Browsed by
Tag: Startup Tips

Hati-Hati Dengan Kata

Hati-Hati Dengan Kata

Sering kali tanpa menyadari kita terpengaruhi oleh kata-kata yang dilontarkan orang lain.

Anda mungkin menganggap bahwa kita semua cukup dewasa untuk memutuskan apa yang kita inginkan, memilih jalan kita sendiri dan mengambil langkah sesuai pada jalur yang kita mau.

Read More Read More

Value!

Value!

value

Andai saja anda mempunyai sebuah dompet mahal dengan 8 slot kartu. Namun seiring dengan tren yang berjalan, anda mempunyai 10 kartu kredit yang aktif. Anda dengan berat hati menjejalkan semua kartu tersebut ke dalam dompet, dengan alasan tidak muat dan takut rusak.

Read More Read More

Freemium Tidak Akan Pernah Mati

Freemium Tidak Akan Pernah Mati

freemium_tidakakanpernahmati

Model bisnis freemium bisa dipastikan akan terus bisa bertahan dan tidak akan pernah mati, walaupun di awal tahun ini ada pendapat yang mengatakan bahwa freemium tidak bisa berjalan. Saya menjadi terusik ketika membaca salah satu posting di blog MailChimp, (sebuah aplikasi web untuk melakukan pemasaran melalui email). Intinya posting itu mengatakan…

Kenapa tidak dari dulu MailChimp menggunakan model freemium?, dan baru sekarang MailChimp menggunakan model ini, hasilnya adalah peningkatan jumlah pemakai gratisan, tentu dengan harapan minimal 5-15% pengguna gratisan akan konversi ke layanan premium nantinya.

Memang ada beberapa kriteria yang harus di penuhi jika ingin menggunakan model ini. Tapi di jaman yang serba berkelimpahan akan pilihan seperti sekarang ini, model freemium menurut saya masih merupakan jalan yang terbaik untuk web startup.

Batas yang jelas antara Free dan Premium

Sebaiknya kita memulai dengan memberikan batasan dan pilihan yang jelas antara yang gratis dan berbayar, beserta dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Hal ini akan menanamkan ke benak pengguna yang hanya coba-coba dan yang mempunyai potensial, sehingga pada saatnya nanti mereka akan memilih layanan berbayar, mereka tidak akan ragu.

Biarkan Mereka Mencoba dan Merasakan

Inti dari model ini adalah mencoba, jika kita meluncurkan suatu layanan baru dan langsung menggunakan sistem berbayar, bisa dipastikan layanan kita tidak akan ramai. Seperti yang saya sebutkan tadi, pilihan pengguna sudah banyak sekali, kalau ada yang gratis kenapa mereka harus membayar? Biarkan mereka mencoba dan mengalami sendiri layanan tersebut, sehingga mereka tahu kualitas dari aplikasi/layanan tersebut.

Memupuk Ketergantungan

Selanjutnya kita menciptakan ketergantungan pengguna terhadap layanan kita, ini merupakan trik freemium yang sesungguhnya. Layanan yang kita buat harus bersifat adiksi. Contoh yang paling mudah adalah layanan online file storage/sharing, bagi para pekerja online yang sering mengirim file berukuran besar tentu sangat berguna, trik yang biasa di lakukan adalah membatasi space penyimpanan file. Yang gratis hanya 2gb, dan yang berbayar bisa sampai 25gb. Trik ini bisa di terapkan di layanan apapun, pembatasan akan sesuatu yang penting akan menciptakan adiksi dan eksklusifitas secara tidak langsung.

Berikan Layanan Hebat dan Konstan

Ada beberapa web startup yang membatasi layanan konsumen juga — yang gratis akan dapat pelayanan biasa-biasa saja, dan yang berbayar akan mendapatkan prioritas layanan yang baik. Menurut saya, untuk masalah layanan konsumen, jangan dibeda-bedakan. Layanan untuk yang gratis harus tetap hebat dan layanan untuk yang berbayar harus lebih hebat lagi. Karena selain fungsi aplikasi dan ketergantungan, layanan konsumen juga memainkan hal penting yang transparan. Siapa yang tahu pengguna gratisan akan konversi dalam waktu seminggu hanya karena dia puas terhadap pelayanan yang hebat?

Sebagai bahan untuk berdiskusi, kira-kira menurut Anda, apakah freemium bisa berjalan atau tidak di Indonesia?

Yang paling berpotensial adalah layanan file storage/sharing dengan server lokal, saya melihat ada beberapa yang sudah menerapkan tetapi masih takut-takut, mereka menamakan layanan berbayarnya sebagai donatur/donasi, namun fitur yang didapatkan oleh donatur masih belum cukup untuk membuat pengguna gratisan ikut menjadi donatur juga (termasuk saya).

Perlu sedikit keberanian lebih-kah untuk menggunakan model freemium?

The World is Fcking Flat

The World is Fcking Flat

soursally

Kemajuan teknologi dan tuntutan ekonomi menjadikan dunia buat ini terlihat datar. Call center yang memberikan layanan bagi customer Eropa ternyata dijalankan dari India. Beberapa game berpasar internasional dikerjakan di studio-studio Indonesia. Dalam dunia Free and Open Source Software, the world is even flatter. Apa kira-kira makna the world is flat bagi kita?

Local or Global

Kita sering kali bingung, sebaiknya membuat layanan untuk konsumen global atau lokal? Memilih global berarti kita punya segmen market yang tak terbatas dari 6 milyar populasi dunia. Pasti akan ada satu segmen yang masih belum dilayanani oleh apa yang sudah ada sekarang ini. Sebaliknya dengan go local kita punya kelebihan karena lebih mengenal kultur lokal. Tapi, karena the world is flat mungkin pilihan ini tak lagi jadi soal. Bisa saja kita memilih konsumen lokal tapi siapa yang bisa mengendalikan apabila ternyata tiba-tiba yang memakai layanan kita justru konsumen non lokal. Be fcking flexible, you are clueless about what’s going to happen.

The Clashing of Voices

Kini suara tidak lagi terkotak-kotak, tiap orang bisa bergabung ke percakapan mana pun. Yang dulunya punya signal berkecukupan kini terdistorsi oleh noise dan sebaliknya. Informasi tersebar jauh lebih cepat dan massive daripada sebelumnya. Jika kamu yakin pada satu hal, akan ada orang lain di ujung sana yang punya pendapat sama sekali berbeda dengan Anda. Bahkan untuk hal yang sama, akan ada banyak makna dan tafsir. Prepare to be hated, prepare to be ostrachised. Jika dulu kita gampang berkelompok, kini kita harus lebih siap berdiri sendiri. Never give up, begitu pesan Danny Wirianto di event SSL3 kemarin.

Good artist copy, great artist steal.

Empat tahun lalu (2005) Pinkberry hadir di US, kini telah ada Sour Sally yang menginisiasi tren frozen yogurt di Indonesia. You know what, Pinkberry wasn’t the first. Tren frozen yogurt justru dimulai Red Mango di Korea Utara tahun 2002 dalam bentuk food chain. Kedataran dunia membuat peluang makin terbuka lebar. Kedataran dunia membuka pasar besar yang siap dilayani. It’s easy to copy. But can you steal it right?

Belajar dari E-mail

Belajar dari E-mail

post_te

E-mail is the first and largest social network, kata Jeremiah Owyang. Siapa yang belum sadar jika imel memang penuh potensi? Saat GMail datang, kita sadar bahwa imel bisa dikonsumsi dengan lebih menyenangkan. Tidak perlu memikirkan ruang simpan, berbentuk percakapan yang jelas lebih intuituf, dan tambahan-tambahan lain. Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan, GMail bisa jadi startup page bagi beberapa orang.

Tidak hanya GMail dengan berbagai fitur dasar dan experimentalnya yang membuat imel jadi first class citizen. Ada banyak startup yang mengekplorasi bagaimana imel bisa merealisasikan potensinya.

Xobni

Xobni adalah startup yang menambahkan value pada Outlook. Cukup cerdas membidik market Outlook yang pasti besar, dan menghindari head-to-head dengan GMail. Xobni memberikan enhancement social yang tidak tersedia di Outlook. Pengirim imel bisa dilihat profil LinkedIn-nya, koneksinya juga sejarah percakapannya dengan kita, file apa saja yang dipertukarkan dan lain-lain.

Xoopit

Xoopit membuat attachment kembali hidup. Semua mail client berfokus pada konten imel dan memperlakukan attachment sebagai konten tambahan saja. Xoopit mengangkat attachment setara dengan imel, menawarkan cara melihat attachment dengan cara baru yang lebih bermanfaat. Gambar bisa dilihat dalam bentuk slideshow atau timeline. Xoopit sekarang sudah dibeli Yahoo. Berarti konsep ini memang berharga.

Gist

Gist menawarkan cara menemukan hal-hal baru lewat daftar kontak kita. Kita bisa memonitor hal-hal apa saja yang terjadi yang terkait dengan kontak kita, misal: berita terkait perusahaannya atau produknya. Lewat UInya, kita bsia memberikan weighting kepada siapa saja kita ingin memberikan fokus lebih. Gist menyebutnya when your inbox meets the web.

So, poinnya apa nih? Karena kita sudah terbiasa dengan sesuatu, kadang kala kita pasrah dan lengah bahwa masih ada ruang untuk improvement. Imel bukan sekedar alat bertukar informasi dan penggunaan imel tidak harus menyebalkan.

Setelah imel, masih ada IMs, dan microblog. Powertwitter sudah melihat kesempatan ini. Dan Google Wave juga akan turut bermain dengan solusi yang lebih breaktrough (lintas horison). Apa yang tersisa buat kita?

Stay Hungry, Stay Foolish

Stay Hungry, Stay Foolish

The Whole Earth Catalog

Stay Hungry, Stay Foolish adalah salah satu pesan dalam pidato Steve Jobs di seremonial kelulusan mahasiswa Harvard, 2005. Namun dalam pidato itu sendiri, tidak dijelaskan arti Stay Hungry, Stay Foolish. Stay Hungry, Stay Foolish adalah teks yang dijumpai Job dalam edisi terakhir The Whole Earth Catalog. Sebuah publikasi yang dinilai Jobs idealistik dan jadi kitab suci generasinya waktu itu. Ibarat Google 35 tahun sebelum adanya Google. Lihat saja beberapa fotonya di Flickr.

Jadi apa artinya? Seorang teman berusaha menjelaskan pada saya. Konsep “stay hungry” berkaitan dengan bagaimana manusia memperlakukan persoalan perut. Manusia butuh makan supaya tetap hidup. Jika kita lapar maka kita akan punya motivasi besar untuk makan. Dan saat kita ingin makan, tidak ada halangan yang bisa menghentikan kita. Kita sangat fokus dan clear tentang apa yang hendak kita capai. Diposisikan dalam konteks entrepeneurship, “stay hungry” berarti kita punya fokus jelas dan motivasi besar untuk maju. Tujuannya satu, membuat kita tidak lapar lagi.

Bagaimana dengan “stay foolish”. Stay foolish membuat kita berpikir lebih simpel. Karena ketidaktahuan kita akan berani mencoba banyak hal. Akan ada lebih banyak alternatif untuk dicoba karena tidak ada alternatif yang tampak berbahaya atau terlalu beresiko. Siapa sangka menelpon lewat internet itu bisa dilakukan? Hanya orang bodoh yang akan mencobanya, dan orang bodoh itulah yang sukses dengan Skype.

Ada yang punya interpretasi lain?