Browsed by
Tag: StartUp

Your Next Startup Ideas

Your Next Startup Ideas


Dengan gegap gempita startup di ranah dalam negeri, di antara kita mungkin sudah kehabisan ide tentang produk yang ingin dibangun. Mungkin karena idenya belum matang atau sudah didahului orang. Bagi yang sedang mencari ide produk baru, dibawah ini saya coba identifikasi beberapa cara mendapatkannya.

Good artist copy, great artist steal

Cara termudah untuk mendapatkan ide produk adalah dengan menyalin apa yang sudah ada. Tak perlu susah, lihat saja produk populer yang Anda suka lalu bangun ulang di dalam negeri. Jika beruntung, Anda akan bisa memanfaatkan sentimen lokal termasuk rasa nasionalisme kita yang terkenal itu untuk membuat produk tersebut lebih bisa diterima konsumen lokal daripada produk orisinilnya yang berasal dari luar negeri. Jika tidak maka Anda harus berusaha agak keras untuk mengadaptasi produk tersebut supaya lebih bisa mengakomodasi kebutuhan konsumen lokal secara lebih spesifik.

Urbanesia, Koprol dan Gantibaju masuk dalam kategori ini.

Inverts control

Pola ini pernah saya singgung sebelumnya. Web 2.0 adalah tentang pembalikan kontrol. Membuat konsumen berkuasa atas apa yang diinginkannya. Apa yang ingin dilihat, kapan dan di mana dilihat. Termasuk di dalamnya mengkomoditaskan proses pembuatan konten (democrating content creation). User loves to be in control. That’s how Youtube did it. Youtube inverted television. Digg inverted newspaper.

Cari proses atau produk yang masih satu arah. Balik prosesnya dan jadikan produk baru.

Revamps in bleeding edge

Beberapa web mail client sucks. Beberapa karena kurang berguna akibat ketinggalan jaman dibanding gaya kerja kita. Produk-produk semacam ini harus dikenalkan dengan teknologi baru. Ada banyak teknologi baru yang bisa membuat produk dinosaurus tersebut lebih cocok dengan ritme produktivitas kita. Kirim newsletter tak harus bingung dengan mail merge, ada Mailchimp.

Apa lagi yang bisa dibuat lebih produktif dengan adanya offline storage, desktop notification, web workers, etc dalam HTML 5?

Embrace and expand

Siapa bilang checkin itu harus terkait lokasi? Semestinya check-in juga bisa untuk menandai proses menonton film, membaca buku, bermain game, dll. Kalau tak bisa mengalahkan Foursquare dan Gowalla di LBS, kembangkan konsep check-in ke bidang lain. Getglue dan gomiso mencoba hal ini dengan produk check-in ke film, buku, dll.

Ingin lebih jauh lagi? Jangan berhenti di check-in. check-in bisa mengumpulkan orang dalam satu topic dan waktu, what’s next? Ini peluang di mana produk Anda bisa masuk.

Start with what itch you most

Ini tips abadi yang bisa Anda dapatkan dari founder manapun. Jika kita memulai dari apa yang kita butuhkan, ada kemungkinan besar produk tersebut akan bisa melihat sinar matahari. Akan ada passion yangmengawal, dan ada kebutuhan yang menentukan arah produk. Self fulfilling, tak perlu tergantung pihak manapun.

Coba sebut produk lokal dan tentukan masuk di mana? Menarik juga kalau kita bisa dilihat statistiknya.

It Started with an Idea

It Started with an Idea

Artikel berikut ini merupakan tulisan dari William Tanuwijaya (Tokopedia), sebagai serangkaian kampanye untuk meramaikan COMPFEST 2010.

It can happen anytime, anywhere.

Biasanya perjalanan panjang start-up dimulai dari ide yang bisa jadi muncul kapan saja, entah itu saat makan siang, atau bahkan saat naik ojek. Saat ide-ide itu muncul, seberapa kecil hingga seberapa gila ide tersebut, tidak ada salahnya untuk selalu dicatat. Setelah beberapa waktu, coba baca kembali catatan tersebut, barangkali dari ide-ide yang ada, satu diantaranya bisa menjadi tiket membangun sebuah startup yang sukses.

Don’t be afraid to reinvent the wheel

Jangan takut jika ide kamu dikritisi sebagai ide yang sudah usang. Ingat, Google bukan search engine pertama di dunia, Facebook pun bukan social network pertama di dunia. Jika duo Sergey Brin – Larry Page, dan Mark Zuckerberg tidak takut untuk reinvent the wheel, para founder Tokopedia pun tidak takut untuk membangun sebuah situs e-commerce yang “katanya” sudah sering gagal di pasar Indonesia. So, as long as you believe in the idea, fight for it!

Hence, create your own unique positioning

Tidak masalah untuk reinvent the wheel, namun tetap harus bisa menciptakan positioning yang membedakan kamu dengan para pemain-lama di bidang yang dimasuki. Facebook misalnya menjadi sangat populer dengan fitur tag-photo dan Facebook-apps nya; sementara Google memperkenalkan algoritma pagerank yang menjadikan hasil pencariannya lebih relevan dari para pendahulunya. Tokopedia sendiri bertaruh di konsep online marketplace dimana transaksi terjadi langsung di situsnya yang memposisikan Tokopedia berbeda dibanding para pendahulunya yang umumnya lebih berfungsi sebagai classified-ads dimana transaksi terjadi di luar situs.

Never stop believing

Perjalanan panjang ini tidak akan mudah. Halangan dan tantangan akan selalu datang di setiap tahapan, mulai dari pencarian ide, dana investasi, pengembangan, pemasaran, fund-raising, hingga operasional harian. Para co-founder Tokopedia misalnya butuh waktu 2 tahun, hingga mimpinya terwujud. Andai kami menyerah pada halangan / penolakan pertama, tentu tidak akan ada tokopedia.com di hari ini. Pada banyak kasus, bukan seberapa brilliant ide yang ada yang menjadikannya berhasil, tapi seberapa kuat determinasi dan keyakinan atas ide itu sendiri. So, never stop believing!


Dalam semangat berbagi, rekan saya sesama co-founder Tokopedia, Leon, akan hadir berbagi pengalaman di COMPFEST 2010, mengisi seminar dengan tema “How to build startups!” pada tanggal 9 May 2010, 15.30 WIB.

Bubunews: Menyentuh Web Semantik

Bubunews: Menyentuh Web Semantik

Ketika kita berbicara tentang semantik, kita selalu berputar di dataran teori tanpa banyak bisa mengungkap manfaat nyata topik tersebut. Memang secara teori bisa diperkirakan bahwa manfaat web semantik akan cukup fenomenal. Namun sampai sekarang belum banyak yang bisa menemukan bentuk implementasinya.

Mungkin ya mungkin tidak.

Google juga punya fitur yang tampaknya memberdayakan unsur semantik. Jika Anda sempat mencoba fitur timeline di Google search, maka Anda akan bisa merasakan hasil-hasil pencarian terhubung dalam suatu rangkaian waktu. Tanpa mengetahui makna suatu konten, tak mungkin google bisa menghubungkan dan meletakkan konten tersebut dalam suatu deretan garis waktu. Mungkin.

What is Bubunews?

First thing first, Bubunews tidak ada kaitannya dengan Bubu Award. Bubunews adalah sebuah agregator konten plus plus. Plus satu, karena berani menambah koleksi another news agregator. Plus satu lagi karena Bubunews bukan sekedar news agregator.

Fitur utama dari Bubunews adalah analisa konten. Dengan menganalisa konten, Bubunews mampu menawarkan fitur timeline yang mampu menampilkan kluster berita dalam urutan waktu. Kluster berita ini didasarkan pada ekstraksi entitas yang ada dalam konten, misal: Google, Yahoo, Honda, dll.

Ada juga visualisasi dalam bentuk map untuk melihat sebaran berdasar lokasi. Akan menarik untuk menilik bagaimana berita bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain. Mungkin kita bisa menarik suatu hipotesa tertentu berdasar birdview dari kluster berita ini.

Apa yang bisa membuatnya lebih menarik?

Saya membayangkan seorang jurnalis atau periset mengkoleksi datanya dalam gudang data yang mendukung semantik. Kluster bisa divisualisasikan dan ditaruh dalam bentuk saling bertumpuk untuk menggabungkan beberapa data hipotesa.

Kluster satu dan lain bisa dihubungkan lewat titik baru membentuk rangkaian besar yang menuntun pada suatu teori konspirasi. Entitas orang dihubungkan lewat peristiwa, lewat lokasi, lewat unit waktu. Who knows. Anda bisa menemukan fakta yang selama ini disembunyikan.

Dengan menambahkan API supaya pihak ketiga bisa turut memanfaatkan datanya, the sky is the limit untuk pemanfaatannya. Kalau selama ini kita hanya bisa melakukan mashup dengan mengandalkan tipe data (teks, angka, tanggal) maka selanjutnya kita lebih punya banyak variabel untuk dipasang-pasangkan. Tentu saja, hasil kombinasi dan permutasinya lebih banyak.

For Us

Data semantik dan data-data lain sedang dan akan menjadi abundant. Hal-hal yang kemarin tidak mungkin akan menjadi mungkin. Anda sudah siap menjadi pemain?

Jangan lupa menaruh poin ini dalam watchlist Anda. If it works, it will be quite disruptive. Semua yang belum pakai recommendation engine bisa dibilang cupu dan tidak cerdas.

Karena pembelajaran dari manusia juga diperlukan dalam pengembangan platform, maka bisa muncul peluang micropayment dan microtransaction untuk menghargai effort mereka. Kita mungkin bakal punya model Amazon Turk lokal. Who knows.

PS:

Bubunews sudah bertransformasi menjadi Gresnews.

When The Giants Arrive

When The Giants Arrive

Plasa.com

Salah satu hal yang ditakuti oleh banyak orang adalah ditirunya ide. Oleh karena itu banyak sekali calon-calon startup yang relatif tidak mau buka mulut tentang apa yang sedang dikerjakannya. Pengerjaan ide dilakukan secara stealth (diam-diam) lalu diluncurkan secara tiba-tiba sebagai kejutan. Harapannya supaya tidak ada yang sempat menyaingi dalam waktu yang relatif singkat. Pun saat yang lain bisa mengejar, kemungkinan di startup sudah jauh di depan.

Well, sebenarnya tidak akan ada yang bisa dirahasiakan dalam komunitas startup. Informasi kecil pasti bertebaran di sana sini sebab startup tak bisa berdiri sendiri. Bisa saja jika semuanya dilakukan in-house namun harus ber-tradeoff dengan resource atau output. Untuk output besar, butuh resource besar, dan sebaliknya. Pasti akan ada pihak ketiga yang menjalin kerjasama dengan startup supaya ada penghematan dan pengefektifan sumber daya. This is where your secret will be not so mysterious anymore.

Itu baru kekhawatiran tingkat pertama. Hal lain yang berusaha dihindari oleh startup adalah head-to-head dengan pemain besar (giant). Oleh karena itu startup biasanya tumbuh di pasar niche. Pasar yang cukup menjanjikan bagi startup namun tidak efektif bagi pemain besar.

Masalahnya adalah yang sekarang tidak efektif untuk digarap oleh pemain besar, bisa jadi lahan basah di tahun berikutnya. Jadi, tinggal menghitung hari saja kapan pemain besar akan mendatangi pasar niche Anda.

Ambil saja contoh pasar e-commerce. Beberapa tahun yang lalu sempat jadi bubble. Tahun ini e-commerce kembali populer. Pemain lokal bermunculan kembali dengan tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi. Kejayaan Facebook dan Twitter seolah jadi pertanda kematangan pasar. Tidak hanya pemain individu yang berjualan di blog atau facebook, tapi juga yang menarget pasar yang lebih luas dengan menyediakan marketplace. Pemain besar pun tak ketinggalan, Plasa.com juga akan turut bermain.

The good news is that you can now be rest assured that e-commerce is a valid market. Jika pemain besar sudah turun gunung, yakinlah ada a lump sum of gold there. The bad news is, sekarang Anda punya kompetitor yang jauh lebih powerful dari yang lain.

So, what can we do as smaller startup?

Nothing

Iya, kenapa harus khawatir. Pemain besar tak mungkin bisa se-niche dan se-agile pemain yang lebih kecil. Smaller startup has its own benefit. Sometime, you just need not to worry at all. Bahkan malah harus gembira karena akan mendapat pelanggan-pelanggan baru hasil imbas promo pemain besar.

Realign, refocus

Pastikan kembali kita tidak head-to-head. Jika kemarin startup kita tergoda untuk memperluas niche maka mungkin ini saatnya meninjau ulang langkah tersebut. Move the sweetspot. Jika kita sudah pernah menangani pasar niche sebelumnya, menemukan long tail yang lain tidak akan terlalu susah.

Sleep with ’em

Jika pemain besar punya banyak advantage yang bisa kita pakai, kenapa tidak berkolaborasi saja. Siapa tahu pemain besar mempunyai opsi payment system yang lebih bagus dari apa yang Anda punyai saat ini? Sistemlogistik yang tidak Anda punya? Tentunya hal ini bisa menjadi alat bantu meningkatkan revenue.

Dengan strategi yang rapi, pemain besar justru bisa partner simbiosis mutualisme. Pemain besar tidak rugi, startup Anda bisa dapat berbagai fasilitas gratis.

So, are you ready for the giants?

Disclosure: I work for Plasa.com (Mojopia)

Berdiri Tanpa Investasi

Berdiri Tanpa Investasi

ship to horizon

Di barat sana, sedang ada kecenderungan perubahan perilaku VC menjadi lebih seperti Record Label. Tidak lagi terlalu banyak memberikan fund pada startup yang ambisius tapi lebih cenderung mencari the next big hit seperti Lady Gaga dan Justin Timberlake. Beberapa orang merasa terganggu karena mengganggap hype terjadi di tempat yang salah. Startup harusnya menjadi agen pembawa perubahan dunia menjadi tidak punya kesempatan. VC sedang melakukan permainan bisnis aman.

Bagaimana dengan lingkungan VC lokal? Syukurlah kita tidak mengalami “kemunduran” seperti yang terjadi di Barat sana. Tepatnya, kita belum punya banyak VC yang membesarkan startup dalam negeri. Kita bahkan belum punya event seperti DEMO atau TC50 sebagai panggung untuk public pitching dan mencari spotlight di dunia IT.

Sebagai entrepreneur, tak usah berkecil hati. Seperti yang ditulis dalam artikel Investor or No Investor kemarin, investor tidak akan memberi free lunch. Punya investor berarti akan ada kontrol atas startup yang kita miliki. Startup tidak lagi bisa murni berfokus pada konsumen saja, namun juga harus memperhatikan komando pemberi investasi. Freedom yang dulu digaung-gaungkan saat kita memulai startup akan sedikit luntur karena konflik kepentingan.

Bagi yang tidak ingin terjerat konflik investasi atau belum mendapat investor, rasanya kita bisa menenangkan diri dengan meresapi nasihat Trent Reznor (Nine Inch Nail). Trent Reznor bilang, jika kita ingin cepat terkenal maka record label adalah satu-satunya jalan. Old-school marketing trick akan efektif, namun kita harus merelakan idealisme dan macam-macamnya termasuk porsi pendapatan supaya bisa masuk jalur mainstream. Ada benarnya juga, dari sekian banyak artis baru yang sering tampil di televisi beberapa mungkin masih nge-kos atau markasnya masih mirip band indie.

Bagi yang ingin membentuk jalannya sendiri, Trent Reznor bilang: give away your content free (dengan ditukar hal lain seperti e-mail, dan sarana untuk membangun jaringan). Lupakan penjualan rekaman lewat record label. Word of mouth adalah hal terpenting yang kita inginkan supaya hasil kerja kita bisa dipakai banyak orang. (jangan lupa baca link Trent Reznor di atas, it’s long and detailed)

Jalur indie sepertinya penuh peluh dan kerja keras ya? Jalan lewat investor sepertinya tinggal ongkang-ongkang kaki karena tidak memikirkan urusan uang lagi. Rasanya tidak ada pilihan yang tidak beresiko. Semakin besar resiko, semakin besar pula outcome-nya. No pain no gain katanya.

Bagi saya pribadi, dan mungkin juga bagi banyak orang lain, investor or no investor bukan pilihan tapi soal kesempatan. Sebelum kesempatan itu datang, berikut ini beberapa hal untuk mensiasati keperluan investasi.

Kendala besar bagi startup biasanya modal untuk server dan resource sejenis. Untuk hal ini saya menyarankan Google App Engine. Kuota bebas yang ditawarkan cukup besar untuk bisa dipakai mengawali startup. Tidak perlu pusing memikirkan load balancer, load server dan kapasitas database. Asal tidak ngawur saja dalam membuat aplikasi, kuota bebas ini pasti cukup untuk membangun userbase. The only catch is, either you need to learn Python or Java and noSQL.

Spotlight? Sebenarnya ada banyak. Tren yang akan segera merajalela adalah App Store. iPhone punya, Android punya, Blackberry punya, Nokia juga. Dan baru-baru ini App Store untuk Twitter juga muncul dalam bentuk situs oneforty. Ini adalah spotlight yang beberapa di antaranya gratis untuk dimasuki.

Marketing? Kita semua pastinya sudah tamat kurikulum Facebook dan social media lain. Social media adalah alat marketing gratis yang tersedia bagi semua orang. Dan menariknya, orang tidak dipaksa melihat seperti halnya iklan di televisi.

PS:

Hari ini tidak ada pertanyaan, perenungan saja ya 🙂

Investor or No Investor?

Investor or No Investor?

investor

Saya rasa faktor penentu di dunia startup Indonesia adalah peranan investor yang sangat minim. Ketika tercantum data investasi Lintas Berita dan Tokopedia yang senilai satu rumah (super) mewah, para pembaca menjadi heboh. Begitu juga bila ditanya faktor apa yang paling dibutuhkan startup untuk sukses. Pasti alasan finansial menjadi jawaban favorit.

Sebenarnya, apakah perlu kehadiran investor mulai dari awal? Dan seberapa jauh pengaruh dan peranannya?

Read More Read More

Kesan Pertama adalah Segalanya

Kesan Pertama adalah Segalanya

WOW!

Hampir sih, hampir segalanya. Kesan pertama menjadi penting karena semakin lama semakin sedikit pula waktu yang dimiliki konsumen untuk bisa melihat semua alternatif yang ada. Ditambah dengan semakin naiknya jumlah alternatif layanan yang bersaing mencari perhatian konsumen. Ya, tidak terbatas dalam satu jenis saja. Semua layanan bersaing mencari perhatian konsumen. Jika kita tidak bisa melekatkan kesan baik di hati konsumen, kemungkinan besar konsumen tersebut tidak akan kembali lagi. Kecuali ada hal menarik yang mengingatkan dia untuk kembali, which is a rare opportunity.

Jadi, bagaimana kita bisa memberi kesan pertama yang baik? Tentunya ada banyak sisi dari suatu layanan. Semakin tinggi skor Anda di semua sisi, semakin baik pula kesan pertama yang Anda timbulkan

Response Time

Sedini mungkin memberikan notifikasi bahwa layanan Anda sedang dimuat. Tidak, tidak harus memuat semua fasilitas di halaman pertama dan dalam sekali load saja. Ada banyak trik yang bisa diaplikasikan di sini. Selain konfigurasi web server (kompresi, cache, load balancer, dll) dan aplikasi (algoritma yang efisien, ramah cpu serta memory, akselerasi lewat byte-code, dll), Anda bisa memakai ajax untuk melakukan loading di background. Atau memuat fitur hanya saat diminta.

Desain

Konsumen bisa punya selera yang bermacam-macam. Jika pasar Anda tidak berda di segmen selera yang sama maka yang terpenting adalah design that works. Tidak hanya fokus pada art, tapi pada fungsi. Pastikan tidak ada elemen yang sekedar nampang tanpa punya fungsi khusus. Namun, jika Anda berani, Anda bisa go all out dengan tambahan pernak-pernik yang memberikan value keren. All out, tidak boleh setengah-setengah!

Konten

Jika layanan kita berjualan konten, tentunya jangan dibiarkan konten amburadul saat launching. Pastikan ada cukup konten yang tersedia untuk mengakomodasi beberapa variasi selera pengguna. Pada masa ini konsumen jauh lebih peka dengan konten-konten yang niche. Vertikal yang dulunya niche, sekarang justru mengandung banyak sub vertikal. Contoh: Operating System, dulu hanya ada beberapa saja namun sekarang sudah ada banyak pilihan yang bahkan menjadi vertikal tersendiri.

Customer Service

Anda pasti ditertawakan jika meluncurkan layanan tanpa membuat akun twitter. Kalaupun tidak ditertawakan mungkin Anda akan menyesal. Sebagian besar konsumen akan menyuarakan tanggapan dan keluhannya lewat media sosial. Jika Anda bisa merespon tanggapan dan keluhan konsumen tersebut dengan cepat, Anda akan bisa memberikan kesan pertama yang benar-benar mengesankan. Ini adalah hal-hal kecil yang sangat personal namun memiliki skor besar.

The worst thing about first impression is that we never know when it’s going to happen. Tidak ada pilihan lain, Anda tidak boleh memburu kesan pertama di saat launching layanan saja. Kesan pertama saat launching memang akan menentukan banyak hal, termasuk userbase dan viralitas. Namun setelah itu masih ada banyak momen lagi untuk bertemu konsumen. Make sure every moment counts!

Pain Point

Pain Point

YC make startup like mushroom

Weekend kemarin seorang teman (stwn) melempar link tentang sejarah YCombinator. Why YC? Tentang mengapa YC berdiri, apa yang menjadi alasan mendasar didirikannya YC, dan bagaimana business model YC disusun. Mungkin semua yang tidak beralasan normal memang punya kans besar untuk sukses, demikian pula dengan YC ini.

Jadi, kenapa YC berdiri? Jika Anda sempat menyimak beberapa cerita tentang Paul Graham di NavinoT, Anda pasti tahu bahwa YC berfungsi sebagai Venture Capital yang menolong orang-orang dengan ide cemerlang untuk mendirikan startup impiannya. Tapi tahukah Anda bahwa YC pertama kali didirikan bukan demi menolong orang lain, atau mengumpulkan investasi?

Paul Graham menjelaskan bahwa YC didirikan karena it will be a great hack. Ya, a great hack bagi proses pembentukan startup yang biasanya tedious dan amat susah. Seperti CPU yang bisa di-overclock dan hardware atau software yang bisa dimodifikasi supaya bisa berjalan lebih efisien atau melakukan lebih banyak hal, dengan sentuhan yang tepat ke arah yang tepat YC bisa menyuburkan pertumbuhan startup yang sebelumnya sangat sulit untuk tumbuh.

Okay. Tapi apakah hanya karena noble cause dan konsep hacking yang membuat YC bisa sukses? Bisa bertahan lama sebagai VC dan tidak terbakar karena selalu berinvestasi? Ada satu istilah penting yang saya dapatkan dari ideas.inc: Pain-Point. Produk kita hanya bisa sukses dengan jalan punya masalah yang bisa diselesaikan. Demand belum tentu kelihatan, namun masalah pasti selalu ada pada setiap orang. YC sukses dan bisa bertahan karena bisa menjadi obat bagi calon entrepreneur, sekaligus menjadi obat bagi VC lain yang susah menemukan startup yang potensial. ‘Sisanya’ adalah soal pengaturan pembagian profit dan saham.

Either it is what people want or what people need, both may be correct. Tergantung bagaimana kita melihatnya. What people want is something to ease their pain, eventhough they are not currently looking. What people need is something to solve their visible problem, their top list priority.

So, what’s your pain-point?