. Pain Point adalah inti dari layanan kita. Pain point adalah relasi langsung antara produk dengan kebutuhan pelanggan. Sementara itu, gameplay membuat layanan kita selalu hip setiap saat. Tetap berguna dan tidak membosankan untuk dipakai.

Relevan Terhadap Advertiser (atau Sumber Dana Lain)

Selain relevan terhadap pelanggan, layanan kita tentunya juga harus relevan terhadap advertiser dan sumber pendanaan lain. Kalau terus-menerus mengikuti kata pelanggan, bisa-bisa kita terjebak kebangkrutan. Pelanggan memang raja, tapi harus diingat bahwa orientasi pelanggan dan pemilik bisnis itu ujungnya berbeda. Pemilik bisnis butuh profit, pelanggan butuh kepuasan. Bisa berjalan sejajar namun tak pernah berada di satu titik.

Menjaga relevansi dengan sumber pendanaan membuat layanan kita tetap bisa bertahan. Beberapa tipe konsumen mungkin tidak akan terpuaskan, tapi sebagian besar lagi tetap akan memakai layanan kita. Di titik ini kita harus memilih konsumen mana yang akan kita puaskan dan mana yang terpaksa kita abaikan. Relevansi terhadap sumber pendanaan harus selaras dengan relevansi dengan pelanggan. Jangan sampai segmen pelanggan tidak kompatibel dengan sumber pendanaan.

Relevant Terhadap Diri Sendiri

Yang ini lebih berhubungan dengan passion, namun tak kalah penting dengan dua relevansi di atas. Komitmen dan passion adalah hal penting dalam menjalankan usaha. Komitmen bisa dipaksakan, namun passion tak akan muncul jika produk yang kita buat tak relevan bagi diri kita sendiri. Relevansi di sini tidak dinilai dari pain point kita sebagai pelanggan namun lebih ditinjau dari nilai produk yang kita anggap penting.

Produk dan startupmu masih relevan?

Banting Setir atau Tranformasi Terencana?

Banting Setir atau Tranformasi Terencana?

Ketika mendengar BazaarVoice dan produk tentang database reviewnya, saya membayangkan BazaarVoice ini dulunya pasti perusahaan kecil dengan ide sederhana. Dalam bayangan saya, perusahaan kecil tersebut terpelanting menjadi perusahaan jutaan dolar setelah tiba-tiba semua orang memerlukan produknya. Klien besar pun bisa ditepuk dengan mudah karena besaran database review yang dimiliki cukup signifikan dan relevan.

Saya belum mendapat cerita lengkap tentang perusahaan ini. Sejauh ini dari profil yang tercatat di VentureBeat dan CrunchBase, kita bisa melihat BazaarVoice sudah beberapa kali mendapatkan funding yang lumayan besar. Saya jadi agak ragu apakah besarnya perusahaan ini terjadi karena ada faktor keberuntungan atau memang benar-benar terencana.

Dari segi nama, BazaarVoice bisa diartikan suara pasar. Bazaar mengingatkan saya pada Bazaar and Cathedral The Cathedral and the Bazaar, esay tentang Open Source tulisan Richard Stallman Eric S. Raymond. Baazar menggambarkan proses bottom up, atau lebih populer dengan istilah user generated content. Dalam model Bazaar, partisipasi partisipan di dalamnya turut menentukan hasil akhir sebuah produk. Dalam konteks product review, penilaian dari pemakai suatu produk turut menentukan nilai akhir produk tersebut di mata konsumen.

Memilih kata Bazaar membuat saya lebih yakin bahwa perusahaan ini sudah dikonsep sedari awal untuk menaggregasi ulasan produk langsung dari para penggunanya. Dimulai dari tahun 2005, saya tidak tahu siapa target utama BazaarVoice ini. Apakah korporasi besar penjual produk online atau calon konsumen produk itu sendiri secara individual?

Jika targetnya adalah individu berarti sudah ada pergeseran besar dalam strategi bisnisnya. Klien BazaarVoice saat ini termasuk Bestbuy dan Walmart Costco. Dan kemungkinan besar Target, karena Target akan segera memperbarui platformnya dengan produk IBM (yang kompatibel dengan BazaarVoice).

Membayangkan transformasi semacam itu pasti membuat darah founder dan calon founder menjadi bergejolak. Yes, kita bisa bertransformasi dari consumer oriented product ke business oriented product. All you need is scale. Data kecil yang tak tampak terlalu berguna, jika terkumpul dalam jumlah besar ternyata akan punya nilai baru. Komentar produk jika dikumpulkan akan menjadi database mumpuni untuk pengambilan keputusan. Korporasi menginginkan data ini dalam rangka memberikan fasiltas pada konsumen, dan tak selalu digunakan sebagai komponen intelejensi bisnis.

Apakah Anda cukup sabar dan berencana mengikuti jejak BazaarVoice. Mulai dari barang sampah kali ya?

Posted with WordPress for BlackBerry (diperiksa di dekstop).

Law of Fashion (and others too)

Law of Fashion (and others too)

Saya baca Law of Fashion ini di Signal vs Noise. Sangat menarik karena berhubungan dengan tren fashion yang cenderung berulang. Dalam Law of Fashion ada suatu tabel yang mengelompokkan fashion berdasar umurnya dan bagaimana orang akan bereaksi pada produk fashion tersebut.

Berikut ini tabelnya:

Indecent 10 years before its time
Shameless 5 years before its time
Outré (Daring) 1 year before its time
Smart Current Fashion’
Dowdy 1 year after its time
Hideous 10 years after its time
Ridiculous 20 years after its time
Amusing 30 years after its time
Quaint 50 years after its time
Charming 70 years after its time
Romantic 100 years after its time
Beautiful 150 years after its time

Lihat. Orang cenderung mengatakan bahwa produk fashion dari 150 tahun yang lalu itu beautiful. Sedangkan yang berusia setahun lalu disebut dowdy (old-fashioned). Sama dengan barang peninggalan bersejarah. Semakin tua semakin antik. Semakin tua semakin nge-trend kembali. Yes, the 70’s back.

Apple is Daring

Saya menyebut Apple sebagai daring company/product. Produk 12 core-nya yang baru adalah standard tahun depan. Model iPhone 4G adalah role model bagi produk lain di tahun depan. Apple selalu membuat something different yang selalu kita percaya datang dari masa depan. Sementara itu Nexus, HTC, Droid, Palm Pre adalah smart product. Mereka adalah current fashion yang diset standard-nya oleh iPhone di tahun lalu.

Gartner Hype Cycle

Dengan mengabaikan kontroversinya, Gartner Hype Cycle bisa dipakai untuk menentukan “what’s next”. Dalam grafik GHC, diperlihatkan teknologi mana yang sudah matang dan mana yang masih dalam masa pertumbuhan. Dikaitkan dengan Fashion Law, kita bisa memilih calon produk yang daring atau indecent sebagai investasi. Dengan strategi yang tertata, dalam waktu 5-10 tahun diharapkan investasi ini akan kembali dalam bentuk tren dan pasar yang bisa dimonetisasi.

Repeat The Cycle, Revive the Looser

Kalau kita takut untuk berinvestasi lewat produk indecent, maka kita bisa memilih opsi produk yang charming. Kita ambil produk lama dari beberapa tahun lalu, kita sesuaikan ulang dengan kondisi sekarang. Boom. Radio kayu namun bermesin baru sekarang jadi punya nilai lebih dibanding produks ama dengan desain modern (yang akan segera phased out).

Atau, ambil saja produk gagal dan ciptakan ulang di masa sekarang. Tablet adalah produk gagal beberapa tahu lalu. Saat ini, teknologi telah mampu membangkitkan mereka kembali persis seperti apa yang kita inginkan di jaman dulu. Long live iPad and Android tablets.

Jadi, mau daring atau ikut current fashion?

Tying Up The Loose Ends

Tying Up The Loose Ends

Kesempurnaan adalah kondisi ideal yang dikerja banyak orang orang. Hal yang sama juga berlaku untuk produk apapun. Konsumen punya banyak keinginan. Masih enak jika keinginan tersebut selalu tetap. Masalah besarnya adalah keinginan konsumen ini selalu berubah. Dan tidak ada faktor pasti yang bisa dijadikan pedoman. Beberapa faktor misalnya faktor inflasi, kondisi ekonomi dll yang mempengaruhi kondisi global bisa dijadikan pedoman. Bukan karena pasti mempengaruhi konsumen tappi kebetulan adalah banyak orang yang terpengaruhi kondisinya dengan faktor-faktor tersebut dan kebetulan mereka adalah beberapa dari pelanggan produk kita.

Pasar tidak pernah bergerak, tapi selalu berubah bentuk

Saya bisa bilang hal ini karena iklan mbak Agnes. Kartu gw gak ada matinya. Modem saya baru saja rusak. Kartu SIM yang biasa saya pakai mengakses internet pun harus menganggur karena modem lain yang saya punya ternyata terkunci untuk satu produk telco saja. I’m out of luck. Kartu saya yang menganggur dan sering saya kutuk itu kini terasa valuenya. Lebih terasa lagi jika saya bayangkan kartu yang cukup mahal itu harus expire di kemudian hari. Karena modem lain yang terkunci, dan kartu tersebut bukan kartu seperti kepunyaan mbak Agnes.

Tiba-tiba posisi saya sebagai konsumen berpindah karena suatu musibah yang tidak berlaku global. Tiba-tiba saya tak lagi valid untuk jadi konsumen produk tertentu karena ada value lain yang menjadi prioritas. Freedom.

Catch All atau Catch Many Enough

Masih ingat dengan tulisan Variasi Produk di NavinoT beberapa waktu lalu? Membuat banyak variasi dari sebuah produk memang membingungkan beberapa konsumen. Terutama konsumen yang nilai-nilai prioritasnya menjadi berimbang karena suatu variasi. Ketika nilai ini berimbang, nilai kegunaan di masa depan akan dipertimbangkan. Ketika nilai kegunaan di masa depan belum bisa diprediksi maka yang muncul adalah keluhan: saya bingun memilih produk.

Sementara itu beberapa konsumen lain yang mungkin lebih tahu kebutuhannya karena beberapa pengalaman tertentu seperti cerita di atas tidak akan merasa bingung. Beberapa di antaranya adalah konsumen yang juga telah berpindah posisi pasarnya. Dari prabayar ke pasca bayar, dari paket ekonomis ke paket premium, dari paket SMS ke paket voice, dan lain sebagainya.

Keberadaan variasi produk seperti menebar jala yang luas. Ikan bisa berpindah ke tempat yang agak teduh atau ke tempat yang agak hangat. Tak masalah bagi seorang nelayan dengan jala yang luas karena ikan-ikan tersebut masih masuk dalam jala yang sama.

What Loose End

Kita tahu konsumen pasti, suatu saat akan kecewa dengna produk kita. Kalau tak kecewa, pasti menjadi tidak cocok. Beberapa perlu waktu yang lama, tapi beberapa juga ada yang tak perlu waktu lama. Kekecewaan dan ketidakcocokan inilah yang saya maksud dengan loose end. Tali sepatu yang lepas sebenarnya tidak berbahaya, kecuali Anda terjerembab karena tali tersebut terinjak orang atau diri Anda sendiri. Sebaiknya, tali yang bisa membuat Anda jatuh, kancing baju yang kelihatan hampir lepas, gigi yang berlubang, dan lain-lain segera dirawat atau dicarikan alternatif penyelesaiannya. Jika tidak, mereka akan kembali menghantui kita di masa depan.

Don’t left any loose ends, seperti yang selalu diajarkan Leroy Jethro Gibbs pada kita. Right, Boss?

End to End, Thinking.

End to End, Thinking.

No brainer ya kalau ketersediaan pasar itu harus jadi pertanyaan dalam proses validasi ide? Setelah ide didapatkan, langkah pertama jangan masuk ke teknologi. Langkah pertama adalah pastikan ketersedian orang-orang yang punya pain-point yang sama. Keberadaan orang-orang ini akan jadi syarat sukses supaya at the very least ide Anda bisa berjalan setelah diimplementasikan. An initial market as a jump start to run your idea.

Mature or Not Mature

Market ini terkadang tidak selalu harus telah benar-benar tersedia secara eksplisit. Semakin eksplisit, berarti semakin tinggi pula tingkat konfidensi Anda dalam meraih kesuksesan. Namun ada juga yang cukup yakin dengan market yang masih belum tumbuh. Yang masih memerlukan insentif supaya mau menunjukkan dirinya. Model yang terakhir ini paling menarik, paling beresiko dan paling menjanjikan. Siapa nyana hape qwerty kacangan bisa laris bak kacang goreng.

Pasar yang telah matang mampu membuat Anda start lebih cepat. Tak perlu mengeluarkan dana tambahan untuk membuatnya benar-benar siap dengan kedatangan produk kita. Ibarat memancing di kolan, Anda tinggal mengarahkan ke tempat yang paling banyak ikannya dan memakai umpan yang paling menarik.

Pasar yang belum mature? Kemungkinan besar tak seorang pun yang memilikinya. Less competition, lebih banyak waktu untuk mematangkan produk lewat berbagai eksperimen.

Centralized or Distributed

Pasar sudah ada dan telah matang, sering kali kita yakin dengan hal ini. Tapi kita mengabaikan fakta bahwa ternyata pasar tersebut tersebar. Selama ini yang kita nilai adalah agregasinya. Hal ini sepertinya sering menjadi pitfall di dunia online. Siapa yang tak butuh program A? Pasti banyak yang memerlukan, hanya saja mereka tersebar di pelbagai belahan dunia dan tak pernah terkumpul dalam satu kolam.

Oh, what about viral product? Yang tak memerlukan kumpulan massa tapi mampu mendistribusikan produk itu sendiri? Ini sih yang ideal. But still, cara yang lebih efektif adalah mengumpulkan sejumlah orang yang kemudian menjadi agen penyebar. Menyebarkan produk dari satu orang akan menuntut waktu lebih lama sampai terjadi efek viral. Cara terbaik untuk mengosongkan air dari dalam kantung plastik adalah dengan membuat cukup lubang sehingga air bisa keluar dengan cepat dan tak membuat plastik tersebut pecah.

Thinking End to End

Ketika Anda hendak membuat proposal atau startup, berpikir secara end-to-end, dari ujung ke ujung menjadi penting. Seperti business plan, harus dijabarkan dari mana ide akan dimulai, apa saja yang diperlukan, bagaimana akan didanai, bagaimana akan dipasarkan atau dijual, dan bagaimana mendapatkan profit dan exit strategy apa yang dipakai untuk “menutup” ide.

Ketika memikirkan startup, jangan lupa memikirkan pain point dan siapa saja pemilik pain point. Di mana dan bagaimana Anda akan merengkuh mereka. You need a wheel to run your car. No wheel, no move. Better wheel, less fuel.

BBM is Magical and Unbelievable Application

BBM is Magical and Unbelievable Application

Tahun-tahun ini digadang sebagai tahun social. Lebih banyak orang percaya bahwa keputusan membeli jauh lebih banyak ditentukan oleh teman dari pada iklan. Pengalaman dan testimoni dari trusted circle menjadi salah kunci penting penjualan. Friendster yang dulu jadi tren sesaat kini telah banyak digantikan oleh Facebook dan mengalami transformasi peran luar biasa. Ajaib, ternyata tempat curhat dan ngobrol ngalor-ngidul kini menjadi agen perubahan bagi bisnis dan bahkan cara hidup kita. Kita kini hidup di jaman Socialnomics dimana kehidupan sosial menjadi salah satu unsur pergerakan ekonomi.

BBM is Magical (and Unbelievable) Application

Bayangkan kita bisa mengirim pesan dan gambar ke geng kita. Dan beberapa waktu kemudian, respon berdatangan dan percakapan baru yang mengasikkan langsung terjadi. Ucapan selamat pagi, selamat ulang tahun, koordinasi pekerjaan, cerita seru, semua bisa kita akses setiap saat.

Bukannya Facebook dan milis juga bisa melakukan hal yang sama? Ya, tapi kita akan terhalang oleh aplikasi yang ingin menyajikan newfeed atau antar muka email. Yang terjadi adalah berbalas e-mail, berbalas komentar, masih terganjal sebuah layer tambahan antara komunikan dan komunikator.

Online, online

(Salah satu) Yang menyebabkan BBM menjadi magical adalah karena always on. Tidak perlu menyalakan modem, tidak perlu membuka browser, tidak perlu membuka webmail. Seperti TV. Kita buka, dan kontennya sudah ada di sana. Aplikasi ini seolah menyatu dengan mudahnya dalam bagian aktivitas keseharian.

Friends on the Go

Judul asli artikel ini adalah Friends on the Go. The next best thing setelah always on adalah kita selalu punya teman (person) di kantong kemana pun kita pergi.

Actually, orang-orang tak peduli Facebook atau Twitter. Mereka membeli hape berlogo Facebook dan Twitter bukan karena aplikasinya. Tapi karena teman mereka ada dalam hape tersebut. Sesuai peribahasa “mangan ora mangan sing penting kumpul” yang sangat aplikatif dengan orang Asia, kita selalu ingin berada di mana pun teman kita berada. Karena itu kita follow mereka di Twitter, dan atau berteman di Facebook.

BBM mendekatkan kembali kita pada teman-teman kita, which has been a crucial part of our life. Untuk konsumen Asia, hal ini akan selalu benar sampai kita bisa menemukan makna lain dari berteman.

Create Your Gap

Create Your Gap

Masih ingat waktu saya bilang innovation is playing catch up? Mungkin tanpa bagian “innovation”-nya. Tapi memang seperti itulah yang terjadi sekarang. Untuk menelurkan inovasi yang benar-benar menggebrak kita harus riset lama atau membuka simpanan beberapa tahun lalu.

Moodmill waktu itu punya twist ukuran emosi jika dibanding Twitter. Bahkan bisa menempelkan URL. Foursquare dan Gowalla ternyata tak jauh beda. Dibandingkan dengan Koprol, ketiganya juga bermain data lokasi. So, what makes each of them worthwhile?

It’s about creating gaps.

Unggul berarti selangkah di depan dibanding yang lain. Kalau sekarang semua hanya punya fitur checkin, kita bisa menambah gap dengan fitur shout. Kalau semua bisa shout, kita buat gap dengan poin dan badge. Kalau semua bisa melayani pembayaran lewat transfer bank, kita bisa selangkah di depan dengan melayani kartu kredit. Jika yang lain belum punya Blackberry app, maka kita harus membuat Blackberry App. (Koprol will have a real one, next week — finger crossed — which will make us leave Foursquare)

Semakin besar gap yang kita buat, semakin lama pula waktu yang diperlukan kompetitor untuk menyusul kita. Semakin tinggi pula probabilitas kita untuk meningkatkan sales dan mendapatkan profit.

How to create gap?

Di sinilah keyword “pick your fight” harus dicamkan. Pertama, pertarungan tidak wajib dijalani dalam bentuk serial. Bersaing jumlah quota email bukanlah strategi yang bagus karena kapasitas storage bisa disusul dengan mudah. Pindah saja ke jalur lain dan jadikan persaingan tersebut paralel tanpa banyak berpengaruh satu sama lain.

The secret is make the most of our resource. Pilih pemakaian result yang bisa menciptakan gap terlebar dan paling susah disusul. Kalau kita punya modal, beli perangkat terbaik di bidangnya. Kalau otak kita brilian, buat produk keren dengan resep rahasia.

SITTI (sittibelajar.com), berusaha membuat gap dengan menghadirkan adsense versi lokal yang bisa bekerja optimal dengan bahasa Indonesia. Teknologinya memang sangat menarik, namun sebenarnya tak akan susah disusul oleh Google. Google sudah bisa memberikan rekomendasi topik dari query yang kita buat. Belum lagi ada fitur Data Prediction API yang membuat siapa saja bisa menggunakan pustaka ini untuk membuat produk sepintar itu. Nonetheless, Google juga perlu waktu untuk masuk ke Indonesia. Google juga perlu waktu untuk belajar bahasa Indonesia. Dan bisa jadi pasar Indonesia belum terlalu seimbang dengan investasi yang harus dikucurkan. This is the gap!

The Message

Ada satu lagi cerita menarik yang bisa dipakai untuk memilih pertarungan. Bagaimana ilmuwan Amerika dan Rusia menemukan alat tulis yang mampu dipakai di dalam air? Amerika memulai dengan riset lab yang akhirnya membuahkan alat tulis canggih. Sedangkan pihak rusia memilih pensil sebagai solusinya. Get what I mean?

So, tak perlu terlalu khawatir dengan the big guys. Cara pandang atas masalah antara yang besar dan kecil pasti beda. Think creative, pick your fight, and create your gap!

No Sweat! Ada Open Data

No Sweat! Ada Open Data

Belum juga menemukan ide menakjubkan yang bisa mengguncang dunia? Bahkan dari kebutuhan sehari-hari pun sudah tak ada yang menarik lagi? Menyerah? Tunggu dulu.

The Power of Open

“Open” adalah nama seorang toko yang pernah muncul dalam buku teks pelajaran SMP atau SMA dulu. Nama Belanda. “Open” juga jadi kata yang belakangan ini populer kembali dengan konteks berbeda dari sebelumnya. Konteks “Open” sebelumnya, muncul dari gerakan Open Source. Dengan semangat berbagi tidak hanya hasil akhir (free beer) tapi juga berbagi sumber daya (the raw material). Gerakan ini benar-benar meubah tatanan keseimbangan yang sudah ada. Ibarat udara segar bagi banyak orang yang sebelumnya powerless atau merasa sama sekali tak memiliki kontrol atas apapun. It is empowering!

Konteks “open” berikutnya adalah “web”. Satu pihak menuduh pihak lain “not open enough”, tentunya Anda tahu peristiwa tersebut. Di dunia web, “open” lebih didefinisikan sebagai kepatuhan pada standar. Dengan acuan standar yang berasal dari W3C. “Open” dalam dunia web telah berhasil mendorong kemajuan platform ini lebih cepat daripada perkembangannya di masa pre Firefox. Walaupun standar yang diacu ini tak lepas juga dari kontroversi. It’s good but taking too long of Working Group time.

Reuse, Mashup!

“Open” memicu ketersediaan dua hal yang menjadi kekuatan prosumer. Dua hal inilah yang mengembalikan kekuasaan ke tangan pengguna (internet). Membuat aplikasi tak lagi sulit karena most of the heavylifting sudah dilakukan oleh orang-orang kurang kerjaan yang berbagi pustaka keren untuk melakukan tugas-tugas mustahil. Menggambar di canvas bukan perkara sulit, tinggal menentukan titik dan menarik garis. Tapi ada yang bersedia membagi kode untuk membuat animasi atau framework game di atas Canvas. Tak usah terlalu jauh, siapa yang tidak memakai jQuery. How’s your life before jQuery?

Mashup adalah bahan kedua. Dengan alat yang tersedia gratis, tetap ada batasan jumlah aplikasi yang bisa dibuat. Aplikasi memerlukan input dan menghasilkan output. Mashup memakai ketersediaan data yang terbuka dan bisa dimanfaatkan siapa saja. Input kini bisa ditemukan di mana-mana, menunggu kreativitas para pembuat aplikasi. Beberapa hal yang sebelumnya mustahil dilakukan kini menjadi mungkin karena missing link-nya ditemukan dalam bentuk data terbuka.

Open Sesame!

Coba check EveryBlock.com, situs ini menyediakan tidak hanya data kriminal namun juga berbagai data lain yang bisa diakses bebas oleh pengguna. Mau bermain augmented reality? Siapa bilang datanya harus venue bisnis? Point of Interest (POI) juga bisa berubah lokasi bersejarah atau event di masa depan. Lokasi hanya salah satu aksis, sumbu lainnya bisa dipasangkan dengan data apapun.

Want more? Coba Echo Nest. Apakah Anda tahu kalau lagu A dan B mirip? Atas dasar apa? Echo Nest bisa memberi informasi ini pada Anda. Mulai dari metadata biasa seperti penyanyi, genre, judul, atau album sampai ke beat, loudness, tempo dan lain-lain. Mau membuat playlist dinamis yang bisa mengerti mood Anda? Tentu bisa dilakukan lewat platform ini. Tinggal pilih lagu yang sesuai dengna mood saat ini lalu sisanya diproduksi lewat kemiripan berbagai karakteristik audio dan metadata.

More? Jangan mengkonsumsi terus. Coba buka data yang kamu punya 😉

Beauty Sells!

Beauty Sells!

Masih ingat dengan Yong Fook? Ya, orang yang sama yang merilis Sweetcron untuk mengagregasi konten Anda yang tersebar di pelbagai media sosial. Termasuk juga orang yang membuat opensourcefood.com. Yang lucu, Yong Fook sekarang sudah tidak lagi memakai Sweetcron dan malah berpindah ke Posterous. Alasannya, Sweetcron yang diharapkan bsia meningkatkan interaksi antara pemilik situs dan pengunjung malah mendorong impersonalisasi pada situs itu sendiri.

Tapi itu kisah lain. Yong Fook punya dua produk bagus lagi. Salah satunya adalah alat untuk mengukur kampanye di Twitter. It’s pretty, trust me. Aplikasi ini bisa Anda temui di Peashootapp.com. Berkampanye di social media itu susah berhitung ROI-nya, demikian banyak orang berkata. Rasanya hal ini bisa jadi alasan yang mendorong diimplementasikannya Peashootapp. ROI bisa dihitung. Lihat saja sendiri penawarannya.

Produk kedua adalah Seashellapp.com. Aplikasi ini berfungsi sebagai mesin survey. Lagi-lagi tampilannya yang menawan membuat produk ini benar-benar menggoda. Fiturnya ya sebagaimana mesin survey biasanya, plus dukungan mobile view.

Dua aplikasi di atas seolah menjerit pada saya. Hey, ini gak kompleks. Gak perlu teknologi high-tech. Kamu cuma perlu membuatnya indah dan usable tanpa banyak aksesoris di sana sini. Sekarang, berapa banyak site yang bisa Anda tiru hanya dengan mengubahnya menjadi lebih indah dan usable?

Creating Community Based Product

Creating Community Based Product

Saya sampai saat ini masih bertanya-tanya bagaimana sih komunitas itu bisa terbentuk. Kenapa Wikipedia bisa sukses? Tanpa dibayar, tanpa banyak diatur, kontennya tetap saja bertambah. dan kualitas masih bisa dijaga.

Dalam buku Wikinomics (The Peer Pioneers), dijelaskan bahwa Wikipedia itu memenuhi tiga persyaratan peer work yang valid. Tiga persyaratan ini menjelaskan kenapa banyak orang bisa berpartisipasi dalam pembangungan Wikipedia.

  1. Low Participation Cost. Berpartisipasi ke Wikipedia tidak memerlukan banyak biaya. Dengan akses internet yang relatif mudah didapatkan di mana-mana, tiap orang bisa segera mengakses Wikipedia dan menambahkan atau mengkoreksi halaman yang ada.
  2. Distributable Tasks. Wikipedia adalah sebuah kesatuan halaman yang bisa dimodifikasi secara terpisah. Sama dengan source code sebuah software yang mungkin dikerjakan oleh banyak orang.
  3. Low Cost of Integration. Integrasi hasil modifikasi masing-masing orang juga tidak memerlukan banyak biaya. Hal ini juga terjadi karena unsur utama dari Wikipedia adalah informasi. Mudah untuk ditransformasi dan dimodifikasi. Tidak banyak diperlukan supervisi dan quality control juga dilakukan secara bersama-sama.

Namun tiga persyaratan tersebut tidak menjamin kerja peer akan sukses. Kriteria di atas hanya akan menyaring jenis pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan mekanisme peer. Bagaimana seseorang akan tertarik untuk chip in dan akhirnya membentuk snowball effect dari partisipasi penguna-pengguna yang lain? Menurut saya, ada dua tahapan yang harus dilalui oleh produk atau komunitas tersebut. Tahapan ini juga bisa dianggap sebagai jenis insentif yang memotifasi tingkatan pengguna tertentu dalam berpartisipasi.

Level 1. Self Fulfillment (Short Term)

Pengguna harus bisa mendapatkan manfaat langsung dari produk tanpa tergantung pada partisipasi orang lain. Hal ini pasti terjadi di fase awal sebuah peer community. Dalam kasus Linux, hacker yang bergabung untuk menulis kernel Linux berpikir bahwa mereka bisa menulis kode kernel dan bisa melakukannya lebih baik daripada kernel yang sudah ada. Dalam kasus Wikipedia, para kontributor merasa bahwa ada beberapa peristiwa atau hal yang memang harus didokumentasikan. Because they can.

Level 2. Creating The Future (Long Term)

Ketika Linux sudah mencapai critical mass. Akhirnya banyak perusahaan besar yang turut terjun ke dalam pengembangan proyek komunitas ini. The product is proven to be competitive, even for IBM itself. And the market is promising to tap into.

Kenapa IBM berpartipasi dan bahkan menggaji pegawainya untuk berkontribusi ke Linux? Karena IBM ingin mendapatkan profit di masa depan. Dengan penetrasi Linux yang masif, tentunya IBM ingin hardware dan software juga turut tersebar dan mendukung platform Linux. Siapa lagi yang paling tepat dan punya resource untuk mewujudkan dukungan tersebut? Berkontribusi juga tak ditarik biaya bahkan dianjurkan. Berkontribusi hari ini berarti turut menentukan bentuk produk di masa depan. It’s such a small price to pay for a bigger profit tomorrow.

Setelah melewati masa self-fulfillment, masa yang akan dihadapi adalah masa pembentukan Tribe. Pengguna yang berkumpul akan memerlukan fasilitas serupa bahasa baru untuk komunikasi yang lebih efektif. Selain itu juga diperlukan sosok kepala suku yang akan dijadikan panutan dalam penyelesaian konflik yang tidak dapat diselesaikan sendiri oleh anggota komunitas.

Sampai titik ini sepertinya masih ada bumbu-bumbu kesuksesan penciptaan produk berbasis komunitas yang masih belum ditemukan. Care to join the discussion?

Trivia:

IBM kali pertama bergabung ke OpenSource bukan lewat Linux tapi lewat pendirian Apache Foundation.