Browsed by
Tag: Social Media

Second Screen App

Second Screen App

Second screen app, adalah aplikasi yang terpasang di layar tambahan yang berfungsi untuk memberikan added-value atau pengalaman ekstra pada konten pada layar utama.

Xbox SmartGlass

SmartGlass, IntoNow adalah salah satu contohnya. Masih belum paham juga? :headdesk: Oke, lihat video ini sampai habis lalu baca paragraf berikutnya

Perlu Gitu?

Ya tergantung mau pakai contoh kasus yang mana. Nonton bioskop tentu saja tidak perlu pakai second screen app. Tapi konten seperti pertandingan, atau serial televisi, bisa ditemani second screen app. Apapun yang bisa disela, berarti bisa ditemani dan diperkaya dengan second screen app.
Sudah sejak lama kita nge-tweet sambil nonton TV kan? Well, Twitter bisa jadi second screen app juga. Tapi, yang saya maksud dengan second screen app bukan app semacam Twitter. It has to be something richer.

It’s no men’s land

Iya, belum ada definisi eksak tentang apa saja yang harus dipenuhi oleh aplikasi sehingga bisa disebut second screen app. Adalah tanah tak bertuan, sama dengan SmartTV atau teknologi Augmented Reality yang belum punya contoh ideal. Tidak ada aplikasi yang sepenuhnya memuaskan (breath-taking), namun dari beberapa aplikasi yang sudah muncul, ada beberapa elemen yang dominan. Mungkin ini akan jadi tren di masa depan.

Literally, A second screen.

Karena memang layar utama kurang besar atau kurang pas untuk ditempeli dengan perkakas tambahan, maka layar kedua diperlukan. XBOX SmartGlass dan WiiU (bisa) memisahkan kontrol/pengaturan tambahan ke layar kedua. Layar kedua menjadi remote plus plus.

It’s boring, but yes it needs to be social

Mantra lama, tapi memang “social” ini bisa dihajar-tempelkan ke apa saja. Tarik semua elemen social media dan social network ke dalam aplikasi layar kedua yang selalu up-to-date dengan layar pertama. Dicontohkan di IntoNow, kita bisa membincangkan apa saja tentang acara yang kita lihat di linimasa twitter.

Navigating on TV sucks!

Layar besar memang susah dinavigasi. Beberapa tahun ini kita tak pernah lupa untuk membawa/menggenggam gadget dalam semua aktivitas kita. Portable, tapi tidak bodoh seperti remote. Sudah sangat pas untuk menelusuri direktori informasi, kecuali mengkonsumsi media secara megah. Zeebox mengerti hal ini dan menempatkan dirinya sebagai nahkoda konten. GetGlue, Gomiso juga sebenarnya bisa masuk di kategori ini.

It’s not easy to make one. You don’t say?

Iya, pendekatan supaya aplikasinya jadi breath-taking itu rocket science (untuk ukuran saya). IntoNow misalnya bisa mengenali acara hanya dari gambar (dan suara). Tapi tak harus terpaku di rocket science. Seamless memang keren, tapi value layar kedua ini bisa dieksplorasi lebih dominan daripada integrasinya. Bagian seamless itu lama-lama juga pasti jadi pustaka sumber terbuka. Percaya deh.

Epilog

So, yang masih bergelora bikin startup tapi kehabisan ide atau malas ikut komunitas merk gadget, bisa mencoba tantangan ini. Yang ngangur dan tak tahu lagi mau ngapain di internet juga bisa koding untuk mencari jawaban soal second screen app ini. Yakin, yang gatal bukan saya saja.

Boxee

Boxee

Apa sih sebenarnya Boxee dan kenapa saya ingin bercerita tentang produk ini? Boxee, dalam definisi lokal berarti aplikasi media center yang potensial menjadi pemakan bandwidth yang tidak cocok dipakai di kebanyakan rumah. Sedang dalam konteks luar negeri definisinya menjadi: aplikasi media center yang mempunyai twist social network dan internet tv.

No Need For Cable Subscription

Apa sih TV kabel itu? TV kabel adalah TV minus komersial yang tampak agak menyenangkan walau sebenarnya tidak karena kita tak bisa menentukan kapan mau menonton apa, kecuali untuk event live yang eksklusif.

Boxee? Any time anywhere. Kita bisa menelusuri koleksi audio video yang ada di harddisk (lokal atau remote) dan memutarnya setiap saat. Tidak perlu menunggu kapan TV kabel memutar ulang IronMan, saat ini juga kita juga bisa memutarnya. Boxee is best combined with widescreen, jadi pengalamannya akan beda dengan memutar movie player di laptop atau desktop.

Tapi, bukankah  koleksi kita mungkin tidak sebanyak koleksi milik HBO, StarMovies, dll combined? Kalau memang mengonversi koleksi DVD ke bentuk digital terlalu merepotkan, sedangkan Anda tidak punya banyak koleksi digital dari internet, poin berikutnya bisa jadi pilihan.

Apps, We Have It As Well

Netflix ternyata ada dalam daftar aplikasi Boxee. Seperti yang pernah diulas NavinoT beberapa waktu lalu, Netflix adalah aplikasi untuk rental DVD online. Tidak sebatas pesan antar tapi Anda juga bisa langsung memutar film-film yang Anda sewa langsung lewat internet. Kalau ada bandwith, kita bisa langsung memutar playlist kita di Netflix lewat Boxee.

Tidak berhenti di Netflix, Boxee juga mendukung Last.fm. Kita bisa browse tag lagu di Last.fm lalu memutarnya langsung di Boxee. Saya tak yakin kenapa masih bisa diputar karena seharusnya Last.fm sudah berbayar. Entah karena kita memakai Boxee atau karena masih mendapat 30 free tracks.

Selain itu masih ada Facebook, Flickr, Twitter dan banyak aplikasi lain.

Still Missing, Or I Haven’t See

Yang masih hilang, menurut saya adalah efek social networknya. Mungkin karena saya belum menghubungkan akun Facebook dengan jaringan Boxee. Jika dilihat dari screen estate tampaknya akan menyebalkan untuk melihat banyak update dari jaringan kita. Fitur menonton bersama (via online) tampaknya juga belum kelihatan. Either still hidden or not, saya yakin fitur ini ada di roadmap mereka.

Beberapa glitch juga masih ada termasuk soal usability. Desainnya sebenarnya sudah bagus, namun memindahkan paradigma menavigasi aplikasi di komputer ke tv tampaknya memerlukan beberapa perbaikan. Bagaimana cara kembali ke layar sebelumnya, di mana bisa menemukan home screen, dll. Petunjung navigasi ini tidak bisa ditemui di awal instalasi namun akan segera diketahui setelah beberapa jam mencoba.

Opportunity

Mirip dengan fenomena mobile internet boom, kemungkinan kita juga tak akan bisa melihat Boxee versi Indonesia namun akan ada pengganti tren yang mirip. Melihat Boxee yang sebenarnya juga tidak jadi big hype, masih ada kemungkinan untuk menjadi tren di lokal. Biasa kan, yang gak laris di luar justru nge-boom di lokal.

Melihat poster startup Indonesia yang dibuat DailySocial tempo hari, sepertinya peluang untuk aplikasi yang berfungsi sebagai hub masih terbuka.  Magic keyword-nya masih tetap nih: social, API, mashup. If there were Boxee in Indonesia, aplikasi apa saja ya yang masuk? Beoscope, Koprol, Kaskus?

Oh ya, Boxee itu dibangun dari XBMC, aplikasi media center open source. Mantranya mungkin: Reuse, enhance, profit!

PS:

The bandwidth heaven is definitely going to be here, soon or later.

Social Media for Non-Corporate

Social Media for Non-Corporate

Kita berangkat dari suatu teori, sebagai berikut:

Bahwa social media adalah sebuah percakapan, entah siapapun pelakunya. Bisa seorang teman, atau bahkan seorang pelanggan.

Diskusi yang dilakukan cenderung personal, sehingga terbentuk suatu ikatan dari komunikasi dua arah yang terjadi. Beberapa bertindak ala bot, namun masih bisa diterima dan sukses.

Karena alasan personal, maka percakapan lebih cocok dilakukan sendiri. Oleh karena itu butuh waktu, untuk benar-benar terlibat secara mendalam.

Sementara itu, hasil yang berusaha diukur (ROI), masih saja dipertanyakan. Apakah kampanye social media tersebut efektif? Sebagai sebuah korporat, kita harus mengukur berapa banyak investasi yang kita sumbangkan, dalam bentuk waktu dan uang, juga berapa banyak hasil atau kemajuan yang kita peroleh, dalam bentuk prospek, pengikut, pembaca, pembeli, atau interaksi.

Untuk sebuah korporat, mungkin hal macam ini tidak masalah. Bila ada anggaran, maka bisa menugaskan satu orang khusus, atau menyewa agency, untuk melakukan hal-hal tersebut. Dengan demikian, kita balik lagi ke pertanyaan, apakah kampanye social media tersebut lebih efektif dengan kampanye marketing umumnya, seperti iklan di koran.

Waktu sendiri adalah sesuatu yang berharga. Cukup dengan pepatah atau peribahasa, intinya Anda tidak bisa balik melawan waktu. Mungkin Anda bisa mengejar ketinggalan dengan menambah sumber daya, atau bekerja lebih giat. Yang berarti butuh dana, lagi.

Karena Anda bukanlah sebuah perusahaan, misalnya seorang freelancer. Asumsinya, Anda bekerja sendiri. Mungkin Anda punya sebuah tim dengan beberapa orang anggota, namun waktu sangatlah berharga untuk menyelesaikan tugas masing-masing.

Tiap projek diukur menurut berapa jam kerja yang dibutuhkan. Sedangkan Anda sendiri masih harus melakukan kampanye marketing sendiri. Entah untuk mendapatkan klien baru, menyapa klien lama, atau menjadi freelancer paling keren lewat artikel blog.

Intinya, kita punya masalah. Tidak punya waktu, tapi harus tetap proaktif dalam hal marketing. Berikut beberapa solusi:

Friends & Families

Salah satu alasan saya pribadi untuk kembali ke Indonesia, adalah karena saya tidak punya cukup teman atau keluarga di negara Paman Sam. Mungkin tidak masalah untuk para profesional yang bekerja jam 9 samapi 5. Tapi bagi seorang entrepreneur, hal ini sangatlah tidak dianjurkan. Tentu hal tersebut bisa diatasi, dengan melakukan aktifitas sosial, atau menghadiri even khsus, dsb.

Mengapa teman atau saudara? Peduli apapun bisnis yang kita jalankan, Anda harus melakukan pengumuman ke sanak saudara. Karena mereka adalah jaringan terdekat di kehidupan sosial kita. Pastikan mereka mngerti apa yang Anda kerjakan, dan apa kemampuan spesial Anda. Referensi proyek baru selalu bisa datang dari berbagai arah.

Mingle with The Same & Alike

Pastikan Anda tahu teman, kompetitor, atau rekan kerja, untuk bersosialisasi. Satu hal positif tentang social media, semua bisa menjadi kawan. Yang diperlukan hanya tampil menarik, dengan menyajikan sesuatu yang bermanfaat bagi komunitas.

Schedule or Time Allocation

Karena perhitungan waktu sangatlah penting, pengaturan jadwal dan alokasi waktu sangat penting. Anda harus disiplin untuk meluangkan jatah waktu tertentu demi kepentingan ini.

Targetting

Bagaikan rencana menguasai dunia (halah!), Anda harus menentukan siapa kiranya yang patut diikuti, siapa yang harus dijadikan pengikut, atau siapa yang layak kita layani dalam percakapan. Mengapa? Karena mereka jauh lebih mempunyai pengaruh. Tapi jangan lupa untuk membantu yang membutuhkan. Karma masih berlaku. 🙂

Frequency vs. Quality

Anda mempunyai pilihan, untuk tampil lebih sering, atau menampilkan sesuatu yang god damn-awesome-useful-interesting-retweet magnet. Hal ini juga merupakan bagi kita, NavinoT, untuk menyajikan artikel yang berkualitas, dean berusaha meningkatkan frekuensi penerbitan.

Grow into a Company

Dapatkan proyek baru, lebih banyak. Pekerjakan beberapa orang baru, tapi bukan partner. Alokasi waktu tambah untuk keperluan marketing, termasuk social media, atau bahkan bisa menyewa seseorang atau agency untuk melakukannya secara profesional.

Karena waktu adalah pokok permasalahannya, maka pengaturan waktu adalah kuncinya.

Kalau Anda seorang freelancer, atau pelaku bisnis online, apa strategi Anda dalam memanfaatkan social media?

Why Social Media is Costly

Why Social Media is Costly

socialmediacost

Kita sudah kerap mendengan tentang social media, termasuk trik-trik pemasaran secara online lewat social media. Beberapa juga menganggap bahwa aktifitas yang anda lakukan, untuk promosi, membangun brand, entah lewat Twitter atau Facebook adalah cara yang paling ekonomis. Alasan utama karena fasilitas tersebut bisa digunakan secara GRATIS.

Namun dalam kenyataannya, aktifitas lewat social media itu tidak selalu ringan di kantong, seperti yang diperkirakan. Berikut adalah beberapa alasan.

Friends & Followers

Dari kata social sendiri, sudah tampak bahwa strategi ini menuntut banyaknya relasi. Semakin banyak Friends atau Followers, tentunya social media jadi semakin efektif. Jadi berapa banyak teman yang kau punya?

Time to Build

Dengan anggapan anda adalah seorang pengguna baru, Anda butuh waktu untuk membangun jaringan teman dan pengikut. Tergantung bisnis anda, belum tentu teman Anda tersebut masuk dalam kategori prospek. Dengan

Time to Maintain

Pada dasarnya aktifitas social media itu tentang percakapan. Jadi respon dari apa yang Anda lontarkan di Twitter, sudah sepantasnya di jawab, tidak dibiarkan begitu saja. Ini merupakan kesalahan paling umum dalam penggunaan social media. Social media is not a one-way street.

Time is Money

Dari proses dan waktu yang dibutuhkan, sudah terlihat bahwa waktu adalah yang paling banyak dibutuhkan. Untuk sebuah brand besar dengan kampanye social media, tentunya perlu staff khusus dengan keahlian khusus.

Dengan menyerahkan tugas ini kepada staff yang sudah ada (developer atau programmer misalnya), untuk melakukan aktifitas Twitter dan Facebook update, tentunya akan mengurangi produktifitas mereka. Begitu juga dengan para atasan yang harusnya lebih efektif melakukan tugas lainnya. Dengan kata lain, pengelolaan waktu sangat perlu dipertimbangkan.

Social Media is free to use. But for maximum result, it still will cost you something.

PS: NavinoT sedang dalam masa transisi. Toni baru ‘pindah kapal’, dan Ivan lagi prepping Goorme.com.

Aktif di Facebook Fans Page

Aktif di Facebook Fans Page

fbfans

Facebook semakin ramai saja, tidak peduli untuk pertemanan, promosi, atau jual beli. Facebook sendiri mempunyai banyak fasilitas yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan tersebut. Beberapa bahkan gratis!

Satu di antaranya adalah Facebook Fans Page. Dari namanya, layanan ini diperuntukan bagi sesuatu yang mempunyai potensi penggemar. Beberapa contohnya adalah profil situs, selebriti, produk, atau profil bisnis.

Read More Read More

Nokia vs Blackberry

Nokia vs Blackberry

Blackberry vs Nokia
Ada apa dengan Blackberry dan Nokia? Well, Nokia jelas sempat mendapat julukan ponsel sejuta umat. Hal tersebut menjadi indikator bahwa Nokia adalah pemain lama yang berkuasa di pasar ponsel Indonesia. Blackberry sebelumnya hanya dikenal sebagai gadget eksklusif milik para eksekutif. Kini kondisi seperti hendak berbalik. Semua orang menginginkan Blackberry.

Kepopuleran Blackberry sepertinya muncul bersamaan dengan boom Facebook sebagai social network. Sepertinya juga diiringi kesalahpahaman bahwa hanya Blackberry yang bisa mengakses Facebook. Padahal fitur utama Blackberry adalah Push Mail, bukan untuk keperluan browsing. Setelah kesalahpahaman, Blackberry pun menjadi komponen bagi standard baru dalam mendefinisikan up-to-date.

Mungkin ini menjadi salah satu bukti keunikan pasar Indonesia. Majalah Marketeer mengutip hal ini dengan kalimat “Nothing is impossible di Indonesia”.

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Mungkin Blackberry harus berterimakasih pada Friendster yang telah menyiapkan pasar dengan menjadi inisiator social network. Friendster telah mendidik konsumen supaya tidak takut internet dan menanamkan social networking dengan salah satu kebutuhan, lebih dari sekedar lifestyle.

Terkoneksi setiap saat dengan peer bukanlah prioritas bagi generasi tua, namun bagi generasi baru ini adalah what defines them. Kita harus tahu apa yang orang lain lakukan dan orang lain harus tahu apa yang kita lakukan. Jika tidak, maka kita akan kehilangan presensi dalam kelompok kita.

Kita sangat adiktif pada apapun yang baru. Mungkin karena kita terobsesi untuk menjadi berbeda dengan yang lain. Bisa jadi hal ini yang membuat Blackberry dikejar banyak orang. Mereka ingin membedakan dari kelompok lama.

Tentunya hal juga ini tak lepas dari naiknya kemampuan beli konsumen dan peran penjual dalam memberikan skema harga yang semakin affordable. Peningkatan kemampuan beli konsumen menjadikan Blackberry less exclusive dari sebelumnya namun tetap ekslusif karena harganya masih di atas jangkauan kebanyakan konsumen ponsel.

How to undo or deal with such effect?

Salah satu caranya adalah “Be flexible and jump into the local bandwagon. Don’t resist.” Namun langkah semacam itu beresiko mengikis karakteristik brand. Membeo pada tren pasar bisa membuat brand kehilangan diferensiasi

Bisakah hal ini terjadi pada konteks/produk lain?

Nothing is impossible in Indonesia, dan mungkin juga di negara lain. We are what people define us. Paling tidak formula inilah yang berlaku bagi generasi baru konsumen Indonesia. Hal ini bisa jadi memang menjadi sifat permanen konsumen atau efek sementara dari membanjirnya konsumen newbie.

Bagaimana menurut Anda, apa sebenarnya yang membuat Blackberry naik daun. Bagaimana dengan peran produsen ponsel murah? Adakah kaitannya tren Blackberry dengan perang harga telko beberapa waktu lalu?

Desentralisasi Komentar

Desentralisasi Komentar

comment decentralization

Di mana seharusnya komentar diletakkan? Bersama dengan konten atau boleh di luar konten? Selama ini kita terbiasa dengan model blog, kita menaruh komentar di dekat dengan konten. Sebenarnya ada cara untuk meletakkan komentar di luar konten yakni lewat mekanisme trackback, namun cara ini sepertinya justru tidak populer.

Menaruh komentar di luar konten membuat perbincangan akan konten menjadi tidak terintegrasi. Trackback kadang tidak dibaca oleh komentator lain karena harus ada ekstra klik untuk meraihnya. Akibatnya pembuat trackback menjadi kurang termotivasi untuk menaruh komentar di tempatnya sendiri.

Tapi tren yang bergerak saat ini justru sebaliknya. Komentar makin terdesentralisasi, baik kita sadari atau tidak. Seiring dengan penambahan alat produksi konten yang baru dan ramainya saluran-saluran publik.

Sekarang kita menarik semua konten menarik ke Facebook. Kita sebarkan pada teman-teman kita dalam bentuk notes atau foto. Komentar dan Likes pun akan berdatangan, tapi menetap di Facebook dan tidak di konten orisinilnya. Hal serupa berlaku dengan Twitter, Friendfeed dan perkakas social media yang lain.

Pemberi komentar dan penyebar konten memang tidak mau pusing. Kalau lebih mudah dengan praktik semacam itu (terdesetralisasi) kenapa harus dibuat repot dengan pergi ke tempat konten yang sebenarnya (yang mungkin terkubur dalam sejumlah rangkaian tautan)? Yang (sok) pusing justru pemilik konten. Dia merasa komentar tersebut harusnya menetap di blog-nya dan tidak tersebar di mana-mana.

Saat Sidewiki muncul, blogosfer kembali ramai. Tidak hanya karena wacana disentralisasi komentar tapi juga karena Sidewiki diinisiasi oleh Google. Kenapa Google justru mempromosikan pemodelan data yang berantakan?

FYI, konsep Sidewiki sebenarnya tidak sepenuhnya baru. Banyak usaha serupa yang pernah muncul namun tidak menuai sukses. Dulu saya sempat memakai Trailfire, namun terasa kurang intuitif implementasinya. Plus tidak banyak yang turut serta, akibatnya tidak ada insentif yang cukup untuk bertahan menggunakan cara semacam itu. Glue dari Adaptive Blue juga punya model yang sama dengan Sidewiki, yakni menganotasi (annotate) konten.

Menurut Anda bagaimana? Desentralisasi komentar, apakah oke-oke saja? Untuk tambahan perspektif, ada tulisan bagus: Tummling, SideWiki, Twitter and the Tragedy of the Comments revisited

Happy Monday peeps!

Semantic Web dan Social Media

Semantic Web dan Social Media

trendsmap
Ternyata ada hal menarik dibalik implementasi fitur tagging di Facebook. Well, selain jadi sarana baru untuk nge-poke friends, ternyata fitur tersebut bisa dikategorikan dalan perkakas semantik.

Sebelumnya, Facebook tidak punya cara untuk merujuk suatu entitas pengguna dengan tepat, kecuali di fitur Photos. Sekarang, dengan fitur tagging dalam status, kita bisa merujuk entitas pengguna dan bahkan Page atau Group. Hal ini membuat status punya makna lebih daripada sekedar text yang kemudian akan jadi sampah.

Dengan adanya kemampuan ini, kita bisa membuat graph hubungan antara pengguna satu dengan yang lain. Dan bahkan pengguna dengan Page sebuah brand. Ini berarti akan ada lebih banyak informasi yang bisa dicerna bagi siapapun yang menginginkannya. Brand jadi tahu siapa saja yang beraktifitas di dalam Page-nya, pengguna siapa saja yang disinggung dalam percakapan dan komentar di Wall, dan seterusnya.

Pengguna mungkin tidak akan merasakan dampakya secara langsung. Namun tidak bisa dipungkiri fitur ini pasti akan banyak membantu kegiatan brand dan Facebook sendiri. Iklan dalam Facebook mungkin akan lebih targetted dan bisa diterima oleh pengguna. Dan brand akan punya informasi lebih dalam rangka engage dengan para konsumennya. Ujungnya pengguna Facebook dan konsumen secara global akan merasakan dampaknya.

Di lain kubu, Twitter juga akan segera melampirkan data lokasi geografis dalam tweet kita. Twitter yang sudah mendunia ini mulai kehilangan value datanya karena besarnya userbase. Hashtag memang bisa memberi nilai tambah namun dengan banyaknya pengguna membuat data tersebut menjadi sangat mentah. Penambahan informasi geografis akan membuat data ini kembali bernilai karena punya konteks tambahan yang cukup spesifik. Proses data mining akan lebih punya banyak output dan tafsiran atau kesimpulan yang bisa ditarik pun akan semakin variatif.

Bagaimana menurut Anda? Apakah fitur-fitur baru tersebut akan bermanfaat? Coba lihat trendsmap.com, apa yang Anda bayangkan?

It’s a Competition from Day One

It’s a Competition from Day One

competition

Tidak lama setelah kita lahir, sudah ada baby contests. Kemudian dilanjutkan dengan peringkat kelas di sekolah. Tidak luput juga penghargaan dan prestasi di lingkungan kerja.

Kompetisi, itulah salah satu hal yang kita jalani tiap hari. Entah daftar atau tidak, anda sudah secara otomatis ikutan masuk menjadi peserta.

Tapi sebelum kita melangkah lebih jauh, apa anda juga memperhatikan, bahwa jagoan tidak selalu menang. Beberapa sangat berbakat, bahkan lebih berpeluang dari sang pemenang. Siapakah mereka?

Mereka yang berbakat ini tidak diketahui oleh khayalak umum, tidak ikut berlomba, atau bahkan tidak tahu cara berpartisipasi. Hilang, lenyap, dan diam di bawah radar.

Beberapa sempat bertanya, ini lomba macam apa sih? Jawabannya adalah berlomba untuk diketahui sebagi orang terbaik dalam bidang yang anda kuasai, di dunia ini. Kita menyebutnya sebagai Personal Branding.

Seseorang dikenal sebagai seorang Mac Expert. Seseorang lainnya dikenal sebagai PHP Master. Apakah mereka begitu hebat? Atau hanya karena lebih banyak orang mengenalnya?

Seseorang bisa tweet and retweet catatan dari seseorang ke orang lain. Tapi di bawah meja, sebenarnya adalah sebuah persaingan yang sangat seru.

Seperti istilah branding di dunia marketing, kesuksesan tidak bisa diukur langsung lewat ROI (Return of Investement). Tapi sebagai pelaku, anda sudah seharusnya merasakan imbasnya. Bukan berarti sales dan revenue anda meningkat dari tiap 100 tweet yang anda lontarkan, tapi bisa juga anda mendapatkan pekerjaan baru tanpa melewati pre-screening test. (Kalo resume kamu jelek, sudah pasti gugur dulu.)

Sekali lagi, personal branding bukan berarti memasang brandol harga akan dirimu. Tapi ini lebih berperan untuk membangun citra, tentang bagaimana publik seharusnya menilaimu.

Social media telah merubah segalanya. Seseorang tidak perlu lagi saling berebut halaman koran untuk publikasi. (Sisakan saja untuk para politikus). Media baru ini telah membuka kesempatan yang sama bagi tiap orang, untuk dikenal dan sukses dalam bidangnya. Tapi permasalahannya tetap sama, yaitu partisipasi anda sangat diharuskan.

Dalam dunia social media, anda punya segala macam alat dan tenaga. Tapi lebih penting adalah bagaimana cara memakai alat tersebut.

So, what are you good for?


PS: Artikel ini ditujukan untuk seseorang yang masih belum puas akan hari ini.

Memelihara ‘Gerakan Nasionalisme’

Memelihara ‘Gerakan Nasionalisme’

indonesiaunite

Sebenernya ini pertama kali saya ngeblog di sini, hehe. Jadi pertama-tama saya kenalan dulu dengan semua pembaca setia NavinoT 🙂 Errrr, saya ini dibilang pembaca setia banget juga bukan *dilemparin pengki* tapi saya cerewet, dan kalo ada entry yang saya komen, biasanya komentarnya panjang — bikin males baca pokoknya deh, hehe. Jadi saya harap pembaca NavinoT ga keburu ngabur begitu liat nama saya sebagai penulis yak :mrgreen:

Nah, ini entry perdana. Maunya yang keren. Yang (ceritanya) membuka wawasan dan pikiran seperti Seth Godin punya. Tapi apalah daku, dengan keterbatasan pengetahuan dan kemalasan dalam membaca yang selalu pake alesan “kan sibuk, kan cape, kan males, kan ngantuk” dan kan-kan lainnya, jadi saya ga make entry yang jor-joran amat.

Okeh. Kalimat pembukanya.

Read More Read More