Browsed by
Tag: publisher

Melawan Google dengan Konten Agregator

Melawan Google dengan Konten Agregator

David vs Goliath

Kasus berusaha melawan Google ada banyak. Yang utama dan sering jadi sorotan adalah dari kalangan publisher. Dulu sempat ada kasus penulis buku yang memrotes Google Book karena dianggap membunuh revenue penulis. Lalu juga ada tuntutan dari pemilik koran di Belgia karena adanya Google News yang dinilai menyalin tanpa ijin.

Mungkin merasa tak mau kalah semangat, di Indonesia juga ada usaha untuk melawan Google dari para pemilik media cetak (bataviase.co.id). Bukan dalam bentuk tuntutan, tapi dalam bentuk usaha melawan dominasi Google.

“Jika kita melawan satu-satu, Google selalu menang. Tapi jika kita bergabung dalam satu konten agregator, kita mampu menghadapi Google,” ucap Andi Sjarif, Managing Director Media Trac, saat mempresentasikan Konten Agregator tersebut di hadapan para anggota Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) saat acara Jambore Pers di Jakarta, Rabu (19/8).

Ivan pasti akan bilang: what the hell? First of all, kenapa harus melawan Google? Head-to-head dengan Google hanya punya satu keuntungan: fifteen second of famous. Ya, terkenal dalam waktu 15 detik karena mengumumkan diri akan melawan Google. Setelah itu pasti jadi renungan kenapa kita tidak bisa melawan Google.

Yang kedua, yang memicu tanda tanya, apa sebenarnya yang ingin dilawan? Dominasi Google dalam memberikan berita terkini secara hampir realtime? Kita bisa melawan hal ini, tentu saja, dengan menghilangkan sumber berita yang diindeks Google. Namun itu berarti penerbit tidak boleh masuk ranah online atau memilih tidak diindeks oleh Google. Dan jika semua penerbit berkoalisi, maka Google tidak akan mendapatkan sumber berita. Selesai? Anda belum mengikutkan variabel citizen journalism dalam rumus perlawan terhadap Google ini. Citizen journalist tidak akan bisa diajak berkoalisi semudah itu. Kalau tidak ada penerbit yang menerbitkan berita, somebody else will, in fact they already did.

Ivan berpendapat, aggregator itu punya dua kelemahan utama:

  • Aggregator harus memberikan link ke luar demi memenuhi copyright. Karena agregator tidak memiliki konten, namun hanya berfungsi sebagai wadah bagi berita dari berbagai tempat (one stop shopping)
  • Aggregator mempunyai sindrom ramai halaman pertama saja. Hal ini berlaku bagi aggregator seperti Digg dan Reddit.

Chance untuk sukses, membawa teknologi masuk dan jangan melihat dari sisi media atau pageview saja.Yang dibutuhkan orang di masa information overload saat ini bukan another information overload place, tapi justru filtering dan recommendation. Karena itulah Reddit, Digg, Friendfeed, dan Twitter bisa sukses.

Jadikan aggregator yang super smart yang mampu memilah berita terbaik dan terbaru, yang setidaknya sesuai dengan selera pembacanya, menurut riwayat pemakaiannya.

Bagaimana menurut Anda?